Anda di halaman 1dari 5

LTM 4 Perpindahan Kalor

Nama : Ivan Markus Tanggal : 6 April 2017

NPM : 1506744551 Paraf Asisten :

Kelompok : 7

Topik Pemicu : Perpindahan Kalor Konveksi Paksa

I. Outline
1. Perpindahan Kalor dalam alat penukar kalor dan variable proses yang menentukan
kinerjanya (Tube Banks)
II. Pembahasan

Alat penukar kalor tipe ini adalah salah satu jenis alat penukar kalor yang menurut
konstruksinya dicirikan adanya sekumpulan tube yang dipasangkan di dalam shell berbentuk
silinder di mana dua jenis fluida yang saling bertukar kalor mengalir secara terpisah, masing
masing melalui sisi tube dan sisi shell.

Alat penukar kalor tipe ini sering digunakan di industri kimia. Satu fluida mengalir di dalam
pipa, sementara fluida lain dialirkan dalam shell. Agar aliran dalam shell turbulen dan untuk
memperbesar koefisien perpindahan panas konveksi, maka pada shell dipasang penghalang
(baffle).

Gambar 1. Alat penukar Kalor tipe shell and tube"

(sumber : file:///F:/Disk%20C/My%20Downloads/76-490-1-PB.pdf)
Sebelum mendesain alat penukar kalor, dibutuhkan data dari laju aliran (flow rate) , temperatur
masuk dan temperatur keluar, dan tekanan operasi kedua fluida. Data ini dibutuhkan terutama
untuk fluida gas jika densitas gas tidak diketahui. Untuk fluida berupa cairan (liquid), data tekanan
operasi tidak terlalu dibutuhkan karena sifat - sifatnya tidak banyak berubah apabila tekanannya
berubah.

Kinerja heat exchanger bentuk ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu:

1. Fouling Factor
Setelah dipakai beberapa lama, permukaan perpindahan kalor pada HE dapat dilapisi oleh
berbagai endapan atau permukaan itu mengalami korosi karena adanya interaksi antara fluida
dengan bahan yang digunakan. Kedua hal tersebut dapat memberikan tahanan tambahan terhadap
aliran kalor sehingga menurunkan kinerja HE. Pada shell-and-tube heat exchanger, fouling dapat
terjadi baik pada bagian dalam maupun luar tube dan dapat terjadi pada bagian dalam shell.
Pengaruh menyeluruh dari hal ini dapat dinyatakan secara matematis dengan fouling factor atau
tahanan pengotoran, Rf, yang harus diperhitungkan bersama tahanan termal lainnya dalam
menghitung koefisien perpindahan kalor menyeluruh. Faktor pengotoran harus didapatkan dari
percobaan, yaitu dengan menentukan U untuk kondisi bersih dan kondisi kotor pada penukar kalor
tersebut.

1 1
=

Gambar 2. Kondisi pipa setelah digunakan

(sumber: Lienhard, 2008)

Gambar 2 menunjukkan bahwa pipa kanan baru dipakai, dan sebelah kiri menggambarkan
permukaan dalam pipa yang terkotori. Fouling dapat menyebabkan pengurangan cross sectional
area dan meningkatkan pressure drop, sehingga dibutuhkan energi ekstra untuk pemompaan.
Walaupun tidak secara umum, masalah peningkatan pressure drop lebih serius dari pada
peningkatan thermal resistance.

2. Pressure Drop
Penurunan tekanan pada heat exchanger khususnya pada tabung dan rangkunan tabung dapat
menyebabkan perubahan faktor gesek ( friction factor). Pada tabung hubungan antara faktor friksi
dan penurunan tekanan dituliskan sebagai berikut :


=
2

2

Perubahan faktor friksi ini mengakibatkan berubahnya angka Reynold dan angka Nusselt,
sehingga nilai koefisien perpindahan kalor konveksinya berubah. Dengan berubahnya koefisien
perpindahan kalor konveksi maka kofisien perpindahan kalor menyeluruh pun ikut berubah.

3. Koefisien perpindahan panas


Semakin baik sistem Heat Exchanger tentu akan semakin baik pula koefisien perpindahan
panas yang dimilikinya. Secara umum, koefisien perpindahan kalor terbagi menjadi dua, yaitu :

UC ; koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat Heat Exchanger masih baru.
UD ; koefisien perpindahan kalor keseluruhan pada saat Heat Exchanger sudah kotor.
Kedua koefisien dihubungkan sebagai berikut :

hio . ho
Uc =
hio + ho

UD = Uc + Rdi + Rdo
UD = Uc + Rd

hio = koefisien perpindahan kalor pada sisi tube

ho = koefisien perpindahan kalor pada sisi shell

Rdi = Fouling factor tube

Rdo = Fouling factor shell

Rd = Fouling factor keseluruhan


4. Konduktivitas termal
Daya hantar kalor dari fluida maupun dinding pipa Heat Exchanger akan sangat berpengaruh
pada kinerja alat tersebut.

5. Aliran fluida yang bertukar kalor


Terdapat berbagai macam aliran fluida yang bertukar kalor. Baik dari tipe aliran maupun
kecepatan aliran. Aliran dengan arah berlawanan mampu menghasilkan perpindahan kalor yang
lebih banyak dan lebih efisien dari aliran dengan arah sejajar. Selain itu, efektivitas suatu Heat
Exchanger akan meningkat jika laju aliran fluida panas (pada shell) lebih cepat dari laju aliran
fluida dingin (pada tube)

6. Jarak sekat
Menurut Li dan Kottke dalam penelitiannya, dinyatakan bahwa jarak sekat (baffle) terhadap
penurunan tekanan dan perpindahan panas lokal menyimpulkan bahwa perubahan jarak sekat
(baffle) mempengaruhi perpindahan kalor konveksi dan penurunan tekanan. Demikian juga oleh
Saffar-Avval et al, dalam penelitiannya pengaruh baffle terhadap luas dan penurunan tekanan,
menyimpulkan bahwa baffle mempunyai pengaruh yang menentukan daya pemompaan dan luas
perpindahan panas.

7. Jumlah lintasan
Di dalam alat penukar kalor, jumlah lintasan sangat menentukan kecepatan perpindahan kalor.
Apabila jumlah lintasan yang ada banyak, maka akan berpengaruh pada luas permukaan yang
melepas kalor. Seperti yang diketahui, apabila luas permukaan yang terkena fluida panas semakin
banyak atau luas, maka perpindahan kalor akan terjadi lebih cepat.

8. Kecepatan
Kecepatan dari fluida mempengaruhi bilangan reynoldnya. Sementara itu, angka reynold
sangat berpengaruh dalam perhitungan matematis.

9. Distribusi temperatur
Apabila distribusi temperatur di dalam fluida tidak merata, maka perpindahan kalor yang
terjadi tidak merata di beberapa permukaan. Ada permukaan yang lebih banyak aliran konveksinya
apabila distribusi suhu di tempat tersebut cukup besar, begitu pula sebaliknya.
10. Luas permukaan perpindahan panas
Semakin tinggi luas permukaan panas, semakin besar panas yang dipindahkan. Luas
perpindahan panas ini tergantung pada jenis tube dan ukuran tube yang digunakan suatu heat
exchanger.

11. Beda suhu rata-rata


Temperatur fluida panas maupun fluida dingin yang masuk heat exchanger biasanya selalu
berubah-ubah. Untuk menentukan perbedaan temperatur tersebut digunakan perbedaan temperatur
rata-rata atau Logarithmic Mean Temperature Difference (LMTD). LMTD digunakan dalam
perhitungan-perhitungan heat exchanger yang menunjukkan panas yang dipindahkan.

(2 2 ) (1 1 )
=
( 2 )
ln[ 2 ( )]
1 1

III. Daftar Pustaka

A.D. Polyanin, A.M. Kutepov, A.V. Vyazmin, and D.A. Kazenin.


Hydrodynamics, Mass and Heat Transfer in Chemical Engineering, Taylor & Francis,
London, 2002.
Cengel, Y. A. 2003. Heat Transfer: Practical Approach. 2nd ed. New York: McGraw-Hill.
Holman, J.P. 2010. Heat Transfer. 10th ed. New York: McGraw-Hill.
Kern, D. Q. 1983. Process Heat Transfer. New York: McGraw-Hill.
Lienhard IV, J. H. 2008. A Heat Transfer Textbook. 3rd ed. Massachusetts: Phlogiston Press.
Schlichting, H. (1979). Boundary Layer Theory (7 ed.). New York (USA): McGraw-Hill.
Setiadi, R. dan I. Bizzy. 2013.
STUDI PERHITUNGAN ALAT PENUKAR KALOR TIPE SHELL AND TUBE DENGAN
PROGRAM HEAT TRANSFER RESEARCH INC.
[file:///F:/Disk%20C/My%20Downloads/76-490-1-PB.pdf] diakses pada 5 April 2017