Anda di halaman 1dari 3

Penyakit Asma Akibat Kerja

Latar Belakang

Di era globalisasi yang penuh dengan tantangan dan persaingan ketat ini, orang-orang semakin giat
untuk mencari mata pencaharian yang sesuai dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Terkadang
banyak orang melupakan kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri ketika bekerja diliuar rumah. Dalam
melakukan pekerjaan apapun sebenarnya setiap orang beresiko mengalami gangguan kesehatan atau
penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut walaupun risiko penyakit akibat kerja ini bervariasi
mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat, tergantung jenis pekerjaannya.

WHO membedakan empat kategori Penyakit Akibat Kerja, yaitu :

1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis.

2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma Bronkhogenik

3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab diantara faktor-faktor penyabab lainnya,
misalnya bronchitis kronis.

4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, conthnya asma

Banyak instansi pemerintah maupun perusahaan swasta lainnya yang mulai mementingkan keselamatan
dan kesehatan pekerjanya dengan upaya promotif maupun preventif dari dokter perusahaan yang
sengaja disewa oleh perusahaan agar dapat mencegah dan menekan tingkat penyakit akibat kerja pada
karyawannya.

Pengetahuan mengenai penyakit akibat kerja ini penting diketahui oleh para pekerja di perusahaan
negara maupun swasta. Dengan meningkatnya derjat kesehatan pekerja, maka produktivitas kerja
pekerja pun akan semakin baik dan meningkat.

Kasus Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun
lingkungan kerja, sehingga disebutkan penyakit ini brsifat artifisial atau ditimbulkan oleh manusia itu
sendiri.

Salah satu contoh kasus asma dialami oleh seorang pekerja sebuah pabrik pengolahan kayu yang
memiliki gejala batuk, sesak nafas dan rasa berat di dada. Disamping gejala asma itu, yang lebih sering
pekerja akan mengalami gejala gangguan hidung dan pernafasan di tempat kerja. Gejala biasanya
bertambah parah selama jam kerja dan menjadi membaik ketika pasien kembali ke rumah. Biasanya
gejala memburuk pada akhir minggu dan akan sangat membaik selama masa cuti atau libur.

Karyawan/pekerja pabrik pengolahan kayu tersebut diduga mengalami penyakit asma akibat kerja yang
ditimbulkan oleh penghirupan melalui saluran pernafasan (inhalasi) agen-agen sensitisasi atau iritan
yang terdapat dalang lingkungan pabrik tersebut. Zat yang dapat merangsang hiper-reaksi dari bronchus
sehingga mengakibatkan sesak nafas pada kasus ini diduga adalah debu kayu yang diolah di pabrik
tersebut.

Secara klinis asma akibat kerja sama dengan asma yang bukan karena kerja. Beberapa penelitian
menemukan bahwa lamanya paparan setelah gejala timbul dan beratnya asma saat diagnosa ditegakkan
sangat menentukan prognosis.

Asma Akibat Kerja (AAK) ditandai dengan obstruksi saluran napas yang variabel dan bronkus
hiperesponsif yang disebabkan oleh inflamasi bronkial akut dan kronis. Hal tersebut bermula dari
inhalasi debu, uap, gas yang diproduksi atau digunakan karyawan atau secara tidak sengaja ditemukan
dalam lingkungan kerja.

Gejala klinik hiper-reaksi bronchus dan asma kimia idntik dengan asma bukan akibat kerja, ditandai
dengan sesak nafas, mengi atau berbunyi ngik ngik saat bernafas, serta gangguan fungsi paru tipe
obstruktif.

Reaksi hipersensitivitas lambat mulai beberapa jam setelah paparan pertama, seringkali setelah jam
kerja atau di malam hari, dan pemulihan memerlukan waktu lebih dari 24 jam. Sedangkan serangan
asma yang ditimbulkan oleh iritasi biasanya timbul selama atau segera setelah paparan. Beberapa iritan
menginduksi efek setelah suatu masa laten beberapa jam.

Meskpiun pada kebanyakan individu gejala-gejala asma berhenti jika tidak ada paparan lebih lanjut,
tetapi pada sebagian kasus dapat terjadi asma yang memanjang meskipun sudah tidak ada kontak
dengan agen tertentu. Kasus yang demikian perlu dicurigai adanya kontak lingkungan yang
berkelanjutan dengan suatu agen, atau reaksi silang dengan alergen non-okupasional lainnya.

Solusi Kasus Penyakit akibat Kerja

Bila telah terjadi asma akibat kerja, maka pemindahan ke luar lingkungan kerja merupakan hal
penting. Apabila karena sesuatu hal tidak bisa dipindahkan maka harus dilakukan upaya pencegahan dan
pemantauan penurunan fungsi paru.

Evaluasi fungsi paru secara berkala pada pekerja yang sudah menderita asma akibat kerja diperlukan
untuk mencegah kecacatan. Klinis asma akan menetap sampai beberapa tahun meskipun pekerja
tersebut sudah keluar dari lingkungan kerjanya.

Pengobatan medikamentosa pada pasien asma akibat kerja sama seperti asma bronkial pada
umumnya.

Teofilin, merupakan bronkodilator dan dapat menekan neutrophil chemotactic factor . Efektifitas
kedua fungsi di atas tergantung dari kadar serum teofilin.

Agonis beta, merupakan bronkodilator yang paling baik untuk pengobatan asma akibat kerja
dibandingkan dengan antagonis kolinergik (ipratropium bromid).
Kombinasi agonis beta dengan ipratropium bromid memperbaiki fungsi paru lebih baik dibanding
hanya beta agonist saja.

Kortikosteroid, dari berbagai penelitian diketahui dapat mencegah bronkokonstriksi yang disebabkan
oleh provokasi bronkus menggunakan alergen. Selain itu juga akan memperbaiki fungsi paru,
menurunkan eksaserbasi dan hiperesponsivitas saluran nafas dan pada akhirnya akan memperbaiki
kualitas hidup.

Kesimpulan :

Asma akibat kerja adalah asma karena paparan zat di tempat kerja. Secara klinis asma akibat kerja sama
dengan asma yang bukan karena kerja. Beberapa penelitian menemukan bahwa lamanya paparan
setelah gejala timbul dan beratnya asma saat diagnosa ditegakkan sangat menentukan prognosis. Selain
itu, menghindari paparan alergen penyebab ternyata hanya memberi kesembuhan 50 % penderita.
Penelitian retrospektif menunjukkan gejala asma, obstruksi bronkus, dan hiperreaktivitas menetap
walau tidak ada paparan alergen lagi. Dengan demikian, jelas tindakan preventif yang tepat sangat
diperlukan.

Pencegahan tingkat kedua dengan deteksi diri pekerja yang menderita penyakit tersebut dan
menghentikan paparan lebih lanjut. Ini akan mengurangi tingkat keganasan penyakit, sehingga tidak
menjadi lebih berat. Dokter perusahaan harus melakukan pemantauan medis secara rutin, khususnya
pada pekerja yang banyak terpapar alergen.

Tindakan di tingkat tersier adalah menghindarkan pekerja yang telah terdiagnosis dari lingkungan kerja
sebelumnya yang banyak alergen, ke lingkungan kerja bebas alergen. Hal ini akan mencegah kerusakan
akibat asma dan hiperreaktivitas yang menetap.

Asma akibat kerja yang menjadi permanen, menyebabkan penderita memiliki disabilitas, harus pindah
bekerja di bidang lain, bertambahnya biaya pengobatan, dan turunnya kualitas hidup. Karenanya,
perusahaan tempat ia berkerja dan mendapat asma seharusnya memberikan kompensasi.

Saran :

Penegakan diagnosis Penyakit Akibat Kerja masih merupakan masalah di Indonesia. Diperlukan minat
dan pengetahuan yang khusus untuk dapat menegakkan diagnosis Penyakit Akibat Kerja. Untuk
mengatasi masalah tersebut, selain perlu ditingkatkan pendidikan bagi dokter dalam bidang kedokteran
kerja, juga perlu dikembangkan suatu sistem rujukan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Dikembangkannya klinik-klinik Kedokteran Kerja di Indonesia dapat membantu permasalahan yang
dihadapi.

http://iuniezh.blogspot.co.id/2010/11/penyakit-asma-akibat-kerja.html