Anda di halaman 1dari 17

BAB II

LANDASAN TEORI

A. KECEMASAN
1. Pengertian Kecemasan
Kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan
istilah-istilah seperti kekhawatiran, kepribadian dan rasa takut yang kadang-
kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda-beda (Alkinson, 1999)
Kecemasan adalah respon emosional terhadap perasaan tidak pasti dan tidak
berdaya, kondisi ini tidak memiliki objek yang spesifik (Stuart & Sundeen,
1998)
Long (1996) menyatakan bahwa kecemasan merupakan respon psikologi
terhadap stess yang mengandung komponen fisiologi. Perasaan takut atau
tidak tenang yang sumbernya tidak dikenali. Kecemasan terjadi ketika
seseorang merasa terancam baik secara fisik atau psikologi (seperti harga diri,
gambaran diri, atau identitas diri).
Sedangkan Suliswati (2005) mengatakan bahwa kecemasan sebagai respon
emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan
dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingunan,
kekhawatiran pada suatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas
dan dihubungkan dengan perasaaan tidak menentu bdan tidak berdaya dan
kecemasan tidak dapat dihindarkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggris anxiety berasal dari Bahasa Latin
angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Konsep
kecemasan memegang peranan yang sangat mendasar dalam teori-teori tentang stres
dan penyesuaian diri (Lazarus, 2007).
Kecemasan adalah gangguan dalam perasaan yang ditandai dengan perasaan
ketakutan atau kekhawatiran yang mendalam dan berkelanjutan, tidak mengalami
gangguan dalam menilai realitas, keperibadian masih tetap utuh, perilaku dapat
terganggu tetapi masih dalam batas normal (Hawari. D, 2006). Menurut Lazarus
(2007), kecemasan adalah keadaan yang menggambarkan suatu pengalaman subyektif
mengenai ketegangan mental kesukaran dan tekanan yang menyertai suatu konflik
atau ancaman atau fenomena yang sangat tidak menyenangkan serta ada
hubungannya berbagai perasaan yang sifatnya difuss, yang sering bergabung atau
disertai gejala jasmani.

2. Teori Kecemasan
Stuart & Sundeen, (1998) menyatakan ada beberapa teori yang telah
dikembangkan untuk menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi
kecemasan, diantaranya:
a. Faktor predisposisi
1) Teori Psikoanalitik
Kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen
kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan
impuls primitive seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati
nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya
seseorang. Ego atau aku, berfungsi menengahi tuntunan dari dua
elemen yang bertentangan, dan fungsi cemas adalah mengingatkan
ego bahwa ada bahaya
2) Teori Interpersonal
Cemas timbul dari perasaan takut terhadap tidak ada penerimaan dan
penolakan interpersonal. Cemas juga berhubungan dengan
perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan, yang
menimbulkan kelemahan spesifik. Orang dengan harga diri yang
rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang
berat.
3) Teori Prilaku
Cemas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang
mengganggu seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Pakar prilaku lain menganggap ansietas suatu dorongan untuk belajar
berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari dari kepedihan.
Pakar tentang pembelajaran mayakini bahwa individu yang terbiasa
dalam kehidupan dirinya diharapkan pada kekuatan yang berlebihan
lebih sering menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.

b. Factor Presipitasi
Kecemasan adalah keadaan yang tidak dapat diletakkan pada kehidupan
manusia dalam memelihara keseimbangan. Pengalaman ansietas
seseorang tidak sama pada beberapa situasi dan hubungan interpersonal.
Ada 2 faktor yang mempengaruhi kecemasan pasien pre operasi:
1) Faktor eksternal:
a) Ancaman integritas diri, meliputi ketidak mampuan fisiologi atau
gangguan terhadap kebutuhan dasar (penyakit, trauma fisik,
pembedahan yang akan diakukan).
b) Ancaman sistem dii antara lain: ancaman terhadap identitas diri,
harga diri, dan hubungan interpersonal, kehilangan serta
perubahan status/peran (Stuart & Sundeen, 1998).
2) Factor Internal:
Menurut Stuart & Sundeen (1998) kemampuan individu dalam
merespon terhadap penyebab kecemasan ditentukan oleh:
a) Potensi Stressor
Stressor psikososial merupakan setiap keadaan atau peristiwa
yang menyebabkan perubahan dalam kehiupan seseorang
sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi (Smeltzer &
Bare, 2001).
b) Maturitas
Individu yang memiliki kematangan kepribadian lebih sukar
mengalami gangguan akibat kecemasan, karena individu yang
matur mempunyai daya adaptasi yang lebih bear terhadap
kecemasan (Hambly, 1995).
c) Pendidikan dan status ekonomi
Tingkat pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada
seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah mengalami
kecemasan. Tingkat pendidikan seseorang atau individu akan
berpengaruh terhadap kemampuan berfikir, semakin tinggi
tingkat pendidikan akan semakin mudah berfikir rasional dan
menangkap informasi baru termasuk dalam menguraikan
masalah baru (Stuart & Sundeen, 1998).
d) Keadaan fisik
Seseorang yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, operasi
akan mudah mengalami kelelahan fisik sehingga lebih mudah
mengalami kecemasan, di samping itu orang yang mengalami
kelelahan fisik lebih mudah mengalami kecemasan (Oawari,
1999)
e) Tipe Kepribadian
Orang yang berkepribadian A lebih mudah mengalami gangguan
akibat kecemasan daripada orang dengan kepribadian B. adapun
ciri-ciri orang dengn berkepribadian A adalah tidak sabar,
kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa diburu-buru
waktu, mudah gelisah, tidak dapat tenang, mudah tersinggung,
otot-otot mudah tegang. Sedangkan orang dengan tipe
kepribadian B mempunyai ciri-ciri yang berlawanan denga tipe
A. karena tipe B adalah orang yang penyabar, tenang, teliti, dan
rutinitas (Start & Sundeen, 1998).S
f) Lingkungan dan situasi
Seseorang yang berada di lingkungan asing ternyata lebih mudah
mengalami kecemasan bila di berada di lingkungan yang bisa dia
tempati (Hambly, 1995)
g) Usia
Seseorang yang mempunyai usia lebih muda ternyata lebh
mudah mengalami gangguan akibat kecemasan daripada
seseorang yang lebih tua, tetapi ada juga yang berpendapat
sebaliknya (Varcoralis, 2000).
h) Jenis kelamin
Gangguan panic merupakan suatun gangguan cemas yang
ditandai oleh kecemasan yang spontan dan episodic. Gangguan
ini lebih sering dialami wanita daripada pria (Varcolis, 2000).
Menurut Freud dalam Stuart & sundeen (1998) ada dua tipe
kecemasan yaitu
a. Kecemasan Primer
Kejadian traumatic yang diawalai saat bayi akibat adanya stimuli
tiba-tiba dan trauma pada saat persalinan, kemudian berlanjut
dengan kemungkinan tidak tercapainya rasa puas akibat klaparan
atau kehausan. Penyebab kecemasan primer adalah ketegangan
atau dorongan yang diaklibatkan oleh factor internal.
b. Kecemasan subsekunder
Sejalan dengan peningkatan ego dan usia, Frued melihat ada jenis
kecemasan lain akibat konflik emosi antara dua elemen
kepribadian yaitu id dan superego. Frued mnjelaskan bila terjadi
kecemasan maka posisi ego sebagai pengembang id dan superego
berada pada kondisi bahaya.
3. Tingkat kecemasan
Cemas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi dialami secara
subjektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal. Cemas berbeda
dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu
yang berbahaya. Cemas adalah respon emosional terhadap penilaian tersebut.
Kapasitas untuk menjadi cemas diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi
sejalan dengan kehidupan.
Menurut Stuart & Sundeen, (1998), ada empat tingkat kecemasan yang
dialami oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan panic.
a. Kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari. Individumasih
waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat
memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah
secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.
b. Kecemasan sedang
Individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya, terjadi
penyempitan lapangan persepsi, masih dapat melakukan sesuat dengan
arahan orang lain.
c. Kecemasan berat
Lapangan persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detail
yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berfikir tentang hal-hal lain. Seluruh
perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak
perintah/arahan untuk terfokus pada area lain.
d. Panik
Individu kehilangan kendali diri dan detail perhatian hilang. Karena
hilangnya control, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan
perintah. Terjadi peningkatan motorik, berkurangnya kemampuan
berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya
pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif. Biasanya disertai
dengan disorganisasi kepribadian.

Gambar 1.1 rentang respon cemas


Sumber : Stuart and Sundeen, 1988

Rentang respon kecemasan


Menurut stuart dan sundeen, respon kecemasan dapat difluktuasikan dalam rentang
adaptasi dan maladptif.
1. Respon adaptif
Respon adaptif adalah suatu keadaan dimana terjadi stressor dan bila individu mampu
menghabat dan mengatur hal tersebut. Maka akan menghasilkan hal yang positif, hal
positif tersebut antara lain dapat memecahkan maslah dan konflik, adanya dorongan
untuk bermotivasi dan terjadinya peningkatan prestasi fungsional.
2. Respon maladaptif
Respon maladaptif merupakan suatu keadaan dimana tidak terjadi pertahanan
perilaku individu secara otomatis terhadap ancaman kecemasan. Apabila terjadi
ancaman terhadap individu, kemudian individu tersebut menggunakan respon adaptif,
maka ia dapat beradaptasi terhadap ancaman tersebut dengan demikian maka
kecemasan tidak terjadi. Tetapi apabila ia menggunakan respon maladaptif, maka
yang akan terjadi adalah individu akan mengalami kecemasan secara bertahap mulai
dari tingkat sedang ke tingkat berat akhirnya menjadi panik.

Tingkat kecemasan
Peplau dalam Leary (2007) membagi kecemasan dalam empat tingkatan
yaitu : kecemasan tingkat ringan, sedang, berat, dan panik. Selengkapnya dari
masing-masing tingkat kecemasan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
3. Kecemasan ringan
Kecemasan ringan adalah kecemasan normal dimana individu pada keseharian dalam
batasan kemampuan untuk melakukan dan memecahkan maslah meningkat. Batasan
karakteristik dari kecemasan ringan adalah gelisah, insomnia ringan, perubahan nafsu
makan, peka, pengulangan pertanyaan, perilaku mencari perhatian, peningkatan
kewaspadaan, peningkatan persepsi dan pemecahan masalah, mudah marah, fokus
pada masalah masa dating dan gerakan tidak tenang.
4. Kecemasan sedang
Kecemasan sedang adalah cemas yang mempengaruhi pengetahuan baru dengan
penyempitan lapang pandang persepsi sehingga individu kehilangan pegangan tetapi
dapat mengikutinpengarahan dari orang lain. Batasan dari karakteristik dari
kecemasan sedang adalah perkembangan dari kecemasan ringan, perhatian terpilih
pada lingkungan, konsentrasi pada tugas-tugas individu, ketidaknyamanan subyektif
sedang, peningkatan jumlah waktu yang digunakan pada situasi masalah, suara
bergetar, perubahan dalam nada suara, takipnea, takikardia, gemetaran, peningkatan
ketegangan otot, menggigit kuku, memukul-mukul jari, mengetuk-ngetuk jari kaki,
menggoyangkan kaki.
5. Kecemasan berat
Selama episode kecemasan berat, lapang pandang persepit sampai titik dimana
individu tidak dapat memecahkan masalah atau mempelajari masalah. Fokusnya pada
rincian yang detail atau terpisah pisah dan pola komunikasi terganggu. Pasien dapat
memperlihatkan beberapa usaha yang gagal untuk mengurangi kecemasan dan
biasanya mengungkapkan subyek distress dengan berat. Batasan karakteristik dari
kecemasan berat adalah:
a. Ketegangan otot berlebihan (sakit kepala, spasme otot)
b. Perasaan terncam
c. Perubahan gastrointestinal antara lain mual, muntah, rasa terbakar pada uluh
hati, sendawa, anoreksia, diare atau kontipasi
d. Perubahan pernapasan atara lain nafas panjang, hiperventilasi, dispnea dan
pusing.
e. Perubahan kardiovaskuler antara lain tahikardia, palpitasi, rasa tidak nyaman
pada prekordia, berkurangnya jarak persepsi secara hebat, ketidak mampuan
untuk belajar, ketidak mampuan untuk berkonsentrasi, rasa terisolasi, aktifitas
yang tidak berguna, bermusuhan
6. Panik
Kecemasan meningkat sampai tingkat dimana individu saat ini dapat berbahaya
terhadap diri sendiri atau orang lain, dan dapat menjadi diam atau dapat menyerang
dengan cara kacau. Batasan karakteristik dari panik:
a. Hiperaktifitas atau imobilisasi berat
b. Rasa isolasi yang ekstrim
c. Kehilangan identiutas, desintegrasi kepribadian
d. Saat goncang dan otot tegang
e. Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap
f. Distorsi persepsi dan penilaian yang tidak realitas terhadap lingkungan atau
ancaman
g. Perilaku kacau dalam usaha melarikan diri
h. Menyerang
dan piskologis yang dimanisfestasikan dengan perubahan perilaku.

4. Pengukuran Kecemasan
Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan baik itu kecemasan ringan,
sedang, berat dan berat sekali atau panic digunakan alat ukur kecemasan yang
dikenal dengan Hamilton Rating Scale For Anciety (HRS-A). alat ukur ini
terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing dirinci lagi dengan
gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi
penilaian angka (score) antara 0-4, yang artinya adalah:
1 = gejala ringan
2 = gejala sedang
3 = gejala berat
4 = gejala berat sekali
Masing-masing nilai angka (score) dari ke 14 kelompok gejala tersebut
dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat
kecemasan seseorang, yaitu:
Total nilai (score):
< 14 = tidak ada kecemasan
14 20 = kecemasan ringan
21 27 = kecemasan sedang
28 41 = kecemasan berat
42 56 = kecemasan berat sekali atau panic

Gejala kecemasan dapat diukur dengan tehnik HARS A yang


mengandung 14 item sebagai berikut :
1. Perasaan cemas. Cemas, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah
tersinggung.
2. Ketegangan. Merasa tegang, lesu, tidak bisa istirahat tenang, mudah terkejut,
mudah menangis, gemetar, gelisah.
3. Ketakutan. Pada gelap, pada orang lain, ditinggal sendiri, pada binatang atau
besav, pada keramaian lalu lintas, pada kerumunan orang banyak.
4. Gangguan tidur. Sukar masuk tidur, terbangun malam hari.
5. Gangguan kecerdasan. Sukar konsentrasi, daya ingat buruk, daya ingat menurun.
6. Perasaan depresi. Hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih,
bangun tidur dalam perasaan berubah ubah.
7. Gejala somatik (otot). Sakit dan nyeri otot otot, kaku, kedutan otot, gigi
gemerutuk, suara tidak stabil.
8. Gejala sensorik. Tinritus (telinga berdenging, penglihatan kabur, muka merah
atau pucat, perasaan ditusuk tusuk ).
9. Gejala kardio vaskuler (jantung dan pembuluh darah). Denyut jantung cepat,
berdebar debar, nyeri dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu.
10. Gejala respiratori. Rasa tertekan atau sempit didada.
11. Gejala gastrointestinal (pencernaan). Sulit menelan, perut mules, gangguan
pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan, muah muntah, buang air besar
lembek, konstipasi.
12. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin). Sering buang air kecil, tidak datang
bulan, darah haid berlebihan, darah haid sedikit, masa haid berkepanjangan,
masa haid sangat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan, menjadi dingin
(frigid), ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi hilang.
13. Gejala otonom. Mulut kering, muka merah, mudah berkeringat, kepala pusing,
kepala terasa berat, kepala terasa sakit, bulu bulu berdiri.
14. Tingkah laku. Gelisah, tidak tenang, jadi gemetar, kerut kening, muka tegang,
otot tegang atau mengeras, nafas pendek dan cepat.

5. Karakteristik Kecemasan
Keluhan dan gejala umum yang berkaitan dengan kecemasan menurut Yaskita
(2005) dapat berupa: gangguan mood, kesulitan tidur, kelelahan, kehilangan
motivasi dan minat, perasaan-perasaan yang tidak nyata, sangat sensitive
terhadap suara, berpikiran kosong, kikuk, canggung, tidak dapat membuat
keputusan, gelisah, secara umum kehilangan kepercayaan diri, kecenderungan
untuk melakukan segala sesuatu berulang-ulang, keraguan dan ketakutan yang
mengganggu, terus menerus memeriksa segala sesuatu yang sudah dilakukan.
Kasus ansietas mempunyai gejala dan persoalan yang unik dan pribadi dan
setiap kasus akan menunjukkan perbedaan-perbedaan antar pasien yang satu
dengan yang lainnya. Pada umumnya efek dari ansietas akan mempengaruhi
fisik dan atau emosional dari masing-masing gangguan fisik dan gangguan
emosioanal tersebut (Iskandar, 1984) meliputi:
a. Gangguan Fisik
1) Pusing atau sakit kepala
Gangguan fisik yang paling menonjol adalah sakit kepala atau pusing.
Sering gejala itu tidak ada dasar organiknya, pemeriksaan mata, THT,
pemeriksaan EEG atau nurologik, lainnya tidak ada kelainan,
sedangkan sakit kepala atau pusing sering terasa hebat.
2) Gangguan Tidur
Tidak semua pasien ansietas menderita insomnia. Keluhan insomnia
sendiri lebih banyak dikeluhkan ole penderita depresi dari pada
ansietas. Penderita ansietas lebih banyak membawa problem
kehidupan ke tempat tidur, sehingga mereka sulit untuk jatuh tidur.
3) Gangguan seksual
Penderita cemas sebenarnya tidak terganggu atau berkurang libidonya.
Ada beberapa pasien yang menderita kesulitan dalam hubungan
seksual. Tapi biasanya berupa sulit untuk mempertahankan ereksi, atau
sulit berkonsentrasi. Keluhan-keluhan biasanya adalah ejakulasi
prekoks.
4) Gangguan makan
Pada umumnya penderita cemas tidak terganggu makannya, kecuali
penderita cemas dan depresi. Akan tetapi karena mereka cukup sibuk
dengan penyakitnya, nafsu makan menjadi berkurang. Hal tersebut
bertambah hebat lagi terutama pada pasien cemas, panca indera (indera
pengecap) kurang berfungsi atau kurang perhatian.
5) Gangguan pada sistem kardiovaskuler
Kebanyakan pasien akan mengeluh berdebar-debar atau malahan dapat
mengembangkan diri menjadi nyeri di dada. Beberapa pasien malahan
tekanan darahnya meenjadi meningkat.
6) Gangguan pada sistem pencernaan
Yang paling sering adalah mengeluh nyeri ulu hati, dan sering
dikatakan sakit kantong nasi. Bila lanjut dapat menyebabkan ulkus
peptikum. Disamping itu ada pula mengembangkan diri menjadi colitis
ulserat.

b. Gangguan emosional
1) gangguan konsentrasi atau penampilan
yang paling sering dirasakan atau dikeluhkan adalah merasa
konsentrasi berkurang atau penampilan berkurang. Sering pula
2)
c.
6.

B.
C. Persalinan (Partus)
Partus adalah proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus
melalui vagina ke dunia luar Partus Immatarus kurang dari 28 minggu lebih dari 20
minggu dengan berat janin antara 1000-500 gram.(Sarwono Prawirohardjo, 2007 : 180)
Partus prematarus adalah suatu dari hasil konsepsi yang dapat hidup tetrapi belum a
term (cukup bulan). Berat janin antara 1000 sampai 2500 gram atau tua kehamilan
antara 28 minggu sampai 36 minggu. Partus postmaturus atau serotinus adalah partus
yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang diperkirakan.
Persalinan (partus) merupakan proses fisiologik dimana uterus mengeluarkan atau
berupaya mengeluarkan janin dan plasenta setelah masa kehamilan 20 minggu atau
lebih. Persalinan dibagi menjadi 3 kala: (Ben-zion Taber, 1994 : 250)
a. Kala satu persalinan menyatakan periode mulainya persalinan sampai dilantasi
lengkap versiks. Kala satu dibagi menjadi dua fase yaitu laten dan aktif.
1) fase laten diawali dengan mulai timbulnya kontraksi uterus yang teratur, yang
menhasilkan perubahan pada serviks, dan meluas sampai permulaan fase aktif
persalinan (biasanya dilantasi serviks 3-4 cm). pada nulipara fase laten biasanya
kurang dari 20 jam, pada multipara biasanya kurang dari 14 jam.
2) Fase dilatasi aktif ditandai dengan dilatasi serviks yang terus menerus sampai
serviks terdilatasi penuh. Pada nulipara kecepatas dilatasi serviks biasanya
meningkat sampai 1,2 cm setiap jam, pada multipara biasanya 1,5 cm setiap
jam.
b. Kala dua persalinan menyatakan periode dari dilatasi serviks lengkap sampai
kelahiran janin.
c. Kala tiga persalinan menyatakan periode dari kelahiran janin sampai ekspulsi
atau ekstraksi plasenta dan selaput amnion.
Menurut Sarwono Prawihardjo (2007 : 181) partus dibagi menjadi 4 kala yaitu
sebagai berikut:
a. Kala I serviks membuka sampai terjadi pembukaan 10 cm, kala I dinamakan
pula kala pembukaan. Kala I selesai apabila permukaan servis uteri telah
lengkap.
b. Kala II disebut pula kala pengeluaran, oleh karena kekuatan his dan kekuatan
mengedan janin didorong ke luar sampai lahir.
c. Kala III atau kala uri plasenta terlepas dari dinding uterus dan dilahirkan
d. Kala IV mulai dari lahirnya plasenta dan lamanya 1 jam
D. Faktor-Faktor Kecemasan Ibu Hamil
1. Umur
Kehamilan dan persalinan yang dianggap aman pada umumnya pada umur
antara 20 35 tahun. Risiko kehamilan yang tinggi akan terjadi apabila seorang
wanita mengalami kehamilan dan melahirkan dibawah umur 20 tahun dan diatas 35
tahun (Depkes.RI, 2007). Hasil penelitian Susiaty (2008). menemukan bahwa selain
usia kehamilan penyebab kecemasan dapat dihubungkan dengan usia ibu yang
memberi dampak terhadap perasaan takut dan cemas yaitu di bawah usia 20 tahun
serta di atas 31-40 tahun karena usia ini merupakan usia kategori kehamilan berisiko
tinggi dan seorang ibu yang berusia lebih lanjut akan menanggung risiko yang
semakin tinggi untuk melahirkan bayi cacat lahir dengan sindrom down. Gangguan
kecemasan diperkirakan mengidap 1 dari 10 orang. Menurut data National Institute of
Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang mengalami gangguan
kecemasan pada usia 18 tahun sampai usia lanjut (Pikirdong, 2008).
2. Paritas
Winkjosastro H (2006) memberikan defenisi paritas yaitu jumlah bayi yang
dilahirkan baik lahir hidup maupun lahir mati dari seorang ibu. Menurut Mannuaba.
IBG (2006), ibu yang terlalu sering melahirkan mempunyai risiko bagi kesehatannya
dan juga bagi kesehatan anaknya. Karena pada ibu dapat timbul kerusakan-kerusakan
pada pembuluh darah dinding uterus yang mempengaruhi sirkulasi nutrisi kejanin,
dimana jumlah nutrisi akan berkurang. Sedangkan pada bayi lanjut Mannuaba, dapat
menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin yang kelak akan lahir
dengan BBLR.
Persalinan kedua dan ketiga merupakan keadaan yang relatif aman untuk
melahirkan pada masa reproduktif, karena pada masa persalinan tersebut keadaan
patologis dimana dinding uterus belum banyak mengalami perubahan, sedangkan
pada persalinan lebih dari empat kali dapat menyebabkan risiko, yaitu kerusakan pada
pembuluh darah (Winkjosastro H, 2006).
Paritas dapat mempengaruhi kecemasan dimana paritas merupakan faktor
yang bisa dikaitkan dengan aspek psikologis. Pada primigravida, belum ada
bayangan menegenai apa yang akan terjadi saat bersalin nanti dan ketakutan karena
sering mendengar cerita mengerikan dari teman atau kerabat tentang pengalaman saat
melahirkan seperti sang ibu atau bayi meninggal dan ini akan mempengaruhi ibu
berpikiran proses persalinan yang menakutkan menurut psikolog Universitas
Padjadjaran Dra Sri Rahayu Astuti, M.si dan Psikolog Nungki Nilasari, S.Psi dari
RSB Permata Hati apalagi jika persalinan pertama si calon ibu tidak tahu apa yang
akan terjadi saat persalinan nanti, jangankan yang pertama pada persalinan kelima
pun masih wajar bila ibu merasa cemas atau khawatir (Amalia, T, 2009). Sedangkan
pada multigravida perasaannya terganggu diakibatkan karena rasa takut, tegang dan
menjadi cemas oleh bayangan rasa sakit yang dideritanya dulu sewaktu melahirkan
(Suara merdeka, 2008).
3. Pengetahuan
Pengetahuan adalah keseluruhan pikiran, gagasan, ide, konsep dan
pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia
dan isinya. Pengetahuan adalah apa yang telah diketahui, dan mampu diingat oleh
setiap orang setelah mengalami, menyaksikan, mengamati atau diajarkan sejak lahir
sampai dewasa khususnya setelah ia diberi pendidikan baik melalui pendidikan
formal maupun pendidikan non formal. Pendidikan non formal seperti penyuluhan,
demonstrasi, kursus-kursus dan lain sebagainya. Pengetahuan adalah proses kegiatan
mental yang dikembangkan melalui proses kegiatan pada umumnya sebagai aktivitas
kognitif.
Pengetahuan atau kognitif adalah hasil tahu yang terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang sebagian besar diperoleh
melalui indera mata dan telinga. Pengetahuan ini merupakan bagian yang penting
dalam membentuk perilaku seseorang. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa
pengetahuan seorang remaja tentang dampak perilaku seksual pranikah adalah
merupakan hasil tahu setelah melakukan berbagai penginderaan terhadap sejumlah
obyek yang berkaitan dengan dampak perilaku seksual pranikah.
Menurut Notoatmodjo. S (2003) pengetahuan dalam domain kognitif
mempunyai enam tingkatan, yaitu: (1) tahu (know), (2) memahami (comprehension),
(3) aplikasi (application), (4) analisis (analysis), (5) sintesis (synthesis), (6)
evaluasi (evaluation). Tingkatan pertama adalah tahu (know) diartikan sebagai
mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang termasuk kedalam
pengetahuan ini adalah tingkat mengingat kembali (recell) sesuatu yang spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tingkatan kedua
adalah memahami (comprehension) diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi
materi tersebut dengan benar. Tingkatan ketiga (application) diartikan sebagai
kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau
kondisi sebenarnya. Tingkatan adalah analisis ( analysis) yaitu suatu kemampuan
untuk menjabarkan materi atau salah satu objek ke dalam komponen-komponen,
tetapi masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitan satu sama lainnya.
Tingkatan kelima adalah sintesis (synthesis) menunjukkan kepada suatu kemampuan
untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Tingkatan yang tertinggi adalah evaluasi (evaluation)
berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penelitian terhadap
suatu materi atau objek (Notoatmodjo. S,2003).
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan dalam
diri seseorang adalah : (1) pendidikan , (2) sumber informasi ,( 3) pengalaman.
Sebagian besar pengetahuan diperoleh dari pengalaman, media, dan lingkungan.
Semakin tinggi pendidikan seseorang maka semakin luas pengetahuannya.
Pelaksanaan bentuk pendidikan ini antara lain dengan metode penyuluhan, seminar,
diskusi, dan lain-lain. Sumber informasi juga mempengaruhi pengetahuan, baik dari
orang maupun media.
4. Pendamping persalinan
Pendamping persalinan merupakan faktor pendukung dalam lancarnya
persalinan, karena efek perasaan wanita terhadap persalinan yang berbeda berkaitan
dengan persepsinya orang yang mendukung, dari orang terdekat dapat
mempengaruhi kecemasan ibu (Henderson, 2005). Setelah melalui banyak penelitian,
terungkap bahwa kehadiran suami di ruang bersalin untuk memberi dukungan kepada
istri dan membantu proses persalinan, ternyata banyak mendatangkan kebaikan bagi
proses persalinan. Kehadiran suami disamping istri membuat istri merasa lebih tenang
dan siap menghadapi proses persalinan ( Musbikin, 2007).
Kemajuan persalinan dapat difasilitasi apabila wanita merasa aman, dihormati
terhadap keamanannya oleh pasangannya atau orang yang dicintainya berperan
penting atas perasaan tersebut. Sebaliknya, perasaan malu atau tidak berharga, merasa
diawasi, merasa dalam bahaya, merasa diperlakukan tanpa hormat, merasa diabaikan
atau dianggap remeh, dapat memicu reaksi psikobiologis yang mengganggu efisiensi
kemajuan persalinan (Simkin,P, 2005).
2. Konsep Dasr Persalinan
a. Pengertian
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat
hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. ( Arif Mansjoer,
2000 : 291)

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang
telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan melalui jalan lahir
atau melalui jalan lain dengan bantuan atau tanpa bantuan ( kekuatan
sendiri ).
( Ida Bagus Gde Manuaba 2002 : 198 )

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah
cukup bulan atau dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui
jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, IBG. 2006).

c. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan


1. Power
Power adalah kekuatan kekuatan yang ada pada ibu seperti
kekuatan His dan mengejan yang dapat menyebabkan serviks
membuka dan mendorong janin keluar. His yang normal mulai dari
salah satu sudut di fundus uteri yang kemudian menjalar merata
semetris ke seluruh korpus uteri dengan adanya dominasi kekuatan
pada fundus uteri dimana lapisan otot uterus paling dominan,
kemudian mengadakan relaksasi secara merata dan menyeluruh,
hingga tekanan dalam ruang amnion, kembali ke asalnya. (Sarwono,
2006 : 121).
2. Passage
Passage adalah keadaan jalan lahir, jalan lahir mempunyai
kedudukan penting dalam proses persalinan untuk mencapai kelahiran
bayi. Dengan demikian evaluasi jalan lahir merupakan salah satu
faktor yang menentukan apakah persalinan dapat berlangsung
pervaginam atau sectio sesarta. Pada jalan lahir tulang dengan panggul
ukuran normal apapun jenis pokoknya kelahiran pervaginam janin
dengan berat badan yang normal tidak akan mengalami kesukaran,
akan tetapi karena pengaruh gizi, lingkungan atu hal hal lain. Ukuran
panggul dapat menjadi lebih kecil daripada standar normal, sehingga
biasa terjadi kesulitan dalam persalinan pervaginam (Wiknjosastro,
Hanifa 2001 : 637 639).
Pada jalan lahir lunak yang berperan pada persalinan adalah
segmen bawah rahim, servik uteri dan vagina. Disamping itu otot -
otot jaringan ikat dan ligamen yang menyokong alat alat urogenital
juga sangat berperan pada persalinan ( Rustam Mochtar, 2000 : 82 ).
3. Passanger
Passanger adalah janinnya sendiri, bagian yang paling besar
dan keras pada janin adalah janin, posisi dan besar kepala dapat
mempengaruhi jalan persalinan, kepala janin ini pula yang paling
banyak mengalami cedera pada persalinan, sehingga dapat
membahayakan hidup dan kehidupan janin kelak, hidup sempurna,
cacat atau akhirnya meninggal. Biasanya apabila kepala janin sudah
lahir, maka bagian bagian lain dengan mudah menyusul kemudian (
Rustam Mochtar, 2000 : 65 ).
4. Psikis
Psikis adalah kejiwaan Ibu, ada keterkaitan antar faktor
faktor somatic (jasmaniah) dengan faktor faktor psikis, dengan
demikian segenap perkembangan emosional dimasa dari wanita yang
bersangkutan ikut berperan dalam kegiatan mempengaruhi mudah
sukarnya proses kelahiran bayinya. (Rustam Mochtar, 2000).