Anda di halaman 1dari 11

SAMPLING AUDIT UNTUK PENGUJIAN PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN

SUBSTANTIF TRANSAKSI

(PENGAUDITAN 2)

OLEH KELOMPOK 4:

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS UDAYANA
2017

RINGKASAN MATA KULIAH

3.1 MENJELASKAN TENTANG SAMPEL REPRESENTATIF


Sampel representatif adalah sampel yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan
karakteristik populasi. Hal ini berarti bahwa unsur sampel serupa dengan unsur yang tidak
diikutsertakan dalam sampel.
1
Risiko non-sampling adalah risiko bahwa suatu pengujian audit tidak dapat mengungkapkan
adanya penyimpangan dalam sampel. Dua penyebab risiko non- sampling adalah : auditor
gagal mengetahui adanya penyimpangan dan tidak tepat atau tidak efektifnya prosedur audit.

Risiko sampling adalah risiko auditor mencapai suatu kesimpulan yang keliru karena sampel
tidak mencerminkan populasi. Risiko sampling adalah bagian inheren dari sampling yang
disebabkan karena pengujian tidak dilakukan terhadap keseluruhan populasi.

Auditor mempunyai dua cara untuk mengontrol risiko sampling, yaitu :


1. Mengubah ukuran sampel

2. Menggunakan metode yang tepat untuk memilih unsur sampel dari populasi

3.2 MENJELASKAN SAMPLING STATISTIK, NON STATISTIK, PROBABILISTIK, NON


PROBABILISTIK

3.2.1 SAMPLING STATISTIK DAN SAMPLING NON-STATISTIK


Metode sampling audit dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yakni sampling statistik dan
sampling non-statistik. Kedua kategori ini serupa karena keduanya terdiri dari tiga tahapan, yaitu :

1. Merencanakan sampel

2. Memilih sampel dan melakukan pengujian

3. Mengevaluasi hasil

Tindakan tindakan tindakan tahap demi tahap sebagai berikut:

Tindakan Langkah

Menentukan bahwa ukuran sampel adalah 100 1. Merencanakan sampel


Memutuskan 100 unsur mana yang akan 2. Memilih sampel
dipilih dari populasi
Melaksanakan prosedur audit pada 100 Melakukan pengujian
unsur yang dipilih dan menentukan bahwa
terdapat tiga penyimpangan
Menarik kesimpulan tentang kemungkinan 3. Mengevaluasi hasil
tingkat penyimpangan dalam populasi ketika

2
diketahui bahwa tingkat penyimpangan
dalam sampel adalah 3 persen.

Sampling statistik berbeda dari sampling non-statistik. Dalam metode sampling statistik,
dengan menerapkan aturan matematika, auditor dapat mengkuantifikas (mengukur) risiko
sampling dalam perencanaan sampel (tahap 1), dan dalam mengevaluasi hasil (tahap 3).

Dalam sampling non-statistik, auditor tidak mengkuantifikasi risiko sampling. Auditor memilih
unsur-unsur sampel yang diyakininya akan memberi informasi yang paling bermanfaat, dalam
situasi yang dihadapi, dan mencapai kesimpulan tentang populasi berdasarkan hasil
pertimbangannya.

3.2.2 PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK DAN NON-PROBABILISTIK

Pemilihan sampel probabilistik, auditor memilih unsur-unsur sampel secara acak (random)
yang setiap unsur populasinya memiliki probabilitas yang diketahui untuk dimasukkan dalam
sampel.
Dalam pemilihan sampel non-probabilistik, auditor memilih unsur sampel dengan menggunakan
pertimbangan profesionalnya, tidak menggunakan metoda probabilistik.

3.2.3 PENERAPAN SAMPLING STATISTIK DAN NON STATISTIK DALAM PRAKTIK


SERTA METODA PEMILIHAN SAMPEL

Ada tiga tipe metoda pemilihan sampel yang lazim yang berhubungan dengan sampling audit
non-statistik. Ketiganya adalah non-probabilistik. Ada empat tipe metoda pemilihan sampel
yang berhubungan dengan sampling audit statistik. Keempat metoda tersebut adalah
probabilistik.

Metoda pemilihan sampel non-probabilistik (judgemental) terdiri dari :

1. Pemilihan sampel langsung (Directed sample selection)

2. Pemilihan sampel blok (Block sample selection)

3. Pemilihan sampel sembarang (Haphazard sample selection)

Metoda pemilihan sampel probabilistik terdiri dari

1. Pemilihan sampel acak sederhana (simple random sample


3
selection)

2. Pemilihan sampel sistematik (systematic sample selection)

3. Pemilihan sampel probabilitas proportional dengan ukuran (probability


Proportional to size sample selection)

4. Pemilihan sampel berjenjang (Stratified sample selection)

3.3 MENJELASKAN METODE PEMILIHAN SAMPEL


3.3.1 METODA PEMILIHAN SAMPEL NONPROBABILISTIK
Metoda pemilihan sampel non-probabilistik adalah metoda-metoda yang tidak memenuhi
persyaratan teknis untuk pemilihan sampel probabilistik.

3.3.1.1 PEMILIHAN SAMPEL LANGSUNG


Auditor sengaja memilih setiap unsur di dalam sampel berdasarkan kriteria menurut
pertimbangannya sendiri dan tidak memilihnya secara acak. Dewasa ini pendekatan yang
digunakan terdiri dari :

Unsur yang Paling Mungkin Berisi Kesalahan Penyajian


Auditor sering kali bisa mengidentifikasi unsur populasi mana yang paling mungkin berisi
kesalahan penyajian. Dalam mengevaluasi sampel semacam itu, auditor biasanya beranggapan
bahwa apabila dari unsur yang dipilih tidak ada yang kesalahan penyajian, maka populasi
diperkirakan tidak mengandung kesalahan penyajian secara material.

Unsur yang Berisi Karakteristik Populasi Tertentu


Dengan memilih satu atau lebih unsur yang memiliki karakteristik populasi yang berbeda,
auditor mungkin bisa merancang sampel yang representatif

Unsur Bernilai Rupiah Besar


Auditor kadang kadang dapat memilih sampel yang mencakup sebagian besar dari total rupiah
populasi dan dengan cara itu dapat mengurangi risiko menarik kesimpulan yang tidak tepat
karena tidak memeriksa unsur-unsur yang kecil.

3.3.1.2 PEMILIHAN SAMPEL BLOK


Auditor memilih unsur pertama dalam suatu blok, dan selanjutnya dipilih secara berurutan.
Penggunaan sampel blok biasanya dapat diterima hanya apabila jumlah blok yang digunakan
4
cukup banyak. Apabila hanya sedikit blok yang digunakan, probabilitas untuk mendapatkan
satu sampel yang tidak representatif akan terlalu besar, terutama bila terjadi pergantian
pegawai, terjadi perubahan sistem akuntansi dan adanya sifat musiman seperti yang sering
dijumpai dalam banyak bisnis.

Pemilihan Sampel Sembarangan (haphazard)

Adalah pemilihan unsur-unsur tanpa suatu bias yang disadari oleh auditor. Dalam hal seperti ini,
auditor memilih unsur populasi tanpa mempertimbangkan ukuran, sumber, ataupun karakteristik
pembeda lainnya.
Kelemahan paling serius pemilihan sampel sembarangan adalah sulitnya memegang teguh untuk
sepenuhnya tidak bias dalam pemilihan. Karena pelatihan auditor dan bias yang tidak disengaja,
unsur populasi tertentu akan lebih besar kemungkinannya untuk dimasukkan dalam sempel
ketimbang yang lainnya

3.3.2 METODA PEMILIHAN SAMPEL PROBABILISTIK


Sampling statistik mengharuskan digunakannya sampel probabilistik untuk menghitung risiko
sampling. Untuk sampel probabilistik, auditor tidak menggunakan pertimbangan (judgement)
tentang unsur sampel mana yang akan dipilih, kecuali dalam memilih metoda seleksinya.

3.3.2.1 PEMILIHAN SAMPEL ACAK SEDERHANA


Dalam suatu sampel acak sederhana, setiap kombinasi unsur populasi mempunyai kesempatan
yang sama untuk dimasukkan dalam sampel. Auditor menggunakan acak sederhana untuk populasi
sampel apabila tidak ada kebutuhan untuk menekankan satu atau lebih tipe unsur populasi.

Nomor-nomor acak adalah serangkaian angka (digits) yang memiliki probabilitas yang sama
untuk terjadi dalam jangka panjang dan tidak memiliki pola tertentu. Para auditor sering
menghasilkan nomor-nomor acak dengan menggunakan salah satu dari tiga teknik pemilihan
sampel berbantuan computer yaitu : electronic spreadsheets, random number generators, dan
generalized audit software.

Program komputer memberi sejumlah keuntungan yaitu : menghemat waktu, mengurangi


kemungkinan auditor salah dalam memilih nomor, dan mendokumentasikan secara otomatis.
Karena kebanyakan auditor memiliki akses ke komputer dan ke electronic spreadsheet atau
random number generator programs, mereka biasanya lebih senang menggunakan komputer
yang menghasilkan nomor- nomor acak dibandingkan metoda pemilihan probabilistik lainnya.

5
3.3.2.2 PEMILIHAN SAMPEL SISTEMATIK
Dalam pemilihan sampel sistematik, auditor menghitung suatu interval dan kemudian memilih
unsur-unsur untuk sampel berdasarkan ukuran interval. Interval ditentukan dengan membagi
ukuran populasi dengan ukuran sampel yang dikehendaki.

Keuntungan pemilihan sistematik adalah mudah penggunaannya. Dalam kebanyakan populasi,


sampel sistematik dapat dengan cepat ditarik dan secara otomatis meletakkan nomor-nomor
secara berurutan sehingga memudahkan untuk membuat dokumentasi.

Kelemahan pemilihan sampel sistematik ialah adanya kemungkinan terjadi bias. Dengan cara
pemilihan sampel seperti telah dilukiskan di atas, sekali unsur pertama dalam sampel dipilih,
maka unsur lainnya dalam sampel akan terpilih secara otomatis. Apabila auditor menggunakan
pemilihan sistematik, auditor harus mempertimbangkan kemungkinan pola dalam data populasi
yang bisa membuat sampel menjadi bias.

3.3.2.3 PEMILIHAN SAMPEL PROBABILITAS PROPORSIONAL TERHADAP UKURAN


DAN SAMPEL BERJENJANG

Dalam banyak situasi pengauditan, biasanya akan menguntungkan untuk memilih sampel yang
menekankan pada unsur-unsur populasi yang berjumlah besar. Ada dua cara untuk memperoleh
sampel seperti ini :
1. Mengambil sampel yang kemungkinan terpilih setiap unsur individualnya
proporsional dengan jumlah rupiah di pembukuan. Metode ini disebut pemilihan
sampel probabilitas proporsional dengan ukuran (PPU), dan kemudian dievaluasi
dengan menggunakan sampling non-statistik atau sampling statistik unit moneter.
2. Membagi populasi menjadi subpopulasi, biasanya dengan ukuran rupiah, dan
mengambil sampel yang lebih besar dari subpopulasi dengan ukuran yang lebih
besar. Hal seperti ini disebut pemilihan sampel berjenjang, dan dievaluasi dengan
menggunakan sampling non-statistik atau sampling statistik variabel.

3.3.3 PEMILIHAN SAMPEL UNTUK TINGKAT PENYIMPANGAN


Auditor menggunakan sampel dalam pengujian pengendalian dan pengendalian substantif transaksi
untuk menaksir persentase unsur unsur dalam suatu populasi yang berisi suatu karakteristik atau
atribut. Presentase ini disebut tingkat kejadian atau tingkat penyimpangan.
Auditor menaruh perhatian pada jenis jenis penyimpangan dalam populasi data akuntansi berikut :
1. Penyimpangan dari pengendalian yang ditetapkan klien.

6
2. Kesalahan penyajian rupiah dalam populasi data transaksi.
3. Kesalahan penyajian rupiah dalam populasi detil saldo akun.

Mengetahui tingkat penyimpangan sangat bermanfaat bagi dua jenis penyimpangan yang pertama,
yang melibatkan transaksi. Karena itu, auditor menggunakan secara ekstensif sampling audit yang
mengukur tingkat penyimpangan ketika melakukan pengujian pengendalian dan pengujian
substantif atas transaksi. Adapun jenis penyimpangan ketiga, biasanya auditor harus mengestimasi
jumlah total dolar dari penyimpangan itu karena mereka harus memutuskan apakah salah saji yang
ada bersifat material.

Tingkat penyimpangan dalam suatu sampel akan digunakan untuk mengestimasi tingka
penyimpangan dalam populasi, yang merupakan estimasi terbaik auditor atas tingkat
penyimpangan populasi.

Karena tingkat penyimpangan didasarkan pada sampel, kemungkinan besar tingkat penyimpangan
sampel akan berbeda dari tingkat penyimpangan populasi aktual. Perbedaan ini disebut sebagai
kesalahan sampling (sampling error).Auditor memperhatikan baik estimasi kesalahan sampling
maupun reliabilitas estimasi tersebut, yang disebut risiko sampling (sampling risk).

Dalam menggunakan sampling audit untuk menentukan tingkat penyimpangan, auditor ingin
mengetahui seberapa besar tingkat penyimpangan itu, dan bukan lebar interval keyakinannya.
Karena itu, auditor berfokus pada batas atas estimasi interval, yang disebut tingkat penyimpangan
atas yang dihitung (computed upper exception rate=CUER) atau yang diestimasi dalam
melakukan pengujian pengendalian dan pengujian substantif atas transaksi.

3.3.4 PENERAPAN PEMILIHAN SAMPEL AUDIT NON-STATISTIK


Terminologi Kunci
TERMINOLOGI DEFINISI
Terminologi Berkaitan dengan Perenanaan :
Characteristic or attribute - Karakteristik atau atribut yang diuji dalam aplikasi
ARACR (Acceptable risk of assessing - Risiko yang akan diambil auditor akibat dari penerimaan
control risk too low) penyajian rupiah yang dapat ditoleransi, apabila tingkat
penyimpangan populasi yang sesungguhnya lebih besar

7
daripada tingkat penyimpangan bisa ditoleransi
TER (Tolerable exception Rate) - Tingkat penyimpangan yang diijinkan auditor dalam populasi
dan masih akan disimpulkan
Estimated population exception rate (EPER) -Tingkat penyimpangan yang diharapkan auditor
Initial sample size -Ukuran sampel yang diputuskan setelah mempertimbangkan
faktor-faktor di atas dalam perenanaan
Terminologi Berkaitan dg Evaluasi Hasil :
Exception -Penyimpangan dari atribut dalam suatu unsur sampel
Sample Exception rate (SER) -Jumlah penyimpangan dalam sampel dibagi dengan ukuran
sampel
-Taksiran tingkat penyimpangan tertinggi dalam populasi pada
Computed upper exception rate (CUER) suatu ARACR tertentu

Auditor menggunakan 14 langkah berikut dalam menerapkan pengambilan sampel audit untuk
pengujian pengendalian dan pengujuan substansif transaksi.langkah-langkah di bagi dalam tiga fase
sebagaimana telah disajika sebelumnya.auditor harus mengikuti langka-langkah ini dengan seksama
untuk meyakinkan agar dilakukan penerapan pengauditan maupun ketentuan pengambilan sampel
yang tepat. Langkah-langkah pemilihan sampel audit yaitu:

Merencanakan Sampel
1. Menerapkan tujuan dari pengujian audit..
Biasanya auditor merumuskan tujuan pengujian pengendalian dan pengujian substantive
transaksi sebagai berikut:
a. Menguji efektivitas operasi pengendalian
b. Menentukan apakah transaksi berisi kesalahan penyajian rupiah.
2. Menentukan apakah pengambilan sampel audit akan ditetapkan.
Audit sampling bias diterapkan apabila auditor merencanakan untuk memperoleh kesimpulan
tentang populasi berdasarkan suatu sampel. Auditor harus melihat ke program audit dan memilih
prosedur mana yang bias diterapkan dengan mengunakan sampling audit.
3. Merumuskan atribut dan kondisi-kondisi penyimpangan
Apabila atribut tidak dirumuskan dimuka dengan cermat, para staff audit yang melaksanakan
prosedur audit tidak memiliki pegangan untuk mengidentifikasi penyimpangan.
4. Perumusan populasi.
Auditor harus menguji kelengkapan populasi dan detil keterkaitan sebelum suatu sampel ditarik
untuk memastikan bahwa semua unsur populasi memiliki kesempatan untuk memilih.

8
5. Perumusan unit sampling
Dirumuskan berdasarkan definisi tentang populasi dan tujuan pengauditan. Unit sampling adalah
unit fisik yang berkaitan dengan nomor-nomor acak yang akan digeneralisasikan oleh auditor.
6. Menetapkan tingkat penyimpangan bisa ditoleransi.
Tolerate Exceotion Rate (TER) mencerminkan tingkat penyimpangan tertinggi yang bias
diterima auditor dalam suatu pengendalian yang sedang diuji dan masih dapat disimpulkan
bahwa pengandalian berjalan efektif.
7. Menentukan resiko yang bisa diterima untuk penetapan risiko pengendalian terlalu rendah.
8. Mengestimasikan tingkat pengecualian populasi.
9. Menentukan ukuran sampel awal.

Memilih Sampel dan Menjalankan prosedur audit


10. Memilih sampel.
11. Menjalankan prosedur audit.

Evaluasi Hasil
12.Menggenerelisasikan sampel ke populasi.
13.Menganalisis pengeculian-pengeculalian.
14.Menentukan askpeptabulitas populasi

3.4 MENJELASKAN SAMPLING AUDIT STATISTIK


Metode sampling statistik yang paling sering digunakan untuk pengujian pengendalian dan engujian
substantif atas transaksi adalah sampling atribut (atribute sampling). Sampling nonstatistik juga
memiliki atribut, yang merupakan karakteristik yang sedang diuji dalam populasi, tetapi sampling
atribut merupakan metode statistik.

3.5 MENJELASKAN DISTRIBUSI SAMPLING


Auditor mendasarkan pengujian statistiknya pada distribusi sampling. Distribusi sampling adalah
distribusi frekuensi hasil semua sampel berukuran khusus yang dapat diperoleh dari populasi yang
memiliki beberapa karakteristik tertentu. Distribusi sampling memungkinkan auditor untuk
membuat laporan probabilitas mengenai kemungkinan terwakilnya setiap sampel dalam distribusi.
Sampling atribut didasarkan pada distribusi binominal, dimana setiap sampel dalam populasi
memiliki satu dari dua nilai yang mungkin atau deviasi pengendalian.

3.6 MENJELASKAN PENERAPAN SAMPLING ATRIBUT

9
3.6.1 MERENCANAKAN SAMPEL

1. Menetapkan tujuan pengujian audit

2. Memastikan apakah sampling audit dapat diterapkan

3. Merumuskan atribut dan kondisi pengendalian

4. Merumuskan populasi

5. Merumuskan unit sampling

6. Merumuskan tingkat penyimpangan yang dapat ditoleransi

7. Menetapkan risiko yang bisa diterima untuk penetapan risiko pengendalian terlalu rendah

8. Menaksir tingkat penyimpangan populasi

9. Menentukan ukuran sampel awal

3.6.2 PENGGUNAAN TABEL


Apabila auditor akan menggunakan tabel untuk menentukan ukuran sampel awal, harus
diikuti empat tahap berikut ini :
i. Pilih tabel yang cocok dengan ARACR

ii. Tentukan lokasi TER pada bagian atas tabel

iii. Tentukan lokasi EPER pada kolom paling kiri

iv. Baca kolom TER yang sesuai ke bawah hingga memotong baris EPER yang
sesuai. Angka yang tertulis dalam titik perpotongan itu menunjukkan ukuran
sampel awal.

3.6.3 PENGARUH DARI UKURAN POPULASI


Memilih sampel dan melaksanakan prosedur audit

10. Memilih sampel. Satu satunya perbedaan dalam pemilihan sampel bagi sampling statistic
dan non-statistik adalah terletak pada persyaratan bahwa metode probabilistik harus
digunakan untuk sampling statistik. Baik sampling acak sederhana maupun sampling
sistematis akan digunakan pada sampling atribut.
11. Melaksanakan prosedur audit, sama untuk sampling atribut maupun sampling non-statistik

10
Menilai hasil
12. Generalisasi dari sampel ke populasi. Untuk sampling atribut, auditor menghitung batas
kemampuan atas CUER dengan ARACR tertentu, yang sekali lagi menggunakan program
komputer khusus atau tabel yang dikembangkan dari rumus statistik.

Menggunakan Tabel.

Penggunaan tabel untuk menghitung CUER terdiri dari empat tahap, yaitu:

a. Memilih tabel yang sesuai dengan ARACR yang ditetapkan auditor. ARACR ini harus
sama dengan ARACR yang digunakan untuk menetapkan ukuran sampel awal.
b. Menentukan lokasi jumlah penyimpanan sesungguhnya yang ditemukan dalam
pengujian audit pada bagian atas tabel
c. Menentukan lokasi ukuran sampel sesungguhnya pada kolom paling kiri

d. Baca kolom jumlah penyimpangan sesungguhnya yang sesuai ke bawah sampai


memotong baris ukuran sampel yang sesuai angka yang tercantum pada titik
perpotongan adalah CUER.

3.7 KEBUTUHAN AKAN PERTIMBANGAN PROFESIONAL


Salah satu kritik terhadap pemakaian sampling statistik adalah bahwa metoda statistik telah
mengurangi penggunaan pertimbangan profesional auditor. Sampling atribut menuntut auditor
untuk menggunakan pertimbangan profesional pada berbagai tahapan. Untuk memilih ukuran
sampel awal, auditor menggantungkan pada TER dan ARACR yang membutuhkan pertimbangan
profesional tingkat tinggi, demikian pula untuk EPER diperlukan penaksiran yang cermat. Hal
yang sama juga terjadi dalam penilaian akhir tentang kecukupan penerapan sampling atribut
keseluruhan, termasuk kecukupan ukuran sampel, juga harus didasarkan pada pertimbangan
profesional tingkat tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

Jusup, Haryono Al. 2011. Auditing (Pengauditan Berbasis ISA). Edisi II. Yogyakarta: Unit
Penerbitan dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN

11