Anda di halaman 1dari 50

RESUME KOMPILASI SKEN 5

BLOK 4

OLEH:

SEKRETARIS CARDIO
MAPPING

SISTEM ENDOKRIN DAN METABOLISME

1. Kelenjar
a) Hipothalamus
b) Hipofisis
c) Tiroid
d) Paratiroid letak,mekanisme,hormon yang dihasilkan,fungsi,
e) Adrenal reseptor,faktor
f) Pankreas
g) Pineal
h) Gonad (Ovum,Testis)

2. Hormon
Fungsi
Klasifikasi
Steroid
Non steroid (peptida)
Mekanisme kerja
Inhibisi
Sekresi
Jenis-jenis reseptor
Lokasi dan Aksi
Pembentukan

3. Mekanisme
a) Karbohidrat
Glukosa
o Glikolisis
o Oksidasi piruvat
o Siklus Krebs
Glikogen
o Glikogenesis
o Glikogenolisis
o Glukoneogenesis
Hormon-hormon yang berpengaruh
o Insulin
o Glukagon
o Epinefrin
o Glukokortikoid
o Tiroid
o GH
o ACTH
b) Lemak
c) Protein

4. Patologi
Sistem Endokrin
Metabolisme
SISTEM ENDOKRIN DAN METABOLISME

A. KONTROL ENDOKRIN

Kontrol Sistem umpan balik ada dua macam, yaitu sistem umpan balik positif dan sistem
umpan balik negatif. Tetapi sistem umpan balik yang berfungsi dalam pengendalian kondisi
homeostasis pada tubuh hewan adalah adalah sistem balik negatif. Mengapa yang digunakan
dalam proses pengendalian kondisi homeostasis, hanya menggunakan umpan balik negatif,
karena sistem umpan balik negatif didefinisikan sebagai perubahan suatu variabel yang
dilawan oleh tanggapan yang cenderung mengembalikan perubahan tersebut ke keadaan
semula. Juga perlu diketahui umpan balik negatif dalam pengendalian homeostasis
sesungguhnya merupakan keseimbangan antara input dan output. Mekanisme umpan balik
negatif sebagai berikut,

Negatif Fedback Mekanisme

Jika produksi hormon meningkat rangsangan ke hipotalamus menurun


Hormon/faktor releasing menurun hormon hipofise menurun produksi hormon
menurun
Negatif Feedback Mekanisme

Produksi ASI
KB Hormon

Positive Fedback Mekanisme

Berbeda dengan sistem umpan balik negatif, Peristiwa yang terjadi pada sistem
umpan balik positif berlawanan dengan sistem umpan balik negatif. Mekanisme umpan
balik positif tidak terlibat dalam proses menjaga homeostasis, tetapi terlibat dalam
penyelenggaraan fungsi fisiologis tertentu antara lain proses pembekuan darah dan sel
saraf. Pada sistem umpan balik positif perubahan awal suatu variabel akan menghasilkan
perubahan yang semakin besar. Contoh dari umpan balik positif adalah saat terkena
penyakit demam berdarah, badan akan bertambah panas untuk membunuh bakteri dan
virus, atau pada proses pembekuan darah, yang bertujuan untuk menghentikan
perdarahan. Andaikan saja prose termoregulasi menggunakan sistem umpan balik positif,
tentu saja tubuh akan menjadi kacau, rangsang awal berupa peningkatan suhu tubuh atau
lingkungan akan menimbulkan tanggapan yang meningkatkan suhu tubuh menjadi lebih
tinggi.
B. FUNGSI KELENJAR ENDOKRIN

Kelenjar dan struktur lain yang mengeluarkan sekret internal menuju sistem sirkulasi dan
mempengaruhi metabolisme tubuh. Fungsi kelenjar endokrin antara lain :

Menghasilkan hormon
Mengontrol aktifitas kelenjar tubuh.
Merangsang aktifitas kelenjar tubuh.
Merangsang pertumbuhan jaringan.
Mengatur metabolisme, oksidasi, meningkatkan absorpsi.
Mempengaruhi metabolisme lemak, protein, karbohidrat, vitamin, mineral dan air.

C. KARAKTERISTIK KELENJAR ENDOKRIN


Kelenjar Endokrin tidak memiliki duktus. Kelenjar ini mensekresi hormon langsung
ke dalam cairan jaringan di sekitar sel-selnya.
Kelenjar endokrin pada umumnya mensekresi lebih dari satu jenis hormon ( kelenjar
paratiroid yang hanya mensekresi hormon paratiroid merupakan suatu pengecualian)
Hormon yang bersirkulasi dalam darah hanya sedikit dibandingkan zat aktif biologis
lainnya, seperti glukosa dan kolesterol dan hanya sel target tertentu yang memiliki
reseptor spesifik yang dapat dipengaruhi.
Kelenjar endokrin memiliki persediaan pembuluh darah yang baik. Secara
mikroskopis, kelenjar tersebut terdiri dari korda atau sejumlah sel sekretori yang
dikelilingi banyak kapiler dan ditopang jaringan ikat
1. KELENJAR ENDOKRIN
1.1. Hipotalamus
1. Hipotalamus mempunyai hubungan dengan kelenjar hipofisis karena hampir semua
sekresi kelenjar hipofisis diatur baik oleh hormon atau sinyal saraf yang berasal dari
hipotalamus
2. Sekresi kelenjar hipofisis anterior diatur oleh hormon pelepas hipotalamus (releasing)
dan hormon penghambat hipotalamus (inhibiting). Hormon ini dialirkan menuju
kelenjar hipofisis melalui pembuluh darah porta hipotalamus-hipofisis
o Thyrotropin-releasing hormone (TRH) menstimulasi sekresi TSH dan
prolaktin
o Corticotropin-releasing hormone (CRH) menstimulasi pelepasan ACTH
o Growth hormone-releasing homone (GHRH) menstimulasi pelepasan GH
o Growth hormone inhibitory homone (GHIH) penghambat sekresi GH
o Gonadotropin-releasing hormone (GnRH) menstimulasi sekresi LH dan
FSH
o Prolactin-inhibiting factor (PIF) menghambat pelepasan prolaktin
3. Sekresi kelenjar hipofisis posterior diatur oleh sinyal saraf yang ada di hipotalamus,
yaitu nukleus supraoptik dan nukleus paraventrikular. Sinyal saraf dari nukleus ini
disalurkan dari hipotalamus menuju hipofisis posterior melalui tangkai hipofisis
(infundibulum)
Nukleus supraoptik ADH
Nuklus paraventrikular Oxytocin
Beberapa fungsi penting hipotalamus yaitu :

a. Mengontrol sistem saraf otonom dan sistem endokrin serta mengatur beberapa
perilaku :
Peningkatan atau penurunan denyut jantung dan tekanan darah.
Pengaturan suhu tubuh.
Pengaturan rasa lapar dan haus.
Sekresi air lewat ginjal (pengeluaran ADH).
Pengaturan kontraksi rahim dan pengeluaran ASI.
b. Fungsi afektif sensoris
Pusat-pusat ganjaran atau motivasi.
Pusat-pusat menyakitkan seperti takut, marah, termasuk nyeri dan
dorongan untuk melarikan diri.
Dorongan untuk bereproduksi.
c. Pengaturan tidur dan jaga
Hipotalamus dorsal berhubungan dengan Sistem Aktivasi Retikularis
(SAR).
Hipotalamus lateral anterior menghambat SAR.
d. Mengatur sekresi kelenjar hipofisis
Hampir semua sekresi kelenjar hipofisis diatur baik oleh hormon atau sinyal
saraf yang berasal dari hipotalamus. Sekresi kelenjar hipofisis posterior diatur
oleh sinyal saraf yang berasal dari hipotalamus dan berakhir di hipofisis anterior.
Sebaliknya, sekresi kelenjar hipofisis anterior diatur oleh hormon pelepas
hipotalamus dan hormon penghambat hipotalamus yang di sekresikan kedalam
hipotalamus sendiri dan selanjutnya dijalarkan ke hipofisis anterior
1.2. Hipofisis
Divisi Kelenjar :

1. Lobus anterior (Adenohipofisis)


Pars distalis : Tonjolan lobus anterior
Pars tuberalis : Bagian paling vaskular
Pars intermedia : Sangat jelas pada janin, tereduksi saat dewasa
2. Lobus Posterior (Neurohipofisis)
Parsnervosa: Terhubung dengan hipotalamus otak, mengandung ujung akson dari
neuron neurosekretori hipotalamus dan sel-sel seperti neuroglia
Infundibulum: Menghubungkan neurohipofisis dengan otak
o Hormon Lobus Anterior :
1. Growth Hormone (GH) / Hormon Somatotropik (STH) : Mengendalikan
pertumbuhan seluruh sel tubuh dengan memperbesar ukuran dan jumlah
2. Thyroid Stimulating Hormone (TSH) / Tirotropin : Mengendalikan hormone tiroksin
dan triiodotironin yang berperan dalam metabolism sel
3. Hormon Adrenokortikotropik (ACTH) : Menstimulasi sekresi hormone
adrenokortikal dari korteks adrenal
4. Gonadotropin
Follicle Stimulating Hormone (FSH)
Luteinizing Hormone (LH) : Pada wanita: bertanggung jawab untuk
ovulasi,luteinisasi dan pengaturan sekresi hormon seks wanita, estrogen dan
progesteron oleh ovarium. Pada pria mengatur sekresi hormon seks pria.
5. Prolaktin : Mempertahankan sekresi air susu dari kelenjar mammae, disekresi selama
masa kehamilan dan menyusui
o Hormon Lobus Posterior :
Disintesis oleh sel-sel saraf dalam hipotalamus lalu dibawa sepanjang akson dan
disimpan dalam neurohipofisis. Pengeluaran hormone ini sendiri juga berdasarkan sinyal
dari hipotalamus.
1. Antideuretik hormone (ADH) / Vasopresin : Mengatur konsentrasi air dalam tubuh
2. Oksitosin : Mengatur kontraksi otot polos uterus dan keluarnya air susu saat
menyusui
Terdiri dari :
o Pars Nervosa :
- Tidak mengandung sel sekretori
- Terdiri dari 100.000 akson tak bermyelin dari neuron-neuron sekretoris di
nucleus supraoptik dan praventrikuler
- Sekresi dari neuron-neuron di atas diangkut sepanjang akson dan berkumpul
di ujung akson pars nervosa. Di tempat ini, produk neurosekresi tersebut
membentuk bangunan yang dikenal sebagai badab Herring
- Mengandung sel-sel seperti neuroglia (disebut pituisit) yang tidak memiliki
fungsi sekretori
o Infundibulum (tangkai neural)
Merupakan penghubung neurohipofisis ke otak
Hipofisis posterior tidak mensintesis hormone.Hormon-hormon yang disekresikan
disintesis di hipotalamus. Hormon-hormon itu adalah :
Vasopresin (ADH- Antideuritik Hormone)
Fungsi : - Meningkatkan retensi H2O oleh ginjal
- Menyebabkan kontraksi otot polos arteriol (efek presor pembuluh
darah)
Oksitosin
Fungsi : - Mendorong pengeluaran air susu dari kelenjar mammae
- Merangsang kontraksi otot polos uterus untuk membantu pengeluaran
bayi selama kelahiran

o Kelenjar hipofisis dilihat secara histology.


Macam macam sel yang menghasilkan sekresi hormone:
1. Sel sel somatotrof : bentuknya besar, mengandung granula sekretori,
berdiameter 350-550 nanometer dan terletak di sayap lateral hipofisis. Sel ini
menyekresikan hormone somatotropin.
2. Sel lactotroph : mengandung granula sekretori dengan diametr 27-350
nanometer, menghasilkan prolaktin.
3. Sel tirotriph : berbentuk polyhedral, mengandung granula sekretori yang
berdiameter 50-100nm, menghasilkan TSH.
4. Sel gonadotroph : berdiameter 75-375nm, mengandung granula sekretori
menghasilkan FSH dan LH.
5. Sel kortikotrof : berdiametr 375 550nm, merupakan granula terbesar
yang menghasilkan ACTH

1.3. Tiroid
o Terdiri dari lobus dexter dan sinister tampak seperti kupu-kupu.Dari VC5-VTh 1
o Berupa folikel-folikel :
a. Sel kelenjar tyroid Tempat pembentukan hormone tyroid (Tiroksin dan
triodotironin) dan kalsitonin yang berfungsi dalam matabolisme kalsium dalam
darah. Hormone kalsitonin ini berguna untuk mengurangi kadar kalsium dalam
darah.
b. Massa koloid
Bagisn di tengah dikelilingi sel-sel kelenjar tyroid yang berisi makromolekul
tiroglobulin

o Fisiologi hormone tiroid.


Di berbagai jaringan, hormon tiroid (T3, T4) akan meningkatkan sintesis enzim,
aktifitas Na+ / K+ - ATPase dan penggunaan oksigen sehingga menyebabkan
peningkatan suhu tubuh. Dengan merangsang glikogenolisis dan glukogenesis,
hormon tiroid menyebabkan peningkatan konsentrasi glukosa darah, sedangkan pada
sisi lain juga meningkat glikolisis. Hormon ini merengsang lipolisis, pemecahan
VLDL dan LDL, serta eksresi asam empedu di dalam empedu. Hormon tiroid
merangsang pelepasan eritropoetin dan eritropoesis dangan menigkatkan pemakaian
oksigen. Hormon tiroid mensensititasi organ target terhadap katekolamin sehingga
meningkatkan kontraktilitas jantung dan frekuensi denyut jantung. Selain itu, hormon
ini meningkatkan motilitas usu dan merangsang proses transport di usus dan ginjal.
Hormon ini meningkatkan perkembangan fisik (misal pertumbuhan tinggi) dan
perkembangan mental (terutama intelektual). T3 dan T4 merangsang renstrukturisasi
tulang dan otot, efek katabolik terutama mendominasi dan meningkatkan eksitabilitas
neuromuskular. T3 dan T4 terutama bekerja melalui peningkatan ekspresi gen, yang
berlangsung selama beberapa hari. Di luar hari ini, kerjanya yang lama disebabkan
oleh lamanya waktu paruh di dalam darah (T3: 1 hari dan T4: 7 hari).

o Sekresi Kel Tyroid :


1. Pembentukan tiroksin dan triodotironin
Iodium dikonsumsi tubuh dalam bentuk I (Iodide).Iodide yang dikonsumsi peroral
akan diserap oleh sal cerna dan diedarkan dalam darah

80% diekskresikan ke ginjal

20% di bawa ke kelenjar tyroid pembentukan hormon tyroid

Tiroglobulin disintesis dan disekresikan oleh RE dan apparatus golgi sel kelenjar
tyroid.

Dalam Tiroglobulin terkandung 30 tiroksin dalam 1 molekul tiroglobulin dan hanya


4-8 unit per molekul tiroglobulin yang terlibat dalam pembentukan hormone tyroid.

o Pembentukan hormone tiroid:


- Pompa penjerat Iodida
Membran basalis dari sel tyroid memompakan secara aktif iodide dari darah ke
dalam sel tyroid.

- Oksidasi ion iodide


Sebelum berikatan dengan tirosin,iodide harus dioksidasi menjadi iodine atau
yodium yang teroksidasi.Proses oksidasi dibantu enzim peroksidase dan hydrogen
peroksidase yang berfungsi meningkatkan proses oksidasi ion iodide menjadi iodide
teroksidase/iodine.

- Organifikasi tiroglobulin dan iodinasi tirosin


Organifikasi : Pengikatan iodine dengan molekul tiroglobulin.Lalu iodinasi
pembentukan ikatan iodine dan asam amino tirosin yang terdapat pada tiroglobulin.
Ikatan satu iodine dengan satu asam amino tirosin akan membentuk monoiodotirosin.
Kemudian antara monoiodotirosin ini mengalami iodonisasi lagi sehingga jumlah
iodine menjadi dua yang disebut diiodotirosin. Setelah itu terjadi penggandengan
antar diiodotirosin sehingga membentuk tiroksin atau tetraiodotironin. Selain itu juga
terjadi penggandengan antara monoiodotirosin dengan diiodotirosin yang nantinya
akan membentuk triiodotironin.

- Iodine yang berasosiasi dengan enzim iodinase dapat meningkatkan kecepatan


proses iodinasi.Yang hasil akhirnya adalah Triodotironin dan tiroksin
Hormon tironin yang terbentuk akan disimpan dalam keadaan terikat dengan
tiroglobulin.Hormon tiroid yang disimpan dapat menyuplai kebutuhan tubuh selama
2-3 bulan.

o Pengeluaran hormone tiroid:


Ketika tubuh memerlukan hormone tiroid (tiroksin ma triiodotironin), maka sel sel
tiroid akan menyekresikannya kedalam darah dengan cara melakukan pinositosis
terhadap tiroglobulin yang menyimpan hormone tiroksisn dan triiodotironin. Setelah
itu akan tiroglobulin akan masuk kedalam vesikel vesikel. Dalam vesikel itu
terdapat enzim enzim proteolitik yang akan menguraikan ikatan tiroglobulin dan
hormone tiroksin ada juga yang menguraikan hormone tiroid menjadi
monoiodotirosin menjadi diiodotirosin lagi yang nantinya akan diproduksi ulang
menjadi hormone tiroid kembali. Setelah terbentuk hormone tiroksin dan
triiodotironin yang bebas, maka hormone tersebut akan dikeluarkan ke dalam darah
melalui mekanisme eksositosis.
o T3(Triiodotironin) dan T4(tetraiodotironin=tiroksin), dihasilkan oleh sel folikuler,
berfungsi mengatur metabolisme tubuh, seperti meningkatkan sintesis ATP di
mitokondria, menaikkan denyut jantung,dsb.
o Pembentukan, penyimpanan, dan sekresi hormon tiroid :
Pembentukan hormon tiroid di molekul Tiroglobulin pada bagian koloid kelenjar
tiroid. Tiroglobulin merupakan suatu molekul protein besar yang dihasilkan oleh
RE/aparatus Golgi sel folikuler dan melalui eksositosis akan dikeluarkan ke bagian
koloid.
Setelah sampai pada koloid, asam amino tyrosin segera berikatan dengan molekul
tyroglobulin.
Tiroid menangkap iodium dari darah dan memasukkannya ke dalam sel melalui
transpor aktif yang disebut pompa iodine
Setelah iodine masuk maka akan segera berikatan dengan molekul Tyroglobulin-
Tirosin.
Perlekatan sebuah iodine akan membentuk monoiodotirosin(MIT) sedangkan
perlekatan dua molekul iodine membentuk diiodotirosin(DIT)
Kemudian terjadi pengikatan molekul-molekul tirosin beriodium. Penggabungan
dua DIT menghasilkan T4(Tetraiodotironin=tiroksin) dan penggabungan satu
DIT dan MIT menghasilkan T3(Triiodotironin).

o Dimana hormone ini berperan :


1. Mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi
Membantu proses pertumbuhan bekerjasama dengan GH,insulin,dan androgen

Sintesis protein dalam sel maturasi sel

2. Pengaruh terhadap sistem vaskularisasi


Vasodilatasi : sisa metabolisme dan kebutuhan nutrisi jaringan

Jantung : Kekuatan kontraksi

Frekuensi
Tekanan diastole

Tekanan sistole

3. Terhadap gastrointestinal
Getah pencernaan gerakan usus reabsorbsi makanan

Nafsu makan

4. Terhadap sistem saraf


Waktu reflek dan tremor

Waktu reaksi saraf > peka thd rangsang

5. Metabolisme Karbohidrat dan kolestrol


Reabsorbsi Karbohidrat

1.4. Paratiroid
Berupa empat organ kecil, masing masing berukuran sebesar biji apel,
terletak pada permukaan posterior kelenjar tiroid dan dipisahkan dari kelenjar tiroid
oleh kapsul kapsul jaringan ikat. Ada dua jenis sel dalam kelenjar paratiroid, sel
utama yang memproduksi paratipoid hormon dan sel oksifilik yang merupakan
perkembangan sel chief.

Efek fisiologis hormon paratiroid:

1. PTH mengendalikan keseimbangan kalsium dan fosfat dalam tubuh melalui


peningkatan kalsium dan pengurangan kadar pospat dalam darah.
2. PTH meningkatkan kadar kalsium dalam darah melalui 3 cara yaitu:
1. Menstimulasi aktivitas osteoklas
2. Meningkatkan absorpsi kalsium intestinal dan mengurangi kehilangan
kalsium dalam feses.
3. Menstimulasi reabsorbsi kalsium dari tubulus ginjal untuk mengganti
fosfor.
Pengendalian sekresi:

1. Umpan balik
2. Berkerja secara antagonis dengan hormon kalsitonin dengan cara menurunkan
kadar kalsium dalam darah. Hormon kalsitonin akan dilepas jika kadar
kalsium dalam darah tinggi. Kalsitonin menghambat efek PTH terhadap
reabsorpsi kalsium dari tulang dan menstimulasi aktivitas osteoblas, ehingga
mengakibatkan ambilan kalsium oleh tulang.

1.5. Kelenjar Adrenal


o Sepasang organ kecil yang terletak di bagian ujung atas setiap ginjal dengan dua
komponen endokrin tersendiri yaitu korteks dan medula.
o Medula : terletak di bagian tengah kelenjar dan menyekresi katekolamin,
epinefrin, dan norepinefrin.
o Korteks : menyintesis dan menyekresi 3 kelompok utama hormon steroid
yang berasal dari kolesterol :
a. Glukokortikoid : kortisol
b. Mineralkortikoid : aldosteron
c. Steroid seks (androgen dan estrogen)

o Cortex Adrenal
Zona Glomerulosa

menghasilkan hormon mineralocorticoid

Zona Fasciculata
mhslkan hormon glucocorticoid (cortison, cortisol, & cortisosteron

Zona Retikularis

membentuk glucocorticoid & sex hormon

Gangguan

1. Defisiensi kortisol : Sindrom Chusing


Gejala : kelebihan protein, glukosa, dan distribusi lemak yang abnormal.

2. Kelebihan aldosteron : Sindrom Conn ( Hiperaldosteronisme primer)

Gejala : Hipernatermia (Retensi Na+) dan naiknya tekanan darah

D. KELENJAR PANKREAS

Terdiri atas : caput, corpus, & cauda


Bersifat eksokrin & endokrin (pulau langerhans)
Pulau langerhans
o bentukan pucat, terdiri dari rangkaian sel yg saling beranastomose dengan
kapiler diantaranya
o banyak pd bagian cauda
o jaringan ikat sangat sedikit, terdiri dari sabut retikuler

Pulau langerhans:

1. Sel alfa : sekresi glukagon (glikogen => glukosa)


2. Sel beta : sekresi insulin (glukosa => glikogen)
3. Sel delta : sekresi somatostatin (menekan sel alfa dan sel beta)
4. Sel PP(polipeptida pancreas) : menghambat enzim dan sekresi alkali pancreas

Hormon ini berfungsi mengatur konsentrasi glukosa dalam darah. Kelebihan glukosa akan
dibawa ke sel hati dan selanjutnya akan dirombak menjadi glikogen untuk disimpan.
Kekurangan hormon ini akan menyebabkan penyakit diabetes. Selain menghasilkan insulin,
pankreas juga menghasilkan hormon glukagon yang bekerja antagonis dengan hormon
insulin.

E. KELENJAR GONAD
Kelenjar Ovarium
Sepasang kelenjar oval , bentuk almond yang terletak di kedua sisi rahim dan tepat di
bawah permukaan tuba fallopi
memproduksi telur / ovum
menghasilkan 2 hormon , yaitu :
- Esterogen
fungsi : mempertahankan pembentukan ovum dan ciri kelamin sekunder
menebalkan dinding rahim untuk persiapan bila ovum bertemu dengan
sperma
- Progestron
fungsi : mengatur pembentukan plasenta dan produksi air susu
mempertahankan ketebalan dinding rahim sehingga bila terjadi
pertemuan ovum dengan sperma akan di implantasikan

Kelenjar Testis
Hormon yang dihasilkan adalah testosterone
Sel sasaran : organ seks pria, tulang, tubuh secara keseluruhan
Efek hormone testosterone :
Efek sebelum lahir
Memaskulinisasi saluran reproduksi dan genitalia eksterna, mendorong turunnya
testis ke dalam skrotum
Efek pada jaringan spesifik seks setelah lahir
Mendorong pertumbuhan dan pematangan sistem reproduksi saat pubertas,
penting untuk spermatogenesis, memelihara saluran reproduksi sepanjang masa
dewasa
Efek terkait reproduksi lain
Membentuk dorongan seks saat pubertas, control sekresi hormone goadotropin
Efek pada karakteristik seks sekunder
Memicu pola pertumbuhan rambut pria, menyebabkan suara menjadi lebih berat
karena menebalnya lipatan pita suara, mendorong pertumbuhan otot yang
membentuk pola tubuh
Efek non produktif
Mempunyai efek anabolic protein, mendorong pertumbuhan tulang saat pubertas,
menutup lempeng epifisis setelah dirubah menjadi esterogen oleh aromatase,
memicu perilaku agresif

Patologi :

Gangguan ereksi disebabkan kurangnya hormone testosterone


HORMON

A. JENIS
1. Steroid
Steroid adalah senyawa lemak terdiri dari komplekcincin atom hydrogen dan
atom karbon. Dibedakan berdasarkan tipe dan banyaknya atom yang terletak dalam
rantai cinicin hydrogen tersebut. Semua steroid hormone adalah derivate dari
kolesterol, termasuk hormon reproduksi (testosterone dan estrogen), hormon sekresi
korteks adrenal (aldosteron dan kortisol).

Hormon steroid tidak larut dalam air. Hormon steroid dibawa ke target sel
melalui darah dengan berikatan lemah dengan protein plasma darah. Hormone steroid
larut dalam lemak, menyebabkan hormone steroid mudah menembus membrane sel
targetn. Reseptor spesifik hormone steroid ini umumnya terdapat di plasma sel dan
plasma inti. Hormone steroid akan membentuk kompleks hormone-reseptor ketika
berikatan dengan reseptor spesifiknya. Kompleks hormone-reseptor berikatan dengan
DNA dalam nucleus sehingga mengaktivasi ataupun menghambat terjadinya respon
sel.

Mekanisme aksi hormone steroid

Kelenjar endokrin mengsekresikan hormone steroid.


Hormone steroid berdifusi menembus membrane sel target dan nucleus.
Hormone berikatan dngan molekul reseptor.
Kompleks hormone-reseptor steroid berikatan dengan DNA dan mendorong
terjadinya transkripsi oleh mRNA.
mRNA keluar dari nucleus memasuki sitoplasma dan mengaktivasi sintesa protein.
protein baru yang disintesis menghasilkan efek hormone spesifik.

2. Non Steroid

1. Hormon polipepetida dan protein

Berupa rantai asam amino spesifik yang hidrofilik. Hormon ini disintesis di
retikulum endoplasma kasar yang terdapat di berbagai sel endokrin. Biasaya
hormon tersebut itu disintesis sebagai protein besar yang tidak memiliki aktivitas
biologis (pra-prohormon) yang dipecah untuk membentuk prohormon. Prohormon
di transfer ke kompleks Golgi untuk dikemas dalam vesikel sekretoris. Sewaktu
proses itu berlangsung enzim-enzim didalam vesikel akan memecah prohormon
untuk menghasilkan hormon yang berukuran lebih kecil dan memiliki aktivitas
biologis serta fragmen-fragmen inaktif. Contoh hormon jenis ini adalah semua
hormon dari hipotalamus, hipofisis anterior, hipofisis posterior, pankreas, kelenjar
paratiroid, saluran pencernaan, ginjal hati, sel C tiroid, jantung. Bersifat larut air
yang memungkinkan hormon tersebut masuk kedalam sistem sirkulasi dengan
mudah.

2Hormon amin berasal dari tirosin.

Disekresikan oleh kelenjar tiroid dan medulla adrenal. Ketika disimpan


berikatan dengan makromolekul tiroglobulin dan disekresi ketika terlepas dengan
makromolekul tersebut dan menuju aliran darah. Di dalam darah hormon jenis ini
berikatan dengan protein plasma. Hormon ini memiliki reseptor pada nukleus
sehingga mempengaruhi peningkatan transkripsi gen.

Ciri khas :

Aktifkan mekanisme genetik pembentukan protein intrasel


Memiliki fungsi pengaturan yang cukup lama

3.3 KLASIFIKASI HORMON


3.3.1 Secara umum hormon dapat diklasifikasikan menjadi :
Hormon perkembangan
Hormon yang memegang peranan di dalam perkembangan dan per-tumbuhan.
Hormon ini dihasilkan oleh kelenjar gonad.
Hormon metabolisme
Proses homeostasis glukosa dalam tubuh diatur oleh bermacam-macam hormon.
Contoh : glukokortikoid, glukagon, dan katekola-min.
Hormon tropik
Dihasilkan oleh struktur khusus dalam pengaturan fungsi endokrin yakni kelenjar
hipofisis sebagai hormon perangsang pertumbuhan folikel (FSH) pada ovarium dan
proses spermatogenesis (LH).
Hormon pengatur metabolisme air dan mineral
Kalsitonin dihasilkan oleh kelenjar tiroid untuk mengatur metabolis-me kalsium
dan fosfor.

3.3.2 Hormon dapat diklasifikasikan dalam beberapa cara


Autokrin
Bekerja pada sel yang mensintesis hormone itu sendiri. Contoh : insulin-like
growth factor (IGF-1) yang menstimulasi pembelahan sel di dalam sel yang
memproduksi hormon tersebut.
Parakrin
Bekerja pada sel-sel di sekitarnya. Contoh : insulin yang disekresikan oleh sel
pankreas dan memengaruhi sekresi glukagon oleh sel pankreas .
Endokrin
Bekerja pada sel atau organ yang menjadi tujuannya saat dibawa melalui aliran
darah atau sistem saluran lainnya. Contoh : insulin, estradiol, dan kortisol.
Neuroendokrin
Merupakan parakrin atau endokrin. Hormon ini disintesis dalam sel saraf yang
melepaskan hormon dekat dengan sel target atau mele-paskan ke dalam aliran darah
yang kemudian akan membawa hor-mon ke sel target, misalnya dari hipotalamus ke
kelenjar hipofisis anterior melalui sistem portal.
Neural
Merupakan neurotransmisi, ketika suatu zat kimia (neurotransmit-ter) dilepaskan
oleh satu neuron dan bekerja pada neuron di sam-pingnya.
3.3.3 Berdasarkan senyawa kimia pembentuk
Peptide
Berupa rantai asam amino yang spesifik hidrofilik, dibentuk prehor-mon oleh
kelenjar terbesar, disekresi di retikulum endoplasma ka-sar lalu dipecah di badan
golgi dan membentuk hormon. Peptide ini mempunyai reseptor pada dinding sel.
Contoh : insulin, glukogen, TSH, dll.
Amina
Derivate dari asam amino yang di sekresi oleh kelenjar tiroid dan kelenjar adrenal.
Contoh : tiroid dan katekolamin.
Steroid
Berasal dari kolesterol yang disekresi korteks adrenal vertebra. Con-toh : pada
mamalia oleh plasenta.
Eikosanoid
Dari asam arakidonat.
3.3.4 Berdasarkan sifat kelarutan molekul hormone
Lipofilik
Hormon yang larut dalam lemak. Hormon ini berasal dari kolesterol dengan
pengecualian T3 serta T4. Setelah disekresikan, hormon ini berikatan dengan
protein pengangkut, yaitu suatu proses yang akan menghindari problem kelarutan
dan memperpanjang usia paruh plasma. Hormon yang bebas dengan mudah akan
melintasi mem-bran plasma semua sel dan menghadapi reseptor, baik di sitosol
maupun di dalam nukleus sel target.
Contoh : Steroid, iodotironin, kalsitriol, retinoid, dll.
Hidrofilik
Hormon yang larut dalam air dan terikat pada membran plasma sel target. Hormon
yang terikat pada permukaan sel akan berhubungan dengan proses metabolisme
lewat molekul pengantar, yang di beri nama second messenger.
Contoh : Polipeptida, protein, glikoprotein, katekolamin, dll.
3.3.5 Berdasarkan lokasi reseptor hormone
Hormon yang berikatan dengan hormone dengan reseptor intrase-luler.
Hormon yang berikatan dengan reseptor permukaan sel (plasma membran).
3.3.6 Berdasarkan sifat sinyal yang mengantarai kerja hormon di dalam sel
Kelompok hormon yang menggunakan kelompok second messen-ger.
Kelompok hormon yang berikatan dengan reseptor permukaan sel.
3.3.7 Jenis hormon
Non Steroid
- Peptida
Berupa rantai asam amino spesifik yang hidrofilik. Hormon ini disintesis di
retikulum endoplasma kasar kemudian dikemas di kompleks Golgi selanjutnya
sejumlah besar disimpan dalam gra-nula sekretorik.
Contoh : semua hormon dari hipotalamus, hipofisis anterior, hipofisis
posterior, pankreas, kelenjar paratiroid, saluran pencer-naan, ginjal hati, sel C
tiroid, jantung. Berasal dari prehormon memiliki waktu paruh panjang (menit),
beredar unbond (tidak terikat protein), dan memiliki reseptor pada dinding sel.
- Asam Amina
Disekresikan oleh kelenjar tiroid dan medulla adrenal. Ketika disimpan
berikatan dengan makromolekul tiroglobulin dan dise-kresi ketika terlepas
dengan makromolekul tersebut dan menuju aliran darah. Di dalam darah hormon
jenis ini berikatan dengan protein plasma. Hormon ini memiliki reseptor pada
nukleus sehingga mempengaruhi peningkatan transkripsi gen.
Ciri khas :
Aktifkan mekanisme genetik pembentukan protein intra-sel.
Memiliki fungsi pengaturan yang cukup lama.
Steroid
Steroid adalah senyawa lemak terdiri dari komplek cincin atom hidrogen dan
atom karbon. Dibedakan berdasarkan tipe dan ba-nyaknya atom yang terletak dalam
rantai cinicin hidrogen tersebut. Semua steroid hormon adalah derivate dari
kolesterol, termasuk hormon reproduksi (testosteron dan estrogen), hormon sekresi
korteks adrenal (aldosteron dan kortisol).
Hormon steroid tidak larut dalam air. Hormon steroid dibawa ke target sel
melalui darah dengan berikatan lemah dengan protein plasma darah. Hormone
steroid larut dalam lemak, menyebabkan hormon steroid mudah menembus
membran sel target. Reseptor spesifik hormon steroid ini umumnya terdapat di
plasma sel dan plasma inti. Hormon steroid akan membentuk kompleks hormone-
reseptor ketika berikatan dengan reseptor spesifiknya. Kompleks hormone-reseptor
berikatan dengan DNA dalam nucleus sehingga mengaktivasi ataupun
menghambat terjadinya respon sel.

3.4 LOKASI DAN AKSI HORMON


B. FUNGSI

1. Hormon merupakan mesengger kimiawi


2. Fungsi integrasi
Mengkoordinasikan organ tubuh agar dapat bekerja sama dalam satu kesatuan
Contoh : saat menghadaoi bahaya
3. Fungsi regulasi
Mengatur agar proses metabolisme dalam tubuh berjalan teratur, efektif dan efisien
Contoh : saat setelah makan
4. Fungsi morfologi
Deferensiasi sel pada perkembangan organisme multiseluler
Contoh : terjadinya maskulinisasi pada wanita yang ovariumnya diambil karena
tumor
C. MEKANISME KERJA

a. Jenis reseptor hormon


Di permukaan membran sel = protein, peptida, dan hormon katekolamin
Sitoplasma sel = hormon steroid
Nukleus sel = hormon tiroid
b. Reseptor :
Terkait kanal-ion
Neurotransmitter berikatan dengan reseptor yang ada di membran pascasinaps
sehingga menyebabkan kanal ion membuka atau menutup. Kanal ini untuk
masuknya ion natrium, ion kalium, ion kalsium, dan seterusnya. Dan ini
menimbulkan efek pada sel pascasinaps.
Terkait protein G
Reseptor protein G = 7 protein transmembran yang keluar masuk kedalam
membran sel
Ada protein G trimerik yang terdiri dari subunit , ,
Dalam keadaan inaktif, protein G trimerik (, , ) akan berikatan dengan GDP
pada subunit
Reseptor teraktivasi terjadi perubahan bentuk mengakibatkan protein G trimerik
yang terkait GDP berhubungan dengan bagian sitoplasma dari reseptor dan
terjadi pertukaran GDP menjadi GTP
Pertukaran GDP menjadi GTP menyebabkan subunit terdisosiasi dari trimerik
dan berhubungan dengan protein pesinyal intrasel lainya terjadi perubahan
aktivitas kanal ion atau aktivitas enzim intrasel
Hormon terlepas maka subunit menginaktivasi sendriri dan mengubah GTP
menjadi GDP, kemudian bergabung dengan subunit dan subunit protein G
trimerik yang inaktif pada membran
Reseptor hormon intrasel dan aktivasi gen
Hormon (steroid atau larut dalam lemak) menembus membran sel dan berikatan
dengan reseptor yang ada di sitoplasma atau nucleus
kompleks reseptor hormon yang teraktivasi berikatan dengan promotor DNA
(hormone response element) mengaktivasi atau menekan transkripsi gen yang
spesifik kemudian menghasilkan mRNA
mRNA menuju ribosom membentuk protein yang baru
Protein ini akan menjadi pengatur fungsi sel yang baru atau mengubah fungsi
sel.

D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

o Kecepatan sintesis dan sekresi (dingearuhi kelainan bawaan, tumor ataupun


infeksi,stimulan)
o Sistem transport dalam plasma
o Reseptor
o Kecepatan degradasi hormon, terutama dalam sel hati dan ginjal
o Kecepatan perubahan hormon dari bentuk inaktif menjadi aktif
1.1.1 Jenis Reseptor Hormon
Di permukaan membran sel = protein, peptida, dan hormon kateko-lamin.
Sitoplasma sel = hormon steroid.
Nukleus sel = hormon tiroid.
1.1.2 Reseptor
Terkait Kanal-ion
Neurotransmitter berikatan dengan reseptor yang ada di mem-bran pascasinaps
sehingga menyebabkan kanal ion membuka atau menutup. Kanal ini untuk
masuknya ion natrium, ion kalium, ion kal-sium, dan seterusnya. Dan ini
menimbulkan efek pada sel pascasi-naps.
Terkait Protein G
Reseptor protein G = 7 protein transmembran yang keluar ma-suk kedalam
membran sel. Ada protein G trimerik yang terdiri dari subunit , , dan .
- Dalam keadaan inaktif, protein G trimerik (, , ) akan berikatan dengan GDP
pada subunit .
- Reseptor teraktivasi terjadi perubahan bentuk mengakibatkan protein G trimerik
yang terkait GDP berhubungan dengan bagian sitoplasma dari reseptor dan
terjadi pertukaran GDP menjadi GTP.
- Pertukaran GDP menjadi GTP menyebabkan subunit terdisosia-si dari trimerik
dan berhubungan dengan protein pesinyal intra-sel lainya terjadi perubahan
aktivitas kanal ion atau aktivitas en-zim intrasel.
- Hormon terlepas maka subunit menginaktivasi sendriri dan mengubah GTP
menjadi GDP, kemudian bergabung dengan sub-unit dan subunit protein G
trimerik yang inaktif pada mem-bran.
Reseptor hormon intrasel dan aktivasi gen
- Hormon (steroid atau larut dalam lemak) menembus membran sel dan berikatan
dengan reseptor yang ada di sitoplasma atau nukleus.
- Kompleks reseptor hormon yang teraktivasi berikatan dengan promotor DNA
(hormone response element) mengaktivasi atau menekan transkripsi gen yang
spesifik kemudian menghasilkan mRNA.
- mRNA menuju ribosom membentuk protein yang baru.
- Protein ini akan menjadi pengatur fungsi sel yang baru atau mengubah fungsi
sel.
1.1.3 Faktor yang Mempengaruhi
Kecepatan sintesis dan sekresi (dipengaruhi kelainan bawaan, tu-mor ataupun
infeksi, dan stimulan).
Sistem transport hormon dalam plasma.
Reseptor
Kecepatan degradasi hormon, terutama dalam sel hati dan ginjal.
Kecepatan perubahan hormon dari bentuk inaktif menjadi aktif.

3.2 RESEPTOR HORMON


Reseptor hormon merupakan molekul pengenal spesifik dari sel tempat hormon
berikatan sebelum memulai efek biologiknya.
Reseptor biasanya sangat spesifik untuk satu macam hormon saja. Kea-daan inilah yang
menentukan macam hormon yang akan bekerja pada suatu jaringan tertentu. Jaringan target
yang dipengaruhi oleh hormon adalah ja-ringan yang mempunyai reseptor spesifiknya.
Di dalam atau permukaan membrane sel.
Reseptor membran sangat khusus untuk hormon golongan protein, peptida dan
katekolamin (epinefrin dan norepinefrin).
Di dalam sitoplasma.
Reseptor untuk berbagai hormon steroid yang berbeda dapat dijum-pai hampir
semuanya di dalam sitoplasma.
Di dalam inti sel.
Reseptor untuk hormon metabolik tiroid (tiroksin dan triioditrion) di-jumpai di dalam
inti, diduga terletak dalam hubungan langsung de-ngan satu kromosom atau lebih.
Umumnya pengikatan reseptor hormon ini bersifat reversibel dan non-kovalen. Reseptor
hormon bisa terdapat pada permukaan sel (membran plasma) atau pun intraselluler. Interaksi
hormon dengan reseptor permuka-an sel akan memberikan sinyal pembentukan senyawa
yang disebut sebagai second messenger (hormon sendiri dianggap sebagai first messenger).
Jika hormon sudah berinteraksi dengan reseptor spesifiknya pada sel-sel target, maka
peristiwa-peristiwa komunikasi intraseluler dimulai. Hal ini da-pat melibatkan reaksi
modifikasi seperti fosforilasi dan dapat mempunyai pengaruh pada ekspresi gen dan kadar
ion. Peristiwa-peristiwa ini hanya me-merlukan dilepaskannya zat-zat pengatur.
3.2.1 Struktur Reseptor Hormon
Setiap reseptor hormon mempunyai sedikitnya dua daerah do-main fungsional,
yaitu :
Domain pengenal akan mengikat hormon.
Regio skunder menghasilkan (tranduksi) signal yang merangkai-kan
pengaturan beberapa fungsi intrasel.
Reseptor hormon Steroid dan Thyroid membentuk suatu superfa-mili yang besar
dari faktor transkripsi. Disini termasuk juga reseptor untuk vitamin D dan Asam
retinoid.
Reseptor untuk hormon Glukokortikoid mempunyai beberapa do-main fungsional,
yaitu :
Regio pengikat hormon dalam bagian terminal karboksil.
Regio pengikatan DNA yang berdekatan.
Sedikitnya dua regio yang mengaktifkan transkripsi gen.
Sedikitnya dua regio yang bertanggung jawab atas translokasi reseptor dari
sitoplasma ke nukleus.
Regio yang mengikat protein renjatan panas tanpa adanya li-gand.
Reseptor Insulin berupa heterotetramer (22) terikat lewat ikat-an disulfida yang
multipel :
Subunit ekstramembran akan mengikat insulin.
Subunit perentang membran akan mentransduksi sinyal yang mungkin terjadi
lewat komponen tirosin kinase pada bagian sitoplasmik polipeptida ini.
Gambar 3.1 Struktur reseptor dari superfamili hormon Thyroid-Steroid Bagian atas adalah
klasi-fikasi domain beberapa fungsi domain individual bagian bawah adalah contoh-
con-toh reseptor dengan berbagai domain digambarkan dalam skala Reseptor hormon
Thyroid 2 dan faktor transkripsi COUP (Chicken Ovalbumin Upstream Promoter)
diperlihatkan sebagai pembanding dan mewakili kelompok yang diperkirakan tidak
mengikat suatu hormon.

Reseptor IGF, EGF, LDL, umumnya serupa dengan dengan re-septor insulin
ini. Reseptor untuk ANF yang memiliki aktifitas guanilil siklase juga termasuk
dalam kelas ini.
Reseptor hormon polipeptida yang mentransduksikan sinyal melalui
pengubahan kecepatan produksi cAMP ditandai dengan adanya tujuh buah
domain yang merentangkan membran plasma.

Gambar 3.2 Gambaran berbagai jenis reseptor membran dengan contoh masing-masing
METABOLISME

KARBOHIDRAT

Karbohidrat terdapat dalam monosakarida, dimana untuk dapat diserap oleh tubuh ia
harus diubah menjadi monosakarida terlebih dahulu.

Polisakarida oligosakarida disakarida di usus halus bertemu dengan enzim


disakaridase monosakarida. Monosakarida akan mengikuti sirkulasi darah dan glukosa
ditangkap oleh sel pankreas untuk selanjutnya diubah menjadi ATP.

o Nasib glukosa di sel:


1. Diubah menjadi ATP melalui TCA cycle (glikolisis, oksidasi piruvat, siklus krebs)
2. Disimpan dalam bentuk glikogen melalui glikogenesis
3. Diubah menjadi ribosa melalui Heksosa Mono Phospate Shunt (HMP Shunt)
4. Glukoneogenesis: pembentukan glukosa dari senyawa-senyawa non karbohidrat
o NADH saat glikolisis:
Diubah menjadi 2 ATP ketika pengangkut yang digunakan untuk mengangkut dari
sitoplasma ke mitokondria untuk oksidasi piruvat adalah gliserofosfat
Diubah menjadi 3 ATP ketika pengangkut yang digunakan adalah pengangkut
malat

Metabolisme Karbohidrat terdiri dari

a. Glukosa

Glikolisis
Glokolisis adalah perubahn glukosa menjadi asam piruvat atau asam laktat.
Terjasi di sitosol. Terutama di otot bergaris.
Bisa terjadi dalam konsi aerobic dan anaerobic.
Aerobik : 6/8 ATP + 2 Asam Piruvat
Anaerobik : 2 ATP + 2 Asam Laktat
Proses :
Oksidasi piruvat
Piruvat dipindahkan dari luar ke dalam mitokondria oleh simporter proton.
Proses ini dibantu oleh enzim piruvat dehidrogenase komplek dan
membutuhkan TPP, NAD+,dan Ko-A sampai terbentrukNADH, CO2, dan
Asetil KoA.
Melalui reaksi sebagai berikut :
CH3COOH +HsKoA + NAD+CH3CO-sKoA + CO2 + NADH + H+
Tahapan :

1. Karena ada TDP(thiamine diphospate),

didekarboksilasi
menjadi derivat produk
oleh kompleks
Piruvat hidroksiietilamin sisa:
enzim piruvat
difosfat CO2
dehidrogenase

Terjadi:

Hidroksiietil tiamin
Membentuk asetil
difosfat + Lipoamid TDP dilepas
lipoamid
teroksidasi
2. Karena ada koA-SH,

hasil sampingan:
diubah jadi
Asetil lipoamid Lipoamid
Asetil koA
tereduksi

3. Siklus akan selesai jika:

teroksidasi oleh
Lipoamid menjadi Flavoprotein
Flavoprotein
tereduksi tereduksi
(mengandung FAD)

kemudian dioksidasi oleh sehingga memindahkan ekuivalen pereduksi


NAD+ kepada rantai respirasi

Produk oksidasi piruvat berupa asetil koA, dimana akan dioksidasi melalui siklus asam
sitrat. Produk kedua yaitu NADH, dimana nantinya akan measuk rantai respirasi dan
fosforilasi oksidatif yang menghasilkan 3 ATP per 1 molekul NADH.
Siklus asam sitrat

a. Asetil Ko-A hasil dari reaksi antara (dekarboksilasi oksidatif) masuk ke dalam
siklus dan bergabung dengan asam oksaloasetat membentuk asam sitrat. Setelah
"mengantar" asetil masuk ke dalam siklus Krebs, ko-A memisahkan diri dari
asetil dan keluar dari siklus.
b. Asam sitrat mengalami pengurangan dan penambahan satu molekul air sehingga
terbentuk asam isositrat.
c. Asam isositrat mengalami oksidasi melepas ion H+, kemudian mereduksi NAD+
menjadi NADH, dan melepaskan satu molekul CO2 dan membentuk asam a-
ketoglutarat (asam alpha ketoglutarat).
d. Asam a-ketoglutarat melepaskan satu molekul CO2, dan teroksidasi melepaskan
satu ion H+ yang mereduksi NAD+ menjadi NADH. Asam a-ketoglutarat
mendapatkan satu ko-A dan membentuk suksinil ko-A. Setelah terbentuk
suksinil ko-A, molekul ko-A kembali meninggalkan siklus, terbentuk asam
suksinat. Pelepasan ko-A dan perubahan suksinil ko-A menjadi asam suksinat
menghasilkan energi untuk menggabungkan satu molekul ADP dan satu gugus
fosfat anorganik menjadi satu molekul ATP.
e. Asam suksinat mengalami oksidasi dan melepaskan dua ion H+, diterima oleh
FAD dan membentuk FADH2, dan terbentuk asam fumarat. Satu molekul air
ditambahkan ke asam fumarat dan menyebabkan perubahan susunan (ikatan)
substrat pada asam fumarat, asam fumarat berubah menjadi asam malat.
f. Asam malat mengalami oksidasi dan kembali melepaskan satu ion H+, yang
kemudian diterima oleh NAD+ dan membentuk NADH, dan asam oksaloasetat
kembali terbentuk. Asam oksaloasetat ini akan mengikat asetil ko-A dan
menjalani siklus Krebs.
Dari siklus Krebs ini, dari setiap molekul glukosa akan dihasilkan 2 ATP, 6
NADH, 2 FADH2, dan 4 CO2. Molekul NADH dan FADH2 menjalani rangkaian
terakhir respirasi aerob, rantai transpor elektron.

b. Glikogen

Glikogenesis

Tahapan

Adalah sintesis glikogen dari glukosa yang terjadi di dalam hati dan otot.
Reaksi 1 :
Mg++
Glukosa + ATP Glukosa 6-p + ADP
Glukokinase / Heksokinase
Reaksi 2 :
Glukosa 6-p Glukosa 1-p
Fosfoglukomutase
Reaksi 3 :
Glukosa 1-p + UTP UDPG + Pirofosfat
UDPG Pirofosforilase
Gugus fosfat dan energi yang diperlukan dalam reaksi pembentuk-an glukosa 6-
fosfat dari glukosa diberikan oleh ATP yang berperan se-bagai senyawa kimia
berenergi tinggi. Enzim yang mengkatalisnya ada-lah glukokinase. Selanjutnya,
dengan fosfoglukomutase, glukosa 6-fosfat mengalami reaksi isomerasi menjadi
glukosa 1-fosfat.

ATP ADP

Glukosa Glukosa 6-fosfat


heksokinase
fosfoglukomutase

Uridin Difosfat UTP uridil transferase


Glukosa (UDPG) Glukosa 1-fosfat

PPi UTP
Glikogenesis : pembentukan uridin difosfat glukosa (UDPG) dari glukosa,
melalui pembentukan glukosa 6-fosfat dan glukosa 1-fosfat.
Glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin tri fosfat (UTP) dikatalis oleh UDPG
Pirofosforilase menghasilkan uridin difosfat glukosa (UDP-glukosa) dan pirofosfat
(PPi).
Mekanisme reaksi glikogenesis juga merupakan jalur metabolisme umum untuk
biosintesis disakarida dan polisakarida. Dalam berbagai tumbuhan seperti tanaman
tebu, disakarida sukrosa dihasilkan dari glukosa dan fruktosa melalui mekanisme
biosintesis tersebut. Dalam hal ini UDP-glukosa abereaksi dengan fruktosa 6-fosfat,
dikatalis oleh sukrosa fosfat sintase, membentuk sukrosa 6-fosfat yang kemudian de-
ngan enzim sukrosa fosfatase dihidrolisis menjadi sukrosa.
Enzim Glikogen sintetase (sintase)
Membentuk ikatan -1,4 Glikosidik (rantai lurus) dari glikogen. Enzim ini
memiliki dua bentuk:
- Aktif (glikogen sintase a) yang dapat dirubah menjadi gli-kogen sintase
b melalui reaksi fosforilasi oleh protein ki-nase.
- Tidak aktif (glikogen sintase b) yang juga dapat dirubah menjadi
glikogen sintase a dengan bantuan protein fos-fatase.
Saat kebutuhan glukosa meningkat enzim protein kinase akan menjadi
aktif dan mengubah glikogen sintase aktif menjadi inaktif mengakibatkan
proses glikogenesis terhambat.
Enzim Pencabang (Branching Enzyme)
Membentuk ikatan -1,6 Glikosidik (rantai cabang) dari gliko-gen.
Bagan

Glikogenolisis
Merupakan mekanisme pengubahan glikogen menjadi glukosa
Tahapan :
Residu glukosil paling luar molekul glikogen dibuang secara berurut-an
oleh enzim glikogen fosforilase melepaskan glukosa 1-fosfat.
(C6) n + Pi (C6) n-1 + glukosa 1-fosfat
Enzim tersebut spesifik untuk rangkaian 1-- 4 glikogen.
Berakhir pada empat residu dari titik cabang.
3 dari 4 unit glukosil yang tersisa dipindahkan ke rantai yang lain oleh
enzim ( -[1-- 4] --- -[1--4] glukan transferase) dan selanjut-nya akan
dipecah lagi oleh enzim glikogen fosforilase.
Satu unit glukosa yang terakhir yang merupakan ikatan [1---6] dipe-cah
juga menggunakan enzim pemutus cabang (debranching en-zyme)
(amilo[1---6] glukosidase.
Enzim fosfoglukomutase mengubah glukosa 1-fosfat glukosa 6-
fosfat.
Glukosa 6-fosfat dapat memasuki jalur glikolisis.
Di hati dan ginjal terdapat enzim glukosa 6 fosfatase yang spesifik yang
dapat memecah ikatan ester pada glukosa 6-fosfat dan mele-paskan
glukosa ke peredaran darah. Sedangkan di otot tidak dida-patkan enzim
tersebut, sehingga proses pemecahan hanya terjadi di hati saja.

Glukoneogenesis
Gliserol dan berbagai asam amino nantinya akan diubah menjadi piruvat.
Dimana, piruvat ini nantinya akan diubah menjadi glukosa, namun dalam
pengubahan ini tidak dengan reaksi pembalikan reaksi glikolisis karena
ada beberapa enzim yang bekerja secara irreversible seperti heksokinase,
fosfofruktokinase, piruvat kinase.
Maka prosesnya pun juga melalui tiga tahap :

1. Pengubahan piruvat menjadi fosfenol piruvat


Asam piruvat + CO2 + ATP + H2O asam oksaloasetat + ADP +
fosfat + 2H+
Dibantu oleh enzim piruvat kinase.Dimana dalam reaksi ini dibutuhkan
vitamin biotin sebagai koenzim dan biotin ini mengikat CO2 dari bikarbonat.
Asam oksaloasetat + GTP fosfenol piruvat + GDP + CO2
Dibantu oleh enzim fosfenol piruvat karboksilase.Disini GTP diperoleh dari
reaksi suksinat tiokinase dalam siklus asam sitrat.
2. Pengubahan fruktosa-1,6-bifosfat menjadi fruktosa-6-fosfat
fruktosa-1,6-bifosfat + H2O fruktosa-6-fosfat + fosfat
dibantu dengan enzim fruktosa-1,6-bifosfatase
3. Pengubahan glukosa-6-fosfat menjadi glukosa
glukosa-6-fosfat + H2O glukosa + fosfat
dibantu oleh enzim glukosa-6-fosfatase.

Hormon yang berpengaruh


1. Insulin
Diproduksi oleh sel -pankreas
Punya peranan sentral dalam mengatur konsentrasi glukosa darah
Zat yang dapat menyebabkan pelepasan insulin adalah asam amino, asam
lemak bebas, badan keton, glukagon, sekretin, dan tolbutamid.
2. Glukagon
Diproduksi oelh sel -pankreas
Sekresi hormon glukagon dirangsang oleh keadaan hipoglikemia
Meningkatkan kadar glukosa darah dengan cara:
Merangsang glikogenolisis
Merangsang glukoneogenesis
3. Epinefrin/adrenalin
Disekresikan oleh medula adrenal sebagai akibat dari rangsangan yang
menimbulkan stress
Meningkatkan glukosa darah karena dapat merangsang glikogenolisis
Di otot : tidak ada enzim glukose 6-phosphate sehingga
glikogenolisis terjadi dengan pembentukan asam laktat
Di hati : glukosa merupakan produk utama yang di gunakan
untuk peningkatan kadar glukosa dalam darah
4. Glukokortikoid
Disekresikan oleh korteks adrenal
Sangat penting dalam metabolisme karbohidrat
Menghambat penggunaan glukosa di jaringan ekstrahepatik
Bekerja secara antagonistik terhadap insulin
5. Tiroid
Hormon yang berpengaruh terhadap glukosa darah
Kadar glukosa pada orang hipertiroid lebih besar pada orang yeng
hipotiroid
Orang hipertiroid akan menggunakan kadar glukosa dengan kecepatan
normal atau meningkat sedangkan
Orang hipotiroid akan mengalami penurunan kemampuan dalam
menggunakan glukosa

PROTEIN

Protein adalah bentuk polimer dari asam amino. Asam amino yang dapat membentuk
protein ini disebut asam amino dasar, yang terdiri dari 20 jenis asam amino. Asam amino
dapat didapatkan dari makanan maupun pemecahan protein rangka. Mula-mula, ikatan
peptida protein diputus oleh enzim protease kemudian diuraikan menjadi asam amino
bebas oleh enzim peptidase.
Asam amino bebas memiliki dua gugus, yaitu gugus karboksil dan gugus amin. gugus
amin akan dilepas untuk membentuk urea sedangkan rantai karbon yang tersisa akan
dikataboisme membentuk senyawa amfibolik. Proses pembentukan urea diawali oleh
pelepasan gugus amin (-2 ) sehingga terbentuk amoniak (3 ) yang bersifat racun.
Detoksifikasi amonia terutama dilakukan dengan mengkonversinya menjadi glutamin
untuk diangkut ke hati. Deaminasi glutamin di hati akan melepaskan amonia yang
kemudian secara efisien akan dikonversi menjadi senyawa niontoksik yang kaya
nitrogen, yaitu urea melalui siklus berikut.
Selanjutnya, kerangka karbon yang tidak mengandung gugus amin akan dikatabolisme.
Prinsipnya sama dengan jalur sintesis asam amino, jadi kembali ke senyawa amfibolik
selanjutnya dioksidasi menurut jalur metabolisme karbohidrat atau oksidasi asam lemak.
Pada keadaan tertentu senyawa amfibolik dirubah menjadi glukosa untuk
mempertahankan kadar glukosa darah.
Kerangka karbon pada asam amino akan dikonversi menjadi intermediet amfibolik, yang
selanjutnya dapat diubah menjadi senyawa lain atau dioksidasi lebih lanjut menjadi
tenaga. Diketahui bahwa kerangka atom C asam amiino dapat diubah menjadi 7 jenis
senyawa amfibolik yaitu pirufat, asetil-KoA, asetoasetil-KoA, alfa ketoglutarat, suksinil-
KoA, fumarat, dan oksaloasetat. Asam amino yang kerangka C nya dapat membentuk
asetil Ko-A atau asetoasetil Ko-A disebut asam amino ketogenik karena dapat dirubah
menjadi badan keton atau lemak. Asam amino glikogenik/glukogenik merupakan asam
amino yang kerangka C nya dapat membentuk piruvat, suksinil Ko-A, alfa ketoglutarat,
fumarat dan oksaloasetat yang selanjutnya dapat diubah menjadi glikogen atau glukosa.
Pada katabolisme kerangka atom C asam amino dapat terjadi pemutusan kerangka atom
C yang menghasilkan dua bagian, yaitu bersifat ketogenik dan bagian yang lainbersifat
glikogenik/glukogenik.Asam amino yang demikian disebut mempunyai sifat campuran
ketogenik dan glukogenik.

LEMAK
Pemakaian lemak oleh tubuh sama pentingnya dengan pemakaian karbohidrat.
Seringkali, karbohidrat yang itelan bersama makanan irubah menjai trigliserida yang kemudian
disimpan dalam sel atau jaringan adipose dan dipakai dalam bentuk asam lemak yang dilepaskan
dari trigliserida sebagai sumber energi.

Hidrolisis trigliserida

Tahap pertama dalam penggunaan trigliserida dalam tubuh adalah hidrolisis trigliserida
menjai asam lemak dan gliserol. Kemudian asam lemak dan gliserol di tranpor dalam darah ke
jaringan yang aktif atau tempat terjadinya oksidasi kedua zat tersebut untuk menghasilkan
energi. Hampir semua sel kecuali sel saraf dan sel darah merah, dapat memakai asam lemak
sebagai sumber energi.

Gliserol, sewaktu memasuki jaringan yang aktif, segera diubah oleh enzim intra sel
menjadi gliserol-3-fosfat, yang memasuki jalur glikolisis untuk pemecahan glukosa dan
kemudian dipakai untuk menghasilkan energi.

Masuknya asam lemak ke dalam mitokondria.

Transport ini adalah proses yang diperantarai oleh pembawa yang memakai karnitin
sebagai zat pembawa. Begitu berada di mitokondria, asam lemak berpisah dengan karnitin dan
kemudian didegradasi dan dioksidasi.

Degradasi asam lemak menjadi asetil koenzim A oleh oksidasi beta.

Molekul asam lemak didegradasi dalam mitokondria oleh mekanisme oksidasi beta
dengan melepaskan segmen berkarbon dua secara progresif dalam bentuk asetil koenzim A (asetil
koA).

Oksidasi asetil koA

Molekul asetil koA yang dibentuk ke dari oksidasi beta akan masuk ke dalam siklus asam
sitrat. Pertama, asetil koA bergabung dengan asam oksaloasetat untuk membentuk asam sitrat
yang kemudian di degradasi menjadi karbon dioksida dan atom hydrogen. Hydrogen kemudian
akan masuk ke dalam siklus oksidasi kemiosmotik mitokondria. Reaksi akhir dari siklus asam
sitrat untuk tiap molekol asetil koA aalah sebagai berikut:

CH3COCoA + asam oksaloasetat + 3H2O + ADP

siklus asam sitrat

2CO2 + 8H + HKo-A + ATP + asam oksaloasetat

Jadi, hasil akhir dari pemecahan asetil koA yang berasal dari asam lemak sama dengan hasil
pemecahan asetil koA yang berasal dari glukosa.

Manfaat penyimpanan energi dari lemak

Ketika tubuh memiliki kelebihan glukosa, glukosa tersebut akan di ubah menjadi
glikogen sebagai simpanan energi. Namun, sebagian besar sel, tidak mampu menyimpan
glikogen alam jumlah yang besar. Sebagai contoh, sel hati hanya mampu menyimpan 5% hingga
8% glikogen dari total berat hati an sel otot hanya 1% hingga 3% saja. Sehingga, apabila setelah
ikonfersi menjadi glikogen, masih ada kelebihan glukosa, maka langkah selanjutnya adalah
pengubahan glukosa menjadi lemak dalam bentuk trigliserida. Penyimpanan energi dalam lemak
ini memiliki beberapa kelebihan, yaitu:

1. kemampuan berbagai sel tubuh untuk menyimpan lemak jauh lebih besar dari pada
penyimpanan dengan glikogen
2. tiap gram lemak mengandung hampir dua setengah kali kalori dari energi yang
dikandung dalam glikogen

PATOLOGI
Gigantisme
Diproduksinya banyak sekali hormon pertumbuhan akibat sel asidofilik
yaitu sel pembentuk hormon pertumbuhan di kelenjar hipofisis anterior
menjadi sangat aktif bahkan sampai timbul tumor asidofilik pada kelenjar
ini.
Bila keadaan tersebut terjadi sebelum masa remaja,sebelum epifisis tulang
panjang bersatu dengan batang tulang, tinggi badan orang tersebut akan
terus meningkat sehingga menjadi seperti raksasa.

Akromegali
Akromegali terjadi bila tumor asidofilik timbul sesudah masa remaja yaitu
sesudah epifisis tulang panjang bersatu dengan batang tulang,maka orang
tersebut tidak akan tinggi lagi tetapi tulangnya dapat menjadi lebih tebal
dan jaringan lunaknya dapat terus tumbuh.
Pembesaran tampak jelas terutama pada tulang tulang tangan dan
kaki,tulang tengkorak,hidung,penonjolan tulang dahi,rahang bagian bawah
dan bagian tulang vertebra sebab pertumbuhan tulang tulang ini tidak
berhnti pada waktu remaja.
Pada akromegali tulang rahang bagian bawah tampak menonjol ke
depan,hidung membesar samapai 2 kali ukuran normal,jari jari menjadi
sangat tebal sehingga ukurannya samapai dua kali ukuran normal,dan
terjadi perubahan pada tulang vertebra biasanya menyebabkan orang
tersebut bungkuk atau kifosis.
Defisiensi Laktase
Mengalami suatu kondisi yang disebut intoleransi. Biasanya terhadap makanan,
contohnya susu. Karna pada susu kandungan laktosa tinggi. Laktosa tidak bisa
diserab oleh tubuh, tekanan di ekstrasel tinggi akibatnya terjadi diare.
Defisiensi Aldolase
Intolerans terhadap fruktosa. Tubuh tidak bisa memecah fruktosa, sehingga
menyebabkan kadar glukosa rendah.
Fruktus Uria
Karena defisiensi fruktokinase. Fruktokinase berperan untuk merubah fruktosa
menjadi fruktosa 1 pospat. Dalam hal ini fruktosa tidak bisa dicerna oleh tubuh
dan akan dikeluarkan lewat urin.
Penyakit penimbunan Glikogen
Penyakit herediterkarena pengendapan glikogen. Terjadi kelemahan otot.