Anda di halaman 1dari 2

Pencemaran Mangrove

Pengertian
Hutan mangrove atau yang biasa disebut hutan Bakau, walaupun penyebutan hutan Bakau itu tidak pas
sebenarnya karena mangrove hanya merupakan salah satu dari jenis mangrove itu sendiri yaitu
jenis Rhizopora spp. Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang khas dan tumbuh disepanjang pantai
atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Mangrove banyak dijumpai di wilayah
pesisir yang terlindung dari gempuran ombak dan daerah yang landai di daerah tropis dan sub tropis
(FAO, 2007).

Dan Hutan mangrove tumbuh pada tempat-tempat terjadinya pelumpuran dan akumulasi bahan organik,
baik di teluk-teluk yang terlindungi dari gempuran ombak maupun disekitar muara sungai yang airnya
melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.

Ekosistem hutan mangrove bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya
aerasi tanah, salinitas tanahnya tinggi serta mengalami daur penggenangan oleh pasang surut air laut.
Hanya sedikit jenis tumbuhan yang dapat bertahan hidup di tempat semacam ini.

faktor-faktor penyebab kerusakan ekosistem mangrove

Kusmana (2003) menambahkan ada tiga faktor utama penyebab kerusakan mangrove, yaitu

(1) pencemaran,

(2) konversi hutan mangrove yang kurang memperhatikan faktor lingkungan dan

(3) penebangan yang berlebihan.

Pencemaran seperti pencemaran minyak, logam berat. Konversi lahan untuk Universitas Sumatera Utara
budidaya perikanan (tambak), pertanian (sawah, perkebunan), jalan raya, industri, produksi garam dan
pemukiman, pertambangan dan penggalian pasir.

Bengen (2001) menjelaskan bahwa kerusakan di atas dikarenakan adanya fakta bahwa sebagian manusia
dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat
dari adanya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun
penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Hal itu dikarenakan memang pada dasarnya hutan
mangrove memiliki fungsi ekonomi antara lain sebagai penghasil keperluan rumah tangga, penghasil
keperluan industri, dan penghasil bibit. Akan tetapi, dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya
ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan
ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove
khususnya dan ekosistem pesisir umumnya. Oleh karena itu, Bengen (2001) menyarankan agar isu sosial
ekonomi mencakup aspek kebiasaan manusia (terutama masyarakat sekitar hutan mangrove) dalam
memanfaatkan sumberdaya mangrove. Begitu pula kegiatan industri, tambak, perikanan tangkap,
pembuangan limbah, dan sebagainya di sekitar hutan mangrove harus diidentifikasi dengan baik. Selain
oleh faktor-faktor fisik lingkungan, kerusakan hutan mangrove juga bisa disebabkan faktor sosial
ekonomi masyarakat setempat. Menurut Dephut (2002), parameter sosial ekonomi yang sering digunakan
untuk mengkaji kerusakan ekosistem mangrove adalah jumlah penduduk, tingkat pendidikan, jenis
pekerjaan, dan persepsi masyarakat terhadap hutan mangrove.

Penanggulangan kerusakan hutan mangrove

1. Perlu diadakan penyuluhan


Kerusakan hutan mangrove, sebagian besar disebabkan oleh ulah tangan manusia. Oleh karena itu,
penyuluhan dan sosialisasi tentang pentingnya hutan mangrove kepada masyarakat sangat perlu
dilakukan, terutama pada masyarakat/penduduk yang berdomosili. Suatu hal yang sangat tidak mungkin,
apabila penyelamatan gencar-gencar dilakukan, tanpa dukungan dari pihak masyarakat
2. Peningkatkan status sosial masyarakat di sekitar pesisir laut
Masyarakat yang berdomisili di sekitar pesisir pantai laut sangat akrab dengan status sosial yang kurang
tinggi, atau berstatus sosial rendah. Hal ini mendorong masyarakat sekitar pesisir laut untuk
menghalalkan segala cara, untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Misalnya saja tindakan-tindakan
tidak ramah lingkungan, seperti tindakan-tindakan yang berdampak pada kerusakan hutan mangrove.
Oleh karena itu, peningkatan status sosial mereka sangatlah penting agar mereka dapat memenuhi
kebutuhan tanpa merusak ekosistem hutan mangrove.
3. Melakukan penanaman kembali hutan mangrove
Setelah mengukur luas daerah yang mengalami kerusakan, di daerah tersebut harus dilakukan penanaman
kembali hutan, agar hutan mangrove dapat tumbuh kembali.
4. Mengawasi dan menjaga hutan mangrove
Selain masyarakat di sekitar pesisir laut, masyarakat luar pun terlibat dalam kerusakan hutan mangrove,
seperti pembuangan limbah pabrik yang dibuang ke laut. Dimana limbah tersebut bersifat B3 (bahan
berbahaya dan beracun) dan jumlahnya melampui kapasitas asimilasi perairan tersebut. Seperti kasus
pencemaran yang terjadi di kawasan pantai timur, Riau. pencemaran ini disebabkan oleh limbah yang
berasal dari pembuangan pembersihan kapal tanker di Selat Malaka.
Pada langkah ini, peran masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir laut sangatlah penting, karena yang
mampu mengawasi dan menjaga hutan mangrove selama 24 jam hanya mereka yang berada di sekitar
kawasan hutan mangrove.
5. Konservasi di pesisir
Langkah ini bertujuan untuk melindungi habitat-habitat kritis, mempertahankan dan meningkatkan
kualitas sumber daya, melindungi keanekaragaman hayati, dan melindungi proses-proses ekologi.
Usaha-usaha di atas, diharapkan dapat di praktikkan dalam kehidupan nyata di masyarakat, sehingga
hutan mangrove yang semakin berkurang keberadaannya dapat diselamatkan.