Anda di halaman 1dari 7

Chapter 4 - The Economics of Financial

Reporting Regulation

Outline Chapter 4

**

Dari chapter sebelumnya dapat disimpulkan bahwa dulu di Amerika yang meregulasi itu swasta,
belakangan berubah yang meregulasi adalah pemerintah. Di Indonesia masih lebih swasta daripada
amerika.
Di chapter ini akan dibahas, alasan mendukung regulasi atau mendukung yang tidak ada regulasi. Mencoba
melihat proses regulasinya. Dampaknya regulasi terhadap pihak-pihak yang terkait dengan akuntansi.
Suka regulasi?
Atau tidak suka regulasi?

Regulasi tidak hanya untuk akuntansi, contoh:


Industri penerbangan di Indonesia dulu hanya ada Garuda Indonesia, satu-satunya perusahaan penerbangan
yang diberi izin mengoperasikan pesawat jet. Pesawat lainnya yang milik perusahaan penerbangan swasta
tidak boleh pakai jet. Berarti ini regulasi. Jika ingin membuat perusahaan penerbangan, pesawatnya hanya
boleh pakai baling-baling, yang boleh pakai jet cuma Garuda. Waktu tempuh dari Jakarta ke jogja dapat
ditempuh dengan menggunakan pesawat jet dalam waktu 50 menit, sedangkan menggunakan baling-baling
bisa hampir 2 jam. Jadi persaingannya tidak fair. Inilah uneven playing field. Sejak ada perusahaan
penerbangan swasta milik keluarga Presiden Soeharto yang menggunakan jet, perusahaan penerbangan
swasta lainnya juga ingin ikut menggunakan jet. Akhirnya regulasi tentang jet ini dihapus. Jadi yang
awalnya regulated berubah menjadi unregulated karena dipengaruhi oleh kekuatan pasar yang bersaing.

Seperti harga tiket pesawat dan harga bensin. Harga tiket pesawat bisa murah karena banyak pesaingnya,
sedangkan harga bensin mahal karena hanya ada 1 perusahaannya di Indonesia dan diatur pemerintah.
Berbeda dengan di Amerika yang punya banyak perusahaan minyak dengan harga yang bersaing setiap
saat.

Hal-hal seperti ini membuat kita berpikir untuk lebih baik jika tanpa regulasi.
Asumsinya jika ingin berbicara tentang tanpa regulasi, harus berada dalam posisi pasar persaingan
sempurna.

**

Alasan yang mendukung tanpa regulasi:


1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Dalam situasi persaingan sempurna, kalau pakai teori keagenan, untuk menjelaskan hubungan dua pihak
yang ada di perusahaan. Teori keagenan itu menunjukkan hubungan antara principal dengan agent. Dalam
perusahaan, principalnya adalah pemilik, kalau perusahaan yg go public maka principalnya adalah
pemegang saham, sedangkan agennya adalah pimpinan/direksi/manajemen perusahaan. Dalam RUPS
disepakati pengangkatan manajemen perusahaan. Karena ini dua pihak, maka keinginan pemilik ini
maunya manajemen bekerja untuk kepentingan pemilik dengan cara menaikkan kekayaan pemilik. Pemilik
itu pemegang saham, jika harga sahamnya naik maka pemiliknya menjadi lebih kaya, kalau labanya besar
sebagian dibagi sebagai dividend dan pemiliknya akan menjadi lebih kaya dan menaikkan wealth pemilik.
Tapi manajemen juga punya kepentingan pribadinya, kepentingan dua pihak ini belum tentu sejalan, bisa
terjadi konflik. Kalau manajemen hanya mementingkan dirinya, jika labanya semestinya 1 juta, diubah-
ubah menjadi 1,5 juta. Apa yang terjadi? Perusahaan memberi bonus ke manajemen yang seharusnya kalau
labanya cuma 1 juta ga dapat bonus. Jadi disini yang dipentingkan kepentingannya manajemen dan
merugikan kepentingannya pemilik. Ini namanya tidak sejalan. Goalnya tidak kongruen. Kalau seperti ini,
pemilik akan melakukan pengawasan, setiap kali dilakukan pengawasan akan timbul biaya yang biasa
disebut monitoring cost. Dan teori mengatakan monitoring cost merupakan biaya yang mengurangi laba.
Labanya berkurang berarti kinerja manajemennya memburuk. Oleh karena itu manajemen akan berusaha
untuk bekerja tidak merugikan pemilik. Supaya tidak ada monitoring dan tidak timbul monitoring cost. Ini
intinya. Bahwa teori keagenan ini alasan yang menunjukkan ada dorongan kepada manajemen untuk
bekerja demi kepentingan pemilik tanpa perlu regulasi. Karena kalau tidak begitu akan ada monitoring,
costnya bertambah, labanya menurun, bonusnya hilang. Jadi tanpa ada aturan, manajemen sudah mulai
terdorong untuk bekerja demi kepentingan principal. Kesimpulannya, tidak perlu adanya regulasi,
manajemen sudah bekerja sesuai keinginan principal karena pasar tenaga kerja manajemennya juga
bersaing.

2. Competitive Capital Market and Signaling Incentive

Intinya kalau mau jualan harus mengexpose apa yang mau dijual. Kita harus memberitahu pembeli apa
yang kita jual. Kalau mau jual saham, informasi apa yang diinginkan pembeli kalau mau IPO. Dibuatlah
prospectus supaya calon pembeli mengetahui jika ia membeli akan seperti apa hasilnya. Jika mereka tidak
mengungkapkan laporan informasi perusahaannya secara lengkap, maka tidak usah dibeli, karena bisa jadi
ada yang ditutup-tutupi oleh perusahaan tersebut kecuali jika bisa menawar dengan meminta diskon dari
kemungkinan adanya kerugian yang diakibatkan oleh informasi yang tidak diberikan tersebut. Akibatnya
mereka akan mengungkap informasi tanpa diatur supaya orang-orang mau membeli sahamnya.Karena
pasarnya bersaing, penjual tidak perlu disuruh untuk mengungkap laporannya, mereka akan
menginformasikannya sendiri supaya perusahaannya dipilih.

Tanpa regulasi, informasi akuntansi sudah akan diberikan kepada yang berkepentingan, karena kalau tidak
diberikan akan tidak laku karena ada perusahaan lain yang menjual saham yang memberi informasi,
persaingan terjadi. Disamping itu, perusahaan yang sudah go public, setiap tahun dia harus mengeluarkan
informasi walaupun tidak ada aturan yang mengharuskan, dia akan menerbitkan informasi. Tanpa
penerbitan, pasar akan meminta sahamnya didiskon. Akibatnya harga saham turun, pemegang saham
marah dan memperingatkan manajemen. Akhirnya tidak perlu disuruh, manajemen pasti akan menerbitkan
informasi.

Kalau informasinya itu negative, tetap diterbitkan. Bukan harga informasi yang bagus saja yang
diterbitkan. Kalau dia tidak menerbitkan laporan yang negative, pasar akan menghukum lebih berat.
Bahkan ketika informasinya terlambat terbit, pasar akan mulai bereaksi. Investor akan curiga dan menjual
sahamnya. Kalau semuanya menjual, harga belinya akan turun. Jadi signaling incentive ini adanya insentif
atas pemberian sinyal ke pasar. Karena pasarnya punya kekuatan (capital market power). Kalau informasi
tidak diberikan, orang-orang tidak mau berinvestasi. Itu namanya information asymmetry, perusahaan
punya informasi, tapi pembeli tidak punya. Adanya kekuatan pasar menyebabkan tidak perlunya regulasi.

3. Arguments in Favor of Private Contracting Opportunities

Yang namanya saham yang dijual di bursa itu ada orang yang kerja di bursa yang mengikuti
perkembangan perubahan harga, informasi, sampai pemberi nasihat ke perusahaan sekuritasnya yang
disebut analis. Perusahaan harus menyediakan informasi untuk analis. Hal ini juga tidak memerlukan
regulasi karena jika informasinya tidak diberikan kepada analis, analis tidak bisa memberikan rekomendasi
sehingga tidak ada orang yang mau membeli sahamnya dan jadinya sahamnya menjadi saham yang tidak
aktif. Hal ini mendorong penyediaan informasi supaya analis bisa memberikan argumennya tentang
perusahaan tersebut. Hal ini dapat terjadi tanpa perlu adanya regulasi akuntansi.

Terlihat dari 3 alasan tersebut yang menunjukkan tidak perlunya regulasi karena pasar yang bersaing.

**

Alasan yang Mendukung Regulasi


Pendukung regulasi mengatakan Pasar itu tidak selalu bersaing sempurna, pasar itu bisa gagal yang
disebut market failure. Juga kalau tidak ada regulasi, tujuan sosial tidak bisa tercapai. Yang namanya
kekuatan pasar seperti neolib dan kapitalis itu tidak sosial. Kalau mendasarkan diri pada kekuatan pasar
tanpa diregulasi nanti tujuan sosialnya tidak tercapai. Jadi ada 2 alasan yang mendukung regulasi.

1. Kegagalan pasar (Market Failure)

a. Perusahaan sebagai supplier informasi yang memonopoli

Contohnya, yang menerbitkan laporan keuangan PT Krakatau Steel adalah perusahaan itu sendiri. Tidak
ada perusahaan lain yang bisa menerbitkan laporan keuangan PT Krakatau Steel. Kalau begitu laporan
keuangan PT Krakatau Steel itu dimonopoli oleh PT Krakatau Steel. Orang yang memonopoli itu biasanya
mengurangi informasi dan menaikkan harga jual. Itu untuk barang, kalau untuk informasi akuntansi maka
informasi akuntansinya yang dikurangi karena informasi itu biaya bagi perusahaan. Perusahaan mengolah
informasi itu biaya. Jadinya dia mengurangi informasinya. Jadi kalau begitu orang yang berada di luar
perusahaan tidak mendapatkan informasi yang cukup. Oleh karena itu perlu dilakukan regulasi. Laporan
keuangan harus terbit 2 kali setahun supaya tidak dikurangi informasinya. Jika tidak ada regulasi,
perusahaan akan sesukanya mengeluarkan laporan keuangan, bisa cuma sekali setahun. Karena itu perlu
regulasi. Karena pasarnya jadi tidak bersaing.

Perusahaan yang memonopoli informasi akan mengurangi produksi informasi supaya biayanya lebih
murah, menambah informasi itu lebih mahal dan mengeluarkan biaya. Dia mengurangi supaya biayanya
turun.
b. Kegagalan pelaporan keuangan dan auditing

Saat ada regulasi saja laporan keuangan itu masih banyak fraud di dalamnya, sudah diaudit, masih ada
fraud yang terjadi. Bayangkan kalau tidak ada regulasi. Jadi, walaupun sudah ada regulasi pun masih ada
kecurangan, jangan sampai tidak ada regulasi.

c. Akuntansi sebagai public good

Yang dimaksud barang publik itu konsumsi oleh seseorang tidak menyebabkan kegagalan konsumsi orang
lain. Laporan keuangan dipandang sebagai barang publik. Ketika kita membaca laporan keuangan, tidak
membuat orang lain tidak bisa membaca, laporan keuangan tidak bisa habis. Berarti orang lain juga masih
bisa membaca. Kalau begitu dibuat aturan, yang membaca harap membayar, ya orang tidak mau, orang
lain aja bisa membaca kenapa harus bayar. Kecuali kalau setelah dibaca laporannya jadi habis, orang lain
tidak bisa membaca, baru mau bayar. Ini masalahnya. Jadi biaya mengasilkan informasi karena
informasinya itu barang publik, biayanya itu tidak bisa dibebankan kepada pengguna informasi. Pembaca
tidak mau membayar, lalu biaya untuk membuat informasinya diapakan? Biaya ini tidak bisa dibebankan
menjadi istilahnya eksternalitas. Tidak bisa diinternalisasikan. Tidak bisa dijadikan internalitas. Pembaca
yang tidak mau membayar namanya free rider. Kalau di Indonesia istilahnya penumpang gelap.

Public good itu adalah barang yang jika dikonsumsi oleh seseorang, tidak menghilangkan kesempatan
untuk orang lain mengonsumsi itu.
Laporan keuangan yang dimasukkan ke website, di download dan di cetak seseorang, tidak menjadikan
laporan keuangan itu tidak bisa diakses, didownload dan dicetak oleh orang lain. Makanya laporan
keuangan itu disebut sebagai public good. Tapi ada biaya bagi perusahaan saat menerbitkan laporan
keuangan, pembaca tidak mau membayar, karena orang lain juga bisa menggunakan, kenapa harus bayar.
Kegagalan perusahaan meminta pembaca untuk membayar menyebabkan biayanya menjadi eksternalitas,
tidak bisa diinternalitaskan. Lalu perusahaan berusaha membebankan biaya ini kepada seseorang atau
sesuatu, karena harus ada yang menanggung biaya penerbitan laporan keuangan ini. Harga jual produk
dinaikkan. Contoh perusahaan unilever menaikan harga sabun. Sebagian dari biaya itu adalah biaya untuk
menutup pembuatan informasi. Kalau kenaikan harganya banyak, pembeli akan pindah ke penjual sabun
lain. Akibatnya perusahaan mengurangi produksi informasi supaya tidak mengeluarkan banyak biaya
sehingga harga jualnya tidak naik terlalu banyak. Maka dari itu perlu diatur, supaya tidak terbit 1 kali.
Harus terbit 2 kali. Itu alasannya.

2. Tujuan sosial

Sosial itu ada 2:

Pertama, Regulasi akan meningkatkan comparability. Masalah sebelum tahun 1930 di amerika adalah
tidak ada keterbandingan karena standarnya beda-beda. Tidak ada regulasi sehingga bisa memilih standar
tanpa aturan yang akibatnya comparabilitynya jadi jelek. Regulasi akan meningkatkan komparabilitas.
Kedua, regulasi digunakan untuk mengurangi asimetri supaya imbang informasi antara perusahaan dan
pengguna informasi.

Alasan tentang regulasi dan tanpa regulasi ini kedua-duanya kuat. Yang terjadi di dunia saat ini adalah
regulasi. Dimana-mana pakai regulasi. Akibatnya kita tidak bisa membandingkan kalau tidak
menggunakan regulasi.

**

The Conditional Justification of Standard


Setting
Standar setting dilakukan oleh DSAK. Ada banyak pembenaran terkait adanya standar akuntansi yang
diterbitkan oleh DSAK. Justifikasinya dalam bentuk kodifkasi. Kodifikasi itu pendekatan pragmatis untuk
meningkatkan standar akuntansi. Jadi, standar settingnya itu bisa dibenarkan karena standar akuntansinya
akan diperbaiki terus-menerus. Itulah yang disebut codificational justification. Ini akan bekerja paling
bagus di masyarakat yang relatif terbuka dan demokratis. Dalam situasi demokratis itu perbedaan pendapat
bisa terjadi. Perbedaan pendapat disampaikan, pendapat yang baik dipakai untuk memperbaiki, yang tidak
baik tidak dipakai. Ini yang dimaksud terus-menerus dalam kodifikasi. Jadi, standar akuntansi tidak terbit
sekali langsung bagus, standar itu akan dipakai, akan ada masukan, akan ada perubahan, revisi,
peningkatan terus menerus itulah yang disebut evolusi justifikasi kodifikasi.

**

Ketidaksempurnaan Regulasi Akuntansi


Regulasi itu diperlukan karena pasar itu bisa gagal dan jika tanpa regulasi tujuan sosial tidak tercapai. Tapi
kenyataannya setelah regulasi itu dijalankan, tidak bisa diyakinkan bahwa adanya regulasi itu memberikan
kondisi yang terbaik, optimal, efisiensi yang tertinggi. Kita tidak bisa meyakinkan hal itu karena tidak ada
yang bisa mengukurnya. Jadi sudah ada regulasi tapi hasilnya belum tentu yang terbaik. Ini yang disebut
paradox. Supaya jadi lebih baik dibuatlah regulasi, setelah ada regulasi belum tentu akan jadi lebih baik.
kalau begitu akan jadi paradox. Kita tidak bisa mengukur kepentingan publik dan tidak bisa mengukur
kemakmuran masyarakat itu meningkat atau tidak. Itu yang disebut paradox regulasi. Itu yang
disebut impossibility theory. Kelemahan regulasi karena adanya paradox. Akibatnya regulasi itu
mendorong terjadinya over production, menyebabkan produksinya menjadi berlebih. Jika informasi
sebagai public gooddan biayanya dilimpahkan ke pengguna produk bukan ke pengguna informasi ini tidak
fair. Ini masalah yang timbul dari adanya over production karena adanya regulasi. Disclosure itu jika tidak
diatur setiap tahun akan semakin banyak ketentuannya. Kecenderungannya regulasi itu menambah (over
production). Kalau yang diproduksi itu informasi akuntansi berarti akan semakin banyak informasi
akuntansinya. Yang menanggung biaya informasi itu pembeli barang bukan pengguna informasi akuntansi.
Jadi pengguna informasi disubsidi oleh pembeli barang. Ini tidak fair.

**

The Regulatory Process


Political nature dan regulatory behavior itu ranahnya fisipol. Karena ini sosial maka ini termasuk proses
politik. Proses politik itu kepentingan, harusnya keputusannya itu bisa mendukung untuk semua yang
berkepentingan. Win-win solution. Harusnya tidak boleh ada yang merasa dikalahkan. Berusaha untuk
melibatkan semua pihak yang terkena dampak dalam musyawarah dan mempertahankan legitimasi proses
regulasi Regulasi sebenarnya untuk siapa? Semakin besar risiko terhadap standar akuntansi, semakin besar
penolakan auditor.

Regulatory Behavior
Capture Theory, berpendapat bahwa kelompok yang diatur akhirnya mendatangi proses hukum untuk
mendukung kepentingannya sendiri. Hasilnya adalah bahwa proses regulasi dipertimbangkan untuk
menangkap pendapat tersebut.
Life-Cycle Theory, berpendapat bahwa proses regulasi berjalan melalui beberapa tahap yang berbeda.
Dimulai untuk kepentingan umum, tetapi kemudian menjadi instrumen untuk melindungi kelompok
yang diatur

Economic Consequences of Accounting Policy


Accounting policy (Kebijakan akuntansi) bukan hanya masalah tentang efisiensi atau optimalisasi
ekonomi, tapi juga mempengaruhi laba dan kekayaan distribusi.
FASB mempertimbangkan biaya-manfaat dari memproduksi informasi. Standar dibuat satu set untuk
semua perusahaan. Biaya kepatuhan yang amat tinggi untuk perususahaan kecil yang berbentuk non
publik

**

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa informasi akuntansi bisa disebut sebagai public good, begitu juga
dengan catatan kuliah ini. Kalaupun orang lain tidak mendapatkan tulisan tentang chapter ini melalui saya,
mereka juga pasti bisa menemukan tulisan tentang chapter ini di tempat lain. Berusaha mengambil peran,
semoga tulisan ini bermanfaat untuk saya dan orang lain yang membacanya ;)