Anda di halaman 1dari 9

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

KUALITAS EKSTERIOR TELUR PUYUH (Coturnix-coturnix japonica)TURUNAN HASIL PERSILANGAN WARNA BULU COKLAT DAN HITAM DI PUSAT PEMBIBITAN PUYUH UNIVERSITAS PADJADJARAN EXTERIOR QUALITY OF QUAIL EGGS (Coturnix-Coturnix Japonica) FILIAL CROSSING RESULT OF COLOUR BROWN AND BLACK FEATHER AT QUAIL BREEDING CENTER UNIVERSITY OF PADJADJARAN

Ilsa Alawiyah*, Endang Sujana**, Wiwin Tanwiriah**

Universitas Padjadjaran

*Alumni Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran tahun 2016 **Dosen Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran e-mail: ilsa.alawiyah@gmail.com

ABSTRAK

Penelitian tentang “Kualitas Eksterior Telur Puyuh (Coturnix-Coturnix Japonica ) Turunan Hasil Persilangan Warna Bulu Coklat Dan Hitam Di Pusat Pembibitan Puyuh Universitas Padjadjaran” telah dilaksanakan pada bulan Mei 2016. Penelitian dilakukan di Pusat Pembibitan Puyuh Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang. Penelitian dilakukan untuk mengetahui kualitas eksterior telur yang dihasilkan puyuh turunan hasil persilangan antara puyuh galur bulu coklat dan hitam. Telur yang digunakan adalah telur yang dihasilkan puyuh turunan hasil persilangan warna bulu coklat dengan hitam berjumlah 200 butir telur. Penelitian menggunakan metode deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Variabel yang diamati meliputi bobot telur, Shape index (panjang dan lebar), dan specific grafity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot telur rata-rata adalah sebesar 11,18±0,79 gram, bentuk telur relative bulat dengan rata-rata Shape index 80,29±2,91, dan rata-rata nilai specific gravity adalah 1,065±0,006. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kualitas eksterior telur puyuh turunan hasil persilangan ini memiliki kualitas yang baik dan baik untuk dijadikan puyuh pembibit. Kata Kunci : Kualitas, eksterior, telur, puyuh petelur, silangan

ABSTRACT

The research entitled "Exterior Quality Of Quail Eggs (Coturnix-Coturnix Japonica) filial Crossing Result of Colour Brown And Black Feather at The Quail Breeding Center University Of Padjadjaran" was held in May 2016 at Quail Breeding Center, University of Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang. The research was conducted to determine the exterior quality of quail eggs filial crossing result of colour brown and black feather. The eggs used are produced by quail filial crossing result of colour brown and black feather were 200 eggs. Research using descriptive methods and sampling by purposive sampling method. The observed variables include egg weight, shape index (length and width), and specific gravity. The results showed that the average egg weight is equal to 11,18 ± 0,79 grams, an egg shape relative to the average round shape index 80,29 ± 2,91, and the average value of specific gravity is 1,065 ± 0,006. It can be concluded that the exterior quality of quail eggs have good quality and excellent for breeder quail.

Keywords:Quality, exterior, eggs, laying quail , Filial

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

PENDAHULUAN

Pemeliharaan puyuh biasa dilakukan secara intensif karena memelihara puyuh tidak membutuhkan lahan yang luas.Sistem pemeliharaan ini sudah memperhatikan sistem perkandangan, pemberian pakan yang sesuai kebutuhan, sistem reproduksi dan penanganan penyakit sehingga produksinya semakin lama semakin meningkat. Perkawinan silang, selain mencegah turunnya sifat-sifat negatif dari induk karena banyaknya perkawinan sekerabat, persilangan juga merupakan salah satu cara untuk menurunkan sifat-sifat yang baik dari tetuanya untuk keturunannya, sehingga tujuan produksi yang akan dicapai dapat optimal. Di Indonesia puyuh yang banyak dipelihara peternak adalah puyuh Coturnix-coturnix japonica. Puyuh ini terdapat berbagai jenis galur diantaranya puyuh galur warna hitam dengan galur puyuh warna coklat. Sebenarnya puyuh- puyuh tersebut tidak berbeda jauh dalam besar badan dan produksinya, tetapi perbedaan warna bulu sangat ketara karena mudah dibedakan, sehingga perkawinan silang bisa dilakukan. Persilangan puyuh warna coklat dan hitam ini bertujuan selain untuk menghindari inbreeding agar performanya terjaga, juga untuk mempermudah melakukan sexing sedini mungkin, karena dengan persilangan ini akan memberikan efek adanya perubahan warna bulu jantan menjadi hitam dan betina menjadi berwarna coklat sehingga sexing dapat dilakukan pada hari pertama telur menetas. Pada umumnya sexing pada puyuh ini dilakukan pada saat puyuh berumur 3 minggu.Hal lainnya keuntungan dari persilangan ini adalah harapan terbentuknya individu baru atau menghasilkan individu dengan potensi kualitas yang lebih baik dari rata-rata tetuanya. Pengukuran kualitas telur secara eksterior merupakan salah satu parameter yang dapat dilakukan untuk mengetahui karakteristik telur hasil persilangan.Karakteristik eksterior telur ini meliputi berat telur, shape index, dan specific grafity. Pengukuran kualitas telur eksterior ini penting dilakukan untuk mengetahui kualitas telur yang baik untuk ditetaskan maupun untuk dikonsumsi. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai kualitas eksterior telur puyuh turunan hasil persilangan (Coturnix-coturnix japonica) warna bulu coklat dan hitam yang dimulai pada saat puyuh berumur 8-11 minggu.

BAHAN DAN METODE

1. Bahan Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah telur yang dihasilkan puyuh turunan hasil persilangan warna bulu coklat dengan hitam. Jumlah telur yang diteliti pada

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

penelitian ini adalah sebanyak 50 butir per minggu dengan total 200 butir telur. Jumlah telur tersebut sudah diseleksi dan dipilih hanya telur utuh yang bersih dan dikoleksi selama 4 hari dari puyuh yang barumur 8-11 minggu.

2. Peralatan penelitian

peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah egg tray, spidol, alat tulis, timbangan digital, jangka sorong, tissue, garam, ember, lactodensimeter, kalkulator, dan

kamera.

3. Metode Penelitian

Penelitian menggunakan metode deskriptif dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Waktu pengumpulan telur dilakukan selama 4 periode pengumpulan, masing-masing periode berselang selama 1 minggu. Variabel yang diamati dalam penelitian kualitas telur puyuh turunan hasil persilangan meliputi bobot telur, Shape index (panjang dan lebar), dan specific grafity.

4. Prosedur Penelitian

prosedur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah (1) Pengumpulan telur dari induk puyuh turunan hasil persilangan warna bulu hitam dan coklat dari kandang Pusat Pembibitan Puyuh Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dan disimpan diatas Egg tray. (2) Pembersihan terhadap telur-telur yang kotor. (3) Seleksi telur puyuh persilangan warna bulu

hitam dengan coklat berdasarkan keutuhan dan kebersihan telur. (4) Penandaan telur dengan nomor menggunakan spidol permanen untuk memudahkan dalam melakukan penelitian. (5) Penimbangan untuk mengetahui berat telur dengan menggunakan timbangan digital. (6) Mengukur konsentrasi garam dalam air menggunakan Lactodensimeter. (7) Pengukuran panjang dan lebar telur dengan menggunakan jangka sorong untuk mengetahui bentuk telur (shape index) telur. (8) Membuat larutan garam yang digunakan untuk mengukur specific gravity dari mulai yang memiliki specific gravity 1,050 sampai 1,080 dengan peningkatan 0,005. Pengukuran berat jenis ini memakai Lactodensimeter yang dicelupkan ke dalam air yang ada di dalam ember. Bila belum sesuai dengan nilai yang diinginkan maka garam di tambahkan kembali. Kemudian buat larutan yang lainnya sampai ada tujuh ember. (9) Telur dimasukkan ke dalam air garam dengan tingkat kadar garam yang berbeda mulai dari larutan garam yang terencer (specific gravity-nya rendah) sampai yang cukup tinggi. (10) Telur yang sudah diketahui nilai specific grafity-nya kemudian diambil dari dalam ember larutan dan di lap menggunakan tissue dan diletakkan kembali di atas Egg tray.(11) Mencatat semua data

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

yang didapat dari hasil pengamatan, dan (12) Mengolah data yang terkumpul dari hasil

pengamatan.

5. Analisis Statistik

Pengolahan data dilakukan dengan menganalisis data menggunakan analisis statistika

deskriptif terhadap populasi telur puyuh turunan hasil persilangan warna bulu coklat dan

hitam, menurut Sudjana (2005) adalah dengan menghitung rata-rata data kuantitatif,

simpangan baku atau standar deviasi dan koefisien variasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Bobot telur

Bobot telur rata-rata yang dihasilkan oleh puyuh turunan hasil silangan dan hasil

perhitungannya disajikan pada Tabel 4.

Tabel 1. Bobot Telur Puyuh Turunan Hasil Penelitian

Rataan

Analisis Data

Turunan Hasil Silangan

Coklat*

Hitam*

Bobot (gram) Simpangan Baku

11,18

10,88

10,74

0,79

1,21

1,06

Koefisien Variasi (%)

7,10

-

-

Sumber (*) : Sujana, 2014

Berdasarkan Tabel 4 diperoleh rata-rata telur 11,18 gram dengan koefisien variasi 7,10

%. Rataan bobot telur sudah seragam karena koefisien variasinya kurang dari 10% (Sudjana,

2005). Bobot telur hasil penelitian ini berada pada kisaran normal sesuai dengan pendapat

Woodard dkk (1973) bahwa telur puyuh memiliki bobot sekitar 10 g (sekitar 8% dari bobot

badan induk) hingga sebesar 11,91 g (Parizadian dkk, 2011). Puyuh berumur 8-9 minggu

yang dipelihara pada temperatur lingkungan 22,5-32 o C dan pemberian ransum mengandung

protein 22%, menghasilkan telur dengan bobot 9,2 g (Eishu dkk, 2005). Bobot telur hasil

penelitian ini cukup tinggi karena tingkat protein ransum yang diberikan pada penelitian ini

adalah 22-24 %, sudah sesuai dengan standar yang dibutuhkan oleh puyuh petelur dan suhu

yang dibutuhkan untuk berproduksi sudah sesuai.

Bobot telur dapat dipengaruhi oleh genetik yang diwariskan oleh induk (Easminger,

1992). Jenis puyuh juga tentu dapat mempengaruhi rataan bobot telur (Santos dkk, 2011).

Selain itu faktor-faktor yang dapat mempengaruhi bobot telur yang dihasilkan diantarannya

adalah jenis pakan, jumlah pakan, lingkungan kandang dan kualitas pakan (Listyowati dan

Roospitasari, 2005). Temperatur lingkungan dan konsumsi pakan juga dapat mempengaruhi

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

bobot telur. Peningkatan temperatur lingkungan dapat menurunkan ukuran telur dan kualitas kerabang telur (North dan Bell, 1992). Rataan bobot telur puyuh turunan hasil persilangan berbeda dengan tetuanya, yaitu pada penelitian Sujana (2014) bahwa bobot telur puyuh galur warna coklat (populasi dasar) memiliki rata-rata 10,88 gram dan rata-rata bobot telur puyuh galur warna hitam sebesar 10,74. Bila dibandingkan ternyata bobot telur puyuh turunan hasil persilangan (11,18 gram) lebih besar dari bobot telur puyuh tetuanya walaupun perbedaannya hanya sedikit. Persilangan ini meningkatkan produktifitas puyuh yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan pendapat Prasetyo (2007) bahwa perkawinan antar kelompok genotip yang berbeda misalnya antar galur, rumpun maupun bangsa, biasa dilakukan sebagai strategi produksi untuk memanfaatkan keunggulan hibrida yang disebut heterosis, dalam meningkatkan produktifitas ternak yang bersangkutan.

2. Shape index Hasil penelitian bentuk (shape index) telur puyuh turunan hasil persilangan di Pusat

pembibitan puyuh dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 2. Shape Index Telur Puyuh Turunan Hasil Penelitian

Analisi Data

 

Rataan

Turunan Hasil Silangan

Coklat*

Hitam*

Shape index (SI)

80,29

81,93

82,38

Simpangan Baku Koefisien Variasi (%)

2,91

3,16

3,14

3,62

-

-

Sumber (*) : Sujana, 2014 Berdasarkan data dari Tabel 5 diperoleh rata-rata Shape index telur puyuh turunan hasil persilangan adalah 80,29 dengan koefisen variasinya 3,62. Rata-rata Shape index telur tersebut sudah seragam karena koefisien variasinya kurang dari 10%. Menurut sudjana (2005), bila koefisien variasi suatu pengamatan dibawah 10% maka data tersebut dapat dikatakan seragam. Rata-rata Shape index telur puyuh turunan hasil persilangan pada penelitian ini adalah 80,29, jadi memiliki bentuk telur yang bulat. Menurut Sharma (1970), telur puyuh memiliki bentuk telur yang bulat bila memilki nilai Shape index diatas 77, sedangkan telur yang berbentuk ovoid (normal) memiliki nilai Shape index 69-77. Pada penelitian ini Shape index telur yang diperoleh lebih rendah dibanding Shape index puyuh tetuanya pada penelitian Sujana dkk (2014) yaitu Shape index puyuh galur warna hitam (populasi dasar) adalah 82,38 dan galur puyuh warna coklat adalah 83,93.

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

Indeks telur dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain otot saluran oviduk, volume albumen dan ukuran isthmus, periode awal bertelur dan fase produksi telur (Ensminger, 1992). Jull (1977) menambahkan, bahwa faktor yang berperan dalam memberikan bentuk telur adalah jumlah albumen yang disekresikan dalam oviduk, ukuran isthmus, aktivitas serta kekuatan otot dinding isthmus dan bagian-bagian lain yang dilalui telur, Shape index merupakan karakteristik telur yang diwariskan dari tetuanya, sehingga telur setiap jenis unggas memilki Shape index yang khas sesuai dengan bentuk dan besar alat reproduksinya, dan akan berpengaruh pula terhadap panjang dan lebar telur yang dihasilkan (Jull, 1977). Semakin lebar diameter isthmus, maka bentuk telur yang dihasilkan cenderung bulat dan apabila diameter isthmus sempit, maka bentuk yang dihasilkan cenderung lonjong. Semakin tinggi nilai index telur, maka telur tersebut akan semakin bulat. Bentuk oval atau bulat pada telur dipengaruhi oleh dinding saluran telur selama pembentukan (Ensminger,

1992).

3.

Specific gravity Hasil penelitian specific gravity telur puyuh turunan

hasil persilangan dapat dilihat

pada Tabel 6.

Tabel 3. Hasil Analisis Specific Gravity Telur Puyuh Turunan Hasil Penelitian

Rataan

Analisi Data

 

Turunan Hasil Silangan

Coklat*

Hitam*

Specific gravity (SG) Simpangan Baku Koefisien Variasi (%)

1,065

1,058

1,056

0,006

0,01

0,01

0,52

-

-

Sumber (*) : Sujana, 2014 Specific gravity dikenal sebagai salah satu cara pada penetapan ketebalan kerabang, melalui nilai indeks yang diperoleh atas pengambangan telur dalam larutan garam pada konsentrasi tertentu. Rataan nilai specific gravity telur puyuh turunan hasil persilangan adalah 1,065 dengan koefisen variasinya adalah 0,52 yang artinya specific gravity tersebut sudah seragam. Semakin tinggi nilai specific grafity menunjukkan kondisi kerabang yang semakin tebal.Nilai specific gravity yang tinggi menggambarkan kandungan kalsium karbonat (C a C o 3) yang tinggi, sehingga kualitas kerabang telur juga tinggi (Milles dan Harms, 1982).Telur puyuh dengan ketebalan kerabang lebih kecil sekitar 0,197 mm memiliki nilai specific gravity lebih rendah dari telur ayam, karena kerabangnya lebih tipis dibandingkan dengan kerabang

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

telur ayam.Menurut Nordstrom dan Ousterhout (1981) bobot telur berpengaruh nyata terhadap kekuatan kerabang dan menimbulkan variasi terhadap nilai specific gravity. Perbedaan nilai specific gravity disebabkan bobot telur yang berbeda, sedangkan antara ketebalan kerabang sendiri memilki hubungan yang erat dengan specific gravity sebesar 0,77 (Stadelman dan Cotteril, 1977). Nilai specific grafity telur puyuh turunan hasil persilangan 1,065 ini lebih tinggi dibandingkan dengan nilai specific grafity telur puyuh tetuanya pada penelitian Sujana dkk (2014) yaitu pada puyuh galur warna coklat adalah 1,0586 dan galur warna hitam adalah 1,0567. Dengan hasil ini jelas persilangan ini memberikan efek yang baik pada nilai specific grafity.Hal tersebut terjadi karena efek heterosis dari persilangan yaitu terjadi keunggulan dibandingkan dengan rataan tetuanya. Menurut Prasetyo (1997), efek heterosis terjadi akibat perbedaan frekuensi gen diantara tetuanya dan adanya efek dominan dan epistasis. Dengan meningkatnya nilai specific grafity pada telur puyuh persilangan, maka puyuh persilangan ini berpotensi untuk dikembangkan sebagai bibit karena dengan nilai specific gravity yang tinggi akan meningkatkan daya tetasnya. Sesuai pendapat Wibowo dkk (1994), bahwa semakin tinggi nilai specific gravity, maka daya tetas semakin tinggi. Nilai specific gravity yang tinggi dapat menunjukkan pori-pori kerabang yang belum terbuka lebar yang akan mempengaruhi kualitas putih telur dan berakibat terhadap penyusutan berat telur. Penyusutan disebabkan terjadi penguapan air karena lamanya penyimpanan telur dan terjadinya pelepasan gas CO 2 dari dalam telur melalui pori-pori kerabang telur. Penguapan dan pelepasan gas ini terjadi secara terus menerus selama penyimpanan sehingga semakin lama telur disimpan berat telur akan semakin berkurang. Menurut Sudaryani (2000) penguapan air dan pelepasan gas seperti CO 2 , NH 3 , N 2 , dan sedikit H 2 S sebagai hasil degradasi bahan- bahan organik telur terjadi sejak telur keluar dari tubuh puyuh melalui pori- pori kerabang telur dan berlangsung secara terus menerus sehingga menyebabkan penurunan kualitas putih telur, terbentuknya rongga udara, dan menurunkan berat telur. SIMPULAN Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa rata-rata bobot telur puyuh turunan hasil persilangan meningkat menjadi sebesar 11,18±0,79, bentuk telur relative bulat, dengan rata- rata shape index 80,29±2,91, serta rata-rata nilai specific gravity adalah 1,065±0,006 dan kualitas eksterior telur puyuh turunan hasil silangan memiliki kualitas yang baik.

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada Bapak Endang Sujana, S.Pt., MP dan Ibu Dr.

Ir. Wiwin Tanwiriah, MP atas bimbingannya dan program Ib-IKK model breeding center

Puyuh Petelur Program PPM Dikti atas bantuan dana penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Eishu, R. 2005. Effect of Dietary Pritein Levels on Production And Characteristics of Japanese Quail Egg. J.Poultry Sci. 42: 130-139

Ensminger, M.E. 1992. Poultry Science,3 rd Ed. Interstate Publisher, Inc. Danville. Illionis.

Jull, M. A.1977. Poultry Husbandry. 3 rd Ed. Tata Mc Graw-Hill Publishing Company Ltd, New Delhi. 150-182.

Listyowati, E Dan K. Roospitasari. 2005. Tatalaksana Budi Daya Puyuh Secara Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta. Milles, R.D. And Harms. 1982. Relationship Between Egg Specific Gravity And Plasma Phosphorus From Hens Fed Different Dietary Calcium, Phosphorus And Sodium Levels. Poult Sci. 61:175-177.

Nordstorm, J.Q. And L.E. Oustershout. 1981. Estimation off Shell Weight And Shell Tickness From Egg Specific Gravity And Egg Weight. Poult. Sci., 61:1991-1995.

North, M.O And D.D. Bell. 1992. Commercial Chicken Production Manual. 4 th Edition. An A Vi Book Published By Van Nostrand Reinhold, New York.

Parizadian, B., Y.J. Ahangari, M.S. Shargh, And A. Sardarzadeh. 2011. Effects of Different Levels of L-Carnitine Supplementation on Egg Quality And Blood Parameters of Laying Japanese Quail. Int. J. Poultry Sci. 10 (8): 621-625.

Prasetyo,

DanMojosari: Awal Pertumbuhan Dan Aawal Bertelur. Balai Penelitian Ternak. Bogor. Prasetyo. 2007. Heterosis Persilangan Itik Tegal Dan Mojosari Pada Kondisi Sub-Optimal.

L.H.

Dan

T.

Susanti

1997.

Persilangan

Timbal

Balik

Antara

Itik

Tegal

Balai Penelitian Ternak. Bogor. Jitv Vol. 12 No,1

Santos, T.C.,A.E. Murakami., J.C. Fanhani, And C.A.L. Oliveira. 2011. Production And Reproduction of Egg and Meat Type Quails Reared in Different Group Sizes. Brazilian J.Poultry Sci. 13 (1): 9-14.

Sharma, P.K. 1970. Biometry off Hens Egg.Animal Health. Indiana. 9:41-44.

Stadelman, W.J And O.J. Cotteril. 1977. Egg Science and Technology.The Avi Publishing Co. Inc. Westport, Connecticut.

Sudaryani, T. 2000. Kualitas Telur. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Edisi 6. Penerbit Tarsito. Bandung.

Sujana, E., Tuti, W. Dan Asep, A. 2014. Karaskteristik Kualitas Eksterior Telur Puyuh Populasi Dasar Pada galur Warna Bulu Coklat dan Hitam di Sentra Pembibitan

Kualitas Eksterior Telur Puyuh TurunanHasil Persilangan

Ilsa Alawiyah

Puyuh Kampus Universitas Padjadjaran Jatinangor.Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan 6. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Jatinangor.

Wibowo A, Tri Yuwanta Dan Jafendi S. 1994. Penentuan Daya Tetas Dengan Menggunakan Metoda Gravitasi Pada Tingkat Berat Inisial Ayam Kampung Yang Berbeda. Lembaga Penelitian Ugm. Yogyakarta.

Woodard Ae, Abplanalp H, Wilson, Vohra P. 1973. Japanese Quail Husbandry in The Laboratory. Departement of Avian Science.University of California.