Anda di halaman 1dari 20

Sumber-Sumber Dasar Qiraat

A. Sekilas tentang qiraat

Qiraat sabah atau asyarah adalah suatu metodologi pembelajaran dalam penyampaian lafadz-
lafadz di dalam Al-Quran yang mencakup variasi bacaan yang berbeda satu sama lain dengan
disandarkan dari seorang penuqil, artinya diterima dengan syarat bacaan yang mutawatir dan
sanad yang benar serta bersambung kepada Rasulullah SAW.1 Perbedaan ini hanya terletak pada
dialek, tata cara pelafalan dan metode penyampaian.2 Ulama qiraat berbeda argument dalam
membaca wahyu Allah, di mana masih dalam prosedur sanad yang bersambung kepada
Rasulullah SAW.
Variasi bacaan ini di ambil dari periwayatan yang shahih, baik berupa perkataan ataupun
perbuatan dari Rasulullah SAW. Salah satu rahasia turunnya Al-Quran atas tujuh huruf tak lain
untuk memudahkan kita dalam membaca kalam-Nya3.
Allah taala berfirman:

Artinya: Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Quran untuk peringatan.4

Proses awal dari pembelajaran Al-Quran dan ilmu-ilmunya tak lain di dapat dengan talaqqi,
yaitu bertemunya seorang murid dengan gurunya dan mengambil apa-apa yang diajarkan oleh
gurunya dengan sanad yang terpercaya bersambung kepada Rasulullah, karena Al-Quran
merupakan rujukan utama bagi orang-orang islam dan merupakan kitab yang datang dari Allah
SWT.5
Tujuh huruf atau yang biasa di kenal dengan al-ahruf al-sabah adalah sebab asasi yang menjadi
landasan adanya variasi bacaan Al-Quran.6
Imam Syatibi menjelaskan dalam kitabnya bahwa variasi bacaannya para ulama qiraat sabah
bahkan asyarah yang di baca oleh umat islam sekarang adalah bagian dari ahruf sabah dalam
Al-Quran yang telah diturunkan kepada nabi Muhammad SAW.7

1
Ibnu Al-Jazari, Munjid Al-Muqrin wa Mursyid Al-Thlibn, Cairo: Dr Al-Fawid, 1419 H, Tahqiq: DR. Abd Al- Hay
Al- Farmawy, hlm. 49
2
DR. Kamal Muhammad Al-Mahdi, Tajwid Al-Quran min ushli dih wa wujhi Ijzih, Cairo: cet. 1, 1988 M,
hlm.31
3
Imam Badaruddin Muhammad bin Abdullah Az-Zarkasyi, Al-Burhn f ulm Al-Quran, Cairo: Dr Al-Hadits, cet:
2, 2006 M, hlm. 158
4
QS. Al-Qamar, ayat: 17
5
Syaikh Muhammad Abd Al-Azhim Az-Zarqany, Manhil Al-Irfan f ulm Al-Quran, Cairo: Dr Al-Salam, cet. 2,
2006 M, juz. 1, hlm. 323
6
DR. Fadhal Hasan Abbas, Al-Qirt Al-Qurniyyah wa m yataallaqu bih, Oman: Dr Al-Nafis, cet. 1, 2008 M,
hlm. 15
B. Wahyu sebagai sumber qiraat

Ilmu qiraat merupakan salah satu cabang dari ilmu-ilmu Al-Quran yang tidak terlepas dengan
apa yang di sebut dalam sabah al ahruf (tujuh huruf).
Qiraat sebagai satu sistem bacaan, menjadi tombak penting bagi para pembacanya, terlebih lagi
Al-Quran merupakan sumber pokok dan rujukan dalam segala hal bagi umat islam.

Secara empiris dan realistis, Al-Quran adalah wahyu yang datang dari Allah SWT baik itu
lafadznya maupun maknanya dan disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat
Jibril AS.8
Firman Allah Taala:
, ,
,

Artinya:
Dan sungguh, (Al-Quran) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, Yang di bawa
turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang
yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.9

Ini merupakan keistimewaan dari kitabullah yang turun dengan berbahasa arab sebagai
kemuliaan bagi bahasa ini khususnya dan untuk umat manusia pada umumnya. Variasi bacaan
Al-Quran merupakan sebuah investasi yang besar jika di lihat dari kedudukan Al-Quran itu
sendiri.10

Peran malaikat Jibril di sini adalah mengajarkan apa-apa yang datang dari Allah SWT kepada
Rasulullah, sedangkan peran Rasulullah adalah menyampaikan wahyu yang datang dari Allah
kepada umat manusia.
Firman Allah:

Artinya:
Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau
lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya.11

Maka, dalam hal ini tidak ada campur tangan Rasulullah ataupun malaikat Jibril, apalagi
kekuasaannya untuk menukar letak huruf dan ayat-ayatnya dari satu tempat ke tempat yang

7
Abd Al-Fattah Abd Al- Ghan Al-Qadhi, Al-Wf f syarh Al-Syathibiyyah, Cairo: Dr Al-Salam, cet. 6, 2009 M, hlm. 7
8
DR. Syaban Muhammad Ismail, Al-Qirt Ahkmuh wa mashdaruh, Cairo: Dr Al-Salam, cet. 4, 2008 M, hlm.
157
9
QS. Asy-Syuara, ayat: 192-195
10
DR. Fadhal Hasan Abbas, Al-Qirt Al-Qurniyyah wa m yataallaqu bih, Oman: Dr Al-Nafis, cet. 1, 2008 M,
hlm. 15
11
QS. Al-Midah, ayat: 67
lain. Dengan begitu, qiraat adalah bagian dari Al-Quran itu sendiri dan qiraat pun bersumber
dari wahyu Allah SWT.12
Dalil-dalil yang menjelaskan bahwa tidak ada campur tangan makhluk apapun dalam Al-Quran
diantaranya:
Firman Allah Taala:

, ,
,

Artinya:
Dan apabila telah dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami dengan jelas, orang-orang yang
tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, Datanglah kitab selain al quran ini atau
gantilah. Katakanlah (Muhammad), Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku
sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku benar-benar takut akan azab
hari yang besar (kiamat) jika mendurhakai Tuhanku.13

, ,
Artinya:
Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut keinginannya, tidak lain (Al-Quran
itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang
sangat kuat.14


, ,

Artinya:
Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, pasti
Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian Kami potong pembuluh jantungnya.15

Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa rasulullah sedikitpun tidak sanggup untuk mengganti atau
menukar letak huruf-huruf yang ada dalam Al-Quran, beliau hanya berkewajiban untuk
menyampaikan wahyu yang datang dari Allah dengan perantara malaikat Jibril. Rasulullah
sekalipun yang martabatnya tinggi tidak sanggup untuk merubahnya, apalagi kita sebagai
umatnya. Maka dari itu, Qiraat merupakan bagian dari Al-Quran dan datang dari Allah Taala.

Adapun dalil-dalil dari hadits yang menjelaskan bahwa wahyu Allah SWT merupakan sumber
qiraat diantaranya:16

12
DR. Syaban Muhammad Ismail, Al-Qirt Ahkmuh wa mashdaruh, Cairo: Dr Al-Salam, cet. 4, 2008 M, hlm.
157
13
QS. Yunus: 15
14
QS. An-Najm, ayat: 3-5
15
QS. Al-Hqqah, ayat: 44-45
16
DR. Syaban Muhammad Ismail, Ibid: hlm. 158-160
(( :
.))
Artinya:
Dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Jibril mengajarkan Al-
Quran untukku dalam satu huruf, kemudian aku datang kembali kepadanya dan aku senantiasa
meminta tambah (bacaan) kepadanya. Ia (Jibril) pun menambahkan untukku (bacaan ini)
sehingga berjumlah tujuh huruf.17

:

Artinya:
Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Al-Quran ini turun atas tujuh huruf, maka bacalah
apa yang mudah (bagimu) dari Al-Quran.18

, (( :
: , , , , :
))
Artinya:
Dari Ubay bin Kaab RA berkata: ((bahwasanya Rasulullah SAW bertemu dengan Jibril As,
kemudian berkata : wahai Jibril, sesungguhnya aku di utus kepada umat yang tidak bisa
membaca dan menulis (ummiy), di sana terdapat juga orang yang renta, laki-laki tua yang telah
lanjut usia, anak-anak, hamba sahaya dan orang-orang yang sama sekali tidak bisa membaca Al-
Quran. Jibril seraya menjawab: wahai Muhammad, sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan atas
tujuh huruf)).19

Dari hadits-hadits ini jelas bahwa qiraat merupakan wahyu dari Allah SWT yang diwahyukan
kepada nabi Muhammad SAW. Dan tidak ada campur tangan malaikat Jibril dalam hal ini,
melainkan hanya dari Allah taala lah sehingga Al-Quran itu turun atas tujuh huruf. Serta tidak
ada campur tangan nabi Muhammad SAW kecuali hanya berkewajiban untuk menyampaikan
wahyu Allah kepada umatnya.
Sebagaimana para sahabat bertemu dengan Rasulullah dan mengetahui qiraat darinya dengan
sanad yang benar dan mutawatir, maka para tabiin pun mengetahui ini dari para sahabat
hingga turun temurun sampai kepada umat nabi Muhammad SAW sekarang.

Klaim yang mengatakan bahwa perbedaan qiraat sampai tujuh atau sepuluh merupakan tanda
kelemahan Al-Quran, pada hakikatnya ia merupakan sumber kekuatan. Yang menjadi
keistimewaan Al-Quran adalah kefleksibilitas pewahyuan Al-Quran kepada kaum Arab, yang
mana ketika itu secara keseluruhan kembali kepada keturunan Adnan, Qathan, dan Qadaah
yang mampu mengaplikasikan bahasa-bahasa Arab di zamannya. Setelah abad ke-6 M, bahasa
Arab selatan menjadi pasif dan bahasa Arab utara lebih unggul. Dan diantara bahasa Arab utara

17
Shahih Imam Bukhri, kitab: Fadhil Al-Qurn, bab: Unzila Al-Qurn al sabah al ahrf, hadits no. 4.705
18
Ibid, hadits no. 4.706
19
Sunan Imam Ahmad, kitab: Al-Qirat, bab: Unzila Al-Qurn al sabah al ahrf, hadits no. 2.944
yang ada, bahasa Arab kaum Quraisy ternyata lebih baik, karena salah satu faktornya adalah
kehidupan religius di antara penduduknya yang dinamis.20
Allah SWT berfirman:

Artinya:
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, agar dia
dapat memberi penjelasan kepada mereka.21

Pada akhirnya, Bahasa Arab Quraisy pun terpecah-pecah dalam bahasa-bahasa kabilah yang
perbedaan dialeknya membuat bahasa-bahasa tersebut keluar dari bahasa Arab yang formal
dan baku.

Teks wahyu yang diturunkan dalam bentuk lisan, diajarkan oleh Rasulullah dengan cara yang
sama kepada para sahabat walaupun pada akhirnya Al-Quran juga tetap diterapkan dalam
bentuk tulisan. Akan tetapi, metode pengajaran secara lisan tetap menjadi praktek yang
dominan hingga saat ini. Bisa dikatakan, ini merupakan salah satu sebab mengapa Al-Quran
dalam sejarahnya banyak mengalami ragam cara baca berdasarkan dialek Arab yang ada pada
saat itu.
Jika Al-Quran merupakan inti ajaran agama islam, maka ilmu qiraat menjadi sebuah sunnah
yang harus di pegang, sebagaimana nabi Muhammad SAW yang selalu menjaga keorisinalitas Al-
Quran dengan cara memanggil para sahabat penghafal Al-Quran untuk kemudian mengulang
dan mengingat kembali bacaannya.22

Imam Ibnu Al-Jazari dalam kitabnya An-Nasyr mengatakan bahwa kita harus menerima setiap
kebenaran yang datang dari nabi Muhammad SAW tentang qiraat yang mutawatir ini, karena
semuanya datang dari Allah SWT. Oleh karena itu, semua bacaan mutawatir dalam ayat Al-
Quran mempunyai kedudukan yang harus kita yakini.
Imam Abu Amru Ad-Dani mengatakan bahwasanya ulama-ulama qiraat tidak berprinsip pada
sesuatu yang terdapat dalam huruf-huruf Al-Quran karena di lihat dari lebih jelasnya kaidah
bahasa dan lebih indahnya padanan bahasa Arab, akan tetapi karena lebih kuat dan lebih
pastinya dalam sunnah Nabi serta sangatlah benar dalam penuqilan dalam suatu riwayat. Jika
suatu riwayat telah kuat menurut kebanyakan orang, maka sebuah qiyas dalam bahasa Arab dan
dzahirnya bahasa pun tidak bisa membantahnya, karena Al-Quran merupakan sunnah yang
harus diteguhi dan di terima. Maka dari itu, tidak diperbolehkan bagi para ulama untuk
membaca Al-Quran dengan qiyas secara mutlak, karena qiyas bukanlah dasar dalam bacaan Al-
Quran.
Dijelaskan dalam suatu riwayat:

20
Abi Ats-Tsan Syihab Ad-Dn As-Sayyid Mahmd Al-Alsiy Al-Baghddiy, Rh Al-Man f Tafsr Al-Qurn Al-
Adzm wa As-SabI Al-Matsn, Cairo: Maktabah At-Taufqiyyah, cet. 2008 M, hlm. 45
21
QS. Ibrahm, ayat: 4
22
Amn binti Muhammad Asyra, Al- Ushl Al-Nayyirt f Al-Qirat , Riyadh: Madr Al-Wathan Li An-Nasyr, cet:
2, 2009 M, hlm. 49
:

Artinya:
Dari Zaid bin Tsabit, dia berkata: Seni bacaan Al-Quran (qiraat) merupakan sunnah yang
mesti dipatuhi dengan sungguh-sungguh.

Sepeninggal nabi SAW, ragam bacaan Al-Quran mendapat tempat tersendiri di kalangan para
sahabat sesuai dengan dialek kabilah yang ada.

Qiraat merupakan ragam bacaan Al-Quran yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan
turun dari Allah SWT23. Al-Quran yang turun di sisi Allah turun dengan berbagai variasi bacaan,
yang tidak terjaga keorisinalitasnya melainkan dengan hafalan dan tidak ada yang bisa
menghilangkan sesuatu pun darinya.
Firman Allah Taala:

Artinya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan pasti Kami (pula) yang
memeliharanya.24

Dikatakan bahwa bacaan-bacaan yang ada di dalam Al-Quran merupakan satu bagian yang
otentik, maka perbedaan bacaan yang satu dengan yang lainnya juga termasuk bagian yang
otentik pula.25

Sesuatu yang benar dari nabi Muhammad SAW, maka wajib diterima dan diyakini. Belum
pernah terdengar satupun dari umat yang menampik akan kebenarannya, karena semuannya
datang dari Allah SWT. Oleh karena itu, harus meyakini keotentikan semuanya dari ayat-ayat Al-
Quran dan mengikuti apa-apa yang terkandung didalamnya dari segi terminologinya baik
berupa teori maupun praktek, serta tidak membolehkan adanya paradigma untuk meninggalkan
salah satu dari yang wajib karena melihat yang lainnya sebagai bentuk praduga.
Abdullah bin Masud mengisyaratkan: jika kalian tidak berselisih pada Al-Quran dan tidak
saling berdebat didalamnya, maka sesungguhnya tidak akan terjadi perselisihan dan tidak akan
terjadi keruntuhan di antara kalian. Ketahuilah, bahwa syariat islam itu satu, batasan-
batasannya dan bacaannya serta perintah Allah di dalamnya juga satu. Maka barang siapa yang
tidak mempercayai suatu huruf dari Al-Quran, maka sama saja dia tidak mempercayai
semuanya.26

23
DR. Abdul Ghafur Mahmud Musthafa Jafar, Al-Qurn wal Qirt wal Ahruf As-Sabah, Cairo: Dr Al-Salm, cet:
1, jilid:1, 2008 M, hlm: 63
24
QS. Al-Hijr, ayat: 9
25
DR. Abdul Ghafur Mahmud Musthafa Jafar, Al-Qurn wal Qirt wal Ahruf As-Sabah, ibid, hlm. 169
26
Imam Ibnu Al-Jazar, An-Nasyr, juz. 1, hlm. 51
Beliau juga menjelaskan pengaruh-pengaruh dalam mengikuti sunnah yang harus dipatuhi
dengan sungguh-sungguh. Dijelaskan dalam suatu periwayatan:

: :

Artinya:
Dari Abdullah bin Masud RA, Ali ra berkata: Sesungguhnya Rasullulah SAW memerintahkan
kepadamu untuk membaca Al-Quran dari orang-orang yang ahli di bidangnya. Di antara
mereka, telah kamu ketahui.

Dalam riwayat lain dijelaskan:

:
Artinya:
Dari Urwah bin Zubair, dia berkata: Sesungguhnya bacaan al quran merupakan sunnah dari
sunnah-sunnah yang ada, maka bacalah (Al-Quran) sebagaimana yang telah dibacakannya
kepadamu.

C. Pengumpulan surat-surat Al-Quran di dalam mushaf

Pada hakikatnya, mushaf Quran belum terkumpul menjadi satu. Pengumpulan mushaf pertama
kali dilakukan pada periode pemerintahan Abu Bakar dan direalisasikan pertama kali oleh Zaid
bin Tsabit.27 Pengumpulan mushaf ini terhenti ketika sampai pada penemuan akhir surat At-
taubah yaitu pada ayat )( 28((, ini direalisasikan bersama Abu Khuzaimah Al-Anshari yang
kemudian diteruskan oleh Umar bin Khattab sampai pada akhir hayatnya dan dilanjutkan
kembali oleh Hafshah RA sampai pada penemuan akhir surat At-Taubah.

Pengumpulan yang kedua dilakukan pada periode pemerintahan Utsman bin Affan (sekitar
tahun 30 Hijriyah), di mana pada era inilah terjadi ekspansi kota Armenia dan kota Adzarbaijan.
Hadir pada waktu itu Hudzaifah Al-Yaman. Dari sinilah, dia melihat banyaknya penduduk yang
berselisih dalam membaca Al-Quran, sehingga ada salah satu orang yang mengatakan kepada
yang lain bacaanku lebih benar dari pada bacaanmu. Hal ini mendorong Hudzaifah
menceritakan apa yang terjadi pada penduduk di sana kepada utsman RA, dan berkata: Orang-
orang telah mengetahui hal ini sebelum mereka berselisih tentang perbedaan antara Yahudi dan
Nasrani. Karena khawatir terjadi fitnah dan kerusakan antar penduduk, maka Utsman
mengutus Hafshah untuk menghadirkan satu mushaf dan menasakhnya, dan memerintahkan

27
DR. Abdul Ghafur Mahmud Musthafa Jafar, Al-Qurn wal Qirt wal Ahruf As-Sabah, Damaskus: Dr Sad Ad-
Dn, cet: 2, jilid: 11, 2009 M, hlm. 5-6
28
Qs. At-Taubah, ayat: 128
pula kepada Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Az-Zubair , Said bin Al- Ash dan Abdurrahman bin Al-
Harits untuk menasakhnya di semua mushaf, yang pada akhirnya terdapat berbagai macam
mushaf yang ditujukan ke Bushra, Kufah, Syam, Makkah, Yaman, Bahrain dan madinah dengan
berbagai macam variasi bacaan yang berbeda satu sama lain. Terdapat satu mushaf yang
tertinggal di Madinah, khusus untuk mushaf madinah atau mushaf imam ini, Utsman berpegang
teguh kepada imam Nafi yang merupakan muqri dari Madinah itu sendiri. Para ulama telah
sepakat dengan metode bacaannya yang solid dan mutawatir.29

Dikisahkan bahwasanya Utsman bin Affan ketika mengirim mushaf-mushaf ke berbagai penjuru,
beliau juga mengutus imam-imam yang bacaan Qurannya sesuai dengan pengikut kebanyakan.
Bacaan ini pun akhirnya berbeda dengan yang lain dan dengan mushaf serta utusan yang
berbeda pula ke berbagai penjuru.
Para sahabat juga berbeda dalam mengambil bacaan yang di ajarkan langsung oleh Rasulullah,
sebagaimana kita ketahui bahwa Al-Quran itu turun atas tujuh huruf, maka sebagian dari
mereka ada yang mengambil bacaannya hanya satu huruf, ada yang mengambil dengan dua
huruf, bahkan sebagian yang lain ada yang mengambil lebih dari itu, kemudian mereka
bertebaran ke pelosok-pelosok negeri dan ini turun temurun kepada para tabiin dan sekarang
sampai kepada kita.

Dijelaskan dalam suatu hadits:

, :
, , , ,
,: . : : ,

: , ,
, , ,
((: . , :)) (( :
.)) , (( :
.))
.

Artinya:
Umar bin Al-Khattab berkata: Aku pernah mendengar Hisyam bin Hakim membaca surat Al-
Furqan semasa hidup Rasulullah SAW dan akupun menyimak bacaannya. Ternyata dia membaca
surah tersebut dengan beberapa qiraat yang belum pernah Rasulullah SAW bacakan untuk
kami. Ketika itu aku hampir saja memukulnya saat dia shalat, tapi aku tetap bersabar hingga ia
mengucap salam. Lalu, akupun menarik sorbannya dan bertanya: Siapakah yang mengajarkan
surat al quran yang ku dengar tadi? Hisyam menjawab: Rasulullah yang membacakannya
untukku. Maka aku berkata: Engkau telah berdusta, karena Rasulullah SAW tidak
membacakan untuk kami seperti yang engkau baca. Akhirnya aku berangkat dengannya
menghadap Rasulullah SAW, lalu aku berkata: Sesungguhnya aku mendengar (laki-laki ini)

29
DR. Abdul Ghafur Mahmud Musthafa Jafar, Al-Qurn wal Qirt wal Ahruf As-Sabah, ibid, hlm: 10
membaca surah al-Furqan dengan qiraat yang belum pernah Baginda bacakan.Rasulullah SAW
pun berkata: Lepaskan ia, dan bacalah wahai Hisyam! Maka ia pun membaca persis seperti
yang aku dengar. Rasulullah SAW bersabda: Seperti itulah Al-Quran diturunkan. Kemudian
Rasulullah SAW bersabda: Wahai Umar, bacalah! Maka akupun membaca seperti yang
diajarkan Rasulullah SAW, lalu Baginda bersabda: Seperti itu pula ia diturunkan. Sesungguhnya
Al-Quran ini diturunkan dengan tujuh huruf (qiraat), maka bacalah dengan cara yang termudah
menurutmu.

D. Kemaksimalisan ulama qiraat dan sebab-sebab keminimalisan tujuh ulama Qiraat

Pakar sejarah menyebutkan bahwa qiraat merupakan sebuah retorika ilmu. Imam suyuthi
dalam kitabnya30 menyebutkan bahwa mereka yang berperan penting dalam mengaplikasikan
ilmu qiraat menurut mayoritas ulama adalah Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam, Ahmad bin Jubair
Al-Kufi, Ismail bin Ishaq Al-Maliki, Abu Jafar bin Jarir Ath-Thabari, Abu Bakar Muhammad bin
Ahmad bin Umar Ad-Dajuni dan Abu Bakar bin Mujahid, kemudian orang-orang pada masanya
dan masa setelahnya berperan dalam penyusunan bacaan qiraat ke dalam tipe bacaan secara
individual ataupun keseluruhan.31

Bermula ketika imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam (wafat tahun 224 Hijriah), menulis sebuah
buku qiraat yang termuat di dalamnya qiraat dari 25 orang perawi, di masa inilah timbul
kebohongan dan usaha-usaha dalam penggantian kata atau kalimat dalam Al-Quran, sehingga
para ulama yang ahli dalam bidang qiraat memulai penyusunan qiraat Al-Quran menuju
kepada disiplin ilmu.

Belum jelas secara kongkrit dalam sumber-sumber sejarah tertentu yang menyebutkan awal
terealisasinya pengumpulan qiraat dalam satu mushaf dengan valid. Disebutkan dalam kitab
(Nasyr) bahwa pengumpulan qiraat dalam mushaf terjadi pada abad ke-5 Hijriyah, akan tetapi
mayoritas ulama mengatakan bahwa pengumpulan qiraat Al-Quran pertama kali dilakukan
pada abad ke-3 Hijriyah.

Dikatakan bahwa ulama yang pertama kali mengumpulkannya adalah Abu Ubaid Al-Qasim bin
Sallam yang membaginya menjadi 25 imam qiraat. Kemudian setelahnya Ahmad bin Jubair bin
Muhammad Al-Kufi Nazil Anthakiyyah mengumpulkan qiraat sampai 5 imam, yang mana dari
tiap penjuru satu versi bacaan. Menyusul setelahnya Qadhi Ismail bin Ishaq Al-Maliki. Dikatakan
bahwa dia mengarang kitab qiraat terkumpul dalam versi bacaanya 20 imam. Setelah itu imam
Abu Jafar Muhammad bin Jarir Ath-Thabari juga mengarang kitab yang dinamakan Al-Jami
yang mana beliau mengumpulkan 20 bacaan bahkan lebih, wafat tahun 310 Hijriyah. Tali estafet
ini dilanjutkan kembali oleh Abu Bakar Muhammad bin Umar Ad-Dajuni yang mengarang kitab
dan mengumpulkan qiraat 10 dari para qari (imam qiraat) dan beliau wafat tahun 324 Hijriyah.

30
Jalal Ad-Dn Abd Ar-Rahmn As-Suyth, Kitab: Al-Itqn f ulm Al-Qurn
31
Mann Al-Qatthn, Mabhits f Ulm Al-Qurn, Ibid: hlm. 173-174
Para ulama sepakat bahwa qiraat yang mutawatir tidak lebih dari qiraat sepuluh yang masyhur,
yakni variasi bacaan tujuh imam qiraat yang masing-masing mempunyai dua perawi32 adalah
variasi bacaan yang disepakati oleh para ulama karena kemutawatirannya, para ulama qiraat
pun memilih bacaannya tiga imam selain yang tujuh ini karena bacaan mereka pun yang benar
dan mutawatir. Mereka adalah Abu Jafar Yazid bin Qaqa Al-Madani, Yaqub bin Ishaq Al-
Hadhrami dan Khalaf bin Hisyam, oleh karena itu para ulama ini di sebut dengan ulama qiraat
sepuluh33. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Thahir bin Asyura dalam tafsirnya At-Tahrir
wa At-Tanwir bahwa variasi bacaan yang terkenal sekarang di negara-negara islam adalah
bacaannya imam yang sepuluh, diantaranya:
1. Bacaan imam Nafi yang mana perawinya adalah imam Qalun tersinyalir bacaannya di
sebagian kawasan di Tunisia, dan sebagian lagi di Mesir dan Libya, dan bacaan imam Warasy
yang terdapat di sebagian kawasan di Tunisia, Mesir dan sebagian kawasan di Jazirah Arab
serta kawasan negara Maroko dan Sudan.
2. Bacaan imam Ashim yang salah perawinya adalah imam Hafs yang bacaanya tersinyalir di
kawasan Utara negara Irak dan Syiria dan kebanyakan di negara Mesir, India, Pakistan, Turki
serta Afghanistan.
3. Bacaan imam Abu Amr Al-Bashri menjadi bacaan terfavorit bagi penduduk di negara
Sudan.34

Imam Ibnu Jazari35 dalam kitabnya An-Nasyr mengatakan bahwa orang yang pertama kali
meminimalis qiraat atas bacaannya imam qiraat yang tujuh adalah Abu Bakar Ahmad bin Musa
bin Abbas bin Mujahid (wafat tahun 324 Hijriah) dan mengarang kitab yang dinamakan As-
Sabah, terkumpul didalamnya qiraatnya imam Abu Amr, Ibnu amir, Ibnu Katsir, Nafi, Ashim,
Hamzah dan Kisai.
Pada dasarnya ulama qiraat ini tidak terhitung bilangannya, akan tetapi karena sedikitnya minat
mereka, maka dikerucutkan pula bacaan ulama qiraat ini berdasarkan penulisan mushaf yang
mana memudahkan bacaannya untuk di hafal dan ini merupakan solusi yang akurat.
Peminimalisan ini terjadi beberapa faktor, salah satunya melihat kualitas dan kuantitas para
ulama yang berbeda satu sama lain.36
Ibnu As-Samani berpendapat bahwa konskuensi atas bacaan imam qiraat yang tujuh bukanlah
dari atsar ataupun sunnah, akan tetapi dari ulama-ulama modern, sehingga terbentanglah
pendapat mereka bahwa tidak diperbolehkan penambahan atas ini.

32
Imam Abi Amru Utsman bin Sad Ad-Dn, Kitab At-Taisr f Al-Qirt As-Sabi, Cairo: Maktabah Ats-Tsaqfiyyah
Ad-Dniyyah, cet: 1, 2009 M, hlm. 3
33
Mann Al-Qatthn, Mabhits f Ulm Al-Qurn, ibid: hlm. 173
34
DR. Fadhal Hasan Abbas, Al-Qirt Al-Qurniyyah wa m yataallaqu bih, Oman: Dr Al-Nafis, cet. 1, 2008 M,
hlm. 95
35
Imam Ibnu Jazari adalah Muhammad bin Muhammad bin Muhammad, Abu Al-Khair Syamsuddin, gurunya para
ulama di zamannya, kitabnya yang termasyhur adalah An-Nasyr f Al-Qirt Al- Asyara, wafat tahun 833 Hijriah.
36
Mann Al-Qatthn, Mabhits f Ulm Al-Qurn, Ibid: hlm. 174.
E. Tanda-tanda baca Al-Quran

Di era khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq, mushaf Al-Quran di tulis dengan khot kufi. Pada
hakikatnya, tulisan yang terdapat dalam Al-Quran masih polos tanpa ada tanda baris maupun
tanda titik, ini sebagai penguat tentang kebenaran kontek wahyu-Nya dan menetapkan
bacaannya dari nabi Muhammad SAW. Pada waktu itu juga, para sahabat lebih berperan dan
berpegang teguh pada hafalan bukan pada tulisan.37 Ketika islam mulai tersebar ke segenap
penjuru Arab, timbullah beberapa kekeliruan dalam membaca Quran. Hal ini karena
beragamnya dialek yang dimiliki oleh masing-masing kabilah. Cara baca Al-Quran yang beragam
pun disebabkan oleh perbedaan karena tidak adanya kerangka tanda titik dan tidak adanya
tanda diakritikal. Akhirnya pada masa kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan (tahun 40-60
Hijriah), Abu Al-Aswad Ad-Duwali memprakarsai pemberian tanda-tanda harakat untuk Al-
Quran. Akan tetapi, tanda harakat tersebut tidak sama dengan harakat yang kita kenal saat ini,
pada masa itu harakat fathah ditandai dengan titik yang ada di atas hurufnya, harakat kasrah
ditandai dengan titik yang terletak di bawah, harakat dhummah ditandai dengan titik yang ada
di depan hurufnya, tasydid dengan titik dua di atas hurufnya dan lain sebagainya.

Sekitar tahun 65-86 Hijriah, khalifah Abdul Malik bin Marwan atas saran Hajaj bin Yusuf mulai
memberi tanda titik pada huruf-huruf Al-Quran. Ia menugaskan Yahya bin Yamur dan Nashar
bin Ashim yang merupakan murid dari Abu Al-Aswad.

Tanda-tanda yang sudah adapun dirasa masih kurang cukup, dimana dengan tanda-tanda
tersebut seringkali masih ditemukan kekeliruan dalam membaca al quran, terutama panjang
pendeknya. Maka, pada tahun 162 Hijriah, Imam Khalil bin Ahmad yang tinggal di Bushra
memberi tanda lebih jelas dengan memperbaharui tanda-tanda yang di tulis oleh Abu Al-Aswad
Ad-Duwali. Walhasil, seperti tanda-tanda baca al quran yang kita ketahui saat ini.

F. Ideologi para ulama qiraat pada metode menjama (mengumpulkan) variasi bacaan

Awalnya, para ulama salafi mengambil satu bacaan secara bertahap dengan satu periwayatan, tidak
mengumpulkan satu riwayat ke dalam riwayat yang lain, sampai pada akhirnya terdapat
pengumpulan variasi bacaan Al-Quran yang pertama kali.
Mayoritas ulama modern dan salafi berpendapat bahwa pengumpulan variasi bacaan Al-Quran itu
boleh,38 berdasarkan dalil sebagai berikut:
1. Hukum menghafal dan belajar qiraat adalah fardhu kifayah bagi umat islam.
2. Awal mula pengumpulan qiraat dari Rasulullah SAW.
3. Ulama bersepakat atas kebolehannya.

37
DR. Abdul Latif Al-Khatib, Mujam Al-Qirt, ibid, hlm: 5
38
Syaikh Ahmad bin Ahmad Asy-Syaqanshiy Al-Qairawniy, Umdah Al-Qrin wal Muqrin, Cairo: Dr Ibnu Hazm,
cet:1, 2008 M, tahqiq: DR. Abdur Razzq Basrr, hlm. 159
Ibnu Al-Jazari menyampaikan bahwa belum melihat seseorang yang memberi tanda adanya suatu
pengumpulan versi bacaan Al-Quran beserta metodenya. Dari sekian yang telah diikuti, Al-Jazari
belum mengetahui kapan adanya pengumpulan variasi bacaan ini. Ali bin Sulaiman Abu Al-Hasan Al-
Anshari Al-Qurthubi telah mengarang suatu kitab yang berisikan tentang metodelogi pengumpulan
variasi bacaan Al-Quran,39 akan tetapi menurut pandangannya bahwa pembacaan dengan
menjama bacaan ini terbatas dari 400 dan seterusnya. Orang-orang bertemu dengannya dengan
sukarela dan para ulama dan yang lainnya pun membaca dengan beliau. Yang membaca variasi
bacaan Al-Quran dengan Imam Al-Jazari diantaranya imam Hafidz Abu Amr Ad-Dani, Makki Al-
Qaisi, Abu Al-Qasim Al-Hadzli Abu Al-Ala Al-Hamdani dan Asy-Syathibi, sedangkan ulama-ulama
modern yang membaca qiraat dengan beliau di antaranya imam Hafidz Abu Syamah, Imam
Mujtahid Abu Al-Hasan Ali bin Abdul Kafi As-Sabki, imam Jabari dan lain sebagainya.40
Metode menjama (mengumpulkan) variasi bacaan Al-Quran menurut mayoritas ulama qiraat
terbagi menjadi beberapa teori:
1. Menjama dengan huruf
Yaitu apabila seorang pembaca memulai bacaannya dan selesai dengan satu kata yang di sana
terdapat perbedaan ushul yaitu kaidah-kaidah pasti yang telah terparsel, contohnya hukum-
hukum mad dan lain sebagainya dan farsy yaitu hukum-hukum yang bersifat khusus yang
terdapat pada sebagian kalimat-kalimat dalam Al-Quran41, maka kata itu di ulang sampai
memuat semua hukumnya. Teori ini didominasi oleh penduduk Mesir dan Maroko.
2. Menjama dengan Waqaf
Yaitu seorang pembaca yang memulai bacaannya dengan bacaan yang pertama kali dari seorang
perawi dan terus menerus sampai pada waqaf sekiranya diperbolehkan untuk berhenti,
kemudian di ulang kembali pada permulaan dan membaca bacaan yang lain dan ini senantiasa di
baca dengan bertahap satu perawi sehingga sampai pada semua perawi, kecuali jika satu perawi
itu sama bacaannya, maka tidak perlu ada pengulangan. Teori ini didominasi oleh penduduk
Syam atau Damaskus.
3. Mengkombinasikan dua teori
Yaitu membaca dengan bacaan perawi yang pertama yaitu imam Qolun sampai pada waqaf yang
diperbolehkan, karena beliau merupakan imam pertama dan utama oleh imam Syathibi.
Apabila ada perawi lain yang sama bacaan dengannya, maka tidak perlu di ulang bacaannya.
Adapun perawi yang berbeda bacaanya dengannya, maka harus di ulang sesuai dengan siapa
paling dekat perbedaannya sampai pada waqaf dan apabila bacaan para ulama qiraat saling
berdekatan, maka bacaan yang didahulukan berdasarkan urutan ulama qiraat yang terdahulu
yang telah dijelaskan oleh imam Syathibi sampai pada waqaf.
4. Menjama dengan ayat

39
Ibnu Al-Jazari mengatakan bahwa Ali bin Sulaiman membaca variasi bacaan al quran dengan gurunya yang
bernama Abu Al-Barakat Muhammad bin Muhammad Al-Bulaifi di Garnathah pada tahun 726 H
40
Dakhl bin Abdullah Ad-Dakhl, Iqr Al-Qurn Al-Karm Manhajuh wa syurtuh wa aslbuh wa dbuh,
Jeddah: Markaz Ad-Dirst wa Al-Malmat Al-Qurniyyah bi Mahad Al-Imam Asy-Syathibi, cet. 1, 2008 M, hlm.
268
41
Amn binti Muhammad Asyra, Al- Ushl Al-Nayyirt f Al-Qirat , Riyadh: Madr Al-Wathan Li An-Nasyr, cet:
2, 2009 M, hlm. 59
Yaitu memulai dengan ayat sampai pada penghujungnya, kemudian pembaca mengulang
kembali dengan satu bacaan imam qiraat sampai berakhirnya perbedaan bacaan.
Ibnu Al-Jazari mengatakan berpendapat bahwa mereka yang menjama dengan teori ini seakan-
akan bertujuan untuk memisahkan setiap ayat yang dibatasi dengan perbedaan yang ada
didalamnya agar selamat dari penumpukan bacaan dan jauh dari pencampurannya, mengingat
banyaknya ayat Al-Quran yang tidak sempurna untuk berhenti (waqaf) dan tidak baik untuk
dijadikan sebagai permulaan bacaan setelahnya. Teori ini merupakan teori yang utama yang di
pilih oleh imam Al-Jazari.
Wallahu alam.
5. Menjama dengan penyesuaian
Yaitu diperumpamakan apabila seorang pembaca memulai dengan bacaan qasr42 yang
merupakan urutan pertama yang sesuai dengan ayat tersebut, maka bacaannya sampai kepada
akhir dari urutannya yaitu mad43, dan sebaliknya jika mad isyba merupakan urutan pertama
yang sesuai dalam suatu bacaan, maka bacaanya sampai pada qasr yang menjadi akhir dari
bacaan, dan lain sebagainya.

G. Syarat-syarat membaca qiraat denga jama (membaca semua variasi bacaan)

Abu Al-Hasan Ali bin Umar Al-Andalusi, salah satu ulama qiraat (lahir pada tahun 650 Hijriah
dan wafat pada tahun 730 Hijriah) menjelaskan syarat-syarat bagi siapa yang ingin menjama
qiraat sebagai berikut:44
1. Waqaf yang benar
Contoh:
Firman Allah Taala:

)62 : ( , tidak boleh waqaf sebelum lafadz )(


2. Permulaan (ibtida) yang benar
Contoh:
Tidak boleh memulai dengan lafadz ) ( pada ayat )43 : (
3. Penerapan yang baik
Contoh:
Tidak boleh waqaf pada ayat: )19-18 : ( ... . , akan tetapi
harus washal sampai pada ayat setelahnya.
4. Tidak menggabungkan satu bacaan dengan bacaan yang lain
Contoh:
Tidak boleh menggabungkan satu bacaan dengan bacaan lain kecuali telah sempurnanya
suatu bacaan, seperti: ketika membaca ayat )37 : ( membaca

42
Membaca dengan kadar bacaan 2 harakat
43
Membaca panjang dengan kadar bacaan 4 atau 6 harakat
44
Dakhl bin Abdullah Ad-Dakhl, Iqr Al-Qurn Al-Karm Manhajuh wa syurtuh wa aslbuh wa dbuh,
Ibid: hlm. 271-272
dengan baris fathah pada lafadz " "dan dhummah pada lafadz " "menurut bacaan
imam Ibnu Katsir, atau sebaliknya menurut imam-imam yang lain.
5. Tidak boleh memisahkan bacaan yang mudhaf dan mudhaf ilaihi (dua kata yang saling
berhubungan)
Contoh:
, di waqaf sebelum lafadz
Pada ayat: )33 : (
6. Membaca variasi bacaan sesuai urutan yang benar
Contoh:
Tidak boleh membaca bacaan imam Warasy sebelum membaca bacaan imam Qolun pada
permulaan bacaan.
7. Membaca dengan sempurna

Inti dari dari tujuh syarat ini, tak luput dari 5 point penting yang harus di perhatikan dalam
membaca semua variasi bacaan, yaitu:45
- Waqaf
- Ibtida (permulaan bacaan)
- Praktikum (penerapan) bacaan
- Ketiadaan untuk menumpuk bacaan
- Penyusunan bacaan imam qiraat dengan baik
Menurut Ibnu Jazari, point ke 5 ini bukanlah syarat mutlak, akan tetapi merupakan
sesuatu yang diharuskan.

H. Kriteria-kriteria sahnya suatu bacaan

Qiraat sabah atau asyarah adalah variasi bacaan yang notabenenya merupakan bacaan yang
mutawatir. Imam ibnu Jazari menjelaskan bahwa qiraat tak luput dari 3 faktor yang otentik, yaitu:46
1. Sesuai dengan kaidah bahasa Arab, baik yang fashih atau yang paling fashih. Karena qiraat
merupakan sunnah yang harus di pegang dan harus di terima serta merujuk kepada sanad
(penisbatan) bukan pada pendapat.
2. Sesuai dengan salah satu kaidah penulisan mushaf Utsmani walaupun hanya kemungkinan
(ihtimal) atau mendekati, karena para sahabat bersungguh-sungguh dalam pembukuan ke
dalam tulisan mushaf Utsmani, dengan standar pengetahuannya pada salah satu bahasa
dalam bacaan.
Contoh:
Mereka menulis lafadz )) (( pada ayat , dengan huruf shad 47)) ((
akan tetapi di ganti dengan huruf sin menjadi )) (( . Faktor disetarakannya dengan

45
Jalal Ad-Dn Abd Ar-Rahmn As-Suyth, Al-Itqn f ulm Al-Qurn, Cairo: Dr Al-Hadts, cet: 5, 2006 M, juz. 1,
hlm. 297-298
46
Jalal Ad-Dn Abd Ar-Rahmn As-Suyth, Al-Itqn f ulm Al-Qurn, Cairo: Dr Al-Hadts, cet: 5, 2006 M, juz. 1,
hlm. 231-233
huruf sin dalam lafadz ini karena merupakan huruf yang asli. walaupun penulisan ini
berbeda dengan tulisan mushaf Utsmani di lihat dari satu sisi, akan tetapi datang dari asal
bahasa yang diketahui, maka terdapat kesetaraaan antara keduanya.48
3. Memiliki sanad yang shahih atau jalan periwayatan yang benar. Karena qiraat merupakan
sunnah yang harus di pegang dan dikonsekuensikan pada kebenaran riwayat dan
penuqilannya. Kebanyakan yang diingkari oleh bahasawan adalah bacaan dari variasi bacaan
karena keluar dari qiyas atau lemahnya bahasa, namun para ulama qiraat dalam hal ini
tidak memperdulikan atas keingkaran mereka.

I. Macam-macam Qiraat
Imam Suyuthi membagi qiraat menjadi enam macam:
1. Mutawatir
Yang disebut mutawatir adalah apa yang disampaikan oleh sekelompok orang yang tidak
mungkin melakukan kebohongan.
Contohnya:
Qiraah sabah yang mana menurut jumhur ulama semua riwayatnya adalah mutawatir.
2. Masyhur
Yaitu bacaan yang sanadnya benar dan belum sampai kepada level yang mutawatir,
walaupun demikian, bacaan ini secara bahasa tidak jadi persoalan, karena sesuai dengan
salah satu rasm mushaf Utsmani, baik itu diriwayatkan oleh imam yang tujuh atau sepuluh.
3. Ahad
Yaitu bacaan yang sanadnya benar, tapi dari segi bahasa dan rasm-nya berbeda dari kaidah
yang ada.
Kategori ketiga ini tidak boleh di baca dan tidak harus diyakini.
Dalam riwayat dijelaskan:
Dari Abi Bakrah, bahwasanya Rasulullah SAW membaca:
49
)(
4. Syadzdzah yaitu bacaan yang sanadnya tidak benar.
Contoh:
Bacaan pada ayat an (perbuatan) di masa lampau d dengan bentuk fiil 50)) ((
dengan menashabkan (membaris fathahkan) huruf mim pada lafadz )(.
5. Maudhu
Yaitu bacaan yang tidak punya dasar dan rujukan.
6. Mudarraj

47
QS. Al-Fatihah, ayat: 6
48
Mann Al-Qatthn, Mabhits f Ulm Al-Qurn, Riyadh: Maktabah Al-Marif li An-Nasyr wa At-Tauz, cet: 3,
2011 M, hlm. 176-177
49
Hadits dikeluarkan oleh imam Al-Hakim (pada surat Ar-Rahman, ayat: 76) dengan lafadz:
))((
50
QS. Al-Fatihah, ayat: 4
Yaitu bacaan yang berlebihan laksana tafsir, seperti bacaannya Saad bin Abi Waqqash pada
ayat ) ( dengan disertai penambahan manjadi ) ( dan lain
sebagainya.51

Para ulama mengemukakan bahwa bacaan qiraat sabah atau sepuluh adalah bacaan yang
mutawatir, sedangkan bacaan yang tidak mutawatir dan tidak termasyhur tidak boleh
diterapkan di dalam shalat dan lain sebagainya.
Imam Nawawi menjelaskan dalam kitabnya ((Syarh Al- Muhdzib)) bahwa tidak
diperbolehkan membaca bacaan yang syadz (cacat) di dalam shalat dan lainnya, karena itu
bukanlah dari Al-Quran dan Al-Quran tidaklah menetapkan suatu bacaan kecuali bacaan
yang mutawatir, sedangkan bacaan syadz bukanlah dari bacaan yang mutawatir. Barang
siapa yang berpendapat diperbolehkannya bacaan yang syadz ini dalam shalat, maka
sesungguhnya ia adalah orang yang salah dan tidak mengerti apa-apa.52

J. Istilah-istilah dalam ilmu qiraat


Ulama qiraat membagi qiraat berdasarkan sanadnya menjadi 4 bagian:
1. Qiraah
Yaitu suatu perbedaan bacaan yang disesuaikan dengan salah satu ulama dari ulama-ulama
qiraat yang tujuh bahkan sepuluh yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah dengan
riwayat dan thuruq yang sesuai.
Contoh:
Bacaan imam Nafi atau bacaan imam Ashim dan lain sebagainya.
2. Riwayat
Yaitu suatu perbedaan yang ada dari seorang perawi atas imam (gurunya) dengan thuruq
yang sesuai.
3. Thuruq (sekte perawi)
Adalah bentuk jama dari kata Thoriq, sebuah metode yang berlaku bagi orang yang
mengambil salah satu bacaan dari perawi qiraat.
Contoh:
Bacaan imam Nafi yang salah satu perawinya adalah imam Qolun yang mengambil
metodenya Abi Nasyith.
4. Wajah (mode bacaan)
Yaitu kembali kepada pemilihan salah satu bacaan dari ulama-ulama qiraat yang mana
terdapat didalamnya beberapa metode bacaan menurut undang-undang yang diberlakukan.

K. Antara dialektikal dan orientalis

51
Syaikh Muhammad Abd Al-Azhim Az-Zarqany, Manhil Al-Irfan f ulm Al-Quran, Cairo: Dr Al-Salam, cet. 2,
2006 M, juz. 1, hlm. 335-336
52
Mann Al-Qatthn, Mabhits f Ulm Al-Qurn, Ibid: hlm. 180
Banyak cara bagi para orientalis untuk menghancurkan islam, salah satunya dengan membuat
tipu daya dikalangan orang-orang islam dengan memprovokatori ajaran-ajaran islam. Sangat
disayangkan bagi orang-orang islam jika terlalu mudah dirasuki faham-faham mereka yang tidak
ada landasan yang valid dan hujjah yang bisa diterima oleh rasio, dimana sangatlah
bertentangan dengan ajaran islam yang idealis.
Kebohongan-kebohongan para orientalis antara lain:
a. Beredar di kalangan para pemberontak islam untuk mengubah kebenaran-kebenaran faham
agama yang di bawa oleh nabi Muhammad SAW dan menggembar-gemborkan sesuatu yang
jauh dari pada keotentikan ajaran islam dengan berbagai macam perantara.
Diantara perantara-perantara itu adalah sesuatu yang berpengaruh pada pondasi-pondasi
islam yang urgen dalam akidah atau keyakinan umat islam dan landasan syariat mereka
yaitu Al-Quran yang merupakan wadah pemersatu umat islam. Mereka berinisiatif ingin
membalikkan semua fakta yang ada dengan sebuah kebohongan melalui pendeklarasian
bahwa terdapat praduga di dalam Al-Quran dan ketiadaan penetapan di dalamnya serta
banyaknya perselisihan yang tidak ditemukan di kitab-kitab lain.53
Dari faham mereka di sini, dapat kita tinjau dari aspek pereka-reka-an mereka pada suatu
kebohongan yang dilontarkan oleh salah seorang orientalis terkemuka bernama Goldisher
dalam kitabnya54 yang berisikan point-point yang diutarakan oleh Gold, diantaranya:
Tidak ada kitab yang disyariatkan dalam agama yang mengenalkan sebuah sekte agama
dengan pengenalan yang berlandaskan keyakinan bahwa ia merupakan kontek yang turun
dan diwahyukan kepadanya. Ini merupakan perumpamaan sebuah gambaran dari
kepradugaan tanpa adanya penetepan sebagaimana yang terdapat di dalam al quran.
Dari sini kita dapat membongkar suatu kebohongan ini dengan berlandaskan dalil sebagai
berikut:
- Hakikat sebenarnya adalah kebalikan dari apa-apa yang diutarakan oleh orientalis ini.
Bukankah Al-Quran merupakan kitab yang terjaga keorisinalitasnya dari perubahan dan
manipulasi?? Sebagaimana firman Allah Taala:

Artinya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang
memeliharanya55
,
Artinya:
Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Quran? Sekiranya (Al-Quran) itu
bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di
dalamnya.56

53
DR. Syaban Muhammad Ismail, Al-Qirt Ahkmuh wa mashdaruh, Cairo: Dr Al-Salam, cet. 4, 2008 M, hlm.
161-162
54
Goldisher, Madzhb Al-Tafsr Al-Islm, Terjemahan: Abd Al-Halm Al-Najjr, cet: Dr Al-Kutub Al-Hadtsah, hlm.
4
55
QS. Al-Hijr, ayat: 9
56
QS. An-Nis, ayat: 82
- Sesungguhnya kontek Al-Quran tidak mungkin terdapat keraguan di dalamnya, karena
praduga terjadi jika terdapat komponen yang berselisih dalam makna dan tidak
mempunyai tindakan yang real dalam suatu maksud serta berbeda dalam menggapai
suatu tujuan. Hal-hal ini sangatlah jauh dari Al-Quran, maka banyaknya variasi bacaan
(qiraat) tidak menjadikan suatu perbedaan dan perselisihan, karena secara signifikan
qiraat itu sendiri terbagi menjadi 3 bagian:57
Pertama:
Dua bacaan yang berbeda pada lafadz, akan tetapi satu makna. Hikmah yang
terkandung di dalamnya tak lain untuk memudahkan dalam membaca Al-Quran atas
dasar dialek yang beraneka ragam.
Kedua:
Dua bacaan yang berbeda pada lafadz dan maknanya, akan tetapi tujuannya sama, yang
mana kedua-duanya mempunyai arti yang benar dan tidak ada perselisihan antara
keduanya yang memungkinkan untuk mengumpulkan keduanya menjadi satu tujuan.
Hikmah yang tersirat di balik ini bahwa Allah Taala ingin mengumpulkan semua
makhluk-Nya ke satu tempat yang kemudian hidup dan terbagi-bagi ke berbagai
penjuru, sedangkan hikmah yang tersurat dapat kita analisa bahwasanya ingin
menjadikan satu ayat dengan kedudukan setara dengan dua ayat untuk lebih
menggunakan dua makna sekaligus dan ini bagian dari mukjizatnya Al-Quran.
Ketiga:
Dua kata yang berbeda pada lafadz dan berbeda juga pada makna serta terdapat
pelarangan untuk mengumpulkannya menjadi satu bagian, akan tetapi sama ketika di
lihat pada sisi lain yang mana tidak memungkinkan terjadinya perselisihan.
Berdasarkan realita yang ada, perbedaan ini bukanlah perbedaaan yang otoriter, akan
tetapi hanyalah perbedaan yang terjadi karena banyaknya variasi dan perubahan, bukan
pada perbedaan yang berlawanan satu sama lain.

b. Dakwahan-dakwahan lain yang bersifat atheis yang ditemukan dalam kitab orientalis ini
adalah:perselisihan yang terjadi pada permasalahan variasi bacaan Al-Quran yang
bermacam-macam itu kembali pada keculturalan khat (tulisan) Arab yang tertulis di mushaf
Utsmaniyah yang terukir dalam kepolosan dan kosong dari bentuk dan baris-baris tulisan
dalam mushaf.58Maka perselisihan menurut orientalis ini beredar pada permasalahan
timbulnya mushaf Al-Quran yang tidak mempunyai kerangka tanda titik dan tanda
diakritikal dan berasumsi bahwa qiraat ini ada pada masa-masa akhir dari penulisan Al-
Quran di era Khalifah Utsman bin Affan. Ini merupakan argumen yang salah dan asumsi
yang bathil yang berasaskan tuduhan yang munkar untuk menjelek-jelekan agama islam.
Bukti konkrit untuk mengklarifikasi semua problematika di atas antara lain:

57
DR. Syaban Muhammad Ismail, Al-Qirt Ahkmuh wa mashdaruh, Cairo: Dr Al-Salam, cet. 4, 2008 M, hlm.
162-166
58
Ibid: hlm. 166
- Sejarah merupakan sebaik-baiknya saksi dan sebenar-benarnya pemberi kabar. Sejarah
menyebutkan bahwa Al-Quran terkumpul dengan berbagai macam variasi bacaan dan
perawihan merupakan sesuatu yang terjaga dan terpelihara dalam jiwa para sahabat
rasulullah SAW sebelum di tulis ke dalam mushaf pada era pemerintahan Utsman bin
Affan, bahkan sebelum Al-Quran terkumpul pada era pemerintahan Abu Bakar Ash-
Shidiq pun.59
- Dalil Al-Quran juga menampik dan mendustakan dakwahan-dakwahan orientalis ini.
Telah dijelaskan dalam Al-Quran bahwa dasar pokok atau landasan Al-Quran adalah
wahyu Allah Taala. Oleh karena itu, tidak ada campur tangan siapapun dari makhluk
Allah SWT.60
- Akal yang sehat pun tidak bisa menerima tuduhan yang dilontarkan oleh orientalis ini
bahwa dasar pokok qiraat kembali pada rasm (tulisan) mushaf Utsmani bukan pada
wahyu Allah.61
Bukti yang realistis akan kebohongannya yaitu apabila wahyu Allah Taala bukanlah
sumber dasar qiraat Al-Quran , niscaya sebagian Al-Quran merupakan perkataan
manusia dan tidak mencakup wahyu-Nya yang diturunkan di sisi Allah SWT. Apabila
realitanya seperti ini, maka hilanglah kemukjizatan Al-Quran dan apabila benar
demikian, maka mudah bagi orang-orang Arab untuk mendatangkan yang semisal dari
Al-Quran. Dan ini sangatlah bertentangan dengan sifat Quran itu sendiri.
Bukti nyata yang telah terdokumenter bahwa semua variasi bacaan al quran yang
beragam tak lain dari sisi Allah Taala yang diturunkan melalui perantara malaikat Jibril
kepada nabi Muhammad SAW.
Firman Allah Taala:
. ,
,
Artinya:
Dan jika kamu meragukan (Al-Quran) yang kami turunkan kepada hamba Kami
(Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-
penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Jika kamu tidak mampu
membuatnya dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang
bahan bakarnya manusia dan batu yang disediakan bagi orang-orang kafir.62
Wallahu alam.

59
DR. Syaban Muhammad Ismail, Al-Qirt Ahkmuh wa mashdaruh, hlm: 167-168
60
Ibid: hlm. 169
61
Ibid: hlm. 171-172
62
QS. Al-Baqarah, ayat: 23-24