Anda di halaman 1dari 34

Mencoba Untuk Memiliki Seorang Anak

Seorang pria 25 tahun, didampingi istrinya, yang memiliki sejarah dua tahun
hubungan seksual tanpa kondom dan ketidakmampuan untuk hamil. Tidak memiliki anak.
Dia tidak memiliki sejarah operasi testis, cedera atau pemaparan kimia di tempat kerja atau
melalui hobinya. Dia membantah gejala yang merujuk dengan penyakit thyroidal,
keterlambatan pubertas atau diabetes. Tidak ada riwayat keluarga gangguan endokrin. Dia
membantah merokok, minum atau penggunaan resep, obat herbal atau ilegal. pemeriksaan
fisik menunjukkan tekanan darah 120/80 mmHg. Dengan 170 cm dan 80 kg dan sangat
berotot. Dia telah lebih awal mengalami kebotakan pola pria, jerawat sederhana dan distribusi
rambut laki-laki normal. Throidnya pun muncul dengan normal. Abdomen tidak
menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa, dan penis beserta skrotum normal. Kedua testis
layu dan ukuran tidak lebih dari 2 cm. Dia mengalami azoosperm dan memiliki kadar glukosa
normal. Kadar testosteron serum Nya adalah 64 mg / dl (normal 241-860 ng / dl). Setelah
diskusi lebih lanjut, dia mengakui penggunaan "steroid anabolic dan suntikan testosteron"
saat bermain sepak bola perguruan tinggi. Dia diyakinkan oleh temannya bahwa kombinasi
obatnya termasuk blocker" untuk melindungi testis dan produksi sperma, kemudian Dia
kadang-kadang menggunakan suntikan testosteron sejak kuliah untuk meningkatkan ereksi
yang agak gagal. Istrinya pun tidak menyadari praktek ini.

Anatomi mikro

Anatomi mikro terdiri atas bagian bagian sebagai berikut :

1. Labia mayora (bibir besar) bibir luar vagina yang tampak tebal berlapiskan lemak.

2. Mons veneris, pertemuan antara kedua bibir vvagina dengan bagian atas yang tampak
membukit

3. Labia minora (bibir kecil), yaitu sepasang lipatan kulit yang halus dan tipis serta tidak dilapisi
lemak.

4. Klitoris (kelentit) tonjolan kecil yang terdapat pada labia mayora.

5. Orificium urethrae, merupakan muaran saluran kencing yang berada tepat dibawah klitoris.

6. Hymen (selaput dara), berlokasi dibawah saluran kencing yang mengelilingi tempat masuk ke
vagina.

Anatomi makro

Anatomi makro terdiri atas bagian sebagai berikut :

1. Ovarium
Ovarium merupakan dua struktur kecil berbentuk oval, masing-masing berukuran sekitar 2x4x1,5
cm, berada jauh di dalam pelvis wanita sedikit lateral terhadap dan di belakang uterus. Kedua organ
ini terikat lemah pada uterus oleh pita jaringan ikat. Pada pemeriksaan bimanual, pemeriksa akan
merasakan benda yang menyerupai almond yang bergeser diantara jari-jari pemeriksa saat
melakukan palpasi. Setelah menopause, ovarium tidak dapat terpalpasi sama sekali

Arteri ovarika berasal dari aorta yang berada sedikit di bawah arteri renalis dan merupakan pemasok
darah ovarium yang utama. Arteri ovarika berjalan melewati rongga retroperitoneal abdomen di
dekat ureter. Darah yang memasuki ovaarium keluar melalui vena ovarika.vena ovarika mengalirkan
darah ke vena cava pada sisi kanan dan ke vena renalis pada sisi kiri. Perbedaan anatomis dengan
aliran vena ini sangat penting. Semakin lateral posisi vena ovarika kiri membuatnya lebih rentan
terhadap obstruksi dan pembekuan thrombus, terutama pada kehamilan. Aliran limfatik ovarium
berjalan ke nodus lumbalis (para-aorta).

Ovarium berfungsi memproduksi telur yang matang untuk fertilisasi dan membuat hormon steroid
dalam jumlah besar.

2. Tuba fallopii

Tuba fallopii merupakan struktur saluran bilateral yang melekat ke uterus pada setiap kornu (ujung)-
nya. Tuba fallopii dibagi menjadi tiga bagian berdasarkan anatomi dan fungsinya, yaitu kornu, ismus,
dan fimbria. Kornu merupakan bagian dari dinding otot uterus dan menjamin hubungan yang stabil
dan kuat dengan organ ini. Fertilisasi terjadi dalam bagian yang panjang, sempit dan menyerupai
pensil yang disebut ismus. Ujung tuba yang memiliki fimbria atau yang bergalur merupakan bagian
yang paling distal. Fimbria merupakan bagian distal tuba fallopii yang menyerupai jari-jari. Fimbria ini
berperan dalam aktivitas menyerupai gerakan menyapu secaraa terus-menerus dan telah diketahui
bertujuan mencapai cul-de-sac pada pelvis wanita untuk menangkap telur matang yang jatuh di
belakang uterus.

Bersamaan dengan ovarium tuba fallopii dibungkus oleh satu lapisan peritoneum parietal yang
disebut ligament latum. Keadaan ini membentuk struktur yang memiliki ketebalan ganda yang
dibatasi oleh ligament rotundum uterus di bagian superior.

3. Uterus

Uterus merupakan struktur muscular tunggal, berbentuk buah pir yang terletak diantara kandung
kemih dan rectum pada pelvis wanita. Uterus yang matang memiliki berat 30-40 gr pada wanita yang
belum pernah melahirkan dan 75-100 gr pada wanita yang sudah pernah melahirkan. Uterus diikat
pada pelvis oleh tiga set ligament jaringan ikat : ligament rotundum, cardinal dan uterosakral.
Ligament rotundum melekat ke kornu uterus pada bagian anterior insersi tuba fallopii. Struktur
menyerupai tali ini melewati pelvis, melalui cincin inguinal pada dua sisi dan mengikat osteum dari
tulang pelvis dengan kuat. Ligament ini memberikan stabilitas bagian atas uterus namun tidak terlalu
penting. Ligament cardinal menghubungkan uterus ke dinding abdomen anterior setinggi serviks.
Ligament uterosakral melekat ke uterus di bagian posterior setinggi serviks dan berhubungan
dengan tulang sacrum. Ligament cardinal dan utterosakral memberikan penopang yang sangat kuat
pada dasar pelvis wanita.
Uterus dibagi menjadi tiga area secara anatomis dan fungsional, yaitu serviks, segmen bawah uterus
dan korpus. serviks sebagian besar terdiri atas jaringan ikat yang kuat dan biasanya berukuran 4 cm.
sekitar 2 cm serviks menonjol ke vagina, sedangkan sisanya tetap ada intraperitoneal. Serviks
membuka kearah uterus melalui ostium interna dan kearah vagina melalui ostium eksterna. Segmen
bawah uterus meliputi sepertiga bagian bawah uterus. Otot pada segmen bawah menyebabkan
pembukaan dan penipisan serviks saat persalinan. Korpus yang merupakan segmen terbesar uterus,
terdiri atas otot yang tebal. Bagian paling atas dari uterus diantara kkedua tuba fallopii disebut
fundus, suatu istilah yang kadang digunkan untuk menunjukan seluruh korpus uterus.

Uterus berfungsi menunjang pertumbuhan janin salami kehamilan.

4. Vagina

Vagina merupakan struktur tubular yang terbentang antara muaranya pada introitus perineum pada
servikks. Permukaanya dibungkus oleh epitel yang lemah dan ber-rugae. Dua pertiga bagian atasnya
paling tepat disebut sebagai bagian dari genitalia interna karena adanya hubungan embriologis
dengan uterus. Hymen, merupakan potongan membrane tipis yang mungkin tetap ada selama
pubertas atau saat hubungan seksual pertama kali, terlihat sebagai lingkaran jaringan yang tidak
teratur pada muara vagina ke vulva.

Vagina berfungsi menahan peni selama hubungan seksual dan menyimpan semen untuk sementara.

5. Vulva

Genetalia eksterna wanita secara kolektif disebut sebagai vulva. Vulva terbagi atas sepertiga bagian
bawah vagina, klitoris, dan labia. Labia mayor merupakan struktur terbesar genetalia eksterna
wanita dan mengelilingi organ lainya, yang berakhir pada mons pubis. Mons pubis merupakan
tonjolan lemak yang besar dan terletak di atas simfisis pubis. Hanya mons dan labia mayor yang
harus memisahkan labia mayor untuk melihat labia minor, klitoris dan ostium uretra. Di sepanjang
ostium vagina terdapat banyak kelenjar penghasil mucus. Kelenjar terbesar dan terpenting meluas di
bagian posterolateral menuju bokong dan dikenal sebagai kelenjar bartholin.

Arteri pudenda interna memasok darah ke vulva, arteri ini berasal dari arteri iliaka interna bagian
posterior. Aliran limfatik vulva mengalir ke nodus inguinalis.

Klitoris homolog dengan penis dan merupakan organ perangsang seksual pada wanita.

Anatomi makro organ reproduksi pria

Terdiri dari :

A. Testis dan Epididimis

Testis merupakan sepasang struktur berbentuk oval, agak gepeng, dengan panjang sekitar 4 cm dan
diameter sekitar 2,5 cm. bersama epididimis testis berada di dalam skrotum yang merupakan sebuah
kantung ekstra abdomen tepat di bawah penis. Dinding pada rongga yang memisahkan testis dengan
epididimis disebut tunika vaginalis. Tunika vaginalis dibentuk dari peritoneum intra abdomen yang
bermigrasi ke dalam skrotum primitive selama perkembangan genitalia interna pria. Setelah migrasi
ke dalam skrotum, saluran tempat turunya testis akan menutup.

Epididimis merupakan suatu struktur berbentuk koma yang menahan batas posterolateral testis.
Epididimis dibentuk oleh saluran yang berlekuk-lekuk secara tidak teratur yang disebut duktus
epididimis. Duktus epididimis memiliki panjang sekitar 600 cm. duktus ini berawal pada puncak testis
yang merupakan kepala epididimis. Setelah melewati jalan yang berliku-liku, duktus ini berakhir pada
ekor epididimis yang kemudian menjadi vas deferens.

Testis merupakan tempat terjadinya spermatogenesis dan produksi steroid seks pada pria.
Epididimis merupakan tempat terjadinya maturasi akhir sperma. Skrotum pada dasarnya merupakan
kantung kulit khusus yang melindungi testis dan epididimis dari cedera fisik dan merupakan
pengatur suhu testis. Spermatozoa sangat sensitive terhadap suhu. Karena testis dan epididimis
berada di luar rongga badan, suhu di dalam testis biasanya lebih rendah dari pada suhu di dalam
abdomen.

B. Vas deferens dan vesikula seminalis

Vas deferens merupakan lanjutan langsung dari epididimis. Struktur ini mempunyai panjang 45 cm
yang berawal dari ujung bawah epididimis kemudian naik di sepanjang aspek posterior testis dalam
bentuk gulungan- gulungan bebas. vas deferens dan duktus vesikula seminalis bersama-sama
membentuk duktus ejakulatoris yang bermuara padda retra bagian prostat. Duktus ejakulatoris
berukuran pendek 2,5 cm dan berada sangat dekat dengan duktus kontralateralnya saat menuju
bagian depan melalui prostt.

Vesikula seminalis merupakan sepasang struktur berongga dan berkantung-kantung pada dasar
kantung kemih di depan rectum.

Vas deferens berfungsi mengalirkan sperma. Vesikula seminalis memproduksi kurang lebih 50-60 %
dari total volume cairan semen. Komponen penting pada semen yang berasal dari vvesikula
seminalis adalah fruktosa dan prostaglandin.

C. Kelenjar prostat

Prostat merupakan organ dengan sebagian strukturnya merupakan kelenjar dan sebagian lagi otot.
Organ ini mengelilingi uretra pria, yang terfiksasi kuat oleh lapisan jaringan ikat sedikit di belakang
simfisis pubis. Organ ini berukuran sekitar 2,3 x 3,5 x 4,5 cm. lobus media prostat yang secara
histologist merupakan sarana transisional berbentuk baji, secara langsung mengelilingi uretra dan
memisahkan nya dengan duktus ejakulatoris. Saat terjadi hipertropi, lobus media dapat menyumbat
aliran urin. Hipertrofi lobus media banyak terjadi pada usia lanjut.

D. Penis

Penis terdiri atas jaringan kavernosa (erektil) dan dilalui oleh uretra. Permukaan posterior pada penis
yang lunak adalah yang paling dekat dengan uretra dan sisi lainya, adalah permukaan dorsal yang
lebih luas. Sebagian besar jaringan erektil penis tersusun dalam tiga kolom longitudinal, yaitu
sepasang korpus kavernosum dan sebuah korpus spinosum di bagian tengah. Ujung dari penis
disebut glans. glans penis juga mengandung jaringan erektil dan berlanjut ke korpus spongiosum.
Glans dilapisi oleh lapisan kulit tipis terlipat yang dapat ditarik ke proksimal,yang disebut prepusium
atau kulit luar. Prepusium ini dibuang saat melakukan pembedahan sirkumsisi (sunat).

Anatomi mikro system reproduksi pria

Terdiri dari :

I. Testis

Testis berbentuk bulat telur, berjumlah sepasang dan terdapat dalam skrotum (kantong pelir/zakar)
yang terletak di luar tubuh. Letak skrotum di luar tubuh ini bertujuan afar temperaturnya sesuai
untuk pembentukan sperma.

Di dalam testis terdapat saluran halus yang merupakan tempat pembentukan sperma, disebut
tubulus seminiferus. Pada dinding tubulus seminiferus terdapat calon-calon sperma diploid (2n).
diantara tubulus seminiferus .Pada dinding tubulus seminiferus terdapat calon-calon sperma diploid
(2n). Diantara tubulus seminiferus terdapat sel-sel interstisil yang menghasilkan hormon kelamin
jantan lainnya. Selain itu terdapat pula sel sertoli yang berukuran besar dan berfungsi menyediakan
makanan bagi spermatozoa.

II. Epipidimis dan vas ( duktus ) deferens

Duktus yang membentuk epididimis dan vas deferens memiliki lapisan muscular yang tersusun atau
serat sirkular pada lapisan dalam dan serat longitudinal pada lapisan luar.

III. Vesikula seminalis

Alveoli pada vesikula seminalis dibatasi oleh epitel lurik semu yang mengandung banyak granula dan
gumpalan pigmen kuning. Berapa sel epitel memiliki flagella. Secret vvesikula seminalis berupa
cairan kental berwarna kekuningan yang mengandung globulin dan fruktosa. Secret ini merupakan
sebagian besar isi ejakulat.

IV. Kelenjar prostat

Kelenjar tubuloalveolar prostat dibatasi oleh epitel-epitel yang sangat responsive terhadap
androgen. Asinus dari zona kelenjar sentral yang mengelilingi duktus ejakulatoris berukuran besar
dan irregular. Sebaliknya asinus dari zona kelenjar ferifer berukur kecil dan regular. Perbedaan yang
mencolok dalam arsitektur kelenjar ini, disertai dengan pengamatan bahwa terdapat beberapa
enzim unik yang terdapat dalam vesikula seminalis juga terdapat pada zona perifer, menunjukan
bahwa terdapat perbedaan asal jaringan embriologi pada kedua bagian prostat ini. Epitel pada
kelenjar tubuloalveolar prostat menghasilkan forfatase asam dan asam sitrat yang normal
ditemukan pada semen.

V. Penis

Jaringan erektil pada penis merupakan rongga vascular irregular yang sangat banyak dengan, system
menyerupai spons yang mendapat pasokan darah dari arteriol aferen dan kemudian dialirkan ke
venula eferen. Sepasang badan silinder, yaitu korpus kavernoum dikelilingi oleh membrane fibrosa
tebal yang disebut tunika albuginea dan dipisahkan oleh septum fibrosa imkonflet. Vena- vena yang
mengalirkan darah dari badan kavernosa mengandung banyak trabekula.trabekula tersusun atas
serat elastic dan otot polos yang terbenam di dalam gelendong kolagen yang tebal dan terbungkus
oleh sel-sel endotel.

PEMBENTUKAN SISTEM REPRODUKSI

System reproduksi diawali dari spermatogenesis pada laki-laki dan gametogenesis pada perempuan.

1. Spermatogenesis

Peralihan dari bakal sel kelamin yang aktif membelah ke sperma yang masak serta menyangkut
berbagai macam perubahan struktur yang berlangsung secara berurutan. Spermatogenesis
berlangsung pada tubulus seminiferus dan diatur oleh hormone gonadtotropin dan testosterone
(Wildan yatim, 1990).

Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :

1.Spermatocytogenesis

Merupakan spermatogonia yang mengalami mitosis berkali-kali yang akan menjadi spermatosit
primer.

Spermatogonia

Spermatogonia merupakan struktur primitif dan dapat melakukan reproduksi (membelah) dengan
cara mitosis. Spermatogonia ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang menjadi
spermatosit primer.

Spermatosit Primer

Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan mengalami meiosis.
Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit sekunder.

2. Tahapan Meiois

Spermatosit I (primer) menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan segera mengalami
meiosis I yang kemudian diikuti dengan meiosis II.

Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap terpisah, tapi masih
berhubungan sesame lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan dengan spermatosit
I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.

3. Tahapan Spermiogenesis

Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase yaitu fase golgi, fase
tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat spermatozoa masak. Dua
spermatozoa akan membawa kromosom penentu jenis kelamin wanita X. Apabila salah satu dari
spermatozoa ini bersatu dengan ovum, maka pola sel somatik manusia yang 23 pasang kromosom
itu akan dipertahankan. Spermatozoa masak terdiri dari :

Struktur luar dari sistem reproduksi pria terdiri dari penis, skrotum (kantung zakar) dan testis (buah
zakar).

Struktur dalamnya terdiri dari vas deferens, uretra, kelenjar prostat dan vesikula seminalis.

Sperma (pembawa gen pria) dibuat di testis dan disimpan di dalam vesikula seminalis.

Ketika melakukan hubungan seksual, sperma yang terdapat di dalam cairan yang disebut semen
dikeluarkan melalui vas deferens dan penis yang mengalami ereksi.

STRUKTUR

Penis terdiri dari:

- Akar (menempel pada didnding perut)

- Badan (merupakan bagian tengah dari penis)

- Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).

Lubang uretra (saluran tempat keluarnya semen dan air kemih) terdapat di ujung glans penis.

Dasar glans penis disebut korona.

Pada pria yang tidak disunat (sirkumsisi), kulit depan (preputium) membentang mulai dari korona
menutupi glans penis.

Badan penis terdiri dari 3 rongga silindris (sinus) jaringan erektil:


- 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan

- Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.

Jika rongga tersebut terisi darah, maka penis menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami
ereksi).

Skrotum merupakan kantung berkulit tipis yang mengelilingi dan melindungi testis.

Skrotum juga bertindak sebagai sistem pengontrol suhu untuk testis, karena agar sperma terbentuk
secara normal, testis harus memiliki suhu yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan suhu
tubuh.

Otot kremaster pada dinding skrotum akan mengendur atau mengencang sehinnga testis
menggantung lebih jauh dari tubuh (dan suhunya menjadi lebih dingin) atau lebih dekat ke tubuh
(dan suhunya menjadi lebih hangat).

Testis berbentuk lonjong dengan ukuran sebesar buah zaitun dan terletak di dalam skrotum.
Biasanya testis kiri agak lebih rendah dari testis kanan.

Testis memiliki 2 fungsi, yaitu menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria
yang utama).

Epididimis terletak di atas testis dan merupakan saluran sepanjang 6 meter.

Epididimis mengumpulkan sperma dari testis dan menyediakan ruang serta lingkungan untuk proses
pematangan sperma.

Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari epididimis.

Saluran ini berjalan ke bagian belakang prostat lalu masuk ke dalam uretra dan membentuk duktus
ejakulatorius.

Struktur lainnya (misalnya pembuluh darah dan saraf) berjalan bersama-sama vas deferens dan
membentuk korda spermatika.
Uretra memiliki 2 fungsi:

Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari kandung kemih

Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

Kelenjar prostat terletak di bawah kandung kemih di dalam pinggul dan mengelilingi bagian tengah
dari uretra.

Biasanya ukurannya sebesar walnut dan akan membesar sejalan dengan pertambahan usia.

Prostat dan vesikula seminalis menghasilkan cairan yang merupakan sumber makanan bagi sperma.
Cairan ini merupakan bagian terbesar dari semen. Cairan lainnya yang membentuk semen berasal
dari vas deferens dan dari kelenjar lendir di dalam kepala penis.

FUNGSI

Selama melakukan hubungan seksual, penis menjadi kaku dan tegak sehingga memungkinkan
terjadinya penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina)

Ereksi terjadi akibat interaksi yang rumit dari sitem saraf, pembuluh darah, hormon dan psikis.

Rangsang yang menyenangkan menyebabkan suatu reaksi di otak, yang kemudian mengirimkan
sinyalnya melalui korda spinalis ke penis.

Arteri yang membawa darah ke korpus kavernosus dan korpus spongiosum memberikan respon,
yaitu berdilatasi (melebar). Arteri yang melebar menyebabkan peningkatan aliran darah ke daerah
erektil ini, sehingga daerah erektil terisi darah dan melebar.

Otot-otot di sekitar vena yang dalam keadaan normal mengalirkan darah dari penis, akan
memperlambat aliran darahnya.

Tekanan darah yang meningkat di dalam penis menyebabkan panjang dan diameter penis
bertambah.

Ejakulasi terjadi pada saat mencapai klimaks, yaitu ketika gesekan pada glans penis dan rangsangan
lainnya mengirimkan sinyal ke otak dan korda spinalis.

Saraf merangsang kontraksi otot di sepanjang saluran epididimis dan vas deferens, vesikula seminalis
dan prostat. Kontraksi ini mendorong semen ke dalam uretra.
Selanjutnya kontraksi otot di sekeliling uretra akan mendorong semen keluar dari penis.

Leher kandung kemih juga berkonstriksi agar semen tidak mengalir kembali ke dalam kandung
kemih.

Setelah terjadi ejakulasi (atau setelah rangsangan berhenti), arteri mengencang dan vena
mengendur.

Akibatnya aliran darah yang masuk ke arteri berkurang dan aliran darah yang keluar dari vena
bertambah, sehingga penis menjadi lunak.

Pendahuluan

Di dalam tubuh manusia ada 2 sistem sistem pengaturan yaitu sistem saraf dan sistem
pengaturan kimia melalui endokrin. Kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu yang mensekresikan
substansi kimia yang dikenal dengan hormon ke sirkulasi darah. Pesuruh kimia ini kemudian dibawa
ke seluruh tubuh dan menimbulkan aktivitas pada organ target yang mempunyai reseptor spesifik
dengan jenis hormon tersebut. Hormon banyak beperan dalam berbagai mekanisme fisiologis dalam
tubuh: pertumbuhan, reproduksi dan homeostasis. Dalam modul ini akan dibahas mengenai
struktur dan fungsi organisasi sistem endokrin dengan berbagai kelenjar endokrin dalam tubuh,
mekanisme kerja hormon serta bagaimana interaksi sistem endokrin dengan sistem tubuh lainnya.

STRUKTUR DAN FUNGSI KELENJAR ENDOKRIN

Dalam banyak hal, organisasi fungsional dari sistem saraf paralel dengan sistem endokrin.
Refleks endokrin dipicu oleh: 1) stimulus humoral (perubahan komposisi cairan ekstraselular, 2)
stimulus hormonal dan 3) stimulus neural. Pada banyak kasus refleks endokrin dikontrol oleh
mekanisme umpan balik negatif dimana stimulus memicu produksi hormon yang secara langsung
atau tidak langsung memberikan pengaruh mengurangi intensitas stimulus. Refleks endokrin yang
lebih kompleks melibatkan 1 atau lebih tahapan dengan 2 atau lebih hormon

1. Klasifikasi Hormon

Berdasarkan struktur kimia maka hormon dibagi ke dalam 3 kelompok yaitu:

Turunan asam amino. Kelompok hormon ini kadang-kadang disebut juga sebagai biogenik amine,
disintesis dari asam amino tirosin dan triptopan. Yang termasuk turunan tirosin adalah hormon
tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid, epineprin (E), norepineprin (NE) dan dopamine.
Sementara turunan triptopan adalah hormon melatonin yang dihasikan oleh kelenjar pineal.

Hormon peptida. Merupakan rangkaian asam amino dan umumnya hormon peptida disintesis
sebagai prohormon. Prohormon merupakan molekul yang tidak aktif yang nantinya dirubah menjadi
aktif sebelum maupun sesudah disekresikan.

Turunan lipid. Terdiri dari 2 kelas yaitu 1) eicosanoid, merupakan molekul kecil dengan 5 cincin
karbon pada salah satu ujung. Komponen ini merupakan faktor parakrin penting dalam koordinasi
aktivitas selular seperti prostaglandin dan 2) hormon steroid, merupakan lipid yang secara
struktural sama dengan kolesterol. Termasuk disini adalah hormon yang disekresikan oleh organ
reproduksi pria (androgen), wanita (estrogen, progesteron), korteks adrenal (kortikosteroid) dan
ginjal (kalsitriol).

2. Pengaturan aktivitas endokrin pada hipotalamus

Hipotalamus merupakan pusat pengaturan endokrin pada tingkat yang paling tinggi yang
mengintegrasikan aktivitas sistem saraf dengan endokrin melalui 3 cara yaitu:

Mensekresikan hormon pengatur, yaitu hormon khusus yang mengatur sel-sel endokrin di kelenjar
pituitari. Hormon pengatur hipotalamus mengatur aktivitas sekretoris di adenohipofisis yang
selanjutnya mengatur aktivitas sel-sel kelenjar di kelenjar tiroid, korteks adrenal dan organ
reproduksi. Termasuk disini adalah hormon: Gonadotropin Releasing Hormon (GnRH),
Gonadotropin Inhibiting Hormone (GnIH), Thyrotropin Releasing Hormone (TRH), Prolactin
Releasing Hormon (PRH), Prolactin Inhibiting Hormone (PIH), Corticotropin Releasing hormone
(CRH), Growth hormone Releasing hormone (GH-RH), Growth Hormone Inhibiting Hormone (GH-IH).

Hipotalamus bekerja sebagai organ endokrin dengan mensintesis hormon yang di transportasikan
sepanjang akson di infundibulum kemudian dilepaskan ke dalam sirkulasi di neurohipofisis.
Termasuk disini adalah ADH dan oksitosin.
Hipotalamus mengandung pusat otonom yang secara langsung mengontrol saraf sel-sel endokrin di
medula adrenalis. Apabila saraf simpatis diaktifkan maka medulla adrenalis melepaskan hormon ke
sirkulasi darah.

Hubungan hipotalamus dan kelenjar pituitari serta organ target hormon yang disekresikannya
terlihat pada Gambar 1.

3. Kelenjar pituitari

Kelenjar pituitari atau hipofisis merupakan kelenjar yang kecil, berbentuk oval dan bersarang dalam
sela tursika. Dihubungkan dengan hipotalamus oleh infundibulum yang merupakan corong
berbentuk silinder. Kelenjar pituitari dibagi dalam 2 bagian yaitu: lobus anterior (adenohipofisis)
dan lobus posterior (neurohipofisis) .

3.1. Adenohipofisis

Adenohipofisis atau lobus anterior dibagi dalam 3 area yaitu: pars distalis, pars tuberalis dan pars
intermedia Hormon hormon yang disekresikan oleh adenohipofis disebut juga dengan hormon
tropik karena menghidupkan kelenjar endokrin atau menunjang fungsi organ lainnya. Hormon yang
disekresikan adenohipofisis adalah :

Thyroid Stimulating Hormone (TSH) atau disebut juga tirotropin. TSH bekerja pada organ target
kelenjar tiroid untuk mensekresikan hormon tiroksin.

Gambar 1. Hubungan hipotalamus-hipofisis dengan organ target

(Martini dan Nath, 2009)

Pelepasan TSH sebagai respon terhadap TRH yang disekresikan oleh hipotalamus. Ketika konsentrasi
hormon tiroid dalam sirkulasi meningkat, maka produksi TRH dan TSH menurun.

Adrenocorticotropic Hormone (ACTH) atau disebut juga kortikotropin. Hormon ini merangsang
korteks adrenal untuk menghasilkan hormon glukokortikoid. Hormon ini berfungsi mempengaruhi
metabolisme karbohidrat. Pelepasan ACTH dibawah pengaruh Corticotropin Releasing Hormone
CRH) dari hipotalamus melalui mekanisme umpan balik negatif.
Gonadotropin. Hormon ini mengatur aktivitas gonad (ovarium pada wanita, testes pada pria).
Produksi gonadotropin di bawah rangsangan GnRH dari hipotalamus. Gonadotropin terdiri dari 2
jenis yaitu:

1). Follicle Stimulating Hormone (FSH) atau juga disebut follitropin yang berfungsi memacu
perkembangan folikel di ovarium. Pada pria, FSH merangsang sel-sel pemelihara (Sel Sertoli) yaitu
sel-sel khusus yang terdapat di tubulus seminiferous untuk memacu pematangan sperma.

2). Luteinizing Hormone (LH) atau juga disebut luteotropin. Pada wanita, LH bersama-dengan FSH
merangsang sel-sel ovarium menghasilkan estrogen. LH juga berfungsi merangsang terjadinya
ovulasi.serta memacu sekresi hormon progesteron. Pada pria, LH disebut juga Interstitial cell-
stimulating hormone (ICSH) karena berfungsi merangsang sel-sel intersisiel di testes (sel-sel Leydig)
menghasilkan hormon androgen. Sekresi FSH dan LH di bawah rangsangan GnRH dari hipotalamus
melalui mekanisme umpan balik negatif.

Prolaktin (PRL) atau disebut juga dengan mammotropin. Merupakan hormon yang merangsang
perkembangan kelenjar susu. Pada waktu hamil dan selama periode menyusui, PRL merangsang
kelenjar susu untuk menghasilkan air susu. Meskipun peranan PRL pada pria kurang dipahami
namun bukti menunjukkan bahwa PRL membantu mengatur produksi androgen dengan cara
meningkatkan sensitivitas sel-sel intersisiel terhadap LH. Produksi PRL dihambat oleh
neurotransmitter dopamine yang juga dikenal dengan Prolactin Inhibiting Hormone (PIH)

Growth Hormone (GH) atau disebut juga dengan somatotropin. Merupakan hormon yang
merangsang pertumbuhan dan replikasi sel dengan cara meningkatkan laju sintesis protein. Sel-sel
otot rangka dan sel-sel kartilago sangat sensitif terhadap GH. Rangsangan pertumbuhan GH
melibatkan 2 mekanisme. Mekanisme utama secara tidak langsung dimana sel-sel hati
menanggapi kehadiran GH dengan mensintesis dan melepaskan somatomedin atau insulin-like
growth factor (IGFs). Somatomedin bekerja pada serabut-serabut otot rangka, sel-sel kartilago dan
sel-sel target lainnya dengan meningkatkan laju ambilan asam amino untuk sintesis protein. Kedua,
merupakan aksi secara langsung dari GH yang lebih selektif melalui beberapa cara sebagai berikut :

1). Pada sel-sel epitel dan jaringan ikat GH merangsang pembelahan sel-sel batang dan
diferensiasi sel-sel anak

2). Pada jaringan lemak GH merangsang pemecahan trigliserida kemudian melepaskannya sebagai
asam lemak ke dalam sirkulasi darah yang akan digunakan oleh sel untuk membentuk ATP. Proses
yang dikenal dengan glukosa-sparing effect.
3). Di hati GH merangsang pemecahan glikogen menjadi gluikosa yang dilepaskan ke sirkulasi darah.
Peningkatan glukosa darah oleh karena GH disebiut dengan diabetogenik effect

Produksi GH diatur oleh Growth Hormone Releasing Hormone (GH-RH atau somatokrin) dan Growth
Hormone Inhibiting Hormone (GH-IH atau somatostatin) yang berasal dari hipotalamus.
Somatomedin merangsang GH-IH dan menghambat GH-RH

Melanocyte Stimulating Hormon (MSH atau melanotropin). MSH merangsang sel-sel melanosit di
kulit untuk menghasilkan melanin, yang merupakan pigmen cokelat, hitam atau kuning-cokelat.
Pada ikan, ampibi, reptil dan banyak mamalia lainnya selain primata, MSH dari kelenjar pituitari
penting untuk mengontrol pigmentasi pada kulit. Pada manusia, MSH dihasilkan secara lokal ketika
kulit terpapar sinar matahari.

3.2. Neurohipofisis

Neurohipofisis dikenal juga dengan sebutan lobus posterior kelenjar pituitari atau pars nervosa,
karena mengandung akson dari hipotalamus. Neuron supraoptik dan nuclei paraventrikular
menghasilkan hormon Antidiuritic Hormon (ADH) dan oxytocin (OXT).

Antidiuritic Hormone (ADH) juga dikenal dengan arginine vasopressin (AVP) yang dilepaskan melalui
beberapa rangsangan seperti peningkatan konsentrasi solut dalam darah atau penurunan volume
dan tekanan darah. Fungsi utama ADH adalah mengurangi jumlah air yang hilang di ginjal dengan
cara mempengaruhi permiabilitas sel-sel di tubulus ginjal sehingga lebih permiabel terhadap air.
ADH juga menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah perifer sehingga dapat meningkatkan
tekanan darah. Aksi ADH ini dihambat oleh alkohol.

Oxytocin (OXT) bekerja merangsang kontraksi otot polos pada dinding uterus ketika melahirkan.
Setelah melahirkan, OXT merangsang kontraksi mioepitel sekeliling duktus dan sekretoris alveoli
kelenjar susu untuk mengeluarkan air susu. Pada pria, OXT merangsang kontraksi otot polos pada
dinding duktus deferens dan kelenjar prostat. Hal ini sangat penting pada saat pengeluaran sperma,
sekresi kelenjar lain ke dalam saluran reproduksi sebelum eyakulasi.

4. Kelenjar Tiroid

Kelenjar tiroid letaknya melengkung di permukaan anterior trakea tepat di bawah tulang rawan
tiroid. Terdiri dari 2 lobus yang disatukan oleh hubungan yang berbentuk silinder yaitu isthmus.
Ukuran dari kelenjar sangat beragam tergantung keturunan, lingkungan dan faktor nutrisi. Namun,
rata-rata beratnya kira-kita 34 gram. Banyaknya pembuluh darah pada kelenjar ini menyebabkan
kelenjar berwarna merah tua. Kelenjar tiroid mengandung sejumlah besar folikel tiroid yang
berbentuk bundar yang dilapisi oleh epithelium kubus sederhana. Sel-sel folikel dalam rongga
folikel mengadakan lipatan-lipatan dan diisi oleh cairan koloid dengan sejumlah besar protein
terlarut. Jaringan kapiler sekeliling folikel membawa nutrisi dan menerima hasil yang disekresikan.
Sel-sel folikel mensintesis protein globular yang disebut tiroglobulin yang mengandung asam amino
tirosin, merupakan prekusor hormon tiroid. Bersama dengan yodium yang diabsorbsi dari saluran
pencernaan membentuk ikatan kovalen membentuk molekul hormon tiroid. Kelenjar tiroid
menghasilkan hormon tiroksin (T4) dan T3.

4.1. Tiroksin atau T4 (tetraiodothyronine) dan T3 (triiodothyronine)

Faktor utama yang mengatur laju pelepasan homon tiroid adalah TSH. TSH merangsang transport
jodium ke dalam sel-sel folikel dan merangsang produksi tiroglobulin dan tiroid peroksidase serta
merangsang pelepasan hormon tiroid.

Fungsi hormon tiroid: Hormon tiroid berfungsi mengaktifkan gen yang terlibat dalam sintesis
enzim yang berfungsi dalam proses glikolisis dan produksi ATP serta meningkatkan laju
metabolisme dalam sel. Oleh karena meningkatkan produksi panas maka disebut calorigenic effect.
Pada anak-anak, produksi TSH meningkat pada suhu dingin. Efek ini dapat membantu mereka
beradaptasi dengan suhu yang dingin. Hormon tiroid sangat esensial pada perkembangan tulang,
otot dan sistem saraf. Kelenjar tiroid menghasilkan jumlah yang besar T4, tetapi T3 merupakan
hormon yang efeknya sangat kuat, segera dan dalam waktu yang singkat dalam meningkatkan laju
metabolisme.

4.2. Kalsitonin

Populasi sel-sel endokrin yang ke dua yang terselip di antara sel-sel kuboidal folikel adalah yang
dikenal dengan sel-sel C atau sel parafolikular. Sel-sel C menghasilkan hormon kalsitonin (CT) yang
bekerja mengatur konsentrasi Ca dalam cairan tubuh. Peningkatan konsentrasi Ca dalam cairan
tubuh merangsang pelepasan kalsitonin. CT yang bekerja dengan cara:

!) Menghambat kerja osteoklas sehingga menghambat laju pelepasan Ca oleh tulang

2) Merangsang ekskresi Ca oleh ginjal.


5. Hormon Paratiroid (PTH)

Secara normal terdapat 2 pasang kelenjar paratiroid yang tertanam pada permukaan posterior
kelenjar tiroid.. Sel-sel kedua kelenjar yang bertetangga ini dipisahkan oleh kapsul padat yang
mengelilingi kelenjar paratiroid.. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon paratiroid (PTH) atau
parathormon. PTH berfungsi meningkatkan konsentrasi Ca dalam cairan tubuh melalui 3 cara yaitu:

1). Mobilisasi Ca tulang dengan cara menghambat aktivitas osteoblas sehingga mengurangi laju
deposisi Ca ke dalam tulang serta meningkatkan kerja osteoklas sehingga pelepasan Ca dari tulang
meningkat

2). Meningkatkan reabsorbsi Ca di ginjal sehingga mengurangi hilangnya Ca melalui urine

3). Merangsang pembentukkan dan sekresi kalsitriol di ginjal yang berfungsi untuk meningkatkan
absorbsi Ca dalam saluran pencernaan.

6. Kelenjar adrenalis

Kelenjar adrenalis, berwarna kuning, berbentuk piramid, terletak pada ujung superior di setiap
ginjal. Bobot kelejar adrenal kira-kira 5 g namun ukuran ini bervariasi seiring dengan perubahan
kebutuhan akan hasil sekresi. Kelenjar adrenalis dibagi menjadi 2 bagian sesuai dengan fungsi
endokrinnya yaitu : kortkes adrenalis di bagian luar dan medulla adrenalis di bagian dalam.

6.1. Korteks adrenalis

Warna kekuning-kuningan korteks adrenalis disebabkan kehadiran simpanan lipid, khususnya


kolesterol dan berbagai asam lemak. Korteks adrenalis menghasilkan lebih dari 2 lusin hormon
steroid yang tergabung dalam hormon steroid adrenocortical atau kortikosteroid. Korteks adrenalis
dibedakan menjadi 3 daerah atau zona dimana masing-masing zona ini menghasilkan hormon yang
spesifik.

1). Zona Glomerulosa: Zona bagian luar korteks adrenalis ini menghasilkan mineralokortikoid,
merupakan hormon steroid yang berperan dalam mengatur komposisi elektrolit cairan tubuh.
Aldosteron merupakan mineralokortikoid utama yang dihasilkan oleh korteks adrenalis. Aldosteron
merangsang konservasi ion Na dan meniadakan ion K. Sel-sel target hormon ini mengatur komposisi
ion yang diekskresikan di dalam cairan. Hal ini menyebabkan retensi (penahanan) ion Na di ginjal,
kelenjar keringat, kelenjar saliva dan pankreas sehingga mencegah keilangan ion Na dalam urine,
keringat, saliva dan sekresi pencernaan. Sekresi aldosteron terjadi akibat turunnya kandungan Na,
volume darah atau tekanan darah atau peningkatan konsentrasi ion K.

2). Zona Fasciculata: Menghasilkan sekumpulan hormon yang dikenal dengan glukokorticoid yang
mempengaruhi metabolisme glukosa. Cortisol atau juga disebut Corticosteron merupakan hormon
utama glukocorticoid yang pelepasannya dirangsang oleh ACTH dari adenohipofisis melalui
mekanisme umpan balik negatif. Adapun pelepasan glukokorticoid menimbulkan efek
penghambatan terhadap terhadap produksi CRH di hpotalamus dan ACTH di adenohipofisis.
Glukocorticoid mempunyai efek sebagai berkut :

a. Meningkatkan konsentrasi glukosa di dalam darah dengan memecah asam lemak dan protein
(efek katabolik)

b Meningkatkan kerja jantung dan vasokonstriksi perifer

c. Meningkatkan produksi asam lambung

d. Memperlambat ekskresi air di ginjal

e. Mempunyai efek anti inflammasi dan alergi dengan menghambat sintesis protein dan
pembentukkan limposit dan penghambatan pelepsan histamin.

3). Zona Retikularis: Di bawah rangsangan ACTH zona retikularis menghasilkan sejumlah kecil
androgen, merupakan hormon seks yang banyak dihasilkan oleh testis. Ketika masuk ke sirkulasi
darah, sebagian androgen kemudian di rubah menjadi estrogen hormon seks yang banyak terdapat
pada wanita. Androgen adrenalis merangsang perkembangan rambut pada pubis pada pria dan
wanita sebelum pubertas.

6.2. Medulla adrenalis


Medula adrenalis berwarna abu-abu pucat atau pink, menandakan banyaknya pembuluh darah
di area ini serta terdapat banyak sel-sel besar berbentuk bulat seperti ganglion simpatis yang
dipersarafi oleh serabut preganglion simpatis. Aktivitas sekrtoris medulla adrenalis dikontrol oleh
saraf simpatis.. Di medula adrenalis terdapat 2 populasi sel sekretoris yang pertama menghasilkan
epineprin (adrenalin) dan lainnya menghasilkan norepineprin (noradrenalin). Sebanyak 75-80%
epineprin disekresikan medulla adrenalis, sisanya adalah norepineprin. Pengaktifan medulla
adrenalis menimbulkan efek sebagai berikut:

1). Otot rangka: memicu mobilisasi cadangan glikogen dan meningkatkan laju pemecahan glukosa
menjadi ATP,

2) Jaringan adiposa: memecah cadangan lemak menjadi asam lemak yang kemudian dilepaskan ke
aliran darah untuk digunakan oleh jaringan lain untuk pembentukkan ATP,

3) Hati: memecah molekul glikogen menjadi glukosa yang kemudian dilepaskan ke aliran darah
untuk digunakan terutama oleh jaringan saraf yang tidak dapat menggantikan dengan metabolisme
asam lemak

4) Jantung: merangsang reseptor 1 untuk meningkatkan laju dan kekuatan kontraksi otot
jantung.

7. Kelenjar Pineal

Kelenjar pineal merupakan bagian dari epitalamus yang terdapat pada bagian posterior akar
ventrikel ke III. Kelenjar pineal mengandung neuron, neuroglia dan sel sekretoris khusus yang
disebut pinealosit yang mensintesis hormon melatonin. Produksi melatonin sangat rendah selama
siang hari dan meningkat pada malam hari. Pada manusia, fungsi melatonin adalah:

1) Penghambatan pada fungsi reproduksi. Pada beberapa mamalia, melatonin memperlambat


pematangan sperma, oosit dan organ reproduksi dengan mengurangi laju sekresi GnRH. Meskipn
efek pada manusia tidak jelas tetapi ada bukti bahwa melatonin berperan pada waktu pematangan
seksual manusia
2) Mencegah kerusakan akibat radikal bebas. Melatonin sangat efektif sebagai antioksidan yang
mencegah neuron CNS dari bahaya radikal bebas seperti oksida nitrit (NO) atau hidrogen peroksida
(H2O2)

3) Mengatur irama sirkadian. Oleh karena aktivitas pineal merupakan siklik maka terlibat juga
dalam memelihara irama sirkadian yang merupakan perubahan harian proses fisiologis yaitu pola
siang-malam secara regular

8. Pankreas

Pankreas terletak dalam rongga abdominal pelvis pada lengkungan di antara batas inferior lambung
dan bagian proksimal usus halus. Selain sebagai kelenjar eksokrin untuk enzim-enzim pencernaan
(99% dari volume) pankreas juga sebagai kelenjar endokrin. Endokrin pankreas terdiri dari kelompok
kecil sel-sel yang tersebar di antara kelenjar eksokrin. Kelompok sel ini dikenal dengan pulau-pulau
Langerhans. Pulau-pulau Langerhans dikelilingi oleh jaringan kapiler yang membawa hormon yang
disekreskan ke sirkulasi darah. Setiap pulau mengandung 4 jenis sel yaitu :

1). Sel-sel Alpha yang menghasilkan hormon glukagon

2). Sel-sel Beta yang menghasilkan hormon insulin

3). Sel-sel Delta menghasilkan hormon peptida identik dengan Growth hormone inhibiting
hormone (GHIH)

4). Sel-sel F yang menghasilkan hormon polipeptida pankeras

8.1. Insulin

Insulin adalah hormon yang disekrsikan oleh sel-sel beta ketika konsentrasi gula darah melebihi
tingkat normal. Sekresi hormon ini juga dirangsang oleh peningkatn beberapa asam amino
termasuk arginin dan leusin. pengaruh insulin pada sel-sel target sebagai berikut:
1). Meningkatkan ambilan glukosa (semua sel-sel target)

2). Meningkatkan penggunaan glukosa (semua sel target) dan meningkatkan produksi ATP

3). Merangsang pembentukan glikogen pada otot rangka dan hati. Kelebihan glukosa darah
disimpan sebagai glikogen di otot dan hati

4) Merangsang absorbsi asam amino dan sintesis protein,

5) Merangsang pembentukkan trigliserida di jaringan adiposa dengan cara merangsang absorbsi


asam lemak dan gliserol

8.2. Glukagon

Glukagon disekresikan ketika kadar glukosa darah turun di bawah normal. Sel-sel Alpha melepaskan
glukagon dan cadangan energi dimobilisasi.. Pengaruh utama glukagon sebagai berikut:

1). Merangsang pemecahan glikogen di otot rangka dan sel-sel hati. Molekul glukosa dilepaskan
dan dimetabolisme menjadi energi

2). Merangsang pemecahan trigliserida dalam jaringan adiposa. Adiposit melepaskan asam lemak
ke sirkulasi darah untuk digunakan oleh jaringan lain

3). Merangsang sintesis glukosa di hati dengan cara mengabsorbsi asam amino dari aliran darah
dan merubahnya menjadi glukosa, kemudian melepaskannya ke sirkulasi darah. Proses yang dikenal
dengan Glikoneogenesis.

9. Ginjal

Ginjal melepaskan melepaskan hormon kalsitriol dan eritropoitin.


9.1. Kalsitriol

Kalsitriol merupakan hormon steroid yang disekresikan oleh ginjal sebagai respons terhadap
kehadiran hormon paratiroid (PTH). Kolekalsiferol (vitamin D) yang disintesis di kulit atau di
absorbsi di dalam makanan merupakan steroid yang kemudian dirubah menjadi Kalsitriol. Fungfsi
kalsitriol adalah

1). Merangsang absorbsi kalsium dan fospat di saluran pencernaan

2). Merangsang pembentukkan dan diferensiasi sel-sel osteoprogenitor dan osteoklas

3). Merangsang reabsorbsi tulang oleh osteoklas, 4) merangsang reabsorbsi ion kalsium di ginjal.

9.2. Eritropoitin

Eritropoitin (EPO) adalah hormon peptida yang disekresikan oleh ginjal sebagai respons rendahnya
kadar oksigen di jaringan ginjal. EPO merangsang produksi sel-sel darah pada sumsum tulang.
Peningkatan jumlah sel-sel darah merah pada akhirnya meningkatkan jumlah oksigen yang
ditansportasikan.

9.3. Renin

Renin disekresikan oleh sel-sel khusus di ginjal sebagai respons terhadap:

1). Rangsangan simpatis

2). Penurunan aliran darah renalis.


Ketika disekresikan ke dalam aliran darah, renin bekerja sebagai enzim dan masuk sebagai siitem
renin angiotensin yang nantinya akan merubah angiotensinogen menjadi angiotensin I kemudian
angiotensin II yang berfungsi merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenalis dan ADH oleh
neurohipofisis. Angiotetensin II juga merangsang rasa haus dan meningkatkan tekanan darah.

10. Timus

Timus terdapat di mediastinum, pada umumnya terdapat tepat dikedalaman sternum. Timus
menghasilkan beberapa hormon yang penting untuk perkembangan dan pemeliharaan pertahanan
immunitas. Timosin yang disekresikan oleh timus berfungsi memacu perkembangan dan
pematangan limfosit, sel-sel darah putih yang bertanggung jawab terhadap sistem immun.

11. Gonad

Gonad merupakan organ reproduksi primer. Pada wanita adalah ovarium dan pada pria adalah
testis. Ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron sedangkan testis menghasilkan
hormon testosteron.

11.1. Estrogen

Estrogen (E2) merupakan hormon steroid dengan 18 aton C yang dihasilkan ovarium (sel-sel
granulosa dan teka) Selain itu, hormon ini dihasilkan juga oleh korteks adrenal, dan sel-sel
intersisial Leydig testes. Disamping estrogen terdapat juga estradiol, estrion dan estradiol yang
mempunyai efek yang sama dengan E2. E2 bertanggung jawab pada perkembangan ciri-ciri seksual
wanita. Fungsi E2 pada organ target adalah sebagai berikut :

1). Ovarium: E2 memacu perkembangan folikel dan sel telur

2). Uterus: E2 merangsang proliferasi mukosa uterus dan memacu kontraksi otot uterus pada saat
melahirkan

3). Vagina: E2 menyebabkan penebalan mukosa dan pengelupasan sel-sel epitel yang mengandung
banyak glikogen
4). Serviks: E2 mengubah konsistensi mukus terutama pada saat ovulasi sehingga migrasi sperma
dipermudah dan lama hidupnya ditingkatkan

5). Proses fertilisasi: E2 mengatur kecepatan migrasi ovum di sepanjang tuba Fallpopi

6). Tulang: E2 meningkatkan deposisi kalsium dengan meningkatkan kerja osteoblas

7). Kulit: E2 melembutkan kulit, mengurangi aktivitas kelenjar sebasea dan meningkatkan deposit
lemak di bawah kulit

8). Sistem saraf pusat: E2 mempengaruhi tingkah laku seksual dan sosial serta reaksi psikis.

Pada wanita, estrogen di ovarum dihasilkan di bawah rangsangan FSH dan LH. Sekresi E2 dihambat
oleh inhibin yang disekresikan oleh ovarium yang menekan pelepasan FSH melalui makanisme
umpan balik negatif.

11.2. Progesteron

Progesteron (P) merupakan hormone steroid dengan 21 aton C diproduksi oleh ovarium khususnya
korpus luteum terutama selama fase sekretori atau fase luteal. Fungsi utama P adalah untuk
mempersiapkan saluran genetal wanita untuk menerima dan mematangkan ovum yang telah
dibuahi dan mempertahankan kehamilan. Hampir semua pengaruh P pada organ target memerlukan
aktivitas awal E2. Fungsi P pada organ target adalah sebagai berikut :

1). Uterus: merangsang pertumbuhan kelenjar uterus dan otot uterus (miometrium) dan
mengubah kandungan glikogen. Selama masa kehamilan P mengurangi aktivitas miometrium

2). Serviks: P mengubah konsistensi sumbatan mukus sehingga hampir tidak dapat dilalui oleh
sperma
3). Kelenjar mammae: P bersama-dengan hormon lainnya seperti PRL, E2, relaksin, STH
merangsang pertumbuhan duktus dan alveoli

4). Ginjal: P menghambat kerja aldosteron yang menyebabkan peningkatan ekskresi NaCl

5). Sistem saraf pusat: P mempunyai efek termogenik yang menyebabkan peningkatan suhu basal
pada pertengahan siklus dan mungkin merupakan alasan adanya gangguan tingkah laku dan depresi
premenstruasi dan mendekati akhir kehamilan. Sekresi P dihambat oleh LH yang disekresikan
adenohipofisis melalui makanisme umpan balik negatif.

11.3. Testosteron

Testosteron merupakan hormon steroid dengan 19 atom C dan hormon yang paling penting dari
androgen (hormon seks pria). Pada pria, testosteron disekresikan oleh sel-sel Intersisial Leydig
testes, korteks adrenal dan juga ovarium pada wanita. Fungsi utama testosteron adalah:

1). Meningkatkan diferensiasi seksual pria

2). Meningkatkan pertumbuhan kelenjar asesoris (prostat, vesikula seminalis)

3). Mempengaruhi proses spermatogenesis

4). Mempengaruhi perkembangan seks sekunder pria (pertumbuhan genetal, ukuran laring
sehingga terjadi perubahan suara, rambut wajah, rambut pubis dan ketiak, penebalan kulit, vesikel
sebasea)

5). Mempengaruhi perkembangan libido seksual, fertilitas dan potensi seksual pria

6). Merangsang pembentukkan darah dan efek anabolic (otot menjadi lebih kuat pada pria), dan
mempengaruhi tingkah laku (agresif).
Pelepasan testosteron dirangsang oleh gonadotropin yang diskresikan oleh adenohipofisis. LH yang
dikenal juga dengan ICSH merangsang sel-sel Ledig mensekresikan testosteron sedangkan FSH
merangsang protein pengikat androgen (Androgen Binding Protein) di sel-sel Sertoli. Testosteron
menghambat sekresi LH melalui mekanisme umpan balik negatif.

RANGKUMAN

Dari uraian mengenai struktur dan fungsi kelenjar endokrin maka dapatlah disimpulkan sebagai
berikut:

Dalam banyak kasus, refleks endokrin dikontrol oleh mekanisme umpan balik negative.
Berdasarkan struktur kimia, hormon diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok yaitu : turunan asam
amino, hormone peptida dan turunan lipid. Hipotalamus merupakan pusat pengaturan tertinggi
yang mengintegrasikan aktivitas sistem saraf dan endokrin melalui 3 cara yaitu : mensekresikan
hormon pengatur, mensintesis hormon dan mengontrol saraf sel-sel endokrin di medulla adrenalis.
Hipotalamus dihubungkan dengan kelenjar pituitari oleh infundibulum. Hipotalamus menghasilkan
hormon-hormon GnRH, TRH, PRH, PRIH, CRH, GH-RH dan GH-IH.

Kelenjar pituitari atau hipofisis dibagi ke dalam 2 bagian yaitu : pituitari anterior atau
adenohipofisis yang menghasilkan hormon-hormon tropik TRH, ACTH, Gonadotropin, PRL, GH, MSH,
dan pituitari posterior atau hipofisis posterior atau neurohipofisis yang mengandung akson dari
hipotalamus dan menghasilkan ADH dan OXT. TRH mempengaruhi organ target kelenjar tiroid untuk
menghasilkan hormon tiroksin, ACTH mempengaruhi korteks adrenal untuk menghasilkan
kortikosteroid, gonadotropin mempengaruhi gonad menghasilkan testosteron (pria) dan estrogen
dan progesteron (wanita), PRL mempengaruhi pertumbuhan kelenjar susu, MSH mempengaruhi
melanosit , ADH mempengaruhi reabsorbsi air di ginjal, OXT mempengaruhi uterus dan kelenjar
susu, GH mempengaruhi hati menghasilkan somatomedin .

Selain itu, terdapat hormon yang disekresikan oleh pankreas yaitu insulin dan glukagon yang
berfungsi untuk menstabilkan kadar gula darah, CT dan PTH yang terlibat dalam homeostasis
kalsium, kelenjar pineal yang menghasilkan melatonin, eritropoitin yang merespon kekurangan
oksigen dan timus yang berperan dlam imunitas
MEKANISME KERJA HORMON

1. Interaksi hormon dalam menghasilkan respons koordinasi fisiologis

Meskipun hormon dipelajari secara individual, cairan ekstraselular mengandung beberapa hormon
yang konsentrasinya berubah setiap hari atau bahkan hanya dalam hitungan jam. Oleh karena itu,
sel tidak pernah merespons hanya untuk 1 hormon melainkan merespons beberapa hormon secara
simultan. Ketika sel menerima perintah dari 2 hormon atau lebih pada waktu yang sama maka ada 4
kemungkinan yaitu :

1). Ke-2 hormon bekerja antagonis (berlawanan) seperti PTH dan CT atau insulin dan glukagon.
Hasilnya, tergantung pada keseimbangan antara kedua hormon

2). Ke-2 hormon menghasilkan efek yang menguatkan. Jadi hasilnya, efek yang yng lebih kuat
dibandingkan bila kedua hormon tersebut bekerja sendiri-sendiri Fenomena ini dikenal dengan efek
sinergis. Contohnya pasangan HG dan glukokortikoid pada glukosa.

3). Salah satu hormon mempunyai permissive effect terhadap yang lain. Dalam kasus ini,
memerlukan hormon pertama untuk hormon kedua agar dapat menimbulkan efek. Contohnya:
epineprin tidak dapat menimbulkan efek terhadap perubahan konsumsi energi bila tidak didahului
oleh hormon tiroksin.

4). Hormon yang berbeda tetapi bekerja saling melengkapi pada jaringan atau organ tertentu.
Dikenal dengan efek integratif yang sangat penting dalam mengkoordinasi sistem fungsional yang
beragam. Contoh perbedaan efek dari PTH dan CT yang terlibat dalam metabolisme kalsium.

2. Mekanisme kerja hormon

Untuk menimbulkan efek pada sel target, hormon harus berikatan dengan reseptor yang spesifik.
Setiap sel mempunyai reseptor untuk merespons beberapa hormon yang berbeda. Bagi setiap sel,
ada tidaknya reseptor yang spesifik menentukan sensitivitas sel tersebut terhadap hormon.
Reseptor hormon terdapat di membran plasma atau di dalam sel.
Gambar 2. Mekanisme kerja c AMP sebagai second messenger

(Despopoulos dan Silbernagl, 1995)

Gambar 3. Mekanisme kerja hormone steroid

(Despopoulos dan Silbernagl, 1995)

Hormon dengan reseptor membran plasma

Reseptor untuk katekolamin (E, NE, dan dopamine), hormon peptida dan eicosanoid terdapat di
membran plasma sel-sel target. Oleh karena katekolamin dan hormon peptida tidak larut dalam
lipid maka mereka tidak dapat mengadakan penetrasi ke dalam membran plasma. Hormon-hormon
tersebut berikatan dengan reseptor protein di permukan luar membran (reseptor ekstraselular).
Eikosanoid larut dalam lipid sehingga mudah berdifusi melalui membran sampai mencapai
permukaan dalam membran (reseptor intraseluluar).

First and Second Messengers : Hormon yang berikatan dengan reseptor di membran plasma
tidak langsung menimbulkan efek pada aktivitas di dalam sel target. Untuk itu maka hormon
tersebut memerlukan perantara. Hormon atau first messenger melakukan sesuatu untuk
menimbulkan second messenger di dalam sitoplasma. Second messenger dapat bekerja sebagai
activator enzim, inhibitor atau kofaktor yang dapat menghasilkan perubahan terhadap laju berbagai
reaksi metabolisme. Second messenger yang paling penting adalah cAMP, cGMP dan ion kalsium.
Ikatan sejumlah kecil molekul hormon dengan reseptor membran plasma dapat menimbulkan
ribuan second messenger di dalam sel. Proses ini yang menimbulkan efek penguatan pada sel
target yang disebut amplification. Ikatan first messenger dan second messenger pada umumnya
melibatkan protein G, kompleks enzim yang terangkai dengan reseptor membran.
Kebanyakan protein G apabila diaktifkan menimbulkan efek dengan merubah konsentrasi second
messenger cAMP dalam sel. Peningkatan cAMP meningkatkan aktivitas metabolisme dalam sel
sebagai berikut: Pengaktifan protein G mengaktifkan enzim adenilat siklase yang juga disebut adenilil
siklase. Adenilat siklase merubah ATP menjadi silkik AMP yang yang berfungsi sebagai second
messenger melalui aktivasi kinase. Kinase merupakan enzim fosforilase yang mengikatkan
kelompok fosfat energi tinggi dengan molekul lain. (Gambar 2).

Hormon dengan reseptor intraselular : Hormon steroid berdifusi langsung pada bagian lipid
membran dan berikatan dengan reseptor di sitoplasma atau nukleus. Kompleks hormon-reseptor
kemudian mengaktifkan atau menonaktifkan gen spesifik. Melalui mekanisme ini, hormon steroid
dapat mempengaruhi laju transkripsi DNA di nukleus. Jadi, merubah pola protein sintesis. Hormon
tiroksin melintasi membran plasma terutama dengan mekanisme transport. Sekali berada di sitosol,
hormon berikatan dengan reseptor dalam nukleus dan mitokondria. Kompleks hormon-reseptor di
nukleus mengaktifkan gen spesifik atau merubah laju transkripsi. Perubahan ini mempengaruhi
aktivitas metabolisme sel dengan meningkatkan atau menurunkan konsentrasi enzim spesifik
(Gambar 3).

3. Peranan Hormon dalam pertumbuhan

Pertumbuhan normal memerlukan kerja sama beberapa hormon seperti: GH, tiroksin, insulin, PTH,
kalsitriol, dan hormon-hormon reproduksi.

1). Growth hormone (GH) : mempengaruhi sintesis protein dan pertumbuhan selular. Hal ini
sangat nampak pada anak-anak dimana GH menunjang perkembangan otot dan tulang. Pada orang
dewasa, GH berfungsi mempertahankan konsentrasi gula darah dan mobilisasi cadangan lipid di
jaringan adiposa.

2). Tiroksin : pertumbuhan yang normal memerlukan kecukupan hormon tiroksin. Kekurangan
hormon ini pada waktu perkembangan fetal atau pada tahun pertama setelah lahir, mengakibatkan
sistem saraf gagal berkembang secara normal dan gangguan mental. Apabila konsentrasi tiroksin
menurun sebelum mencapai pubertas maka perkembangan tulang akan terhenti.

3). Insulin : Pertumbuhan sel memerlukan kecukupan suplai energi dan nutrisi. Tanpa insulin
pelintasan glukosa dan asam amino melalui membran plasma berkurang drastis atau tidak ada.
4). Hormon paratiroid (PTH) dan kalsitriol : Kedua hormon ini memicu absorbsi garam kalsium
yang selanjutnya disimpan di tulang. Ketidakcukupan kedua hormon ini menyebabkan tulang masih
membesar namun miskin mineral, lemah dan fleksibel. Contohnya pada penyakit rikets, merupakan
ciri kondisi kekurangan kalstriol (vitamin D) pada anak yang sedang tumbuh.

5). Hormon reproduksi : Aktivitas osteoblas dipengaruhi oleh ada tidaknya hormon reproduksi
(androgen pada pria dan estrogen pada wanita).Hormon-hormon ini merangsang pertumbuhan dan
diferensiasi jaringan target

4. Peranan hormon pada pengaturan kadar kalsium darah

Kalsium (Ca2+) memegang peran yang sangat penting dalam pengaturan fungsi sel. Jumlahnya kira-
kira 2% dari berat badan dan 99% darinya terdapat di tulang. Untuk mempertahankan
keseimbangan Ca2+ masukan dan pengeluaran haruslah seimbang. Keseimbangan Ca2+ diatur oleh 3
hormon (Gambar 4) yaitu: hormon paratioid (PTH), kalsitonin (CT), dan hormon D (kalsitriol).

1) Hormon paratiroid: Sintesis dan sekresi PTH dipicu oleh penurunan kadar kalsium darah di
bawah normal, selanjutnya menimbulkan efek pada :

a). Tulang : mengaktifkan osteoklas sehingga terjadi resorpsi tulang dan pelepasan Ca2+.

b). Usus : secara tidak langsung meningkatkan ambilan melalui perangsangan terhadap
pembentukkan hormon D di ginjal.

c). Ginjal : meningkatkan reabsorbsi Ca2+dan menghambat reabsorbsi fosfat.

Defiensi atau ketidakaktifan PTH dapat mengakibatkan hipokalsemia sehingga mengakibatkan


kejang otot, tetanus dan juga defisiensi hormon D. Sementara kelebihan PTH dapat menyebabkan
hiperkalsemia yang mengakibatkan kalsifikasi pada ginjal dan bila Ca2+ > 3.5 mmol/l dapat
mengakibatkan koma dan gangguan pada irama jantung.
2). Apabila kadar kalsium darah meningkat di atas normal, sel-sel parafolikular atau sel C kelenjar
tiroid mensentesis dan mensekresikan CT yang selanjutnya menimbulkan efek pada :

a). Tulang : menghambat aktivitas osteoklas sehingga menyebabkan deposisi Ca2+ ke dalam
jaringan tulang

b) Ginjal : meningkatkan ekskresi Ca2+

3). Hormon D (kalsitriol) berhubungan erat dengan hormon steroid. Pembentukan kalsitriol dimulai
dari pengaruh sinar UV, terbentuk kolekalsiferol (vitamin D3, kalsiol) dari 7-dehidrokolesterol di kulit
melalui langkah provitamin D. Kedua produk tersebut di dalam darah berikatan dengan globulin.
Organ target kalsitriol adalah usus untuk meningkatkan absorbsi Ca2+.

Hormon lainnya adalah estrogen yang berfungsi untuk deposisi Ca2+ dalam tulang.

5. Peranan hormon pada pengaturan kadar glukosa darah

Glukosa merupakan sumber utama energi metabolisme bagi tubuh manusia. Oleh karena itu,
konsentrasi gula darah harus dipertahankan tetap konstan. Beberapa hormon yang berperan dalam
homeostasis gula darah adalah: insulin, glukagon dan epineprin .

Kandungan insulin dari pankreas kira-kira 6-10 mg dimana kira-kira 2 mg disekresikankan setiap
hari dengan waktu paruh kira-kira 10-30 menit. Rangsangan sekresi insulin adalah peningkatan
kadar gula darah. Insulin menfasilitasi ambilan glukosa oleh sel-sel target, merangsang sintesis
glikogen dan lipid untuk disimpan. Penurunan kadar gula memicu sekresi glukagon yang berfungsi
memobilisasi cadangan lipid, sintesis glukosa dan pemecahan glikogen di hati guna meningkatkan
konsentrasi glukosa darah. Sementara epineprin bekerja menghambat pelepasan insulin.

6. Peranan hormon mengatasi stress

Setiap kondisi apakah fisik atau emosional yang mengancam homeostasis merupakan bentuk
dari stress. Kebanyakan stress dilawan oleh penyesuaian homeostasis khusus. Contohnya,
penurunan suhu tubuh menimbulkan menggigil atau perubahan pola aliran darah yang dapat
mengembalikan suhu normal tubuh. Apabila tubuh terpapar pada berbagai faktor yang
menyebabkan stress maka hasilnya, pola umum yang sama pada penyesuaian hormonal dan
fisiologis. Respons tersebut merupakan bagian dari sindrom adaptasi umum (general adaptation
syndrome, GAS) yang juga dikenal dengan respons stress Respons stress terdiri dari 3 fase yaitu :

1). Fase peringatan : merupakan respons segera terhadap terjadinya stress.Respons ini langsung
dari saraf simpatis. Pada fase ini cadangan energi dimobilisasi terutama dalam bentuk glukosa dan
menanggapi stress melalui mekanisme fight or flight. Epineprin merupakan hormon yang dominan
selama fase peringatan dan sekresinya dikaitkan dengan aktivasi simpatis. Ciri-ciri fase peringatan
adalah sebagai berikut :

a. Peningkatan kewaspadaan mental

b. Peningkatan konsumsi enrgi

c. Mobilisasi cadngan energi (glikogen dan lipid)

d. Perubahan sirkulasi darah, termasuk peningkatan aliran darah ke otot skelet dan penurunan
aliran darah ke kulit, ginjal dan organ pencernaan.

e. Pengurangan secara drastis pencernaan dan produksi urine

f. Peningkatan sekresi kelenjar keringat

g. Peningkatan tekanan darah, denyut jantung dan laju respirasi.

Selain epineprin, hormon lain yang ikut berperan seperti kehilangan air akibat dari produksi ADH
dan sekresi aldosteron sangat penting apabila stress melibatkan kehilangan darah.

2). Fase resisten : Apabila stress berakhir lebih lama dari beberapa hari maka individu memasuki
fase resisten. Glukokortikoid merupakan hormon yang dominan pada fase ini selain epineprin, GH
dan tiroksin. Kebutuhan energi tetap tinggi dibandingkan dengan dalam keadaan normal. Jaringan
saraf membutuhkan energi yang besar dan saraf harus disuplai oleh glukosa. Apabila konsentrasi
glukosa darah turun terlalu jauh maka fungsi saraf akan terganggu. Cadangan glikogen cukup untuk
mempertahankan konsentrasi glukosa normal selama fase peringatan namun, mendekati fase
kelelahan setelah beberapa jam. Sekresi hormon fase resisten dikoordinasi untuk mencapai 4 hasil
yang terintegrasi yaitu :

a. Mobilisasi sisa lipid dan cadangan protein : hipotalamus menghasilkan GH-RH dan CRH yang
selanjutnya merangsang pelepasan GH dan ACTH. ACTH merangsang sekresi glukokortikoid.
Jaringan adiposa menanggapi GH dan glukokortikoid dengan melepaskan simpanan asam lemak dan
otot skelet menanggapi glukokortikoid dengan memecah protein dan melepaskan asam amino ke
aliran darah.

b. Konservasi glukosa untuk jaringan saraf : Glukokortikoid dan GH merangsang metabolisme lipid
pada banyak jaringan. Glukosa yang dihasilkan inilah yang akan mempertahankan konsentrasi
normal glukosa bahkan setelah periode kelaparan yang lama.

c. Meningkatkan dan menstabilkan konsentrasi glukosa darah : Ketika konsentrasi glukosa


menurun, glukagon dan glukokortikoid merangsang hati memproduksi glukosa dari bukan
karbohidrat yaitu dari gliserol melalui jalur trigliserida dan dari asam amino. Glukosa kemudian
dilepaskan ke aliran darah dan konsentrasi gula darah kembali normal.

d. Konservasi garam dan air, dan membuang K+ dan H+. Volume darah dipertahankan melalui
kerja ADH dan aldosteron. Seiring dengan konservasi Na+, K+ dan H+dibuang.

3). Fase kelelahan

Ketika fase resisten berakhir, mulailah fase kelelahan. Kegagalan satu atau lebih organ menjadi
fatal, kecuali aksi perbaikan ditempuh dengan segera..

RANGKUMAN

Dari uraian mengenai mekanisme kerja hormon maka dapatlah disimpulkan sebagai berikut:

Ketika sel menerima perintah dari 2 atau lebih dalam waktu yang sama mka ada 4 kemungkinan
yaitu : ke-2 hormon bekerja antagonis, sinergis, permissive effect, atau integrative. Untuk
menimbulkan efek pada organ target maka hormon harus berikatan dengan reseptor yang spesifik
baik yang terdapat di permukaan luar membran maupun yang berada di dalam sel. Reseptor yang
berada di luar membran membutuhkan perantara yang dikenal dengan second messenger. Hormon
steroid merupakan hormon turunan lipid sehingga mudah melewati membran. Hormon tersebut
memiliki reseptor di dalam sitosol atau di nukleus.

Agar pertumbuhan berlangsung normal maka diperlukan kerja sama beberapa hormone yaitu :
GH, tiroksin, insulin, PTH, kalsitriol dan hormon-hormon reproduksi. Untuk menjaga agar kadar
kalsium darah tetap stabil maka memerlukan hormon paratiroid, kalsitonin, kalsitriol dan estrogen.
Penurunan kadar glukosa darah di bawah nomal merangsang sekresi PTH sebaliknya peningkatan
kadar kalsium darah di atas normal merangsang sekresi CT. Glukosa merupakan sumber energi bagi
tubuh manusia dan karena itu harus dipertahankan tetap stabil. Hormon-hormon yang berperan
adalah : insulin, glukagon dan epineprin. Peningkatan kadar glukosa darah merangsang sekresi
insulin, sebaliknya penurunan kadar glukosa darah merangsang sekresi glukagon.

Stres merupakan kondisi fisik maupun emosional yang mengancam homeostasis. Oleh karena
itu, harus ada penyesuaian baik hormonal mupun fisiologis. Hormon yang berperan dalam
mengatasi stress adalah: epineprin, ADH, GH dan ACTH,

Tingkat atau kadar testosteron normal pada pria bervariasi berdasarkan usia, waktu pengukuran,
frekuensi olahraga, dan jenis testosteron yang diukur.

Berikut adalah faktor-faktor yang memengaruhi kadar pengukuran testosteron:

Rentang Kadar Testosteron

Kisaran rentang normal testosteron manusia adalah 260 sampai 1.000 nanogram (ng) per desiliter
(dL) darah.

Umur

Kadar testosteron pada pria bervariasi terhadap usia. Seorang pria memiliki testosteron tertinggi
saat berusia sekitar 25 tahun dengan kadar rata-rata 692 ng/dl.

Saat berusia antara 55 hingga 59 tahun, rata-rata tingkat testosteron akan menurun hingga sekitar
552 ng/dl.
Fluktuasi Harian

Kadar testosteron naik dan turun sepanjang harinya. Puncak tingkat testosteron umumnya terjadi
antara pukul 4:00-8:00, kemudian jatuh ke level terendah pada pukul 16:00-20:00.

Olahraga

Olahraga akan meningkatkan testosteron pria. Itu sebab, ada baiknya tidak melakukan olahraga
sebelum dilakukan pengukuran testosteron untuk mengetahui kadar yang sebenarnya.

Mengukur Testosteron

Testosteron dapat diukur dalam beberapa cara yang berbeda. Ada dua jenis testosteron yaitu
testosteron bebas dan terikat.

Testosteron bebas adalah testosteron yang tidak terikat pada protein atau hormon lain. Sebaliknya,
testosteron terikat akan berikatan dengan protein atau hormon lain.

Pengukuran testosteron akan mengukur dua jenis testosteron bebas dan terikat.[]