Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air termasuk sumber daya alam yang diperlukan untuk hidup orang banyak,
bahkan oleh semua makhluk hidup. Walaupun air merupakan sumber daya alam
yang dapat diperbaharui, tetapi air akan dapat mudah terkontaminasi oleh aktivitas
manusia. Air banyak digunakan oleh manusia untuk tujuan yang bermacam-
macam sehingga dengan mudah dapat tercemar. Oleh karena itu, sumber daya air
harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta
makhluk hidup yang lain (Effendi, 2003).
Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam
penularan, terutama penyakit perut. Peningkatan kualitas air minum dengan jalan
mengadakan pengelolaan terhadap air yang akan diperlukan sebagai air minum
dengan mutlak diperlukan. Oleh karena itu dalam praktek sehari-hari maka
pengolahan air adalah menjadi pertimbangan yang utama untuk menentukan
apakah sumber tersebut bisa dipakai sebagai sumber persediaan atau tidak.
Kebutuhan manusia akan air bersih untuk domestik dan industri telah
melahirkan berbagai metode pengolahan air. Pengolahan air yang dilakukan
bertujuan untuk menjadikan air layak dikonsumsi sehingga aman bagi kesehatan
manusia. Air yang dihasilkan harus memenuhi syarat kualitas yang mencakup
syarat fisika, kimia, mikrobiologi dan radioaktif sebagaimana standar yang
diberlakukan Departemen Kesehatan RI. Mengingat saat ini air sungai telah
banyak tercemar akibat berbagai aktifitas manusia, maka metode pengolahan air
bersih yang tepat diharapkan mampu mengolah air baku menjadi air bersih yang
memenuhi standar dari segi kualitas dan kuantitas (Sutrisno,1996).
Air yang banyak mengandung mineral kalsium dan magnesium disebut
dengan air sadah atau air yang sukar untuk dipakai mencuci. Senyawa kalsium
dan magnesium bereaksi dengan sabun membentuk endapan dan mencegah
terjadinya busa dalam air. Oleh karena senyawa-senyawa kalsium dan magnesium

1
relatif sukar larut dalam air, maka senyawa-senyawa itu cenderung untuk
memisah dari larutan dalam bentuk endapan atau presipitat yang akhirnya menjadi
kerak. Salah satu tujuan dari pengolahan air adalah untuk menghilangkan
kesadahan di dalam air (Darmono, 2001).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Menjelaskan proses pengolahan air bersih (ion exchange dan sedimentasi).
2. Menghitung efisiensi penyisihan bahan pencemar dari sumber air.
3. Menganalisa hubungan variabel perlakuan terhadap penyisihan bahan
pencemar.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Air
Air adalah zat cair yang tidak mempunyai rasa, warna dan bau, yang terdiri
dari hidrogen dan oksigen dengan rumus kimiawi H2O. Karena air merupakan
suatu larutan yang hampir-hampir bersifat universal, maka zat-zat yang paling
alamiah maupun buatan manusia hingga tingkat tertentu terlarut di dalamnya.
Dengan demikian, air di dalam mengandung zat-zat terlarut. Zat-zat ini sering
disebut pencemar yang terdapat dalam air (Linsley, 1991).

2.2 Peraturan perundang undangan standar baku mutu air


Air sehat bagi masyarakat biasanya didefinisikan sebagai air minum.
Ketentuan tentang air minum, sebagaimana tertuang dalam PP No.16 / 2005
tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, adalah air minum rumah
tangga yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 70
Tahun 2016 tentang Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja
Industri didapat beberapa penjelasan Kualitas Air Minum dan Air untuk keperluan
higiene dan sanitasi

1. Air Minum
Standar baku mutu (SBM) air minum meliputi kualitas fisik, biologi, kimia
dan radioaktivitas. Parameter wajib harus diperiksa secara berkala sesuai
peraturan yang berlaku, sedangkan parameter tambahan merupakan parameter
yang wajib diperiksa hanya bagi daerah yang mengindikasikan terdapat
pencemaran kimia yang berhubungan dengan parameter kimia tambahan tersebut.
Parameter wajib untuk SBM Fisik air minum meliputi 8 parameter yaitu bau, rasa,
suhu, warna, zat padat terlarut (TDS) dan kekeruhan. Penentuan kadar maksimum
bedasarkan pertimbangan kesehatan melalui tolerable daily intake sebesar 2
liter/perorang/hari dengan berat badan rata-rata 60 kg.

3
Tabel 2.2 Standar Baku Mutu Fisik Air Minum

2. Air untuk Keperluan Higiene dan Sanitasi


Standar baku mutu air untuk keperluan higiene dan sanitasi meliputi
kualitas fisik, biologi, dan kimia. Parameter wajib merupakan parameter yang
harus diperiksa secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, sedangkan untuk parameter tambahan hanya diwajibkan untuk diperiksa
jika kondisi geohidrologi mengindikasikan adanya potensi pencemaran berkaitan
dengan parameter tambahan. Air tersebut digunakan untuk pemeliharaan
kebersihan perorangan dan wudhu pekerja serta untuk keperluan sanitasi seperti
peturasan (urinoir) dan toilet. Tabel 2.3 berisi daftar parameter fisik air wajib yang
harus diperiksa untuk keperluan higiene dan sanitasi. Dari jumlah parameter sama

4
dengan air minum tetapi kadar maksimum yang diperbolehkan berbeda karena
airnya tidak untuk diminum tetapi hanya untuk berkumur.
Tabel 2.3 Standar Baku Mutu Fisik Air untuk Keperluan Higiene dan Sanitasi

2.3 Penggolongan Air


Adapun penggolongan air secara umum menurut Effendi (2003), adalah
sebagai berikut :
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara
langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum
3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan
peternakan.
4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian
usaha di perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air.

5
2.4 Sumber Air
Menurut Sutrisno (1996), secara garis besar dapat dikatakan air bersumber
dari :
1. Air Laut
2. Air Atmosfer
3. Air Permukaan
4. Air Tanah

2.4.1 Air Laut


Air yang dijumpai di dalam alam berupa air laut sebanyak 80%, sedangkan
sisanya berupa air tanah/daratan, es, salju, dan hujan. Air laut mempunyai sifat
asin, karena mengandung garam NaCl. Kadar NaCl dalam air laut 3%. Dengan
keadaan ini, maka air laut tak memenuhi syarat untuk air minum.

2.4.2 Air Atmosfer


Dalam keadaan murni, sangat bersih, karena dengan adanya pengotoran
udara yang disebabkan oleh kotoran-kotoran industri atau debu dan lain
sebagainya. Maka untuk menjadikan air hujan sebagai sumber air minum
hendaknya pada waktu menampung air hujan jangan dimulai pada saat hujan
mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran.

2.4.3 Air Permukaan


Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada
umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya,
misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri kota dan
sebagainya.
Setelah mengalami suatu pengotoran, pada suatu saat air permukaan itu akan
mengalami suatu proses pembersihan sendiri. Udara yang mengandung oksigen
atau gas O2 akan membantu mengalami proses pembusukan yang terjadi pada air
permukaan yang telah mengalami pengotoran, karena selama dalam perjalanan,
O2 akan meresap ke dalam air permukaan. Air permukaan ada dua macam yakni :

6
1. Air sungai
Dalam penggunaannya sebagai air minum, haruslah mengalami suatu
pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya
mempunyai derajat pengotoran yang tinggi sekali. Debit yang tersedia untuk
memenuhi kebutuhan akan air minum pada umumnya dapat mencukupi.
Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh adanya zat-zat
organik yang telah membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air
yang menyebabkan warna kuning coklat.
2. Air rawa atau danau
Kebanyakan air rawa ini berwarna yang disebabkan oleh adanya zat-zat
organik yang telah membusuk, misalnya asam humus yang larut dalam air
yang menyebabkan warna kuning coklat.

2.4.4 Air Tanah


Air tanah adalah air yang berasal dari permukaan yang merembes ke dalam
tanah, yang terdapat di dalam ruang-ruang butir antara butir-butir tanah di dalam
lapisan bumi. Suatu saat air ini akan memenuhi lapisan tanah yang keras dan kuat,
maka air ini akan keluar permukaan sebagai mata air. Air tanah terbagi antara :
1. Air tanah dangkal
Air tanah dangkal terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan
tanah. Lumpur akan bertahan, demikian pula dengan sebagian bakteri, sehingga
air tanah akan jernih tetapi lebih banyak mengandung zat kimia (garam-garam
yang larut) karena melalui lapisan tanah yang mempunyai unsur-unsur kimia
tertentu untuk setiap lapisan tanah. Lapisan tanah berfungsi sebagai saringan.
Disamping penyaringan, pengotoran juga masih terus berlangsung, terutama
pada muka air yang dekat dengan muka tanah, setelah lapisan rapat air, air yang
terkumpul merupakan air tanah dangkal dimana air tanah ini dimanfaatkan
sebagai air minum melalui sumur-sumur dangkal.
2. Air tanah dalam
Terdapat setelah lapis rapat air yang pertama. Pengambilan air tanah dalam,
tidak semudah pada air tanah dangkal. Dalam hal ini harus digunakan bor dan

7
pipa sehingga dalam suatu kedalaman (100-300 m) akan didapatkan suatu lapis
air. Kualitas air tanah dalam pada umumnya lebih baik dari air dangkal, karena
penyaringanya lebih sempurna dan bebas dari bakteri. Susunan dari unsur kimia
tergantung pada lapisan tanah yang dilalui. Jika melalui tanah kapur, air akan
menjadi sadah, karena mengandung Ca(HCO3)2 dan Mg(HCO3)2.
3. Mata air
Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan
tanah. Mata air yang berasal dari tanah dalam, hampir tidak terpengaruh oleh
musim dan kualitasnya sama dengan keadaan air tanah dalam.

2.5 Karakteristik Air


2.5.1 Karakteristik Fisik Air
1. Kekeruhan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan
organik yang terkandung dalam air seperti lumpur dan bahan yang
dihasilkan oleh buangan industri.
2. Temperatur
Kenaikan temperatur air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut.
Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang
tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin dapat terjadi.
3. Warna
Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan tersuspensi
yang berwarna dan oleh ekstrak senyawa organik serta tumbuh-tumbuhan.
4. Solid (Zat padat)
Kandungan zat padat menimbulkan bau busuk, juga dapat meyebabkan
turunnya kadar oksigen terlarut. Zat padat dapat menghalangi penetrasi sinar
matahari kedalam air.
5. Bau dan rasa
Bau dan rasa dapat dihasilkan oleh adanya organisme dalam air seperti alga
serta oleh adanya gas seperti H2S yang terbentuk dalam kondisi anaerobik,
dan oleh adanya senyawa-senyawa organik tertentu (Effendi,2003).

8
2.5.2 Karakteristik Kimia Air
1. pH
Pembatasan pH dilakukan karena akan mempengaruhi rasa, korosifitas air
dan efisiensi klorinasi. Beberapa senyawa asam dan basa lebih toksik dalam
bentuk molekuler, dimana disosiasi senyawa-senyawa tersebut dipengaruhi
oleh pH.
2. DO (dissolved oxygent)
DO adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa
dan absorbsi atmosfer/udara. Semakin banyak jumlah DO maka kualitas air
semakin baik. Satuan DO biasanya dinyatakan dalam persentase saturasi.
3. BOD (biological oxygent demand)
BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorgasnisme
untuk menguraikan bahan-bahan organik (zat pencerna) yang terdapat di
dalam air buangan secara biologi. BOD dan COD digunakan untuk
memonitoring kapasitas self purification badan air penerima. Reaksinya
adalah sebagai berikut:
Zat Organik + mikroorganisme + O2 CO2 + mikroorganisme + sisa
material organik
4. COD (chemical oxygent demand)
COD adalah banyaknya oksigen yang di butuhkan untuk mengoksidasi
bahan-bahan organik secara kimia. Reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut :
95%terurai
Zat Organik + O2 CO2 + H2O

5. Kesadahan
Kesadahan air yang tinggi akan mempengaruhi efektifitas pemakaian sabun,
namun sebaliknya dapat memberikan rasa yang segar. Di dalam pemakaian
untuk industri (air ketel, air pendingin, atau pemanas) adanya kesadahan
dalam air tidaklah dikehendaki. Kesadahan yang tinggi bisa disebabkan oleh
adanya kadar residu terlarut yang tinggi dalam air.

9
6. Senyawa-senyawa kimia yang beracun
Kehadiran unsur arsen (As) pada dosis yang rendah sudah merupakan racun
terhadap manusia sehingga perlu pembatasan yang agak ketat ( 0,05 mg/l).
Kehadiran besi (Fe) dalam air bersih akan menyebabkan timbulnya rasa dan bau
ligam, menimbulkan warna koloid merah (karat) akibat oksidasi oleh oksigen
terlarut yang dapat menjadi racun bagi manusia (Effendi,2003).

2.6 Syarat Air Minum


Menurut Sutrisno (1996), dari segi kualitas air minum harus memenuhi
syarat fisik dan syarat kimia.

2.6.1 Syarat Fisik


1. Air tidak boleh berbau
Air minum yang berbau selain tidak estetis juga tidak akan disukai oleh
masyarakat. Bau air dapat memberi petunjuk akan kualitas air. Misalnya, bau amis
dapat disebabkan oleh tumbuhnya Algae.
2. Air tidak boleh berasa
Air minum biasanya tidak memberi rasa/tawar. Air yang tidak tawar dapat
menunjukkan kehadiran berbagai zat yang dapat membahayakan kesehatan. Rasa
logam/amis, rasa pahit, asin, dan sebagainya. Efeknya tergantung pada penyebab
timbulnya bau tersebut.
3. Air tidak boleh berwarna
Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetis dan untuk
mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang
berwarna.
4. Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan oleh zat padat yang tersuspensi, baik yang bersifat
anorganik maupun organik. Zat anorganik, biasanya berasal dari lapukan tanaman
dan hewan. Buangan industri juga dapat menyebabkan kekeruhan. Zat organik
dapat menjadi makanan bakteri, sehingga mendukung perkembang biakannya.

10
5. Suhu air hendaknya di bawah sela udara (sejuk 25oC) agar:
Tidak terjadi pelarutan kimia yang ada pada saluran/pipa yang dapat
membahayakan kesehatan.
Menghambat reaksi-reaksi biokimia didalam saluran atau pipa.
Mikroorganisme patogen tidak mudah berkembang biak
Bila diminum air dapat menghilangkan dahaga.
6. Jumlah zat padat terlarut (TDS)
TDS biasanya terdiri dari zat organik, garam anorganik dan gas terlarut. Bila
TDS bertambah maka kesadahan juga akan naik pula (Sutrisno, 1996).

2.6.2 Syarat Kimia


Air minum tidak boleh mengandung racun, zat-zat mineral atau zat-zat
kimia tertentu dalam jumlah melampui batas yang telah ditentukan. Air minum
tidak boleh mengandung bakteri-bakteri penyakit (patogen) dan tidak boleh
mengandung bakteri-bakteri golongan Escherichia coli melebihi batas-batas yang
telah ditentukan yaitu 1 Escherichia coli /100 ml air.
Bakteri golongan Escherichia coli ini berasal dari usus besar (feaces) dan
tanah. Bakteri patogen yang mungkin ada dalam air antara lain adalah:
Bakteri typshum
Vibrio colereae
Bakteri dysentriae
Entamoeba histolyhes
Bakteri enteritis (penyakit perut)
Air yang mengandung Escherichia coli dianggap telah terkontaminasi
(tercemar) dengan kotoran manusia. Dengan demikian dalam pemeriksaan
bakteriologik, tidak langsung diperiksa apakah air itu telah mengandung bakteri
pathogen, tetapi diperiksa dengan indikator bakteri golongan Escherichia coli
(Sutrisno, 1996).

2.7 Kesadahan

11
Istilah kesadahan digunakan untuk menunjukkan kandungan garam kalsium
dan magnesium yang terlarut, dinyatakan sebagai ekuivalen (setara) kalsium
karbonat. Air sadah adalah air yang mengandung beberapa jenis mineral yaitu Ca,
Mg, Sr, Fe dan Mn yang konsentrasinya tinggi sehingga mengakibatkan air
menjadi keruh dan dapat mengurangi daya kerja sabun serta menimbulkan kerak
pada dasar ketel. Kesadahan air dikenal dengan nama kekerasan air (hard water)
(Gabriel,2001).
Menurut Gabriel (2001), berdasarkan kadar kalsium di dalam air maka
tingkat kesadahan air digolongkan dalam 4 (empat) kelompok yaitu:
1. Kadar CaCO3 terdapat dalam air 0-75 mg/l disebut air lunak (soft water).
2. Kadar CaCO3 terdapat dalam air 75-150 mg/l disebut moderately hard
water.
3. Kadar CaCO3 terdapat dalam air 150-300 mg/l disebut hard water.
4. Kadar CaCO3 terdapat dalam air 300 mg/l ke atas disebut very hard water.
Menurut Gaman (1992), berdasarkan kandungan mineral maka kesadahan
air dibagi dalam 2 (dua) golongan yaitu:
1. Kesadahan air sementara atau temporer disebut pula kesadahan karbonat.
Air disebut mempunyai kesadahan sementara apabila kesadahannya dapat
dihilangkan dengan pendidihan, mengandung kalsium dam magnesium
bikarbonat. Air dengan tipe ini terdapat di daerah berkapur. Sejumlah kecil karbon
dioksidasi terlarut dalam air hujan membentuk asam lemah yaitu asam bikarbonat.
H2O + CO2 H2CO3
Air dioksida Karbon dioksida Asam karbonat
Asam karbonat secara perlahan-lahan melarutkan kalsium karbonat membentuk
kalsium bikarbonat yang larut.
2. Kesadahan air tetap atau permanen disebut pula kesadahan non karbonat.
Air dengan kesadahan tetap mengandung sulfat dan klorida kalsium dan
magnesium yang terlarut dalam air hujan yang lewat menerobos batu-batuan yang
mengandung garam-garam tersebut.

2.7.1 Penentuan Kesadahan Air

12
Kesadahan total yaitu jumlah ion-ion Ca2+ dan Mg2+ yang dapat ditentukan
melalui titrasi dengan EDTA sebagai titran dan menggunakan indikator yang peka
terhadap semua kation tersebut. Pada penentuan kesadahan air, diperlukan
modifikasi dari cara titrasi larutan Mg-Ca murni, karena dalam air sering dijumpai
pengotoran oleh ion besi dan logam-logam lain.
Penambahan buffer pH 10 jumlah molekul EDTA dapat membuat
pasangan kimiawi dengan ion-ion kesadahan dan beberapa jenis ion lainnya.
Pasangan tersebut lebih kuat dari pada hubungan antara indikator dengan ion-ion
kesadahan. Oleh karena itu, pada pH 10 jumlah molekul EDTA yang ditambahkan
sebagai titran sama (ekuivalen) dengan jumlah ion-ion kesadahan dalam sampel,
dan molekul indikator terlepas dari ion kesadahan.
Pada umumnya kesadahan dinyatakan dalam satuan ppm (part per
milloion/satu persejuta bagian) kalsium karbonat (CaCO3), tingkat kekerasan
(dH), atau dengan menggunakan konsentrasi molar CaCO3. Satu satuan
Kesadahan Jerman atau dH sama dengan 10 mg CaO (kalsium oksida) per liter air.
Dengan demikian satu satuan Jerman (dH) dapat diekspresikan sebagai 17,85 ppm
CaCO3. Sedangkan satuan konsentrasi molar dari 1 mili ekuivalen=2,8dH= 50
ppm (Santika, 1984).

2.7.2 Metode Penghilangan Kesadahan Air


1. Pendidihan
Jika air dididihkan, hanya kesadahan sementara yang dapat dihilangkan.
Bikarbonat dipecah menjadi karbonat, air dan karbon dioksida. Persamaan berikut
menunjukkan pemecahan kalsium karbonat:
Ca(HCO3)2 CaCO3 + H2O + CO2
Kalsium Bikarbonat Kalsium Karbonat Air Karbon Dioksida

Persamaan untuk magnesium bikarbonat adalah serupa. Karbonat adalah endapan


dan oleh karena itu tidak bereaksi dengan sabun dan keluar dari larutan.
2. Penambahan kapur mati
Kapur mati (kalsium hidroksida) juga hanya memisahkan kesadahan
sementara. Kapur harus ditambahkan pada jumlah yang telah diperhitungkan

13
sehingga kapur tersebut hanya cukup untuk menetralkan bikarbonat. Terbentuknya
kalsium karbonat yang tidak larut
Ca(HCO3)2 + Ca(OH)2 2CaCO3 + 2H2O
Kalsium Bikarbonat Kalsium Hidroksida Kalsium Karbonat Air
(air sadah) (kapur mati) (tidak larut)

3. Penambahan soda pencuci


Metoda ini menghilangkan kesadahan sementara dan kesadahan tetap. Soda
pencuci (natrium karbonat) bereaksi dengan garam kalsium dan magnesium dalam
air sadah membentuk garam natrium yang larut dengan garam kalsium dan
magnesium yang tidak larut yang tertinggal sebagai endapan. Sebagai contoh:
CaSO4 + Na2CO3 CaCO3 + Na2SO4
Kalsium sulfat Natrium karbonat Kalsium karbonat Natrium sulfat
(air sulfat) (soda pencuci) (tidak larut) (larut)
4. Proses pertukaran ion
Metoda ini digunakan dalam rumah tangga dan industri untuk
menghilangkan kedua tipe kesadahan. Proses ini meliputi penggunaan resin alami
dan resin buatan seperti permutit dan zeolit. Air sadah dilewatkan melalui kolom
yang diisi resin dan ion-ion kalsium dan magnesium dalam air ditukar dengan ion
natrium dalam resin. Resin diregenerasi dengan dialiri larutan garam pekat
(natrium klorida). Hal ini akan mengisi ion natrium lagi (Gaman, 1992).

2.8 Metode Pertukaran Ion


Pertukaran ion pada konsepnya ialah ion-ion yang ditahan oleh gaya
elektrostatis pada permukaan padatan digantikan oleh ion-ion bermuatan sama
yang berada pada larutan. Bahan penukar ion harus mempunyai ion aktif di
seluruh strukurnya, berkapasitas besar selektif untuk jenis ion tertentu, mampu
diregenerasi, stabil secara kimiawi atau fisis serta mempunyai kelarutan rendah.
Metode pertukaran ion adalah suatu reaksi (pertukaran) reversible ion-ion
pada padatan (material atau media penukar ion) dengan yang ada pada larutan,
tetapi tidak terdapat perubahan substansial dalam struktur dari padatan tersebut.
Secara sederhana metode pertukaran ion dapat diartikan sebagai metode untuk

14
menghilangkan ion-ion yang tidak dikehendaki keberadaannya dalam suatu
larutan dengan cara memindah ion tersebut ke media padatan (solid) yang disebut
media penukar ion.
Ada 2 macam resin penukar ion, yaitu resin penukar anion dan resin penukar
kation. Penukar ion positif (resin kation) ialah resin yang dapat mempertukarkan
ion-ion positif dan penukar ion negatif ialah resin yang dapat mempertukarkan
ion-ion negatif. Resin kation mempunyai gugus fungsi asam, seperti sulfonat,
sementara resin anion mempunyai gugus fungsi basa, seperti Amina. Resin
penukar ion dapat digolongkan atas bentuk gugus fungsi asam kuat, asam lemah,
basa kuat, dan basa lemah (Wahono, 2007).

2.9 Metode Pengolahan Air


Metode-metode yang digunakan untuk pengolahan air dapat digolongkan
menurut sifat fenomena yang menghasilkan perubahan yang dapat diamati.
Dengan demikian, istilah operasi satuan fisik dipergunakan untuk
menggambarkan metode-metode yang mendapatkan perubahan-perubahan melalui
penerapan gaya-gaya fisik, misalnya pengendapan gravitasi. Pada proses-proses
satuan kimiawi atau biologis, perubahan diperoleh dengan cara reaksi-reaksi
kimiawi atau biologis (Setiadi, 2007).

2.9.1 Metode Pengolahan Fisik


Metode pengolahan fisik yang sering digunakan adalah :
1. Flokulasi
Flokulasi dilakukan dengan baik yang diberi yang berputar pelan yang
tujuannya memperbesar ukuran flok, tetapi juga mencegah jangan sampai endapan
yang terbentuk mengendap kebawah. Untuk memperbesar ukuran flok ini
ditambahkan bahan-bahan pengental ke dalam air yang mengandung kekeruhan.
Untuk membentuk kumpulan partikel yang mengendap ini dilakukan pengadukan
yang cepat selama 20-30 menit yang akan menyebabkan tumbukan partikel yang
akan membentuk ukuran partikel yang lebih besar.

15
2. Sedimentasi
Sedimentasi adalah salah satu cara penjernihan air, dimana air dilewatkan
pada suatu bak, untuk jangka waktu tertentu. Dimana air mengalir pelan-pelan
(kecepatan rendah) sehingga partikel yang berat jenisnya lebih berat akan segera
mengendap.
3. Filtrasi
Filtrasi adalah suatu cara penjernihan air dengan cara penyaringan. Filter
biasanya terdiri dari berbagai macam lapisan pasir dan batu-batuan dengan
diameter yang bervariasi dari yang sangat halus hingga yang terkasar. Air akan
mengalir melalui filter sedangkan partikel-partikel yang tersuspensi didalamnya
akan melekat pada butiran pasir.
Hal ini akan dapat memperkecil ukuran celah-celah yang dapat dilalui air
dan akan mengurangi daya penyaringan. Maka untuk mengaktifkan kembali filter
harus dicuci kembali dengan membuang bahan-bahan yang melekat ini diperlukan
pembilasan dengan arah aliran pembilas berlawanan dengan arah aliran air yang
akan disaring, pembilas ini dinamakan backwash (Setiadi, 2007).

2.9.2 Metode Pengolahan Kimiawi


Metode pengolahan kimiawi yang sering digunakan adalah koagulasi.
Koagulasi adalah mekanisme dimana partikel-partikel koloid yang bermuatan
negatif akan dinetralkan, sehingga muatan yang netraltersebut saling melekat dan
menempel satu sama lain, dan membentuk flok. Untuk menambah besar ukuran
koloid dapat dilakukan dengan jalan reaksi kimia diikuti dengan pengumpulan
atau dengan cara penyerapan. Partikel koloid memiliki ukuran lebih kecil dari
suatu mikro akan menimbulkan sifat-sifat yang berbeda, karena kecilnya ukuran
partikel maka luas permukaan tiap satuan massa akan semakin besar.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi untuk menghasilkan koagulasi yang
baik, yaitu:
1. Pengontrolan pH

16
Setiap koagulan mempunyai range pH yang spesifik dimana presipitasi yang
maksimum akan terbentuk.
2. Temperatur
Pada temperatur yang rendah, kecepatan reaksi lebih lambat dari viskositas
air lebih besar sehingga akan flok lebih sukar mengendap.
3. Dosis Koagulan
Air dengan turbiditas yang tinggi memerlukan dosis koagulan yang banyak.
Dosis koagulan persatuan unit turbidity tinggi, akan lebih kecil
dibandingkan dengan dosis persatuan untuk air dengan turbiditas yang
rendah (Setiadi, 2007).

17
BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat-alat yang digunakan


1. Bak pengendapan/sedimentasi
2. TDS meter
3. Tangki rerata
4. Cawan penguap
5. Desikator
6. Oven
7. Gelas ukur 100 ml
8. Furnace
9. Timbangan
10. Corong
11. Kertas saring

3.2 Bahan-bahan yang digunakan


1. Akuades
2. Air waduk Faperika
3. Tawas

3.2 Prosedur percobaan


1. Disiapkan alat dan air waduk, alat dipastikan dapat mengalir ke bak
pengendapan, mudah diamati dan dioperasikan.
2. Diukur TDS awal air waduk menggunakan alat TDS meter.
3. Kemudian air waduk diberi tawas sebanyak 1 kg. Lalu diaduk merata selama
30 menit.
4. Diukur kembali TDS air waduk yang telah ditambahkan tawas.
5. Dialirkan sampel air waduk ke dalam bak pengendap dengan debit aliran 10
L/s. Kemudian plat yang digunakan sebanyak 3 plat dengan variasi waktu 30
menit dan 1 jam.
6. Diukur TDS air wadukyang keluar dari bak sedimentasi.

18
7. Selanjutnya dilakukan kembali percobaan yang sama dengan menggunakan
plat sebanyak 7 plat.

19
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


Tabel 4.1 Data Hasil TDS , TSS , TS pada Waktu Detensi 30 Menit
Jumla Debit
TDS Efisiensi TSS Efisiensi TS Efisiensi
h Air
(g) (%) (g) (%) (g) (%)
plate (L/s)
3 10 0.0556 57.94 0.19 26.92 0.2456 37.37
7 10 0.0537 59.37 0.16 38.16 0.2137 45.51

Tabel 4.2 Data Hasil TDS , TSS ,TS pada Waktu Detensi 60 Menit
Jumla Debit
TDS Efisiensi TSS Efisiensi TS Efisiensi
h air
(gr) (%) (gr) (%) (gr) (%)
plate (L/s)
3 10 0.0554 58.77 0.18 30.76 0.2345 40.20
7 10 0.0523 60.43 0.14 46.15 0.1923 50.96

4.2 Pembahasan
Sumber sampel berasal dari Waduk Faperika Universitas Riau. Percobaan
dilakukan untuk menghitung efektivitas dari resin kation dan anion yang
digunakan. Variabel yang divariasikan pada percobaan ini adalah banyak nya plat
yang digunakan,pada percobaan menggunakan 3 plat dan 7 plat. Praktikum ini
dilakukan untuk mengukur efisiensi TSS (Total Suspended Solid) dan TDS (Total
Dissolved Solid) yang terdapat dalam air setelah dilakukan proses sedimentasi.
TSS diukur menggunakan metode gravimetri. Sedangkan untuk TDS dapat diukur
menggunakan alat TDS meter atau secara gravimetri. TSS merupakan padatan
yang tersaring dengan ukuran partikel lebih dari 2 m dan TDS merupakan
partikel yang melewati kertas saring dengan ukuran partikel kurang dari 2 m
(Arifin, 2010).
Pada modul praktikum pengolahan air ini, dilaksanakan proses pengolahan
air secara sedimentasi. Sedimentasi sendiri merupakan proses pemisahan padatan
dan cairan (solid-liquid) dengan menggunakan gaya gravitasi untuk
mengendapkan partikel suspensi, baik dalam pengolahan air bersih (IPAM)
maupun dalam pengolahan air limbah (IPAL) (Reynold, 1996). Air yang diolah

20
pada percobaan ini adalah air waduk dengan volume 250 liter, dengan
penambahan tawas (Al2(SO4)3) sebanyak 1 kg. Pada percobaan ini, bahan
pencemar diendapkan dengan waktu detensi selama 30 menit.
Debit air merupakan volume air yang mengalir tiap satuan waktunya. Debit
air dipengaruhi oleh kecepatan aliran atau waktu yang diperlukan untuk
mengalirkan air dari inlet menuju outlet. Semakin besar kecepatan aliran air atau
semakin kecil waktu yang dibutuhkan untuk mengalirkan air maka debit air
semakin besar. Efektivitas resin merupakan kemampuan optimum resin untuk
menghilangkan ion-ion atau mineral dari dalam air. Efektivitas resin dipengaruhi
oleh waktu kontak antara air dengan resin. Dengan kemampuan resin yang sama,
semakin lama waktu kontak antara air dan resin maka efektivitas resin semakin
tinggi. Berarti semakin rendah debit air, maka efektivitas resin untuk
menghilangkan ion-ion mineral semakin tinggi. Sebaliknya, semakin besar debit
air, maka efektivitas resin untuk menghilangkan ion-ion mineral semakin rendah.
Besarnya debit air mempengaruhi efektivitas resin untuk menyisihkan
kesadahan total. Debit aliran mempengaruhi waktu kontak, dimana semakin besar
debit aliran yang masuk maka waktu kontak semakin pendek pertukaran ion
semakin sedikit. Perbandingan hasil nilai TDS , TSS dan TS pada plat 3 lebih
besar dari nilai TDS , TSS , TS papa plat 7 ,akan tetapi efisiensi pada plat 7 lebih
besar dari efisiensi pada plat 3 . Hal ini membuktikan bahwa hasil sedimentasi
pada plat 7 lebih bagus dari pada sedimentasi pada plat 3.Jika menggunakan plat
banyak akan menghasilkan air yang lebih bagus.

21
BAB V
KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
1. Pengolahan air bersih dapat dilakukan dengan proses sedimentasi.
2. Effisiensi TSS air waduk setelah ditambahkan tawas pada waktu 30 menit
menggunakan 3 plat dengan debit 10 L/s adalah 26.92 %, sedangkan pada
waktu 1 jam menggunakan 3 plat dengan debit 10 L/s adalah 30.76 %.
Kemudian TSS air waduk pada waktu 30 menit menggunakan 7 plat dengan
debit 10 L/s adalah 38.46 %, sedangkan pada waktu 1 jam menggunakan 7
plat dengan debit 10 L/s adalah 46.15 %.
3. Effisiensi TDS air waduk setelah ditambahkan tawas pada waktu 30 menit
menggunakan 3 plat dengan debit 10 L/s adalah 57.94 %, sedangkan pada
waktu 1 jam menggunakan 3 plat dengan debit 10 L/s adalah 58.77 %.
Kemudian TDS air waduk pada waktu 30 menit menggunakan 7 plat dengan
debit 10 L/s adalah 59.37 %, sedangkan pada waktu 1 jam menggunakan 7
plat dengan debit 10 L/s adalah 60.43 %.
4. Effisiensi TS air waduk setelah ditambahkan tawas pada waktu 30 menit
menggunakan 3 plat dengan debit 10 L/s adalah 37.37 %, sedangkan pada
waktu 1 jam menggunakan 3 plat dengan debit 10 L/s adalah 40.20 %.
Kemudian TS air waduk pada waktu 30 menit menggunakan 7 plat dengan
debit 10 L/s adalah 45.51 %, sedangkan pada waktu 1 jam menggunakan 7
plat dengan debit 10 L/s adalah 50.96 %
5.

22
DAFTAR PUSTAKA

Alaerts, G., dan Santika, S. 1984. Metode Penelitian Air. Surabaya: Usaha
Nasional.
Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran (Hubungannya dengan
Toksikologi Senyawa Logam). Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Yogyakarta: Kanisius.
Gabriel, J. F. 2001. Fisika Lingkungan. Jakarta: Hipokrates.
Gaman PM., Sherrington KB. 1992. Ilmu Pangan, Pengantar Ilmu Pangan,
Nutrisi dan Mikrobiologi, Murdijati G,dkk, penerjemah. Yogyakarta:
Gajah Mada University Press. Terjemahan dari: The Science of Food, An
Introduction to Food Science, Nutrition and Microbiology.
Linsley, Ray K., Franzini., Joseph B. 1991. Teknik Sumber Daya Air Jilid II :
Jakarta: Erlangga.
Setiadi. 2007. Pengolahan dan Penyediaan Air. Bandung: Balai Pustaka.
Sutrisno,T. 1996. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Jakarta: Rineka Cipta.
Wahono. 2007.Resin Penukar Ion. Jakarta: Balai Pustaka.

23
LAMPIRAN A
PERHITUNGAN

1. Nilai TSS, TDS, dan TS Air Waduk FAPERIKA UR


Volume : 100 ml
Berat kertas saring kosong : 0.66 g
Berat kertas saring + sampel : 0.92 g
TSS = (Berat kertas saring kosong) (Berat kertas saring + sampel)
= 0.92 g 0.66 g
= 0.26 g
mg 1g 1l
TDS = 1322 x x
l 1000 mg 1000 ml
= 0.1322 g
TS = TSS + TDS
= 0.26 g + 0.1322 g
= 0.3922 g

2. Nilai TSS, TDS, dan TS Air Waduk FAPERIKA UR + Tawas + Pengadukan


Volume : 100 ml
Berat kertas saring kosong : 0.47 g
Berat kertas saring + sampel : 0.68 g
TSS = (Berat kertas saring kosong) (Berat kertas saring + sampel)
= 0.68 g 0.47 g
= 0.21 g
mg 1g 1l
TDS = 1106 x x
l 1000 mg 1000 ml
= 0.1106 g
TS = TSS + TDS
= 0.21 g + 0.1106 g
= 0.3206 g

24
3. Nilai TSS, TDS, dan TS Air Waduk FAPERIKA UR + Tawas + Pengadukan
+ 30 menit Sedimentasi Menggunakan 3 Plat
Volume : 100 ml
Berat kertas saring kosong : 0.66 g
Berat kertas saring + sampel : 0.85 g
TSS = (Berat kertas saring kosong) (Berat kertas saring + sampel)
= 0.85 g 0.66 g
= 0.19 g
mg 1g 1l
TDS = 556 x x
l 1000 mg 1000 ml
= 0.0556 g
TS = TSS + TDS
= 0.19 g + 0.0556 g
= 0.2456 g

4. Nilai TSS, TDS, dan TS Air Waduk FAPERIKA UR + Tawas + Pengadukan


+ 60 menit Sedimentasi Menggunakan 3 Plat
Volume : 100 ml
Berat kertas saring kosong : 0.70 g
Berat kertas saring + sampel : 0.88 g
TSS = (Berat kertas saring kosong) (Berat kertas saring + sampel)
= 0.88 g 0.70 g
= 0.18 g
mg 1g 1l
TDS = 545 x x
l 1000 mg 1000 ml
= 0.0545 g
TS = TSS + TDS
= 0.18 g + 0.0545 g
= 0.2345 g

25
5. Nilai TSS, TDS, dan TS Air Waduk FAPERIKA UR + Tawas + Pengadukan
+ 30 menit Sedimentasi Menggunakan 7 Plat
Volume : 100 ml
Berat kertas saring kosong : 0.74 g
Berat kertas saring + sampel : 0.90 g
TSS = (Berat kertas saring kosong) (Berat kertas saring + sampel)
= 0.90 g 0.74 g
= 0.16 g
mg 1g 1l
TDS = 537 x x
l 1000 mg 1000 ml
= 0.0537 g
TS = TSS + TDS
= 0.16 g + 0.0537 g
= 0.2137 g

6. Nilai TSS, TDS, dan TS Air Waduk FAPERIKA UR + Tawas + Pengadukan


+ 60 menit Sedimentasi Menggunakan 7 Plat
Volume : 100 ml
Berat kertas saring kosong : 0.74 g
Berat kertas saring + sampel : 0.88 g
TSS = (Berat kertas saring kosong) (Berat kertas saring + sampel)
= 0.88 g 0.74 g
= 0.14 g
mg 1g 1l
TDS = 523 x x
l 1000 mg 1000 ml
= 0.0523 g
TS = TSS + TDS
= 0.14 g + 0.0523 g
= 0.1923 g

26
7. Effisiensi
Effisiensi TSS pada 30 menit sedimentassi menggunakan 3 plat
C Cout
x 100
C
0.260.19
x 100
0.26
= 26.92%

Effisiensi TSS pada 60 menit sedimentassi menggunakan 3 plat


C Cout
x 100
C
0.260.18
x 100
0.26
= 30.76%

Effisiensi TSS pada 30 menit sedimentassi menggunakan 7 plat


C Cout
x 100
C
0.260.16
x 100
0.26
= 38.46%

Effisiensi TSS pada 60 menit sedimentassi menggunakan 7 plat


C Cout
x 100
C
0.260.14
x 100
0.26
= 46.15%

Effisiensi TDS pada 30 menit sedimentassi menggunakan 3 plat

27
C Cout
x 100
C
0.13220.0556
x 100
0.1322
= 57.94%
Effisiensi TDS pada 60 menit sedimentassi menggunakan 3 plat
C Cout
x 100
C
0.13220.0545
x 100
0.1322
= 58.77%

Effisiensi TDS pada 30 menit sedimentassi menggunakan 7 plat


C Cout
x 100
C
0.13220.0537
x 100
0.1322
= 59.37%

Effisiensi TDS pada 60 menit sedimentassi menggunakan 7 plat


C Cout
x 100
C
0.13220.0523
x 100
0.1322
= 60.43%

Effisiensi TS pada 30 menit sedimentassi menggunakan 3 plat


C Cout
x 100
C
0.39220.2456
x 100
0.3922
= 37.37%

28
Effisiensi TS pada 60 menit sedimentassi menggunakan 3 plat
C Cout
x 100
C
0.39220.2345
x 100
0.3922
= 40.20%

Effisiensi TS pada 30 menit sedimentassi menggunakan 7 plat


C Cout
x 100
C
0.39220.2137
x 100
0.3922
= 45.51%

Effisiensi TS pada 60 menit sedimentassi menggunakan 7 plat


C Cout
x 100
C
0.39220.1923
x 100
0.3922
= 50.96%

29
LAMPIRAN B
DOKUMENTASI

Gambar B.1 Kondisi Awal Air Waduk Gambar B.2 Proses Pengadukan
FAPERIKA UR Setelah Ditambahkan
Tawas

Gambar B.3 Proses Sedimentasi Gambar B.4 Proses Sedimentasi


Menggunakan 3 Plat Menggunakan 7 Plat

30