Anda di halaman 1dari 6

Definisi Agama

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia

Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada
Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan
manusia serta lingkungannya.

Sigmun Freud (1856-1939)

Agama adalah satu respon manusia terhadap ketidak berdayaan mereka untuk mengontrol
dunia, merupakan kesimpulan yang mengandung kebenaran.

Konsep Agama
Sebenarnya, kalimat agama bukan sekedar arti dalam terminologi kontemporer, karena jika
diterjemahkan, yang muncul adalah agama Islam, Kristen, Hindu, dan sebagainya. Kita hanya
terfokus memperbandingkan tanpa paham hakikat dari Islam. Semua agama akan bermanfaat
bagi orang yang mencari Tuhannya, sedangkan bagi yang tidak, hanya akan jadi hiasan semata.








19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Al-Islam. tiada berselisih orang-
orang yang telah diberi Al Kitab. kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka
Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Q.S. Ali-Imran : 19)

Agama, Ad-Diin yang diridhai, yang ada di sisi Allah Taala adalah Al-Islam.
Islam berarti berserah diri. Dalam istilah tasbih, tawakkal, dan Islam terdapat keserupaan arti
yaitu berserah diri.

Maksud berserah diri adalah bekerja keras menemukan kehendak-Nya kemudian mengalir
(ber-tasbih) dalam kehendak-Nya. Jiika pasrah dengan tidak berbuat apa-apa, kita hanya
berserah diri kepada syahwat yang berserah pada kemalasan. Sangat berbeda antara pasrah
dan berserah diri.








62. Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-
orang Shabiin. siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari
kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada
kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Q.S Al-Baqarah : 62)

Dalam ayat di atas, disebutkan bahwa sesungguhnya di antara orang Yahudi, Nasrani, dan
Shabiin, ada yang beriman dan beramal shaleh. Jika orang tersebut ber-agama karena untuk
mencari Kebenaran Sejati yang terdapat dari agamanya, sesungguhnya mereka juga
termasuk orang beriman, yang mungkin bisa disebut shalihiin. Karena Allah Taala tidak melihat
makhluk dari Agama atau Ajaran yang dia pegang, tetapi pada Qalb orang tersebut.

Jika seseorang ber-Agama lain, tetapi dia memang bertujuan untuk mencari siapa Tuhannya
yang sejati, dan berusaha mencari kebenaran, dan menyerahkan dirinya kepada tuhan yang
satu, secara hakikat dia lebih Islam, bahkan lebih daripada seseorang yang ber-Agama Islam
tetapi tidak menyadari hakikat dari setiap ibadah yang dia lakukan.

Jika Allah hanya melihat dari Bungkus luar makhluk-Nya, hilanglah sifat Maha Adil pada diri-
Nya, sedang dia adalah Dzat Yang Maha Adil, dan dia mengetahui apa yang berada pada Qalb
hamba-Nya. Sehingga betapa buruklah orang-orang yang meng-kafir kan orang lain hanya
karena berbeda pemahaman.




1. orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka)
tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata,
(Q.S. Al-Bayyinah : 1)

Seperti pada ayat di atas, orang orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik.

Apa itu ahli kitab? Ahli kitab adalah orang-orang yang telah diturunkan kitab kepada mereka.
Termasuk dari golongan kaum nabi Muhammad SAW. Ummat nabi Muhammad termasuk
orang-orang ahli kitab, karena mereka telah mendapatkan Al-Quran sebagai pedoman hidup
mereka.

Sungguh naif orang-orang yang mengaku ummat nabi Muhammad, dan mengkafirkan orang
lain tanpa memahami arti kafir itu sendiri.





171. dan perumpamaan orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil
binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta,
Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (Q.S. Al-Baqarah : 171)

Berdasarkan ayat di atas, orang-orang kafir adalah orang yang tuli, bisu dan buta. Tapi apakah
mereka tuli, bisu dan buta secara fisik?

Tentu tidak, tetapi hati merekalah yang tuli, bisu dan buta. Sehingga mereka tidak bisa
menerima petunjuk, karena hati mereka telah terkunci.







6. Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak
kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

7. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup,
dan bagi mereka siksa yang Amat berat. (Q.S. Al-Baqarah : 6-7)

Dan setiap yang tidak mendapat petunjuk, maka mereka termasuk orang-orang yang sesat.







50. Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka
hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). dan siapakah yang lebih sesat daripada orang
yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. sesung-
guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S. Al-Qashash : 50)

Orang yang sesat adalah orang-orang yang mengikuti hawa nafsu mereka.







23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya
dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. dan Allah telah mengunci mati pendengaran
dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan
memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran? (Q.S. Al-Jaatsiyah : 23)

Jika demikian, bagaimana definisi orang-orang yang mendapat petunjuk dan terlepas dari
kesesatan?







16. dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita
kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang
lurus. (Q.S. Al-Maidah : 16)

Muncul kembali pertanyaan, apa itu Jalan yang Lurus?






6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus,

7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan)
mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (Q.S. Al-Fatihah : 6-7)

Jalan yang lurus, yaitu jalan orang-oranga yang Dia beri nikmat atas mereka.

Muncul kembali pertanyaan, siapa mereka yang diberi nikmat?







69. dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin,
orang-orang yang syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.

Terlihat sekali bahwa isi Al-Quran sebenarnya tidak pernah membicarakan tentang orang lain,
tetapi tentang aspek ruhani dalam diri kita sendiri, dengan berbagai perumpamaan dan
keadaan yang merupakan pencerminan kondisi diri. Setiap kandungan yang ada padanya adalah
kalimat Kebenaran, dan dalam Ad-Diin, mereka yang telah bertemu dengan Diri Sejati dan
memahami hakikat Al-Quran dan kehendak-Nya lah orang-orang yang telah benar-benar tegak
Ad-Diin nya.