Anda di halaman 1dari 18

PROPOSAL PRAKTIKUM TEKNOLOGI FARMASI

SEDIAAN STERIL

INFUS INTRAVENA

PRAKTIKUM KE : III
TANGGAL PRAKTIKUM : 12 April 2017
KELAS/GRUP : C 2-1
ANGGOTA KELOMPOK : Atillah Gafitra L (2013210031)
Annisa Yanuar K (2014210021)
Clairine Devina (2014210047)
Dian Tridowati (2014210071)

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PANCASILA
JAKARTA
2017
I. Tugas :
Membuat sediaan infus intravena untuk metabolic alkalosis sebanyak 2 botol
masing-masing dengan volume 500 ml

II. Pendahuluan
Sterilisasi adalah proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril.
Secara tradisional keadaan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat
penghancuran dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini
menyatakan bahwa steril adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan
kemungkinan menciptakan kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat
diduga atas dasar proyeksi kinetis angka kematian mikroba.( Lachman, hal 1254 ).

Keseimbangan air dalam tubuh harus dipertahankan supaya jumlah yang


diterima sama dengan jumlah yang dikeluarkan. Penyesuaian dibuat dengan
penambahan / pengurangan jumlah yang dikeluarkan sebagai urin juga keringat. Ini
menekankan pentingnya perhitungan berdasarkan fakta tentang jumlah cairan yang
masuk dalam bentuk minuman maupun makanan dan dalam bentuk pemberian
cairan lainnya. Elektrolit yang penting dalam komposisi cairan tubuh adalah Na, K,
Ca, dan Cl.

Sediaan parenteral volume besar yang sekarang digunakan umumnya diberikan


lewat infus intravena untuk menambah cairan tubuh, elektrolit atau menambah
nutrisi. Infus intravena adalah sediaan steril berupa larutan atau emulsi, bebas
pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah, disuntikkan langsung
ke dalam vena dan volume relatif besar.Biasanya diberikan dalam volume 250 ml
sampai beberapa liter dan dalam jumlah yang lebih banyak lagi perharinya, dengan
penetesan lambat intravena. Karena diberikan dalam volume besar, larutan ini tidak
boleh mengandung zat bakteriostatikdan zat dapar, serta harus jernih dan praktis
bebas partikel.(FI III hal 12)
Persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu sediaan infus, antara lain :

1. Sesuainya kandungan bahan obat yang dinyatakan didalam etiket dan yang ada
dalam sediaan, tidak terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat
perusakan obat secara kimia, dsb.
2. Penggunaan wadah yang cocok yang tidak hanya memungkinkan sediaan tetap
steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi bahan obat dengan material dinding
wadah.
3. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. Untuk itu,beberapa faktor yang paling menentukan
adalah:
a. Bebas kuman
b. Bebas pirogen
c. Bebas pelarut yang secara fisiologis tidak netral
d. Isotonis
e. Isohidri
f. Bebas bahan melayang (R. Voight hal. 462)

Ammonium klorida jarang digunakan sendiri sebagai ekspektoran tetapi biasanya


dalam bentuk campuran dengan ekspektoran lain atau antitusif. Ammonium
klorida dosis besar dapat menimbulkan asidosis metabolic dan harus digunakan
dengan hati hati pada pasien dengan insufisiensi hati, ginjal dan paru-paru.
Ammonium klorida hamper tidak lagi digunakan untuk pengasaman urin pada
keracunan sebab berpotensi membebani fungsi ginjal dan menyebabkan gangguan
imbang elektrolit. (Farmakologi dan Terapi hal 531)

III. Pra Formulasi


A. Zat Aktif
Nama Zat Sifat Fisika-Kimia Cara
Dosis Khasiat
Aktif dan Stabilitas Sterilisasi
RumusMolekul: Autoklaf atau Dosis untuk Sebagai
NH4Cl
Amonium filtrasi infus intravena acidifier
Klorida BobotMolekul : (Martindale : hingga 2% sistemik pada
53,49
28th edition larutan selama pasien dengan
Pemerian : hal. 687) 3 jam metabolik
Tidak berbau,
(Martindale alkalosis
higroskopis, serbuk
kristal putih atau kristal 28th edition
tidak berwarna dengan
hal. 687)
rasa garam yang
menyejukkan

Kelarutan :
1 dalam 2,7 air; 1
dalam 1,4 air mendidih;
1 dalam 100 alkohol; 1
dalam 8 gliserol

pH:
4,6 6,0

Stabilitas :
Injeksi amonium
klorida harus disimpan
pada temperatur
40C; pembekuan
harus dihindari.
Larutan NH4Cl
mungkin mengkristal
ketikaa terekspos oleh
temperatur rendah.
Apabila terjadi
kristalisasi, larutan
injeksi harus
dihangatkan hingga
suhu ruang pada water
bath pada saat akan
digunakan

OTT :
Alkalisis, karbonat
alkali tanah, timah, dan
garam perak

Penyimpanan:
Dalam wadah kedap
udara
Zat Tambahan

Nama zat Fungsi zat Sifat fisika kimia Sterilisasi


aditif
Aqua Pembawa Pemerian: cairan jernih, tidak Didihkan 30
proinjeksi berwarna; tidak berbau; menit(FI V
(FI V hal 64) hal 1359)
Stabilitas: uji yang tertera pada
uji keamanan hayati (FI V hal
64)

Wadah dan Penyimpanan :


Dalam wadah dosis tunggal,
dari kaca atau plastic, tidak
lebih besar dari 1 liter. Wadah
kaca sebaikny dari kaca tipe I
atau tipe II. (FI V hal 64-65)
B. Teknologi Farmasi

Infus intravenous (infudabilia) adalah sediaan steril berupa larutan atau


emulsi, bebas pirogen dan sedapat mungkin dibuat isotonis terhadap darah,
disuntikkan langsung ke dalam vena dalam volume relatif banyak. Emulsi dibuat
dengan air sebagai fase luar. Diameter fase dalam tidak lebih dari 5 m, kecuali
dinyatakan lain, infus intravenous tidak diperbolehkan mengandung bakterisida
dan zat dapar. Larutan untuk infus intravenous harus jernih dan praktis bebas
partikel. Emulsi infus intravenous setelah dikocok harus homogen dan tidak
menunjukkan pemisahan fase (Farmakope Indonesia III hal 12). Larutan
intravena volume besar adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena dan dikemas
dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 mL.
Pemberian larutan secara intravena merupakan rute pemberian cairan obat
dalam jumlah besar yang akan terdistribusi (terdispersi) dengan cepat pada
keseluruhan tubuh, agar dapat dicapai efek terapeutik dengan cepat. Kecepatan
infusi dapat dikendalikan untuk menetapkan dan menjaga kadar obat yang
diperlukan dalam darah melalui pompa kecepatan pemberian obat dapat
disesuaikan dengan cara mengontrol kecepatan pemberian obat secara tepat sesuai
dengan kebutuhan. Perlu diingat pemberian obat secara intravena ini dapat
menghilangkan mekanisme pelindungan tubuh dan reaksi yang tidak diiginkan
pada pemberiaan pemulaan (onset) yang mungkin terjadi disebabkan oleh
beberapa hal dan dapat berlangsung secara cepat seperti halnya efek keuntungan
pada pemberian obat infus. (Sediaan farmasi steril hal 174).

Pemberian cairan melalui infus adalah pemberian cairan yang diberikan


pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan atau nutrisi yang berat. Tindakan
ini membutuhkan kesterilan yang tinggi mengingat langsung berhubungan dengan
pembuluh darah. Pemberian cairan melalui infus dengan memasukkan ke dalam
vena pembuluh darah pasien diantaranya vena lengan (vena sefalikabasalika dan
mediana kubiti), pada tungkai (vena sefana) atau vena yang ada dikepala, seperti
vena temporalis frontalis (khusus untuk anak-anak).
Persyaratan infus intravena antara lain: (R.Voight hal 462)
a. Sesuainya kandungan bahan obat yang dinyatakan dalam etiket dan yang ada
dalam sediaan, tidak terjadi pengurangan efek selama penyimpanan akibat
perusakan obat secara kimia dan sebagainya.
b. Penggunaan wadah yang cocok, yang tidak hanya memungkinkan sediaan
tetap steril tetapi juga mencegah terjadinya interaksi antara bahan obat dan
material dinding wadah.
c. Tersatukan tanpa terjadi reaksi. Untuk itu beberapa faktor yang paling
menentukan adalahbebas kuman, bebas pirogen, bebas pelarut yang secara
fisiologis tidak netral, bebas bahan melayang, isohidris.
d. Keuntungan sediaan ini adalah dapat digunakan untuk pemberian obat agar
bekerja lebih cepat dalam keadaan gawat darurat, untuk pasien yang dalam
kondisi tidak sadar atau tidak dapat menerima obat secara oral, dan
penyerapan serta absorpsi yang dapat diatur. Sedangkan kerugiannya adalah
terdapat kemungkinan komplikasi seperti emboli udara, hipersensitivitas, dll.
Pemakaian sediaan lebih sulit dan tidak disukai oleh pasien, obat yang telah
diberikan secara intravena tidak dapat ditarik lagi, lebih mahal daripada
bentuk sediaan non steril karena ketatnya persyaratan yang harus dipenuhi
(steril, bebas pirogen, jernih, praktis bebas partikel).

C. Alasan Pemilhan Bahan


1. H2O2 digunakan untuk membebaskan pirogen dalam sediaan infus karena
syarat sediaan infus harus bebas pirogen
2. Aqua Pro Injeksi dipilih sebagai pelarut untuk melarutkan bahan-bahan
yang digunakan dan juga sebagai pelarut yang dapat membawa zat aktif
masuk kedalam tubuh.
3. Dibuat sediaan infuse intravena berisi larutan NH4Cl dimana ion ion sangat
penting dalam komposisi cairan tubuh. Elektorlit tersebut diformulasikan
dalam bentuk sediaan infuse intravena agar efek terapeutik dapat segera
tercapai karena penghantaran ke tempat target berlangsung cepat. Selain itu,
kecepatan pemberian dapat dikontrol sehingga efek terapeutik dapat
dipertahankan maupun dimodifikasi, serta pada keadaan gawat, pemberian
obat lewat intravena sangat tepat karena penempatan obat langsungke
sirkulasi darah sehingga obat bekerja dengan cepat.
D. Farmakologi
Sifat pembentuk asam pada amonium klorida merupakan hasil dari disosiasi
garam dari kation amonium dan anion klorida. Pada pasien dengan funghsi hati
normal, kation amonium dikonversi menjadi urea oleh hati dan kation hidrogen
dilepaskan yang mana akan bereaksi dengan ion bikarbonat untuk membentuk
air dan karbondioksida. Anion klorida akan bergabung dengan basis cairan
ekstraseluler , yang akan menurunkan kadar basa dalam tubuh.

Farmakodinamik
Amonium klorida diabsorbsi baik dan cepat pada saluran cerna. Amonium
klorida dimetabolisme pada hati dengan membentuk urea dan asam hidoklorida.
Farmakokinetik
Distribusi : Amonium klorida setelah diabsorbsi akan diedarkan oleh darah ke
seluruh bagian tubuh
Metabolisme : Amonium klorida dimetabolisme pada hati untuk membentuk
urea dan asam hidroklorida
Ekskresi : Setelah efek mencapai puncaknya, amonium klorida akan dieliminasi
oleh ginjal melalui urin dengan kecepatan yang sama dengan absorpsi
Indikasi
Sebagai sumber asam dan pengganti cairan tubuh yang hilang
Kontraindikasi
Pada pasien dengan penyakit hati atau ginjal
Efek samping
Pemberian amonium klorida dalam dosis besar dapat menyebabkan mual,
muntah, dahaga, sakit kepala, dan dapat mengakibatkan asidosis serta
hipokalemia.
Interaksi Obat
Infus amonium klorida dapat berinteraksi dengan obat amfetamin,
dekstroamfetamin, diklorfenamid, lisdeksamfetamin, metamfetamin,
metilendioksiamfetamin. Penggunaan bersamaan dengan obat-obat tersebut
harus dipantau ketat.
IV. Formula
A. Formula Rujukan
1. Drug Information 88 halaman 1385
NH4Cl 26,75%
(5 mEq of NH4+ and Cl- / ml)

2. Martindale 28th Edition halaman 687


NH4Cl 2%
Aqua pro injeksi ad 500 ml

B. Formula Jadi
Menurut Martindale 28th Edition halaman 687
Tiap 500 ml mengandung :
NH4Cl 2%
Aqua pro injeksi ad 500 ml

Perhitungan
Kesetaraan mEq : 1 g NH4Cl ~ 18,26 mEq Cl
10 g Cl ~ 18,69 mEq/L

Dibuat 2 botol infus @ 500 ml :


V = (v x n) + [10% (v x n)]
= (500 ml x 2) + [10% (500 ml x 2)]
= 1100 ml

NH4Cl = 2% x 1100 ml = 22 g

Tonisitas
V = 2 % x E NH4Cl
= 2 % x 1,12 %
= 2,24 % (hipertonis)
Larutan isotonis (0,9%) tetesan normalnya adalah 40 tetes/menit.
Hipertonis 2,24 %,maka memiliki tetesan permenitnya adalah :
0,9% / 2,24 % x 40 tetes/menit = 16,07 tetes/menit ~16 tetes/menit

Penimbangan
NH4Cl = (2 % x 1100 mL) + (5% x 2 % x 1100 mL)
= 22 g + 1,1 g
= 23,1 g

H2O2 = 0,1% x 1100 ml


= 1,1 g

Norit = 0,1% x 1100 ml


= 1,1 g

Data penimbangan

Nama Bahan
NH4CL
H2O2
Norit
V. Alat dan Bahan
A. Alat
Beaker glass Gelas Ukur
Corong glass BatangPengaduk
Erlenmeyer Spatula
Pipet tetes Pinset
Botol Infus Kaca Arloji
Kertas Saring

B. Bahan
NH4CL
H2O2
Norit

C. Sterilisasi Alat dan Sediaan

No. Alat dan Bahan Cara Sterilisasi

Aqua Steril Pro Injeksi Didihkan 30


1.
menit(FI V hal 1359)
o
Beaker, corong,botol Oven 150 C , 1
infus, Erlenmeyer jam(FI III hal18 )
2. o
Oven 250 C , 30
menit(FI V hal 1407)
Gelas Ukur, kertas Autoklaf 250 F ,15
3.
saring menit(FI V hal 1618)
Batang pengaduk, Rendam dalam
spatula, pinset, kaca alcohol selama 30
4.
arloji, penjepit menit(FI V hal 1359)
besi,pipet tetes
5. Karet pipet, karet tutup Rebus dalam air
botol mendidih Selama 30
menit(FI V hal 1359)
Sterilisasi sediaan Autoklaf 250 F,15
6.
infuse menit(FI V hal 1362)

Cara Pembuatan (Sterilisasi Akhir : Autoklaf)


1. Disiapkan alat dan bahan. Dikalibrasi botol infus 500 ml
2. Dibuat aqua p.i. (aquadest dipanaskan sampai mendidih, dibiarkan mendidih
selama 30 menit), ditambahkan H2O2, dipanaskan 15 menit lalu didinginkan
(dispensasi) (Pembuatan Aqua p.i. (FI III hal 14))
3. Disterilisasi semua alat dengan dengan cara sterilisasi yang sesuai
4. Ditimbang bahan-bahan yang diperlukan
5. Dilarutkan Amonium Klorida dan Norit masing-masing dengan aqua p.i. bebas
pirogen hingga larut
6. Dicek pH larutan 4,6-6,0 lalu jika telah sesuai ditambahkan dengan aqua p.i. bebas
pirogen ad 1100 ml
7. Ditambahkan carbon absorben, lalu dipanaskan selama 15 menit sambil diaduk
(jangan sampai mendidih, sekitar 50-60C)
8. Disaring larutan dengan dua lapis kertas saring atau sampai jernih
9. Dimasukkan ke dalam wadah botol infus sampai tanda (500 ml)
10. Ditutup dengan karet penutup steril, lalu ditutup lagi dengan kap infus
11. Diuji IPC (uji kejernihan dan uji keseragaman volume)
12. Disterilkan dalam autoklaf pada suhu 121C selama 15 menit
13. Diuji QC (uji kejernihan, keseragaman volume, sterilitas, pirogenitas, dan
penetapan kadar, Uji pH)
14. Botol infus beri etiket, dikemas dalam dus, lalu diserahkan
VI. Evaluasi
A. In Process Control
1. Uji kejernihan (Farmakope Indonesia Edisi V Hal 1521)
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar dengan diameter dalam
15 25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari kaca netral.Bandingkan
larutan uji dengan larutan suspensi padanan yang dibuat segar, setinggi 40 mm.
Bandingkan kedua larutan di bawah cahaya yang terdifusi 5 menit setelah pembuatan
suspensi padanan dengan tegak lurus ke arah bawah tabung menggunakan latar
belakang hitam. Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I
dapat dibedakan dari air dan suspensi padanan II dapat dibedakan dari suspensi
padanan I.
Syarat : Larutan dianggap jernih apabila sama dengan air atau larutan yang digunakan
dalam pengujian dengan kondisi yang dipersyaratkan, atau jika opalesan tidak lebih
dari suspensi padanan
.
2. Uji pH ( Farmakope Indonesia Edisi V Hal 1563)
Harga pH adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (pH meter) yang
sesuai, yang telah dibakukan sebagaimana mestinya, yang mampu mengukur harga pH
sampai 0,02 unit pH menggunakan elektroda indikator yang peka, elektroda kaca, dan
elektroda pembanding yang sesuai. Skala pH ditetapkan dengan persamaan sebagai
berikut :
()
pH = pHs +

3. Uji keseragaman volume (FI V hal 1570)


Pilih salah satu wadah atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih, 3 wadah
atau lebih bila volume 3 ml atau kurang. Ambil isi tiap wadah dengan alat suntik
hipodemik kering berukuran tidak lebih dari tiga kali volume yang akan diukur dan
dilengkapi dengan jarum suntik nomor 21, panjang tidak kurang dari 2,5 cm. Keluarkan
gelembung udara dari dalam dalam jarum dan alat suntik dan pindahkan isi dalam alat
suntik, tanpa mengosongkan bagian jarum, kedalam gelas ukur kering volume tertentu
yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya
40b% volume dari kapasitas tetera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur menunjuk
volume yang ditampung, bukan yang dituang). Cara lain, isi alat suntik dapat
dipindahkan ke dalam gelas piala kering yang telah ditara, volume dalam ml diperoleh
dari hasil perhitungan berat dalam g dibagi bobot jenis cairan. Isi dari dua atau tiga
wadah 1 ml atau 2 ml dapat digabungkan untuk pengukuran dengan menggunakan
jarum suntik kering terpisah untuk mengambil isi tiap wadah.Isi dari wadah 10 ml atau
lebih dapat ditentukan dengan membuka wadah, memindahkan isi secara langsung ke
dalam gelas ukur atau gelas piala yang telah ditara.
Syarat : Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah bil diuji satu per
satu, atau bila wadah volume 1 ml dan 2 ml, tidak kurang dari jumlah volume wadah
yang tertera pada etiket bila isi digabung.

B. Quality Control
1. Uji Kejernihan (Farmakope Indonesia Edisi V Hal 1521)
Lakukan penetapan menggunakan tabung reaksi alas datar dengan diameter dalam
15 25 mm, tidak berwarna, transparan dan terbuat dari kaca netral. Bandingkan larutan
uji dengan larutan suspensi padanan yang dibuat segar, setinggi 40 mm. Bandingkan
kedua larutan di bawah cahaya yang terdifusi 5 menit setelah pembuatan suspensi
padanan dengan tegak lurus ke arah bawah tabung menggunakan latar belakang hitam.
Difusi cahaya harus sedemikian rupa sehingga suspensi padanan I dapat dibedakan dari
air dan suspensi padanan II dapat dibedakan dari suspensi padanan I.
Syarat : Larutan dianggap jernih apabila sama dengan air atau larutan yang digunakan
dalam pengujian dengan kondisi yang dipersyaratkan, atau jika opalesan tidak lebih dari
suspensi padanan.

2. Uji Sterilitas ( Farmakope Indonesia Edisi V Hal 1359)


Menggunakan teknik penyaringan membran :
a. Bersihkan permukaan luar botol, tutup botol dengan bahan dekontaminasi yang
sesuai, ambil isi secara aseptik.
b. Pindahkan secara aseptik seluruh isi tidak kurang dari 10 wadah melalui tiap
penyaring dari 2 rakitan penyaring. Lewatkan segera tiap spesimen melalui penyaring
dengan bantuan pompa vakum/tekanan.
c. Secara aseptik, pindahkan membran dari alat pemegang, potong menjadi setengah
bagian (jika hanya menggunakan satu). Celupkan membran atausetengah bagian
membran ke dalam 100 ml media inkubasi selama tidak kurang dari 14 hari.
d. Lakukan penafsiran hasil uji sterilitas.

3. Uji Keseragaman Volume (FI V hal 1570)


Pilih salah satu wadah atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih,3 wadah
atau lebih bila volume 3 ml atau kurang. Ambil isi tiap wadah dengan alat suntik
hipodemik kering berukuran tidak lebih dari tiga kali volume yang akan diukur dan
dilengkapi dengan jarum suntik nomor 21, panjang tidak kurang dari 2,5 cm. Keluarkan
gelembung udara dari dalam dalam jarum dan alat suntik dan pindahkan isi dalam alat
suntik, tanpa mengosongkan bagian jarum, kedalam gelas ukur kering volume tertentu
yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya
40% volume dari kapasitas tetera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur menunjuk
volume yang ditampung, bukan yang dituang). Cara lain, isi alat suntik dapat
dipindahkan ke dalam gelas piala kering yang telah ditara, volume dalam ml diperoleh
dari hasil perhitungan berat dalam g dibagi bobot jenis cairan. Isi dari dua atau tiga
wadah 1 ml atau 2 ml dapat digabungkan untuk pengukuran dengan menggunakan
jarum suntik kering terpisah untuk mengambil isi tiap wadah.Isi dari wadah 10 ml atau
lebih dapat ditentukan dengan membuka wadah, memindahkan isi secara langsung ke
dalam gelas ukur atau gelas piala yang telah ditara.
Syarat : Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah bil diuji satu per
satu, atau bila wadah volume 1 ml dan 2 ml, tidak kurang dari jumlah volume wadah
yang tertera pada etiket bila isi digabung.

4. Uji Pirogenitas (FI V hal 1412)


Lakukan uji dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen dan dengan kondisi
lingkungan yang sama dengan ruang pemeliharaan hewan, dan bebas dari gangguan yang
menimbulkan kegelisahan. Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian.Minum
dibolehkan pada setiap saat, tetapi terbatas pada saat pengujian. Jika termistor pengukur
suhu rectum digunakan untuk pengujian,kelinci diletakan dalam kotak penyekap yang
dapat menahan kelinci dengan leher yang longgar sehingga dapat diukur dengan bebas.
Tetapkan suhu control dari tiap kelinci tida lebih dari 30 menit sebelum penyuntikan
larutan uji. Suhu tersebut digunakan sebagai awal untuk penetapan setiap kenaikan suhu
yang dihasilkan dari penyunyikan larutan uji. Dalam setiap kelompok kelinci uji, gunakan
kelinci yang mempunyai perbedaan suhu control antara satu dengan yang lainnya tidak
lebih dari 1, dan suhu control setiap kelinci tidak lebih dari 39,8. Kecuali dinyatakan
lain pada masing-masing monografi, suntikkan 10 ml larutan uji per kg berat badan,
kedalam vena telinga setiap 3 kelinci dan penyuntikkan dilakukan dalam waktu 10 menit.
Larutan uji berupa sediaan yang perlu dikonstitusi seperti yang tertera pada masing-
masing monografi dan disuntikkan sesuai dosis tersebut. Untuk uji pyrogen dari alat atau
perangkat injeksi, gunakan cucian atau bilasan permukaan yang kontak dengan bahan
yang diberikan secara parenteral, tempat penyuntikan jaringan tubuh pasien. Semua
larutan uji harus terjamin bebaskontaminasi.Lakukan penyuntikan setelah larutan uji
dihangatkan pada suhu 37 2. Rekam suhu berturut-turut antara jam ke-1 dan jam ke-3
setelah penyuntikan dengan selang waktu 30 menit.
Syarat : Catatan injeksi yang mengandung natrium klorida lebih dari 0,9%, encerkan
dengan Air untuk Injeksi hingga kadar 0,9%.

5. Uji Endotoksin Bakteri (FI V hal 918, CPOB JILID II Hal 730)
Prosedur
Aturan umum Untuk mencegah kontaminasi mikroba, seluruh tahap pengujian harus
dilakukan secara aseptis.Pada saat pengujian harus diusahakan agar area bebas dari
getaran.
Persiapan Larutan Endotoksin Encerkan vial Control Standard Endotoksin (5000
EU/vial) dengan 5 ml LAL Reagent Water sehingga diperoleh konsentrasi 1000 EU/ml
(Larutan A, lihat Butir 5.2). Pipet 1,0 ml Larutan A dan encerkan dengan LAL Reagent
Water hingga 10 ml (Larutan B). Pipet 1,0 ml Larutan B dan encerkan dengan LAL
Reagent Water hingga 10 ml (Larutan C). Pipet 0,25 ml Larutan C dan encerkan dengan
LAL Reagent Water hingga 10 ml (larutan D = Larutan stok 0,25 EU/ml).
Prosedur Kerja
Keluarkan 3 buah tabung Limulus Amebocyte Lysate 0,125 EU/ml, LAL Reagent
Water dan Larutan Endotoksin berkonsentrasi 1000 EU/ml dari lemari pendingin.
Diamkan 30 menit hingga temperaturnya sama dengan temperatur kamar (25 -
30C)Tambahkan ke dalam tabung Limulus Amebocyte Lysate 0,125 EU/ml masing-
masing: - 0,2 ml sampel WFI - 0,2 ml LAL reagent water (sebagai kontrol negatif) - 0,2
ml Larutan Endotoksin berkonsentrasi1000 EU/ml 0,25 EU/ml (sebagai kontrol positif)
secara aseptis di bawah LAF. Goyang tabung selama 20 hingga 30 detik agar tercampur
homogen. Masukkan tabung ke dalam inkubator atau penangas air bersuhu 37 1C.
Inkubasi atau pertahankan suhu tersebut. pada selama 1 jam. Amati tabung yang berisi
sampel, kontrol positif dan negatif. . Catat hasilnya pada buku Log Pengujian
Endotoksin(CPOB 2014 JILID II Hal 730)
Syarat : Mengandung tidak lebih dari 0,5 unit Endotoksin FI per ml (FI V hal 91)

6. Penetapan Kadar (FI IV hal 918)


Pipet sejumlah volume injeksi setara dengan lebih kurang 90 mg natrium klorida,
masukkan kedalam wadah porselen dan tambahkan 140 ml air dan 1 ml diklorofluoresein
LP. Campur dan titrasi dengan perak nitrat 0,1 N LV, sehingga perak klorida
menggumpal dan campuran merah muda lemah

VI. Rancangan Kemasan


A. Wadah : botol kaca
B. Etiket Kotak : Terlampir
C. Brosur : Terlampir

VII.Pustaka
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2014. Farmakope Indonesia, edisi V, Jakarta.
Reynold, James E.F .1982.Martindale the Extra Pharmacopoeia. Twenty-eighth Edition.
London ,The Pharmaceutical Press.
Voight, R. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta , Gajah Mada University
Press.
Turco S., Robert E King, 1979. Steril Dosage Forms, Second Edition: Lea & Febiger,
Philadelphia
Anonim Martindale XXVIII The Pharmaceutical. London, Press.
Setiabudy, Rianto. 2012. Farmakologi dan Terapi. Jakarta, Balai penerbit FKUI.