Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH ULUM AL-HADIST

KLASIFIKASI HADIS BERDASARKAN KUANTITAS


HADIS MUTAWATIR DAN HADIS AHAD

Dosen Pengampu:

Rio Marco M.Pd,I

Disusun Oleh:

Nimas Galuh Ramadani (17681029)


Yeni Permata Sari (176810

JURUSAN SYARIAH

PROGRAM STUDI EKONOMI SYARIAH (1B)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI CURUP

STAIN CURUP 2017


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita haturkan kepada Allah Subhaanahu wa taala karena berkat limpahan
rahmat dan ridhoNya, sehingga kita dapat menyusun makalah ini. Salawat dan salam tak lupa
kita haturkan kepada junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW atsa perjuangan beliau,
kita dapat menikmati pencerahan iman dan islam dalam mengarungi samudera kehidupan ini.
Dalam makalah ini kita akan membahas mengenai Klasifikasi Hadis Berdasarkan Kuantitas
(Hadis Mutawatir Dan Ahad) dalam rangka memnuhi tugas Ulum Al-Hadis.

Tak lupa kita mengucapkan terimakasih kepada Bapak Rio Marco M.Pd,I selaku dosen
pembimbing dalam pelajaran mata kuliah Ulum Al-Hadis. Juga kepada semua teman-teman
yang telah memberikan dukungan kepada kita dalam menyelesaikan makalah ini.

Kita menyadari masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena
itu, kita mengundang pendengar untuk memberikan saran maupun kritik yang dapat memotivasi
kita. Kritik konstruktif dari pendengar sangat kita harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya. Akhir kata semoga makalh ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan banyak bermunculan penelitian tentang kajian


keilmuan Islam, terutama dalam ilmu hadits banyak sekali bahasan dalam ilmu hadits yang
sangat menarik dan sangat penting untuk dibahas dan dipelajari, terutama masalah ilmu hadits.
Sebagian orang bingung melihat jumlah pembagian hadits yang banyak dan beragam.
Tetapi kemudian kebingungan itu menjadi hilang setelah melihat pembagian hadits yang ternyata
dilihat dari berbagai tinjauan dan berbagai segi pandangan, bukan hanya segi pandangan saja.
Misalnya hadits ditinjau dari segi kuantitas jumlah perawinya, hadits ditinjau dari segi kualitas
sanad dan matan.
Untuk mengungkapkan tinjauan pembagian hadits maka pada bahasan ini hanya akan
membahas pembagian hadits dari segi kuantitas dan segi kualitas hadits saja.
Hadits dilihat dari segi kuantitas perawinya dibagi menjadi dua, yakni hadis mutawatir dan
hadis ahad.

B. Rumusan Masalah:
1. Apa pengertian Hadis Mutawatir?
2. Ciri / kriteria / syarat Hadis Mutawatir?
3. Pembagian Hadis Mutawatir?
4. Tingkat validitas Hadis Mutawatir dan Hadis Ahad serta statusnya sebagai hujjah?
5. Apa pengertian Hadis Ahad?
6. Ciri / kriteria / syarat Hadis Ahad?
7. Pembagian Hadis Ahad?

C. Tujuan Pembahasan:
1. Mengetahui pengertian Hadis Mutawatir
2. Mengetahui syarat syarat Hadis Mutawatir
3. Mengetahui macam-macam Hadis Mutawatir
4. Mengetahui tingkat validitas Hadis Mutawatir dan Hadis Ahad
5. Mengetahui pengertian Hadis Ahad
6. Mengetahui cirri-ciri Hadis Ahad
7. Mengetahui pembagian Hadis Ahad
BAB II
PEMBAHASAN

1. HADIS MUTAWATIR

A. Pengertian Hadis Mutawatir

Mutawatir menurut bahasa berarti mutatabi, yakni sesuatu yang datang berikut dengan
kiat atau yang beriringan-iringan antara satu dengan yang lainnya tanpa ada jarak. Adapun
pengertian hadis mutawatir menurut istilah, terdapat beberapa formulasi, antara lain sebagai
berikut
Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang yang menurut adat mustahil
mereka bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta.

Ada juga yang mengatakan:

Hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah besar orang yang menurut adat mustahil mereka
bersepakat terlebih dahulu untuk berdusta. Sejak awal sanad sampai akhir sanad pada setiap
tingkat (tabaqat).

Sementara itu, Nur Ad-Din Atar mendefinisikan:

Artinya:

Hadis yang diriwayatkan oleh orang banyak yang terhindar dari kesepakatan mereka
untuk berdusta (sejak awal sanad) sampai akhir sanad dengan didasarkan pada pancaindra.

Hasby As-Siddiqie dalam bukunya Ikmu Mustalah Al-Hadis mendefinisikan sebagai


berikut:
Hadis yang diriwayatkan berdasarkan pengamatan pancaindra orang banyak yang
menurut adat kebiasaan mustahil untuk berbuat dusta.
B. Syarat-Syarat Hadis Mutawatir

Mengenai syarat-syarat hadis mutawatir ini, terdapat beberapa perbedaan pendapat


dikalangan ulama mutaqaddimin dan mutaakhirin. Ulama Mutaqiddimintidak membicarakan
syarat bagi hadis mutawatir. Menurut mereka, khabar mutawatir yang sedemikian sifatnya, tidak
termasuk dalam pembahasan ilmu isnad al-hadis, sebab ilmu ini membicarakan sahih atau
tidaknya suatu hadis, diamalkan atau tidaknya suatu hadis dan juga membicarakan adil dan
tidaknya rawi, sedangkan hadis mutawatir tidak membicarakan masalah masalah tersebut. Bila
suatuhadis telah diketahui statusnya sebagai hadis mutawatir, maka wajib diyakini kebenarannya,
diamalkan kandungannya, dan tidak boleh ada keraguan serta bagi orang yang mengingkarinya
dihukumi kafir sekalipun diantara perawinya adalah orang kafir. Sedangkan menurut ulama
mutaakhirin dan ahli ushul, suatu hadis dapat ditetapkan sebagai hadis mutawatir bila memenuhi
syarat-syarat berikut ini.

1. Diriwayatkan Oleh Sejumlah Besar Perawi

Hadis mutawatir harus diriwayatkan oleh sejumlah besar perwai yang membawa
keyakinan bahwa mereka itu tidak bersepakat untuk berdusta. Mengenai masalah ini, para ulama
berbeda pendapat. Ada yang menetapkan jumlah tertentu dan ada yang tidak menetapkannya.
Menurut ulama yang tidak mengisyaratkan jumlah tertentu, mereka menegaskan bahwa yang
penting dengan jumlah itu, menurut adat, dapat memberikan keyakinan terhdap apa yang
diberikan dan mustahil mereka sepakat untuk berdusta. Sedangkan menurut ulama yang
menetapkan jumlah tertentu, mereka masih berselisih mengenai jumlahnya.

Al-Qadi Al-Baqillani menetapkan bahwa jumlah perawi hadis mutawatir sekurang-


kurangnya 5 orang. Ia mengqiyaskan dengan jumlah Nabi yang mendapat gelar ulul azmi.
Sementara itu, Astikhary menetapkan bahwa yang paling baik minimal 10 orang, sebab jumlah
itu merupakan awal bilangan banyak.
Ulama lain menentukan 12 orang, berdasarkan firman Allah SWT. Dalam surat Al-
Maidah ayat 12:

Artinya: dan telah kami angkat diantara mereka dua belas orang pemimpin (QS.
Al-Maidah:12)

Sebagian ulama menetapkan sekurang-kurangnya 20 orang sesuai dengan firman


Allah SWT. Dalam surat Al-Anfal ayat 65 yang berbunyi:

Artinya: jika ada dua pilihan orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka
dapat mengalahkan dua ratus orang musuh (QS.Al-Anfal:65)
Ayat ini memberikan dorongan kepada orang-orang mukmin yang tahan uji, bahwa
hanya dengan jumlah 20 orang saja, mereka akan mampu mengalahkan 200 orang kafir. Ada
juga yang mengatakan bahwa jumlah perawi yang diperlukan dalam hadis mutawatir minimal 40
orang, berdasarkan firman Allah SWT. Dalam surat Al-Anfal ayat 64:



Artinya: Wahai Nabi, cukuplah Allah dan orang-orang mukmin yang mengikutimu (menjadi
penolongmu). (QS. Al-Anfal:64)

Pada saat ayat ini diturunkan, jumlah umat islam baru mencapai 40 orang. Hal ini
sesuai dengan hadis riwayat Ath-Thabrani dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, ia berkata:
Telah masuk Islam bersama Rasulullah SAW. Sebanyak 33 laki-laki dan 6 orang perempuan.
Kemudian Umar masuk Islam, maka jadilah 40 orang Islam.

Selain pendapat tersebut, ada juga yang menetapkan jumlah perawi dalam hadis
mutawatir sebanyak 70, sesuai dengan firman Allah SWT. Dlama surat Al-Araf ayat 155:




Artinya: Dan Nabi Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat dari
kami) pada waktu yang telah kami tentukan (QS. Al-Araf:155)

Penentuan jumlah tertentu sebagaimana disebutkan diatas, sebetulnya bukan


merupakan hal yang prinsip sebab persoalan pokok yang dijadikan ukuran bukan terbatas pada
jumlah, tetapi diukur pada tercapainya Ilmu Daruri. Sekalipun jumlah perawinya tidak banyak
asalkan telah memberikan keyakinan bahwa berita yang mereka sampaikan itu benar, maka dapat
dimasukkan sebagai hadis mutawatir.

2. Adanya keseimbangan antarperawi pada Thabaqat (lapisan) pertama dengan Thabaqat


berikutnya

Jumlah perawi hadis mutawatir, antara thabaqat dengan thabaqat lainnya harus
seimbang. Dengan demikian, bila suatu hadis diriwayatkan oleh dua puluh orang sahabat,
kemudian diterima oleh sepuluh tabiin, tidak dapat digolongkan sebagai hadis mutawatir, sebab
jumlah perawinya tidak seimbang antara thabaqat pertama dengan thabaqat seterusnya.
3. Berdasarkan tanggapan pancaindra

Berita yang disampaikan oleh perawi tersebut harus berdasarkan tanggapan pacaindra.
Arrtinya bahwa berita yang mereka sampaikan itu harus benar-benar merupakan hasil
pendengaran atau penglihatan sendiri. Dengan demikian, bila berita itu merupakan hasil
renungan, pemikiran atau rangkuman dari suatu peristiwa lain ataupun hasil istinbat dari dalil
yang lain, maka tidak dapat dikatakan hadis mutawatir. Misalnya, berita tentang barunya yang
rusak itu baru, maka berita seperti ini tidak dapat dikatakan hadis mutawatir. Demikian juga
berita tentang keEsaan Tuhan menurut hasil pemikiran para filosof, tidak dapatbigolongkan
sebagai hadis mutawatir.

C. Pembagian Hadis Mutawatir

Menurut sebagian ulama, hadis mutawatir itu terbagi menjadi dua, yaitu mutawatir lafzhi
dan mutawatir manawi. Sebagian ulama lainnya membaginya menjadi tiga, yaitu hadis
mutawatir lafzhi, maknawi, dan amali.

Adapun yang dimaksud dengan Hadis Mutawatir Lafzhi adalah:

Hadis yang mutawatir periwaayatannya dengan satu redaksi yang sama atau yang
mutawatir lafal dan maknanya.

Hal ini memberikan faedah ilmu yakin (meyakinkan kepada kita) bahwa hadis itu telah
disandarkan kepada yang menyabdakannya.

Berat ketatnya kriteria hadis mutawatir lafzhi ini menjadikan jumlah hadis ini sangat
dikit. Terjadinya perbedaan pendapat tersebut tidak dapat dilepaskan dari perbedaan jumlah
perawi hadis mutawatir dan presepsi mereka tentang kata-kata mustahil menurut adat bahwa
jumlah perawi yang dimaksud telah dianngap mustahil untuk berdusta, tetapi menurut adat yang
lain tidak dianggap demikian.

Contoh hadis mutawatir lafzhi adalah sabda Rasulullah SAW yang artinya:

Barang siapa berbuat dusta terhadap diriku (yang mengatakan sesuatu yang tiada aku
katakan atau aku kerjakan), hendaklah ia menempati neraka.

Sebagian ulama menyatakan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh dua ratus sahabat.
Ibrahim Al-Harabi dan Abu Bakar Al-Bazari mengatkan, hadis ini diriwayatkan oleh empat
puluh sahabat, sedangkan Abu Al-Qasim Ibnu Manduh berpendapat bahwa hadis ini
diriwayatkan oleh lebih dari delapan pulh orang. Ada juga yanb menyatakan, bahwa hadis ini
diriwayatkan oleh seratus orang.
Adapun yang dimaksud dengan Hadis Mutawtir Manawi adalah:

Hadis yang maknanya mutawatir, tetapi lafalnya tidak.

Abu Bakar As-Suyuti mendifinisikan sebagai berikut:

Artinya:

Hadis yang dinukilkan oleh sejumlah orang yang menurut adat mustahil mereka
sepakat berdusta atas kejadian yang berbeda, tetapi bertemu pada titik persamaan.

Misalnya, seseorang meriwayatkan bahwa Hatim memberikan seekor unta kepada laki-
laki. Sementara yang lain meriwayatkan bahwa Hatim memberikan seekor kuda kepada seorang
laki-laki, dan yang lainnya lagi mengatakan bahwa Hatim memberikan beberapa dinar kepada
seorang laki-laki, demikian seterusnya.

Dari riwayat-riwayat tersebut kita dapat memahami, bahwa Htaim adalah seorang
pemurah. Sifat pemurah Hatim ini kita pahami, melalaui jalan khabar mutawatir manawi.

Contoh hadis mutawatir manawi, antara lain adalah hadis yang meriwayatkan bahwa
Nabi Muhammad SAW. Mengangkat tangannya ketika berdoa. Yang artinya:

Abu Musa Al-Asyari, Nabi Muhammad SAW. Berdoa kemudian dia mengangkat kedua
tangannya dan aku melihat putih-putih kedua ketiaknya.

Hadis semacam ini berjumlah sekitar seratus hadis dengan redkasi yang berbeda-beda,
tetapi mempunyai titik persamaan, yakni keadaan Nabi Muhammad SAW, mengangkat tangan
saat berdoa.

Adapun yang dimaksud dengan Hadis Mutawatir Amali adalah:


Artinya:
Sesuatu yang diketahui dengan mudah bahwa dia termasuk urusan agama dan
telah mutawatir antara umat Islam bahwa Nabi Muhammad SAW. Mengajarkannya,
menyuruhnya, atau selain dari itu. Dan pengertian ini sesuai dengan ta,rif ijma.

Jenis hadis mutawatir amali ini banyak jumlahnya, misalnya hadis yang menerangkan
waktu shalat, rakaat shalat, shalat jenazah, shalat Ied, tata cara shalat, pelaksanaan haji, kadar
zakat harta, dan lain-lain.
D. Tingkat Validitas Hadis Mutawatir Dan Hadis Ahad Serta Statusnya Sebagai
Hujjah

Hadis Mutawatir mempunyai nilai ilmu dharuri (ufid ila ilmi aldhururi), yakni
keharusan untuk menerima dan mengamalkannya sesuai dengan yang diberikan oleh hadis
tersebut, sehingga membawa kepada keyakinan yang qathi (pasti).
Ibnu Thaimiyah mengatakan bahwa sesuatu hadist dianggap mutawatir oleh sebagian
golongan-golongan lain dan kadang-kadang telah membawa keyakinan bagi suatu golongan
tetapi tidak bagi golongan lain. Barang siapa yang telah meyakini akan kemutawatiran suatu
hadist, wajib baginya mempercayai kebenarannya dan mengamalkan sesuai tuntutannya.Sedang
bagi orang yang belum mengetahui dan meyakini akan kemutawatirannya, wajib baginya
mempercayai dan mengamalkan suatu hadist mutawatir yang disepakati oleh para ulama
sebagaimana kewajiban mereka mengikuti ketentuan-ketentuan hukum yang disepakati oleh
imam.

2. HADIS AHAD

A. Pengertian Hadis Ahad


Kata ahad atau wahid berdasarkan segi bahasa berarti satu, maka khabar ahad atau
khabar wahid berarti suatu berita yang disampaikan oleh satu orang. Adapun yang dimaksud
dengan hadis ahad menurut istilah, banyak didefinisikan oleh para ulama, anatara lain sebagai
berikut:
Arinya:
Khabar yang jumlah perawinya tidak sebanyak jumlah perawi mutawatir, baik
perawinya itu satu, dua, tiga, empat, lima, dan seterusnya yang memmberikan pengertian
bahwa jumlah perawi tersebut tidak mencapai jumlah perawi hadis mutawatir.
Sebagian ulama mendifinisikan hadis ahad dengan hadis yang sanadnya sah dan
bersambung hingga sampai kepada sumbernya (Nabi), tetapi kandungannya memberikan
pengertian zhanni dan tidak sampai kepada qathi dan yakin. Dari beberaapa definisi diatas,
dijelaskan bahwa disamping jumlah perawi hadis ahad yang tidak mencapai jumlah perawi hadis
mutawatir, kandungannya pun bersifat zhanni dan tidak bersifat qathi.
Kecenderungan para ulama mendifinisikan hadis ahad, seperti itu karena mereka
membagi hadis berdsarkan jumlah perawinya, yangt terbagi atas dua macam hadis yaitu hadis
mutawatir dan hadis ahad. Pengertian ini berbeda dengan pengertian hadis ahad menurut ulama
yang membedakan hadis menjadi tiga, yaitu hadis mutawatir, masyhur, dan ahad. Menurut
mereka (ulama yang disebut terakhir ini), hadis ahad adalah:
Hadis yang diriwayatkan oleh satu, dua orang atau lebih , yang jumlahnya tidak
memenuhi persyaratan hadis masyhur dan hadis mutawatir.

Muhammad Abu Zahrah mendefinisikan hadis ahad sebagai berikut:

Tiap-tiap yang diriwayatkan oleh satu, dua orang atau lebih yang diterima dari
Rasulullah SAW. Dan tidak memenuhi persyaratan hadis masyhur.

Abdul Wahab Khallaf menyebutkan bahwa hadis ahad adalah hadis yang diriwayatkan
oleh satu, dua orang, atau sejumlah orang, tetapi jumlah tidak mencapai jumlah perawi hadis
mutawatir. Keadaan perawi seperti ini terjadi sejak perawi pertama sampai perawi terakhir.

Jumhur ulama sepakat bahwa hadis ahad yang telah memnuhi ketentuan maqbul,
hukumnya adalah wajib. Abu Hanifah, Imam SyafiI, dan Imam Ahmad memakai hadis ahad bila
syarat-syarat periwayatannya yang sahih telah terpenuhi. Akan tetapi, Abu Hanifah menetapkan
syarat siqah dan adil bagi perawinya, dan amaliahnya tidak menyalahi hadis yang diriwayatkan.
Adapun Imam Malik menetapkan persyaratannya bahwa perawi hadis ahad tidak menyalahi
amalan ahli Madinah.

Golongan Qadariyah, Rafidah, dan sebagian Ahlu Zhahir menetapkan bahwa beramal
dengan dasar hadis ahad hukumnya tidak wajib. Sementara itu, Al-Jubai dari golongan
Mutazilah menetapkan tidak beramal kecuali berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh dua
orang dan yang diterima dari dua orang. Sementara ulama yang lain mengatakan tidak wajib
beramal, kecuali hadis diriwayatkan oleh empat orang dan diterima dari empat orang pula.

Untuk menjawab golongan yang tidak memakai hadis ahad sebagai dasar beramal, Ibnu
Al-Qayyim mengatakan, Ada tiga segi keterkaitan sunah dengan Al-Quran. Pertama,
kesesuaian terhadap ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Al-Quran. Kedua, menjelaskan
maksud Al-Quran. Ketiga, menetapkan hukum yang tidak terdapat dalam Al-Quran. Alternatif
ketiga ini merupakan ketentuan yang ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Yang wajib ditaati. Lebih
dari itu, ada yang menetapkan bahwa dasar berama dengan hadis ahad adalah Al-Quran, As-
Sunnah, dan Ijma.

B. Ciri-Ciri Hadis Ahad

Hadis yang diriwayatkan oleh satu dua orang atau sejumlah orang, tetapi jumlahnya tidak
sampai kepada jumlah perawi hadis mutawatir.
Tidak memenuhi syarat hadis mutawatir.
Diriwayatkan oleh para rawi yang menurut adat kebiasaan masih memungkinkan sepakat
untuk berbohong.
Hadis ahad menghasilkan ilmu yang belum pasti.
C. Pembagian Hadis Ahad

Para ulama membagi hadis ahad menjadi dua, yaitu masyhur dan ghair masyhur,
sedangkan ghair masyhur terbagi menjadi lagi menjadi dua, yaitu aziz dan gharib.

1. Hadis Masyhur
Masyhur menurut bahasa ialah al-intisyar wa az-zuyu (sesuatu yang terbesar dan
populer). Adapun menurut istilah terdapat bebrapa definisi, antara lain:
Hadis yang diriwayatkan dari sahabat, tetapi bilangannya tidak mencapai ukuran
bilang mutawatir, kemudian baru mutawatir setelah sahabat dan demikian pula setelah
mereka.

Ada juga yang mendefinisikan hadis masyhur secara ringkas, yaitu:

Hadis yang mempunyai jalan yang terhingga, tetapi lenih dari dua jalan dan tidak
sampai kepada batas hadis mutawatir.

Hadis ini dinamakan masyhur karena telah tersebar luas dikalangan masyarakat. Ada
ulama yang memasukkan seluruh hadis yang telah popular dalam masyarakat, sekalipun tidak
mempunyai sanad sama sekali, baik berstatus sahih atau dhaif kedalam hadis mansyur. Ulama
Hanifah mengatakan bahwa hadis masyhur menghasilkan ketenangan hati, kedekatan pada
keyakinandan kewajiban untuk diamalkan, tetapi bagi yang menolaknya tidak dikatakan kafir.

Hadis masyuh ini ada yang berstatus sahih, hasan, dan dhaif. Yang dimaksud dengan
hadis masyhur sahih adalah hadis yang telah memenuhi ketentuan-ketentuan hadis sahih, baik
pada sanad maupun matan-nya, seperti hadis dari Ibnu Umar:

Artinya: Bagi siapa yang hendak melaksanakan shalat jumat hendaklah ia mandi.

Adapun yang dimaksud dengan hadis masyhur hasan adalah hadis masyhur yang telah
memenuhi ketentuan-ketentuan hadis hasan, baik mengenai sanad maupun matan-nya, seperti
sabda Rasulullah SAW, yang artinya:

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim.

Adapun yang dimaksud dengan hadis masyhur dhaif adalah hadis masyhur yang tidak
memenuhi syarat-syarat hadis sahih dan hasan, baik pada sanad maupun pada matan-nya, seperti
hadis berikut yang artinya:

Barang siapa yang mengenal dirinya, maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya.

2. Hadis Ghair Masyhur


Para ulama ahli hadis menggolonkan hadis ghair masyhur menjadi aziz dan gharib.
a. Hadis Aziz
Kata aziz berasal dari azza-yaizzu yang berarti la yakadu yujadu atau qalla
wanadar (sedikit atau jarang adanya) atau berasal dari azza-yaazzu berarti qawiya (kuat).
Adapun kata aziz menurut istilah, antara lain didefinisikan sebagai berikut:
Hadis yang perawinya kurang dari dua orang dalam semua thabaqat sanad.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu hadis dikatakan hadis aziz bukan
saja karena diriwayatkan oleh dua orang rawi pada setiap thabaqat, yakni sejak dari thabaqat
pertama sampai thabaqat terakhir, tetapi juga bila dalam salah satu thabaqat didapati dua orang
perawi. Dalam kaitannya dengan masalah ini, Ibnu Hibban mengatakan bahwa hadis aziz yang
hanya diriwayatkan dari dan kepada dua orang rawi pada setiap thabaqat tidak mungkin terjadi.
Secara teori memang ada kemungkinannya, tetapi sulit untuk dibuktikan.

b. Hadis Gharib
Gharib menurut bahasa berarti al-munfarid (menyendiri) atau al-baid an aqaribihi
(jauh dari kerabatnya). Ibnu Hajar mendefinisikan hadis gharib sebagai berikut:

Artinya: Hadis yang pada sanadnya terdapat seorang yang menyendiri dalam
meriwayatkannya, dimana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.

Ada juga yang mengatakan bahwa hadis gharib adalah hadis yang diriwayatkan oleh
seorang perawi yang menyendiri dalam periwayatannnya, tanpa ada orang lain yang
meriwayatkan.
Adapun hadis gharib yang tergolong pada gharib nisbi adalah apabila penyendiriannya itu
mengenai sifat atau keadaan tertentu seorang perawi. Selain pembagian hadis gharib seperti
tersebut diatas, para ulama juga membagi hadis gharib menjadi dua golongan, yaitu gharib pada
sanad dan matan, dan gharib pada sabad saja. Gharib pada sanad dan matan adalah hadis yang
hanya diriwayatkan melalui satu jalur. Sedangkan hadis gharib pada sanad saja adalah hadis yang
popular dan diriwayakan oleh banyak sahabat, tetapi ada seorang perawi yang meriwayatkannya
dari salah seorang sahabat yang lain yang tidak popular.

D. Tingkat Validitas Hadis Ahad Serta Statusnya Sebagai Hujjah

Hadis Ahad dengan berbagai pembagiannya terkadang dapat dihukumi shahih, hasan atau
dhoif, bergantung pada syarat diterimanya hadist (syurut al-qabul). Adapun kehujjahan hadis
ahad, jumhur ulama sepakat bahwa hadis ahad dapat dijadikan sebagai hujjah, selama hadist
tersebut masuk kategori hadis maqbul, atau memenuhi syarat diterimanya hadis. Para ulama
banyak memberikan bukti tentang kehujjahan hadis ahad. Diantara dalil-dalil yang mereka
gunakan adalah:
a. Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah SAW. Tatkala menyebarkan Islamkepada
para pemimpin negeri atau para raja, beliau menunjuk dan mengutus satu atau dua
orang sahabat. Bahkan beliau pernah mengutus dua belas sahabat untuk berpencar
menemui dua belas pemimpin saat itu untuk diajak menganut islam. Kasus ini
membuktikan bahwa khabar yang disampaikan atau dibawa oleh satu dua orang
sahabat dapat dijadikan hujjah. Seandainya Rasulullah menilai jumlah sedikit tidak
cukup untuk menyampaikan informasi agama dan tidak dapat dijadikan sebagai
pedoman nmiscaya beliau tidak akan mengirim jumlah sedikit tersebut. Demikian
kata Imam Syafii.
b. Dalam menyebarkan hukum syarI, kita dapatkan juga bahwa Rasulullah SAW.
Mengutus satu orang untuk mensosialisasikan hukum-hukum tersebut kepada para
sahabat yang kebetulan tidak mengetahui hukum yang baru diterapkan. Kasus
pengalihan arah kiblat yang semula mengahdap baitul maggdis di palestina kemudian
dipindah kearah kiblat (kabah) di Makkah. Info pengalihan ini disampaikan oleh
seorang sahabat yang yang kebetulan bersama Nabi Saw, kemudian dating kesalah
satu kaum yang saat itu sedang melaksanakan shalat subuh lalu memberitahukan
bahwa kiblat telah diubah arah. Mendengar informasi itu spontan mereka mereka
berputar arah untuk menhadap ke kabah padahal mereka berputar arah untuk
menghadap ke kabah padahal mereka tidak mendengar sendiri ayat yang turun
tentang hal itu. Imam SyafiI mengatakan, seandainya khabar satu orang yang dikenal
jujur tidak dapat diterima niscaya mereka tidak akan menggubris informasi
pemindahan arah kiblat tersebut.
c. Termasuk dalil yang digunakan Imam Syafii untuk membuktikan kehujjahan hadis
ahad adalah hadis yang artinya:
Semoga Allah membaguskan wajah orang yang mendengar dari kami sebuah hadis
lalu ia menyampaikannya sebagaimanaia dengar, bisa jadi orang disampaikan lebih
memahami daripada orang yang mendengar.
Anjuran Rasulullah Saw untuk menghafal lalu menyampaikan kepada orang lain
menunjukkan bahwa khabar atau hadis yang dibawa orang tersebut dapat dapat diterima dan
sekaligus dapat dijadikan sebagai dalil. Di sisi lain hadis yang disampaikan itu bisa berupa
hukum-hukum halal haram atau juga berkaitan dengan maalah aqidah. Dengan demikian hadis
ahad dapat dijadikann sebagai hujjah dalam berbagai masalah selama memenuhgi kriteria shahih.
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa jika hadist ditinjau dari
klasifikasi hadis berdasarkan kuantitas, hadist dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu hadist
mutawatir dan hadist ahad.
Hadist mutawatir adalah hadist yang diriwayatkan oleh banyak rawi baik dari thabaqat
pertama (sahabat) sampai kepada thabaqat yang terakhir (thabiit thabiin). Dilihat dari cara
periwayatannya, hadist mutawatir dapat dibagi menjadi dua bagian yakni:
1. Hadist mutawatir lafdzi yaitu Hadis yang mutawatir lafaz dan maknanya.
2. Hadist mutawatir manawi adalah Hadis yang mutawatir maknanya, bukan lafalnya.
3. Hadits mutawatir amali adalah Sesuatu yang diketahui dengan mudah bahwa ia dari agama dan
telah mutawatir dikalangan umat muslim (orang islam) bahwa Nabi SAW mengajarkannya atau
menyuruhnya atau selain itu.
Hadist ahad yakni hadist yang dilihat dari perawinya tidak mencapai tingkat mutawatir
atau terkadang mendekati jumlah hadist mutawatir. Berbeda dengan hadist mutawatir, hadist
ahad mengalami pencabangan. Pencabangan ini dilatar belakangi oleh jumlah perawi dalam
masing-masing thabaqat. Dalam hadist ahad dikenal dengan istilah hadist masyhur, hadist aziz,
dan hadist gharib.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..i

BAB I. PENDAHULUAN

Latar Belakang ......ii

Rumusan Masalah .ii

Tujuan Masalah .ii

BAB II. PEMBAHASAN

HADIS MUTAWATIR .1

Pengertian Hadis Mutawatir ..1

Syarat-Syarat Hadis Mutawatir .2

Pembagian Hadis Mutawatir .4

Tingkat Validitas Hadis Mutawatir Serta Staturnya Sebagai Hujjah 6

HADIS AHAD .6

Pengertian Hadis Ahad ..6

Ciri-Ciri Hadis Ahad .8

Pembagian Hadis Ahad .9

Tingkat Validitas Hadis Ahad Serta Statusnya Sebagai Hujjah 10


DAFTAR PUSTAKA

Al-Aqiqi, Najib, al-Mustasyriqun, Dar al-Marifah, Mesir, cet. III, 1964

Al-Hakim, al-Mustadarak ala al-Shohihain, haidar Abad, India, 1334 H.

Al-Nawawi, abu Zakariya Yahya bin Syaraf, Syarah Shahih Muslim, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
Bairut, 1992

Al-Qusdi, Muhammad bin Thohir, syurut al-A-immah al-Sittah, Maktabah Athaif, Kairo, 1357
H.

Al-Suyuti, Jalaluddin, Miftah al-jannah fi al-Ihtijaj bi al-Sunnah, Mathbaah al-Rasyid, Madinah


Munawwaroh, 1979.

Al-Syafii, Muhammad bin Idris, al-Risalah, tahqiq Ahmad Syakir, Maktabah Dar al-Tirats,
Kairo, 1979.

Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid al-Qozwaini, Sunan ibn Majah, tahqiq Muhammad Fuaf
Abdul Baqi Dar al-hadits, Kairo, tth.

Ibn Qutaibah, Abdullah Muhammad bin Muslim, Tawil Mukhtalaf al-Hadits, Maktabah al-
Kulliyyat al-Azhariyyah, Mesir, 1966.

Ibn Shalah, Abu Amr Utsman bin Abdul Rahman, Ulum al-Hadist, al-Maktabah al-Ilmiyyah,
Madinah Munawwaroh, 1972.

Itr, Nuruddin, Manhaj al-Naqd fi Ulum al-Hadist, Dar al-fikr: Damaskus, cet. III, 1981.

Kholifah,-Ajami Damanhuri, Dirasat fi al-Ulum al-Hadist, Dar al-Thabaah al-Muhammadiyah,


Kairo, 1993.

Muhammad Ahmad dan M. Mudzakir, Ulumul Hadis, Bandung: Pustaka Setia, tth.