Anda di halaman 1dari 38

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PENCEGAHAN STROKE BERULANG BEKERJA SAMA DENGAN IRNA MEDIK SERUNI RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PENCEGAHAN STROKE BERULANG BEKERJA SAMA DENGAN IRNA MEDIK SERUNI RSUD DR. SOETOMO

Disusun oleh kelompok 19 :

  • 1. Kharisma Matahari Virgita H. P

(131311133021)

  • 2. Nur Jazilah Hemadiyan

(131311133044)

  • 3. Sinta Pradikta

(131311133069)

  • 4. Elok Damayanti

(131311133092)

  • 5. Nurul Istifaizah

(131311133119)

  • 6. Ayu Dyah Pramitah

(131211131025)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA

2017

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP) PENCEGAHAN STROKE BERULANG

Topik Pokok bahasan Target /sasaran Hari / Tanggal Waktu Tempat

:

Pencegahan Stroke Berulang

: Pencegahan Stroke Berulang : Keluarga pasien di ruang Seruni RSUD Dr. Soetomo Surabaya : Rabu, 20 September 2017 : 10.00 WIB

: Ruang Seruni

  • I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU)

Setelah dilakukan pendidikan kesehatan diharapkan keluarga pasien di

Ruang Seruni RSUD Dr. Soetomo Surabaya mampu memahami Pencegahan stroke berulang.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK)

  • 1. Keluarga memahami tujuan dari manajemen pencegahan stroke berulang.

  • 2. Keluarga pasien di ruang rawat inap Seruni mampu memahami penatalaksanaan pencegahan stroke berulang

III. MATERI PELAJARAN

  • 1. Definisi Stroke

  • 2. Etiologi Stroke

  • 3. Klasifikasi Stroke

  • 4. Patofisiologi Stroke

  • 5. Manifestasi Klinis Stroke

  • 6. Pemeriksaan Diagnostik Stroke

  • 7. Penatalaksanaan Stroke

  • 8. Komplikasi Stroke

  • 9. Prognosis Stroke

    • 10. Manajemen Perawatan Stroke

IV. PESERTA

Kelurga pasien di ruang Seruni

V. METODE

Ceramah dan tanya jawab

VI. MEDIA

1.

Leaflet

2.

LCD

VII. PELAKSANAAN

No

Tahap

dan

     

.

waktu

Kegiatan Pendidikan

Kegiatan Peserta

Pelaksana

 
  • 1. Pendahuluan

Pembukaan:

   

10 menit

  • 1. Mengucapkan salam dan

  • 1. Menjawab salam

Moderator

memperkenalkan diri

  • 2. Mendengarka n kontrak

  • 2. Menyampaikan

  • 3. Menjelaskan

pembelajaran

tujuan, maksud dari penyuluhan dan menyebutkan

  • 3. Mendengarka n tujuan dari penyuluhan

materi penyuluhan yang akan diberikan

kontrak waktu & mekanisme kegiatan.

  • 4. Kuesioner pre-test

 
  • 2. Kegiatan inti 30 menit

Pelaksanaan dari mahasiswa profesi ners:

   
  • 1. Menggali

  • 1. Peserta

pengetahuan dan

memperhatika

Penyaji materi

pengalaman peserta

n pemateri

mengenai

  • 2. Peserta

   

perawatan pasien dengan Stroke di rumah

mendengarka n materi yang disampaikan

 
  • 2. Menjelaskan materi tentang:

  • 3. Peserta mengajukan

Definisi Stroke

  • a. pertanyaan

  • b. tentang materi

Etiologi Stroke

Manifestasi

Klinis Stroke

  • c. yang kurang

dipahami

  • d. Komplikasi

Stroke

  • e. Penatalaksanaan Stroke

  • f. Managemen perawatan pasien dengan stroke di rumah

  • 3. Memberi kesempatan kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diajukan peserta

3.

Penutup

10

Evaluasi:

   

menit

  • 1. Menanyakan

  • 1. Peserta

Fasilitator

kembali materi

menjawab

yang telah

pertanyaan

disampaikan

yang

  • 2. diberikan

Penyuluh

menyimpulkan

penyuluh

   

materi yang sudah

2.

Para peserta

 

disampaikan

mendengarka

  • 3. Kuesioner post-test

n kesimpulan

  • 4. leaflet

materi yang

disampaikan

Setting

 
Keterangan Gambar:
 

Keterangan Gambar:

 
: Penyaji
: Penyaji
: Penyaji

: Penyaji

: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer : Moderator : Notulen
: Observer

: Observer

: Moderator : Notulen
  • : Moderator

: Moderator : Notulen
: Moderator : Notulen

: Notulen

 
: Fasilitator

: Fasilitator

 
: Peserta
 
: Peserta

: Peserta

  • 1. Peserta duduk bersama menghadap LCD yang ada di depan

  • 2. Ruangan nyaman dan tenang

VIII.

PENGORGANISASIAN DAN JOB DESCRIPTION Pengorganisasian

Pembimbing klinik

Pembimbing akademik

: Upit Natalina, S.Kep.Ns. : Nadia Rohmatul Laily, S.Kep., Ns.,M.Kep.

  • 1. : Kharisma Matahari Virgita H. P, S.Kep

Penyaji materi

  • 2. : Sinta Pradikta, S.Kep

Notulen

  • 3. : Nur Jazilah Hemadiyan, S.Kep

Moderator

  • 4. : Ayu Dyah Pramitah, S.Kep

Fasilitator 1

  • 5. : Elok Damayanti, S.Kep

Fasilitator 2

  • 6. : Nurul Istifaizah S.Kep

Observer

Job Description

No

Peran

Uraian Tugas

Kriteria Penilaian

Skoring

.

1.

Penyaji

1.

Menggali

  • 1. Suara cukup dan

 

pengetahuan

jelas

peserta

  • 2. Tidak terlalu cepat

mengenai

atau lamban dalam

manajemen

menyampaikan

pencegahan

materi

stroke berulang

  • 3. Ada kontak mata

2.

Menjelaskan

dengan seluruh

materi

peserta

penyuluhan

  • 4. Menyampaikan

3.

Menjawab

salam kepada

pertanyaan yang

peserta

diajukan peserta

  • 4. Menggali kemampuan peserta mengenai manajemen perawatan pada pasien dengan stroke di rumah

 
  • 5. Menyampaikan materi sesuai dengan SAP

  • 6. Memberikan umpan balik kepada peserta tentang materi yang sudah disampaikan

  • 7. Mengakhiri penyampaian materi dan mengucapkan

     

salam

 
 

Moderator

  • 2. Membuka acara

1.

  • 1. Suara cukup keras

  • 2. Ada kontak mata

 

dan menyampai- kan maksud serta tujuan kegiatan

dan jelas

dengan seluruh peserta

penyuluhan

  • 3. Membuka acara dan

   

2.

Menjelaskan

mengucapkan salam

kontrak waktu dan mekanisme

  • 4. Menjelaskan kontrak waktu

kegiatan

  • 5. Memandu acara

3.

Memandu sesi diskusi/tanya jawab

sesuai kontrak waktu yang disepakati

4.

Melakukan evaluasi hasil tentang materi

  • 6. Memandu sesi diskusi/ tanya jawab secara interaktif

yang telah disampaikan

  • 7. Melakukan evaluasi hasil pada peserta

5.

Menutup acara penyuluhan

  • 8. Menutup acara dan menyampaikan salam

 

Observer

  • 3. Mengawasi jalannya acara

1.

  • 1. Mengawasi jalannya acara

 

2.

Mencatat proses kegiatan penyuluhan disesuaikan dengan dengan rencana kegiatan

  • 2. Mencatat proses kegiatan penyuluhan mulai dari awal sampai akhir, dan disesuaikan dengan rencana SAP

pada SAP

  • 3. Mencatat situasi

3.

Mencatat situasi

pendukung dan

   

pendukung dan

penghambat proses

 

penghambat

kegiatan

proses kegiatan

  • 4. Menilai hasil

penyuluhan

kegiatan penyuluhan

4.

Menilai hasil

kegiatan

penyuluhan

 

Notulen

  • 4. Mencatat

1.

  • 1. Mencatat pertanyaan

 

pertanyaan apa

apa saja yang

saja yang

disampaikan oleh

disampaikan

peserta

oleh peserta

  • 2. Menyusun laporan

2.

Menyusun

hasil dari kegiatan

laporan kegiatan

penyuluhan

penyuluhan

 

Fasilitator

  • 5. Memfasilitasi

1.

  • 1. Memfasilitasi

 

beberapa materi

beberapa materi

yang belum

yang belum

dimengerti oleh

dimengerti oleh

penyuluh

penyuluh

2.

Memfasilitasi

  • 2. Memfasilitasi

peserta untuk

peserta untuk aktif

aktif bertanya

dalam menyakan

3.

Membagikan

materi yang belum

leaflet

dimengerti

  • 3. Membagikan leaflet kepada peserta

IX. EVALUASI

1.

Kriteria struktur

 

a.

Kontrak

waktu dan tempat diberikan sebelum acara penyuluhan

 

dilaksanakan

  • b. Peserta di tempat penyuluhan di ruang rawat inap Seruni RSDS.

  • c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelum dan saat penyuluhan dilaksanakan

  • 2. Kriteria Proses

    • a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan

    • b. Peserta mendengar dan memperhatikan penyuluhan

    • c. Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan

    • d. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan SAP

    • e. Pengorganisasian berjalan sesuai dengan job description

    • f. Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.

  • 3. Kriteria Hasil

    • a. Para pasien dan keluarga pasien ruang rawat inap Seruni mengerti dan memahami serta dapat mengaplikasikan pencegahan pasien stroke di rumah

    • b. Peserta mampu menjawab dengan benar 75% dari pertanyaan penyuluh.

    • c. Jumlah peserta yang hadir dalam penyuluhan minimal 7 orang.

  • Rumus menghitung keberhasilan :

    Jumlah jawaban benar

    x 100%

    Jumlah peserta x jumlah soal

    MATERI PENCEGAHAN STROKE BERULANG

    1.1 Definisi stroke

    Stroke atau cedera cerebrovaskular (CVA) adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Smeltzer & Bare, 2002). Stroke adalah sindrom klinis yang awal timbulnya mendadak, progesi cepat, berupa defisit neurologis fokal dan/ atau global, yang berlangsung 24 jam atau lebih atau langsung menimbulkan kematian, dan sematamata disebabkan oleh gangguan peredaran darah otak non traumatik (Mansjoer, 2000). Menurut Price & Wilson (2006) pengertian dari stroke adalah setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian stroke adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral sehingga terjadi penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara mendadak.

    1.2 Klasifikasi Stroke

    Stroke menurut penyebabnya diklasifikasikan menjadi dua, adapun klasifikasinya

    adalah sebagai berikut :

    • 1. Stroke Non Hemoragik

    Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan yang ditandai dengan kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau hemiparese, nyeri kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia

    (kesulitan menelan). Stroke non haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu stroke embolik dan stroke trombotik (Wanhari, 2008).

    • 2. Stroke Hemoragik

    Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya perdarahan intra serebral atau perdarahan subarakhnoid. Tanda yang terjadi adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).

    • 1.3 Etiologi Stroke Menurut Smeltzer & Bare (2002) stroke biasanya diakibatkan dari salah satu

    empat kejadian yaitu:

    • 1. Thrombosis yaitu bekuan darah di dalam pembuluh darah otak atau leher.

    • 2. Embolisme serebral yaitu bekuan darah atau material lain yang di bawa ke otak dari bagian tubuh yang lain.

    • 3. Iskemia yaitu penurunan aliran darah ke area otak

    • 4. Hemoragi serebral yaitu pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak. Akibat dari keempat kejadian diatas maka terjadi penghentian suplai darah ke

    otak, yang menyebabkan kehilangan sementara atau permanen gerakan, berpikir, memori, bicara, atau sensasi.

    • 1.4 Faktor Risiko

    Faktor resiko terjadinya stroke menurut Mansjoer (2000) adalah:

    • 1. Yang tidak dapat diubah: usia, jenis kelamin, ras, riwayat keluarga, riwayat stroke, penyakit jantung koroner, dan fibrilasi atrium.

    2.

    Yang dapat diubah: hipertensi, diabetes mellitus, merokok, penyalahgunaan alkohol dan obat, kontrasepsi oral, dan hematokrit meningkat.

    1.5 Patofisiologi

    Otak sangat tergantung kepada oksigen, bila terjadi anoksia seperti yang terjadi pada stroke di otak mengalami perubahan metabolik, kematian sel dan kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit (non aktif total). Pembuluh darah yang paling sering terkena ialah arteri serebral dan arteri

    karotis Interna.

    Adanya gangguan peredaran darah otak dapat menimbulkan jejas atau cedera pada otak melalui empat mekanisme, yaitu :

    • 1. Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan sehingga aliran darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat, selanjutnya akan mengakibatkan perubahan-perubahan iskemik otak.

    • 2. Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke kejaringan (hemorrhage).

    • 3. Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan otak.

    • 4. Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang interstitial

    jaringan otak. Konstriksi lokal sebuah arteri mula-mula menyebabkan sedikit perubahan pada aliran darah dan baru setelah stenosis cukup hebat dan melampaui batas kritis terjadi pengurangan darah secara drastis dan cepat. Oklusi suatu arteri otak akan menimbulkan reduksi suatu area dimana jaringan otak normal sekitarnya yang masih mempunyai pendarahan yang baik berusaha membantu suplai darah

    melalui jalur-jalur anastomosis yang ada. Perubahan awal yang terjadi pada korteks akibat oklusi pembuluh darah adalah gelapnya warna darah vena, penurunan kecepatan aliran darah dan sedikit dilatasi arteri serta arteriole. Selanjutnya akan terjadi edema pada daerah ini. Selama berlangsungnya perisriwa

    ini, otoregulasi sudah tidak berfungsi sehingga aliran darah mengikuti secara pasif

    segala perubahan tekanan darah arteri

    Berkurangnya aliran darah serebral sampai

    .. ambang tertentu akan memulai serangkaian gangguan fungsi neural dan terjadi

    kerusakan jaringan secara permanen.

    • 1.6 Tanda dan Gejala Menurut Smeltzer & Bare (2002) dan Price & Wilson (2006) tanda dan gejala

    penyakit stroke adalah kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh, hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran, penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu atau kedua mata, pusing dan pingsan, nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas, bicara tidak jelas (pelo), sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat, tidak mampu mengenali bagian dari tubuh, ketidakseimbangan dan terjatuh dan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.

    • 1.7 Penatalaksanaan Medis

    Penatalaksaan medis menurut menurut Smeltzer & Bare (2002) meliputi:

    • 1. Diuretik untuk menurunkan edema serebral yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral.

    • 2. Antikoagulan untuk mencegah terjadinya thrombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler.

    3.

    Antitrombosit karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi.

    1.8 Komplikasi

    Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit stroke menurut Smeltzer & Bare

    (2002) adalah:

    • 1. Hipoksia serebral, diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan.

    • 2. Penurunan aliran darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intrvena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi dan hipotensi ekstrim perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.

    • 3. Embolisme serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian trombus lokal. Selain itu, disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.

    1.9 Pemeriksaan Diagnostik

    Menurut (Doenges dkk, 1999) pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada

    penyakit stroke adalah:

    • 1. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.

    • 2. CT-scan: memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya infark.

    • 3. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.

    • 2. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.

    • 3. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.

    • 4. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.

    • 5. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada thrombosis serebral.

    1.10 Prinsip dalam merawat pasien stroke dirumah

    Berikut merupakan beberapa prinsip dalam merawat pasien dengan penyakit

    stroke dirumah:

    • 1. Membantu mencegah kecacatan menjadi seminimal mungkin

    • 2. Melatih pasien mandiri dalam melakukan kegiatan sehari-hari

    • 3. Meningkatkan rasa percaya diri pasien

    • 4. Mencegah terulangnya stroke

    Berikut ini berbagai masalah yang mungkin dialami pasien pasca stroke dan cara keluarga mengatasinya.

    • 1. Kelumpuhan/ kelemahan

    Apabila sewaktu pulang kerumah pasien belum mampu bergerak sendiri, aturlah posisi pasien senyaman mungkin, tidur terlentang atau miring ke salah satu sisi, dengan memberi perhatian khusus pada bagian lengan atau kaki yang lemah. Posisi tangan dan kaki yang lemah sebaiknya diganjal dengan bantal, baik pada saat berbaring atau duduk untuk memperlancar arus balik darah ke jantung dan mencegah terjadinya bengkak pada tangan dan kaki. Keluarga dan pengasuh dapat mencegah terjadinya kekakuan tangan dan kaki yang lemah dengan melakukan latihan gerak sendi, melanjutkan latihan yang telah dilakukan di rumah sakit. Sebaiknya latihan dilakukan minimal 2x sehari.

    Untuk mempertahankan dan meningkatkan kekuatan otot latihan harus dilakukan oleh fisioterapi 3-4x seminggu, sedangkan sisa hari yang lain dapat dilakukan oleh keluarga atau pengasuh. Keluarga juga dapat membantu pasien berjalan kembali dengan cara berdirilah disisi yang lemah atau di belakang

    pasie untuk memberi rasa aman pada pasien. Hindari penggunaan alat bantu jalan kecuali jika diperlukan sesuai anjuran fisioterapis.

    • 2. Mengaktifkan tangan yang lemah

    Anjurkan pasien makan, minum, mandi atau kegiatan harian lain menggunakan lengan yang masih lemah dibawah pengawasan pengasuh. Dengan mengaktifkan tangan yang lemah akan memberikan stimulasi pada sel-sel otak untuk berlatih kembali aktifitas yang dipelajari sebelum sakit.

    • 3. Gangguan sensibilitas (rasa kebas atau baal)

    Keluarga sebaiknya menghampiri dan berbicara dengan pasien dari sisi tubuh yang lemah. Saat berkomunikasi, pengasuh dapat menyentuh dan menggosok tangan dengan lembut yang mengalami kelemahan. Keluarga

    dianjurkan memberi motivasi kepada pasien agar menggunakan tangan yang lemah sebanyak dan sesering mungkin dan menjauhkan dan menghindarkan barang atau keadaan yang dapat membahayakan keselamatan pasien, misalnya nyala api, benda tajam dan benda berbahaya lainnya. Keluarga juga harus selalu mengingatkan pasien untuk tidak mencoba sesuatu, misalnya air panas dengan tangan yang lemah. Fokus perawatan pasien stroke di rumah diantaranya:

    • 1. Terapi Psikologis Penderita Stroke Hampir 70% pasien stroke mengalami masalah emosional, seperti sedih, mudah tersinggung, murung, dan depresi. Berdasarkan penelitian, seseorang yang menderita depresi pasca stroke memiliki kemungkinan tiga kali lebih besar meninggal dalam 10 tahun, dibandingkan dengan pasien stroke tanpa depresi. Hal ini mencakup kematian akibat bunuh diri, Namun,

    jika pasien dan orang yang merawatnya menyadari masalah ini, maka terdapat hal-hal yang dapat dikerjakan untuk mengatasi masalah tersebut. Sebagian masalah emosional muncul segera setelah stroke, sebagai akibat kerusakan di otak. Sebagai contoh, ketidakmampuan seseorang untuk mengekspresikan dirinya sendiri akibat masalah bahasa dapat menimbulkan sikap mudah marah. Masalah emosional lain timbul pada tahap lebih belakangan, misalnya sewaktu pasien akhirnya menyadari dampak penuh stroke atas kemandirian mereka. Perlu diingat bahwa orang yang pernah mengalami stroke sangat rentan terhadap perubahan dalam situasi mereka, terutama jika mereka akan meninggalkan rumah sakit atau saat mereka pertama kali keluar rumah untuk berjalan-jalan. Ini merupakan reaksi fisiologis normal, dan pasien harus didorong untuk membahas kekhawatiran mereka akan karier serta anggota keluarga sehingga masalah tersebut dapat diatasi sebanyak mungkin. Pada sebagian besar kasus, masalah emosional mereda seiring waktu, tetapi ketika terjadi, masalah itu dapat menyebabkan pasien menolak terapi atau kehilangan motivasi untuk menjalani proses rehabilitasi, yang dapat memengaruhi pemulihan pasien. Masalah emosional reaktif ini sering dapat dikurangi secara substansial dengan mendorong pasien membicarakan ketakutan dan kemarahan mereka. Pasien harus merasa bahwa mereka adalah anggota keluarga yang berharga. Tidak dapat dianggap remeh tentang pentingnya lingkungan rumah yang suportif, yang mendorong timbulnya perhatian terhadap orang lain dan aktivitas waktu luang, misalnya

    membaca, memasak, berjalan-jalan, berbelanja, bermain, dan berbicara. Pasien stroke yang keluarganya atau orang yang merawatnya tidak suportif dan yang memiliki kehidupan keluarga yang tidak berfungsi cenderung memiliki prognosis lebih buruk dibandingkan dengan pasien lain. Sebagian pasien stroke mungkin merasa nyaman jika mereka berbagi pengalaman mereka dengan pasien stroke lain (daftar kelompok pendukung stroke dapat diperoleh dari organisasi layanan masyarakat lokal Anda). Jika diperlukan, masalah emosional dapat diatasi dengan konseling individual atau terapi kelompok. Psikoterapi juga dapat membantu sebagian pasien, misalnya mereka yang mengalami apati berat, depresi, tak tertarik atau menentang pengobatan. Jika masalahnya menetap, terutama depresi, dokter mungkin menganjurkan obat antidepresan (misalnya, fluoksetin dan amitriptilin) atau berkonsultasi dengan psikiater atau ahli psikologi klinis. Konsultasi dini biasanya dianjurkan untuk pasien yang mengalami depresi berat, terutama mereka yang mungkin ingin bunuh diri. Beberapa pengidap stroke, terutama yang berusia lanjut dan menderita beberapa kali stroke, memperlihatkan luapan emosi yang tidak terkendali, seperti tertawa, menangis, atau memperlihatkan sikap mudah marah, tanpa alasan yang jelas. Pasien dan keluarganya perlu menyadari bahwa sebagian besar masalah perilaku yang -timbul sebagai akibat langsung dari stroke tidak bertahan lama dan bahwa masalah-masalah tersebut sering tidak mencerminkan perasaan pasien yang sebenarnya.

    • 2. Terapi Fisik

    Pasien yang mengalami imobilisasi perlu dimiringkan dan diposisikan secara reguler, setiap 2 - 3 jam, perubahan posisi termasuk lengan dan tungkai. Punggung pasien juga harus juga diperiksa untuk melihat tanda- tanda dekubitus. Untuk mencegah timbulnya dekubitus, bersihkan kulit dengan air hangat, spons, dan sedikit antiseptik atau sabun paling tidak sekali sehari. Semua seprai yang basah harus langsung diganti. Beberapa latihan fisik yang dapat dilakukan adalah :

    • a. Memijat tungkai yang lumpuh sekali atau 2 kali sehari

    • b. Gerakkan semua sendi di tungkai yang lumpuh secara lembut dan perlahan-lahan (yaitu, lurus dan menekuk) 5 7 kali. Tahanlah sendi di setiap posisi selama sekitar 30 detik. Gerakan sebaiknya tidak menimbulkan nyeri. Ulangi proses ini setiap empat jam. Jika mungkin, cobalah memberi semangat pasien untuk bekerja sama dengan gerakan dan meningkatkan mobilitas mereka karena ini akan membantu mempercepat pemulihan.

    • c. Topanglah hemiplegik (lemah) dengan bantal agar tidak terjadi dekubitus terutama pada tungkai, siku, punggung, bahu dan kepala. Olahraga yang aman dan menyenangkan setelah stroke penting bagi kesehatan secara umum dan untuk mengurangi risiko stroke di masa

    mendatang. Dalam merencanakan suatu program olahraga, perlu dipertimbangkan tingkat latihan yang dilakukan pasien sebelum stroke. Umumnya paling aman jika latihan/olahraga dimulai secara lambat, lalu jumlah dan intensitasnya ditingkatkan secara bertahap. Jenis aktivitas yang mungkin dilakukan bergantung pada efek stroke. Mereka yang tidak banyak

    mengalami masalah fisik dapat mencoba berjalan, menggunakan sepeda statis, dan melakukan aktivitas olahraga yang biasa mereka lakukan. Pasien yang masalahnya lebih berat, misalnya mereka yang mengidap hemiplegia, mungkin memerlukan bantuan ahli fisioterapi atau spesialis olahraga. Secara umum, seperti pada orang lain, sebaiknya pasien melakukan sekitar setengah jam aktivitas yang menyebabkan pasien merasa hangat, sedikit terengah-engah, dan sedikit berkeringat, tiga kali seminggu atau lebih. Olahraga aerobik, misalnya berjalan atau bersepeda, biasanya sangat bermanfaat, serta pemakaian beban dan aktivitas penguatan otot berulang juga dapat membantu. Pasien stroke yang juga memiliki masalah jantung perlu memastikan kondisi jantung mereka stabil sebelum mengubah tingkat aktivitas yang biasa. Dalam hal ini, pasien sebaiknya memeriksakan diri ke dokter dan membahas tingkat aktivitas yang direncanakan.

    • 3. Terapi Kognitif Masalah kognitif mencakup kesulitan berpikir, memusatkan perhatian, mengingat, membuat keputusan, menggunakan nalar, membuat rencana, dan belajar. Hal ini sering menjadi komplikasi stroke, mengenai sekitar 64% dari pasien yang selamat dan menyebabkan demensia pada 1 dari 5 pasien stroke usia yang lebih lanjut. Namun, bagi banyak pasien stroke, masalah kognitif yang ringan cenderung akan mereda seiring dengan waktu, dan kemampuan mereka akan pulih sepenuhnya. Jika pasien mengalami masalah daya ingat dan sedang mengonsumsi sejumlah obat jangka panjang, sebaiknya obat tersebut sudah dikemas di apotek. Tersedia beberapa kemasan komersial, di mana pil dibagi dan

    dilabel dengan jelas sehingga pasien dapat melihat apakah mereka sudah minum jatah hari itu atau belum. Jika pasien tidak dapat mengikuti instruksi di obat resep, orang yang merawat perlu menjamin bahwa pasien minum obat dalam jumlah dan saat yang tepat. Terdapat bukti bahwa berbagai alat bantu mengingat dapat meningkatkan kemampuan pasien untuk mengonsumsi obatnya secara teratur. Ada baiknya dibuat bagan atau tabel tentang aktivitas harian, obat, dan kemajuan pasien pada selembar kertas. Pasien stroke dengan gangguan kognitif yang parah, misalnya demensia, jarang pulih sempurna dan dapat bertambah buruk seiring dengan waktu. Hal ini terutama berlaku pada orang berusia lanjut yang pernah mengalami beberapa kali stroke serta mengidap penyakit-penyakit lain. Sebagian pasien stroke tidak menyadari masalah kognitif mereka, sehingga mereka rentan mengalami kecelakaan atau tersesat. Anggota keluarga dan orang yang merawat perlu menyadari hal ini dan melakukan tindakan pencegahan, misalnya menyembunyikan benda-benda yang berpotensi membahayakan dan menyertai pasien jika mereka pergi keluar. Konsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater juga dapat membantu. Jika keamanan pasien di rumah menjadi masalah, perlu dipertimbangkan agar pasien dipindahkan ke fasilitas perawatan residensial. Meskipun belum ada terapi spesifik yang efektif untuk demensia vaskular, perkembangan atau kemajuan penyakit dapat dipengaruhi oleh pengendalian faktor risiko stroke, terutama hipertensi dan sumber embolus.

    • 4. Perawatan Mata dan Mulut Pasien yang tidak dapat minum tanpa bantuan harus membersihkan mulutnya dengan sikat lembut yang lembab atau kapas penyerap sekitar satu jam. Perawatan mulut yang teratur sangat penting, terutama untuk pasien yang sulit atau tidak dapat menelan.Gunakan kain lembab yang bersih untuk membersihkan kelopak mata pasien jika diperlukan. Jika pasien yang mengantuk terus membuka mata dalam jangka panjang, mata mereka dapat mengering, yang bisa menyebabkan infeksi dan ulkus kornea. Untuk mencegah hal ini, dianjurkan penutupan mata dan penggunaan pelumas, salep, atau air mata buatan yang dapat di beli bebas (1 2 tetes setiap 3 4 jam).

    • 5. Perawatan Buang Air Kecil dan Besar Meskipun masalah buang air kecil dan besar (inkontinensia atau retensi) relatif biasa pada minggu-minggu pertama setelah stroke, terutama pada pasien yang mengalami penurunan kesadaran atau kebingungan, sebagian besar pasien pulih sempurna pengendaliannya dalam beberapa Minggu. Saat mereposisi pasien, pembalut inkontinensia yang basah atau tercemar kotoran harus diganti. Sebagian pria dapat dijaga kering dengan menggunakan botol urine secara teratur. Jika perlu, letakkan penis pada semacam selang. Namun, pada sebagian kasus, mungkin perlu dipasang kateter (selang) ke dalam kandung kemih, dan selang ini akan secara otomatis mengeluarkan urine. Sebagian wanita yang mengalami inkontinensia dapat dijaga tetap kering dengan menggunakan pembalut

    inkontinensia, tetapi jika tidak dimungkinkan atau kurang efektif, kateter dapat dimasukkan ke dalam kandung kemih. Orang yang merawat perlu diajari mengenai cara membersihkan kateter, tetapi yang memasangnya haruslah seorang perawat. Pemakaian kateter sesekali merupakan suatu pilihan bagi orang yang terus mengalami inkontinensia atau retensi. Namun jika kateter digunakan selama seminggu atau lebih, akan terjadi peningkatan risiko berjangkitnya infeksi saluran kemih, yang kadang-kadang menimbulkan komplikasi serius, misalnya sepsis (keracunan darah) yang dapat mematikan. Karena itu, sering dianjurkan pemasangan kateter temporer yang cukup sering sesekali disertai irigasi kandung kemih dengan antiseptik: Jika tetap terjadi infeksi saluran kemih, dokter biasanya meresepkan antibiotik untuk mengatasinya. Seperti orang lain, pasien stroke perlu buang air besar secara teratur paling tidak sekali setiap 2-3 hari. Sembelit umumnya didefinisikan sebagai buang air besar yang jarang (kurang dari tiga kali seminggu) atau kesulitan mengeluarkan tinja. Sembelit adalah masalah yang umum dijumpai pada orang berusia lanjut dan pada orang yang mengalami stroke. Beberapa obat (misalnya, opioid) juga dapat menyebabkan sembelit Konsekuensi sembelit adalah rasa tidak nyaman, berkurangnya kualitas hidup, dan, pada kasus yang parah, gangguan kesehatan, termasuk perforasi usus (usus berlubang) dan komplikasi kardiovaskular yang menyebabkan pasien perlu dirawat inap. Cara terbaik untuk mengatur buang air besar adalah makanan yang memadai dan seimbang serta banyak cairan (paling tidak dua liter sehari) dan serat (buah dan sayuran), serta aktivitas fisik yang cukup. Pelunak tinja

    (laksatif, pencahar), supositoria, dan enema dapat digunakan untuk sembelit yang terjadi sekali-sekali. Namun jika masalahnya menetap, pasien atau orang yang merawatnya perlu meminta nasihat dari dokter atau perawat yang biasa menangani hal ini.

    • 6. Perawatan Kulit Perawatan kulit sangat penting untuk mencegah dekubitus (luka karena tekanan) dan infeksi kulit; adanya hal-hal ini menunjukkan bahwa perawatan pasien kurang optimal. Keduanya sebaiknya dicegah alih-alih diobati, karena dekubitus menimbulkan nyeri dan sembuhnya lama, dan jika terinfeksi, luka ini dapat mengancam nyawa. Pada pasien stroke, dekubitus dapat terjadi karena berkurangnya sensasi dan mobilitas. Inkontesia dan malnutrisi, termasuk dehidrasi, juga meningkatkan risiko timbulnya dekubitus dan menghambat proses penyembuhan Orang yang tidak dapat bergerak harus sering di putar dan tereposisi, dan seprai mereka harus terpasang kencang. Bagi pasien yang hanya dapat berbaring atau duduk di kursi roda, bagian-bagian tubuh yang paling berisiko antara lain adalah punggung bawah (sakrum), pantat, paha, tumit, siku, bahu, dan tulang belikat (skapula). Sekali sehari, gunakan spons kering untuk membatali titik-titik tekanan ini agar mencegah tertekanya saraf dan terbentuknya dekubitus. Ketika melakukan hal ini, periksalah ada tidaknya abrasi, lepuh, dan kemerahan kulit yang tidak hilang ketika ditekan karena hal-hal ini menunjukkan awal dekubitus. Kulit pasien harus di jaga kering dan diberi bedak.

    Untuk pasien dengan fraktur atau inkontinesia urine atau fases, mengalami malnutrisi atau dehidrasi dan memiliki riwayat dekubitus (jaringan parut lebih lemah daripada jaringan sehat), reposisi harus dilakukan lebih sering. Setiap kali dilakukan pembersihan terhadap inkontinesia, kulit di sekitar juga perlu diperiksa. Semua bagian yang tertutup perlu dibersihkan, misalnya lipatan kulit yang dalam di bawah skrotum atau di antara pantat. Sebagian pasien yang hanya dapat berbaring di tempat tidur mungkin memerlukan kasur khusus, misalnya kasur udara. Namun, perlu diingat bahwa meski telah menggunakan alat ini, orang yang merawat tetap harus membalik dan mereposisi pasien dan mengikuti semua rekomendasi yang diberikan di sini atau oleh profesional perawatan kesehatan. Jika terbentuk luka, terapi akan paling efektif jika dimulai pada tahap awal luka. Tunjukkan segala sesuatu yang mungkin mencemaskan anda kepada ahli terapi, perawat, atau dokter. Identifikasi dekubitus oleh orang yang merawat sangat penting agar terapi efektif karena masalah komunikasi atau karena mereka tidak menyadarinya.

    • 7. Membantu untuk Makan Dokter atau perawat akan menilai kemampuan menelan sertamengamati adanya tanda-tanda kesulitan makan atau minum. Tanda- tandanya antara lain adalah bicara pelo, suara yang basah dan serak, atau mengeluarkan liur di salah satu sisi mulut. Pasien dapat diberi sedikit air untuk memeriksa kemampuan mereka menelan, tetapi hal ini harus dilakukan oleh petugas kesehatan. Jika tidak terdapat masalah yang nyata,

    pasien dapat diminta untuk mencoba makanan dan minuman yang dapat ditelan pasien dengan aman. Kesulitan menelan sangat berbeda dari satu pasien ke pasien lain. Ahli terapi wicara akan memberi nasihat mengenai konsistensi makanan dan minuman yang sesuai. Anda mungkin dinasihati untuk menghindari makanan tertentu, misalnya makanan yang terlalu keras, kering, atau beremah-remah. Cairan dapat dikentalkan melalui beberapa cara. Makanan pengental dapat dibeli di apotek dan pasar swalayan (misalnya, bubuk puding instan). Anda dapat dengan mudah mengentalkan susu dengan pisang rebus yang ditumbuk bubur/pure buah, atau produk susu yang kental, seperti yoghurt. Sup dapat dikentalkan dengan menambahkan bubuk skim- milk, kentang rebus lunak, atau sayuran bertepung lainnya. Apa pun metode yang Anda gunakan, makanan harus halus dan konsisten. Jika Anda mengalami kesulitan mengentalkan makanan, ahli terapi wicara atau ahli gizi dapat memberi bantuan. Jika pasien stroke tidak mampu menyantap cukup makanan untuk tetap sehat, mereka perlu secara temporer diberi makan melalui selang, yang dimasukkan melalui hidung hingga ke lambung. Pasien yang sakit parah atau yang tidak dapat menoleransi adanya selang di hidung dapat diberi makan melalui selang yang menembus dinding perut ke dalam lambung gastroskopi endoskopik perkutis. Pasien stroke memerlukan makanan yang memadai, lezat, dan seimbang dengan cukup serat, cairan (2 liter atau lebih sehari), dan miktonutrien. Jika nafsu makan pasien berkurang, mereka dapat diberi

    makanan ringan tinggi-kalori yang lezat dalam jumlah terbatas setiap 2-3 jam, bersama dengan minuman suplemen nutrisional. Untuk mencegah tersedak dan pneumonia aspirasi, semua makanan harus disantap dalam keadaan duduk, jangan berbaring. Untuk mencegah tumpah, letakkan piring pada alas antiselip dan, paling tidak pada awalnya, mungkin sebaiknya digunakan piring yang cekung sehingga makanan tidak mudah tumpah. Terdapat alat-alat bantu untuk orang yang makan dengan satu tangan dan juga terdapat mangkuk telur yang dapat ditempelkan ke meja. Ahli terapi okupasional biasanya menilai kebutuhan pasien akan alat-alat semacam ini.

    • 8. Latihan Bibir dan Lidah Pasien stroke yang dapat membaca, menulis, dan memahami perkataan orang lain, tetapi kesulitan untuk mengutarakan kata-kata dengan jelas (pasien dengan disartria) dapat memperoleh manfaat dari melakukan latihan lidah dan bibir dua kali sehari seperti berikut ini. Ulangi setiap gerakan sepuluh kali selama satu sesi.

      • a. Bentuklah bibir Anda menjadi seperti huruf “O”.

      • b. Tersenyumlah.

      • c. Berganti-ganti membentuk bibir seperti huruf “O” dan tersenyumlah, seolah-olah Anda mengucapkan oo-ee”.

      • d. Bukalah mulut lebar-lebar, kemudian gerakkan bibir seolah-olah Anda hendak mencium.

      • e. Lemparkan ciuman.

      • f. Tutuplah bibir erat-erat seakan Anda berkata “mm”.

    • g. Ucapkan “ma ma ma ma” secepat mungkin.

    • h. Ucapkan “mi mi mi mi” secepat mungkin.

    • i. Katuplah bibir Anda rapat-rapat dan gembungkan pipi dengan udara; tahanlah udara di dalam pipi selama lima detik, dan kemudian keluarkan.

    • j. Cobalah sentuh dagu Anda dengan ujung lidah.

    • k. Cobalah sentuh hidung Anda dengan ujung lidah.

    • l. Julurkan lidah Anda sejauh mungkin, tahanlah selama tiga detik, dan kemudian tariklah kembali ke dalam mulut.

    • m. Sentuhlah sudut-sudut mulut Anda dengan lidah, gerakkan lidah Anda dengan cepat dari kanan ke kiri, dan kembali lagi.

    • n. Usapkan lidah Anda mengelilingi bibir Anda.

    • o. Ucapkan suara “ta ta ta” dengan kecepatan yang semakin meningkat.

    • p. Tekanlah lidah Anda ke gusi bagian atas, kemudian ke gusi bagian bawah.

    • q. “Sikat”-lah gigi Anda dengan lidah.

    • r. Doronglah lidah Anda sekuat mungkin ke pipi kanan dan kemudian pipi kiri. Ketika berbicara dengan pasien, duduklah berhadapan secara langsung. Cobalah berbicara secara perlahan dan gunakan kalimat-kalimat pendek sederhana. Sikap dan ekspresi wajah yang suportif dapat membantu pasien. Ulangi perkataan Anda jika diperlukan dan hindari kesan tidak sabar atau terganggu. Matikan semua kebisingan yang mengganggu seperti radio,

    stereo, atau televisi. Pasien juga akan merasa lebih mudah jika orang lain yang ada di ruangan tidak berbicara secara bersamaan. Jangan berpura-pura memahami perkataan pasien jika sebenarnya tidak, dan jangan pernah menghina pasien dengan membicarakan mereka seolah-olah mereka tidak ada.

    Sesi-sesi ini harus dilakukan sesering mungkin, tetapi juga jangan terlalu lama karena pasien dengan masalah bahasa mudah lelah. Ahli terapi wicara kadang merujuk orang yang mengalami masalah komunikasi untuk mengikuti sesi perorangan atau kelompok khusus, dan kadang-kadang seseorang yang pernah mengalami stroke dipasangkan dengan seorang relawan atau dapat ikut serta dalam suatu kelompok komunikasi.

    • 9. Modifikasi Lingkungan untuk Penderita Stroke Cara memodifikasikan lingkungan fisik yang baik seperti lantai rumah, penerangan dan fentilasi yang baik dapat mengurangai faktor penyebab terjadinya cedera pada penderita stroke fase rehabilitasi. Beberapa hal yang berkaitan dengan lingkungan rumah juga perlu mendapat perhatian kita. Lingkungan yang baik bagi para penderita stroke ketika mendapatkan pengobatan dan perawatan di rumah adalah sebagai berikut :

      • 1. Kamar tidur dekat dengan kamar mandi atau WC agar mudah untuk dijangkau.

      • 2. Adanya pegangan di kamar mandi yang digunakan.

      • 3. Menyediakan alat bantu komunikasi jika diperlukan, misalnya adalah dengan menyediakan kertas serta pena di dekat pasien.

    4.

    Menyediakan alat bantu berjalan atau berpindah tempat bagi pasien stroke seperti halnya kursi roda ataupun tongkat (walker).

    • 5. Menyediakan dan mendekatkan barang-barang yang sering digunakan seperti buku-buku atau telepon.

    • 6. Menyediakan alas kaki yang nyaman yang memudahkan untuk leluasa dalam berjalan.

    • 1.11 Pencegahan Stroke Berulang

    Pencegahan stroke antara lain yaitu :

    1. Menurunkan dan Menjaga Tekanan Darah

    Tekanan darah tinggi merupakan faktor utama penyebab stroke, tekanan darah tinggi penyumbang terbesar risiko stroke pada pria dan wanita. Menjaga tekanan darah supaya tidak lebih dari 120 (angka atas) dan tidak kurang dari 80 (angka bawah) bisa dilakukan dengan cara :

    1. Mengurangi asupan garam dalam makanan, jangan lebih dari 1.500 miligram per hari (sekitar setengah sendok teh).

    • 2. Hindari makanan tinggi kolesterol

    • 3. Perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayuran, konsumsi ikan dua sampai tiga kali seminggu dan beberapa porsi biji-bijian dan susu rendah lemak.

    • 4. Melakukan olahraga minimal 30 menit sehari.

    • 5. Berhenti merokok

    • 6. Jika diperlukan, konsumsi obat penurun tekanan darah tinggi.

    2. Menurunkan Berat Badan

    Kelebihan berat badan atau obesitas dengan beberapa komplikasi yang disebabkan karena obesitas (termasuk tekanan darah tinggi dan diabetes) dapat menyebabkan

    stroke. Menjaga berapat badan agar tetap ideal dapat menurunkan resiko terserang stroke. Hal- hal yang bisa dilakukan antara lain :

    • 1. Batasi atau hindari lemak jenuh dan lemak trans.

    • 2. Cobalah untuk makan tidak lebih dari 1.500 sampai 2.000 kalori per hari (tergantung pada tingkat aktivitas Anda dan indeks massa tubuh saat Anda).

    • 3. Meningkatkan waktu dan kualitas olahraga.

    • 3. Rajin Berolahraga

    Olahraga sangat baik untuk menurunkan berat badan dan menurunkan tekanan

    darah. Sebuah studi menemukan bahwa wanita yang berjalan setidaknya tiga jam dalam seminggu memiliki risiko terkena stroke lebih kecil dibandingkan dengan wanita yang tidak melakukannya. Cara mencegah penyakit stroke dengan rajin olahraga bisa dilakukan dengan cara:

    • 1. Berjalan-jalan di sekitar lingkungan Anda setiap pagi.

    • 2. Bersepedah pada pagi atau sore hari di lingkungan rumah.

    • 3. Anda juga dapat pergi ketempat olahraga bersama teman-teman

    • 4. Jika Anda tidak mempunyai waktu untuk berolahraga, lakukanlah beberapa gerakan olahraga ringan minimal 10 menit setiap hari.

    • 5. Mengobati Penyakit Diabetes

    Jika pasien mempunyai kadar gula darah yang tinggi (penyakit diabetes), cara mencegah penyakit stroke yang harus dilakukan adalah segera turunkan dan jaga kadar gula agar tetap stabil di ambang batas normal. Kadar gula darah tinggi yang tidak diobati dan berlangsung lama dapat merusak pembuluh darah (termasuk pembuluh darah di otak) dan menyebabkan tembentukanya gumpalan atau bekuan darah yang dapat menyebabkan stroke.

    1.

    Awasi tingkat gula darah seperti yang dokter sarankan

    • 2. Merubah pola makan, rajin olahraga dan mengkonsumsi obat-obatan untuk menjaga gula darah.

    • 6. Berhenti Merokok

    Merokok mempercepat terbentuknya bekuan darah, mengetalkan darah dan juga meningkatkan jumlah penumpukan plak pada arteri. Merubah pola makan dengan yang lebih sehat, rajin berolahraga dan berhenti merokok merupakan salah satu

    perubahan gaya hidup yang paling baik untuk membantu mengurangi risiko stroke.

    • 7. Menghindari Alkohol

    Cara mencegah penyakit stroke yang terakhir adalah hindari minuman beralkohol. Jika Anda mempunyai riwayat penyakit darah tinggi dan jantung, sebaiknya Anda menghindari minum alkohol, walaupun ada penelitian di barat menyatakan meminum alkohol dalam jumlah tertentu dapat mencegah stroke dan serangan jantung. Namun yang jelas, alkohol dapat menaikan tekanan darah, jadi lebih baik menghindarinya.

    DAFTAR PUSTAKA

    Doenges.

    M.E;

    Moorhouse.

    M.F;

    Geissler.

    A.C.

    (1999).

    Rencana

    Asuhan

    Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian

    Perawatan Pasien edisi 3. Jakarta: EGC.

    Mansjoer, A,.Suprohaita, Wardhani WI,.& Setiowulan, (2000). Kapita Kedokteran edisi ketiga jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.

    Selekta

    Price, S.A & Wilson. L.M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 vol 2. Jakarta: EGC

    Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC

    Wanhari,

    M.A.

    (2008).

    Asuhan

    Keperawatan Stroke

    (http://askepsolok.blogspot.com/2008/08/stroke.html) di akses 14 November

    2016.

    DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN PENCEGAHAN STROKE BERULANG DI RUANG SERUNI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

    HARI/TANGGAL

    : RABU / 20 SEPTEMBER 2017

    NO NAMA TANDA TANGAN
    NO
    NAMA
    TANDA TANGAN

    DAFTAR PERTANYAAN PESERTA PKMRS PENYULUHAN PENCEGAHAN STROKE BERULANG DI RUANG SERUNI RSUD Dr.SOETOMO SURABAYA

    NO

    NAMA

    PERTANYAAN

    JAWABAN

    .

    PESERTA

           

    LEMBAR OBSERVASI PKMRS PENYULUHAN PENCEGAHAN STROKE BERULANG DI RUANG SERUNI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

    NO

    EVALUASI

    SKORING

         

    LEMBAR OBSERVASI PKMRS PENYULUHAN PECEGAHAN STROKE BERULANG DI RUANG SERUNI RSUD DR.SOETOMO SURABAYA

    Kriteria Struktur

     

    Kriteria Proses

    Kriteria Hasil

     
    • a. Peserta hadir tepat

    Pembukaan:

     

    waktu

    di

    tempat

    • a. Mengucapkan salam dan

    a.

    Peserta

    antusias

    materi

    penyuluhan (

     

    )

    memperkenalkan diri ( )

    terhadap

    • b. Pembuatan satuan

    • b. Menyampaikan tujuan, maksud

    penyuluhan ( )

     

    acara penyuluhan,

    tujuan , dan menyebutkan

    b.

    Peserta

    mendengarkan

    leaflet ( )

    materi penyuluhan yang akan

    dan

    memperhatikan

    • c. Pelaksaanan

       

    diberikan ( )

    penyuluhan ( )

     

    penyuluhan

     

    di

    • c. Menjelaskan kontrak waktu

    c.

    Peserta

    yang

    datang

    Seruni A

    (

    )

    dan mekanisme kegiatan ( )

    minimal

    sejumlah

    7

    • d. Perencanaan

     
    • d. Menggali pengetahuan peserta

    orang ( )

     

    pelaksanaan

    mengenai manajemen

    d.

    Acara

    dimulai

    tepat

    penyuluhan

    perawatan pasien dengan

    waktu ( )

    dilakukan

    stroke di rumah ( )

    e.

    Peserta

    dapat

    megikuti

    sebelumya (

     

    )

    • e. Menjelaskan definisi stroke

    kegiatan sesuai dengan

     

    ( )

    aturan

    yang telah

    • f. Menjelaskan etiologi stroke

    dijelaskan ( )

     

    ( )

    f.

    Peserta

    mampu

    • g. Menjelaskan manifestasi

    menjawab dengan benar

    Klinis stroke ( )

    75%

    dari

    pertanyaan

    • h. Menjelaskan komplikasi

    penyuluh

    stroke ( )

    (

    )

    i.

    Menjelaskan managemen

     

    perawatan pasien stroke ( )

    • j. Menjawab pertanyaan pasien dan keluarga ( )