Anda di halaman 1dari 5

INDUSTRI DAN PERTAMBANGAN

A. INDUSTRI

1. Pendahuluan
Selama Repelita I sektor industri berhasil mencapai ke-
majuan yang cukup berarti. Beberapa bidang industri dapat
meletakkan landasan yang kuat untuk perkembangan selanjut-
nya. Kemajuan berusaha banyak berkembang, effisiensi me-
ningkat, daya saing semakin bertambah. Tambahan pula kesa-
daran atas manfaat berorganisasi serta kesediaan menerima
hal-hal yang serba baru, termasuk mesin/peralatan, tehnologi,
dan metode-metode yang baru, semakin bertambah. Dengan
landasan yang telah diletakkan selama lima tahun itu sektor
industri mampu menanggulangi pengaruh krisis moneter inter-
nasional dan krisis energi yang memuncak pada semester ke-
dua 1973/74. Selama tahun-tahun 1973/74 dan 1974/75 per-
kembangan produksi industri pada umumnya cukup menggem-
birakan.
Hasil produksi beberapa jenis industri, seperti pupuk, kaca
polos, bahan-bahan kimia, dan beberapa industri peralatan dan
pipa baja, menunjukkan kenaikan. Nilai ekspor hasil industri
juga meningkat. Sebaliknya beberapa industri yang mengguna-
kan kelapa segar atau kopra sebagai bahan baku, seperti mi-
nyak kelapa, minyak goreng, dan sabun cuci mengalami kemun-
duran. Hal ini terutama, disebabkan karena kekurangan atau-
pun kurang lancarnya persediaan bahan baku. Di samping itu
timbulnya produk baru juga merupakan hambatan terhadap
perkembangan beberapa jenis industri. Sabun cuci, misalnya
terdesak oleh deterjen yang lebih memenuhi selera pemakai.
Salah satu akibat daripada pelbagai krisis ekonomi dunia
yaitu adanya peningkatan dalam impor barang-barang terten-
tu yang relatif murah sehingga secara tidak langsung menem-
patkan berbagai jenis industri dalam keadaan yang sulit.
Gambaran mengenai perkembangan berbagai sektor indus-
tri selama tahun 1974/75 dapat diikuti dalam uraian di bawah
ini.

2. Industri Pangan, Kulit, Pengolahan Kayu dan Aneka.


Industri lainnya
Sejak Repelita I industri pangan menunjukkan kemajuan-
kemajuan. Hal ini antara lain dicerminkan oleh perkembang-
an produksi barang-barang baru yang semula harus diimpor,
seperti berbagai macam makanan, minuman dan buah-buahan
yang diawetkan, glukose, dan sebagainya. Peningkatan pro-
duksi dan mutu telah memungkinkan beberapa jenis industri
makanan memperluas pemasaran ke luar negeri. Ekspor ba-
rang-barang hasil industri pangan sebagian besar berupa ba-
rang-barang hasil pengolahan dari bahan mentah, seperti
makanan ternak, minyak kacang, daging dalam kaleng, dan
kerupuk udang. Disamping itu adanya kebijaksanaan larangan
ekspor kopra menyebabkan produksi margarine, yang dalam
tahun 1973 mengalami kemunduran, meningkat dengan menyo-
lok dalam tahun 1974. Gambaran perkembangan produksi in-
dustri pangan dan beberapa aneka industri lainnya sejak tahun
1972/1973 disajikan dalam Tabel VIII 1.
Larangan ekspor kulit mentah telah menurunkan harga
pasaran kulit mentah dalam negeri. Hal memberikan do-
rongan bagi pengusaha-pengusaha penyamakan kulit untuk
mengusahakan kulit samak sempurna serta kulit yang diolah
menjadi "pickled atau wet blue hide". Produksi kulit samak
ditujukan untuk pasaran dalam negeri dan yang lain untuk
ekspor. Namun demikian dalam tahun 1974/1975 industri kulit
belum menunjukkan perkembangan yang berarti.

330
Bidang industri pengolahan kayu, seperti "corrugated
cardbox", penggergajian kayu, "plywood", dan beberapa aneka
industri, seperti pellet tapioka, menghadapi permintaan yang
menurun karena resesi dunia. Karenanya penanaman modal
di bidang industri ini mengalami kelesuan dalam tahun 1974/75.

3. Industri Tekstil
Resesi dunia telah menimbulkan beberapa persoalan dalam
industri pertekstilan. Dengan mengalirnya benang tenun dan
bahan jadi tekstil impor pada tingkat harga yang amat rendah,
maka industri dalam negeri, yang dalam tahun 1974/75 beker-
ja dengan menggunakan kapas yang diperoleh dalam tahun 1973
dengan harga yang tinggi, menghadapi persaingan yang berat.
Karenanya Pemerintah telah turun tangan dengan memberi-
kan subsidi atas harga kapas kepada patal-patal dalam nege-
ri. Di samping itu ditentukan bahwa impor benang tenun serta
penjualannya di pasaran dikuasakan kepada satu P.T. yang
akan melaksanakan impor dan penjualan hanya atas petunjuk
Pemerintah. Tambahan pula telah diadakan penyesuaian-pe-
nyesuaian dalam pemungutan tarif dan bea masuk. Sementara itu
usaha-usaha untuk meningkatkan produktivitas dilakukan terus.

Demikianlah maka, walaupun ada resesi dunia, pada akhir


tahun pertama Repelita I I terdapat peningkatan jumlah pro-
duksi, pertambahan jenis, dan peningkatan mutu di bidang
pertekstilan. Dalam tahun 1974/75 produksi tekstil mencapai
974 juta meter, yang berarti mencapai kenaikan sebesar 5,1%
dibanding dengan produksi tahun sebelumnya sebesar 926,7
juta meter.
Produksi benang tenun dalam tahun 1974/75 mencapai
366,8 ribu bales atau 16% lebih tinggi daripada produksi tahun
sebelumnya yang besarnya 316,2 ribu bales. Gambaran perkem-
bangan industri tekstil sejak tahun 1972/73 dapat dilihat da-
lam Tabel VIII 2.

331
TABEL VIII - 1
V I I I - 1.
PRODUKSI INDUSTRI PANGAN DAN ANEKA INDUSTRI, .
1972/73 - 1974/75

1974/75
No. Jenis Produksi Satuan 1972/73 1973/74 1974/75 1)

1. Sabun Cuci Ribu ton 132,0 131,3 131,0


2. Minyak Kelapa Ribu ton 264,5 264,5 265,0
3. Minyak Goreng Ribu ton 28,7 28,7 29,4
4. Margarine Ribu ton 7,4 7,0 11',3

5. Rokok kretek Juta batang 23.680,0 30.221,0 30.600,0

6. Rokok putih Juta batang 16.785,0 20.376,0 21.865,0

7. Deterjen Ribu ton 5,2 6,6 7,0

8. Tapal Gigi Juta tube 30,0 2) 32,0 2) 46,0

9. Korek Api Juta kotak 475,3 556,0 2) 707,0

1) Angka perkiraan.
2) Angka diperbaiki.

TABEL VIII 2.
PRODUKSI INDUSTRI TEKSTIL
1972/73 - 1974/75

No. Jenis Produksi Satuan 1972/73 1973/74 1974/75 2)

1. Benang Tenun Ribu bales 262,1 316,2 366,8


2. Teksti1 Juta meter 852,0 926,7 1) 974,0

1) Angka diperbaiki.

2) Angka perkiraan.

332
GRAFIK VIII 1