Anda di halaman 1dari 5

2.5.

Tata Laksana

Dua strategi yang biasanya digunakan adalah:

1. Konservatif

Yaitu berupa rehabilitasi oleh ahli terapi suara (voice therapy) dan medikamentosa

dengan obat-obatan neurotropik. Terapi konservatif biasanya selama 6-12 bulan,

karena masih diharapkan dapat terjadi kompensasi dari plika vokalis yang sehat dalam

masa itu (Miller RH & Nemechek AJ, 2011). Suara dan pergerakan plika vokalis akan

kembali normal (spontaneous recovery) dalam waktu 1 tahun (Koufman JA, 2008).

Gambar 3.1 Gambaran paralise plika vokalis dan kompensasinya, dilihat dengan kaca

laringoskopi indirect

A. Paralise plika vokalis sebelah kiri

B. Plika vokalis yang sehat menyeberang kearah yang paralise ketika fonasi

2. Operatif

Prinsip utama dari tindakan bedah untuk paralise plika vokalis unilateral adalah

memindahkan posisi plika vokalis paralisis ke medial agar dapat digunakan oleh plika

vokalis yang sehat untuk menghasilkan getaran suara (Miller RH & Nemechek AJ,

2011). Tindakan bedah berupa:


Augmentasi plika vokalis

Augmentasi plika vokalis dapat dicapaidengan menyuntikkan bahan tertentu di

plikavokalis yang paralisis (palsy). Beberapamaterial yang dapat digunakan, yaitu

teflon, gelfoam, lemak, fasia, dsb (Kentjono WA, 2005).

Bedah kerangka laring

Disebut juga dengan laringoplasti,tiroplasti, atau laryngeal framework surgery

merupakan suatu teknik pembedahan untuk memperbaiki suara dengan merubah

tulang tulang rawan laring sebagai rangka dari plika vokalis dengan menggunakan

implan melaluijendela tiroid. Tujuannya adalah untuk merubah posisi atau

panjang dari plika vokalis. Isshiki membagi tiroplasti menjadi 4 tipe, yaitu:

medialisasi (tipe1), lateralisasi (tipe 2), relaksasi (tipe 3) dan peregangan (tipe 4)

(Miller RH & Nemechek AJ, 2011). Isshiki merekomendasikan penggunaan

tiroplasti tipe I untuk terapi paralisis aduktorplika vokalis unilateral. Berbagai

bahan dan cara telah dilakukan untuk membantu mempertahankan plika vokalis

berada dalam posisi di garis tengah saatfonasi. Pada awalnya untuk mengganjal

digunakan potongan kartilago tiroid yang didapatkan saat membuat lubang.

Namun hasilnya masih kurang memuaskan oleh karena kartilago tiroid yang

dipasang bentuknya segi empat dengan ketebalan yang sama sehingga tidak dapat

mendorong plika vokalis kearah medial secara optimal, terutama di bagian

posterior (Kentjono WA, 2005).


Gambar 3.2 Tiroplasti medialisasi dengan kartilago

Silastik (silikon keras) atau kartilago tambahan ini ditempatkan di bawah ujung

posterior lubang untuk lebih memedialisasikan plika vokalis di daerah itu.

Potongan kartilago tiroid yang diletakkan di tepi innerperichondrium ini

digerakkan kearah anterior dan posterior untuk menentukan posisi yang paling

optimal sehingga didapati suara yang paling nyaring. Bagian luar difiksasi dengan

benang nonabsorable. Selama pembedahan dilakukan monitoring posisi plika

vokalis dan rima glotis dengan laringoskop optik fleksibel dan video monitor.

Kelemahan cara ini yaitu terjadinya pergeseran atau rotasi dari kartilago yang

dipasang (Kentjono WA, 2005).

Gambar 3.3 Tiroplasti medialisasi dengan kombinasi

kartilago dan silastik


Perkembangan berikutnya yaitudi produksinya bahan dan desain berbeda untuk

implan, antara lain bahan implan dari silastik. Implan silastik yang banyak

digunakan buatan Montgomery. Implan telah tersedia dalam berbagai macam

bentuk dan ukuran. Pemasangannya mudah dan praktis. Operator hanya

melakukan pengukuran besarnya celah, lalu memilih implan yang sesuai

(Kentjono WA, 2005). Perkembangan yang terakhir yaitu ditemukannya bahan

implan dari expanded polytetrafluoroethylene (Gore-Tex). Bahan implan ini

berupa lembaran tipis dan lunak yang dapat dipotong-potong menjadi pita

panjang. Gore-Tex merupakan bahan implan yang biokompatibel, inert, tipis,

mudah dibentuk sesuai kebutuhan, lunak seperti fasia, mudah dipasang, reaksi

pembentukan jaringan ikat minimal, insiden adesi minimal, non fraying, dan

dapat disterilisasi ulang sampai 3 kali. Tingkat medialisasi yang optimal dapat

segera diperoleh hanya dengan menambah atau mengurangi bagian pita panjang

Gore-Tex saat insersi. Dengan bahan implan ini dilaporkan hasil perbaikan

kualitas suara yang baik sekali (Hoffman HT & Mc Culloch TM, 2014).

2.8.Komplikasi

Perubahan kualitas suara dan hilangnya proteksi terhadap saluran udara dapat menghasilkan batuk-

batuk yang parah dan aspirasi. Apabila sampai terjadi perubahan kualitas suara, biasanya

untuk kembali ke kondisi semula akan sangat sulit. Tindakan kordotomi posterior, endoskopi posterior, dan

aritenoidektomi total biasanya menyebabkan komplikasi seperti pembentukan granuloma, kondritis dari

arytenoid, pembentukan jaringan parut, kemungkinan aspirasi dan breathy sound (Jones NG,

2009).
2.7.Pencegahan

Tidak ada pencegahan yang spesifik pada paralisis plika vokalis, jangan menggunakan

suara secara berlebihan (Willat DJ & Stell PM, 2009).

2.8.Prognosis

Hasil dari terapi pada paralisis pita suara adalah sangat baik. Kebanyakan pasien dapat

kembali berbicara hampir normal dan bahkan normal dan dengan minimal atau tanpa limitasi

dari fungsi berbicara untuk kebutuhan berbicara sehari-hari. Tetapi untuk bernyanyi,

kemungkinan tidak akan bisa dengan sempurna, karena kemampuan pita suara sudah terbatas

(Willat DJ & Stell PM, 2009).