Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Data Hasil Penyempurnaan Tahan Kusut Dengan Variasi Jenis dan Konsentrasi Resin serta
Suhu Pemanasawetan Pada Kain Kapas, Rayon, Poliester/Kapas (T/C)
Panjang Kekuatan CRA
Jenis Jenis Konsentrasi Suhu Gramasi Kekakuan
Lengkung Tarik (derajat
Resin Kain Resin Curing (g/m2) (mg.cm)
(CMS) (kg) )
Kapas - 99 1,2 17,11 126
Blanko -
Rayon - 135 1,6 22,25 55,29 146,5
Kapas
99 2,4 15 136,8 109,5
predrying
Kapas tanpa
100 2,51 19 68 89,5
predrying
80 g/L 160C
Rayon
136 2,01 15,25 108 92,25
predrying
Rayon tanpa
Resin Reaktan 140 1,7 15,75 67,62 90,5
predrying
(Sumitex NS-
Kapas
18) 100 2,3 11,7 121,67 107,5
predrying
Kapas tanpa
113 2,2 12 119,78 106,5
120 predrying
160C
g/L Rayon
142 1,9 7,7 65,34 127,5
predrying
Rayon tanpa
150 2,2 8,75 58,98 119,5
predrying
Kapas
103 2,09 6,5 156,25 83,25
predrying
Kapas tanpa
100 2,65 9,5 94,04 58
predrying
80 g/L 160C
Rayon
140 1,69 11,5 186,1 95
Resin predrying
Rayon tanpa
Melamin- 127 2,01 11,75 103,12 61,25
predrying
Formaldehid
Kapas
(Sumitex MK- 104 2,7 7,5 204,70 84,5
predrying
3) Kapas tanpa
103 2,3 5 125,32 84,25
120 predrying
160C
g/L Rayon
133 1,7 8 159 98,25
predrying
Rayon tanpa
144 1,6 11,5 96,56 90
predrying

Keterangan :
Kekuatan tarik (kg) = beban maksimal yang dapat ditahan kain akibat penarikan saat
putus.
100 x 100
Gramasi (g/m2) = berat kain setelah penganjian ukuran 10x10 cm x
10 x 10
Panjang lengkung (CMS) = panjang kain yang melengkung karena beratnya pada suatu
pemanjang tertentu.
Kekakuan (mg.cm) = 0,1 x gramasi kain setelah penganjian x (panjang lengkung)3

4.2. Pembahasan

4.2.1. Tahan Kusut

Setelah melakukan praktikum penyempurnaan anti kusut terhadap kain kapas dan
rayon didapatkan hasil evaluasi tahan kusut menggunakan CRA (Crease Recovey Angel),
didapatkan hasil derajat kekusutan dengan pemakaian resin reaktan (sumitex NS-18) paling
baik yaitu pada kain rayon yang dikerjakan tanpa proses predrying dengan penggunaan
resin konsentrasi 120g/L. Resin reaktan cenderung untuk melakukan reaksi dengan hidroksil
group dari selulosa membentuk ikatan silang sehingga pada serat rayon yang memiliki lebih
banyak gugus hidroksil akan lebih banyak bereaksi atau mengadakan ikatan silang dengan
resinnya. Selain itu jumlah konsentrasi resin berpengaruh terhadap banyaknya resin yang
mengisi bagian amorf dan juga berpolimerisasi yang menyebabkan ruang gerak rantai
molekul terbatas. Sedangkan pada hasil kain dengan pemakaian resin self cross linking
(sumitex MK-3) didapatkan hasil paling baik yaitu pada kain rayon dengan penggunaan resin
konsentrasi 120 g/L. Resin melamin-formaldehid memiliki ukuran yang sangat kecil sehingga
dapat menerobos masuk kebagian amorf dari selulosa kemudian akan membentuk polimer
tiga dimensi yang mengisi ruang antar rantai molekul pada bagian amorf tersebut dan
mencegah pergeseran relatif rantai molekul dengan cara menutup ruang geraknya
(blocking). Dengan adanya blocking tersebut maka daerah yang mengalami gaya tekuk
akan berkurang.

Jika dilihat dari jenis kain yang digunakan yaitu kain kapas dan kain rayon. Kain yang
menunjukkan hasil paling baik adalah kain rayon dengan menggunakan Resin Sumitex NS-
18 dan Sumitex MK-3. Hal ini dikarenakan MR Rayon 12-13% sehingga memiliki
kemampuan menyerap air lebih baik dibandingkan kapas yang MRnya 8%. Sehingga,
semakin banyak resin yang terserap pada bahan dan mengisi bagian amorf dari serat
selulosa akibatnya serat rayon memiliki ketahanan kusut yang baik.
4.2.2. Kekakuan

Setelah melakukan pengujian kekakuan pada kain kapas dan kain rayon menggunakan
Resin Sumitex NS-18 dan umitex MK-3 dengan pemakain resin anti kusut sebanyak 80 g/L
dan 120 g/L pada suhu 160oC diperoleh hasil kekakuan pada hasil kekakuan pada masing-
masing contoh uji yang dikerjakan. Pada penggunaan resin anti kusut Sumitex NS-18 dan
resin Sumitex MK-3 kekauan yang paling bagus dengan penggunaan resin anti kusut
sebanyak 120 g/L dengan suhu pengerjaan 160oC. Hal tersebut dikarenakan factor
penggunaan resin anti kusut mempengaruhi kekakuan bahan. Semakin banyak penggunaan
resin anti kusut maka kain semakin kaku. Kekakuan kain disebabkan karena adanya reaksi
ikatan silang (cross linking) dan pengisian bagian-bagian amorf serat. Pengisian gugusan
amorf menyebabkan sulitnya rantai-rantai molekul terorientasi. Hal ini menyebabkan rantai-
rantai molekul serat lebih berikatan satu sama lain dan serat menjadi kaku dan kompak.
Adanya susunan serat untuk yang demikian ini mengurangi kecenderungan susunan-
susunan serat untuk saling menggelincir.

Faktor lain yang mempengaruhi kekakuan adalah penggunaan jenis resin, dimana resin
dengan hasil kekakuan paling tinggi adalah jenis resin self cross linking (Sumitex MK-3). Hal
ini dikarenakan pada jenis ini akan membentuk polimer tiga dimensi yang mengisi ruang
antar rantai molekul pada bagian amorf tersebut dan mencegah pergeseran relatif rantai
molekul dengan cara menutup ruang geraknya (blocking) sehingga kain menjadi lebih kaku.
Selain itu factor lain yang sangat berpengaruh terhada hasil kekakuan adalah proses
pengerjaan predrying dan tanpa predrying. Dari variasi tersebut didapatkan hasil bahwa
dengan adanya proses predrying kekakuan pada kain akan lebih tinggi karena pada
predrying terjadi proses pengeringan untuk mengurangi kadar air dalam kain sehingga pada
proses curing dengan suhu 160oC akan terjadi proses polimerisasi yang optimum dimana
suhu tersebut benar-benar digunakan untuk proses polimerisasi pada resin. Sedangkan jika
tanpa proses predrying kadar air yang terdapat pada kain masih tinggi sehingga pada awal
proses curing perlu waktu untuk mengurangi kadar air terlebih dahulu sebelum resin
berpolierisasi akibatnya proses polimerisasi tidak berjalan sempurna.

4.2.3. Kekuatan Tarik

Kekuatan tarik adalah beban maksimal yang dapat ditanggung oleh sebuah kain akibat
adanya tarikan sampai putus. Hasil pengujian anti kusut dengan menggunakan resin glioksal
(Sumitex NS-18) menunjukkan kekuatan tarik paling tinggi adalah kain kapas dengan
konsentrasi resin sebesar 80 g/L. Hal ini dikarenakan resin jenis cross linking sehingga
cenderung akan membentuk polimer polimer pendek dan banyak berikatan silang dengan
molekul serat selulosa dan mengisi ruang ruang yang kosong pada rantai molekul serat
sehingga kain menjadi stabil dan karena resin berikatan dengan serat sehingga ikatan VDW
lebih tinggi yang menyebabkan kekuatan tariknya lebih baik. Kekuatan tarik resin melamin
formaldehid lebih rendah dibandingkan dengan resin glioksal karena kekuatan ikatannya
lemah hanya sebatas tiga dimensi dibandingkan dengan ikatan silang secara kimia pada
resin glioksal.

Konsentrasi resin juga berpengaruh terhadap kekuatan tarik pada kain dimana semakin
tinggi konsentrasi yang digunakan maka kekuatan tariknya semakin rendah. Hal ini
dikarenakan semakin tinggi konsentrasi resin yang dapat mengisi ruang antar molekul maka
semakin kuat ikatan tiga dimensi yang dapat terbentuk dan meningkatkan kekuatan tariknya.
Selain itu, gugus-OH penyebab kekusutan yang telah tergantikan oleh resin akan
menyebabkan berat molekul serat menjadi lebih tinggi sehingga mampu menahan beban
hingga batas maksimal dan saat kain sudah tidak mampu menahan beban maka pemutusan
puntiran pada benang terjadi dengan cepat.