Anda di halaman 1dari 88

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Eliminasi BAB atau defeksi merupakan proses pembuangan sisa metabolisme tubuh yang
tidak terpakai.. Perubahan pada defekasi dapat menyebabkan masalah pada gastrointestinal
dan bagian tubuh lain, karena sisa sisa produk khusus atau racun. Pola defekasi bersifat
individual, bervariasi dari beberapa kali sehari sampai beberapa kali seminggu. Jumlah feses
yang dikeluarkanpun bervariasi jumlahnya setiap individu. Feses normalnya mengandung
75% air dan 25% materi padat. Feses normal berwarna coklat karena adanya stercobilin dan
uriobilin yang berasal dari bilirubin. Warna feses dapat dipengaruhi oleh bakteri Escherecia
coli. Flatus yang dikeluarkan orang dewasa selama 24 jam yaitu 7-10 liter flatus dalam usus
besar. Kerja mikroorganisme mempengaruhi bau feses. Fungsi usus tergantung pada
keseimbangan beberapa faktor, pola eliminasi dan kebiasaan masing masing orang berbeda.
(Berman, et.al.,2009).

Eliminasi urine merupakan suatu proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-
zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan
oleh tubuh. Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran cairan sebagai hasil filtrasi dari
plasma darah di glomerolus. Dari 180 liter darah yang masuk ke ginjal untuk di filtrasi, hanya
1-2 liter saja yang dapat berupa urine, sebagian bear hasil filtrasi akan diserap kembali di
tubulus ginjal untuk di manfaatkan oleh tubuh.

Diare (gastroenteritis) merupakan salah satu penyakit pencernaan yang di tandai dengan
konsistensi cair dengan atau tanpa darah dan dengan atau tanpa lendir (Ngastiyah, 2005
hal.224). diare adalah kondisi dimana terjadi frekuensi defekasi yang tidak biasa (lebih dari 3x
sehari) juga perubahan dalam jumlah dan konsistensi (Brunner dan Suddarth, 2005). Adapun
penyebab dari diare yaitu infeksi bakteri, virus, jamur, parasit dan protozoa. Ada juga karena
faktor makanan, obstruksi usus, obat-obatan, penyakit usus, gangguan metabolik dan faktor
psikologis (Suryadi, 2001 hal 83). Selain itu diare dapat pula menimbulkan gangguan sirkulasi
darah berupa renjatan (syok) hipovolemik serta komplikasi yang mungkin terjadi seperti
hipoglikemia, hipokalemia, dan ileus paralitik sehingga bila tidak ditolong penderita dapat

Page 1
meninggal. Hal yang terpenting dalam penanganan diare yaitu tindakan pencegahan dengan
meningkatkan pemahaman dan perilaku masyarakat dalam pemeliharaan kesehataan serta
kebersihan lingkungan.

Mengingat besarnya komplikasi yang bisa ditimbulkan sangat diperlukan sekali


keprofesionalisme perawat dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan menggunakan
metode proses keperawatan, dengan memandang manusia secara utuh. Peningkatan mutu
pelayanan untuk sekarang ini bukan menjadi tuntutan masyarakat tetapi sudah merupakan
suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh tenaga medis khususnya perawat. Dengan makin
berkembangnya ilmu pengetahuan makin banyak pula cara masyarakat yang bisa
dipergunakan untuk mengakses informasi tentang kesehatan khususnya diare (gastroenteritis)
ini. Sehingga diperlukan informasi yang benar tentang cara-cara penanggulangannya sebelum
Klien mengalami komplikasi yang fatal, untuk itu perlu pengamatan sekasama terutama
pemantauan dalam pemenuhan cairan tubuh dan terhadap pemenuhan nutrisi disamping
pemberian obat secara delegatif untuk mengatasi penyebab dan gejala yang menyertai diare.
Apabila sudah terjadi diare yang perlu diperhatikan adalah penggantian pengembalian cairan
tubuh yang keluar (rehidrasi) untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Penggantian cairan bisa
dilakukan dengan memberikan minuman air putih yang banyak, pemberian oralit atau larutan
gula garam.

Berdasarkan angka kejadian yang cukup tinggi dan komplikasi yang ditimbulkan bila
tidak mendapat penanganan yang tepat dan cepat, serta peranan perawat yang sangat besar
dalam memberikan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengangkat
kasus dengan judul ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN GANGGUAN
ELIMINASI (DIARE/GASTROENTERITIS) dengan harapan semoga nantinya hasil dari
laporan kasus ini dapat dijadikan pedoman terkait didalam memberikaan asuhan keperawatan
pada Klien dengan kasus-kasus diare.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran umum tentang dokumentasi asuhan keperawatan pada Klien dengan
gangguan sistem percernaan (Diare atau Gastroenteritis) ?

Page 2
C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran umum tentang dokumentasi asuhan keperawatan pada
Klien dengan gangguan sistem eliminasi (Diare)
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian keperawatan pada Klien MS dengan gangguan
sistem eliminasi (Diare) di Ruang Teratai RSUD Karangasem
b. Mampu melaksanakan diagnosa keperawatan pada Klien MS dengan gangguan sistem
eliminasi (Diare) di Ruang Teratai RSUD Karangasem.
c. Mampu melaksanakan intervensi keperawatan pada Klien MS dengan gangguan
sistem eliminasi (Diare) di Ruang Teratai RSUD Karangasem.
d. Mampu melaksanakan implementasi keperawatan pada Klien MS dengan gangguan
sistem eliminasi (Diare ) di Ruang Teratai RSUD Karangasem.
e. Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada Klien MS dengan gangguan sistem
eliminasi (Diare) di Ruang Teratai RSUD Karangasem.

D. Manfaat Penulisan
Agar dapat mengetahui penulisan dokumentasi asuhan keperawatan dengan gangguan sistem
percernaan ( Diare atau Gastroenteritis)

Page 3
E. Sistematika Penulisan

Secara garis besar laporan makalah ini terdiri dari empat bab yaitu BAB I Pendahuluan
yang menguraikan latar belakang, rumusan masalah, tujuan umum dan tujuan khusus, metode
penulisan dan sistematika penulisan. BAB II Konsep Teoritis KDM Pemenuhan Eliminasi
yang meliputi Eliminasi BAB dan Eliminasi BAK. Eliminasi BAB meliputi Difinisi
Eliminasi BAB, Proses Eliminasi BAB, Gangguan Eliminasi BAB, Faktor Faktor yang
Mempengaruhi Pemenuhan Eliminasi BAB, Pemeriksaan Penunjang Gangguan Pemenuhan
Eliminasi BAB, Penatalaksanaan Gangguan Pemenuhan Eliminasi BAB, dan Asuhan
Keperawatan Teoritis Pemenuhan Eliminasi BAB. Eliminasi BAK meliputi Difinisi
Eliminasi BAK, Proses Fisiologis BAK, Gangguan Eliminasi BAK, Faktor Faktor
Mempengaruhi Pemenuhan Eliminasi BAK, Pemeriksaan Penunjang Gangguan Pemenuhan
Eliminasi BAK, dan Asuhan Keperawatan Teoritis Pemenuhan Eliminasi BAK. BAB III
Tinjauan Kasus yang meliputi : pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi dalam asuhan keperawatan. BAB IV Penutup, yang merupakan Bab terakhir yang
berisi tentang kesimpulan dan saran, baik bagi keluarga Klien maupun pihak rumah sakit.

Page 4
BAB II
KONSEP TEORITIS KDM PEMENUHAN ELIMINASI

A. Eliminasi BAB
1. Definisi Eliminasi BAB
Eliminasi merupakan proses pembuangan sisa-sisa metabolisme tubuh baik yang
berupa urine maupun BAB. Makanan yang sudah sudah dicerna kemudian sisanya akan
dikeluarkan dalam bentuk feses. Eliminasi BAB adalah proses pengeluaran sisa
pencernaan melalui anus. (Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia: Teori dan aplikasi
dalam Praktik,2008)
Buang Air Besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk hidup
untuk membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasal dari
sistem pencernaan (Dianawuri, 2009).
Dari beberapa definisi tersebut maka Eliminasi BAB adalah proses pengeluaran
sisa pencernaan (kotoran atau tinja) mahluk hidup melalui anus.

2. Proses Fisiologis BAB


A) Anatomi Fisiologi BAB
Sistem pencernaan merupakan saluran panjang (kurang lebih 9 meter) yang
terlibat dalam proses mencerna makanan, mulai dari mulut sampai dengan anus. Saluran
ini akan menerima makanan dari luar tubuh dan mempersiapkannya untuk diserap
bercampur dengan enzim dan zat cair melalui proses pencernaan, baik dengan cara
mengunyah, menelan, dan mencampur menjadi zat-zat gizi. Organ saluran pencernaan
dibagi menjadi dua bagian, yaitu: organ saluran gastrointestinal bagian atas dan organ
saluran gastrointestinal bagian bawah.
1) Saluran gastrointestinal bagian atas
Organ saluran ini terdiri atas mulut, faring, esophagus, dan lambung (gaster).
a. Mulut
Mulut merupakan jalan masuk yang dilalui makanan yang pertama kali
untuk sistem pencernaan. Rongga mulut dilengkapi dengan alat pencernaan (gigi
dan lidah) serta kelenjar pencernaan untuk membantu pencernaan makanan.

Page 5
Secara umum, mulut terdiri atas dua bagian atas, bagian luar (vestibula ) yaitu
ruang diatara gisi, gigi bibir dan pipi, dan rongga mulut bagian dalam yaitu
rongga yang dibatasi oleh tulang maksilaris, palatum, dan manibularis disebelah
belakang dan bersambung dengan faring. Palatum terdiri atas palatum durum
(palatum keras) yang tersusun atas tajuk-taajuk palatum dari sebelah depan
tulang maksilaris, dan palatum mole atau palatum lunak terletak dibelakang yang
merupakan lipatan menggantung yang dapat bergerak, serta terdiri atas jaringan
fibrosa dan selaput lender. Rongga mulut berhubungan dengan ororfaring yang
disebut dengan faucium yang terdapat dua lengkungan, yaitu palatofaringeal dan
palatoglossal. Diantara kedua lengkungan ini terdapat jaringan limfoid yang
disebut dengan tonsil.Rongga mulut, di rongga mulut, makanan yang masuk
akan dicerna secara mekanik dengan cara dicabik dan dikunyah serta secara
kimiawi melalui peran enzim di saliva.
b. Faring
Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan
esophagus. Di dalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan
kelenjar linfa yang banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan
terhadap inveksi. Disini juga letak persimpangnan antara jalan nafas dan
makanan, letaknya di belakang rongga mulut di depan ruas tulang belakang.
Keatas bagian depan berhubungan dengan rongga mulut dengan perantara lubang
ismusvausio.
c. Esophagus
Esophagus merupakan bagian saluran pencernaan sepanjang 25cm dan
berdiameter 2 cm. esophagus berbentuk seperti tabung berotot yang
menghubungkan rongga mulut dan lambung, dengan bagian posterior berbatasan
dengan faring setinggi kartilago cricoidea dan sebelah anterior berbatasan dengan
corpusvertebrae. Ketika seorang menelan, maka spinter akan berelaksasi secara
otomatis dan akan membiarkan makanan atau minuman masuk ke dalam
lambung. Fungsi esophagus adalah menyalurkan makanan ke lambung. Agar
makanan dapat berjalan sepanjang esophagus, terdapat gerakan peristaltic
sehingga makanan dapat berjalan menuju lambung.

Page 6
d. Lambung
Lambung merupakan organ pencernaan yang paling fleksibel karena dapat
menampung makanan sebanyak 1-2 liter. Bentuknya seperti huruf J atau kubah
dan terletak di kuadran kiri bawah abnomen. Lambung merupakan kelanjutan
dari esophagus bagian superior dan bersambungan sengan usus halus bagian
duodenum. Fungsi utama dari lambung adalah menyimpan makanan yang sudah
bercampur dengan cairan yang dihasilkan lambung (getah lambung). Lambung
terdiri dari 4 bagian besar, yaitu kardiak (bagian atas, berdekatan dengan spinter
gastroesofagus), fundus (berbentuk kubah, kontak langsung dengan diagfragma),
korpus (area paling bersar), dan pylorus (bagian lambung yang berbentuk tabung
yang mempunyai otot yang tebal membentuk spinter pylorus). Lambung juga
mempunyai 2 lapisan dan 2 pembatas. Lapisan yang dimaksud yaitu anterior dan
posterior. Sedangkan 2 pembatas lambung disebut dengan kurvatura minor dan
mayor. Dinding lambung tersusun oleh otot-otot polos yang berfungsi menggerus
makanan secara mekanis melalui kontraksi otot-otot tersebut. Ada 3 jenis otot
polos yang menyusun lambung, yaitu otot longitudinal (memanjang), otot
sirkuler(melingkar), dan otot obliquus (menyerong). Makanan akan masuk
kedalam lambung dari esophagus melalui otot berbentuk cincin yang disebut
dengan spinter. Sfingter ini dapat membuka dan menutup serta berfungsi
mencegah masuknya kembali isi lambung ke dalam esophagus. Lambung
berfungsi seperti gudang makanan yang dapat berkontraksi secara ritmik untuk
mencampur makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung
menghasilkan 3 zat penting, yaitu lendir, asam klorida (HCL), dan precursor
pepsin(enzim) yang memecahkan protein. Lendir melindungi sel-sel lambung
dari kerusakan oleh asam lambung. Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bias
menyebabkan kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.
Sedangkan asam klorida bertugas menciptakan suasana yang sangat asam.
Suasana asam ini sangat diperlukan oleh pepsin untuk memecah protein.
Keasaman lambung yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap
infeksi dengan cara membunuh berbagai bakteri. Selain pencernaan mekanik,

Page 7
pada lambung terjadi pencernaan kimiawi dengan bantuan senyawa kimia yang
dihasilkan lambung. Senyawa kimia yang dihasilkna lambung adalah :
a. Asam HCL, berfungsi mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin. Sebagai
disinfektan, serta merangsang pengeluaran hormon sekretin dan
kolesitokinin pasa usus halus.
b. Lipase, berfungsi memecah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Namun lipase yang dihasilkan sangat sedikit.
c. Renin, berfungsi mengendapkan protein pada susu (kasein) dari air susu
(ASI). Hanya dimiliki oleh bayi.
d. Mukus, melindungi dingding lambung dari kerusakan akibat asam HCl.

Hasil penggerusan makanan di lambung secara mekanik dan kimiawi akan


menjadikan makanan menjadi bubur yang disebut kimus.

2) Saluran Gastrointestinal bagian Bawah


Saluran pencernaan bagian bawah meliputi usus halus, usus besar, rektum, dan anus.
a. Usus Halus
Usus halus merupakan kelanjutan dari lambung yang terletak diantara
sfingter pilorus lambung dengan katup ilieosekal yang merupakan bagian awal
usus besa, posisinya terletak di sentral bawah abdomen yang didukung oleh
lapisan mensenterika ( berbentuk seperti kipas) yag memungkinkan usus halus
ini mengalami perubahan bentuk ( seperti berkrlok kelok). Mensentrika ini
dilapisi oleh pembuluh darah, persarafan, dan saluran limfa yang menyuplai
kebutuhan dinding usus. Usus halus memiliki saluran paling panjang dari saluran
pencernaan dengan panjang sekitar 3 meter denganlebar 2,5 cm, walaupun tiap
orang memiliki ukuran yang berbeda beda. Usus ha;us sering disebut usus kecil
karena ukuran diameternya lebih kecil jika dibbandingkan sengan usus besar.
Usus halus ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu dodenum ( 2,5 m), jejenum ( 2,5
m), serta ilium ( 3,6 m). Adapun fungsi dari usus halus adalah menerima sekresi
hati dan pankreas, mengabsorpsi sari pati makanan , dan menyalurkan hasil
metabolisme ke usus besar. Pada usus halus hanya terjadi pencernaan secara
kimiawi saja, dengan bantuan senyawa kimia yang dihasilkan oleh usus halus

Page 8
serta senyawa kimia dari kelenjar pankreas yang dilepaskan oleh usus halus.
Senyawa yang dihasilkaN oleh usus halus adalah sebagai berikut :
1) Desakaridase, berfungsi menguraikan disakarida menjadi monosakarid.
2) Erepsinogen, erepsin yang belum aktif yang akan diubah menjadi erepsin.
Erepsin mengubah pepton menjadi asam amino.
3) Hormon sekretin, merangsang kelenjar pankreas mengeluarkan senyawa
kimia yang dihasilkan ke usus halus.
4) Hormon CCK, berfungsi merangsang hati untuk mengeluarkan cairan
empedu ke dalam usus halus.
Usus menerima makanan dari lambung dalambentuk kimus ( setengah
padat)yang kemudian dengan bantuan peristaltik akan didorongmenuju usus
besar.
b. Usus besar atau Kolon
Kolon merupakan usus yang memiliki diameter lebi besar dari uasus halus.
Kolon memiliki panjang 1,5 meter dan berbentuk seperti huruf U terbalik. Usus
besar dibagi menjadi 3 daerah, yaitu : kolon asenden. Kolon tranversum, dan
kolon desenden. Fungsi kolon adalah :
a. Menyerap air selama peroses pencernaan.
b. Tempat dihasilkan vitamin K dan Vitamin H (Biotin) sebagai hasil simbiosis
dengan bakteri usus, misalnya E. Coli.
c. Membentuk masa feses.
d. Mendorong sisa makana hasil pencernaan (feses) keluar dari tubuh.
c. Rektum
Rektum merupakan lubang tempat pengluaran feses dari tubuh. Sebelum
dibuang lewat anus, feses akan ditampung terlebih dahulu pada bagian rektum.
Apabila feses sudah siap dibuang, maka oto sfingter rektum mengatur pembukaan
dan penutupan anus. Otot sfingter yang menyusun rektum ada 2, yaitu otot polos
dan otot lurik.

Page 9
B) Proses Defekasi atau BAB

Defekasi adalah proses pemmbuangan atau pengeluaran sisa metabolisme


berupa feses atau flatus yang berasal dari saluran pencernaa melalui anus. Dalam
proses defekasi terjadi dua macam refleks berikut.

1) Refleks Defekasi Instrinsik


Refleks ini berawal dari fesesyang masuk ke rektum sehingga
kterjadidistensi rektum, yang kemudian menyebabkan rangsangan pada fleksus
dan terjadi gerakan peristaltik. Setelah feses sampai di anus, secara sistematis
sfingter interna relaksasi, maka terjadi defeksi.
2) Refleks Defekasi Parasimpatis
Feses yang masuk ke rektum akan merangsang saraf rektum yang
kemudian diteruskan ke jaras spinal (spinal cord). Dari jaras spinal kemudian
dikembalikan ke kolon desenden, sigmoid, dan rektum yang menyebabkan
intensifnya peristaltik, relaksasi sfinggter interna, maka terjadilah defekasi.
Dorongan feses juga dipengaruhi oleh kontraksi otot abdomen, tekanan
diafragma, dan kontraksi otot elevator. Defekasi dipermudah oleh fleksi otot femur
dan posisi jongkok. Gas yang dihasilkan dalam proses pencernaan normalnya 7-10
liter/24 jam. Jenis gas yang terbanyak adalah CO2, metana, H2S, O2, dan nitrogen.
Feses terditi atas 75% air dan 25% materi padat. Feses normal berwarna coklat
karena pengaruh sterkobilin, mobilin, dan aktivitas bakteri. Bau khas karena
pengaruh dari kikroorganisme. Konsistensinya lembek, namun berbentuk.

C) Gangguan Eliminasi BAB

Berikut ini beberapa gangguan pada eliminasi BAB yaitu : (Buku Ajar
Kebutuhan Dasar Manusia: Teori dan aplikasi dalam Praktik,2008)

1) Konstipasi : gangguan eliminasi yang diakibatkan adanya feses yang kering


dan keras malalui usus besar. Biasanya disebabkan oleh pola defekasi yang
tidak teratur, penggunaan laksatif dalam jangka waktu yang lama, strees ,
psikologis, obat obatan, kurangg aktivitas, dan usia.

Page 10
2) Impaksi BAB ( Fecal Imfaction) : masa feses yang keras dilipatan rektum yang
diakibatkan oleh retensi dan akumulasi material feses yangg berkepanjangan.
Biasanya disebabkan oleh konstipasi, intake cairan yang kurang, kurang
aktivitas, diet rendah serat, kelemahan tonus otot.
3) Diare : kelurnya feses cairan dan meningkatnya frekuensi buang air besar
akibat cepatnya kimus melewati usus besar, sehingga usus besar tidak
mempunyai waktu yang cukup untuk menyerap air. Diare dapat disebabkan
karena sters fisik, obat obatan, alergi, penyakit kolon. Dan isritasi intestinal.
4) Inkontinesia Alvi: hilangnya kemampuan otot untuk mengontrol pengeluaran
feses dan gas yang melalui sfingter anus akibat kerusskan fingsi sfingter atau
persarafan di daerah anus. Penyebbabnya karena penyakit penyakit
neuromuskular, trauma spinal cord, atau tumor sfingter anus eksterna. Tanda
dan gejala meliputi feses keluar untuk wartu tertentu, feses bersifat iritan,
iritasi pada daerah sekitar anus atau bokong. Penyebeb inkontenennsia alvi
adalah melebarnya otoot sfingter ani an meningkatnya tekanan rongga peru,
gangguan psikogeriatrik, penyakit fisik, penyakit neuromuskular, trauuma
medula spinalis, serta tumor pada sfingter anus eksterna.
5) Kembung: flatus yang berlebihan di daerah intestinal sehingga menyebabkan
distensi inntestinal, dapat disebabkan karena konstipasi, penggunaan obat-
obatan ( barbiturat, penurunan ansietas, penurunan aktivitas intestinal),
mengonsumsi makanan yang banyak mengandung gas dapat berefek anastesi.
6) Hermoroid: pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan tekanan
di daerah tersebut. Penyebabnya adalah konstipasi kronis, peregangan
maksimal saat defekasi, kehamilan, dan obesitas. Kondisi ini ditandai dengan
keluarnya darah pada waktu defekasi atau mengejan.

D. Faktor-Faktor Mempengaruhi Pemenuhan Eliminasi BAB


1) Usia, pada usia bayi kontrol defekasi belum berkembang, sedangkan pada usia
lanjut kontrol defekasi menurun.
2) Diet, makanan berserat akan mempercepat produksi feses, banyaknya makanan
yang masuk ke dalam tubuh juga mempengaruhi proses defekasi.

Page 11
3) Intake Cairan, intake cairan yang kurang akan menyebabkan feses menjadi
lebih keras disebabkan oleh absorpsi cairan yyang meningkat.
4) Aktivitas, tonus otot abdomen, pelvis, dan diafragma akan sangat membantuu
proses defekasi. Gerakan peristaltik akan memudahkan bahan feses bergerak
sepanjang kolon.
5) Fisiologis, keadaaan cemas, takut, dan marah akan meningkatkan perisstaltik,
sehingga menyebabkan diare.
6) Pengobatan, beberapa jenis obat dapat mengakibatkan diare dan konstipasi.
7) Gaya hidup, kebiasaan untuk melatih pola buang air besar sejak kecil secara
terratur, fasilitas buang air besar, dan kebiasaan menahan buang air besar.
8) Prosedur diagnostik, klien yang aakan dilakukan prosedur diagnostik biasanya
dipuasakan atau dilakukan klisma dahulu agar tidak dapat bang air besar
kecuali setelah makan.
9) Penyakit, beberapa penyakit pencernaan dapat menimbulkan diare dan
konstipasi.
10) Anastesi dan Pembedahan, anastesi umum dapat menghalangi inpuls
parasimpatis, sehingga kadaang-kadang dapat menyebabkan ileus usus.
Kondisi ini dapat berlangsung selama 24-28 jam.
11) Nyeri, pengalaman nyeri waktu buang air besar seperti adanya hemoroid,
fraktur ospubis, epesiotomi, akan mengurangi keinginan untuk buang air besar.
12) Kerusakan Sensorik Dan Motorik, kerussakan spinal cord dan injuri kepala
akan menimbulkan penurunan stimulus sensorik untuk defekasi.

E. Pemeriksaan Penunjang Gangguan Pemenuhan Eliminasi BAB


1) Pemeriksaan Fisik
a. Abdomen:Distensi,simetris,gerakan peristaltic,adanya masa pada
perut,tenderness
b. Rectum dan anus:Tanda-tanda inflantasi,perubahan warna, lesi, fistula,
hemoroid, adanya masa, tenderness

Page 12
2) Pemeriksaan Diagnostic
a. Abuscopy
b. Prokrosigmoidoskopy
c. Rongen dengan kontras
d.
C. Penatalaksanaan Gangguan Pemenuhan Eliminasi BAB \
Menyiapkan Feses untuk Bahan Pemeriksaan :
Menyiapkan feses untuk bahan pemeriksaan merupakan cara yang dilakukan untuk
mengambil fases sebagai bahan pemeriksaan, yaitu pemeriksaan lengkap dan
pemeriksaan kultur (pembiakan)
a. Pemeriksaan fases lengkap merupakaan pemeriksaan fases yang terdiriatas
pemeriksaan warna, bau konsistensi, lendir, darah, dan lain-lain.
b. Pemeriksaaan fases kultur merupakan pemeriksaan fases melalui biakan dengna
cara taoucher (prosedur pengambilan fases melalui tangan).

D. Asuhan Keperawatan Teoritis Pemenuhan Eliminasi BAB


1) Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan
suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data
untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Iyer at al, 1996).
Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan asuhan
keperawatan sesuai dengan kebutuhan individu. Oleh karena itu pengkajian yang
akurat, lengkap, sesuai dengan kenyataan, kebenaran data sangat penting dalam
merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan pelayanan
keperawatan sesuai dengan respon individu, sebagaimana yang telah
ditentukan dalam standar praktek keperawatan dari ANA (American Nursing
Association). (Nursalam, 2001.Hal : 17)
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan
penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi,
observasi, pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg,
1992 adalah:

Page 13
1. Pengumpulan Data

a) Identitas klien.
Klien Penanggung
(Hubungan dengan penanggung)
(a) Nama :
(b) Umur :
(c) Jenis Kelamin :
(d) Alamat :
(e) Agama :
(f) Pekerjaan :
(g) Pendidikan :
(h) No. RM :
(i) Tanggal masuk RS :
(j) Diagnosa medis :
b) Riwayat keperawatan.
a. Awalan serangan: Awalnya anak cengeng, gelisah, suhu tubuh
meningkat,nafsu makan kurang kemudian timbul diare.
b. Keluhan utama: Feces semakin cair, muntah, bila kehilangan banyak air
dan elektrolit terjadi gejala dehidrasi, berat badan menurun. Pada bayi
ubun-ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lendir
mulut dan bibir kering, frekwensi BAB lebih dari 4 kali dengan
konsistensi encer.
c) Riwayat kesehatan masa lalu.
Riwayat penyakit yang diderita, riwayat pemberian imunisasi.
d) Riwayat psikososial keluarga.
Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi
keluarga, kecemasan meningkat jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan
pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka akan bereaksi
dengan marah dan merasa bersalah.
e) Kebutuhan dasar.

Page 14
a. Pola eliminasi: akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali
sehari, BAK sedikit atau jarang.
b. Pola nutrisi: diawali dengan mual, muntah, anopreksia, menyebabkan
penurunan berat badan Klien.
c. Pola tidur dan istirahat akan terganggu karena adanya distensi abdomen
yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
d. Pola hygiene: kebiasaan mandi setiap harinya.
e. Aktivitas: akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya
nyeri akibat distensi abdomen.

f) Pemerikasaan fisik.
a) Pemeriksaan psikologis: keadaan umum tampak lemah,
kesadaran composmentis sampai koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan
lemah, pernapasan agak cepat.
b) Pemeriksaan sistematik :
1) Inspeksi : mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan
bibir kering, berat badan menurun, anus kemerahan.
2) Perkusi : adanya distensi abdomen.
3) Palpasi : Turgor kulit kurang elastic.
4) Auskultasi : terdengarnya bising usus.
c) Pemeriksaan tingkat tumbuh kembang.
Pada anak diare akan mengalami gangguan karena anak dehidrasi
sehingga berat badan menurun.
d) Pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan tinja, darah lengkap dan duodenum intubation yaitu untuk
mengetahui penyebab secara kuantitatip dan kualitatif.

Page 15
2) Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respons
manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari individu atau
kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan,
membatasi, mencegah dan merubah (A. Carpenito, 2000)(Nursalam.2001.Hal:35 ).
NANDA menyatakan bahwa bahwa diagnosa keperawatan adalah
keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang
masalah kesehatan aktual dan potensial sebagai, dasar seleksi intervensi
keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan
kewenangan perawat. Menurut north american nursing diagnosis association
(NANDA), diagnosis keperawatan terkait masalah Eliminasi BAB dibagi
menjadi:
1. Gangguan Eliminasi BAB : Konstipasi yang berhubungan dengan :

1) Fungsional
a) Kelemahan otot abdomen
b) Kebiasaan menyangkal dan mengabaikan desakan untuk defekasi
c) Eliminasi atau defekasi yang tidak adekuat
d) Aktivitas fisik yang tidak memadai
e) Kebiasaan defekasi yang tidak teratur
f) Perubahan lingkungan baru-baru ini
2) Psikologis
a) Depresi
b) Stres emosi
c) Konfusi mental
3) Farmakologis
a) Antasida yang mengandung alumunium
b) Antikolinergis
c) Antikonvulsan
d) Antidepresan
e) Agens antilipemik

Page 16
f) Garam Bismuth
g) Kalsium Karbonat
h) Penyekat saluran kalsium
i) Diuretik
j) Garam besi
k) Overdosis laksatif
l) Agens anti-inflamasi nonsteroid
m) Opiat
n) Fenotiazid
o) Sedatif
p) Simpatomimetik
4) Mekanis
a) Ketidakseimbangan elektrolit
b) Hemoroid
c) Megakolon
d) Kerusakan neurologis
e) Obesitas
f) Obstruksi pasca pembedahan
g) Kehamilan
h) Pembesaran prostat
i) Abses atau ulkus pada rectum
j) Fisura anal rectum
k) Prolaps rectum
l) Rektokel
m) Tumor
5) Fisiologis
a) Perubahan pola makan dan jenis makanan yang biasa dikonsumsi
b) Penurunan motilitas saluran cerna
c) Dehidrasi
d) Kondisi gigi atau hygiene oral yang tidak adekuat
e) Asupan serat yang tidak mencukupi

Page 17
f) Asupan cairan yang tidak mencukupi
g) Pola makan yang buruk

yang ditandai oleh :

1) Subjektif:
a) Nyeri abdomen
b) Nyeri tekan pada abdomen dengan atau tanpa resistansi otot yang
dapat dipalpasi
c) Anoreksia
d) Perasaan penuh atau tekanan pada rectum
e) Kelelahan umum
f) Sakit kepala
g) Peningkatan tekanan abdomen
h) Indigesti
i) Mual
j) Nyeri saat defekasi
2) Objektif
a) Tampilan atipikal pada lansia (misalnya, perubahan status mental,
inkontinesia urine, jatuh tanpa sebab jelas, dan peningkatan suhu
tubuh)
b) Darah merah segar menyertai pengeluaran feses
c) Perubahan pada pola defekasi
d) Penurunan frekuensi
e) Penurunan volume feses
f) Distensi abdomen
g) Feses yang kering, keras, dan padat
h) Bising usus hipoaktif atau hiperaktif
i) Pengeluaran feses cair
j) Massa abdomen dapat dipalpasi
k) Massa rectal dapat dipalpasi
l) Bunyi pekak pada perkusi abdomen

Page 18
m) Adanya feses, seperti pasta di rectum
n) Flatus berat
o) Mengejan saat defekasi
p) Tidak mampu mengeluarkan feses
q) Muntah.

2. Gangguan Eliminasi BAB: Diare yang berhubungan dengan :


1) Psikologis
Tingkat stres dan ansietas yang tinggi
2) Situasional
a) Efek samping obat
b) Penyalahgunaan alcohol
c) Kontaminan
d) Penyalahgunaan obat pencahar
e) Radiasi
f) Racun
g) Perjalanan
h) Pemberian makanan melalui selang
3) Fisiologis
a) Proses infeksi
b) Inflamasi
c) Iritasi
d) Malabsorpsi
e) Parasit

yang ditandai dengan :

1) Subjektif :
a) Nyeri abdomen
b) Kram
c) Urgensi
2) Objektif :

Page 19
a) Sedikitnya sehari mengalami tiga kali defekasi dengan feses cair
b) Bising usus hiperaktif

3. Gangguan eliminasi BAB: Inkontinensia Defekasi yang berhubungan dengan :

a) Tekanan abdomen abnormal tinggi


b) Tekanan usus abnormal tinggi
c) Diare kronik
d) Lesi kolorektal
e) Kebiasaan diet
f) Factor lingkungan (mis, tidak dapat mengakses kamar mandi)
g) Penurunan umum tonus otot
h) Imobilisasi
i) Impaksi
j) Gangguan kognisi
k) Gangguan kapasitas reservoir
l) Pengosongan usus tidak tuntas
m) Penyalahgunaan laksatif
n) Penurunan control sfingter rectal
o) Kerusakan saraf motorik bawah
p) Medikasi
q) Abnormalitas sfingter rectal
r) Kerusakan saraf motorik bawah
s) Medikasi
t) Abnormalitas sfingter rectal
u) Stress
v) Defisit perawatan diri dalam toileting
w) Kerusakan saraf motorik atas

yang ditandai oleh :

1. Subjektif :

a) Ketidakmampuan mengenali desakan untuk defekasi

Page 20
b) Mengenali rasa penuh di rectum tetapi melaporkan ketidakmampuan untuk
mengeluarkan feses yang terbentuk
c) Melaporkan sendiri ketidakmampuan untuk merasakan rectum sudah penuh

2. Objektif :

a) Mengeluarkan/meneteskan feses lunak secara konsisten


b) Bau feses
c) Feses mengotori pakaian dan/ atau alas tidur
d) Ketidakmampuan menunda defekasi
e) Tidak memperhatikan desakan untuk defekasi
f) Kulit perianal yang merah
g) Urgensi / dorongan

4. Gangguan eliminasi BAB: Persepsi Konstipasi yang berhubungan dengan:

a. Keyakinan kesehatan budaya.


b. Keyakinan kesehatan keluarga.
c. Kesalahan penilaian.
d. Gangguan proses pikir.

yang ditandai oleh:

1. Subjektif :

a) Mengharapkan defekasi setiap hari.


b) Mengharapkan pengeluaran feses pada waktu yang sama setiap harinya.

2. Objektif :

a) Penggunaan laksatif berlebihan.


b) Penggunaan enema berlebihan.
c) Penggunaan supositoria berlebihan (untuk merangsang defekasi setiap hari)

Page 21
3) Perencanaan Keperawatan

Perencanaan keperawatan diartikan sebagai rencana tindakan keputusan


keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan
diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuannya terpenuhinya
kebutuhan Klien.

Perencanaan meliputi beberapa tahap yaitu :

1 Menentukan prioritas masalah.


Masalah yang perlu segera dipecahkan mendapat prioritas utama.
Pertimbangan untuk menentukan prioritas masalah adalah :
1) Prioritas tertinggi diberikan kepada masalah kesehatan yang
mengancam kehidupan dan keselamatan Klien.
2) Masalah yang sedang dihadapi diberi perhatian lebih dahulu daripada
masalah yang mungkin (potensial).
2 Menentukan Tujuan atau Kriteria Hasil
Tujuan keperawatan hasil yang ingin dicapai dari asuhan keperawatan
yang direncanakan.
3 Menentukan Rencana Tindakan
Penyusunan rencana tindakan harus secara jelas dan singkat rencana
tindakan itu sendiri adalah langkah menentukan tindakan keperawatan
yang akan dilakukan oleh perawat dalam rangka menolong Klien untuk
mencapai suatu tujuan keperawatan.
4 Rasional
Merupakan dasar atau landasan dari tindakan keperawatan yang
dilaksanakan pada Klien masalah tersebut diatas maka prioritas, tujuan
kriteria hasil dan rasionalisasi dari gangguan eliminasi BAB
5 Rencana Asuhan Keperawatan
A. Dx.1 : Gangguan Eliminasi BAB: Konstipasi yang berhubungan
dengan eliminasi atau defekasi yang tidak adekuat
Tujuan : Gangguan Eliminasi BAB: Konstipasi teratasi
dengan Kriteria Hasil:

Page 22
a) Tidak mengalami gangguan pola eliminasi (dalam rentang
yang diharapkan)
b) Feses lunak dan berbentuk
c) Mengeluarkan feses tanpa bantuan
d) Tidak ada darah dalam feses
e) Tidak ada nyeri saat defekasi
f) Memperlihatkan hidrasi yang adekuat (mis., turgor kuit
baik,asupan cairan kira-kira sama dengan haluaran)
Intervensi Keperawatan :

1) Mandiri :

a) Informasikan kepada Klien kemungkinan konstipasi akibat


obat
b) Instruksikan Klien mengenai bantuan eliminasi defekasi yang
dapat meningkatkan pola defekasi yang optimal di rumah
c) Ajarkan kepada Klien tentang konsekuensi penggunaan
laksatif jangka panjang
d) Tekankan pentingnya mengejan selama defekasi untuk
mencegah perubahan pada tanda vital, lambung atau
pendarahan.
e) Jelaskan etiologi masalah dan rasional tindakan kepada Klien
f) Anjurkan aktivitas optimal untuk merangsang eliminasi
defekasi Klien
g) Berikan privasi dan keamanan untuk Klien selama eliminasi
defekasi
h) Anjurkan klien mengkonsumsi sedikitnya 2 liter (8-10 gelas)
cairan setiap hari
i) Kaji dan dokumentasikan : (warna dan konsistensi feses
pertama pascaoperasi, frekuensi, warna dan konsistensi feses,
keluarnya flatus, adanya infaksi, ada atau tidak bising usus,
dan distensi abdomen pada keempat kwadran abdomen)

Page 23
j) Bantu klien mengambil posisi semi-jongkok untuk
memudahkan penggunaan otot abdomen dan menghasilkan
efek gravitasi
k) Pantau tanda dan gejala rupture usus atau peritonitis

2) Kolaborasi :

a) Konsultasikan dengan ahli gizi untuk meningkatkan serat dan


cairan dalan diet
b) Minta program dari dokter untuk memberikan bantuan
eliminasi, seperti diet tinggi serat, pelunak feses, enema, dan
laksatif
c) Konsultasikan dengan dokter tentang penurunan atau
peningkatan frekuensi bising usus
d) Sarankan Klien untuk berkonsultasi dengan dokter jika
konstipasi atau impaksi terjadi

Rasional :
a) Pola defekasi yang normal harus dipertahankan dengan asupan
serat setiap hari , konsumsi cairan 6-8 gelas/hari, dan latihan
harian. Selain itu, klien juga harus menyadari perlunya defekasi
secara rutin.
b) Aktivitas fisik yang teratur akan meningkatkan tonus otot yang
diperlukan untuk defekasi.Upaya ini juga meningkatkan sirkulasi
system degestif yang akan memperkuat peristalsis dan
memudahkan defekasi (Maas & Specht, 1991)
c) Asupan cairan yang adekuat (sedikitnya 2 liter sehari) diperlukan
untuk mempertahankan pola defekasi serta memperbaiki
konsistensi feses.
d) Diet tinggi serat yang seimbang akan menstimulasi peristalsis.
Makanan tinggi serat harus dihindari selama diare.

Page 24
e) Reflex gastrokolon dan duodenumkolom menstemulasi peristalsis
massa dua atau tiga kali setiap hari, paling sering terjadi sesudah
makan.
f) Kontraksi volunteer pada otot abdomen membantu pengeluaran
feses.
g) Frekuensi dan konsistensi feses berkaitan dengan asupan cairan
dan makanan. Makanan yang mengandung serat akan
memperbesar ukuran feses dan akan meningkatkan absorbs air
kedalam feses. Asupan serat dan cairan yang adekuat akan
menghasilkan feses yang padat tetapi lunak dengan bentuk yang
normal dan akan mengurangi risiko feses yang keras, kering dan
sulit dikeluarkan. Aktivitas fisik akan memperkuat peristalsis,
membantu pencernaan, dan memudahkan eliminasi.
h) Laksatif akan menganggu program defekasi karena dapat
menyebabkan pengosongan usus yang berlebihan dan defekasi
yang tidak terjadwal. Apabila digunakan terus menerus laksatif
dapat menyebabkan penurunan tonus, kolon dan retensi feses.
Pelunak feses mungkin tidak digunakan jika asupan makanan dan
cairan adekuat
i) Tekan intra abdomen dapat ditingkatan dengan meninggikan kedua
kaki.

B. Dx.2 : Gangguan Eliminasi BAB: Diare yang berhubungan dengan


infeksi bakteri
Tujuan : Gangguan Eliminasi BAB: Diare teratasi atau dihilangkan
dengan Kriteria Hasil :
a) Menunjukan eliminasi BAB yang efektif
b) Tidak ada gangguan eliminasi
c) Tidak ada gangguan diare
d) Tidak ada darah dan lendir di feses
e) Keadaan feses berbentuk dan lembek

Page 25
f) Kembali buang air besar ke pola normal
Intervensi Keperawatan:

1) Mandiri :
a) Monitoring TTV
b) Berikan Klien oralit
c) Lakukan tes quaiak pada feses
d) Minta Klien mengidentifikasi pola defekasinya
e) Pantau nilai laboratorium (elektrolit, hitung darah lengkap),
dan laporkan adanya abnormalitas
f) Timbang berat badan Klien setiap hari
g) Kaji dan dokumentasikan : (1) frekuensi, warna,
konsistensi, dan jumlah (ukuran) feses. (2) turgor kulit dan
kondisi mukosa mulut sebagai indicator dehidrasi
h) Informasikan Klien tentang kemungkinan obat yang
mengakibatkan diare
i) Ajarkan Klien menghindari susu, kopi, makanan pedas, dan
makanan yang mengiritasi saluran cerna
j) Manajemen Diare (NIC)
(1) ambil specimen feses untuk uji kultur dan sensitivitas,
jika diare berlanjut
(2) pantau adanya iritasi dan ulserasi kulit di area perianal
(3) ajarkan Klien tentang penggunaan obat antidiare yang
benar
(4) anjurkan Klien dan anggota keluarga untuk mencatat
warna, volume, frekuensi, dan konsistensi feses
(5) ajarkan Klien tentang teknik menurunkan stress
2) Kolaborasi :
A. Konsulkan dengan ahli diet untuk penyesuaian diet yang
diperlukan
B. Konsultasikan pada dokter jika tanda dan gejala diare
menetap

Page 26
C. Dx 3 : Gangguan eliminasi BAB: Inkontinensia Defekasi yang
berhubungan dengan tekanan abdomen abnormal tinggi
Tujuan : Gangguan eliminasi BAB: Inkontinensia Defekasi teratasi
dengan Kriteria hasil :
a) Mengeluarkan feses yang lunak setiap 1 sampai 5 hari
b) Terbebas dari iritasi kulit diarea perianal
c) Klien mampu mempertahankan pengendalian pengeluaran feses
d) Klien mengenali desakan untuk defekasi
e) Klien tidak mengotori pakaian dalam seharian
f) Klien mampu mencapai toilet antara desakan dan pengeluaran feses
g) Mengeluarkan feses yang lunak setiap 1 sampai 5 hari
h) Terbebas dari iritasi kulit diarea perianal

Intervensi Keperawatan:

1 Mandiri :
a. Kaji kemampuan Klien untuk perawatan diri toileting.
b. Kaji kemampuan (mis. Mobilisasi, fungsi kognitif) dan motivasi untuk
berperan serta dalam latihan defekasi dan menggunakan teknik eliminasi
defekasi.
c. Kaji kondisi kulit perianal setelah setiap kali episode inkontinensia.
d. Dokumentasikan frekuensi episode inkontinensia.
e. Catat pola defekasi dan episode inkontinensia, termasuk frekuensi dan
konsistensi pengeluaran feses serta asupan makanan dan cairan.
f. Tentukan penyebab fisik dan psikologi inkontinensia alvi.
g. Pantau diet dan kebutuhan cairan.
h. Pantau keadekuatan defekasi.
i. Tentukan tujuan program manajemen defekasi bersama Klien dan
keluarga.
j. Berikan informasi kepada Klien dan keluarga mengenai fisiologi normal
defekasi.

Page 27
k. Diskusikan prosedur dan hasil yang diharapkan bersama Klien.
l. Jelaskan etiologi masalah dan rasional setiap tindakan.

2 Kolaborasi
a. Lakukan perujukan untuk terapi keluarga (mis. Untuk inkontinensia
dengan etiologi factor emosi)
b. Rujuk Klien untuk mengevaluasi kebutuhan terhadap penyumbat
kontinensia anal.

Rasional :

a) Untuk mempertahankan kontinesial usus, klien harus memiliki sesnsai


anorektal yang utuh, mampu mengeluarkan feses secara sadar, mampu
mengontraksi otot puborektal dan sfingter anus eksternal, serta memiliki
akses yang baik ke fasilitas kamar mandi
b) Konsistensi dan volume feses penting untuk mencapai kontinensia. Feses
yang jumlahnya sedikit dan keras tidak mampu mendistensi atau
menstimulasi rectum sehingga tidak akan menimbulkan keinginan untuk
defekasi.
c) Latihan dapat meningkatkan motilitas pencernaan dan mempercepat
fungsi usus.
d) Latihan panggul diatas lantai dapat meningkatkan kekuatan otot
puborektal dan sfingter anus ekstrenal.
e) Stimulasi rectum dengan jari menimbulkan reflek peristalsis dan
membantu defekasi.
f) Laksatif dapat meyebabkan terjadinya defekasi yang tak terjadwal,
berkurangnya tonus kolon, dan konsitensi feses yang tidak konsisten.
Enema dapat menyebabkan regangan yang berlebihan pada bagian-
bagian usus dan menurunkan tonus usus. Pelunak feses tidak diperlukan
apabila asupan makanan dan cairan adekuat.

Page 28
g) Upaya defekasi dapat dibantu dengan berbagai teknik yang dapat
memfasilitasi gravitasi dan meningkatkan tekanan intra abdomen guna
mengeluarkan feses.
h) Kontipasi atau impaksi BAB yang berlangsung lama menyebabkan
distensi yang berlebihan pada rectum. Kondisi ini dapat menyebabkan
stimulasi reflek yang berkelanjutan dan mengakibatkan penurunan tonus
sfingter.
i) Inkontinensia defekasi kerap menjadi masalah pada lansia yang tinggal di
panti atau lansia yang menderita sakit kronis. Berbagai gangguan kognitif
yang terjadi dapat menghalangi pengenalan isyarat defekasi. Kosntipasi
yang berlangsung lama dapat mengakibatkan kebocoran di sekeliling
impaksi. Penyebab lain inkontinensia defekasi adalah ketidaknormalan
sfingter rectum

D. Dx 4 : Gangguan eliminasi BAB: Persepsi Konstipasi yang berhubungan


dengan keyakinan kesehatan keluarga
Tujuan : Gangguan eliminasi BAB: Persepsi Konstipasi teratasi
dengan Kriteria Hasil :
a) Kepercayaan kesehatan dan perilaku sehat
b) Tidak mengalami gangguan eliminasi
c) Pengeluaran feses tanpa bantuan
d) Kemudahan pengeluaran feses
e) Klien mengungkapkan secara verbal memahami pentingnya mengurangi
penggunaan laksatif, enema, dan supositoria
f) Klien mengungkapkan secara verbal memahami bahwa pengeluaran feses
tidak harus setiap hari

Intervensi Keperawatan:

1) Mandiri :
a) Kaji harapan Klien tentang fungsi defekasi normal
b) Kaji factor penyebab masalah (mis., kepercayaan budaya)

Page 29
c) Observasi, dokumentasi, dan laporkan permintaan laksatif, enema,
atau supositoria
d) Pantau pola defekasi, meliputi frekuensi, konsistensi, bentuk, volume,
dan warna.
e) Perhatikan masalah defekasi yang telah ada sebelumnya, rutinitas
defekasi, dan penggunaan laksatif.
f) Instruksikan Klien dan keluarga tentang diet, asupan cairan, aktivitas,
latihan, serta konsekuensi penggunaan laksatif, enema, dan supositoria
secara berlebihan.
g) Ajarkan Klien/keluarga bahwa pola defekasi setiap dua atau tiga hari
sekali masih normal
h) Ajarkan mengenai karakteristik normal eliminasi dan bandingkan
dengan gejala konstipasi.
2) Kolaborasi
a) Mulai adakan pertemuan perawatan multidisiplin dengan melibatkan
Klien dan keluarga untuk mendorong perilku positif (mis. Perubahan
diet)
b) Berikan umpan balik positif untuk Klien saat terjadi perubahan tingkah
laku.

4) Pelaksanaan Keperawatan
Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana tindakan yang telah
direncanakan sebelumnya.
A. Dx.1 : Gangguan Eliminasi BAB : Konstipasi yang berhubungan dengan
eliminasi atau defekasi yang tidak adekuat
Implementasi (NIC NOC, 2014) :
1) Mandiri :

a) Menginformasikan kepada Klien kemungkinan konstipasi akibat obat


b) Menginstruksikan Klien mengenai bantuan eliminasi defekasi yang
dapat meningkatkan pola defekasi yang optimal di rumah

Page 30
c) Mengajarkan Klien tentang konsekuensi penggunaan laksatif jangka
panjang
d) Menekankan pentingnya mengejan selama defekasi untuk mencegah
perubahan pada tanda vital, lambung atau pendarahan.
e) Menjelaskan etiologi masalah dan rasional tindakan kepada Klien
f) Menganjurkan aktivitas optimal untuk merangsang eliminasi defekasi
Klien
g) Memberikan privasi dan keamanan untuk Klien selama eliminasi
defekasi
h) Menganjurkan klien mengkonsumsi sedikitnya 2 liter (8-10 gelas)
cairan setiap hari
i) Mengkaji dan mendokumentasikan : (warna dan konsistensi feses
pertama pascaoperasi, frekuensi, warna dan konsistensi feses, keluarnya
flatus, adanya infaksi, ada atau tidak bising usus, dan distensi abdomen
pada keempat kwadran abdomen)
j) Membantu klien mengambil posisi semi-jongkok untuk memudahkan
penggunaan otot abdomen dan menghasilkan efek gravitasi
k) Memantau tanda dan gejala rupture usus atau peritonitis

2) Kolaborasi :

a) Mengkonsultasikan dengan ahli gizi untuk meningkatkan serat dan cairan


dalan diet
b) Meminta program dari dokter untuk memberikan bantuan eliminasi,
seperti diet tinggi serat, pelunak feses, enema, dan laksatif
c) Mengkonsultasikan dengan dokter tentang penurunan atau peningkatan
frekuensi bising usus
d) Menyarankan Klien untuk berkonsultasi dengan dokter jika konstipasi
atau impaksi terjadi

Page 31
C. Dx.2 : Gangguan Eliminasi BAB: Diare yang berhubungan dengan infeksi
bakteri
Implementasi (NIC NOC, 2014) :

1. Mandiri :

a) Memonitoring TTV
b) Memberikan Klien oralit
c) Melakukan tes quaiak pada feses
d) Meminta Klien mengidentifikasi pola defekasinya
e) Memantau nilai laboratorium (elektrolit, hitung darah lengkap), dan
laporkan adanya abnormalitas
f) Menimbang berat badan Klien setiap hari
g) Mengkaji dan dokumentasikan : (1) frekuensi, warna, konsistensi, dan
jumlah (ukuran) feses. (2) turgor kulit dan kondisi mukosa mulut sebagai
indicator dehidrasi
h) Menginformasikan Klien tentang kemungkinan obat yang mengakibatkan
diare
i) Mengajarkan Klien menghindari susu, kopi, makanan pedas, dan
makanan yang mengiritasi saluran cerna
j) Mengambil specimen feses untuk uji kultur dan sensitivitas, jika diare
berlanjut
k) Memanantau adanya iritasi dan ulserasi kulit di area perianal
l) Mengajarkan Klien tentang penggunaan obat antidiare yang benar
m) Menganjurkan Klien dan anggota keluarga untuk mencatat warna,
volume, frekuensi, dan konsistensi feses
n) Mengajarkan Klien tentang teknik menurunkan stress

2) Kolaborasi :

a) Mengkonsulkan dengan ahli diet untuk penyesuaian diet yang diperlukan


b) Mengkonsulkan pada dokter jika tanda dan gejala diare menetap

Page 32
C. Dx 3 : Gangguan eliminasi BAB: Inkontinensia Defekasi yang berhubungan
dengan tekanan abdomen abnormal tinggi
Implementasi (NIC NOC, 2014) :

1) Mandiri :

a) Mengkaji kemampuan Klien untuk perawatan diri toileting.


b) Mengkaji kemampuan (mis. Mobilisasi, fungsi kognitif) dan motivasi untuk
berperan serta dalam latihan defekasi dan menggunakan teknik eliminasi
defekasi.
c) Mengkaji kondisi kulit perianal setelah setiap kali episode inkontinensia.
d) Mendokumentasikan frekuensi episode inkontinensia.
e) Mencatat pola defekasi dan episode inkontinensia, termasuk frekuensi dan
konsistensi pengeluaran feses serta asupan makanan dan cairan.
f) Menentukan penyebab fisik dan psikologi inkontinensia alvi.
g) Memantau diet dan kebutuhan cairan.
h) Memantau keadekuatan defekasi.
i) Menentukan tujuan program manajemen defekasi bersama Klien dan
keluarga.
j) Memberikan informasi kepada Klien dan keluarga mengenai fisiologi normal
defekasi.
k) Mendiskusikan prosedur dan hasil yang diharapkan bersama Klien.
l) Menjelaskan etiologi masalah dan rasional setiap tindakan.

2) Kolaborasi

a) Melakukan perujukan untuk terapi keluarga (mis. Untuk inkontinensia dengan


etiologi factor emosi)
b) Merujuk Klien untuk mengevaluasi kebutuhan terhadap penyumbat
kontinensia anal.

Page 33
D. Dx 4 : Gangguan eliminasi BAB: Persepsi Konstipasi yang berhubungan
dengan keyakinan kesehatan keluarga
Implementasi (NIC NOC, 2014) :

1) Mandiri :

a) Mengkaji harapan Klien tentang fungsi defekasi normal


b) Mengkaji factor penyebab masalah (mis., kepercayaan budaya)
c) Mengobservasi, dokumentasi, dan laporkan permintaan laksatif, enema,
atau supositoria
d) Memantau pola defekasi, meliputi frekuensi, konsistensi, bentuk, volume,
dan warna.
e) Memperhatikan masalah defekasi yang telah ada sebelumnya, rutinitas
defekasi, dan penggunaan laksatif.
f) Menginstruksikan Klien dan keluarga tentang diet, asupan cairan,
aktivitas, latihan, serta konsekuensi penggunaan laksatif, enema, dan
supositoria secara berlebihan.
g) Mengajarkan Klien/keluarga bahwa pola defekasi setiap dua atau tiga hari
sekali masih normal
h) Mengajarkan mengenai karakteristik normal eliminasi dan bandingkan
dengan gejala konstipasi.

2) Kolaborasi

a) Memulai adakan pertemuan perawatan multidisiplin dengan melibatkan


Klien dan keluarga untuk mendorong perilku positif (mis. Perubahan diet)
b) Memberikan umpan balik positif untuk Klien saat terjadi perubahan
tingkah laku.

Page 34
5) Evaluasi Keperawatan

Evaluasi terhadap masalah kebutuhan eliminasi BAB dapat di nilai dengan adanya
kemampuan dalam.

1. Memahami cara eliminasi yang normal.


2. Mempertahankan asupan makanan dan minuman cukup yang dapat ditunjukkan
dengan adanya kemampuan dalam dengan merencanakan pola makan, seperti
makan dengan tinggi atau rendah serat (tergantung dari terdensi diare/kontsipasi
serta mampu minum 2000/3000 ml)
3. Melakukan latihan secara teratur, seperti rentan gerak atau aktivitas lain (jalan,
berdiri, dll).
4. Mempertahankan defekasi secara normal yang ditunjukkan dengan kemampuan
Klien dalam mengontrol defekasi tanpa bantuan obat dari/ enema, berpatisispasi
dalam program latihan secara teratur, defekasi tanpa harus mengedan.
5. Mempertahankan rasa nyaman yang ditunjukkan dengan kenyamanan dalam
kemampuan defekasi, tidak terjadi bleeding, tidak terjadi implamasi, dll.
6. Mempertahankan integritas kulit yang ditunjukkan dengan keringnya area
perianal, tidak ada inflamasi atau ekskoriasi, keringnya kulit sekitar stoma, dll.

Page 35
2.2 Eliminasi BAK
1. Definisi Eliminasi BAK
Eliminasi urine merupakan suatu proses penyaringan darah sehingga darah bebas
dari zat-zat yang yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih
dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan lagi oleh tubuh larut dalam air
dan dikeluarkan berupa urin (air kemih). Eliminasi urine normalnya adalah pengeluaran
cairan sebagai hasil filtrasi dari plasma darah di glomerolus. Dari 180 liter darah yang
masuk ke ginjal untuk di filtrasi, hanya 1-2 liter saja yang dapat berupa urine, sebagian
bear hasil filtrasi akan diserap kembali di tubulus ginjal untuk di manfaatkan oleh tubuh.

2. Proses Fisiologis BAK


1 Anatomi Fisiologi Eliminasi Urine
a. Ginjal
Ginjal merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis,
berwarna coklat agak kemerahan, yang terdapat di kedua sisi kolumna vertebra
posterior terhadap peritoneum dan terletak pada otot punggung bagian dalam.
Ginjal terbentang dari vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3.
Dalam kondisi normal, ginjal kiri lebih tinggi 1,5 2 cm dari ginjal kanan
karena posisi anatomi hati. Setiap ginjal secara khas berukuran 12 cm x 7 cm
dan memiliki berat 120-150gram. Sebuah kelenjar adrenal terletak dikutub
superior setiap ginjal, tetapi tidak berhubungan langsung dengan proses
eliminasi urine. Setiap ginjal di lapisi oleh sebuah kapsul yang kokoh dan di
kelilingi oleh lapisan lemak.

b. Ureter
Sebuah ureter bergabung dengan setiap pelvis renalis sebagai rute keluar
pertama pembuangan urine. Ureter merupakan struktur tubulan yang memiliki
panjang 25-30 cm dan berdiameter 1,25 cm pada orang dewasa. Ureter
membentang pada posisi retroperitonium untuk memasuki kandung kemih
didalam rongga panggul (pelvis) pada sambungan ureter ureterovesikalis. Urin
yang keluar dari ureter kekandung kemih umumnya steril.

Page 36
c. Kandung kemih
Kandung kemih adalah ruangan berdinding otot polos yang terdiri dari dua
bagian besar :
Badan (corpus), merupakan bagian utama kandung kemih dimana urin
berkumpul dan, leher (kollum), merupakan lanjutan dari badan yang berbentuk
corong, berjalan secara inferior dan anterior ke dalam daerah segitiga urogenital
dan berhubungan dengan uretra. Bagian yang lebih rendah dari leher kandung
kemih disebut uretra posterior karena hubungannya dengan uretra.
Otot polos kandung kemih disebut otot detrusor. Serat-serat ototnya
meluas ke segala arah dan bila berkontraksi, dapat meningkatkan tekanan dalam
kandung kemih menjadi 40 sampai 60 mmHg. Dengan demikian, kontraksi otot
detrusor adalah langkah terpenting untuk mengosongkan kandung kemih. Sel-sel
otot polos dari otot detrusor terangkai satu sama lain sehingga timbul aliran
listrik berhambatan rendah dari satu sel otot ke sel otot lainnya. Oleh karena itu,
potensial aksi dapat menyebar ke seluruh otot detrusor, dari satu sel otot ke sel
otot berikutnya, sehingga terjadi kontraksi seluruh kandung kemih dengan segera.
Pada dinding posterior kandung kemih, tepat diatas bagian leher dari
kandung kemih, terdapat daerah segitiga kecil yang disebut Trigonum. Bagian
terendah dari apeks trigonum adalah bagaian kandung kemih yang membuka
menuju leher masuk kedalam uretra posterior, dan kedua ureter memasuki
kandung kemih pada sudut tertinggi trigonum. Trigonum dapat dikenali dengan
melihat mukosa kandung kemih bagian lainnya, yang berlipat-lipat membentuk
rugae. Masing-masing ureter, pada saat memasuki kandung kemih, berjalan
secara oblique melalui otot detrusor dan kemudian melewati 1 sampai 2 cm lagi
dibawah mukosa kandung kemih sebelum mengosongkan diri ke dalam kandung
kemih.
Leher kandung kemih (uretra posterior) panjangnya 2 3 cm, dan
dindingnya terdiri dari otot detrusor yang bersilangan dengan sejumlah besar
jaringan elastik. Otot pada daerah ini disebut sfinter internal. Sifat tonusnya
secara normal mempertahankan leher kandung kemih dan uretra posterior agar

Page 37
kosong dari urin dan oleh karena itu, mencegah pengosongan kandung kemih
sampai tekanan pada daerah utama kandung kemih meningkat di atas ambang
kritis.
Setelah uretra posterior, uretra berjalan melewati diafragma urogenital,
yang mengandung lapisan otot yang disebut sfingter eksterna kandung kemih.
Otot ini merupakan otot lurik yang berbeda otot pada badan dan leher kandung
kemih, yang hanya terdiri dari otot polos. Otot sfingter eksterna bekerja di
bawah kendali sistem saraf volunter dan dapat digunakan secara sadar untuk
menahan miksi bahkan bila kendali involunter berusaha untuk mengosongkan
kandung kemih.

d. Uretra
Urin keluar dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari tubuh
melalui meatus uretra. Dalam kondisi normal, aliran urin yang mengalami
turbulansi membuat urin bebas dari bakteri. Membrane mukosa melapisi uretra,
dan kelenjar uretra mensekresi lendir kedalam saluran uretra. Lendir dianggap
bersifat bakteriostatis dan membentuk plak mukosa untuk mencegah masuknya
bakteri. Lapisan otot polos yang tebal mengelilingi uretra.

B. Proses Eliminasi Urine


Proses pembentukan urine
Ada tiga proses dasar yang berperan dalam pembentukan urine: filtrasi glomerulus,
reabsorpsi tubulus, dan sekresi tubulus.
1. Filtrasi glomerulus. Proses ini terjadi karena permukaan aferen lebih besar dari
permukaan eferen sehingga terjadi penyerapan darah. saat darah melaui
glomerulus, terjadi filtrasi plasma bebas protein menembus membran kapiler
glomerulus ke dalam kapsula Bowman. Filtrat yang lolos tersebut terdiri atas air,
glukosa, natrium, klorida, sulfat, dan bikarbonat yang kemudian diteruskan ke
tubulus ginjal.
2. Reabsorpsi tubulus. Pada tubulus bagian atas, terjadi penyerapan kembali
kesebagian besar zat-zat penting, seperti glukosa, natrium,klorida, sulfat, dan ion

Page 38
karbonat. Proses tersebut berlangsung secara pasif yang dikenal dengan istilah
reabsorpsi obligator. Apabila diperlukan, tubulus bawah akan menyerap kembali
natrium dan ion karbonat melalui proses aktif yang dikenal dengan istilah
reabsorpsi fakultatif. Zat-zat yang direabsorpsi tersebut diangkut oleh kapiler
peritubulus ke vena dan kemudian ke jantung untuk kembali diedarkan.
3. Sekresi tubulus. Mekanisme ini merupakan cara kedua bagi darah untuka masuk
kedalam tubulus di samping melalui filtrasi glomerulus. Melalui sekresi tubulus,
zat-zat tertentu pada plasma yang tidak berhasil disaring di kapiler tubulus dapat
lebih cepat dieliminasi.

Urine
Ciri-ciri urine normal
Ciri-ciri urine yang normal meliputi:
Jumlah dalam 24 jam 1.500cc, bergantung pada banyaknya asupan cairan
Berwarna oranye bening, pucat, tanpa endapan
Berbau tajam
Sedikit asam (pH rata-rata 6)

3. Gangguan Eliminasi BAK


a) Retensi urine
Merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih dan ketidakmampuan
kandung kemih untuk menggosokan kandung kemih. Penyebab distensi kandung
kemih adalah urine yang dapat dalam kandung kemih melebihi 400 ml. Normalnya
adalah 250 400 ml.
b) Inkontinensia urine
Adalah ketidakmampuan otot sfingter eksternal sementara atau menetap untuk
mengontrol ekskresi urine. ada dua jenis inkontinensia. Pertama, inkontinensia stres,
yaitu stres yang terjadi pada saat tekanan intraabdomen meningkatkan seperti pada
saat batuk atau tertawa. Kedua, inkontinensia urgensi, yaitu inkontinensia yang terjadi
saat klien terdesak ingin berkemih, hal ini terjadi akibat infeksi salura kemih bawah
atau spasme kandung kemih.

Page 39
c) Enuresis
Merupakan ketidaksangguapan menahan kemih (mengompol) yang diakibatkan
ketidakmampuan untuk mengendalikan sfingter eksterna. Biasanya terjadi pada anak-
anak atau pada orang jompo.

4. Faktor-Faktor Mempengaruhi Pemenuhan Eliminasi BAK


a) Pertumbuhan dan perkembangan
Usia dan berat badan dapat memengaruhi jumlah pengeluaran urine. pada usia lanjut,
volume kandung kemih berkurang ; demikian juga wanita hamil sehingga frekuensi
berkemih juga akan lebih sering.
b) Sosiokultural
Budaya masyarakat dimana sebagian masyarakat hanya dapat miksi pada tempat
tertutup, dan sebaliknya ada masyarakat yang dapat miksi pada lokasi terbuka.
c) Psikologis
Pada keadaan cemas dan stres akan meningkatkan stimulasi berkemih.
d) Kebiasaan seseorang
Misalnya seseorang hanya bisa berkemih di toilet, sehingga ia tidak dapat berkemih
dengan menggunakan pot urine.
e) Tonus otot
Eliminasi urine membutuhkan tonus otot kandung kemih, otot abdomen, dan pelvis
untuk berkontraksi. Jika ada gangguan tonus, otot dorongan untuk berkemih juga
akan berkurang.
f) Intake cairan dan makanan
Alkohol mengahambat antidiuretic hormone (ADH) adalah meningkatkan
pembuangan urine. kopi, teh, coklat, dan kola yang mengandung kafein dapat
meningkatkan pembuangan dan ekskresi urine.
g) Kondisi penyakit
Pada Klien yang demam akan terjadi penurunan produksi urine karena banyak cairan
yang dikeluarkan melalui kulit. Peradangan dan iritasi organ kemih
menimbulkan retensi urine.

Page 40
h) Pembedahan
Penggunaan anestesi menurunkan filtrasi glomerolus sehingga produksi urine akan
menurun.
i) Pengobatan
Penggunaan diuretic meningkatkan out put urine ; antikolonergik dan antihipertensi
menimbulkan retensi urine.
j) Pemeriksaan diagnostik
Pielogram intravena dimana Klien dibatasi intake sebelum prosedur untuk
mengurangi out put urine. sitoskopi dapat menimbulkan edema lokal pada uretra dan
spesme pada sfingter kandung kemih sehingga dapat menimbulkan urine.

5. Pemeriksaan Penunjang Gangguan Pemenuhan Eliminasi BAK


1 Pemeriksaan Urine meliputi Volime, warna, Berat Jenis, Ph, Protein,
Bikokarbonat, warna tambahan, dan osmolalitas.
2 pemeriksaan darah meliputi : HB, SDM, kalium, Natrium, pencitraan
radionuklida, dan Klorida, fosfat, dan magnesium meningkat.
3 pemeriksaan ultrasound ginjal
4 arteriogram ginjal
5 EKG
6 CT Scan
7 Endourologi
8 Urografi ekskretorius
9 sistouretrogram berkemih

6. Penatalaksanaan Gangguan Pemenuhan Eliminasi BAK


Pelaksanaan (tindakan) keperawatan
Pengumpulan urine untuk bahan pemeriksaan
Mengingat tujuan pemeriksaan dengan bahan urine berbeda-beda, maka
pengambilan atau pengumpulan urine juga dibedakan sesuai dengan tujuannya. Cara
pengambilan urine tersebut antara lain : pengambial urine biasa, pengambilan urine steril,
dan pengumpulan selama 24 jam.

Page 41
1. Pengmbilan urine biasa merupakan pengambilan urine dangan cara mengeluarkan
urine secara biasa yaitu buang air kecil. Pengambialn urine biasa ini biasa digunakan
untuk memeriksa gula atau kehamilan
2. Pengambilan urine steril merupakan pengambialn urine dengan menggunakan alat
steril, dialakuakn dengan cara kateterisasi atau fungsi supra pubis. Pengambialn urine
steril bertujuan untuk mengetahui adanya infeksi pada uretra, ginjal, atau saluran
kemih lainnya.
3. Pengambilan urine selama 24 jam merupakan pengambilan urine yang dikumpulkan
dalam waktu 24 jam, bertujuan untuk mengetahui jumlah urine selama 24 jam dan
mengukur berat jenis, asupan dan pengeluaran, serta mengetahui fungsi ginjal.

7. Asuhan Keperawatan Teoritis Pemenuhan Eliminasi BAK


1) Pengkajian
Pengkajian yang sistematis meliputi pengumpulan data, analisa data dan
penentuan masalah. Pengumpulan data diperoleh dengan cara intervensi, observasi,
pemeriksaan fisik. Pengkaji data menurut Cyndi Smith Greenberg, 1992 adalah:
1. Pengumpulan Data
a. Identitas klien.
Klien Penanggung
(Hubungan dengan penanggung)
(1) Nama :
(2) Umur :
(3) Jenis Kelamin :
(4) Alamat :
(5) Agama :
(6) Pekerjaan :
(7) Pendidikan :
(8) No. RM :
(9) Tanggal masuk RS :
(10) Diagnosa medis :

Page 42
b. Riwayat Keperawatan
(1) Pola berkemih
(2) Gejala dari perubahan berkemih
(3) Faktor yang memengaruhi berkemih
c. Pemeriksaan fisik
(1) Abdomen
Pembesaran, pelebaran pembuluh darah vena, distensi bladder,
pembesaran ginjal, nyeri tekan, tenderness, bising usus.
(2) Genetalia wanita
Inflamasi, nodul, lesi, adanya sekret dari meatus, keadaan atropi
jaringan vagina
(3) Genetalia laki-laki
Kebersihan, adanya lesi, tenderness, adanya pembesaran skrotum.
d. Intake dan output cairan
(1) Kaji intake dan ouput cairan dalam sehari (24 jam)
(2) Kebiasaan minum dirumah
(3) Intake : cairan infus, oral, makanan, NGT
(4) Kaji perubahan volume urine untuk mengetahui ketidakseimbangan
cairan.
(5) Output urine dari urinal, cateter bag, drainage ureterostomy,
sistostomi.
(6) Karakteristik urine : warna, kejernihan, bau, kepekatan.
e. Pemeriksaan diagnostic
(1) Pemeriksaan urine (urinalisis)
Warna : (N : jernih)
Penampilan : (N : jernih)
Bau (N : beraroma)
pH : (N : 4,5-8,0)
Berat jenis (N : 1,005 1,030)
Glukosa (N : negatif)
Keton (N : negatif)

Page 43
Kultur urine (N: kuman patogen negatif)

2) Diagnosa Keperawatan
NANDA menyatakan bahwa bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan
klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan
aktual dan potensial sebagai, dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai
tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. Menurut north
american nursing diagnosis association (NANDA), diagnosis keperawatan terkait
masalah Eliminasi BAK dibagi menjadi:

A. Inkontinensia Urine : Fungsional yang berhubungan dengan:


a. Factor lingkungan yang berubah.
b. Gangguan kognisi.
c. Gangguan penglihatan.
d. Keterbatasan neuromuscular.
e. Faktor psikologis.
f. Kelemahan struktur panggul pendukung.

yang ditandai oleh:

a. Mampu mengosongkan kandungan kemih dengan komplet.


b. Jumlah waktu yang diperlukan untuk mencapai toilet melebihi lama waktu
antara merasakan dorongan untuk berkemih dan tidak dapat mengontrol
untuk berkemih.
c. Mengeluarkan urine sebelum mencapai toilet.
d. Mungkin inkontien hanya pada dini hari.
e. Merasakan perlunya untuk berkemih.

B. Inkontinensia Urine Aliran Berlebihan(Overflow) yang berhubungan dengan:


a. Obstruksi aliran keluar kandung kemih.
b. Disinergia sfingter eksternal detrusor.
c. Hipokontraktilitas detrusor.
d. Impaksi BAB.

Page 44
e. Prolaps pelvic berat.
f. Efek samping obat antikolinergik.
g. Efek samping penyekat saluran kalsium.
h. Efek samping obat dekongestan.
i. Obstruksi uretral

yang ditandai oleh:

1.Subjektif :
Melaporkan rembesan involunter sedikit urine.

2. Objektif :

a. Distensi kandung kemih.


b. Volume residu pasca berkemih tinggi.
c. Nokturia.
d. Terlihat rembesan involunter sedikit urine.

C. Inkontinensia Urine: Refleks yang berhubungan dengan:


a. Kerusakan jaringan(mis, karena sititis radiasi, gangguan inflamasi kandung
kemih, bedah pelvic radikal).
b. Gangguan neurologis di atas lokasi pusat mikturisi pontine.
c. Gangguan neurologis di atas lokasi pusat mikturisi sacral.

yang ditandai oleh:

1. Subjektif :

a. Tidak ada sensasi penuhnya kandung kemih.


b. Tidak ada sensasi dorongan untuk berkemih.
c. Tidak ada sensasi berkemih.
d. Sensasi dorongan tanpa hambatan volenter kontraksi kandung kemih.
e. Sensasi yang dikaitkan dengan kandung kemih penuh (mis, berkeringat,
gelisah, ketidaknyamanan abdomen).

Page 45
2. Objektif :

a. Ketidakmampuan untuk menghambat berkemih secara volenter menghambat


atau memulai berkemih
b. Ketidakmampuan untuk memulai berkemih secara volenter.
c. Pengosongan tidak tuntas dengan lesi di atas pusat mikturisi sakrum.
d. Pola berkemih yang dapat diprediksi.

D. Inkontinensia Urine : Stres yang berhubungan dengan:


a. Perubahan degenerative pada otot-otot pelvic.
b. Tekanan intraabdomen tinggi.
c. Defisiensi sfingter uretra intrinsic.
d. Kelemahan otot pelvic.

yang ditandai oleh:

1. Subjektif

a) Melaporkan rembesan involunter sedikit urine pada tidak adanya kontraksi


detrusor.
b) Melaporkam rembesan involunter sedikit urine pada tidak adanya overdistensi
kandung kemih.
c) Melaporkan rembesan involunter sedikit urine pada saat aktivitas fisik.
d) Melaporkan rembesan involunter sedikit urine padaa saat tertawa.
e) Melaporkan rembesan involunter sedikit urine pada saat bersin.

2. Objektif :

a. Terlihat rembesan involunter sedikit urine pada tidak adanya kontraksi detrusor.
b. Terlihat rembesan involunter sedikit urine pada tidak adanya overdistensi
kandung kemih.
c. Terlihat rembesan involunter sedikit urine pada aktivitas fisik.
d. Terlihat rembesan involunter sedikit urine pada saat batuk.
e. Terlihat rembesan involunter sedikit urine pada saat tertawa.
f. Terlihat rembesan involunter sedikit urine pada saat bersin.

Page 46
E. Inkontinensia Urine : Dorongan (Urgensi) yang berhubungan dengan:
a. Asupan alcohol.
b. Uretritis atrofik.
c. Vaginitis atrofik.
d. Infeksi kandung kemih.
e. Asupan kafein.
f. Penurunan kapasitas kandung kemih.
g. Hiperaktivitas detrusor dengan gangguan kontraktilitas kandung kemih.
h. Penggunaan dieuritik.
i. Impaksi BAB.

yang ditandai oleh:

1. Subjektif :

a. Menyatakan ketidakmampuan mencapai toilet pada waktunya untuk berkemih.


b. Menyatakan keluarya urine involunter dengan kontraksi kandung kemih.
c. Menyatakan keluarnya urine involunter dengan spasme kandung kemih.
d. Melaporkan dorongan berkemih.

2. Objektif :

Terlihat tidak mampu mencapai toilet pada waktunya untuk berkemih.

F. Gangguan Eliminasi Urine yang berhubungan dengan:


a. Obstruksi anatomis.
b. Penyebab multipel.
c. Gangguan sensori motorik.
d. Infeksi saluran kemih.

yang ditandai oleh:

1. Subjektif :

a. Disuria.
b. Dorongan (Urgensi)

Page 47
2. Objektif :

a. Sering berkemih.
b. Anyang-anyangan.
c. Inkontinensia.
d. Nokturia.
e. Retensi.

G. Retensi Urine yang berhubungan dengan:


a. Sumbatan.
b. Tekanan ureter tinggi.
c. Inhibisi arkus reflex.
d. Sfingter kuat.

yang ditandai oleh:

1. Subjektif :

a. Disuria.
b. Sensasi kandung kemih penuh.

2. Objektif :

a. Haluaran urine yang sering dan sedikit atau tidak ada


b. Distensi kandung kemih.
c. Urine Menetes (dribbing)
d. Sering berkemih.
e. Inkontinensia aliran berlebihan.
f. Residu urine

Page 48
3) Perencanaan Keperawatan

Perencanaan keperawatan diartikan sebagai rencana tindakan keputusan


keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan
diagnosa keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuannya terpenuhinya
kebutuhan Klien.Berikut ini adalah perencanaan keperawatan yang berhubungan
dengan masalah eliminasi BAK (NANDA, 2014):

A. Dx 1: Inkontinensia Urine : Fungsional yang berhubungan dengan: factor


lingkungan yang berubah, gangguan kognisi dan gangguan penglihatan
Tujuan : Inkontinensia Urine : Fungsional teratasi
dengan Kriteria Hasil:
a. Mampu mengidentifikasi keinginan berkemih
b. Berespon tepat waktu terhadap dorongan berkemih
c. Mencapai toilet antara waktu dorongan berkemih dan pengeluaran urine
d. Menata laksana pakaian secara mandiri
e. Melakukan eliminasi secara mandiri
f. Mempertahankan eliminasi yang dapat diduga
g. Mampu menggunakan peralatan adaptif untuk membantu melepas dan
menggunakan kembali pakaian untuk eliminasi

Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri

a) Pantau eliminasi urine, termasuk frekuensi, konsistensi, bau, volume dan


warna
b) Kumpulkan specimen urine porsi tengah untuk urinalisis
c) Identifikasi factor yang menyebabkan episode inkontinensia
d) Diskusikan dengan Klien dan keluarga tentang cara memodifikasi
lingkungan episode mengompol, pertimbangkan strategi berikut :
1) Tingkatkan pencahayaan lingkungan untuk meningkatkan
penglihatan
2) Pasang dudukam toilet yang lebih tinggi dan susur tangan

Page 49
3) Sediakan kursi buang air, pispot, dan urinal portable
4) Lepaskan karpet yang mudah bergeser
e) Anjurkan Klien dan keluarga menetapkan rutinitas berkemih pada waktu
tertentu berdasarkan pola eliminasi Klien untuk menurunkan episode
mengompol
f) Anjurkan Klien dan keluarga untuk melakukan perawatan kulit dan
hygiene untuk mencegah kerusakan kulit
g) Ajarkan Klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
h) Ajarkan Klien untuk segera berespons terhadap keinginan berkemih
i) Ajarkan keluarga untuk mencatat haluaran urine
j) Ajarkan Klien untuk minum 200 ml cairan saat makan, diantara waktu
makan, dan di petang hari
k) Beri pakaian pelindung atau pengalas
l) Bantu Klien untuk eliminasi dan berkemih tepat waktu pada interval yang
dipogramkan

2. Kolaborasi :

a) Konsultasikan dengan dokter dan ahli terapi okupasi untuk bantuan


ketangkasan manual
b) Rujuk ke dokter jika tanda dan gejala infeksi saluran kemih terjadi

B. Dx 2 : Inkontinensia Urine Aliran Berlebihan(Overflow) yang berhubungan


dengan: Obstruksi aliran keluar kandung kemih.
Tujuan : Inkontinensia Urine Aliran Berlebihan(Overflow) teratasi
dengan Kriteria Hasil :
a) Mampu mengosongkan kandung kemih secara tuntas
b) Mengkonsumsi cairan dalam jumlah adekuat
c) Tidak terjadi urine residu pasca-berkemih >100-200 ml
d) Tidak terjadi infeksi saluran kemih (hitung sel darah putih <100.000)
e) Tidak terjadi kebocoran urine diantara waktu berkemih

Page 50
Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri :

a. Kaji kemampuan mengidentifikasi keinginan untuk berkemih


b. Pantau asupan dan haluaran
c. Lakukan pengkajian perkemihan komprehensif yang berfokus pada inkontinensia
d. Pantau tingkat distensi kandung kemih melalui palpaso dan perkusi
e. Lakukan katerisasi untuk urine residu
f. Ajarkan cara menghindari konstipasi dan impaksi feses
g. Ajarkan membersihkan diri setelah episode doronga (Overflow)
h. Pertahankan asupan cairan sekitar 2000 ml/hari
i. Lakukan maneuver Crede
j. Bantu Klien mempertahankan hygiene dan rutinitas perawatan kulit adekuat
(oleskan salep barier lebab atau zat penyegel kulit)

2. Kolaborasi :

a) Rujuk ke perawat ahli terapi enterostoma untuk panduan membersihkan kateriasi


mandiri intermiten
b) Rujuk ke spesialis konstinensia urine

C. Dx 3 : Inkontinensia Urine: Refleks yang berhubungan dengan: gangguan


inflamasi kandung kemih
Tujuan : : Inkontinensia Urine: Refleks teratasi
Dengan Kriteria Hasil :
a) Mampu berkemih ditempat yang tepat
b) Berkemih >150 ml setiap kali berkemih
c) Mempertahankan pola berkemih yang dapat diduga
d) Tidak mengalami kerusakan kulit

Page 51
Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri :

a) Kaji kemampuan untuk mengidentifikasi keinginan untuk berkemih


b) Identifikasi pola berkemih
c) Pantau teknik Klien dan pemberi asuhan yang melakukan katerisasi intermiten
d) Pantau warna, bau dan kejernihan urine dan lakukan urinalisis secara sering untuk
memantau infeksi
e) Tentukan kesiapan dan kemampuan Klien untuk melakukan katerisasi intermiten
mandiri
f) Ajarkan Klien dan keluarga dan pemberi asuhan teknik membersihkan kateterisasi
intermiten
g) Bantu Klien mempertahankan hygiene dan rutinitan perawatan kulit
h) Ingatkan Klien untuk menahan urine hingga waktu yang dijadwalkan
i) Pertahankan asupan cairan sekitar 2000 ml per hari

2. Kolaborasi :

a) Rujuk ke perawat ahli terapi enterostoma untuk panduan membersihkan kateriasi


mandiri intermiten
b) Beri terapi antibakteri, sesuai program dokter, di awal katerisasi intermiten

D. Dx 4: Inkontinensia Urine : Stres yang berhubungan dengan:.Defisiensi sfingter


uretra intrinsic.
Tujuan : Inkontinensia Urine : Stres teratasi
Dengan Kriteria Hasil :
a) Tidak terjadi kebocoran urine aibat penekanan terhadap abdomen
b) Tidak mengompol di siang hari
c) Klien mampu mendeskripsikan rencana untuk mengatasi inkontinensia stes
d) Mampu mempertahankan frekuensi berkemih setiap lebih dari 2 jam sekali

Page 52
Intervesi Keperawatan :

1. Mandiri

a) Anjurkan Klien melakukan tindakan perawatan kulit dan hygiene


b) Ajarkan pemberian estrogen oral atau topical secara mandiri untuk
meredakan gejala
c) Ajarkian teknik penguatan sfingter dan struktur penyongkong kandung
kemih
d) Bantu Klien memilih pakaian yang tepat atau pembalut untuk manajemen
inkontinesnsia jangka pendek
e) Beri umpan balik positif untuk melakukan latihan dasar panggul
f) Membatasi ingesti zat yang dapat menyebabkan iritasi kandung kemih

2. Kolaborasi :

a) Konsultasikan dengan dokter tentang manajemen medical-bedah episode


inkontinensia

Rasional :

a) Pada inkontinensia stres, otot dasar panggul (pubokoksigeus) dan otot


levator ani telah lemah atau meregang akibat kelahiran anak, trauma,atrofi
menopause, atau obesitas.
b) Latihan otot panggul menguatkan dan mengencangkan otot dasar panggul.
Latihan ini dapat memberikan tekanan uretra atau tekanan tambahan yang
memadai untuk mencegah inkontinensia stres ringan. Latihan ini harus
diajarkan pada seluruh wanita sebagai upaya preventif. Hasil study telah
menunjukan bahwa latihan otot panggul berhasil memperbaiki atau
sepenuhnya mengendaliakn inkotinensia stres (Dougherty, 1998)

Page 53
E. Dx 5 : Inkontinensia Urine : Dorongan (Urgensi) yang berhubungan dengan:
Penurunan kapasitas kandung kemih.
Tujuan : Inkontinensia Urine : Dorongan (Urgensi) teratasi
dengan Kriteria Hasil :
a) Selalu berespon tepat waktu terhadap keinginan berkemih
b) Mampu mengidentifikasi obat yang menganggu kendali berkemih
c) Memiliki episode inkontinensia yang lebih jarang
d) Urine dikeluarkan tanpa urgensi

Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri

a) Ajarkan kepada Klien teknik meningkatkan kapasitas kandung kemih


b) Pantau efek obat antispasmodic, seperti mulut kering, yang menganggu
kemampuan bicara atau makan
c) Bantu Klien berkemih sebelum tidur dan dorong berkemih dimalam hari untuk
mengurangi urgensi
d) Beri pispot, kursi buang air dan urinal di dekat Klien untuk mendorong episode
berkemih yang sering

2. Kolaborasi :

a) Konsultasikan dengan dokter dan ahli terapi okupasi untuk mendapatkan bantuan
dalam melatih ketangkasan manual
b) Konsultasikan dengan dokter mengenai : (1) obat antispasmodic dan antikolinergik
dan (2) manajemen medis (misalnya, terapi stimulasi listrik, pemeriksaan ganguan
kandung kemih iritatif atau imflamatori yang didasari inkontinensia, terapi bedah)

Page 54
F. Dx 6: Gangguan Eliminasi Urine yang berhubungan dengan: Infeksi saluran
kemih
Tujuan : Gangguan Eliminasi Urine teratasi
dengan Kriteria Hasil :
a) Tidak terjadi infeksi saluran kemih (Sel darah putih <100.000)
b) Tidak terjadi kebocoran urine diantara berkemih
c) Mampu eliminasi secara mandiri
d) Mampu mempertahankan pola berkemih yang dapat diduga
e) Konstinensia urine
f) Eliminasi urine tidak terganggu (bau,jumlah ,dan warna yang diharapkan, tidak
ada hematuria)
g) Pengeluaran urine tanpa nyeri
h) Tidak ada kesulitan di awal berkemih (urgensi)
i) Kreatinin serum dan berat jenis urine dalam batas normal
j) Protein , glukosa, keyon, Ph, dan elektrolit urine dalam batas normal

Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri :

a) Pantau eliminasi urine, meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna
b) Ajarkan Klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
c) Intruksikan Klien untuk berespons segera terhadap kebutuhan eliminasi
d) Ajarkan Klien untuk minum 200 ml cairan pada saat makan, di antara waktu
makan, dan di awal petang

2. Kolaborasi :

a) Rujuk ke dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi saluran kemih

Page 55
G. Dx 7 : Retensi Urine yang berhubungan dengan: sumbatan, tekanan ureter tinggi,
Inhibisi arkus reflex, Sfingter kuat.
Tujuan : Retensi Urine teratasi
dengan Kriteria Hasil :
a) Tidak terjadi kebocoran urine diantara berkemih
b) Tidak terjadi urine residu pasca-berkemih >100-200 cc
c) Mampu menunjukan pengosongan kandung kemih dengan prosedur bersih
kateterisasi intermiten mandiri
d) Tetap bebas dari infeksi saluran kemih
e) Mempunyai keseimbangan asupan dan haluaran 24 jam
f) Mampu mengosongkan kandung kemih secara tuntas

Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri :

a) Identifikasi dan dokumentasikan pola pengosongan kandung kemih


b) Pantau penggunaan agens non-resep dengan antikolinergik aatu agonis alfa
c) Pantau efek obat resep
d) Pantau asupan dan haluaran
e) Pantau derajat distensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi
f) Ajarkan Klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih yang harus
dilaporkan
g) Instruksikan Klien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine
h) Berikan privasi untuk eliminasi
i) Stimulasi reflex kandung kemih dengan menempelkan es ke abdomen
j) Berikan cukup waktu untuk pengosongan kandung kemih (10 menit)\
k) Gunakan spirtus dari wintergreen pada pispot atau urinal
l) Lakukan kateterisasi untuk mengeluarkan urine residu
m) Lakukan maneuver Crede

2. Kolaborasi :

a) Rujuk ke perawat ahli terapi enterostoma untuk panduan membersihkan kateriasi


mandiri intermiten

Page 56
b) Rujuk ke spesialis konstinensia urine

Rasional:

a) Dribbling sering kali dapat dikurangi dengan menurunkan tekanan pada dinding
kandung kemih dan abdomen serta menguatkan jaringan periuretra.
b) Untuk meningkatkan kenyamanan saat berkemih, klien harus melatih refleks
berkemih dengan mengonsumsi cairan yang adikuat dan menghambat kontraksi
kandung kemih. Berkemih yang sering menyebabkan pola berkemih volume rendah
dan dapat meningkatkan aktivitas detrusor. Dengan menghambat urgensi untuk
berkemih dapat meningkatkan interval berkemih dan menurunkan aktivitas otot
detrusor.
c) Pada banyak klien, manuver Crede dapat membantu mengosongkan kandung kemih.
Mesi demikian, manuver tidak sesuai dilakukan jika sfingter kandung kemih
berkontraksi dalam waktu yang lama. Pada kasus ini, menekan kandung kemih
dapat memaksa urine naik menuju ureter dan mengalir disepanjang uretra. Refluks
urine kedalam pelvis ginjal dapat menyebabkan infeksi ginjal.
d) Stimulasi kutaneus eksternal dapat merangsang refleks berkemih
e) Manuver valsava menimbulkan kontraksi pada otot abdomen yang akan
mengompresi kandung kemih
f) Stimulasi sfingter anus dapat menstimulasi refleks berkemih
g) Apabila tekhnik pengosongan kandung kemih tidak berhasil, metode
penatalaksanaan inkontinensia lainnya penting dilakukan

Page 57
4) Intervensi Keperawatan

A. Dx 1: Inkontinensia Urine : Fungsional yang berhubungan dengan: factor


lingkungan yang berubah, gangguan kognisi dan gangguan penglihatan

Implementasi Keperawatan :

1. Mandiri

a) Memantau eliminasi urine, termasuk frekuensi, konsistensi, bau, volume


dan warna
b) Mengumpulkan specimen urine porsi tengah untuk urinalisis
c) Mengidentifikasi faktor yang menyebabkan episode inkontinensia
d) Mendiskusikan dengan Klien dan keluarga tentang cara memodifikasi
lingkungan episode mengompol, pertimbangkan strategi berikut :
1) Meningkatkan pencahayaan lingkungan untuk meningkatkan
penglihatan
2) Memasang dudukam toilet yang lebih tinggi dan susur tangan
3) Menyediakan kursi buang air, pispot, dan urinal portable
4) Melepas karpet yang mudah bergeser
e) Menganjurkan Klien dan keluarga menetapkan rutinitas berkemih pada
waktu tertentu berdasarkan pola eliminasi Klien untuk menurunkan episode
mengompol
f) Menganjurkan Klien dan keluarga untuk melakukan perawatan kulit dan
hygiene untuk mencegah kerusakan kulit
g) Mengajarkan Klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
h) Mengajarkan Klien untuk segera berespons terhadap keinginan berkemih
i) Mengajarkan keluarga untuk mencatat haluaran urine
j) Mengajarkan Klien untuk minum 200 ml cairan saat makan, diantara waktu
makan, dan di petang hari
k) Memberi pakaian pelindung atau pengalas
l) Membantu Klien untuk eliminasi dan berkemih tepat waktu pada interval
yang dipogramkan

Page 58
2. Kolaborasi :

c) Mengkonsultasikan dengan dokter dan ahli terapi okupasi untuk bantuan


ketangkasan manual
d) Merujuk ke dokter jika tanda dan gejala infeksi saluran kemih terjadi

B. Dx 2 : Inkontinensia Urine Aliran Berlebihan(Overflow) yang berhubungan


dengan: Obstruksi aliran keluar kandung kemih.
Implementasi Keperawatan :

1. Mandiri :

a. Mengkaji kemampuan mengidentifikasi keinginan untuk berkemih


b. Memantau asupan dan haluaran
c. Melakukan pengkajian perkemihan komprehensif yang berfokus pada
inkontinensia
d. Memantau tingkat distensi kandung kemih melalui palpaso dan perkusi
e. Melakukan katerisasi untuk urine residu
f. Mengajarkan cara menghindari konstipasi dan impaksi feses
g. Mengajarkan membersihkan diri setelah episode doronga (Overflow)
h. Mempertahankan asupan cairan sekitar 2000 ml/hari
i. Lakukan maneuver Crede
j. Membantu Klien mempertahankan hygiene dan rutinitas perawatan kulit
adekuat (oleskan salep barier lebab atau zat penyegel kulit)

2. Kolaborasi :

a. Merujuk ke perawat ahli terapi enterostoma untuk panduan membersihkan


kateriasi mandiri intermiten
b. Merujuk ke spesialis konstinensia urine

Page 59
C. Dx 3 : Inkontinensia Urine: Refleks yang berhubungan dengan: gangguan
inflamasi kandung kemih

Implementasi Keperawatan :

1. Mandiri :

a) Mengkaji kemampuan untuk mengidentifikasi keinginan untuk berkemih


b) Mengidentifikasi pola berkemih
c) Memantau teknik Klien dan pemberi asuhan yang melakukan katerisasi intermiten
d) Memantau warna, bau dan kejernihan urine dan lakukan urinalisis secara sering
untuk memantau infeksi
e) Menentukan kesiapan dan kemampuan Klien untuk melakukan katerisasi
intermiten mandiri
f) Mengajarkan Klien dan keluarga dan pemberi asuhan teknik membersihkan
kateterisasi intermiten
g) Membantu Klien mempertahankan hygiene dan rutinitan perawatan kulit
h) Mengingatkan Klien untuk menahan urine hingga waktu yang dijadwalkan
i) Mempertahankan asupan cairan sekitar 2000 ml per hari

2. Kolaborasi :

c) Merujuk ke perawat ahli terapi enterostoma untuk panduan membersihkan


kateriasi mandiri intermiten
d) Memberi terapi antibakteri, sesuai program dokter, di awal katerisasi intermiten

D. Dx 4: Inkontinensia Urine : Stres yang berhubungan dengan:.Defisiensi sfingter


uretra intrinsic.
Implementasi Keperawatan :

1. Mandiri

a) Menganjurkan Klien melakukan tindakan perawatan kulit dan hygiene


b) Mengajarkan pemberian estrogen oral atau topical secara mandiri untuk
meredakan gejala

Page 60
c) Mengajarkan teknik penguatan sfingter dan struktur penyongkong kandung
kemih
d) Membantu Klien memilih pakaian yang tepat atau pembalut untuk
manajemen inkontinesnsia jangka pendek
e) Memberi umpan balik positif untuk melakukan latihan dasar panggul
f) Membatasi ingesti zat yang dapat menyebabkan iritasi kandung kemih

2. Kolaborasi :

Mengkonsultasikan dengan dokter tentang manajemen medical-bedah episode


inkontinensia

E. Dx 5 : Inkontinensia Urine : Dorongan (Urgensi) yang berhubungan dengan:


Penurunan kapasitas kandung kemih.
Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri

a) Mengajarkan kepada Klien teknik meningkatkan kapasitas kandung kemih


b) Memantau efek obat antispasmodic, seperti mulut kering, yang menganggu
kemampuan bicara atau makan
c) Membantu Klien berkemih sebelum tidur dan dorong berkemih dimalam hari
untuk mengurangi urgensi
d) Memberi pispot, kursi buang air dan urinal di dekat Klien untuk mendorong
episode berkemih yang sering

2. Kolaborasi :

a) Mengkonsultasikan dengan dokter dan ahli terapi okupasi untuk mendapatkan


bantuan dalam melatih ketangkasan manual
b) Mengkonsultasikan dengan dokter mengenai : (1) obat antispasmodic dan
antikolinergik dan (2) manajemen medis (misalnya, terapi stimulasi listrik,
pemeriksaan ganguan kandung kemih iritatif atau imflamatori yang didasari
inkontinensia, terapi bedah)

Page 61
F. Dx 6: Gangguan Eliminasi Urine yang berhubungan dengan: Infeksi saluran kemih

Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri :

a) Memantau eliminasi urine, meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna
b) Mengajarkan Klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
c) Mengintruksikan Klien untuk berespons segera terhadap kebutuhan eliminasi
d) Mengajarkan Klien untuk minum 200 ml cairan pada saat makan, di antara waktu
makan, dan di awal petang

2. Kolaborasi :

Merujuk ke dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi saluran kemih

G. Dx 7 : Retensi Urine yang berhubungan dengan: sumbatan, tekanan ureter tinggi,


Inhibisi arkus reflex, Sfingter kuat.

Intervensi Keperawatan :

1. Mandiri :

a) Mengidentifikasi dan dokumentasikan pola pengosongan kandung kemih


b) Memantau penggunaan agens non-resep dengan antikolinergik aatu agonis alfa
c) Memantau efek obat resep
d) Memantau asupan dan haluaran
e) Memantau derajat distensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi
f) Mengajarkan Klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih yang harus
dilaporkan
g) Menginstruksikan Klien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine
h) Memberikan privasi untuk eliminasi
i) Menstimulasi reflex kandung kemih dengan menempelkan es ke abdomen
j) Memberikan cukup waktu untuk pengosongan kandung kemih (10 menit)\
k) Mengunakan spirtus dari wintergreen pada pispot atau urinal
l) Melakukan kateterisasi untuk mengeluarkan urine residu
m) Melakukan maneuver Crede

Page 62
2. Kolaborasi :

a) Merujuk ke perawat ahli terapi enterostoma untuk panduan membersihkan


kateriasi mandiri intermiten
b) Merujuk ke spesialis konstinensia urine

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan terhadap gangguan kebutuhan eliminasi urine secara umum dapat
dinilai dari adanya kemampuan dalam :

a. Miksi secara normal, ditunjukkan dengan kemampuan Klien berkemih sesuai dengan
asupan cairan dan Klien mampu berkemih tanpa menggunakan obat, kompresi pada
kandung kemih, atau kateter
b. Mengosongkan kandung kemih, ditunjukkan dengan berkurangnya distensi, volume urine
residu, dan lancarnya kepatenan drainase.
c. Mencegah infeksi, ditunjukkan dengan tidak adanya tanda infeksi, tidak ditemukan
adanya disurea, urgensi, frekuensi, dan rasa terbakar.
d. Mempertahankan integritas kulit, ditunjukkan dengan adanya parineal kering tanpa
inflamasi dan kulit sekitar ureterostomi kering.
e. Memberikan rasa nyaman, ditunjukkan dengan berkurangnya disurea, tidak ditemukan
adanya distensi pada kandung kemih, dan adanya ekspresi senang mengenai perasaan.
f. Melakukan bladder training, ditunjukkan dengan berkurangnya frekuensi inkontinensia
dan mampu berkemih disaat ingin berkemih.

Page 63
BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. MS DENGAN DIARE DI RUANGAN


TERATAI RSUD KARANGASEM

TANGGAL : 14-15 JULI 2014

A. PENGKAJIAN
Pengkajian pada Klien dilakukan pada tanggal 3 Desember 2014 pukul 09.00 Wita, di
Ruang Teratai RSUD Karangasem dengan metode observasi, wawancara, pemeriksaan fisik, dan
dokumentasi (rekam medis).

1. PENGUMPULAN DATA
a. Identitas Klien

Klien Penanggung

(Anak) JKBM

Nama : Tn. MS S

Umur : 53 tahun 25 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki Perempuan

Status Perkawinan : Kawin Belum Kawin

Suku/ Bangsa : Bali/ Indonesia Bali/ Indonesia

Agama : Islam Islam

Pendidikan : SMP SMA

Pekerjaan : Petani Pelaut

Alamat : Segarakaton, Karangasem Segarakaton, Karangasem

Page 64
Alamat Terdekat : Segarakaton, Karangasem Segarakaton, Karangasem

Nomor Telepon : - 081936315526

Nomor Register : 144894 -

Tanggal MRS : 12 Juli 2014 -

b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama masuk rumah sakit
Klien mengeluh mencret dari dua hari yang lalu (tanggal 10 Juli 2014) disertai
mual dan muntah.
2) Keluhan utama saat pengkajian
Klien mengatakan BAB sebanyak 6x sehari dengan konsistensi encer,terdapat
serat, berwarna kuning, bau khas feses tanpa darah dan lendir dengan jumlah
volume 50 cc tiap hari.
3) Riwayat penyakit sekarang
Klien mengatakan awalnya klien sempat melakukan perjalanan ke Lombok
tanggal 8 Juli 2014 setelah kembali ke Bali tanggal 10 Juli 2014, dalam perjalanan
Klien mengatakan perutnya terasa mulas disertai muntah-muntah.. Pada sore hari
pukul 15.00 Wita saat sampai di rumah, Klien mengatakan perutnya terasa mulas
dan mengalami mencret dengan konsistensi encer. Klien mengatakan BAB 6x
sehari terdapat serat, berwarna kuning, bau khas feses tanpa darah dan lendir
dengan jumlah volume 50 cc tiap hari. Klien mengatakan sempat meminum obat
mencret yang diberi di warung dekat rumahnya. Tetapi setelah dua hari (tanggal
12 juli 2014) mencretnya tidak berkurang, klien mengeluh semakin lemas dan
mulas saat tidur terlentang. Pada tanggal 12 Juli klien memutuskan untuk pergi ke
IRD Karangasem. Di IRD pada pukul 09.00 Wita klien mendapat penanganan dan
diperiksa oleh dokter. Dari hasil pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan hasil
tekanan darah: 100/70 mmHg, suhu: 36,5oC , nadi: 80 x/ menit, respirasi: 20 x/
menit. Di IRD Klien mendapat terapi:

Page 65
IVFD RL 20 tetes/ menit
Cefotaxime 1 gram, 3x1 vial melalui intravena
Ranitidin 25 ml, 3x1 ampul melalui intravena
Di IRD Klien didiagnosa medis GEA (Gastroenteritis Akut).
Klien disarankan untuk dirawat inap di Ruang Teratai RSUD Karangasem dengan
terapi:
IVFD RL 25 tetes/ menit
Cepotaxime 1 gram, 3x1 vial melalui intravena
Ranitidin 25 ml, 3x1 ampul melalui intravena
Oralit 200 gram, melalui oral
Norit 3x 4 tablet melalui oral
4) Riwayat penyakit sebelumnya
Klien mengatakan tidak pernah dirawat di rumah sakit dengan keluhan yang sama
5) Riwayat penyakit keluarga
Klien mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang mempunyai riwayat
penyakit yang sama, tidak ada yang mempunyai penyakit keturunan seperti:
hipertensi, diabetes mellitus, kanker, serta tidak ada yang mempunyai penyakit
menular seperti: HIV/AIDS, hepatitis, dan TBC.

c. Pola Kebiasaan
1. Bernafas
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan tidak ada keluhan dalam bernafas, baik saat menarik nafas
maupun menghembuskan nafas.
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan tidak ada keluhan dalam bernafas, baik saat menarik nafas,
maupun menghembuskan nafas.
2. Makan dan minum
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan tidak ada gangguan dengan pola makan dan bisa makan
teratur. Klien mengatakan biasa makan 3x sehari dengan nasi, sayur, dan lauk

Page 66
pauk. Makan habis 1 porsi sebelum sakit. Klien mengatakan biasa minum 2
botol air mineral (3 liter) setiap hari sebelum sakit. Sebelum sakit, klien
mengatakan sempat membeli makanan dan minuman di pinggir jalan saat
perjalanan menuju Bali.
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan makan 3x sehari dengan jenis makanan bubur, lauk pauk
dan sayur yang didapatkan dari rumah sakit.Klien mengatakan makannya
hanya habis porsi karena merasa mual.Klien mengatakan dapat minum 7-8
gelas/ hari.
Klien memiliki alergi makanan yaitu ikan laut dan memiliki makanan
pantangan seperti: ayam dan telur.
3. Eliminasi
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan BAB 2x sehari pada pagi dan sore hari, dengan konsistensi
padat, warna kuning kecoklatan, bau khas feses tana ada darah maupun
lender.BAK 3-4 x/ sehari dengan warna kuning, bau khas urine tanpa darah.
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan BAB 6x sehari terdapat serat, berwarna kuning, bau khas
feses tanpa darah dan lendir dengan jumlah volume 50 cc tiap kali.Klien
mengatakan sudah BAK 3x sejak jam 3 pagi (600 ml) dengan warna kuning
dan bau khas urine tanpa darah.
4. Gerak dan aktivitas
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan bisa makan sendiri tanpa batuan orang lain. Klien
mengatakan bisa BAB dan BAK sendiri tanpa bantuan orang lain. Klien
mengatakan bisa mandi sendiri tanpa bantuan orang lain. Klien mengatakan
bisa berpakaian sendiri tanpa bantuan orang lain. Klien mengatakan bisa
berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain sendiri tanpa bantuan orang
lain.

Page 67
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan tidak bisa mandi sendiri karena lemas dan dibantu oleh
keluarganya hanya dilap saja.Klien terlihat berbaring dan sewaktu-waktu
dapat duduk di tempat tidurnya.Klien mengatakan bisa makan dan minum
sendiri tanpa bantuan keluarga. Klien mengatakan tidak bisa mengganti
pakaian sendiri karena lemas.
5. Istirahat dan tidur
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan biasanya tidur 7 jam saat malam hari. Klien mengatakan
biasanya tidur dari jam 11 malam sampai jam 6 pagi. Klien mengatakan tidak
dapat tidur siang karena sering bekerja, namun ketika bulan puasa Klien
mengatakan dapat tidur siang sekitar 2 jam dari pukul 13.00 sampai 15.00
Wita.
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan tidurnya tidak nyenyak, sering terjaga karena ingin BAB
dan BAK.Klien mengatakan saat malam tidurnya mulai pukul 10.00 sampai
jam 05.30 Wita namun sering terbangun untuk BAB dan BAK. Klien
mengatakan dapat tidur siang selama 2 jam dari pukul 11.00 sampai 13.00
Wita.
6. Kebersihan diri
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan biasanya mandi 2x sehari menggunakan sabun, sikat gigi
1x pada pagui hari dengan menggunakan pasta gigi, Klien mengatakan
keramas 1x dalam seminggu dengan menggunakan shampoo.
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan belum dapat mandi, hanya dapat dilap saja tanpa memakai
sabun oleh keluarganya 1x sehari ada pagi hari.Klien mengatakan belum
pernah sikat gigi selama dirawat inap. Klien mengatakan belum pernah
keramas selama dirawat inap.Klien mengatakan hanya dapat berganti pakaian
1x sehari pada pagi hari.

Page 68
7. Pengaturan suhu tubuh
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan tidak merasa panas dan tidak ada peningkatan suhu tubuh.
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan tidak merasa panas dan Klien tidak teraba hangat
8. Rasa aman
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan merasa baik baik tanpa mencemaskan suatu hal sebelum
sakit
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan merasa cemas karena memikirkan pekerjaannya yang tidak
di urus
9. Rasa nyaman
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan nyaman terhadap dirinya tanpa ada keluhan saat sebelum
sakit
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan sakit perut mulas mulas saat Klien berbaring terlentang di
bagian atas perut
10. Data sosial
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan berhubungan baik dengan tetangga dan keluarganya.
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan hubungan dengan keluarganya harmonis dan hubungan
dengan Klien lainnya baik. Klien terlihat ditemani keluarganya. Klien
mengatakan lingkungan di tempat tinggalnya bersih.
11. Prestasi dan produktivitas
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan bekerja sebagai petani dan merasa bangga dengan
pekerjaannya
b) Saat pengkajian

Page 69
Klien mengatakan tidak dapat bekerja lagi karena sakit dan tidak ada yang
dibanggakan lagi
12. Rekreasi
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan kadang kadang pergi ke Lombok
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan hanya bisa berjalan disekitar ruangan
13. Belajar
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan tau tentang pengnyakitnya
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan tau tentang penyakit diarenya
14. Ibadah
a) Sebelum pengkajian
Klien mengatakan menganut keyakinan Islam dan biasa sembahyang 5 kali
sehari dan biasa berpuasa
b) Saat pengkajian
Klien mengatakan menganut keyakinan islam,Klien mengatakan tidak bisa
sembahyang dan berpuasa karena sakit.
C. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan umum Klien
a) Kesadaran : Compos mentis, GCS ( E : 4 M : 6 V: 5 )
b) Bangun tubuh : Kurus
c) Postur tubuh : Tegak
d) Cara berjalan : Lancar terkoordinir
e) Gerak motorik : Terkoordinir
f) Keadaan kulit :
- Warna : Sawo matang tanpa ikterus tanpa sianosis dan tidak pucat
- Turgor : Kurang elastis
- Kebersihan : Kotor
- Luka : Tidak terdapat luka

Page 70
g) Gejala kardinal
TD : 100/80 mmHG
N : 60x/ menit
S : 36C
RR : 20x/ menit
h) Ukuran lain
BB : - Sebelum sakit : 45 kg
-Setelah sakit : 45 kg

TB : 169 cm

2. Kepala
Kulit kepala kotor, terdapat ketombe, rambut tebal berwarna hitam, tidak ada
rambut rontok dan tidak ada nyeri tekan
3. Mata
Mata simetris, terdapat lingkar hitam dibawah kelopak mata, sclera putih
konjungtiva merah muda, pupil isokor, tidak ada nyeri tekan, mata tidak cowong
4. Hidung
Bentuk hidung simetris, keaadaan bersih tanpa darah dan secret, penciuman baik,
tidak ada polip atau masa dan tidak ada luka. Tidak ada nyeri tekan dan sinusitis.
5. Telinga
Telinga simetris, keadaan telinga bersih tanpa darah tidak ada secret dan ada sedikit
serumen. Tidak ada nyeri tekan.Pendengaran baik.
6. Mulut
Mukosa bibir kering, gusi tidak berdarah, gigi lengkap dan tidak ada lubang, lidah
bersih, tidak ada pembengkakan tonsil, tidak ada nyeri tekan dan tidak teraba masa.
7. Leher
Tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, tidak ada distensi vena jugularis, tidak ada
kaku kuduk, tidak teraba masa dan tidak ada nyeri tekan

Page 71
8. Thorax
Bentuk thorax simetris , letak payudara simetris, gerakan dada simetris tidak ada
pembengkakan di daerah dada, tidak ada luka maupun nyeri tekan. Suara jantung
S1-S2 tunggal regular, ronchi -/- , wheezing -/- dan suara paru vesikuler.
9. Abdomen
Tidak ada luka abdomen, turgor kulit kurang elastic, bising usus 20x/ menit,
terdapat nyeri tekan pada kuadran atas abdomen, tidak ada distensi dan asites, suara
perkursi abdomen thympani.
10. Genetalia
Tidak terkaji

11.Anus

Tidak terkaji
11. Ekstremitas
a) Ekstremitas atas
Tidak terdapat edema, terpasang infuse pada tangan kiri Klien. Tidak ada nyeri
tekan
b) Ekstremitas bawah
Tidak terdapat luka, ujung kuku tidak sianosis, tidak ada nyeri tekan, tidak ada
edema, dan pergerakan terkoordinir.
c) Kekuatan otot

555 555

555 555

Page 72
2. Data Fokus
Data Subjektif Data Objektif
1. Klien mengatakan sudah BAB 6 1. Bising usus Klien 20x/ menit
kali sejak jam 15.00 Wita dengan 2. Turgor kulit elastis
konsistensi encer,t erdapat serat, 3. Mukosa bibir kering
berwarna kuning, bau khas feses 4. Nyeri tekan pada abdomen sebelah
tanpa darah dan lendir dengan kanan atas
jumlah volume 50 cc tiap hari. 5. Kulit kepala Klien kotor
2. Klien mengatakan sakit perut 6. Terdapat ketombe di kepala
mulas-mulas
3. Sering terjaga kareba ingin BAB
dan BAK
4. Klien mengatakan belum dapat
sikat gigi sejak di rumah sakit
5. Klien mengatakan belum pernah
keramas selama di rumah sakit
6. Klien dilap saja tanpa memakai
sabun oleh keluarganya

Page 73
3. Analisa Data
Analisa Data Klien Tn. MS dengan Diare
Di Ruang Teratai RSUD Karangasem
Tanggal 14-15 Juli 2014
No Data Subjektif Data Objektif Masalah
1 - Klien mengatakan sudah -Bising usus Klien 20x / Diare
BAB 6 kali sejak jam 3 menit
sore dengan konsistensi -Turgor kulit kurang elastic
encer -Mukosa bibir kering
- Klien mengatakan sering -Nyeri tekan pada abdomen
terjaga karena ingin sebelah kanan atas
BAB dan BAK
- Klien mengatakan sakit
perut mulas-mulas

2 - Klien mengatakan -Keadaan kulit Klien kotor Difisit Perawatan


belum dapat sikat gigi -Kulit kepala Klien kotor Diri
sejak di rumah sakit. -Terdapat ketombe di kepala
- Klien mengatakan -Klien mandi hanya dilap
belum pernah keramas tanpa sabun oleh keluarga
selama di rumah sakit
- Klien dilap saja tanpa
memakai sabun oleh
keluarganya

4. Rumusan Masalah Keperawatan


a. Gangguan Eliminasi BAB : Diare
b. Defisit perawatan diri

Page 74
5. Analisa Masalah
c. P : Gangguan Eliminasi BAB : Diare
E : Infeksi bakteri
S : Klien mengatakan sudah BAB 6 kali sejak jam 3 sore dengan konsistensi encer,
Klien mengatakan sering terjaga karena ingin BAB dan BAK, Klien
mengatakan sakit perut mulas-mulas, bising usus Klien 20x / menit, turgor kulit
kurang elastis, mukosa bibir kering, nyeri tekan pada abdomen sebelah kanan
atas.

Proses terjadinya : Adanya bakteri yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan bising

usus meningkat. Meningkatnya bising usus menyebabkan

terjadinya sakit perut dan diare.

Akibat jika tidak ditanggulangi : kejang, syok hipovolemik, gagal ginjal.

a) P : Defisit perawatan diri


E : Kelemahan fisik
S : Klien mengatakan belum dapat sikat gigi sejak di rumah sakit, Klien
mengatakan belum pernah keramas selama di rumah sakit, Klien mengatakan
tidak bisa mandi sendiri karena lemas, keadaan kulit Klien kotor, kulit kepala
Klien kotor, Klien terlihat lemas, terdapat ketombe di kepala, Klien mandi
hanya dilap tanpa sabun oleh keluarga

Proses terjadinya : Karena ada kelemahan fisik menyebabkan ketidakmampuan

Klien untuk melakukan aktivitasnya sendiri tanpa bantuan orang

lain.

Akibat jika tidak ditanggulangi : risiko infeksi akibat perkembangan bakteri.

Page 75
6. Diagnosa Keperawatan
Nama Klien : Tn. MS No. RM : 144894
Umur : 53 tahun Ruang rawat : R. Teratai
Jenis Kelamin : Laki-laki Diagnosa medis : GEA

Tanggal
No Diagnosa Keperawatan Paraf/ Nama
Ditemukan Teratasi
1 Gangguan Eliminasi BAB: 14 Juli 2014 15 Juli 2014 (Paraf)
Diare berhubungan dengan Perawat
infeksi bakteri ditandai dengan
Klien mengatakan sudah BAB
6 kali sejak jam 15.00 Wita
dengan konsistensi encer,
terdapat serat, berwarna
kuning, bau khas feses tanpa
darah dan lendir dengan jumlah
volume 50 cc tiap hari.
Klien mengatakan sering
terjaga karena ingin BAB dan
BAK, Klien mengatakan sakit
perut mulas-mulas, bising usus
Klien 20x / menit, turgor kulit
kurang elastis, mukosa bibir
kering, nyeri tekan pada
abdomen sebelah kanan atas.
2 Defisit perawatan diri 14 Juli 2014 (Paraf)
berhubungan dengan Perawat
kelamahan fisik ditandai
dengan Klien mengatakan
belum dapat sikat gigi sejak di
rumah sakit, Klienmengatakan

Page 76
belum pernah keramas selama
di rumah sakit, Klien
mengatakan tidak bisa mandi
sendiri karena lemas, keadaan
kulit Klien kotor, kulit kepala
Klien kotor, Klien terlihat
lemas, terdapat ketombe di
kepala, Klien mandi hanya
dilap tanpa sabun oleh
keluarga.

Page 77
B. Perencanaan
1) Prioritas masalah Keperawatan
a) Diare
b) Defisit perawatan diri
2) Rencana Keperawatan

Hari/ Tujuan & Kriteria


No Diagnosa Keperawatan Intervensi Rasional Paraf
tanggal/ jam Hasil
1. Senin, 14 Diare berhubungan dengan Setelah diberikan Mandiri : (Paraf)
Juli 2014, infeksi bakteri ditandai tindakan asuhan 1. Monitoring TTV 1. Mengetahui Perawat
Pukul 11.00 dengan Klien mengatakan keperawatan selama - Tekanan Darah perkembangan
Wita sudah BAB 6 kali sejak 1x24 jam diharapkan - Suhu kondisi Klien
jam 3 sore dengan masalah diare teratasi - Denyut Nadi
konsistensi encer, Klien dengan kriteria hasil: - Respirasi Rate
mengatakan sering terjaga 1.Klien BAB 2x sehari
karena ingin BAB dan dengan konsistensi 2. Monitoring bising 2. Mengetahui
BAK, Klien mengatakan lembek usus peristaltik
sakit perut mulas-mulas, 2.Klien tidak sakit usus Klien
bising usus Klien 20x / perut mulas-mulas
menit, turgor kulit kurang 3.Bising usus Klien 3. Berikan Klien 3. Mengganti
elastis, mukosa bibir 10-15 x/menit oralit 200 mg cairan

Page 78
kering, nyeri tekan pada 4.Turgor kulit elastic elektrolit
abdomen sebelah kanan 5.Mukosa bibir yang kelar
atas. lembab 4. Anjurkan Klien 4. Mengganti
6.Tidak ada nyeri banyak minum 6- cairan yang
tekan pada abdomen 8 gelas keluar
sebelah kanan atas
5. Delegatif dalam 5. Mempercepat
pemberian penyembuhan
cefotaxime 3x1 gr Klien
melalui IV dan
ranitidine 3x 25 ml
melalui IV
Norit 3x4 tablet
melali oral

Page 79
C. Pelaksanaan

Pelaksaaan Keperawatan pada Klien Tn. MS

Dengan Diare di Ruang Teratai

RSUD Karangasem Tanggal 14-15 Juli 2014

Hari/ tanggal/
No Diagnosa Keperawatan Tindakan Keperawatan Evaluasi Paraf
jam
1 Senin, 14 Juli Dx 1 1. Mengobservasi TTV DS : Klien mengatakan masih (Paraf)
2014, Pukul - Tekanan Darah lemas Perawat
11.00 Wita - Suhu DO : TD= 110/ 80 mmHg, S=
- Denyut Nadi 36oC, N= 70 x/ menit, RR= 20
- Respirasi Rate x/ menit

Dx 1 2. Monitoring bising usus DS : Klien mengatakan


perutnya masih mulas
DO : bising usus Klien 18 x/ (Paraf)
menit Perawat

Page 80
Pukul 13.00 Dx 1 3. Memberikan cairan DO : Klien meminum cairan
Wita oralit 200 mg oralit yang diberikan (Paraf)
Perawat

Pukul 13.15 Dx 1 4. Menganjurkan Klien DS : Klien mengatakan sudah (Paraf)


Wita untuk banyak minum air minum 4 gelas atau 750 c Perawat
mineral DO : Klien kooperatif dan mau
menuruti anjuran untuk banyak
minum air mineral

Pukul 14.00 Dx 1 5. Mendelegasikan dalam DS : Klien mengatakan obat


Wita pemberian cefotaxime 1 injeksi yang dimasukan sedikit
gr melalui IV dan perih
ranitidine 25 ml melalui DO : obat telah masuk, tidak
IV ada reaksi alergi
Norit 1x4 tablet melali (Paraf)
oral Perawat

Page 81
2 Selasa, 15 Juli Dx 1 1. Mengobservasi TTV DO : TD= 100/ 70 mmHg, S= (Paraf)
2014, pukul - Tekanan Darah 36,5oC, N= 64 x/ menit, RR= Perawat
05.00 Wita - Suhu 20 x/ menit
- Denyut Nadi
- Respirasi Rate

Pukul 06.00 Dx 1 2. Melakukan tindakan DS : Klien mengatakan obat (Paraf)


Wita delegatif dalam injeksi yang dimasukan sedikit Perawat
pemberian cefotaxime 1 perih
gr melalui IV dan DO : obat telah masuk, tidak
ranitidine 25 ml melalui ada reaksi alergi
IV,
Norit 1x4 tablet melalui
oral

Page 82
Pukul 11.00 Dx 1 3. Monitoring bising usus DS : Klien mengatakan (Paraf)
Wita perutnya sudah tidak mulas lagi Perawat
DO : bising usus Klien 10 x/
menit

Page 83
D. Evaluasi

Evaluasi Asuhan Keperawatan pada Klien Tn. MS

Dengan Diare di Ruang Teratai

RSUD Karangasem Tanggal 14-15 Juli 2014

No Hari/ tanggal/ jam Diagnosa Keperawatan Evaluasi Paraf


1 Selasa, 15 Juli 2014, Gangguan Eliminasi BAB : Diare berhubungan S : Klien mengatakan sudah tidak lemas (Paraf)
pukul 12.00 Wita dengan infeksi bakteri ditandai dengan Klien lagi, Klien mengatakan BAB 2x Perawat
mengatakan sudah BAB 6 kali sejak jam 3 sore sehari, bau khas feses warna kuning,
dengan konsistensi encer, Klien mengatakan konsistensi lembek.
sering terjaga karena ingin BAB dan BAK,
Klien mengatakan sakit perut mulas-mulas, O : bising usus Klien 10x/ menit.
bising usus Klien 20x / menit, turgor kulit
kurang elastis, mukosa bibir kering, nyeri A : tujuan no 1, 2, 3, 4, 5, 6 tercapai,
tekan pada abdomen sebelah kanan atas. masalah diare teratasi.

P : pertahankan kondisi Klien

Page 84
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan
Penerapan proses keperawatan pada Klien M.S dengan Diare di Ruang Teratai
RSUD Karangasem secara umum sudah sesuai dengan tahap-tahap dalam proses
keperawatan. Dari hasil pengkajian sudah sesuai dengan kenyataan, kebenaran
data sangat penting dalam merumuskan suatu diagnosa keperawatan dan memberikan
pelayanan keperawatan sesuai dengan respon individu.
Pada tahap perencanaan sudah sesuai dengan tujuan teori dimana pertama-tama
ditentukan prioritas diagnose keperawatan berdasarkan masalah sehingga yang prioritas
pertama adalah Gangguan Eliminasi BAB : Diare yang berhubungan dengan infeksi
bakteri dan prioritas kedua adalah Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
fisik. Pada kasus semua rencana telah dilaksanakan dengan baik tentu dengan adanya
kerjasama antara tim kesehatan dengan perawat di ruangan. Selanjutnya disusun rencana
keperawatan. Dan pada kasus ini direncanakan tindakan-tindakan berdasarkan teori dan
kondisi Klien.
Pelaksanaan tindakan keperawatan sudah berpedoman pada perencanaan yang
telah disusun. Pada kasus semua rencana telah dilaksanakan dengan baik tentu dengan
adanya kerjasama antara timkesehatan dengan perawat di ruangan.
Evaluasi masalah keperawatan dilaksanakan perhari dengan tujuan untuk
mengetahui sejauh mana keberhasilan tindakan keperawatan yang dilakukan pada Klien
dari masing-masing masalah dapat dipantau perubahan prilaku dan respon Klien sehingga
dari dua masalah yang ada semua masalah keperawatan dapat diatasi.

Page 85
B. SARAN
Dalam rangka meningkatkan pelayanan keperawatan pada Klien, maka penulis
ingin menyampaikan saran sebagai berikut:
1. Kepada perawat ruangan agar tetap mempertahankan pemberian asuhan
keperawatan yang sudah dijalankan baik pada Klien dengan kasus
diare/gastroenteritis maupun kasus yang lain.
2. Kepada pihak keluarga diharapkan terus memberikan dukungan dan berperan aktif
dalam melaksanakan perawatan serta tetap menjaga kebersihan anaknya terutama
makanan dan lingkungan sekitarnya karena keluarga merupakan unit yang paling
berperan dalam kesehatan anak.

Page 86
DAFTAR PUSTAKA

Asmadi. 2008. Tehnik Prosedural Keperawatan: Konsep Aplikasi Kebutuhan Dasar


Klien. Jakarta : Salemba Medika.

Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Definisi dan
Klasifikasi. Jakarta : EGC.

Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Klien. Jakarta : EGC.

Herlman, T. Heather.2012. NANDA International Diagnosis Keperawatan : Definisi dan


Klasifikasi 2012-2014. Jakarta : EGC.

Mubarak, Wahit Iqbal dan Nurul Chayatin.2008.Buku Ajar Kebutuhan Dasar Manusia:
Teori dan aplikasi dalam Praktik.Jakarta : EGC

Tarwoto dan Wartonah.2010.Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan, Edisi


4.Jakarta: Salemba Medika

Potter dan Perry.2005.Buku Ajar Fudamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan


Praktik. Jakarta : EGC

Widianti,Tri dan Saryono. 2010. Catatan Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia (KDM).
Yogyakarta : Nuha Medika

Wilkinson , Judith M dan Nancy R.Aherm.2014.Buku Saku Diagnosa Keperawatan,


Edisi 9. Diagnosa NANDA,Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC.Jakarta : EGC

Page 87
Page 88