Anda di halaman 1dari 22

Bagian Ilmu Kesehatan Mata Laporan Kasus & Referat

Fakultas Kedokteran November 2017


Universitas Hasanuddin

KONJUNGTIVITIS VERNAL

Oleh:
Restu Muhammad Adam
C111 12 299

Pembimbing
dr. Delvi Indera Mayasari

Supervisor
dr. A.Muhammad Ichsan, Ph.D, Sp.M(K)

DIBAWAKAN DALAM RANGKA KEPANITERAAN KLINIK


PADA BAGIAN ILMU KESEHATAN MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNVERSITAS HASANUDDIN
2017
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menerangkan bahwa laporan kasus dan
referat dengan judul ODS Konjungtivitis vernal, yang disusun oleh:

Nama : Restu Muhammad Adam


NIM : C111 12 299
Asal Institusi : Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin

Telah diperiksa dan dikoreksi, untuk selanjutnya dibawakan sebagai tugas


pada bagian Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
pada waktu yang telah ditentukan.

Makassar, November 2017

Supervisor Pembimbing Pembimbing

dr. A.M. Ichsan, Ph.D, Sp.M (K) dr. Delvi Indera Mayasari

ii
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn.I
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 02-09-1990 / 27 tahun
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Makassar / Indonesia
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Makassar
No. Register Pasien : 088009
Tanggal Pemeriksaan : 26 Oktober 2017
Pemeriksa : dr. Delvi Indera Mayasari
Rumah Sakit : Poliklinik Mata Rumah Sakit Universitas
Hasanuddin

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Merah pada kedua mata
Dialami sejak 3 bulan terakhir, hilang timbul. Awalnya merah pada kedua
mata disertai dengan rasa gatal yang mengganggu. Pasien juga merasa
nyeri pada kedua mata. Penglihatan menurun sejak kelas 3 SMP dan
memberat 3 bulan terakhir, terutama pada saat melihat jauh. Air mata
berlebih tidak ada. Kotoran mata berlebih tidak ada. Riwayat keluhan yang
sama sebelumnya ada terutama saat musim hujan maupun cuaca dingin.
Riwayat alergi ada. Riwayat penggunaan kacamata tidak ada. Riwayat
diabetes melitus disangkal. Riwayat hipertensi disangkal.. Riwayat
keluarga dengan keluhan sama tidak ada. Riwayat trauma tidak ada.
Riwayat penyakit mata sebelumnya tidak ada.

3
III. STATUS GENERALIS
Keadaan umum : Sakit Ringan/Gizi cukup/Compos Mentis

Tekanan darah : 120/80 mmHg

Nadi : 80 x/menit

Pernapasan : 20 x/menit

Suhu : 36,5o C

IV. FOTO KLINIS

Oculus Dextra Oculus Sinistra

V. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI
A. Inspeksi
Pemeriksaan OD OS
Palpebra Edema (-) Edema (-)
Apparatus lakrimalis Lakrimasi (-) Lakrimasi (-)
Silia Sekret (-) Sekret (-)
Konjungtiva Hiperemis (+) Papil (+) Hiperemis (+) Papil (+)
Bola Mata Normal Normal

4
Mekanisme
muscular

Kornea Jernih Jernih


Bilik mata depan Kesan normal Kesan normal
Iris Coklat Coklat
Pupil Bulat, sentral, isokor Bulat,sentral, isokor
Lensa Jernih Jernih

B. Palpasi
Pemeriksaan OD OS
Tekanan Okular Tn Tn
Nyeri tekan (-) (-)
Massa Tumor (-) (-)
Glandula pre-aurikular Pembesaran (-) Pembesaran (-)

C. Tonometri
NCT : 20/21 mmHg
D. Visus
Tidak dilakukan

E. Sensitivitas Kornea

Tidak dilakukan pemeriksaan

F. Color Sense

Tidak dilakukan pemeriksaan.

G. Penyinaran Oblik
Pemeriksaan OD OS
Konjungtiva Hiperemis (+) Papil (+) Hiperemis (+) Papil (+)
Kornea Jernih Jernih

5
BMD Normal Normal
Iris Coklat, kripte (+) Coklat, kripte (+)
Pupil Bulat, sentral, RC (+) Bulat, sentral, RC (+)
Lensa Jernih Jernih
H. Funduskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan.
I. Slit Lamp
SLOD : Cobblestone appereance (+). Konjungtiva hiperemis (+).
Kornea jernih. BMD normal. Iris coklat, kripte (+). Pupil bulat,
sentral, refleks cahaya (+). Lensa jernih.
SLOS : Cobblestone appereance (+). Konjungtiva hiperemis (+).
Kornea jernih. BMD normal. Iris coklat, kripte (+). Pupil bulat sentral,
refleks cahaya (+). Lensa jernih.

J. Pemeriksaan Laboratorium
Belum dilakukan pemeriksaan laboratorium

K. RESUME
Seorang laki-laki 27 tahun datang dengan keluhan mata merah pada
oculi dextra et sinistra, disertai dengan rasa gatal dan perih. Keluhan
dirasakan sejak 3 bulan terakhir hilang timbul. Air mata berlebih tidak ada.
Kotoran mata berlebih tidak ada. Pasien juga mengalami penurunan
penglihatan sejak kelas 3 SMP dan memberat 3 bulan terakhir. Riwayat
keluhan yang sama sebelumnya ada terutama saat cuaca dingin dan musim
hujan. Riwayat alergi ada. Riwayat penggunaan kacamata tidak ada.
Riwayat diabetes melitus disangkal. Riwayat hipertensi disangkal.
Riwayat keluarga dengan keluhan sama tidak ada. Riwayat trauma tidak
ada. Riwayat penyakit mata lain sebelumnya tidak ada.
Pada pemeriksaan fisis ditemukan :
OD : Cobblestone appereance (+) konjungtiva hiperemis (+)
OS : Cobblestone appereance (+) Konjungtiva hiperemis (+)

6
L. DIAGNOSIS
ODS Konjungtivitis vernal

M. PENATALAKSANAAN
Polynel 1sth/8jam/OS (Kortikosteroid)
Vernacell 1 sth/8jam/OS (Antihistamin)

N. RENCANA PEMERIKSAAN
Tidak dilakukan pemeriksaan

O. PROGNOSIS
Qua ad vitam : Bonam
Qua ad sanationem : Bonam
Qua ad visum : Bonam
Qua ad kosmeticum : Bonam

7
DISKUSI KASUS
Berdasarkan anamnesis didapatkan bahwa seorang laki-laki 27 tahun
datang dengan keluhan mata merah pada kedua mata dialami sejak 3 bulan
terakhir, keluhan dirasakan hilang timbul. Disertai dengan rasa gatal dan rasa
perih pada kedua mata. Air mata berlebih tidak ada, kotoran mata berlebih tidak
ada. Pasien juga mengalami penurunan penglihatan sejak 3 bulan terakhir, secara
perlahan-lahan, terutama pada saat melihat jauh. Riwayat keluhan berulang ada
terutama ketika cuaca dingin dan musim hujan Riwayat alergi ada..
Dari pemeriksaan status generalisata pasien sakit sedang, gizi cukup, dan
composmentis. Tanda vital dalam batas normal. Dari pemeriksaan oftalmologi
dan visus didapatkan :
OD: edema palpebra (-) cobblestone appereance (+) konjungtiva hiperemis
(+) lakrimasi (-) sekret (-) kornea jernih, iris coklat, kripte (+). Lensa jernih.
Pergerakan bola mata normal.

OS: edema palpebra (-) Cobblestone appereance (+) konjungtiva hiperemis


(-) lakrimasi (-) sekret (-) kornea jernih, iris coklat, kripte (+). Lensa jernih.
Pergerakan bola mata normal.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi pada pasien ini,
maka dapat didiagnosa dengan ODS konjungtivitis vernal. Konjungtivitis vernal
adalah peradangan konjungtiva bilateral dan berulang (recurrence) yang khas, dan
merupakan suatu reaksi alergi. Penyakit ini juga dikenal sebagai konjungtivitis
musiman atau konjungtivitis musim kemarau. Sering terdapat pada musim
panas di negeri dengan empat musim, atau sepanjang tahun di negeri tropis
(panas).

Kecurigaan akan adanya konjungtivitis vernal pada pasien ini didasarkan


pada keluhan mata merah disertai rasa gatal dan perih yang berulang dan
berhubungan dengan faktor cuaca atau musiman. Mata merah pada konjungtivitis
disebabkan oleh pelebaran pembuluh darah arteri ciliaris posterior dan arteri
palpebralis sehingga mata terlihat lebih merah. Proses tersebut diduga akibat
pengaktifan mediator-mediator inflamasi yang membuat pembuluh darah sekitar
vasodilatasi. Selain itu, mediator inflamasi yang terutama di perankan oleh sel

8
mast melepaskan histamin dan mengaktifkan sel inflamasi lain sehingga membuat
reaksi gatal pada mata serta rasa nyeri.

Pada konjungtiva selain dijumpai hiperemia dan vasodilatasi difus, namun


juga dapat diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi jaringan sehingga
menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan
diikuti oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga
terbentuklah gambaran cobbles tone.

9
I. PENDAHULUAN
Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir
yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis adalah penyakit
mata paling umum di dunia. Penyakit ini bervariasi dari hiperemi ringan dengan
berair mata sampai konjungtivitis berat dengan banyak sekret purulen kental.
Penyebabnya umumnya eksogen namun dapat endogen. Konjungtivitis dapat
disebabkan oleh bakteri, klamidia, virus, ricketsia, fungi, parasit, imunologi
(alergi), kimiawi (iritatif), tidak diketahui, bersamaan dengan penyakit sistemik,
sekunder terhadap dakriosistitis atau kanalikulitis.1,2
Bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat
berupa reaksi cepat seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari
kontak seperti pada reaksi terhadap obat, bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi
antibodi humoral terhadap antigen. Biasanya dengan riwayat atopi.2

Dikenal beberapa macam bentuk konjungtivitis alergi seperti


konjungtivitis flikten, konjungtivitis vernal, konjungtivitis atopi, konjungtivitis
alergi bakteri, konjungtivitis alergi akut, konjungtivitis alergi kronik, sindrom
Stevens Johnson, pemfigoid okuli, dan sindrom Syogren.2 Di bawah ini akan
dibahas salah satu dari bentuk konjungtivitis alergi yaitu konjungtivitis vernal.

II. ANATOMI DAN FISIOLOGI


Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian
belakang. Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini.
Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin
bersifat membasahi bola mata terutama kornea. Konjungtiva divaskularisasi oleh
arteri konjungtiva posterior dan arteri siliaris anterior, dipersarafi oleh nervus
trigeminus (N.Opthalmicus).2
Konjungtiva terdiri dari tiga bagian, yaitu:2
Konjungtiva palpebra, hubungannya dengan tarsus sangat erat. Gambaran
dari glandula Meibom yang ada di dalamnya tampak membayang sebagai
garis sejajar berwarna putih. Permukaan licin, dicelah konjungtiva terdapat

10
kelenjar Henle. Histologis: terdiri dari sel epitel silindris. Di bawahnya
stroma dengan bentuk adenoid dengan banyak pembuluh darah.
Konjungtiva forniks, strukturnya sama dengan konjungtiva palpebra.
Tetapi hubungan dengan jaringan di bawahnya lebih lemah dan
membentuk lekukan-lekukan. Juga mengandung banyak pembuluh darah.
Oleh karena itu, pembengkakan pada tempat ini mudah terjadi, bila
terdapat peradangan mata. Dengan berkelok-keloknya konjungtiva ini
pergerakan mata menjadi lebih mudah. Di bawah konjungtiva forniks
superior terdapat glandula lakrimal dari Kraus. Melalui konjungtiva
forniks superior juga terdapat muara saluran air mata.
Konjungtiva bulbi, tipis dan tenbus pandang meliputi bagian anterior
bulbus okuli. Di bawah konjungtiva bulbi terdapat kapsula tenon.
Strukturnya sama dengan konjungtiva palpebra, tetapi tak mempunyai
kelenjar. Dari limbus, epitel konjungtiva meneruskan diri sebagai epitel
kornea. Di dekat kantus internus, konjungtiva bulbi membentuk plika
semilunaris yang mengelilingi suatu pulau kecil terdiri dari kulit yang
mengandung rambut dan kelenjar yang disebut caruncle.

Gambar 1. Anatomi konjungtiva

11
III. DEFINISI

Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian


putih mata dan bagian dalam kelopak mata. Peradangan tersebut menyebabkan
timbulnya berbagai macam gejala, salah satunya adalah mata merah.
Konjungtivitis disebabkan oleh berbagai hal diantaranya disebabkan oleh alergi.1
Sedangkan konjungtivitis vernal adalah peradangan bilateral konjungtiva yang
berulang menurut musim dengan gambaran spesifik hipertropi papiler di daerah
tarsus dan limbus.3

IV. BATASAN
Konjungtivitis dapat dikelompokkan berdasarkan etiologi, yakni virus,
bakteri, jamur serta alergi. Seperti pada bagan berikut :

Table 52. Differentiation of the Common Types of Conjunctivitis.

Clinical Findings Viral Bacterial Chlamydial Allergic


and Cytology

Itching Minimal Minimal Minimal Severe

Hyperemia Generalized Generalized Generalized Generalized

Tearing Profuse Moderate Moderate Moderate

Exudation Minimal Profuse Profuse Minimal

Preauricular Common Uncommon Common only None


adenopathy in inclusion
conjunctivitis

In stained Monocytes Bacteria, PMNs, plasma Eosinophils


scrapings and PMNs1 cells, inclusion
exudates bodies

Associated sore Occasionally Occasionally Never Never


throat and fever

12
Konjungtivitis vernal termasuk dalam konjungtivitis imunologik (alergika)
yang terbagi dalam dua kategori menurut patofisiologinya yaitu reaksi
hipersensitivitas humoral segera dan reaksi hipersensitivitas tipe lambat.
Konjungtivitis dengan reaksi hipersensitivitas humoral segera terdiri dari
konjungtivitis hay fever, keratokonjungtivitis vernal, keratokonjungtivitis vernal
dan konjungtivitis papiler raksasa (giant papillary keratoconjunctivitis).
Sedangkan konjungtivitis reaksi hipersensitivitas tipe lambat terdiri dari
fliktenulosis, konjungtivitis ringan sekunder akibat blefaritis kontak. Pada
makalah ini hanya membahas konjungtivitis vernal.1

V. EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah
dingin. Penyakit ini hampir selalu lebih parah selama musim semi, musim panas
dan musim gugur daripada di musim dingin.1 Di daerah yang panas, didapatkan
sepanjang masa, terutama pada musim panas.4

Penyakit ini merupakan penyakit alergi bilateral yang jarang, biasanya


mulai dalam tahun-tahun prapubertas dan berlangsung 5-10 tahun. Penyakit ini
lebih banyak terdapat pada anak laki-laki daripada perempuan.1 Tendensi untuk
diderita anak-anak dan orang usia muda.3 Terbanyak mengenai usia antara 5-25
tahun terutama laki-laki. Bila didapatkan pada usia lebih dari 25 tahun,
kemungkinan suatu konjungtiva atopi.4

VI. ETIOLOGI
Alergi merupakan kemungkinan terbesar penyebab konjungtivitis vernal. Hal
ini berdasarkan pada : 2

- tendensi untuk diderita anak-anak dan orang usia muda


- kambuh secara musiman
- pemeriksaan getah mata didapatkan eosinofil
Alergen spesifiknya sulit dilacak, namun pasien kadang-kadang
menampakkan manifestasi alergi lainnya yang berhubungan dengan sensitivitas
tepung sari rumput.1

13
VII. PATOFISIOLOGI

Konjungtivitis vernal terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tipe I yang


mengenai kedua mata, sering terjadi pada orang dengan riwayat keluarga yang
kuat alergi.1,2,7 Pada hipersensitivitas tipe I antigen atau alergen bebas akan
bereaksi dengan antibodi, dalam hal ini IgE yang terikat pada sel mast atau sel
basofil dengan akibat terlepasnya histamin. Interaksi histamin serta sel-sel pro
inflamasi ini akan menimbulkan reaksi tipe cepat.
Menurut lokalisasinya patofisiologi konjungtivitis vernal dibedakan menjadi
tipe palpebral dan tipe limbal.2,3

Tipe palpebral. Pada beberapa tempat akan mengalami hiperplasi


sedangkan di bagian lain mengalami atrofi. Terdapat pertumbuhan
papil yang besar (Cobble stone) yang diliputi sekret yang mukoid.
Perubahan mendasar terdapat di substansia propia. Substansia propia
terinfiltrasi sel-sel limfosit, plasma dan eosinofil. Pada stadium lanjut
jumlah sel-sel limfosit, plasma dan eosinofil akan semakin meningkat,
sehingga terbentuk tonjolan jaringan di daerah tarsus, disertai
pembentukan pembuluh darah baru. Degenerasi hyalin di stroma
terjadi pada fase dini dan semakin menghebat pada stadium lanjut.
Tipe ini terutama mengenai konjungtiva tarsal superior.
Gambar 2. Gambaran cobble stone pada konjungtiva tarsalis superior.

14
Tipe limbus. Hipertrofi papil pada limbus superior yang dapat
membentuk jaringan hiperplastik gelatin, dengan Horner-Trantas dots
yang merupakan degenerasi epitel kornea atau eosinofil di bagian
epitel limbus kornea, terbentuknya pannus, dengan sedikit eosinofil.

Gambar 3. Hipertrofi papiler pada limbus superior

Pada bentuk palpebral, perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya


dengan timbulnya radang insterstitial yang banyak didominasi oleh reaksi
hipersensitivitas tipe I. Pada konjungtiva akan dijumpai hiperemia dan
vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat
proliferasi jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak
terkendali.
Kondisi ini akan diikuti oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada
konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobbles tone. Jaringan ikat yang
berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga
konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada
konjungtiva tarsal, oleh von Graefe disebut pavement like granulations.
Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsal tidak jarang mengakibatkan ptosis
mekanik dan dalam kasus yang berat akan disertai keratitis serta erosi epitel
kornea.
Pada bentuk limbal terdapat perubahan yang sama, yaitu:
perkembangbiakan jaringan ikat, peningkatan jumlah kolagen, dan infiltrasi sel

15
plasma, limfosit, eosinofil dan basofil ke dalam stroma. Limbus konjungtiva
juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertropi yang
menghasilkan lesi fokal. Penggunaan jaringan yang dilapisi plastik yang
ditampilkan melalui mikroskopi cahaya dan elektron dapat memungkinkan
beberapa observasi tambahan.
Basofil sebagai ciri tetap dari penyakit ini, tampak dalam jaringan epitel
sebagaimana juga pada substansi propria. Walaupun sebagian besar sel
merupakan komponen normal dari substansi propia, namun tidak terdapat
jaringan epitel konjungtiva normal. Walaupun karakteristik klinis dan patologi
konjungtivitis vernal telah digambarkan secara luas, namun patogenesis
spesifik masih belum dikenali.2,5

VIII. GAMBARAN KLINIS

Gambaran klinis konjungtivitis vernal adalah sebagai berikut 1,3,4

Keluhan utama : gatal


Pasien pada umumnya mengeluh tentang gatal yang sangat. Keluhan gatal
ini dipengaruhi oleh kondisi cuaca.

Ptosis
Terjadi ptosis bilateral, kadang-kadang yang satu lebih ringan
dibandingkan yang lain. Ptosis terjadi karena infiltrasi cairan ke dalam sel-
sel konjungtiva palpebra dan infiltrasi sel-sel limfosit plasma, eosinofil,
juga adanya degenarasi hyalin pada stroma konjungtiva.

Kotoran mata
Keluhan gatal umumnya disertai dengan kotoran mata yang berserat-serat.
Konsistensi kotoran mata/tahi mata elastis ( bila ditarik molor).

Kelainan pada palpebra


Terutama mengenai konjungtiva palpebra superior. Konjungtiva tarsalis
pucat, putih keabu-abuan disertai papil-papil yang besar (papil raksasa).
Inilah yang disebut cobble stone appearance. Susunan papil ini rapat
dari samping tampak menonjol. Seringkali dikacaukan dengan trakoma. Di

16
permukaannya kadang-kadang seperti ada lapisan susu, terdiri dari sekret
yang mukoid. Papil ini permukaannya rata dengan kapiler di tengahnya.
Kadang-kadang konjungtiva palpebra menjadi hiperemi, bila terkena
infeksi sekunder.

Horner Trantas dots


Gambaran seperti renda pada limbus, dimana konjungtiva bulbi menebal,
berwarna putih susu, kemerah-merahan, seperti lilin. Merupakan
penumpukan eosinofil dan merupakan hal yang patognomosis pada
konjungtivitis vernal yang berlangsung selama fase aktif.

Kelainan di kornea
Dapat berupa pungtat epithelial keratopati. Keratitis epithelial difus khas
ini sering dijumpai. Kadang-kadang didapatkan ulkus kornea yang
berbentuk bulat lonjong vertikal pada superfisial sentral atau para sentral,
yang dapat diikuti dengan pembentukan jaringan sikatrik yang ringan.
Kadang juga didapatkan panus, yang tidak menutupi seluruh permukaan
kornea, sering berupa mikropanus, namun panus besar jarang dijumpai.
Penyakit ini mungkin juga disertai keratokonus. Kelainan di kornea ini
tidak membutuhkan pengobatan khusus, karena tidak tidak satu pun lesi
kornea ini berespon baik terhadap terapi standar.

IX. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pada pemeriksaan sekret atau kerokan konjungtiva dengan pewarnaan


Giemsa di daerah tarsus atau limbus didapatkan sel-sel eosinofil dan eosinofil
granul. Tahap awal konjungtivitis vernalis ditandai oleh fase prehipertrofi. Dalam
kaitan ini, akan tampak pembentukan neovaskularisasi dan pembentukan papil
yang ditutup oleh satu lapis sel epitel dengan degenerasi mukoid dalam kripta di
antara papil serta pseudomembran milky white.

Pembentukan papil ini berhubungan dengan infiltrasi stroma oleh sel-sel


PMN, eosinofil, basofil, dan sel mast.Hasil penelitian histopatologik terhadap 675
konjungtivitis vernalis mata yang dilakukan oleh Wang dan Yang menunjukkan

17
infiltrasi limfosit dan sel plasma pada konjungtiva. Prolifertasi limfosit akan
membentuk beberapa nodul limfoid. Sementara itu, beberapa granula eosinofilik
dilepaskan dari sel eosinofil, menghasilkan bahan sitotoksik yang berperan dalam
kekambuhan konjungtivitis.

Dalam penelitian tersebut juga ditemukan adanya reaksi hipersensitivitas.


Tidak hanya di konjungtiva bulbi dan tarsal, tetapi juga di fornix, serta pada
beberapa kasus melibatkan reaksi radang pada iris dan badan siliar. Fase vaskular
dan selular dini akan segera diikuti dengan deposisi kolagen, hialuronidase,
peningkatan vaskularisasi yang lebih mencolok, serta reduksi sel radang secara
keseluruhan. Deposisi kolagen dan substansi dasar maupun seluler mengakibatkan
terbentuknya deposit stone yang terlihat secara nyata pada pemeriksaanklinis.
Hiperplasia jaringan ikat meluas ke atas membentuk giant papil bertangkai
dengan dasar perlekatan yang luas. Kolagen maupun pembuluh darah akan
mengalami hialinisasi. Epiteliumnya berproliferasi menjadi 510 lapis sel epitel
yang edematous dan tidak beraturan. Seiring dengan bertambah besarnya papil,
lapisan epitel akan mengalami atrofi di apeks sampai hanya tinggal satu lapis sel
yang kemudian akan mengalami keratinisasi.1,2,5

Pada limbus juga terjadi transformasi patologik yang sama berupa


pertumbuhan epitel yang hebat meluas, bahkan dapat terbentuk 30-40 lapis sel
(acanthosis). Horner-Trantas dots yang terdapat di daerah ini sebagian besar
terdiri atas eosinofil, debris selular yang terdeskuamasi, namun masih ada sel
PMN dan limfosit.

Gambar 4. Histologi Konjungtivitis Vernal Terlihat Banyak Sel Radang Terutama


Eosinofil

18
X. DIAGNOSIS

Berdasarkan atas pemeriksaan klinik dan laboratorium.3

Pemeriksaan Klinis:

Anamnesa adanya keluhan gatal, mata merah kecoklatan (kotor).

Palpebra : didapatkan hipertropi papiler, cobble stone appearance,


Giants papillae.

Konjungtiva bulbi: warna merah kecoklatan dan kotor, terutama di area fisura
interpalpebralis.

Limbus : Horner Trantas dots

Pada pemeriksaan kerokan konjungtiva atau getah mata didapatkan sel-sel


eosinofil dan eosinofil granul.

Gambar 4. Alur diagnosis Konjungtivitis Vernal6

19
XI. DIAGNOSIS BANDING3

1. Trakoma : Didapatkan folikel pada stadium awal yang akhirnya


terselubung dengan hipertropi papiler. Sedangkan pada konjungtivitis
vernal tidak pernah didapatkan folikel.
2. Hay fever konjungtivitis : Pembengkakan palpebra disebabkan edema sel-
sel. Pada kojungtivitis vernal pembengkakan terjadi karena adanya
infiltrasi cairan ke dalam sel.

XII. TATALAKSANA

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri tanpa diobati, dan perlu diingat bahwa
medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangka-pendek,
berbahaya jika dipakai jangka-panjang.1,2

Oleh karena dasarnya alergi, diberi larutan kortikosteroid, yang pada


stadium akut diberikan setiap 2 jam 2 tetes, atau dalam bentuk salep mata. Steroid
topikal atau sistemik, yang mengurangi rasa gatal, hanya sedikit mempengaruhi
penyakit kornea ini, dan efek sampingnya (glaukoma, katarak, ulkus kornea,dan
komplikasi lain) dapat sangat merugikan. Sekali penderita memakai kortikosteroid
dan merasa keluhan-keluhannya menjadi sangat berkurang, ada kecenderungan
untuk memakai kortikosteroid secara terus-menerus.

Sebaiknya kortikosteroid lokal diberikan setiap 2 jam selama 4 hari, untuk


selanjutnya digantikan dengan obat-obatan yang lain. Sedangkan dalam panduan
praktik klinis disebutkan pada konjungtivitis alergi dapat di berikan flumetolon
tetes dua kali sehari selama satu minggu.8

Akan tetapi pada konjungtivitis disertai kelainan kornea, jangan diberikan


kortikosteroid lokal, kalau perlu dapat diberikan secara sistemik, disamping
ditambah dengan sulfas atropin 0,5 % 3 kali sehari 1 tetes. Cromolyn topical
adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang sampai berat.
Vasokonstriktor, kromolin topikal dapat mengurangi pemakaian steroid.

20
Kompres dingin selama 10 menit beberapa kali sehari dapat mengurangi
keluhan-keluhan penderita. Tidur (jika mungkin juga bekerja) di ruang sejuk ber
AC sangat menyamankan pasien. Bila terdapat tukak kornea, maka diberi
antibiotik lokal untuk mencegah infeksi sekunder disertai dengan sikloplegik.
Pada kasus-kasus berat, kortikosteroid dan antihistamin peroral dapat dianjurkan.
Bila pengobatan tidak ada hasil dapat diberikan radiasi, atau dilakukan
pengangkatan giant papil. 1,2,3,4

Alergen yang telah diketahui sebaiknya dihindari, yaitu bulu bebek,


kelemumur binatang dan protein makanan tertentu (misalnya albumin, dll).
Alergen spesifik sangat sulit ditemukan pada penyakit vernal, walaupun diduga
bahwa sustansi seperti tepung sari rumput-rumputan sejenis gandum hitam (rye
grass pollens) mungkin berperan sebagai penyebabnya.1,3,4,5

Gambar 5. Tingkatan Tatalaksanan Konjungtivitis Vernal7

XIII. PROGNOSIS

Konjungtivitis vernal diderita sekitar 4-10 tahun, dengan remisi dan


eksaserbasi. Penyulit konjungtivitis vernal terutama disebabkan oleh pengobatan
dengan kortikosteroid lokal, yang tidak jarang mengakibatkan glaukoma kronik
simpel yang terbengkalai yang dapat berakhir dengan kebutaan.3

21
DAFTAR PUSTAKA

1. Schwab IR, Dawson CR. 2000. Konjungtiva dalam: Oftalmologi Umum.


Edisi 14. Jakarta: Widya Medika. Hal: 99-101, 115-116.
2. Ilyas, Sidarta. 1999. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Hal: 2-3, 124, 138-139.
3. Soewono W, Budiono S, Aminoe. 1994. Konjungtivitis Vernal dalam:
Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit Mata. Surabaya:
RSUD Dokter Soetomo. Hal: 92-94.
4. Wijana, Nana. 1983. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta. Hal: 43-44
5. Vaughan D, Asbury T. 1992. Oftalmologi Umum. Jilid 2. Edisi II.
Yogyakarta: Widya Medika. Hal: 81-82.
6. Takamura E, Eiichi U, Nobuyuki E, et al. Japanene guideline for allergic
conjunctival disease. Allergology International. 2011;60:191-203.
7. Meyer D. Current concepts in the therapeutic approach to allergic
conjunctivitis. Current Allergy and Clinical Immunology. June 2006;19:2.
65 68.
8. Depkes RI. 2014. Panduan Praktik Klinis: Bagi Dokter di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Primer: Jakarta.

22