Anda di halaman 1dari 63

LAPORAN MAGANG

PEMETAAN DATA ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ)


SEBAGAI LANGKAH AWAL PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN
MINIMAL (SPM)
SESUAI PERMENKES NOMOR 43 TAHUN 2016
DI WILAYAH KERJA DINAS KESEHATAN KABUPATEN SEMARANG

Laporan ini diajukan sebagai salah satu syarat


untuk menyelesaikan tugas mata kuliah magang

OLEH
MIRA ANDRI ASTUTI
NIM. 6411414138

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan magang ini telah disetujui oleh


Pembimbing materi dan pembimbing lapangan
Program magang mahasiswa Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Ilmu Keolahragaan
Universitas Negeri Semarang

Semarang, 03 November 2017


Pembimbing Lapangan
(Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang)

dr. Mas Dady Dharmadi S


NIP. 19681002 199803 1 006

Pembimbing Akademik

dr. Arulita Ika Fibriana, M.Kes(Epid)


NIP. 1987402022001122001

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya

laporan magang di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang dapat diselesaikan tepat

pada waktunya. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah dari

Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas

Negeri Semarang. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan

ucapan dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, karena berkat

bimbingan, pengarahan, serta motivasinya laporan ini dapat terselesaikan. Untuk

itu, pada kesempatan ini penulis sampaikan penghargaan dan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Tandiyo Rahayu, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Ilmu

Keolahragaan, Universitas Negeri Semarang

2. Bapak Irwan Budiono. S.KM., M.Kes (Epid). selaku Ketua Jurusan Ilmu

Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri

Semarang atas arahan dan persetujuan kegiatan magang

3. Ibu dr. Arulita Ika Fibriana, M.Kes (Epid). selaku Pembimbing Akademik

yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam kegiatan magang

hingga pembuatan laporan

4. Ibu dr. Ani Raharjo, MPPM. selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten

Semarang yang telah mengijinkan penulis melaksanakan kegiatan magang

5. Bapak dr. Mas Dady Dharmadi S selaku Pembimbing Lapangan pada

kegiatan magang, atas arahan dan bimbingannya selama kegiatan magang

dan pembuatan laporan magang

iii
6. Seluruh Kabid, Kasie, dan staff pegawai terutama bidang Pencegahan dan

Pengendalian Penyakit (P2P), Pelayanan Kesehatan, dan Kesehatan

Masyarakat yang sudah memberikan ilmu baru dan pengalaman di

lapangan sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi penulis

7. Semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah

membantu kelancaran kegiatan magang di Dinas Kesehatan Kabupaten

Semarang.

Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih memiliki

kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

guna perbaikan laporandan agar lebih bermanfaat bagi pembaca.

Semarang, November 2017


Penyusun

Mira Andri Astuti


NIM. 6411414138

iv
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ................................................................................................. vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Permasalahan ............................................................................................ 4
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 4
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................................... 4
BAB II ANALISIS SITUASI ................................................................................. 7
2.1 Analisis Situasi Umum ............................................................................. 7
2.2 Analisis Situasi Khusus .......................................................................... 23
BAB III IDENTIFIKASI MASALAH ................................................................. 28
3.1 Identifikasi Permasalahan pada Unit Penelitian ..................................... 28
3.2 Prioritas Masalah .................................................................................... 29
3.3 Pembahasan Prioritas Masalah ............................................................... 33
BAB IV PENYELESAIAN MASALAH ............................................................ 35
4.1 Alternatif Penyelesaian Masalah ............................................................ 35
4.2 Prioritas Pemecahan Masalah ................................................................. 35
4.3 Penetapan Strategi Pelaksanaan ............................................................. 37
4.4 Intervensi Masalah ................................................................................. 38
4.5 Evaluasi .................................................................................................. 45
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 47
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 47
5.2 Saran ....................................................................................................... 47

v
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 49
LAMPIRAN .......................................................................................................... 50

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016 ................... 8


Tabel 2.2 Jumlah Rumah Tangga/Kepala Keluarga dan Kepadatan Penduduk
Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016 ................................................................. 8
Tabel 2.3 SDM Kesehatan di Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016 ............... 22
Tabel 3.1 Identifikasi Masalah Program Kesehatan Jiwa dengan Metode Hanlon
Kuantitatif ............................................................................................................. 32
Tabel 4.1 Alternatif Pemecahan Masalah ............................................................. 36
Tabel 4.2 Perencanaan Program ............................................................................ 39

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 SOTK Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang ................................. 12


Gambar 2.2 Tenaga Fungsional Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016 ........... 23
Gambar 4.1 Form Laporan Data Puskesmas by name .......................................... 41
Gambar 4.2 Laporan Data Bulanan Data Kesakitan Puskesmas........................... 41
Gambar 4.3 Rekap Data Pasien ODGJ ................................................................. 42

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Hasil Rekap Data Pasien ODGJ Berdasarkan Jenis Kelamin dan
Kunjungan tiap Puskesmas ................................................................................... 50
Lampiran 2 Hasil Rekap Data Pasien ODGJ Berdasarkan Jenis Kasus dan
Kunjungan tiap Puskesmas ................................................................................... 51
Lampiran 3 Hasil Rekap Data Pasien ODGJ Berdasarkan Usia ........................... 52
Lampiran 4 Dokumentasi ...................................................................................... 53
Lampiran 5 Surat Ijin Magang dari Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat ............ 54
Lampiran 6 Surat Ijin Magang dari Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang........ 55
Lampiran 7 Lembar Aktivitas Kegiatan Magang ................................................. 56
Lampiran 8 Lembar Konsultasi ............................................................................. 61

ix
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan diselenggarakan secara bertahap dan

berkesinambungan yang mengacu pada arah dan kebijakan Rencana

Pembangunan Jangka Panjang (2004-2025) dan Rencana Pembangunan Jangka

Menengah yang disusun dalam 5 tahunan. Kesehatan Jiwa merupakan amanah

dari Undang-Undang No.18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa. Pasal 1

menyatakan bahwa Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat

berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut

menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan/stress, dapat bekerja

secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Kesehatan jiwa dipandang penting karena permasalahan kesehatan jiwa sangat

besar dan menimbulkan beban pembangunan yang signifikan. Jika permasalahan

kesehatan jiwa tidak ditanggulangi akan menurunkan status kesehatan fisik,

menurunkan produktivitas kerja dan kualitas sumber daya manusia, sehingga

menimbulkan disharmoni keluarga, permasalahan psikososial dan menghambat

pembangunan bangsa. Untuk itu perlu dilakukan berbagai upaya dalam bidang

kesehatan jiwa yang meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara

terintegrasi.

Dalam mendukung dan memandu implementasi program kesehatan jiwa di

tingkat nasional dan daerah telah disusun Rencana Aksi Kegiatan Direktorat Bina

1
2

Kesehatan Jiwa 2015-2019 yang merupakan perumusan mengenai kesehatan jiwa

untuk mengimplementasikan aksi-aksi kegiatan dalam mendukung promosi

kesehatan jiwa, prevensi terhadap gangguan jiwa, serta kurasi dan rehabilitasi.

Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia, berdasarkan data dari Riset

Kesehatan Dasar tahun 2013, didapatkan angka yang cukup signifikan. Prevalensi

gangguan mental emosional (gejala-gejala depresi dan ansietas), sebesar 6% untuk

penduduk berusia 15 tahun ke atas (Riskesdas, 2013). Hal ini berarti lebih dari 14

juta jiwa penduduk Indonesia menderita gangguan mental emosional. Sedangkan

untuk gangguan jiwa berat seperti gangguan psikosis, prevalensinya adalah 1,7

per 1000 penduduk. Dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa pada tahun

2013, aka diperkirakan terdapat lebih dari 400.000 orang menderita gangguan

jiwa berat (psikosis). Dan angka pemasungan pada orang dengan gangguan jiwa

berat sebesar 14,3% atau sekitar 57.000 kasus. Berdasarkan estimasi WHO, pada

tahun 2030 diperkirakan depresi menjadi penyebab utama beban penyakit nomor

1 di dunia.

Dengan melihat besaran permasalahan tersebut, maka Kementerian

Kesehatan menetapkan program kesehatan jiwa sebagai salah satu prioritas

program yang harus digalakkan dalam mencapai Indonesia Sehat dengan kurun

waktu 2015-2019 selain program kesehatan lain, seperti permasalahan Angka

Kematian Ibu dan Bayi, Gizi Masyarakat, Penyakit Menular (HIV-AIDS,

Tuberculosis, Malaria), dan Penyakit Tidak Menular (Hipertensi, Diabetes,

Obesitas, Kanker).
3

Program Indonesia Sehat diatas mendorong perubahan pada Standar

Pelayanan Minimal (SMP) kesehatan guna mempercepat tercapainya indikator-

indikator yang telah ditentukan. Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang

Kesehatan yang baru diatur dalam Permenkes No 43 Tahun 2016. Dalam SPM

terbaru tersebut, telah ditetapkan standar-standar pelayanan minimal yang harus

dilakukan pada masing-masing program kesehatan yang menjadi prioritas dalam

program Indonesia Sehat, termasuk didalamnya adalah mengenai program

kesehatan jiwa. Perbedaan yang mendasar pada SPM terbaru adalah jika

sebelumnya pencapaian target-target SPM lebih merupakan kinerja program

kesehatan maka pada SPM ini pencapaian target-target tersebut lebih diarahkan

kinerja Pemda. Pencapaian target SPM, bersama-sama dengan program prioritas

lain, menjadi indikator apakah kinerja Kepala Daerah dinilai baik atau tidak.

Sesuai dengan Tugas Pokok dan Fungsinya, program kesehatan jiwa

merupakan tanggung jawab Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, salah satunya

adalah Kabupaten Semarang. Program kesehatan jiwa di Dinas Kesehatan

Kabupaten Semarang ditangani oleh Bidang Pencegahan dan Pengendalian

Penyakit (P2P) khusunya bagian Penyakit Tidak Menular (PTM). Sebagai

program baru, didapatkan informasi bahwa pemegang program khusus Kesehatan

Jiwa pun baru terbentuk di tahun 2017 ini, sehingga masih banyak tugas-tugas

maupun target-target yang belum terlaksana, salah satunya adalah belum adanya

data dasar terbaru Orang Dengan Gangguang Jiwa (ODGJ) di wilayah Dinas

Kesehatan Kabupaten Semarang.


4

Untuk itu, sebagai langkah awal berjalannya program Kesehatan Jiwa

(Keswa) di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang perlu adanya data dasar

sebagai dasar acuan penyusunan dan pelaksanaan program-program selanjutnya,

sesuai dengan target SPM. Sehingga, penulis bermaksud melakukan pemetaan

data khususnya masyarakat Kabupaten Semarang yang terlapor sebagai ODJG

berdasarkan laporan dari Puskesmas di wilayah kerja Kabupaten Semarang bulan

Januari sampai September tahun 2017.

1.2 Permasalahan

Bagaimana pemetaan data Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di

wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang berdasarkan usia, jenis

kelamin, jenis kasus, dan kunjungan tiap Puskesmas pada bulan Januari-

September 2017?

1.3 Tujuan

Memberikan gambaran mengenai pemetaan data Orang Dengan Gangguan

Jiwa (ODGJ) di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang berdasarkan

usia, jenis kelamin, jenis kasus, dan dan kunjungan tiap Puskesmas pada bulan

Januari-September 2017

1.4 Manfaat Penulisan

4.4.1 Bagi Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang


5

1. Sebagai bahan masukan bagi instansi menyusun maupun

melaksanakan program-program mengenai kesehatan jiwa yang tepat

sasaran

2. Menjalin kerjasama yang baik dalam meningkatkan kualitas

mahasiswa.

4.4.2 Bagi Mahasiswa

1. Mahasiswa mendapatkan pengalaman dan keterampilan di tempat

magang

2. Mahasiswa mampu mengidentifiksi permasalahan yang ada di tempat

magang dan dapat memberian kontribusinya dengan memberikan

alternatif pemecahan terhadap masalah yang ada

3. Mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang telah diperoleh kepada

instansi tempat magang dan memperoleh gambaran tentang kondisi

dunia kerja khususnya.

4.4.3 Bagi Perguruan Tinggi

1. Laporan magang ini dapat digunakan menjadi salah satu instrumen

untuk audit internal dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran.

2. Memperkenalkan jurusan IKM FIK kepada perusahaan dan instansi

kesehatan

3. Mendapatkan masukan bagi pengembangan jurusan IKM.

4. Terbinanya jaringan kerjasama dengan instansi tempat magang yaitu

Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang dalam upaya meningkatkan

keterkaitan dan kesepadanan antara substansi akademik dengan


6

pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia yang dibutuhkan

dalam pembangunan kesehatan masyarakat.


BAB II

ANALISIS SITUASI

2.1 Analisis Situasi Umum

2.1.1 Gambaran Umum Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang

Kabupaten Semarang merupakan salah satu kabupaten otonom di Provinsi

Jawa Tengah. Secara geografis letak Kabupaten Semarang pada posisi

1101454,75 - 110393 bujur timur dan 7357 - 7300 lintang selatang,

dengan batas-batas administratif sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kota Semarang dan Kabupaten Demak

Sebelah Timur : Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Boyolali

Sebelah Selatan : Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang

Sebelah Barat : Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Kendal

Bagian Tengah : Terletak Koramadya Salatiga.

Luas wilayah Kabupaten Semarang adalah 95.020,674 hektar atau sekitar

2,92% dari luas Provinsi Jawa Tengah. Secara administrative wilayah Kabupaten

Semarang terdiri dari 19 kecamatan yang terdiri dari 208 desa dan 27 kelurahan.

Kabupaten Semarang diuntungkan secara geografis mengingat posisinya yang

strategis terletak di jalur-jalur penghubung segitiga pusat perkembangan wilayah

Jogjakarta, Solo, dan Semarang (Joglosemar). Posisi strategis tersebut merupakan

kekuatan yang dapat dijadikan sebagai modal pembangunan daerah.

Berdasarkan data dari Dispendukcapil Kabupaten Semarang, pada akhir

tahun 2016, jumlah penduduk Kabupaten Semarang adalah 1.005.677 jiwa,

dengan perbandingan jumlah penduduk laki-laki sebesar 503.539 jiwa dengan

7
8

perempuan sebesar 502.138 jiwa. Dari data yang tersedia, dapat dilihat bahwa

setiap tahun jumlah penduduk mengalami peningkatan. Perbandingan antara

jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan menghasilkan perhitungan rasio

jenis kelamin, yang didapat hasil rata-rata jenis kelamin di Kabupaten Semarang

tahun 2016 adalah sebesar 100,28. Sedangkan perbandingan antara jumlah

penduduk usia produktif (usia 15-64) tahun dengan usia non-produktif (usia 0-14

dan 65+ ) tahun menghasilkan Angka Beban Tanggungan (Dependency Ratio)

sebesar 41,20. Peningkatan jumlah penduduk, jumlah rumah tangga dan

kepadatan penduduk di Kabupaten Semarang dalam kurun waktu 2011-2016

dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016


Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah
2011 462.592 476.210 938.802
2012 465.467 478.810 944.277
2013 497.227 486.302 983.529
2014 495.791 493.608 989.399
2015 499.066 497.280 996.346
2016 503.539 502.138 1.005.677
Sumber : BPS Kabupaten Semarang Tahun 2010-2012
Dispendukcapil Kabupaten Semarang Tahun 2013-2016

Tabel 2.2 Jumlah Rumah Tangga / Kepala Keluarga dan Kepadatan


Penduduk Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016
Tahun KK Kepadatan Penduduk Per Km2
2011 274.832 988
2012 287.306 993
2013 335.036 1.035
2014 317.431 1.041
9

2015 315.472 1.048


2016 316.772 1.058
Sumber : BPS Kabupaten Semarang Tahun 2010-2012
Dispendukcapil Kabupaten Semarang Tahun 2013-2016

2.1.2 Visi dan Misi Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang

Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang adalah MENJADI

INSTITUSI YANG MEWUJUDKAN MASYARAKAT SEHAT MANDIRI.

Visi tersebut ditetapkan dengan pertimbangan bahwa sektor kesehatan merupakan

sektor penting yang diperlukan untuk mencapai visi pembangunan jangka

menengah Kabupaten Semarang dalam menjalankan misinya. Visi tidak akan

berjalan jika kondisi masyarakat Kabupaten Semarang tidak sehat, oleh karena itu

sektor kesehatan memang perlu direncanakan sebaik-baiknya agar berbagai

hambatan dan kendala sektor kesehatan dapat diatasi.

Dalam rangka mewujudkan Visi Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang maka

ditetapkan empat misi yaitu :

1. Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi masyarakat sehat

mandiri.

2. Meningkatkan mutu sumber daya tenaga kesehatan dan pengembangan

profesionalisme.

3. Meningkatkan peran serta masyarakat dan pemangku kepentingan dalam

rangka menyelenggarakan pembangunan kesehatan.

4. Penyelenggaraan pelayanan publik bermutu.


10

2.1.3 Tujuan dan Sasaran Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang

Visi dan misi yang telah dijabarkan di atas, memiliki tujuan dan sasaran

sebagai berikut :

A. Misi I : Meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi masyarakat

sehat mandiri.

Tujuan : Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.

Sasaran :

1. Meningkatnya kesehatan ibu dan anak.

2. Terkendalinya Penyakit menular dan tidak menular.

3. Meningkatnya fasilitas pelayanan kesehatan yang memenuhi standar.

4. Meningkatnya kuantitas dan kualitas kesehatan pemukiman, tempat

tempat umum dan tempat pengolahan makanan.

5. Meningkatnya mutu sediaan farmasi, makanan minuman, alat

kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT).

B. Misi II : Meningkatkan mutu sumber daya manusia kesehatan dan

pengembangan profesionalisme.

Tujuan :

1. Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia kesehatan.

2. Mendayagunakan sumber daya manusia kesehatan.

Sasaran :

1. Meningkatnya sumber daya manusia kesehatan yang mengikuti

pendidikan dan pelatihan

2. Meratanya penempatan tenaga kesehatan.


11

C. Misi III : Menyelenggarakan pembangunan kesehatan melalui peran serta

masyarakat dan pemangku kepentingan.

Tujuan : Meningkatkan pendekatan (advokasi) dan dukungan sosial (social

support) pemangku kepentingan.

Sasaran :

1. Meningkatnya peran Pemerintah Kabupaten Semarang dalam

pembangunan kesehatan.

2. Meningkatnya peran dunia usaha dalam pembangunan kesehatan.

3. Meningkatnya peran masyarakat dalam pembangunan kesehatan.

D. Misi IV : Penyelenggaraan pelayanan publik yang bermutu.

Tujuan :

1. Meningkatnya pelayanan administrasi di bidang kesehatan.

2. Meningkatnya pelayanan informasi di bidang kesehatan.

Sasaran :

1. Meningkatnya penerbitan ijin dan registrasi sumber daya kesehatan.

2. Meningkatnya tata kelola kepegawaian, asset, keuangan, perencanaan

dan evaluasi pembangunan kesehatan.

3. Meningkatnya tata kelola administrasi perkantoran.

4. Meningkatnya masyarakat yang memanfaatkan informasi kesehatan.


12

2.1.4 Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten

Semarang

Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK) Dinas Kesehatan Kabupaten

Semarang sebagai berikut :

Gambar 2.1 SOTK Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang

2.1.5 Tugas Pokok, Fungsi, dan Rincian Tugas Dinas Kesehatan

Kabupaten Semarang

Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang memiliki pelaksanaan tugas

pokok dan fungsi yang dijelaskan dibawah ini :


13

1. Kepala

A. Tugas Pokok

Melaksanakan urusan pemerintah daerah di bidang kesehatan.

B. Fungsi

1. Perumusan kebijakan teknis di bidang kesehatan masyarakat,

pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan dan sumber daya

kesehatan.

2. Penyelenggaraan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.

3. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang kesehatan masyarakat,

pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan dan sumber daya

kesehatan.

4. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.

C. Rincian Tugas

1. Merumuskan program kerja dan anggaran Dinas Kesehatan.

2. Merumuskan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan

dan pengendalian penyakit, pelayanan dan sumber daya kesehatan.

3. Menetapkan kebijakan teknis di bidang kesehatan masyarakat,

pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan dan sumber daya

kesehatan.

4. Melaksanakan penerapan dan pencapaian Standar Pelayanan Minimal

(SPM) sesuai bidangnya.

5. Membagi tugas bawahan sesuai bidang tugasnya dan mengarahkan

pelaksanaan kegiatan operasional Dinas


14

6. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait agar diperoleh hasil

kerja yang optimal.

7. Menyelenggarakan kegiatan di bidang kesehatan masyarakat,

pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan dan sumber daya

kesehatan.

8. Menyelenggarakan kesekretariatan Dinas.

9. Menyelenggarakan pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Dinas.

10. Melaksanakan monitoring dan evaluasi kegiatan Dinas.

11. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan

Dinas.

12. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan guna

kelancaran pelaksanaan tugas.

13. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

2. Sekretariat

A. Tugas Pokok

Melaksanakan sebagian tugas Dinas Kesehatan di Sub Bagian Perencanaan

dan Keuangan, Umum dan Kepegawaian.

B. Fungsi

1. Pengelolaan administrasi umum, kepegawaian dan keuangan Dinas.

2. Pengelolaan administrasi perencanaan dan keuangan Dinas.

3. Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan kegiatan Dinas.

C. Rincian Tugas
15

1. Menyusun program kerja dan anggaran Sekretaria berdasarkan

rangkuman rencana kerja Subbagian-subbagian.

2. Membagi tugas kepada bawahan sesuai dengan bidang tugasnya, dan

mengarahkan pelaksanaan kegiatan.

3. Menggordinasikan penyusunan program kerja Dinas.

4. Menggordinasikan penyusunan rencana kerja dan anggaran dengan

seluruh Bidang di lingkungan Dinas.

5. Menyelenggarakan kegiatan administrasi umum, kepegawaian,

keuangan, kearsipan, perpustakaan, perlengkapan rumah tangga Dinas

sesuai ketentuan yng berlaku.

6. Mengoordinasikan penyusunan laporan pertanggungjawaban

pelaksanaan kegiatan Dinas.

7. Melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan

kesekretariatan.

8. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan

Sekretariat.

9. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan guna

kelancaran pelaksanaan tugas.

10. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai ketentuan peraturan

perundang-undang yang berlaku.

3. Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan

A. Tugas Pokok
16

1. Melaksanakan sebagian tugas Sekretariat di bidang perencanaan

Dinas.

2. Melaksanakan sebagaian tugas Sekretariat di bidang pengelolaan

administrasi keuangan.

B. Rincian Tugas

1. Menyusun program kerja dan anggaran Sub Bagian Perencanaan dan

Keuangan.

2. Membagi tugas kepada bawahan dan mengarahkan pelaksanaan

kegiatan.

3. Menyusun Rencana Strategis Dinas sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

4. Menghimpun dan mengoreksi bahan usulan program kegiatan dari

masing-masing bidang, seksi, dan sub bagian sesuai dengan ketentuan

yang berlaku.

5. Menyusun dan menetapkan target pendapatan UPTD.

6. Menyiapkan bahan penyusunan Rencana Kerja (RKPD) Penetapan

dan Renja Kerja (RKPD) Perubahan sesuai dengan ketentuan yang

berlaku.

7. Menyiapkan bahan penyusunan KUA dan PPAS serta KUPA dan

PPASP sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

8. Menyiapkan bahan penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA)

Penetapan dan Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perubahan

(RKAP) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.


17

9. Menyiapkan bahan penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran

(DPA) dan penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Perubahan

(DPAP) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

10. Menyiapkan bahan proses pencairan dana dan pengelolaan

administrasi keuangan di lingkungan Dinas.

11. Melaksanakan pengendalian dan verifikasi serta pelaporan

administrasi keuangan di lingkungan Dinas

12. Menyusun laporan pertanggungjawaban pajak.

13. Menyusun laporan kinerja instansi Pemerintah sesuai dengan

ketentuan yang berlaku.

14. Menyusun Laporan Penyelenggaran Pemerintahan Daerah (LPPD)

sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

15. Menyusun laporan keterangan pertanggungjawaban sesuai dengan

ketentuan yang berlaku.

16. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan anggaran

pendapatan dan belanja sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

17. Melaksanakan inventarisasi barang kekayaan Dinas untuk tertib

administrasi serta melaksanakan pemeliharaan barang inventaris agar

dapat digunakan dengan optimal.

18. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program Dinas.

19. Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan Sub Bagian

Perencanaan dan Keuangan.


18

20. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Sub

Bagian Perencanaan dan Keuangan.

21. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan guna

kelancaran pelaksanaan tugas.

22. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

4. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian

A. Tugas Pokok

Melaksanakan sebagian tugas Sekretariat di bidang administrasi umum

dan administrasi kepegawaian.

B. Rincian Tugas

1. Menyusun program kerja dan anggaran Subbagian Umum dan

Kepegawaian.

2. Membagi tugas kepada bawahan dan mengarahkan pelaksanaan

kegiatan.

3. Menyiapkan bahan dalam rangka pelayanan urusan administrasi

umum, rumah tangga, perpustakaan, kearsipan dan pengelolaan

administrasi kepegawaian Dinas.

4. Merencanakan dan melaksanakan pengadaan barang untuk keperluan

rumah tangga Dinas sesuai dengan kebutuhan, anggaran, dan

peraturan perundang-undangan yang berlaku.


19

5. Membuat laporan rutin tentang peremajaan pegawai, Daftar Urut

Kepangkatan (DUK), nominative pegawai, dan laporan kepegawaian

lainnya demi terciptanya tertib administrasi kepegawaian.

6. Memproses usulan kenaikan pangkat, mutasi, gaji berkala, pendidikan

dan pelatihan serta urusan kepegawaian lainnya.

7. Melaksanakan proses pengajuan tugas belajar.

8. Menyiapkan rencana kebutuhan secara kualitas maupun kuantitas

sesuai dengan standar layanan kesehatan yang ditetapkan.

9. Melaksanakan pengelolaan administrasi kepegawaian sesuai ketentuan

perundang-undangan yang berlaku.

10. Melaksanakan kerja sama dengan institusi pendidikan perihal

penempatan mahasiswa praktek dan siswa magang.

11. Membuat rekomendasi ijin penelitian dan ijin pendahuluan mahasiswa

praktek.

12. Melaksanakan upaya pengembangan kualitas Sumber Daya Manusia

kesehatan melalui bimbingan teknis dan pelatihan sesuai kebutuhan.

13. Menyiapkan bahan strategi pemberdayaan dan pengembangan Sumber

Daya Manusia kesehatan.

14. Melaksanakan penetapan PAK jabatan fungsional tertentu.

15. Melaksanakan sertifikasi tenaga kesehatan sesuai peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

16. Melaksanakan pemetaan Sumber Daya Kesehatan.


20

17. Melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan

Subbagian Umum dan Kepegawaian.

18. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan

Subbagian Umum dan Kepegawaian.

19. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan guna

kelancaran pelaksanaan tugas.

20. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

2.1.6 Sarana Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang

2.1.6.1 Data Dasar Puskesmas

Puskesmas di Kabupaten Semarang berjumlah 26 Puskesmas yang terdiri

dari 12 Puskesmas Rawat Inap dan 14 Puskesmas Rawat Jalan. Puskemas dalam

pelaksanaan tugasnya di bantu dengan adanya Puskesmas pembantu dan

Polindes/PKD, dimana jumlah di Kabupaten Semarang sebagai berikut :

a. Puskesmas Pembantu : 67 Pustu

b. Polindes : 15 Polindes

c. PKD : 164 PKD

2.1.6.2 Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kepemilikan/Pengelola

Di Kabupaten Semarang, sarana pelayanan kesehatan tersebar di berbagai

kecamatan. Sarana Pelayanan Kesehatan yang ada di Kabupaten Semarang antara

lain :

a. Rumah Sakit Pemerintah : 2 RS


21

b. Rumah Sakit Swasta : 3 RS

c. Mobil Puskesmas Keliling di Puskesmas: 47 Pusling

d. Posyandu : 1.656 Posyandu

e. Klinik Pratama : 60 Klinik

f. Apotek : 92 apotek

g. Gudang Farmasi : 1 buah

h. Industri kecil obat tradisional : 3 buah

2.1.6.3 Presentasi Rumah Sakit dengan Kemampuan Pelayanan Gawat

Darurat Level 1

Kabupaten Semarang memiliki 4 Rumah sakit dengan pelayanan gawat

darurat level 1 yang terdiri dari 2 RS swasta dan 2 RS pemerintah.

2.1.6.4 Pelayanan Posyandu

Posyandu dikategorikan menjadi 4 strata yaitu pratama, madya, purnama

dan mandiri. Pada tahun 2016 jumlah posyandu pratama sebanyak 20 posyandu

(1,21%), madya 508 posyandu (30,68%), purnama 652 posyandu (39,37%), dan

mandiri 476 posyandu (28,74%).

2.1.6.5 Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat

Upaya kesehatan bersumber masyarakat (UKBM) diimplementasikan

dengan keberadaa desa siaga. Kabupaten semarang memiliki 235 desa atau

kelurahan yang seluruhnya merupakan desa siaga. Desa siaga aktif pratama

berjumlah 155 desa, desa siaga aktif madya berjumlah 55 desa, desa siaga aktif

purmana sebanyak 22 desa dan desa siaga aktif mandiri berjumlah 3 desa.
22

2.1.6.6 Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang

Secara keseluruhan kebutuhan tenaga kesehatan di Kabupaten Semarang

pada tahun 2016 masih belum tercukupi. Selain kekurangan tenaga dokter,

jumlahtenaga yang belum tercukupi adalah tenaga kesmas dan tenaga sanitasi,

padahal keberadaan tenaga kesehatan ini sangat mendukung upaya pemerintah

untuk meningkatkan status derajat kesehatan masyarakat, baik mealui upaya

kuratif maupun promotif preventif.

Tabel 2.3 SDM Kesehatan di Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016.


JENIS KETENAGAAN
Tahun Tek.
Medis Perawat Bidan Farmasi Gizi Sanitasi KesMas Umum
Medis
2011 225 632 373 77 38 96 25 22 636
2012 248 590 383 81 41 99 21 36 370
2013 282 658 405 159 59 93 25 65 525
2014 269 725 389 99 54 167 19 10 623
2015 226 724 404 104 40 168 4 5 542
2016 495 805 619 317 33 155 16 15 351
Sumber: Profil Kesehatan data kepegawaian terdiri dari data Puskesmas, RS,dan
sarana kesehatan lainnya.

Pada Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang di tahun 2016 terdapat 13

jenis tenaga teknis fungsional. Adapun jenis tenaga fungsional sebagaimana

tampak pada gambar di bawah ini :


23

Gambar 2.2 Tenaga Fungsional Kabupaten Semarang Tahun 2011-2016

2.2 Analisis Situasi Khusus

Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan

Imunisasi

A. Tugas Pokok

Seksi Pencegahan Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular mempunyai tugas

melaksanakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan, penyusunan norma,

standar, prosedur, kriteria dan pemberian bimbingan teknis serta supervisi,

pemantauan, evaluasi dan pelaporan di bidang pencegahan dan

pengendalian penyakit tidak menular sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

B. Fungsi
24

1. Melaksanakan kebijakan di bidang pencegahan dan pengendalian

penyakit paru kronik dan gangguan imunologi, jantung dan pembuluh

darah, kanker dan kelainan darah, diabetes mellitus dan gangguan

metabolik, gangguan indra dan fungsional, serta penyakit menular

kekarantinaan kesehatan, dan penyakit yang dapat dicegah dengan

imunisasi (imunisasi dasar, imunisasi lanjutan, dan khusus), kesehatan

jiwa.

2. Menyiapkan pelaksanaan kegiatan di bidang pencegahan dan

pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi, jantung

dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah, diabetes mellitus dan

gangguan metabolik, gangguan indra dan fungsional, serta penyakit

yang dapat dicegah dengan imunisasi (imunisasi dasar, imunisasi

lanjutan, dan khusus), kesehatan jiwa.

3. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pencegahan dan

pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi, jantung

dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah, diabetes mellitus dan

gangguan metabolik, gangguan indra dan fungsional, serta penyakit

menular kekarantinaan kesehatan, dan penyakit yang dapat dicegah

dengan imunisasi (imunisasi dasar, imunisasi lanjutan, dan khusus),

kesehatan jiwa.

4. Melaksanakan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang

pencegahan dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan

imunologi, jantung dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah,


25

diabetes mellitus dan gangguan metabolik, gangguan indra dan

fungsional, serta penyakit menular kekarantinaan kesehatan, dan

penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (imunisasi dasar,

imunisasi lanjutan, dan khusus), kesehatan jiwa.

C. Rincian Tugas

1. Menyusun program kerja dan anggaran Seksi Pencegahan Penyakit

yang dapat Dicegah dengan Imunisasi dan Pengendalian Penyakit

Tidak Menular.

2. Membagi tugas kepada bawahan dan mengarahkan pelaksanaan

kegiatan.

3. Melaksanakan dan atau memfasilitasi kebijakan di bidang pencegahan

dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi,

jantung dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah, diabetes

mellitus dan gangguan metabolik, gangguan indra dan fungsional,

serta penyakit menular kekarantinaan kesehatan, dan penyakit yang

dapat dicegah dengan imunisasi (imunisasi dasar, imunisasi lanjutan,

dan khusus).

4. Menyiapkan pelaksanaan kegiatan di bidang pencegahan dan

pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi, jantung

dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah, diabetes mellitus dan

gangguan metabolik, gangguan indra dan fungsional, serta penyakit

menular kekarantinaan kesehatan, dan penyakit yang dapat dicegah

dengan imunisasi (imunisasi dasar, imunisasi lanjutan, dan khusus).


26

5. Melaksanakan norma, standart, prosedur, dan kriteria di bidang

pencegahan dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan

imunologi, jantung dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah,

diabetes mellitus dan gangguan metabolik, gangguan indra dan

fungsional, serta penyakit menular kekarantinaan kesehatan, dan

penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (imunisasi dasar,

imunisasi lanjutan, dan khusus).

6. Pemberian bimbingan teknis dan supervisi di bidang pencegahan dan

pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan imunologi, jantung

dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah, diabetes mellitus dan

gangguan metabolik, gangguan indra dan fungsional, serta penyakit

menular kekarantinaan kesehatan, dan penyakit yang dapat dicegah

dengan imunisasi (imunisasi dasar, imunisasi lanjutan, dan khusus).

7. Melaksanakan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan di bidang

pencegahan dan pengendalian penyakit paru kronik dan gangguan

imunologi, jantung dan pembuluh darah, kanker dan kelainan darah,

diabetes mellitus dan gangguan metabolik, gangguan indra dan

fungsional, serta penyakit menular kekarantinaan kesehatan, dan

penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (imunisasi dasar,

imunisasi lanjutan, dan khusus).

8. Melaksanakan imunisasi terhadap calon Jemaah haji.

9. Melaksanakan surveilans faktor resiko PTM berbasis FKTP,

surveilans faktor resiko PTM berbasis masyarakat (Posbindu).


27

10. Pencegahan dan pengendalian kesehatan jiwa.

11. Menghimpun dan menganalisa data penyakit tidak menular.

12. Menyusun laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan Seksi

Pencegahan Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi dan

Pengendalian Penyakit Tidak Menular.

13. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan guna

kelancaran pelaksanaan tugas.

14. Melaksanakan tugas kedinasan lain sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, pemegang program khusus

kesehatan jiwa baru terbentuk di tahun 2017. Program Kesehatan Jiwa termasuk

dalam Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular dan

Imunisasi. Kondisi tersebut menyebabkan masih banyak hal yang harus

dikerjakan, mulai dari pengumpulan data, perencanaan program dapat dilakukan,

sampai nantinya dapat mencapai target Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang

telah ditetapkan.
BAB III

IDENTIFIKASI MASALAH

3.1 Identifikasi Permasalahan pada Unit Penelitian

Dalam beberapa waktu terakhir ini, masalah kesehatan jiwa sedang

menjadi sorotan. Selain karena prevalensinya yang terus saja meningkat mulai

permalahan jiwa ringan hingga berat, masalah kesehatan jiwa juga menjadi

perhatian khusus karena masuk menjadi program yang diprioritaskan dalam

program Indonesia Sehat. Kesehatan jiwa dipandang penting karena

permasalahan kesehatan jiwa sangat besar dan menimbulkan beban pembangunan

yang signifikan. Jika permasalahan kesehatan jiwa tidak ditanggulangi akan

menurunkan status kesehatan fisik, menurunkan produktivitas kerja dan kualitas

sumber daya manusia, sehingga menimbulkan disharmoni keluarga, permasalahan

psikososial dan menghambat pembangunan bangsa.

Kesehatan jiwa juga masuk dalam program yang menggunakan SPM

bidang kesehatan terbaru sebagaimana diatur dalam Permenkes No 43 Tahun

2016. Dimana dalam peraturannya, program-program kesehatan yang memang

telah ditetapkan pada SPM terbaru dibebankan pada masing-masing Pemerintah

Daerah, sehingga target pencapaian program akan langsung dikaitkan dengan

kinerja Pemda atau Kepala Daerah khususnya.

Sebagaimana telah di jelaskan diatas, pemegang program khusus

kesehatan jiwa di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang baru terbentuk di tahun

2017, padahal semestinya program-program preventif, prmotif, sampai dengan

28
29

rehabilitasi pada pasien ODGJ harus sudah terencana dengan baik dan

dilaksanakan mulai tahun 2015. Dalam target-target maupun indikator di SPM

langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan antara lain:

1. Penyediaan materi KIE Keswa, Pedoman, dan Buku Kerja Kesehatan Jiwa

2. Peningkatan pengetahuan SDM

3. Penyediaan form pencatatan dan pelaporan

4. Pelayanan Kesehatan ODGJ Berat di Puskesmas

5. Pelaksanaan kunjungan rumah (KIE Keswa dan dukungan psikososial)

6. Monitoring dan evaluasi.

Diantara langkah-langkah kegiatan yang harus dilakukan tersebut, masih

banyak yang belum tercapai antara lain belum adanya materi KIE Keswa,

Pedoman, dan Buku Kerja Kesehatan Jiwa terbaru, upaya peningkatan SDM, form

pencatatan dan pelaporan Puskesmas ke Dinas Kesehatan masih banyak yang

belum sesuai dengan format terbaru, belum adanya program kunjungan rumah,

juga belum ada monitoring dan evaluasi pelayanan kesehatan ODGJ di Puskesmas

selama ini seperti apa. Yang paling mendasar dari semua itu adalah belum adanya

data dasar lengkap mengenai pasien ODGJ ringan maupun berat di seluruh

wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang yang telah diberikan pelayanan

kesehatan di Puskesmas maupun yang dirujuk.

3.2 Prioritas Masalah

Penetapan prioritas masalah menjadi bagian penting dalam proses

pemecahan masalah dikarenakan dua alasan. Pertama karena terbatasnya sumber


30

daya yang tersedia dan karena tidak memungkinkan menyelesaikan semua

masalah secara bersamaan. Kedua, karena adanya hubungan antara satu masalah

dengan masalah lainnya. Oleh karena itu, semua masalah tidak perlu diselesaikan

secara satu per satu.

Dalam menentukan prioritas masalah menggunakan metode Hanlon Kuantitatif

yang terdiri dari:

Kriteria A (Besar Masalah)

Yaitu jumlah/prosentase (%) kelompok penduduk yang terkena masalah

serta dapat juga berupa tingkat kriteria dan peran serta masyarakat atau instansi

terkait. Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5 dari yang terkecil

sampai yang terbesar.

5 = sangat kuat

4 = kuat

3 = cukup kuat

2 = kurang kuat

1 = sangat kurang kuat

Kriteria B (Kegawatan Masalah)

Yaitu tingginya angka morbiditas dan mortalitas serta kecenderungannya

(trend) dari waktu ke waktu. Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5

dari yang terkecil sampai yang terbesar.

5 = sangat gawat

4 = gawat

3 = cukup gawat
31

2 = kurang gawat

1 = sangat kurang gawat

Kriteria C (Efektifitas)

Kemudahan dalam penanggulangan masalah di lihat dari perbandingan

antara perkiraan hasil/manfaat penyelesaian masalah yang akan di peroleh dengan

sumber daya yang ada (tenaga, sarana/prasarana dan metode ) untuk

menyelesaikan masalah. Pemberian skor diberikan antara 1 sampai dengan 5 dari

yang terkecil sampai yang terbesar.

5 = sangat mudah

4 = mudah

3 = cukup mudah

2 = kurang mudah

1 = sangat kurang mudah

Kriteria D (Pearl Faktor)

Yaitu berbagai pertimbangan yang harus di pikirkan dalam kemungkinan

pelaksanaannya. Skor

0 = Tidak

1= Ya

Keterangan:

1) P: Appropriatness

Kesesuaian masalah/alternatif dengan prioritas kebijakan program

pemerintah/kegiatan instansi terkait.

2) E: Econimic Feasibility
32

Kelayakan dari segi pembayaran, ada tidaknya biaya yang tersedia.

3) A: Acceptability

Situasi penerimaan masyarakat dalam instansi terkait, kesesuaian dengan

tata nilai yang ada di lingkungan.

4) R: Resources Availability

Ketersediaan sumber daya untuk memecahkan.

5) L: Legality

Dukungan aspek-aspek hukum dan perundangan yang berlaku dan terkait.

Setelah berbagai kriteria diisi dan diberikan scoring maka langkah

berikutnya adalah menghitung nilai NPD dan NPT dengan rumus:

NPD : Nilai Prioritas Dasar = ( A+B ) x C

NPT : Nilai Priorotas Total = ( A+B ) x C x D

Prioritas utama adalah alternatif yang mempunyai nilai NPT tertinggi. Dari

identifikasi masalah di atas dapat di lihat hasil perhitungan dengan menggunakan

metode Hanlon Kuantitatif sebagai berikut :

Tabel 3.1 Identifikasi Masalah Program Kesehatan Jiwa dengan Metode


Hanlon Kuantitaif
Inventarisasi Skor Kriteria Skor D (PEARL)
No Masalah A B C P E A R L NPD NPT Prioritas

Belum adanya
materi KIE Keswa,
1. buku pedoman, 4 3 4 1 1 1 1 0 28 112 II
dan buku kerja
kesehatan jiwa
Belum adanya
2. 3 3 2 1 0 0 0 1 12 24 V
program upaya
33

peningkatan SDM
Belum adanya data
dasar lengkap
pasien ODGJ di
3. wilayah kerja 4 4 3 1 1 1 1 1 24 120 I
Dinas Kesehatan

Belum adanya
program preventif,
dan promotif yang
4. terencana dari 3 3 3 1 1 1 1 1 18 90 IV
Dinas Kesehatan
Belum adanya
monitoring dan
evaluasi pelayanan
5. kesehatan untuk 4 3 3 1 1 1 1 1 21 105 III
pasien ODGJ di
Puskesmas

Dari analisis diatas, maka penulis akan mengambil 3 prioritas masalah

yaitu antara lain belum adanya data dasar pasien ODGJ di wilayah kerja Dinas

Kesehatan Kabupaten Semarang, belum adanya materi KIE Keswa, buku

pedoman, dan buku kerja Keswa, serta belum adanya monitoring dan evaluasi

pelayanan kesehatan untuk pasien ODGJ di Puskesmes selama ini.

3.3 Pembahasan Prioritas Masalah

Masalah kesehatan jiwa mulai diperhatikan dan eksis kembali setelah

menjadi program Indonesia Sehat dari Pemerintah khususnya Kementerian

Kesehatan dalam kurun waktu tahun 2015-2019. Kesehatan jiwa dipandang

penting karena permasalahan kesehatan jiwa sangat besar dan menimbulkan beban
34

pembangunan yang signifikan. Jika permasalahan kesehatan jiwa tidak

ditanggulangi akan menurunkan status kesehatan fisik, menurunkan produktivitas

kerja dan kualitas sumber daya manusia, sehingga menimbulkan disharmoni

keluarga, permasalahan psikososial dan menghambat pembangunan bangsa

(Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, 2015).

Adanya data dasar suatu penyakit maupun masalah kesehatan merupakan

hal dasar yang dibutuhkan dalam menentukan hal apa yang harus dilakukkan

selanjutnya. Seperti halnya masalah kesehatan jiwa ini. Data dasar pasien Orang

dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sangat diperlukan, baik yang sudah menerima

pelayanan kesehatan di Fasyankes, yang belum mendapat perawatan, maupun

yang sudah dirujuk. Salah satunya adalah untuk memonitoring dan mengevaluasi

bagaimana pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien ODGJ oleh

Puskesmas atau Fasyankes lainnya selama ini. Selain itu, data dasar juga

diperlukan untuk penyusunan perencanaan program yang sesuai dan tepat saaran

baik dalam hal preventif, promotif,kuratif, maupun rehabilitatif.


BAB IV

PENYELESAIAN MASALAH

4.1 Alternatif Penyelesaian Masalah

Berdasarkan metode analisis masalah, didapatkan berbagai pemecahan

masalah yang bertujuan untuk mencapai target-target awal SPM bidang kesehatan

terbaru sesuai Permenkes No 43 Tahun 2016. Sehingga diharapkan di akhir tahun

2017 ini capaian kinerja program kesehatan jiwa di Kabupaten Semarang dapat

sesuai target minimal yang ditetapkan.

Adapun alternatif pemecahan masalah adalah sebagai berikut:

A. Pemetaan data pasien ODGJ di seluruh wilayah kerja Dinas

Kesehatan Kabupaten Semarang

B. Pembuatan form pelaporan dan pencatatan pasien di seluruh

Puskesmas

C. Pembuatan materi KIE Keswa, buku pedoman, dan buku kerja

kesehatan jiwa

D. Mengadakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan pelayanan

kesehatan pasien ODGJ di Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan

Kabupaten Semarang

4.2 Prioritas Pemecahan Masalah

Setelah diketahui alternatif pemecahan masalah yang akan dilakukan,

maka perlu dipilih prioritas pemecahan masalah yang akan dilakukan dalam

35
36

kegiatan intervensi sehingga akan memudahkan dalam pelaksanaan kegiatan

tersebut. Adapun prioritas pemecahan masalah dan pengambilan keputusan

dilakukan dengan menggunakan metode analisis SWOT. Analisis terhadap

alternatif yang dikemukakan sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut :

a. Biaya

b. Manfaat

c. Efektivitas

d. Efisiensi

e. Dukungan internal

f. Dukungan eksternal

g. Waktu

Tabel 4.1 Alternatif Pemecahan Masalah


No. Kriteria A B C D
1. Biaya 1 1 3 3
2. Manfaat 5 5 4 3
3. Efektivitas 4 4 3 3
4. Efisiensi 4 4 3 3
5. Dukungan Internal 3 2 2 2
6. Dukungan Eksternal 2 1 2 1
7. Waktu 3 3 2 3
Jumlah 22 20 19 18
Prioritas I II III IV

Dari beberapa alternatif pemecahan masalah yang telah diperoleh

didapatkan prioritas pemecahan masalah yaitu pemetaan data pasien ODGJ di

seluruh wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang, baik yang


37

mendapatkan perawatan di tingkat Puskesmas maupun yang sudah dirujuk ke

Rumah Sakit Jiwa.

4.3 Penetapan Strategi Pelaksanaan

Sebelum prioritas pemecahan masalah dilaksanakan, maka perlu dilakukan

analisis SWOT yang digunakan untuk menetapkan strategi sebelum kegiatan

dilaksanakan. Dalam analisis SWOT, ada empat unsur yang harus diperhatikan

yaitu :

1. Strength (Kekuatan)

a) Merupakan dasar pembuatan program kesehatan jiwa dan

memudahkan untuk pelaksanaan evaluasi serta monitoring pelayanan

kesehatan untuk pasien ODGJ

b) Tidak memerlukan biaya

c) UU Keswa No. 18 Tahun 2014

d) Permenkes No. 43 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Minimal

bidang Kesehatan

2. Weakness (Kelemahan)

a) Sistem pelaporan yang berjalan masih terbatas pada institusi

pemerintah

b) Format pelaporan belum seragam dan belum sesuai dengan kebutuhan

3. Opportunity (Kesempatan)

a) Kerjasama dan partisipasi pihak swasta maupun lintas sektor (obat dn

program)
38

b) Peningkatan partisipasi organisasi konsumen dan keluarga

c) Menjadi program kesehatan yang mulai diperhatikan Pemerintah

4. Threat (Hambatan)

Membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan laporan data dari tiap

Puskesmas

4.4 Intervensi Masalah

Berdasarkan hasil analisis alternatif pemecahan masalah, maka dilakukan

pemetaan data pasien ODGJ berdasarkan usia, jenis kelamin, jenis kasus lama

atau baru, dan tempat/wilayah Puskesmas yang dikunjungi pasien ODGJ di

wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang.

4.4.1 Langkah-langkah

a) Melakukan observasi dan pengamatan pada semua bidang di Dinas

Kesehatan Kabupaten Semarang

b) Melakukan wawancara dengan pihak terkait seperti pemegang

program ataupun kasie terkait permasalahan kesehatan yang ingin di

ambil

c) Mengidentifikasi permasalahan yang terdapat di Dinas Kesehatab

Kabupaten Semarang

d) Memprioritaskan masalah tersebut dengan berbagai pertimbangan

e) Menentukan prioritas intervensi masalah yaitu pemetaan data pasien

ODGJ

f) Menyebar format form pencatatan dan pelaporan pasien yang terbaru


39

g) Merekap data yang telah dilaporkan Puskesmas, berdasarkan

Puskesmas dan bulan pancatatan kasus sekaligus meminta data ke

Puskesmas yang terlambat mengumpulakan laporan ke Dinas

h) Melakukan intervensi pemecahan masalah berupa pengolahan data

yang outputnya berupa hasil pemetaan data

i) Melakukan evaluasi hasil intervensi

4.4.2 Perencanaan

Tabel 4.2 Perencanaan Program


Program Tujuan Sasaran Waktu Biaya Indikator
Keberhasilan
Pemetaan Didapatkannya Data Senin- - Pemetaan data
data pasien data dasar pasien Jumat , dapat sebagai
Orang pasien ODGJ ODGJ di 30 acuan
Dengan berdasarkan seluruh Oktober - penyusunan
Ganggguan variabel Puskesmas 03 upaya program
Jiwa karakteristik wilayah November kesehatan
(ODGJ) di yang kerja 2017 mengenai
wilayah dibutuhkan Dinas kesehatan jiwa,
kerja Dinas sebagai upaya Kesehatan baik upaya
Kesehatan pemenuhan Kabupaten promotif,
Kabupaten awal target Semarang preventif,
Semarang SPM terbaru kuratif, maupun
rehabilitatif

a) Ruang Lingkup

Sasaran pemberian intervensi ini adalah Dinas Kesehatan Kabupaten

Semarang, khususnya bidang program kesehatan jiwa yang sebenarnya

melibatkan seluruh Puskesmas di wilayah kerja Dinas.


40

b) Tujuan

Adapun tujuan dari pelaksanaan intervensi ini yaitu :

1) Adanya data dasar pasien ODGJ yang sudah terpetakan berdasarkan

karakteristik yang berbeda

2) Upaya pemenuhan awal target SPM sesuai Permenkes No. 43 tahun 2016

Langkah-langkah dalm pelaksanaan intervensi pemetaan data pasien

ODGJ berdasarkan berbagai karakteristik adalah sebagai berikut:

1) Menyebar format form pencatatan dan pelaporan pasien yang terbaru

2) Merekap data yang telah dilaporkan Puskesmas, berdasarkan Puskesmas

dan bulan pancatatan kasus sekaligus meminta data ke Puskesmas yang

terlambat mengumpulakan laporan ke Dinas

3) Melakukan intervensi pemecahan masalah berupa pengolahan data yang

outputnya berupa hasil pemetaan data pasien ODGJ berdasarkan usia, jenis

kelamin, jenis kasus lama atau baru, dan tempat/wilayah Puskesmas yang

dikunjungi pasien ODG

4.4.3 Pelaksanaan Intervensi

Pelaksanaan inervensi yang penulis lakukan dimulai dengan koordinasi

dengan pemegang program Kesehatan Jiwa (Keswa) Dinas Kesehatan Kabupaten

Semarang yaitu Ibu Yuwita, S.Kep. selama kurang lebih satu minggu dari tanggal

31 Oktober sampai 03 November 2017. Selanjutnya, langkah-langkah yang

dilakukan untuk pemetaan data yaitu :


41

1. Meminta serta mengarsipkan form laporan data Keswa dari 26 Puskesmas,

yang mana format laporannya sudah di sebar oleh pihak Dinkes ke tiap

Puskesmas satu bulan sebelumnya. Berikut contoh form laporan data dari

salah satu Puskesmas

Gambar 4.1 Form laporan data Puskesmas by name

Gambar 4.2 Laporan Data Bulanan Data Kesakitan Puskesmas


42

2. Mengentry data di Ms. Excel yang dikelompokkan berdasarkan Puskesmas,

dan bulan yaitu bulan Januari sampai September 2017.

Gambar 4.3Rekap data pasien ODGJ

3. Memetakan data pasien ODGJ berdasarkan usia, jenis kelamin, jenis kasus,

dan kunjungan tiap Puskesmas (26 Puskesmas) pada bulan Januari-September

2017

4.4.4 Hasil Intervensi

Dari pelaksanaan intervensi yang telah dijabarkan diatas, maka dapat

diperoleh pemetan data pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sebagai

berikut:
43

4.4.4.1 Gambaran Pasien ODGJ berdasarkan Usia

Jumlah Pasien ODGJ berdasarkan Usia Wilayah Dinas


Kesehatan Kab. Semarang bulan Januari-September 2017

400
350
300
250
200
Jumlah Pasien
150
100
50
0
0 - 14 15 - 29 30 - 44 45 - 59 60 - 74 75 - 89 90

Berdasarkan pemetaan data yang dilakukan dari total 799 pasien yang

terlaporkan, pasien ODGJ terbanyak berumur antara 30 44 tahun yaitu sebanyak

369 pasien. Pasien paling muda berumur 7 tahun, dan paling tua berumur 85

tahun.

4.4.4.2 Gambaran Pasien ODGJ berdasarkan Jenis Kelamin

Presentase Jumlah Pasien ODGJ berdasarkan Jenis Kelamin


Dinas Kesehatan Kab. Semarang bulan Januari-September
2017

Perempuan
41%
Laki-laki
59%
44

Berdasarkan data laporan bulanan dari setiap Puskesmas, diperoleh jumlah

pasien ODGJ sebanyak 799 pasien. Dari jumlah tersebut dapat dibedakan

pengunjung laki-laki sebanyak 475 orang dan pasien perempuan sebanyak 324

orang.

4.4.4.3 Gambaran Pasien ODGJ berdasarkan Jenis Kasus

(Lama/Baru)

Presentase Jumlah Pasien ODGJ berdasarkan Jenis Kasus


Dinas Kesehatan Kab. Semarang bulan Januari-September
2017

Baru
13%

Lama
87%

Dari data pengunjung pasien ODGJ ke Puskesmas wilayah Dinas

Kesehatan Kabupaten Semarang, didapatkan hasil bahwa pengunjung didominasi

oleh pasien lama yaitu sebanyak 692 pasien dengan jumlah total pasien sebanyak

799 orang.
45

4.4.4.4 Gambaran Pasien ODGJ berdasarkan Kunjungan Tiap

Puskesmas

100
90
80
70
60
50
40 Perempuan
30 Laki-laki
20
10
0
Duren

Bringin
Jetak
Tengaran

Banyubiru

Pringapus
Kaliwungu
Suruh

Lerep
Semowo
Tuntang
Gedangan

Jambu

Bergas
Ambarawa
Susukan

Sumowono

Bancak
Jimbaran
Bawen

Ungaran

Leyangan
Getasan

Pabelan

Kalongan
Dadapayam

Puskesmas dengan kunjungan pasien ODGJ terbanyak adalah Puskesmas

Ambarawa yaitu berjumlah 90 pasien, pasien laki-laki sebanyak 58 orang, dan

pasien perempuan 32 orang terhitung dari bulan Januari sampai September 2017.

Sedangkan Puskesmas dengan jumlah paling sedikit adalah Puskesmas Pringapus

yaitu 2 orang pasien.

4.5 Evaluasi

Dari intervensi yang dilakukan, yaitu berupa pemetaan data pasien ODGJ

masih terdapat banyak kekurangan. Kekurangan tersebut antara lain :


46

1. Data yang dikirim oleh Puskesmas tidak lengkap, sehingga yang

seharusnya pemetaan data dapat dilakukan berdasarkan diagnosa penyakit

karena pelaporan data tidak lengkap maka tidak dapat dilakukan

2. Format pelaporan Puskesmas ada yang belum sesuai dengan format yang

di kirim oleh Dinas Kesehatan

3. Beberapa Puskesmas hanya mengirim data via pesan


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Sebagai program yang baru diperhatikan akhir-akhir ini, pemegang

program khusus Kesehatan Jiwa di Dinas Kesehatan Kabupaten Semarang juga

baru terbentuk di tahun 2017 ini. Sehingga, program ini masih banyak

kekurangannya, salah satunya adalah belum adanya data dasar. Untuk itu, penulis

bertujuan untuk melakukan pemetaan data pasien ODGJ dengan hasil sebagai

berikut:

1. Pasien ODGJ terbanyak berkisar antara umur 30-44 tahun

2. Pasien ODGJ yang berkunjung ke Puskesmas terbanyak adalah laki-laki

3. Pasien ODGJ yang terlaporkan didominasi oleh kasus lama

4. Puskesmas Ambarawa merupakan Puskesmas dengan jumlah pengunjung

ODGJ terbanyak dalam kurun waktu Januari-September 2017.

5.2 Saran

1. Sebaiknya dilakukan koordinasi dan sosialisasi awal antara pemegang

program Keswa Dinas Kesehatan dengan pemegang program di semua

Puskesmas, misalnya dilakukan di awal tahun. Sehingga dapat

dikoordinasikan mengenai pelaporan data, program-program tentang

kesehatan jiwa yang dapat dilakukan di masyarakat, dan lain-lain.

47
48

2. Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten segera meminta buku KIE Keswa, buku

pedoman, dan buku kerja kesehatan jiwa kepada Dinas Kesehatan Provinsi

agar segera bisa di sosialisasikan ke semua Puskesmas

3. Diadakannya evaluasi dan monitoring mengenai pelayanan kesehatan

Keswa di setiap Puskesmas


DAFTAR PUSTAKA

Kesehatan, D. J. B. U. (2015). Rencana Aksi Kegiatan Tahun 2015-2019

Direktorat Bina Kesehatan Jiwa.

49
LAMPIRAN

Lampiran 1. Hasil Rekap Data Pasien ODGJ Berdasarkan Jenis Kelamin

dan Kunjungan tiap Puskesmas

Jenis kelamin
NO PUSKESMAS Total
Laki-Laki Perempuan
1 Getasan 5 5 10
2 Jetak 3 0 3
3 Tengaran 33 6 39
4 Susukan 48 39 87
5 Kaliwungu 28 11 39
6 Suruh 11 6 17
7 Dadapayam 17 17 34
8 Pabelan 33 43 76
9 Semowo 26 10 36
10 Tuntang 8 9 17
11 Gedangan 18 11 29
12 Banyubiru 18 13 31
13 Jambu 48 21 69
14 Sumowono 12 11 23
15 Ambarawa 58 32 90
16 Duren 11 10 21
17 Jimbaran 0 0 0
18 Bawen 13 11 24
19 Bringin 9 5 14
20 Bancak 9 14 23
21 Bergas 30 20 50
22 Pringapus 1 1 2
23 Ungaran 4 6 10
24 Lerep 17 9 26
25 Leyangan 7 13 20
26 Kalongan 8 1 9
Total 475 324 799

50
51

Lampiran 2. Hasil Rekap Data Pasien ODGJ Berdasaran Jenis Kasus dan

Kunjungan tiap Puskesmas

Jenis Kasus
NO PUSKESMAS Total
Lama Baru
1 Getasan 9 1 10
2 Jetak 3 0 3
3 Tengaran 34 5 39
4 Susukan 87 0 87
5 Kaliwungu 31 8 39
6 Suruh 16 1 17
7 Dadapayam 31 3 34
8 Pabelan 71 5 76
9 Semowo 35 1 36
10 Tuntang 17 0 17
11 Gedangan 29 0 29
12 Banyubiru 5 26 31
13 Jambu 55 14 69
14 Sumowono 20 3 23
15 Ambarawa 89 1 90
16 Duren 11 10 21
17 Jimbaran 0 0 0
18 Bawen 24 0 24
19 Bringin 14 0 14
20 Bancak 22 1 23
21 Bergas 50 0 50
22 Pringapus 1 1 2
23 Ungaran 10 0 10
24 Lerep 6 20 26
25 Leyangan 13 7 20
26 Kalongan 9 0 9
Total 692 107 799
52

Lampiran 3. Hasil Rekap Data Pasien ODGJ Berdasarkan Usia

NO Usia Jml Pasien

1 0 - 14 7
2 15 - 29 172
3 30 - 44 369
4 45 - 59 175
5 60 - 74 65
6 75 - 89 11
7 90 0
Total 799
53

Lampiran 4. Dokumentasi

Gambar 1. Koordinasi
pelaksanaan Intervensi
dengan pemegang program
Keswa (I)

Gambar 2. Koordinasi
pelaksanaan Intervensi
dengan pemegang program
Keswa (I)
54

Gambar 3. Packing vaksin di


ruang penyimpanan vaksin
Dinas Kesehatan Kab.
Semarang

Gambar 4. Pelaksanaan
Posbindu SKPD di Dinas
Kesehatan Kab. Semarang