Anda di halaman 1dari 18

1.

LATAR BELAKANG
Menurut Hurrlock (1964) remaja awal (12/13 17/18 tahun), remaja akhir (17/18
21/22 tahun). WHO menyatakan usia remaja didasarkan pada usia kesuburan (fertilitas)
wanita, namun batasan itu juga berlaku pada remaja pria, dan WHO membagi kurun usia
dalam dua bagian yaitu remaja awal 10-14 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.
Masa remaja akhir adalah masa transisi perkembangn antara masa remaja menuju
dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 18-21 tahun. Pada masa ini terjadi perubahan-
perubahan yang berhubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan
cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan (Anna Freud dalam buku
Hurrlock). Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang
dewasa. Remaja pada masa ini memiliki keinginan yang kuat untuk diterima dalam
kelompok teman sebaya dan orang dewasa. Pada tahap ini remaja menjadi lebih matang.

2. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimana pengertian Masa Remaja Akhir ?
b. Bagaimana bisa Masa Remaja Akhir dikatakan Sebagai Masa Adolessence ?
c. Apa saja perkembangan Masa Remaja Akhir?
d. Apa Saja Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja Akhir ?
e. Apa saja permasalah Remaja yang dihadapi saat Masa Remaja Akhir ?
f. Bagaimana perkembangan Masa Remaja Akhir Dalam Perspektif Islam ?

1
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN MASA REMAJA AKHIR


Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa.
Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan vokasional dan mengembangkan
sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam
kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri pada tahap ini.
Menurut Mappiare masa remaja akhir ialah masa ketika s eseorang individu berada pada
usia 17/18 tahun 21/22 tahun. Dimana saat usia ini rata-rata setiap remaja memasuki
sekolah menengah tingkat atas. Ketika remaja duduk dikelas terakhir biasanya orang tua
menganggapnya hampir dewasa dan berada diambang perbatasan untuk memasuki dunia
kerja orang dewasa.
Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescence yang berarti to grow atau to
grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi
tentang remaja, seperti De Brun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode
pertumbuhan antara masa anak dengan masa dewasa. Perkembangan lebih lanjut, istilah
Adolescence seperti yang dipergunakan saat ini sesungguhnya memiliki arti yang luas,
mencakup kematangan mental, emosional, sosial dan fisik. Pandangan ini didukung oleh
Piaget yang mengatakan bahwa secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu
berintgrasi dengan masyarakat dewasa, usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat
orang-orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama. Sekurang-
kurangnya dalam masalah hak integrasi dalam masalah masyarakat (dewasa) mempunyai
banyak aspek apektif, kurang lebih berhubungan dengan masalah puber. Termasuk juga
perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khsa dari cara berfikir
remaja ini memungkinkan untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa,
yang kenyataannya merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Pada masa ini terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang
berhubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita
merupakan proses pembentukan orientasi masa depan (Anna Freud dalam buku Hurrlock).

2
Masa ini juga merupakan masa penutup dari masa remaja atau pemuda. Masa ini tidak
berlangsung lama, oleh karena itu dengan kepandaiannya, seseorang dalam waktu relative
singkat sering dekali telah sampai pada masa dewasa.1

B. MASA REMAJA AKHIR SEBAGAI MASA ADOLESENCE


Masa remaja akhir adalah masa transisi perkembangan antara masa remaja menuju
dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 17-22 tahun. Pada masa ini terjadi proses
perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan orang tua dan cita-
cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa
depan. (Anna Freud, dalam buku Hurrlock).
Adolessense berasal dari kata adolescere yang artinya: tumbuh, atau tumbuh menjadi
dewasa untuk mencapai kematangan, kematangan adolessense mempunyai arti luas
mencakup kematangan mental, emosional, seksual dan fisik. Pada masa adolessense ini
adalah masa terjadinya proses peralihan dari masa remaja atau pemuda ke masa-masa
dewasa. Jadi masa ini merupakan masa penutup dari masa remaja atau pemuda.Masa ini
tidak berlangsung lama, oleh karena itu dengan kepandaiannya, seseorang yang dalam waktu
relatif singkat sekali telah sampai ke masa dewasa.
Masa adolescence ini sudah mulai stabil dan mantap, ia ingin hidup dengan modal
keberanian, anak mengenal aku-nya, mengenal arah hidupnya, serta sadar akan tujuan yang
dicapainya, pendiriannya sudah mulai jelas dengan cara tertentu. Sikap kritis sudah semakin
tumbuh dan nampak, dalam hal ini sudah mulai aktif serta objektif dalam melibatkan diri ke
dalam kegiatan-kegiatan dunia luar. Juga sudah mulai mencoba mendidik diri sendiri sesuai
pengaruh ataupun interaksi yang diterimanya. Maka dalam hal ini terjadi pembangunan yang
esensial terhadap pandangan hidupnya, dan masa ini merupakan masa berjuang dalam
menentukan bentuk/corak kedewasaannya. Adapun siat-sifat yang dialami pada masa
adolescence ini adalah sebagai berikut:2
Menunjukkan timbulnya sikap positif dalam menentukan sistem tata nilai yang ada.
Menunjukkan adanya ketenangan dan keseimbangan di dalam kehidupannya.

1
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 233-
234
2
Ibid, hlm 235

3
Mulai menyadari bahwa sikap aktif, mengkritik, waktu ia puber itu mudah tetapi untuk
melaksanakannya relatif sulit.
Ia mulai memiliki rencana hidup yang jelas dan mapan.
Ia mulai senang menghargai sesuatu yang bersifat historis dan tradisi, agama, kultur, etis
dan estetis serta ekonomis.
Ia sudah tidak lagi berdasarkan nafsu seks belaka dalam menentukan calon teman hidup,
akan tetapi atas dasar pertimbangan yang matang dari berbagai aspek.
Ia mulai mengambil atau menentukan sikap hidup berdasarkan sistem nilai yang
diyakininya.
Pandangan dan perasaan yang semakin menyatu atau melebar antara erotik dan
seksualitas, yang sebelumnya (pubertas) antar keduanya terpisah.
Pada periode adolescence ini mereka mulai menemukakan hal-hal yang bermakna dalam
hidup mereka, antara lain: 3
Dalam memilih teman
Saling mencintai dan saling menepati janji antara teman
Saling memberi ucapan selamat antara kawan.
Saling tolong menolong antara teman.

C. PERKEMBANGAN MASA REMAJA AKHIR


1) PERKEMBANGAN FISIK
Perkembangan fisik merupakan perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas
sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai
dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang, otot dan kematangan
organ seksual dan fungsi reproduksi. Perubahan dan pertumbuhan fisik remaja akhir
relative berkurang atau dengan kata lain tidak sepesat dalam masa remaja awal. Bagi
remaja pria pada usia 20 tahun dan remaja wanita 18 tahun, keadaan tinggi badan mulai
mengalami pertumbuhan yang lambat.
Pertumbuhan fisik pada remaja putri biasanya sudah mencapai pada puncaknya
atau sudah sempurna, sedangkan pada remaja putra masih terus berlanjut khususnya pada
peningkatan berat, tinggi, massa otot dan rambut pada tubuh.

3
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 235

4
Pertumbuhan fisik erat hubungannya dengan kodisi remaja. Kondisi yang baik
berdampak baik pada pertumbuhan fisik remaja, demikian pula sebaliknya, adapun
kondisi-kondisi yang mempengaruhi sebagai berikut:4
Pengaruh keluarga, meliputi faktor keturunan maupun faktor lingkungan. Karena
keturunan seorang anak dapat lebih tinggi atau panjang dari anak lainnya, sehingga ia
lebih berat tubuhnya, jika ayah ibunya atau kakeknya lebih tinggi dan panjang. Faktor
lingkungan akan membantu menentukan tercapai tidaknya perwujudan potensi
keturunan yang dibawa dari orang tuanya.
Pengaruh gizi, anak yang mendapat gizi cukup biasanya akan lebih tinggi tubuhnya
dan sedikit lebih cepat mencapai taraf dewasa dibandingkan dengan mereka yang
tidak mendapat gizi cukup, sehingga dapat memberikan pengaruh pada remaja
sedemikian rupa sehingga menghambat atau mempercepat potensi untuk
pertumbuhan di masa remaja
Gangguan emosional, anak yang sering mengalami gangguan emosional akan
menyebabkan terbentuknya steroid adrenal yang berlebihan dan ini akan membawa
akibat berkurangnya pembentukan hormone pertumbuhan di kelenjar pituitary (otak).
Bila hal ini terjadi di pertumbuhan awal remajanya maka akn terhambat dan tidak
tercapainya berat tubuh yang seharusnya.
Jenis kelamin, perempuan biasanya akan sedikit lebih berat daripada laki-laki, hal ini
terjadi karena bentuk tulang dan otot pada laki-laki berbeda dengan perempuan.
Perempuan lebih cepat kematangannya daripada laki-laki.
Status sosial ekonomi, umumnya anak yang berasal dari keluarga dengan status
sosial ekonomi rendah, cenderung lebih kecil daripada anak yang berasal dari
keluarga yang status sosial ekonominya tinggi.
Kesehatan, pertumbuhan fisik remaja sangat dipengaruhi oleh kesehatan. Remaja
yang berbadan sehat dan jarang sakit biasanya memiliki tubuh yang lebih tinggi dan
berat atau besar dibandikan yang sering sakit

4
Nurhaedar jafar, Pertumbuhan Remaja, (Makasar: STUDI ILMU GIZI FAK. KESEHATAN MASYARAKAT, 2005), hlm
13-14

5
Secara umum ada beberapa ciri-ciri pokok dalam masa ini dan dengan jelas
membedakannya dengan remaja awal, mengenai pola-pola sikap, pola perasaan, pola
pikir dan pola perilaku nampak. Diantara ciri-ciri khas tersebut adalah:5
Stabilitas mulai timbul dan meningkat
Citra diri dan sikap pandangan yang lebih realistis
Menghadapi masalahnya secara lebih tenang
Perasaan menjadi lebih tenang

Perbedaan perubahan fisik antara remaja awal dan remaja akhir:6


No. Remaja Awal Remaja Akhir
1 Laju pertumbuhan secara umum Laju pertumbuhan secara umum
kembali menurun, sangat lambat
2 Proporsi ukuran tinggi dan berat badan Proporsi ukuran tinggi dan berat badan
sering kurang seimbang (termasuk otot lebih seimbang mendekati kekuatan
dan tulang belulang) tubuh orang dewasa
3 Munculnya ciri-ciri sekunder Siap berfungsinya organ-organ
(tumbuhnya bulu pada pubic region, otot reproduktif seperti pda orang-orang
mengembang pada bagian-bagian yang sudah dewasa
tertentu), disertai mulai aktifnya sekresi
kelenjar jenis (menstruasi pada wanita
dan polusi pada pria pertama kali)
4 Gerak-gerik tampak canggung dan Gerak-geriknya mulai mantap
kurang terkoordinasikan
5 Aktif dalam berbagai jenis cabang Jenis dan jumlah cabang permainan
permainan yang dicobanya lebih selektif dan terbatas pada
ketrampilan yang menunjang kepada
persiapan kerja

5
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 235-
238
6
Ibid, hlm 237

6
2) PERKEMBANGAN SEKSUAL
Masa remaja akhir berusaha secara total menemukan satu identitas, berupa
perwujudan orientasi seksual yang tercermin dari hasrat seksual, emosional, romantis dan
perilaku kasih sayang kepada lawan jenis. Aktivitas seksual remaja banyak diwarnai oleh
pikiran bahwa mereka sedang jatuh cinta kepada satu orang secara khusus untuk waktu
yang lama, tetapi mereka tidak memiliki tingkat kematangan yang diperlukan untuk
mempertahankan hubungan dan kasih sayang. Factor yang mempengaruhi seksualitas
pada remaja timbul, yaitu : 7
Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual (libido
seksualitas) remaja.
Penundaan usia perkawinan. Secara hukum, adanya undang-undang tentang
perkawinanyang menentapkan batas usia menikah (sedikitnya 16 tahun untuk wanita
dan 19 tahun untuk pria), maupun karena norma sosial yang makin lama makin
menuntut persyaratan yang makin tinggi untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan
dan persiapan mental).
Sementara usia pernikahan ditunda, norma-norma agama tetap berlaku dimana
seseorang dilarang untuk melakukan seks sebelum menikah.
Kecenderungan pelanggaran makin terbuka terhadap anak, malah cenderung
membuat jarak dengan anak.

3) PERKEMBANGAN KOGNITIF
Tahap Pemikiran Operasional formal, tahap ini adalah tahap ke empat dan
terakhir dari teori perkembangan kognitif Piaget, yang muncul sekitar 11 sampai 15
tahun. Karya-karya Piaget (1952) menunjukkan bahwa saat mulainya dan matangnya cara
berfikir operasional formal berakhir selama masa remaja awal, sekitar 11 sampai 15
tahun. Kemudian Piaget (1972) meralat pandangannya dan menyimpulkan bahwa
pemikiran operasional formal baru akan tercapai sepenuhnya di akhir masa remaja sekitar
usia 15 sampai 20 tahun.
Pada periode ini remaja dituntut memiliki kemampuan berfikir dan bertindak
secara adaptif, termasuk kemampuan mental yang komplek seperti berfikir,

7
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 239

7
mempertimbangkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi dan menyelesaikan
persoalan-persoalan. Ada beberapa karakteristik kognitif yang bisa terlihat dari remaja
akhir, yaitu :8
Sudah mampu mengoperasikan kaidah-kaidah logika formal
Tercapainya titik puncak kedewasaan bahkan mungkin mapan
Kecenderungan bakat tertentu mencapai titik puncak dan kemantapannya
Remaja akhir menurut Piaget disebut berfikir operasional formal. Namun dalam
kenyataannya tidak semua remaja dapat berfikir formal dengan segera dan secara
sempurna. Meskipun remaja tersebut normal tetapi tidak pernah berada di lingkungan
merangsang cara-cara berfikir, tidak belajar berbagai pengetahuan, apalagi jika tingkat
kecerdasannya dibawah normal, anak tersebut sampai dewasa juga tidak akan dapat
berfikir abstrak. Andi Mappiare (1982:80) menuliskan bahwa perkembangan kognitif
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan yaitu:9
Bertambahnya informasi yang disimpan (dalam otak) seseorang mampu berpikir
efektif
Banyaknya pengalaman dan latihan pemecahan masalah sehingga seseorang dapat
berpikir professional
Adanya kebebasan berpikir menimbulkan keberanian seseorang menyusun hipotesis,
memecahkan masalah, menarik kesimpulan dan berpikir kreatif
Remaja akhir secara relative telah mengalami akan menyusun rencana atau planning
alternative pilihan, misalnya jurusan, teman, pekerjaan dan lain-lain. Namun
perkembangan remaja akhir kadang mengalami gangguan emosi dan gangguan lain,
kemampuan yang harusnya telah dimiliki akan terganggu atau mengalami hambatan.
Bahkan banyak remaja akhir masih seperti remaja awal atau kadang mereka secara
kronologis sudah dewasa tetapi masih seperti anak belasan tahun.10

4) PEKEMBANGAN SOSIAL
Salah satu tugas perkembangan remaja yang sulit adalah berhubungan dengan
penyesuaian sosial. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewas, remaja harus

8
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm 240
9
Ibid, hlm 241
10
Ibid, hlm 241-242

8
banyak membuat penyesuaian baru. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri
dengan meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial,
pengelompokan sosial yang baru, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai
baru dalam dukungan dan penolakan sosial dan niali-nilai baru dalam seleksi pemimpin.
Dalam proses perkembangan sosial, anak juga dengan sendirinya memperlajari
proses penyesuaian diri dengan lingkungannya, baik dilingkungan keluarga, sekolah
maupun masyarakat. Perkembangan sosial individu sangat tergantung oada kemampuan
individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta ketrampilan mengatasi
masalah yang dihadapinya. Karena remaja lebih banyak berada diluar rumah bersama
dengan teman-teman sebaya sebagai kelompok maka pengaruh teman sebaya pada sikap,
pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku lebih besar dari pada pengaruh keluarga.
Ada sejumlah karakteristik yang menonjol dari perkembangan sosial remaja akhir yaitu,
sebagai berikut:11
Berkembangnya kesadaran akan kesunyian dan dorongan akan pergaulan
Adanya upaya memilih nilai-nilai sosial
Meningkatnya ketertarikan pada lawan jenis
Mulai cenderung memilih karier tertentu
Bagaimanapun juga psikologi perkembangan tidak boleh memisahkan diri dari data
sosiologis. Bersikap mandiri sebagai warga negara masyarakat dan menunaikan tanggung
jawab dalam masyarakatnya merupakan hak dan kewajiban remaja yang penting dan
sangat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Juga merupakan suatu kenyataan
bahwa pada kultur yang lebih sederhana seperti di Samoa (Mead, 1951) para remaja lebih
lekas dipandang dewasa, karena pada struktur masyarakat kurang maju lebih sedikit
tuntutan tanggung jawab kemasyarakatan itu. Tetapi sebaliknya tidak ada kultur yang
menuntut kedewasaan kepada orang-orang yang secara bio-psikis belum dewasa.
Sebagai ciri khas anak muda diantara masa pubertas fisik dan yuridis-sosial, adalah
bahwa dia dapat mewujudkan dirinya sendiri. Pada waktu ini anak muda membebaskan
dirinya dari pengaruh kekuasaan orang tua. Hal ini tidak hanya berarti bahwa ia dalam
usahanya untuk berdiri sendiri, mencoba untuk membebaskan dirinya dari pengaruh

11
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm
242-243

9
kekuasaan orang tua, baik dalam segi afektif maupun dalam segi ekonomi seperti halnya
pada remaja yang bekerja. Hal ini berarti bahwa remaja secara mental tidak suka lagi
menurut kepada orang tuanya. Kewibawaan wakil-wakil generasi tua seperti orang tua,
guru, pemimpin-pemimpin adama dan sebagainya tidak lagi begitu saja diterima.12

5) PERKEMBANGAN MORAL
Istilah moral berasal dari kata latin mos (moris), yang berarti adat istiadat,
kebiasaan, peraturan/nilai-nilai atau tatacara kehidupan.13 Moral pada dasarnya
merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam perilaku yang harus dipatuhi dan
moral merupakan kaidah norma dan pranta yang mengatur perilaku individu dalam
hubungannya dengan kelompok sosial dan masyarakat. Moral merupakan standar baik
buruk yang ditentukan bagi individu olen nilai-nilai sosial budaya dimana individu
sebagai anggota sosial.14
Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja ini adalah bahwa
sesuai dengan tingkat perkembangan kognisi yang mulai mencapai tahapan berfikir
operasional format yaitu mulai mampu berpikir abstrak dan mampu memcahkan masalah-
masalah yang bersifat hipotesis, maka pemikiran remaja terhadap suatu permasalahan
tidak lagi hanya terikat pada waktu, tempat, dan situasi, tetapi, juga pada sumber moral
yang menjadi dasar hidup mereka.
Remaja diharapkan mengganti konsep-konsep moral yang akan berlaku umum dan
merumuskanya dalam kode moral yang akan berfungsi sebagai pedoman bagi
perilakunya. Disi ada lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan oleh
remaja yaitu: 15
Pandangan moral individu makin lama makin menjadi lebih abstrak.
Keyakinan moral lebih terpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang salah,
keadilan moral sebagai kekuatan moral yang dominan
Penilaian moral menjadi semakin kognitif.

12
Siti Rahayu Hadinoto, Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya, (Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press, 2014), hlm 292
13
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hlm 132
14
Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Bumi Aksara,
2004), hlm 136
15
Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), hlm 171

10
Penilaian moral menjadi kurang egosentris.
Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa penilaian
moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan emosi.
Beberapa sikap orang tua yang perlu diperhatikan sehubugan dengan perkembangan
moral anak diantaranya sebagai berikut:16
Konsisten dalam mendidik anak.
Sikap orang tua dalam keluarga.
Penghayatan dan pengalaman agama yang dianut.
Sikap konsisten orang tua dalam menerapakan norma.
Dalam perkembangan moral ada tahap-tahap yang berlangsung sama pada setiap
kebudayaan, penahapan yang ditemukan bukan mengenai sikap moral yang khusus,
melainkan berlaku pada proses penalaran yang mendasarinya. Makin tinggi tingkat
penalaran sesorang makin tinggi pula tingkat moral seseorang.17

6) PERKEMBANGAN EMOSI
Dalam perilaku kita sehari-hari pada umumnya disertai dengan perbuatan, seperti
perasaan senang dan tidak senang. Perasaan senang dan tidak senang yang terlalu
menyertai perbuatan-perbutan kita sehari-hari disebut sebagai warna afektif. Warna
afektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau kadang-kadang tidak jelas.
Apabila warna afektif tersebut kuat, perasaan seperti itu dinamakan emosi.
Menurut Crow & Crow, emosi adalah warna afektif yang kuat dan ditandai dengan
perubahan-perubahan fisik. Pada saat emosi, sering terjadi perubahan-perubahan pada
fisik seseorang, seperti:18
Reaksi elektris pada kulit meningkat bila terpesona
Peredaran darah bertambah cepat bila marah
Denyut jantung bertambah cepat bila terkejut
Pernafasan bernafas panjang bila kecewa
Pupil mata membesar bila marah

16
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006), hlm 133
17
Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006), hlm 176
18
Enung Fatimah, Psikologi Perkembangan, (Perkembangan Peserta Didik), (Bandung: VP. Pustaka Setia, 2006),
hlm 104-105

11
Liur mengering kalau takut atau tegang
Bulu roma berdiri kalau takut
Pencernaan menjadi sakit atau mencret-mencret kalau tegang
Otot menjadi ketegangan atau bergetar (tremor)
Komposisi darah berubah dan kelejar-kelenjar lebih aktif.
Masa remaja adalah masa goncang yang terkenal dengan berkecambuknya
perubahan-perubahan emosional. Elizaberth mengatakan bahwa masa remaja adalah
masa badai dan takanan. Suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai
akibat dari perubahan fisik dan kelenjar, atau perubahan jasmaniah, terutama perubahan
hormon seks. 19
Akan tetapi menurut Zakiah Daradjat, bahwa kegoncangan emosi itu tidak hanya
disebabkan oleh perubahan hormon seks dalam tubuh saja, karena perubahan hormon itu
mencapai puncaknya pada permulaan masa remaja awal, sementara perkembangan emosi
mencapai puncaknya pada periode akhir. Oleh karena itu, kita bisa mengatakan bahwa
kegoncangan emosi juga dapat berakibat dari suasana masyarakat dan keadaan ekonomi
lingkungan remaja.
Masa remaja dikenal dengan masa strom and stress, yaitu terjadi pergolakan
emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis
yang bervariasi.
Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak terlepas dari berbagai macam
pengaruh, seperti lingkungan, tempat tinggal, keluarga, sekolah dan teman-teman
sebayanya, serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari.
Penyesuaian diri terhadap lawan jenis termasuk salah satu hal yang menyebabkan
kecemasan pada remaja, karena keadaan dan perasaan ini adalah hal baru. Oleh karena
itu, memerlukan kemampuan untuk menyesiaikan diri, karena dapat menimbulkan
ketegangan emosi. Gejala ini sebenarnya sehat bagi remaja, tetapi tidak jarang
menimbulkan konflik jika tidak diikuti oleh bimbingan dari orang tua atau orang yang
telah dewasa. Begitu pula dengan kehidupan disekolah, ada pula situasi yang

19
Agus Salim Daulay, Diktat, Psikologi Perkembangan, (STAIN PSP, 2010), hlm 93

12
menyebabkan tidak enaknya remaja. Seperti kegagalan dalam belajar, akan menimbulkan
rasa tidak enak, cemas dan mungkin putus asa.20
Diantara faktor terpenting yang menyebabkan ketegangan remaja adalah masalah
penyesuaian diri dengan situasi dirinya yang baru, karena setiap perubahan membutuhkan
penyesuaian diri. Biasanya penyesuaian diri itu didahului oleh kegoncangan emosi,
karena setiap percobaan mungkin gagal atau sukses. Ketakutan atau gagal menyebabkan
jiwanya goncang. Semakin banyak situasi dan suasana baru akan bertambah pula usaha
untuk penyesuaian selanjutnya akan meningkat pula kecemasan.21

7) PERKEMBANGAN BAHASA
Disebutkan dalam tulisan Sunarto dan Ny. B. Agung Hrtono (1994:115) bahwa
kecerdasan atau kinerja pikir seseorang sangat besar relevansinya dengan kemampuan
bahasa. Berbahasa dilandasi kemampuan meniru dan memproduksi perbendaharaan kata
dan sebagainya. Ternyata para remaja yang mendapat bahsa ibu dan bahasa sekolah,
masih mempunyai bahasa yang terbentuk dalam pergaulan masyarakat remaja sendiri.
Bahasa yang cukup menonjol yaitu bahasa sandi, yang hanya diketahui kelompok khusus,
misalnya bahasa prokem, tercipta untuk kepentingan khusus. Misalnya istilah baceman
dikalangan pelajar yang dimaksud adalah bocoran soal ulangan atau tes.22

8) KESADARAN BERAGAMA
Darimana rasa agama pada remaja muncul? Ide-ide agama, dasar-dasar keyakinan
dan pokok-pokok ajaran agama pada dasarnya telah diterima oleh seorang anak pada
masa anak-anak. Apa yang telah diterima dan ditumbuh dari kecil itulah yang menjadikan
keyajinan individu pada masa remaja melalui pengalaman-pengalaman yang
dirasakannya. Kesadaran beragama merupakan bagian atau segi yang hadir (terasa) dalam
pikiran dan dapat diuji melalui intropeksi atau dapat dikatakan bahwa ia adalah aspek
mental dan aktivitas.

20
Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV. Prima, 2008), hlm 90
21
Agus Salim Daulay, Diktat, Psikologi Perkembangan, (STAIN PSP, 2010), hlm 93
22
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm
245-246

13
Jalaludin menyatakan bahwa kesadaran orang untuk beragama merupakan
kemantapan jiwa seseorang untuk memberikan gambaran tentang bagaimana sikap
keberagamaan mereka. Pada kondisi ini, sikap keberagamaan orang sulit untuk diubah,
karena sudah berdasarkan pertimbangan dan pemikiran yang matang.
Ciri-ciri kesadaran beragama yang menonjol pada masa remaja antara lain:23
Pengalaman Ketuhanannya makin bersifat individual
Remaja menemukan dirinya bukan hanya sekedar badan jasmaniah, tetapi
merupakan suatu kehidupan psikologis rohaniah berupa pribadi. Remaja bersifat
kritis, terhadap dirinya sendiri dan segala sesuatu yang menjadi milik pribadinya. Ia
menemukan pribadinya terpisah dari pribadi lain dan alam sekitarnya. Pemikiran,
perasaan, keinginan ciri-ciri dan kehidupan psikologis rohaniah lainnya adalah milik
pribadinya. Penghayatan penemuan diri pribadi ini dinamakan individuasi.
Penemuan diri pribadinya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri menimbulkan rasa
kesepian dan rasa terpisah antara diri pribadinya. Dalam rasa kesendiriannya, si
remaja memerlukan priabadi yang mampu menampung keluhannya, melindungi,
membimbing, mendorong dan memberi petunjuk jalan yang dapat mengembangkan
kepribadiannya. Ia berusaha mencari hakikat, makna dan tujuan hidupnya.
Keimanannya makin menuju realitas yang sebenarnya, dan peribadahannya mulai
disertai dengan penghayatan yang tulus
Remaja mulai mengerti bahwa kehidupan ini tidak hanya seperti yang
dijumpainya secara konkret, tetapi mempunyai makna yang lebih dalam. Ia mulai
memilki pengertian yang diperlukan untuk menangkap dan mengolah dunia rohaniah.
Ia menghayati dan mengetahui tentang agama dan makna kehidupan beragama.Ia
melihat adanya berbagai macam filsafat dan pandangan hidup. Hal ini dapat
menimbulkan usaha untuk menganalisis pandangan agamanya serta mengolahnya
dalam perspektif yang lebih luas dan kritis, sehingga pandangan hidupnya menjadi
lebih otonom.
Dengan berkembangnya kemampuan berfikir secara abstrak, remaja mampu pula
menerima dan mempelajari agama. Yang berhubungan dengan masalah gaib, abstrak
dan rohaniah, seperti kehidupan alam kubur, hari kebangkitan, surga, neraka bidadari,

23
Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, (Bandung: Sinar Baru, 1991), hlm 57

14
malaikat, jin, syetan dan sebagainya. Penggambaran antropomorphic atau
memanusiakan tuhan dan sifat-sifat-Nya lambat laun diganti dengan pemikiran yang
lebih sesuai dengan realitas.
Pemahaman perubahan itu melalui pemikiran yang lebih kritis. Pengertian tentang
sifat-sifat tuhan seperti maha adil, maha mendengar, maha melihat, dan sebagainya,
yang tadinya oleh remaja disejajarkan dengan sifat-sifat manusia berubah menjadi
lebih abstrak dan lebih mendalam.

D. TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA AKHIR


Tugas perkembangan pada masa remaja akhir yaitu:24
Economically
Intellectually
Emotionally self sufficient

E. PERMASALAHAN REMAJA
Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh remaja akhir, sebagai berikut : 25
Tawuran
Seks bebas
Aborsi
Pernikahan dini
Trafficking
Putus sekolah
Depresi
Bunuh diri
Alcohol dan obat-obatan terlararang

F. PERKEMBANGAN REMAJA AKHIR DALAM PERSPEKTIF ISLAM


Menurut perspektif islam, tidak ada dinyatakan istilah remaja secara khusus. Namun
golongan tersebut termasuk dalam kateori pemuda yang seringkali dinyatakan dengan

24
Sunaryo, psikologi untuk keperawatan, (jakarta: EGC, 2004), hlm 57
25
Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi Jaya, 2015), hlm
246-260

15
pengertian bahasanya yaitu syabab atau fataa. Menurut Imam al-Ghazali mendefinisikan
remaja sebagai golongan yang mencapai peringkat baligh yaitu ketika manusia telah
dianggap mempunyai akal yang sempurna da perkembangan akalnya telah matang sehingga
26
mampu untuk menguasai sesuatu dengan sendiri. Akil baligh ini akan menjadi satu titik
pemisah diantara alam kanak-kanak dengan alam remaja. Tempo seseorang itu mencapai
tahap menuju kedewasaan dengan melihat akil baligh sebagai indikasi atau pengukur kepada
tahap kedewasaan tersebut khususnya dalam persoalan kematangan seks. Organ proses
pembiakannya dapat mencapai fungsi kedewasaan pada waktu itu. Perubahan pada setiap
remaja memuncak ketika akil baligh ini.namun begitu, tahap kederasan dan perkembangan
tersebut tidak sama bagi setiap individu.

Sebagaimana yang telah Allah firmankan dalam surah Al-Hajj ayat 5 :









......

Yang artinya : Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari
kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian
dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang
sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami
tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan,
kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu
sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di
antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi
sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya............

26
http://web.usm.my/km/KM XIX,2-2001/PERKEMBANGAN DAN PEMBENTUKAN REMAJA MENURUT PERSPEKTIF
ISLAM.pdf

16
KESIMPULAN

Menurut Mappiare masa remaja akhir ialah masa ketika seseorang individu berada pada usia
17/18 tahun 21/22 tahun. Dimana saat usia ini rata-rata setiap remaja memasuki sekolah
menengah tingkat atas. Ketika remaja duduk dikelas terakhir biasanya orang tua menganggapnya
hampir dewasa dan berada diambang perbatasan untuk memasuki dunia kerja orang dewasa.
Kata remaja berasal dari bahasa latin yaitu adolescence yang berarti to grow atau to grow
maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang
remaja, seperti De Brun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan
antara masa anak dengan masa dewasa. Perkembangan di dalam masa remaja akhir meliputi :
1. Perkembangan fisik
2. Perkembangan seksual
3. Perkembangan kognitif
4. Perkembangan sosial
5. Perkembangan moral
6. Perkembangan emosi
7. Perkembangan bahsa
8. Kesadaran beragama
Beberapa permasalahan yang dihadapi oleh remaja akhir, sebagai berikut :
Tawuran
Seks bebas
Aborsi
Pernikahan dini
Trafficking
Putus sekolah
Depresi
Bunuh diri
Alcohol dan obat-obatan terlarang

17
DAFTAR PUSTAKA

Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama, (Bandung: Sinar Baru, 1991)

Agus Salim Daulay, Diktat, Psikologi Perkembangan, (STAIN PSP, 2010)

Enung Fatimah, Psikologi Perkembangan, (Perkembangan Peserta Didik), (Bandung: VP.


Pustaka Setia, 2006)

Muhammad Ali dan Muhammad Asrori, Psikologi Remaja: Perkembangan Peserta Didik,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2004)

Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV. Prima, 2008)

Siti Hikmah, Psikologi Perkembangan Tinjauan perspektif Islam, (Semarang: CV. Karya Abadi
Jaya, 2015)

Siti Rahayu Hadinoto, Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya,


(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2014)

Sunarto dan Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2006)

Sunaryo, psikologi untuk keperawatan, (jakarta: EGC, 2004)

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2006)

http://web.usm.my/km/ KM XIX,2-2001/PERKEMBANGAN DAN PEMBENTUKAN


REMAJA MENURUT PERSPEKTIF ISLAM.pdf

18