Anda di halaman 1dari 24

MODUL I

PENGUKURAN LINIER

1.1 Tujuan Praktikum

1. Mengetahui / memahami ketelitian / ketepatan dan kecermatan alat ukur


2. Mengetahui / memahami arti pengukuran langsung
3. Mampu menggunakan alat ukur dengan benar dan tepat.
1.2 Dasar Teori

1.2.1 Pengertian Pengukuran

Pengukuran merupakan kegiatan sederhana, tetapi sangat penting dalam


kehidupan. Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran
dengan besaran lain sejenis yang dipergunakan sebagai satuannya.
Misalnya,seseorang mengukur panjang buku dengan mistar, artinya seseorang
tersebut membandingkan panjang buku dengan satuan-satuan panjang yang
ada di mistar, yaitu milimeter atau centimeter, sehingga diperoleh hasil
pengukuran, panjang buku adalah 210 mm atau 21 cm. Ada dua hal yang perlu
diperhatikan dalam kegiatan pengukuran, pertama masalah ketelitian (presisi)
dan kedua masalah ketepatan (akurasi).
1.2.1.1 Presisi
Presisi menyatakan derajat kepastian hasil suatu pengukuran, sedangkan
akurasi menunjukkan seberapa tepat hasil pengukuran mendekati nilai yang
sebenarnya. Presisi bergantung pada alat yang digunakan untuk melakukan
pengukuran. Umumnya, semakin kecil pembagian skala suatu alat semakin
presisi hasil pengukuran alat tersebut. Mistar umumnya memiliki skala
terkecil 1 mm, sedangkan jangka sorong mencapai 0,1 mm atau 0,05 mm,
maka pengukuran menggunakan jangka sorong akan memberikan hasil yang
lebih presisi dibandingkan menggunakan mistar. Meskipun memungkinkan
untuk mengupayakan kepresisian pengukuran dengan memilih alat ukur
tertentu, tetapi tidak mungkin menghasilkan pengukuran yang tepat (akurasi)
secara mutlak.
1.2.1.2 Akurasi
Keakurasian pengukuran harus dicek dengan cara membandingkan terhadap
nilai standar yang ditetapkan. Keakurasian alat ukur juga harus dicek secara
periodik dengan metode the two-point calibration.
1.2.1.3 Satuan Pengukuran
Dalam kehidupan sehari-hari mungkin anda menemui satuan-satuan berikut:
membeli air dalam galon, minyak dalam liter, dan diameter pipa dalam inchi.
Satuan-satuan di atas merupakan beberapa contoh satuan dalam system
Inggris (British). Selain satuan-satuan di atas masih ada beberapa satuan lagi
dalam sistem Inggris, antara lain ons, feet, yard, slug, dan pound. Setelah abad
ke-17, sekelompok ilmuwan menggunakan sistem ukuran yang mula-mula
dikenal dengan nama sistem Metrik. Pada tahun 1960, sistem Metrik
dipergunakan dan diresmikan sebagai Sistem Internasional (SI)m, karena
satuan-satuan dalam system ini dihubungkan dengan bilangan pokok 10
sehingga lebih memudahkan penggunaannya.

Gambar 1.1. Tabel Besaran Pokok Beserta Satuannya

(Sumber : http://3.bp.blogspot.com/-
6zqXSydv7UE/UxUI1qK0HpI/AAAAAAAAAFU/t-
8ibeDXFms/s1600/besaran_pokok.png)
Gambar 1.2. Tabel besaran turunan berserta dimensi dan satuannya

(Sumber : http://2.bp.blogspot.com/-
oyOwbetBPoc/UBo1kHbd5cI/AAAAAAAADjg/ToBYbN--
ljQ/s400/tabel+besaran+turunan.gif)

SI juga tetap mengakui satuan satuan diluar satuan dasar karena satuan-
satuan itu masih dipergunakan secara luas. SI merupakan sistem yang mudah
dipakai karena sistem itu menyediakan sejumlah awalan yang menyajikan
kuantita yang lebih besar atau lebih kecil dari kuantitas baku. Besaran yang
lebih besar merupakan kelipatan dari sepuluh, dan besaran yang lebih kecil
merupakan pecahan desimal. Tabel 3, di bawah ini menunjukkan awalan-
awalan dalam system Metrik yang dipergunakan untuk menyatakan nilai-nilai
yang lebih besar atau lebih kecil dari satuan dasar. (Munadi,S.Dkk.1988)
1.2.1.4 Alat ukur
Macam-Macam Alat Ukur dan Kegunaannya Guna menentukan nilai dari
suatu besaran, entah itu besaran pokok atau besaran turunan. Pengukuran
dengan perasaan atau feeling itu jelas tidak valid. Untuk menentukan nilai dari
suatu besaran dengan presisi diperlukan alat ukur yang sesuai dengan jenis
besarannya. (Munadi,S.1981)
1.2.2 Mikrometer
Bagian-Bagian Mikrometer.

Gambar 1.3. Bagian bagian mikrometer


(Sumber : http://smkypfatahillahclg.blogspot.com/2011/06/fungsi-dan-
bagianmikrometeer.html)
Bagian-bagian mikrometer :
1. Landasan 8. Skala ukuran
2. Rahang ukur 9. Ratset
3. Poros Geser 10. Rangka atau Frame
4. Klem
5. Tabung ukur
6. Tabung Putar(Timble)
7. Skala Nonius
1.2.2.1 Bentuk Mikrometer
Mikrometer dirancang dengan bentuk yang bermacam-macam,
disesuaikan dengan fungsinya. mikrometer luar mempunyai bentuk
rangka menyerupai huruf C dengan rahang ukur yang dapat di geser
atau di setel dan dilengkapi dengan skala ukuran, skala nonius tabung
putar, dan ratset seperti terlihat pada gambar diatas.
1.2.2.2 Fungsi Mikrometer
Mikrometer adalah suatu alat ukur presisi dengan ketelitian yang akurat
dan berfungsi untuk mengukur celah dari suatu benda kerja. Benda kerja
merupakan suatu produk hasil pekerjaan pemesinan, misalnya produk
dari pekerjaa mesin bubut, mesin frais, mesin gerindra dan semacamnya.
Ketelitian dari mikrometer dapat mencapai angka 0,10 mm s.d. 0,001
mm. Mikrometer terbuat dari bahan yang terpilih dengan pengerjaan
yang sangat teliti dan standar.
1.2.3 Mikrometer dalam tiga kaki (Holtest, Triobor)
Mikrometer dalam tiga kaki untuk mengukur diameter dalam cermat,
karena kedudukan mikrometer selalu tetap ditengah lingkaran.
Ketelitiannya mencapai 0,005 mm. (Rochim, Taufiq.2004)

Gambar 1.4. Micrometer Tiga Kaki Triobor


(Sumber : http://www.msi-viking.com/assets/images/78xtz-1.jpg)
1.2.4 Jangka Sorong
Ketelitian pengukuran sangat diperlukan dalam mendesain sebuah alat.
Kekurangtelitian sering kali membuat alat tersebut tidak berfungsi
optimal atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Contoh sekrup yang
akan dipakai memiliki diameter tidak sama dengan pasangannya,
walaupun selisih 0,01 mm maka keduanya tidak dapat dirangkai dengan
baik. Kalau komponen sekrup ini dipasang pada mobil, tentunya mobil
tidak akan berfungsi dengan normal, bahkan bisa menimbulkan
kecelakaan. Jangka sorong dan mikrometer sekrup adalah alat yang
dapat digunakan untuk mengukur panjang sebuah benda dengan
ketelitian yang sangat bagus. Jangka sorong memiliki batas ketelitian
0,05 mm, artinya ketepatan pengukuran alat ini bisa sampai 0,05 mm
terdekat. Jangka Sorong memiliki dua
macam skala :
Skala Utama (dalam satuan cm)
Skala Nonius (dalam satuan mm)

Gambar 1.6. Cara membaca Skala Jangka Sorong


(Sumber : http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukur-jangkasorong-dan_4461.html)

Gambar 2.3 Cara membaca Skala Jangka Sorong


(Sumber : http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukur-jangkasorong-dan_4461.html)
Mula-mula perhatikan skala nonius yang berhimpitan dengan skala
utama.Hitunglah berapa skala hingga ke angka nol. Pada gambar, skala
nonius yang berimpit dengan skala utama adalah 4 skala. Artinya angka
tersebut 0,40 mm.Selaanjutnya perhatikan pada skala utama. Pada skala
utama, setelah nol kebelakang menunjukkan angka 4,7 cm. Sehingga
diameter yang diukur sama
dengan 4,7 cm + 0,40 mm = 4,74 cm.
Fungsi jangka sorong antara lain :
Mengukur Diameter Luar Benda.
Mengukur Diameter Dalam Benda.
Mengukur Kedalaman Benda
a. Mengukur Diameter Luar Benda
Cara mengukur diameter, lebar atau ketebalan benda :

Gambar 2.4 Mengukur Diameter Luar Benda


(Sumber:http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukur-jangkasorong-dan_4461.html)
Putarlah pengunci ke kiri, buka rahang, masukkan benda ke rahang
bawah jangka sorong, geser rahang agar rahang tepat pada benda,
putar pengunci ke kanan.
b. Mengukur Diameter Dalam Benda
Cara mengukur diameter bagian dalam sebuah pipa atau tabung.

Gambar 2.5 Mengukur Diameter Dalam


(Sumber : http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukur-jangkasorong-dan_4461.html)
Putarlah pengunci ke kiri, masukkan rahang atas ke dalam benda,
geser agar rahang tepat pada benda, putar pengunci ke kanan.
c. Mengukur Kedalaman Benda
Cara mengukur kedalaman benda

Gambar 2.6 Mengukur Kedalaman Benda


(Sumber : http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukur-jangkasorong-dan_4461.html)
Putarlah pengunci ke kiri, buka rahang sorong hingga ujung lancip
menyentuh dasar tabung, putar pengunci ke kanan.
1.2.4.1 Jenis jenis jangka sorong
Jenis jenis jangka sorong dapat dibedakan berdasarkan media
pembacaan
ukurannya. Ada tiga jenis jangka sorong yaitu sebagai berikut :
1. Jangka Sorong Biasa, yaitu jangka sorong yang pembacaannya
menyerupai meteran roll.

Gambar 2.7 Jangka Sorong Biasa


(Sumber : http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukurjangka-sorong-dan_4461.html)
2. Jangka Sorong Analog, yaitu jangka sorong yang pembacaannya
melalui jarum ukuran analog yang ditempelkandi bagian muka.
Jangka sorong analog dikenal dengan jangka sorong manual.

Gambar 2.8 Jangka Sorong Analog


(Sumber : http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukurjangka-sorong-dan_4461.html)
3. Jangka Sorong Digital, yaitu jangka sorong yang pembacaannya
berdasarkan angka angka yang tertera pada layar digital.
Pengukuran digital berjalan dengan otomatis, yaitu ketika benda
diukur, maka hasil pengukuran akan tertera pada layar digital.
(Rochim, Taufiq.2004)

Gambar 2.9 Jangka Sorong Digital


(Sumber : http://masahyat32.blogspot.com/2012/10/membaca-alat-
ukur-jangkasorong-dan_4461.html)
1.3 Alat dan Bahan

1. Jangka Sorong ketelitian 0,05 mm

Gambar 1.3 . Jangka Sorong ketelitian 0,05 mm

(Sumber: Laboratorium Metrologi Industri)

2. Jangka Sorong ketelitian 0,02 mm

Gambar 1.4. Jangka Sorong ketelitian 0,02 mm

(Sumber: Laboratorium Metrologi Industri)


3. Mikrometer Luar (ukuran 0-25 mm)

Gambar 3.5. Mikrometer Luar 0-25 mm

(Sumber: Laboratorium Metrologi Industri)

4. Ring Pejal B (Rusak)

Gambar 3.6. Ring B

(Sumber: Laboratorium Metrologi Industri)


1.4 Langkah-Langkah Praktikum

1.4.1 Persiapan Pengukuran

1. Mempersiapkan tempat untuk proses pengukuran.


2. Memeriksa keberadaan alat sesuai dengan yang tercantum pada kartu
alat. Bila sesuai dengan yang tercantum pada kartu alat tersebut, isi
kartu pemakaian alat yang sudah disediakan. Apabila belum lengkap
tanyakan kepada asisten.
3. Membersihkan peralatan dengan menggunakan tissue yang dibasahi
dengan wash bensin.
4. Menuliskan data alat ukur pada lembar kerja.

1.4.2 Pengukuran dengan Jangka Sorong.

1. Mempelajari cara penggunaan Jangka Sorong.


2. Mempelajari fungsi masing-masing bagian pada Jangka Sorong
dalam mengukur kemampuan obyek.
3. Memelajari gambar benda kerja.
4. Mempraktikan melakukan proses pengukuran berdasarkan gambar.
5. Menulis hasil pengukuran pada table.

1.4.3 Pengukuran dengan Micrometer

1. Mempelajari cara penggunaan Mikrometer.


2. Mempelajari fungsi masing-masing bagian pada Micrometer dalam
mengukur kemampuan obyek.
3. Mempelajari gambar benda kerja.
4. Mempraktikan melakukan proses pengukuran berdasarkan gambar.
5. Menulis hasil pengukuran pada table.

1.4.4 Pengukuran dengan Micrometer Tiga Kaki (Triobor).

1. Mempelajari cara penggunaan Mikrometer Tiga Kaki. (Triobor).


2. Mempelajari fungsi masing-masing bagian pada Micrometer dalam
mengukur kemampuan obyek.
3. Mempelajari gambar benda kerja.
4. Mempraktikan melakukan proses pengukuran berdasarkan gambar.
5. Menulis hasil pengukuran pada table.

Gambar 1. Poros
Sumber : Modul Metrologi Industri

Gambar 1. Benda Bearing

Sumber : Modul Metrologi Industri


Gambar 1. Benda Piston

Sumber : Modul Metrologi Industri

Gambar 1. Benda Piston

Sumber : Modul Metrologi Industri


1.5 Analisis

Data hasil pengukuran yang telah dilakukan pada Benda Poros dan Bearing.

1. Alat ukur yang paling cermat pengukurnnya :


Diameter luar : Micrometer luar (Outside Mikcrometer)
Diameter dalam : Triobor (Mikrometer 3 kaki)
Panjang : Mikrometer luar (Outside Mikcrometer)
Lebar / tebal : Mikrometer luar (Outside Mikcrometer)
2. Perbandingan pengukuran a, b, c, e, f, g, dengan d pada poros

Gambar 1. Poros
Sumber : Modul Metrologi Industri

Untuk hasil/total pengukuran a, b, c, e, f, g, pada poros sama dengan


panjang d, dan untuk alat yang digunakan untuk pengukuran a, b, c, e, f,
g, bisa menggunakan Jangka Sorong begitu juga dengan d. Untuk d bisa
juga menggunakan Mikrometer yang besar.
3. Dari segi fungsinya dimensi yang kritis dari benda Piston dan Poros :

Gambar 1. Benda Piston

Sumber : Modul Metrologi Industri

Gambar 1. Benda Piston

Sumber : Modul Metrologi Industri


Gambar 1. Poros
Sumber : Modul Metrologi Industri
Untuk piston dimensi kritis nya ada pada d, e, f, g, h, I, j, k, l, m, o, p,
q, dan r karena berfungsi untuk tempat ring piston dan ring piston
berfungsi pada saat terjadi TMA TMB maupun sebaliknya sebagai
penahan /mempertahankan kerapatan antara piston dengan dinding
silinder agar tidak terjadi kebocoran pada gas buang ke bak engkol
(ruang di bawah piston).
Lubang pada piston c berfungsi untuk tempat poros engkol. a, b dan s
juga merupakan dimensi kritis.
Pada poros sendiri a, b, c, d, e, f, dan g, merupakan dimensi krisis dan
berperan penting pada kepala piston terutama panjang c dan diameter f.
4. Perbandingan sebaran data dari keempat alat ukur yang digunakan :
Dilihat dari ketelitian efisiensi alat.
Mistar : 0,5 mm
Jangka Sorong (0,05 mm) : 0,05 mm
Jangka Sorong (0,02 mm) : 0,02 mm
Mikrometer : 0,01 mm
Triobor : 0,005 mm
Dan tingkat keefisiensi alat dan banyak digunakan adalah Jangka
Sorong.
5. Keterbatasan keempat alat ukur yang digunakan :
Mistar : Kurang teliti.
Jangka Sorong (0,05 mm): Efektif digunakan
Keterbatasan jangkauan alat (pendek)
Jangka Sorong (0,02 mm): Efektif digunakan
Keterbatasan jangkauan alat (pendek)

Mikrometer : Tingkat ketelitian tinggi


Untuk pengukuran panjang tidak cocok
dan pengukuran bersudut tidak cocok.
Triobor : Tingkat ketelitian tinggi
Untuk pengukuran panjang tidak cocok
dan pengukuran bersudut tidak cocok.
6. Data hasil pengukuran Poros, Bearing dan Piston
1.6 Penutup

1.6.1 Kesimpulan

Kesimpulan pada Praktikum ini adalah:

1. Dalam pengukuran dengan menggunakan alat ukur Mistar, Jangka


Sorong , Micrometer dan Triobor hal-hal yang perlu diperhatikan :
Pada saat akan melakukan pengukuran dilihat dulu benda kerja
yang akan diukur, memungkinkan tidak memakai alat ukur
tersebut.
Saat melakukan pengukuran sebisa mungkin menggunakan alat
yang ketelitiannya tinggi agar dicapai hasil yang baik tapi dilihat
juga nilai fungsi dari benda ukur yang akan kita ukur.
Mengenal tingkat ketelitian masing-masing alat ukur yang kita
gunakan :
Mistar : 0,5 mm
Jangka Sorong (0,05 mm) : 0,05 mm
Jangka Sorong (0,02 mm) : 0,02 mm
Mikrometer : 0,01 mm
Triobor : 0,005 mm

2. Berdasarkan hasil dari pengukuran yang dilakukan bisa disimpulkan :


Diameter luar : Micrometer luar (Outside
Mikcrometer)
Diameter dalam : Triobor (Mikrometer 3 kaki)
Panjang : Mikrometer luar (Outside
Mikcrometer)
Lebar / tebal : Mikrometer luar (Outside
Mikcrometer)
Dengan catatan memperhatian terlebih dahulu panjang benda
kerja yang akan kita ukur.
3. Pengukuran Langsung : Pengukuran yang bisa langsung di lihat hasil
pengukurannya.

1.6.2 Saran

Saran pada praktikum ini adalah


1. Untuk persiapan pada saat akan dilakukan praktikum lebih disiapkan
lagi karena pada saat akan praktikum harus menunggu kunci untuk
membuka tempat penyimpanan alat ukur
2. Selain itu juga untuk kelengkapan alat ukur bisa ditambah jika masih
ada yang kurung atau perbaikan alat ukur agar lebih baik lagi.
1.7 Referensi
1. Rochim, Taufiq.2004.Spesifikasi Metrologi dan Control Kualitas
Geometri.Bandung.ITB
2. Rochim, Taufiq.2004.Spesifikasi Metrologi dan Control Kualitas
Geometri.Jilid 2.Bandung.ITB
3. Munadi,S.Dkk.1988.Dasar-Dasar Metrologi Industri.Menara Mas.Jakarta.
4. Munadi,S.1981.Metrologi Industri.Fakultas Keguruan Teknik Institut
Keguruan dan Ilmu Pendidikan.Yogyakarta.