Anda di halaman 1dari 18

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat
dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Karya Ilmiah dalam bentuk Makalah
yang berjudul Asuhan Keperawatan Hemofilia. Makalah ini kami susun berdasarkan
data-data yang telah kami ambil dari Buku maupun internet.

Hambatan yang kami temui pada penyusunan Makalah ini adalah kurangnya waktu
penyusunan karena banyaknya tugas kami pada mata kuliah lain. Selesainya makalah ini
tentunya tidak terlepas dari bantuan banyak pihak, sehingga penyusunan makalah ini dapat
terselesaikan tepat waktu.

Terlepas dari upaya penulis untuk menyusun makalah ini dengan sebaik-baiknya, penulis
tetap menyadari bahwa tentunya selalu ada kekurangan, baik dari segi penggunaan kosa-kata,
tata bahasa maupun kekurangan-kekurangan lainnya.

Oleh karena itu, dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang
bermaksud untuk memberikan kritik dan saran bersifat membangun dengan maksud
meningkatkan pengetahuan penulis agar lebih baik dalam karya selanjutnya dan dapat
memperbaiki kualitas makalah ini.

Penulis berharap semoga makalah kami yang berjudul"Asuhan Keperawatan Hemofilia" ini
bermanfaat, dan pelajaran-pelajaran yang tertuang dan yang terdapat dalam makalah ini dapat
menjadi pembelajaran dan ilmu yang berguna bagi para pembaca.

Medan, 21 November 2017

Kelompok 3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................


DAFTAR ISI.............................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .....................................................................................................
1.2 Tujuan ..................................................................................................................
BAB II TINJAUAN TEORITIS
2.1 Definisi .................................................................................................................
2.2 Etiologi .................................................................................................................
2.3 Anatomi Fisiologi ................................................................................................
2.4 Manifestasi Klinis ................................................................................................
2.5 Komplikasi ...........................................................................................................
2.6 Penatalaksanaan ...................................................................................................
2.7 Pemeriksaan Penunjang .......................................................................................
BAB III TINJAUAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian ............................................................................................................
3.2 Diagnosa ..............................................................................................................
3.3 Intervensi..............................................................................................................
3.4 Implementasi ........................................................................................................
3.5 Evaluasi ...............................................................................................................
BAB IV TINJAUAN KASUS
4.1 Pengkajian ............................................................................................................
4.2 Analisa Data .........................................................................................................
4.3 Diagnosa .............................................................................................................
4.4 Rencana Keperawatan ..........................................................................................
4.5 Evaluasi ...............................................................................................................
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ..........................................................................................................
5.2 Saran ....................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hemofilia telah ditemukan sejak lama. Talmud, yaitu sekumpulan tulisan para rabi
Yahudi, 2 abad setelah masehi menyatakan bahwa seorang bayi laki-laki tidak harus dikhitan
jika dua kakak laki-lakinya mengalami kematian akibat dikhitan. Selain itu, seorang dokter
asal Arab, Albucasis, yang hidup pada abad ke-12 menulis tentang sebuah keluarga yang
setiap anak laki-lakinya meninggal setelah terjadi perdarahan akibat luka kecil.
Pada tahun 1803, Dr. John Conrad Otto, seorang dokter asal Philadelphia menulis
sebuah laporan mengenai perdarahan yang terjadi pada suatu keluarga tertentu saja. Ia
menyimpulkan bahwa kondisi tersebut diturunkan hanya pada pria.
Kata hemofilia pertama kali muncul pada sebuah tulisan yang ditulis oleh Hopff di
Universitas Zurich, tahun 1828. Dan menurut ensiklopedia Britanica, istilah hemofilia
(haemophilia) pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter berkebangsaan Jerman, Johann
Lukas Schonlein (1793 - 1864), pada tahun 1928.
Pada abad ke 20, pada dokter terus mencari penyebab timbulnya hemofilia. Hingga
mereka percaya bahwa pembuluh darah dari penderita hemofilia mudah pecah. Kemudian
pada tahun 1937, dua orang dokter dari Havard, Patek dan Taylor, menemukan pemecahan
masalah pada pembekuan darah, yaitu dengan menambahkan suatu zat yang diambil dari
plasma dalam darah.
Biologi molekuler adalah bidang ilmu yang mempelajari organisme pada tingkat
molekul. Paradigma yang dianut dalam biologi molekuler adalah bahwa setiap organisme
terdiri dari sel, dan sel terdiri dari sejumlah besar molekul, sehingga baik struktur maupun
fungsinya yang ditunjukkan oleh suatu organisme, termasuk fungsi-fungsi yang menunjukkan
bahwa organisme ditentukan oleh molekul-molekul tersebut. Oleh karena itu, dewasa ini para
dokter dituntut untuk dapat mendalami suatu penyakit sampai pada tingkat molekuler.
Dengan menganut biologi molekuler, kita dapat mengetahui penyakit yang pada dasarnya
terjadi karena adanya perubahan dalam molekul-molekul yang terdapat dalam tubuh kita.
Begitu pula dalam kasus hemophilia.
Walaupun Hemofilia telah dikenal lama di ilmu dunia kedokteran, namun baru pada
tahun 1965, diagnosis melalui laboratorium baru diperkenalkan oleh Kho Lien Kheng.
Diagnosis laboratorium yang diperkenalkannya menggunakan Thromboplastin Generation
Test (TGT), selain pemeriksaan waktu perdarahan dan masa waktu pembekuan darah. Pada
saat itu pemberian darah lengkap segar merupakan satu-satunya cara pengobatan yang
tersedia di rumah sakit.
Hemofilia merupakan kelainan pembekuan darah yang diturunkan secara X-linked
recessive.Dikenal 2 macam hemofilia yaitu hemofilia A karena defisiensi F VIII dan
hemofilia B dengandefisiensi faktor IX. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat
perdarahan, gambaran klinik danpemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan hemostasis
penyaring dijumpai APTT memanjangsedang semua tes lain memberi hasil normal. Untuk
membedakan hemofilia A dengan hemofilia Bdapat dikerjakan pemerikasaan TGT atau
diferensial APTT, tetapi dengan tes ini tidak dapatditentukan aktivitas F VIII atau IX. Untuk
mengetahui aktivitas masingmasing faktor perludilakukan assay F VIII dan F IX. Hemofilia
A juga perlu dibedakan dari penyakit von Willebrand karenapenyakit ini dapat dijumpai
aktivitas F VIII yang rendah. Untuk membedakannya dilakukanpemeriksaan masa perdarahan
dan pemeriksaan terhadap faktor von Willebrand.

1.2 Tujuan
a. Mengetahui Definisi hemofilia

b. Mengetahui Etiologi hemofilia

c. Mengetahui Tanda dan Gejala Hemofilia

d. Mengetahui Patofisiologi hemophilia

e. Mengetahui Manifestasi Klinis Hemofilia

f. Mengetahui pemeriksaan penunjang Hemofilia

g. Mengetahui penatalaksanaan Hemofilia

h. Mengetahui asuhan keperawatan Hemofilia


BAB III
TINJAUAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
a) Biodata Klien
Nama klien
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Suku
Bangsa
Alamat
Penanggungjawab
b) Tanda-tanda vital
Nadi
Pernafasan
Tekanan hemodinamika harus dipantau untuk melihat adanya hipovolemia
c) Keluhan Utama
Perdarahan lama
Epitaksis
Memar, khususnya pada ekstremitas bagian bawah jika terdapat benturan.
Bengkak yang nyeri, sendi terasa hangat akibat perdarahan jaringan lunak dan
haemoragi pada sendi.
Pada hemofilia C biasanya perdarahan spontan.
d) Riwayat penyakit sekarang : apakah klien mengalami salah satu atau beberapa dari
keluhan utama
e) Riwayat penyakit dahulu: Apakah klien dulu pernah mengalami perdarahan yang tidak
henti serta apakah klien mempunyai penykit menular.
f) Riwayat penyakit keluarga: Apakah keluarga klien ada yang memiliki penyakit
hemofilia pada laki-laki atau wanita sebagai carier.
g) Aktivitas Sehari-hari
Pola nutrisi: Anoreksia, pola makan, asupan nutrisi.
Pola eliminasi: pola BAK dan BAB, konsistensi feses, frekuensi BAK dan BAB,
warna urin, kepekatan urin.
Personal hygiene: kemampuan klien untuk melakukan perawatan diri.
Pola aktivitas: kelemahan dan adanya pengawasan terhadap aktivitas.
Pola istirahat tidur: adanya gangguan istirahat dan tidur.
h) Pemeriksaaan Fisik
Inspeksi : Kelemahan, wajah mengekspresikan nyeri, patekia, memar, perdarahan
mukosa, kesimetrisan pada tubuh, mukos mulut kering.
Observasi : Adanya perdarahan, lesi, memar, penggunaan otot bantu pernafasan,
adanya bau mulut.
Auskultasi : suara pekak jantung, suara pekak hati.
Palpasi : adanya kardiomegali, heptomegali
i) Pemeriksaan Penunjang
Uji Skrining untuk koagulasi darah:
Masa pembekuan memanjang ( waktu pembekuan normal adalah 5-10 menit)
Jumlah trombosit
Uji pembangkitan tromboplastin untuk mengetahui adanya pembentukan
tromboplastin yang tidak efisien.
Biopsi hati digunakan untuk memperoleh jaringan untuk pemeriksaan patologi kultur.
Uji fungsi hati digunakan untuk deteksi adanya penyakit hati.

3.2 Diagnosa Keperawatan


a. Hipovolemia b.d pembekuan darah yang tidak normal.
b. Resiko injuri b.d perdarahan
c. Nyeri b.d perdarahan dan pembengkakan.
d. Resiko kerusakan integritas kulit dan jaringan b.d sirkulasi darah jaringan sekunder
terhadap perdarahan.
e. Koping tidak efektif b.d kondisi kronis dan pengaruhnya terhadap gaya hidup

3.3 Perencanaan
1. Hipovolemia b.d pembekuan darah yang tidak normal
Tujuan:
Keseimbangan cairan
Hidrasi
Status nutrisi: masukan makanan dan minuman.
Kriteria Hasil
Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan berat badan, berat
jenis urine normal
Tekanan darah normal (120/80mmHg), nadi normal (60-100x/ menit),
suhu tubuh normal (36,5oC-37,5oC)
Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, elastisitas kulit baik, turgor kulit baik,
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
Intervensi
Pantau tanda-tanda vital
Instruksikan menggunakan sikat gigi yang halus
Kolaborasi pemberian produk plasma sesuai indikasi

2. Resiko injuri b.d perdarahanTujuan: menurunkan resiko injuri


Kriteria Hasil:
Klien bebas dari cidera
Klien mampu menjelaskan cara atau metode untuk mencegah cidera
Mampu memodifikasi gaya hidup untuk mencegah injuri
Intervensi:
Ciptakan lingkungan yang aman seperti menyingkirkan benda-benda
tajam, memberikan bantalan pada sisi ranjang tempat tidur bayi.
Tekankan bahwa olahraga kontak fisik dilarang
Tekan pada bagian yang diinjeksi setelah injeksi
Kolaborasi pemberian analgetik.
Rasional
Anak yang aktif memiliki resiko cidera yang tinggi jika tidak diawasi
Kontak fisik dapat menyebabkan perdarahan
Tekanan setelah melakukan injeksi dapat meminimalkan perdarahan
Analgetik dapat mengurangi rasa sakit saat terjadi cidera.

3. Nyeri b.d perdrahan dan pembengkakan


Tujuan: Pasien tidak menderita nyeri atau menurunkan skala nyeri yang dirasakan
klien.
Kriteria Hasil:
Tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri ditandai dengan ekspresi wajah
relaks, tidak meringis kesakitan
Skala nyeri turun menjadi 3-5
Intervensi:
Kaji tingkat nyeri klien
Ajarkan relaksasi nafas dalam
Kolaborasi pemberian analgetik sesuai program.
Rasional:
Untuk mengendalikan rasa nyeri dan untuk memantau status nyeri klien.
Nafas dalam dapat mengurangi rasa nyeri.
Pemberian obat analgetik dapat membantu mengurangi rasa nyeri.

4. Resiko kerusakan integritas kulit dan jaringan b.d sirkulasi darah jaringan sekunder
terhadap perdarahan.
Tujuan: Kulit dan jaringan klien tetap utuh dan tidak menunjukkan memar dan
bengkak.
Kriteria Hasil:
Tidak ada luka pada kulit
Tidak ada memar dan lesi pada kulit
Elastisitas dan turgor kulit baik.
Intervensi:
Inspeksi kulit klien sedikitnya 4 jam sekali.
Berikan kompres dingin (air es) dan tekanan diatas sisi perdarahan
intradermal untuk meningkatkan vasokonstriksi.
Tangani pasien dengan perlahan untuk meminimalkan resiko trauma
jaringan.
Bantu klien untuk melakukan latihan rentang gerak untuk meningkatkan
mobilitas sendi dan perfusi jaringan.
Rasional:
Untuk mengetahui adanya luka dan memar pada kulit.
Kompres dingin akan membantu pembekuan darah menjadi lebih cepat.
Penanganan dengan cepat dapat membuat luka lebih parah.
Latihan gerak dapat membuat sirkulasi darah lebih baik.
5. Koping tidak efektif b.d kondisi kronis dan pengaruhnya terhadap gaya hidup.
Tujuan: Membantu klien dalam menghadapi kondisi kronis dan penerimaan akan
kondisinya.
Kriteria Hasil:
Klien mampu mengungkapkan perasaannya berkaitan dengan
penyakitnya
Klien mampu menerima keadaannya.
Intervensi:
Dorong pengungkapan perasaan, kekhawatiran dan pertanyaan mengenai
penyakitnya.
Lakukan konseling sehari sekali
Rasional:
Dasar pengtahuan untuk mengurangi ketakutan dan mempercepat
penerimaan.
Memberikan motivasi, mengetahui keluh kesah pasien.

3.4 Evaluasi
a. Hipovolemia teratasi
Elastisitas dan turgor kulit baik.
Suhu tubuh klien normal ((36,5oC-37,5oC)
b. Tidak mengalami injuri
Tidak terdapat luka, memar dan lesi pada klien
Tidak terdapat perdarahan pada klien
c. Nyeri Berkurang
Melaporkan berkurangnya rasa nyeri
Skala nyeri turun menjadi 3-5
d. Integritas kulit dan jaringan tetap baik
Tidak terdapat luka dan memar pada kulit
Tidak terdapat perdarahan pada kulit
e. Mekanisme koping efektif
Klien terbuka berkaitan dengan perasaannya terhadap penyakitnya
Klien mampu menerima kondisinya
BAB IV
TINJAUAN KASUS

An.A ,berusia 7 tahun sering mengalami memar yang besar dan meluas dan
perdarahan ke dalam otot, sendi, dan jaringan lunak meskipun hanya akibat trauma kecil.
An.A sering merasakan nyeri pada sendi sebelum tampak adanya pembengkakan dan
keterbatasan gerak. Ibunya mengatakan kadangkala buang air kecil An.A ada darah, dan
pernah suatu kali ketika mencabut gigi (awalnya goyah , kemudian Ibunya langsung
mencabut mumpung gigi susu ), saat itu terjadilah perdarahan yang lumayan hebat. An.A
sebelumnnya sering di rawat dan mendapatkan transfusi darah. Saat ini An.A compos mentis,
tidak mau makan , penurunan berat badan 9 kg. Perilakunya tampak berhati hati , gelisah,
dan rewel. TTV : TD: 80/70, N: 80x/menit, S: 38 c, RR : 25x/menit

4.1 PENGKAJIAN
a. Identitas Pasien
Nama klien : An.A
Umur : 7 Tahun
Diagnosa Medik : Hemofilia
Alamat :Jl. Sukadono
Suku : batak
Agama : islam
Pekerjaan :-
Status perkawinan : belum menikah
b. Identitas Penanggung jawab
Nama : Ny.U
Umur : 38 Tahun
Alamat :Jl. Sukadono
Suku : batak
Agama : islam
Pekerjaan : PNS
Status perkawinan : menikah
Hubungan dengan pasien : Ibu
c. Riwayat Penyakit
Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri pada sendi, memar yang besar, dan emluas dan
perdarahan ke dalam otot, sendi, dan jaringan lunak.
Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat kesehatan menunjukkan terjadinya memar yang besar, dan emluas
dan perdarahan ke dalam otot, sendi, dan jaringan lunak.
Riwayat Penyakit Terdahulu
Klien mengatakan sudah sering di rawat di rumah sakit dan mendapatkan
transfuse darah.
Riwayat Kesehatan Keluarga
Menurut pengakuan keluarga, dalam keluarganya tidak ada yang mengalami
penyakit yang sedang di derita pasien.

d. Pemeriksaan fisik
Kepala
- Rambut : hitam, tidak ada ketombe, distribusi merata, tidak rontok.
- Wajah : simetris, tidak ada finger print maupun kelainan kulit,
menyeringai menahan nyeri.
- Mata : konjungtiva merah muda,sklera putih, terdapat gambaran halus
pembuluh darah.
- Hidung : pernafasan spontan, tidak ada polip maupun sekret.
- Mulut : bibir lembab, tidak ada stomatitis, tidak ada carries.
- Telinga : bersih tidak terdapat serumen.
Leher
Tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe, kelenjar tiroid maupun bendungan
vena jugularis.
Thorax
Tidak terdapat kelainan kulit, gerakan dada simetris, bentuk dada bulat
datar.tidak terdapat tarikan intra costae.
Aktivitas
Gejala :kelelahan, malaise, ketidak mampuan untuk melakukan aktivitas
Tanda : kelemahan otot
Sirkulasi
Gejala : palpitasi
Tanda : Kulit dan membrane mukosa pucat, deficit saraf serebral/tanda
perdarahan serebral
Eliminasi
Gejala : hematuria
Integritas ego
Gejala : perasaan tak ada harapan, tak berdaya
Tanda : depresi menarik diri, ansietas
Nutrisi
Gejala : anoreksia, penurunan BB,
Nyeri
Gejala :nyeri tulang, sendi, nyeri tekan sentral, kram otot
Tanda : perilaku berhati-hati, gelisah, rewel

e. Pemeriksaan laboratorium (21 08 2006)


Hb : 14,4 g/dl
Hct : 37,1 %
Plt : 3,3 x 103 /L
WBC : 5,9 x 103 /L
RBC : 4,95 x 106 /L

4.2 Analisa Data


No Data Focus Problem Etiologi
1 DS Nyeri perdarahan sendi dan
- Pasien mengatakan sering kekakuan yang
mengalami memar yang besar dan ditimbulkannya
meluas dan perdarahan dalam otot,
sendi, dan jaringan lunak.
- Pasien mengatakan sering
merasakan nyeri pada sendi
- Ibu klien mengatakan An. Alia
kadangkala pada saat buang air kecil
ada darah
DO
- Sekala nyeri pasien nomor 8
- Pasien tampak perdarahan
dalam otot dan sendi
2 DS Resiko tinggi injuri kelemahan
- Pasien mengatakan sering pertahanan sekunder
mengalami memar yang besar dan akibat hemofilia
meluas dan perdarahan dalam otot, ditandai dengan
sendi, dan jaringan lunak. seringnya terjadi
- Pasien mengatakan sering cidera.
merasakan nyeri pada sendi
- Ibu klien mengatakan An. Alia
pernah mengalami perdarahan hebat
pada saat giginya di cabut
DO
- Pasien tampak perdarahan
dalam otot dan sendi
- Pasien tampak lesu
3. DS Perubahan nutrisi intake yang kurang,
- Pasien mengatakan berat badan kurang dari meningkatnya
menurun 9 kg kebutuhan tubuh kebutuhan metabolic,
- Pasien tidak nafsu makan dan menurunnya
- Pasien mengatakan letih absorbsi zat gizi.
- Pasien mengatakan lesu
DO
- Pasien tampak lesu
- Pasien tampak tidak segar
- Berat badan pasien turun dari 9
kg
- Porsi makan klien tidak habis
4. DS Risiko tinggi kesulitan beradaptasi
- Pasien mengatakan gelisah terhadap gangguan pada kondisi kronis
terhadap penyakitnya konsep diri
DO
- Pasien tampak rewel
- Perilakunya tampak berhati-hati

4.3 Diagnosa Keperawatan


a. Nyeri berhubungan dengan perdarahan sendi dan kekakuan yang ditimbulkannya.
b. Resiko tinggi injuri berhubungan dengan kelemahan pertahanan sekunder akibat
hemofilia ditandai dengan seringnya terjadi cidera.
c. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
kurang, meningkatnya kebutuhan metabolic, dan menurunnya absorbsi zat gizi.
d. Risiko tinggi terhadap gangguan konsep diri yang berhubungan dengan kesulitan
beradaptasi pada kondisi kronis
4.5 Evaluasi Keperawatan
S.O.A.P
Tanggal Masalah S.O.A.P
12/03/2017 1 S=
- Pasien mengatakan sudah tidak mengalami
memar yang besar dan meluas dan perdarahan dalam
otot, sendi, dan jaringan lunak.
- Pasien mengatakan sudah tidak merasakan
nyeri pada sendi
- - Ibu klien mengatakan An. Alia sudah tidak
ada darah pada saat buang air kecil
-
- O=
- Sekala nyeri pasien nomor 1
- Pasien sudah tidak ada perdarahan dalam otot
dan sendi
A = Masalah teratasi
P = intervensi dihentikan
10/03/2017 2 S=
- Pasien mengatakan sudah tidak mengalami
memar yang besar dan meluas dan perdarahan dalam
otot, sendi, dan jaringan lunak.
- Pasien mengatakan sudah tidak merasakan
nyeri pada sendi
- Ibu klien mengatakan An. Alia sudah tidak
mengalami perdarahan hebat
O=
- Pasien suudah tidak ada perdarahan dalam otot
dan sendi
- Pasien tampak segar
A= Masalah teratasi
P= Intervensi dihentikan
18/03/2017 3 S=
- Pasien mengatakan berat badannya mulai naik
2 kg
- Pasien mengatakan sudah mulai nafsu makan
O=
- Pasien tampak segar
- Berat badan pasien naik 2 kg
- Porsi makan klien habis
A= Masalah teratasi
P= intervensi dihentikan
18/03/2017 4 S=
- Pasien mengatakan sudah tidak gelisah
terhadap penyakitnya
DO
- Pasien sudah tidak rewel
- Pasien tampak lebih tenang
A= Masalah teratasi
P= Intervensi dihentikan
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Penyakit Hemofilia merupakan penyakit yang bersifat herediter. Pada penyakit ini terjadi
gangguan pada gen yang mengekspresikan faktor pembekuan darah, sehingga jika terjadi
luka,luka tersebut sukar menutup.
Klasifikasi hemofilia dibedakan atas 3 macam :
Hemofilia A
Hemofilia B atau penyakit Christmas
Hemofilia C

5.2 Saran
Dengan riwayat keluarga ada yang menderita penyakit hemophilia,probabilitas anak
tersebut menderita hemophilia banding anak tersebut normal adalah 50% : 50%. Disarankan
bagi anak tersebut terlebih dahulu menjalankan pemeriksaan kadar faktornya untuk
mengetahui jenis dan tingkat hemophilia.
Jika setelah melalui tes anak tersebut dinyatakan penderita hemophilia maka anak
tersebut dapat disunat dengan konsekuensi harus menjalani prosedur khusus. Namun jika
ternyata anak tersebut normal maka sircumsisi dapat dengan prosedur sepertibiasanya.
DAFTAR PUSTAKA

Cecily. L Betz, 2002, Buku Saku Keperawatan Pediatri, Alih bahasa Jan Tambayong,
EGC, Jakarta
Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol 3.
Edisi 8. Jakarta : EGC.
Doungoes, marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Ed 3. EGC. Jakarta: 2000.
Suryo. 1986. Genetika Manusia.Gajah Mada University Press: Yogjakarta
Murwani,Arita. 2008. Perawatan Pasien Penyakit Dalam.Mitra Cendikia Press:
Yogjakarta
Handayani,Wiwik & Sulistyo, Andi Hariwibowo. 2008. Asuhan Keperawatan Pada
Klien dengan Gangguan Sistem Hematologi. Penerbit Salemba Medika:Jakarta
http://kumankecil.blogspot.com/2009/01/askep-hemofilia.html diakses pada tanggal
01 Oktober 2010 07.05 pm
http://www.hemofilia.or.id http://www.medicastore.com diakses pada tanggal 01
Oktober 2010 07.30 pm