Anda di halaman 1dari 1

Nama : Ida I Dewa Nyoman Warman Gunawan

No. Absen : 37
Kelas : VIIM

ASAL MULA PULAU BALI

Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya abad ke-7 memberikan pengaruh besar pada
kehidupan penduduk Bali. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa Timur.
Suatu hari beliau mendapat bisikan gaib dari Tuhan untuk bertempat tinggal di sebelah timur
Pulau Dawa (pulau Jawa sekarang). Dawa artinya panjang, karena memang dulunya pulau Jawa
dan Bali menjadi satu daratan.
Dengan diikuti oleh 800 pengikutnya, beliau mulai bergerak ke arah timur yang masih
berupa hutan belantara. Perjalanan beliau hanya sampai di daerah Jembrana sekarang Bali Barat
karena pengikut beliau tewas dimakan harimau dan ular-ular besar penghuni hutan. Akhirnya
beliau memutuskan kembali ke Gunung Raung untuk bersemedi dan mencari pengikut baru.
Dengan semangat dan tekad yang kuat, perjalanan beliau yang kedua sukses mencapai tujuan di
kaki Gunung Agung (Bali Timur) yang sekarang disebut Besakih.
Sebelum pengikutnya merabas hutan, beliau melakukan ritual menanam Panca Dhatu berupa
lima jenis logam yang dipercayai mampu menolak bahaya. Perabasan hutan sukses, tanah-tanah
yang ada beliau bagi-bagi kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tegalan, rumah, dan
tempat suci yang dinamai Wasukih (Besakih).
Di sinilah beliau mengajarkan agama kepada pengiringnya yang menyebut Tuhan dengan
nama Sanghyang Widhi melalui penyembahan Surya (surya sewana) tiga kali dalam sehari,
menggunakan alat-alat bebali yaitu sesajen yang terdiri atas tiga unsur benda: air, api, dan bunga
harum.Ajaran agamanya disebut agama Bali. Lambat laun para pengikutnya mulai menyebar ke
daerah sekitar, sehingga daerah ini dinamai daerah Bali, daerah yang segala sesuatunya
mempergunakan bebali (sesajen).
Bisa disimpulkan bahwa nama Bali berasal dari kata bebali yang artinya sesajen.
Ditegaskan lagi dalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: "Ada sebuah tempat di timur Dawa
Dwipa yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh
penduduknya berupa bebali (sesajen)."
Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau
Bali atau pulau sesajen. Tidak salah memang interpretasi ini melihat orang Bali memang tidak
bisa lepas dari sesajen dalam menjalankan kehidupan sehari-harinya.