Anda di halaman 1dari 14
PENANGANAN PERKARA TINDAK PIDANA SECARA IN ABSENTIA Tim Peneliti Pusat Litbang Kejaksaan RI ABSTRAK Penanganan

PENANGANAN PERKARA TINDAK PIDANA SECARA IN ABSENTIA

Tim Peneliti Pusat Litbang Kejaksaan RI

ABSTRAK

Penanganan Perkara Tindak Pidana Secara In Absentia, mengangkat permasalahan tentang bagaimana implementasi peradilan in absentia dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi sebagai upaya penyelamatan keuangan negara dan pelaksanaan peradilan in absentia dikaitkan dengan hak asasi manusia. Tujuan dari suatu persidangan secara in absentia, seperti dalam perkara tindak pidana korupsi adalah dalam upaya menyelamatkan kekayaan negara, baik yang telah dikorupsi maupun yang masih diduga ada kaitannya dengan perkara korupsi, baik yang telah disita maupun yang belum disita guna dirampas untuk negara melalui suatu putusan pengadilan, meskipun mungkin ada hambatan dalam pelaksanaan eksekusinya. Selain itu, Peradilan in absentia dilaksanakan agar dapat menimbulkan efek jera bagi pelaku korupsi, terutama yang berniat melarikan diri. Sedangkan dilihat dari prinsip hadirnya terdakwa di sidang pengadilan dalam pemeriksaan perkara pidana adalah didasarkan pada hak-hak asasi terdakwa sebagai manusia yang berhak membela diri dan mempertahankan hak-hak kebebasannya, harta bendanya ataupun kehormatannya sehingga dalam persidangan terdakwa dapat melakukan perlawanan atau keberatan atas dakwaan Penuntut umum. Apabila terdakwa tidak memanfaatkan hak tersebut dan terdakwa telah dipanggil secara sah, tidak hadir di pemeriksaan sidang pengadilan tanpa memberikan alasan yang sah, mengacu pada undang-undang tindak pidana tertentu persidangan tetap dilanjutkan diputus tanpa hadirnya terdakwa. Dengan mengadili secara in absentia sesuai dengan peraturan perundang-undangan sudah tepat demi kepastian hukum dan tidak melanggar hak asasi manusia (HAM) tersangka/terdakwa. Lokasi sampel meliputi; wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Aceh, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara, dan Maluku dengan responden Jaksa, Hakim, Dosen dan Pengacara. Total jumlah responden tiga ratus lima puluh empat (354) responden, dipilih secara purpossive sampling. Data dikumpulkan dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide), diolah secara kualitatif.

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

41

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

secara kualitatif. JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012 41 JURNAL BINA ADHYAKSA
1. PENDAHULUAN Latar belakang penentuan topik penelitian, didasarkan suatu pertimbangan bahwa di dalam pemeriksaan

1.

PENDAHULUAN

Latar belakang penentuan topik penelitian, didasarkan suatu pertimbangan bahwa di dalam pemeriksaan perkara pidana kehadiran terdakwa dalam pemeriksaan di sidang pengadilan merupakan hal yang sangat penting, sebagaimana telah diatur dalam Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan bahwa pengadilan memeriksa, mengadili dan memutus perkara pidana dengan hadirnya terdakwa, kecuali undang-undang menentukan lain. Prinsip pentingnya kehadiran terdakwa di sidang pengadilan diatur dalam ketentuan Pasal 1 sub 15 KUHAP, bahwa terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa dan diadili di sidang pengadilan, selanjutnya dalam Pasal 189 ayat (1) KUHAP disebutkan bahwa keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan yang dilakukan atau yang diketahuinya sendiri atau dialami sendiri. Dengan demikian pemeriksaan di sidang pengadilan dilakukan oleh hakim, terbuka untuk umum secara langsung, artinya langsung kepada terdakwa dan para saksi. Pemeriksaan hakim juga dilakukan secara lisan, artinya bukan tertulis antara hakim dan terdakwa.

Diluar KUHAP mengenai peradilan in absentia telah diatur dalam beberapa perundang-undang, seperti Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Undang-Undang No.15 Tahun 2002 sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, Perpu Nomor 1

42

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

Tahun 2002 jo Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dan Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Undang-Undang Nomor 7/drt/1955 tentang Penyusutan, Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2006.

Prinsip hadirnya terdakwa di sidang pengadilan dalam pemeriksaan perkara pidana adalah didasarkan pada hak-hak asasi terdakwa sebagai manusia yang berhak membela diri dan mempertahankan hak-hak kebebasannya, harta bendanya ataupun kehormatannya sehingga dalam persidangan terdakwa dapat melakukan perlawanan atau keberatan atas dakwaan Penuntut umum. Apabila terdakwa tidak memanfaatkan hak tersebut dan terdakwa telah dipanggil secara sah, tidak hadir di pemeriksaan sidang pengadilan tanpa memberikan alasan yang sah, maka mengacu pada undang-undang tindak pidana tertentu persidangan tetap dilanjutkan diputus tanpa hadirnya terdakwa (in absentia).

In absentia dalam tindak pidana korupsi dapat dilihat sebagai suatu prosedur pengecualian (eksepsionalitas) dari hukum acara yang keberadaannya untuk tujuan tertentu yaitu penyelamatan kekayaan negara sehingga baik yang telah dikorupsi maupun yang masih diduga ada kaitannya dengan perkara korupsi, baik yang telah disita maupun yang belum disita guna dirampas untuk negara melalui suatu putusan pengadilan, tentunya tujuan ini berbeda dengan persidangan in absentia dalam perkara tindak pidana tertentu lainnya. Dengan demikian, secara hukum ada sarana yang bisa didayagunakan ketika hendak

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

demikian, secara hukum ada sarana yang bisa didayagunakan ketika hendak JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No.
merespon perbuatan korupsi yang merugikan negara. Dari perspektif hak asasi manusia ada yang beranggapan bahwa

merespon perbuatan korupsi yang merugikan negara.

Dari perspektif hak asasi manusia ada yang beranggapan bahwa peradilan in absentia merupakan suatu pelanggaran terhadap hak asasi manusia karena terkait dengan hak-hak asasi terdakwa sebagai manusia yang berhak membela diri dalam pembelaannya dipersidangan, yaitu hak untuk membantah terhadap barang bukti yang diajukan Jaksa Penuntut Umum maupun keterangan saksi serta hak-hak asasi terdakwa untuk memberikan tanggapan meskipun terdakwa masih diberikan hak untuk mengajukan upaya hukum banding. Disisi lain proses dan prosedur diadakan peradilan in absentia sudah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undang yaitu dengan melakukan pemanggilan secara layak dan diberitahukan di media massa terhadap tersangka tetapi yang bersangkutan tidak hadir dan tidak menggunakan haknya.

Berdasarkan kondisi obyektif sesuai latar belakang, maka penelitian tentang “Penanganan Perkara Tindak Pidana Secara In Absensia” memiliki maksud dan tujuan untuk memberikan gambaran tentang efektivitas peradilan in absentia dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi dan pentingnya penerapan peradilan in absentia dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi sebagai upaya penyelamatan keuangan negara.

Sampling area yang dipilih sebagai lokasi penelitian meliputi : wilayah hukum Kejaksaan Tinggi Aceh, Jambi, Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Utara dan Maluku. Tatacara sampling yang digunakan dalam penelitian adalah non random sampling, jenis purposive sampling, di mana responden ditentukan oleh peneliti berdasarkan pertimbangan bahwa responden yang dipilih memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup luas di bidang

43

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

penegakan hukum. Jumlah responden yang menjadi sampel penelitian 354 responden, terdiri dari berbagai instansi, yaitu :

a. Kejaksaan : 222 responden;

b.

c. Pengacara : 54 responden;

d.

Hakim

Dosen

: 66 responden;

: 12 responden;

2.

HASIL

PEMBAHASAN

PENELITIAN

DAN

a. Eksistensi Peradilan In Absentia Dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi

1) Sikap responden perkara perkara tindak pidana korupsi yang diajukan tanpa kehadiran terdakwa (in absentia)

Sikap responden terhadap perkara tindak pidana korupsi yang diajukan tanpa kehadiran terdakwa, diperoleh data 309 responden (87,3%) berpendapat setuju dengan adanya perkara tindak pidana korupsi yang diajukan tanpa kehadiran terdakwa (in absentia), sedangkan 45 responden (12,7%) menyatakan tidak setuju. Sebagian besar responden setuju dengan adanya perkara tindak pidana korupsi yang diajukan tanpa kehadiran terdakwa (in absentia), mengingat bahwa tujuan dari suatu persidangan secara in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi adalah dalam upaya menyelamatkan kekayaan negara, baik yang telah dikorupsi maupun yang masih diduga ada kaitannya dengan perkara korupsi, baik yang telah disita maupun yang belum disita guna dirampas untuk negara melalui suatu putusan pengadilan.

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

belum disita guna dirampas untuk negara melalui suatu putusan pengadilan. JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No.
Dengan mengacu pada Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, peradilan in absentia

Dengan mengacu pada Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, peradilan in absentia dimungkinkan untuk diterapkan/ dilaksanakan dipengadilan dengan tujuan untuk menyelamatkan kekayaan negara sehingga tanpa kehadiran terdakwa pun, perkara dapat diperiksa dan diputus oleh hakim. Namun demikian hal ini akan menciptakan modus operandi baru bagi koruptor untuk kabur dan membawa lari uang negara karena sudah mendapatkan legitimasi hukum, seorang koruptor mendapat uang negara dengan tidak menghadiri persidangan di pengadilan. Selain itu dikemukakan juga oleh para responden, peradilan in absentia patut diterapkan bagi pelaku yang melarikan diri, dengan pertimbangan bahwa ratio Undang- Undang Tindak Pidana Korupsi ada tiga yaitu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi, menindak pelaku melalui hukuman (efek jera) dan kembalinya kekayaan negara yang dikorupsi. Terhadap pelaku yang melarikan diri ke luar negeri maka ratio kembalinya kekayaan negara yang dikorupsi dapat ditempuh melalui peradilan in absentia, karena dalam peradilan in absentia ada putusan yang menetapkan bahwa barang bukti dan aset yang ada disita dan dikembalikan pada negara.

2) Peradilan in absentia dikaitkan dengan kepastian hukum dan rasa keadilan masyarakat

- Pendapat responden yang berkaitan dengan kepastian hukum serta pandangan masyarakat terhadap peradilan in

44

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

absentia apakah sudah memenuhi rasa keadilan masyarakat. Dari hasil penelitian diperoleh data 311 responden (87,9%) berpendapat bahwa putusan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi sudah mencerminkan adanya kepastian hukum, hal ini sudah tepat apabila semua saksi maupun alat bukti lain telah mendukung bahwa telah terjadi tindak pidana korupsi dan nyata jelas telah ada kerugian negara, maka demi penegakan hukum, peradilan in absentia perlu diterapkan. Sedangkan 43 responden (12,1%) menyatakan belum mencerminkan adanya kepastian hukum.

- Pendapat responden terhadap keinginan dan rasa keadilan masyarakat, diperoleh data 253 responden (71,5%) berpendapat bahwa putusan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi sudah merupakan keinginan dan rasa keadilan masyarakat. Sedangkan 101 responden (28,5%) menyatakan belum merupakan keinginan dan rasa keadilan masyarakat. Berdasarkan data tersebut, sebagian besar responden menyatakan putusan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi sudah mencerminkan rasa keadilan masyarakat. Penerapan peradilan in absentia adalah mengingat korupsi di Indonesia terjadi secara sistematik dan meluas sehingga tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga melanggar hak-hak sosial ekonomi

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

merugikan keuangan negara, tetapi juga melanggar hak-hak sosial ekonomi JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1
masyarakat secara luas serta menghambat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasional. Selain itu, pada dasarnya

masyarakat secara luas serta menghambat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasional.

Selain itu, pada dasarnya sidang in absentia merupakan amanat undang-undang. Namun demikian, penyakit yang diidap oleh para penegak hukum Indonesia tidak cukup memberikan keyakinan kepada publik bahwa kebolehan peradilan in absentia itu dapat dijalankan secara jujur. Hak subyektif jaksa untuk menduga dan yakin, merupakan hak sakti yang sulit diintervensi. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang menjangkiti aparat hukum jelas-jelas membuka ruang yang sangat lebar bagi terjadinya abuse of power untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Untuk itu kontrol yang ketat dan “perlawanan” atas setiap tindakan arogan aparat hukum yang berlindung di balik kesaktian undang-undang menjadi perlu.

b. Pelaksanaan Peradilan In Absentia Dikaitkan Dengan HAM

Pendapat responden terhadap peradilan in absentia merupakan suatu pelanggaran terhadap HAM, diperoleh data 311 responden (87,9%) berpendapat bahwa peradilan in absentia bukan merupakan pelanggaran terhadap HAM, sedangkan 43 responden (12,1%) menyatakan bahwa peradilan in absentia adalah melanggar HAM. Adapun alasan responden yang menyatakan peradilan in absentia bukan merupakan pelanggaran HAM,

45

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

berkenaan dengan adanya pandangan bahwa peradilan in absentia merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia dalam hal hak membela diri di persidangan, hal tersebut adalah keliru karena dalam ketentuan Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 telah diatur bahwa sebelum dilakukan pemeriksaan maupun putusan terhadap perkaranya terdakwa telah di panggil secara sah, namun terdakwa tidak memanfaatkan kesempatan dan hak- haknya yang telah diatur oleh Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan KUHAP. Sehingga dengan sendirinya hak asasi manusia terdakwa berkenaan dengan hak membela diri di persidangan yang telah diakomodir sebelum oleh peraturan perundang- undangan dan ketidakhadiran terdakwa yang telah dipanggil secara sah dalam persidangan tentu saja harus dipandang sebagai tindakan terdakwa yang tidak mau menggunakan haknya tersebut. Hal

ini

merupakan konsekuensi yang harus

di

tanggung oleh terdakwa atas tidak

digunakannya hak-hak terdakwa selama dalam proses penyelidikan, proses penyidikan sampai dengan proses persidangan. Selain itu, tindak pidana korupsi adalah salah satu tindak pidana kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) sehingga di dalam melakukan penanganan terhadap tindak pidana ini dibutuhkan pada usaha yang sangat luar biasa dan upaya peradilan in absentia terhadap tindak pidana korupsi adalah salah satu upaya yang luar biasa dalam menangani tindak pidana korupsi sehingga bukan merupakan pelanggaran hak asasi manusia apabila hal tersebut dapat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

dapat dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli
berlaku. Dengan peradilan in absentia, pemerintah telah melakukan terobosan hukum untuk menyelesaikan permasalahan

berlaku. Dengan peradilan in absentia, pemerintah telah melakukan terobosan hukum untuk menyelesaikan permasalahan terhadap seorang tersangka/terdakwa yang telah melarikan diri atau dengan sengaja tidak menghadiri persidangan untuk menghindari hukuman.

In Absentia

Dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi

1) Efektifitas Peradilan In Absentia Dalam Penanganan Tindak Pidana Korupsi Sebagai Upaya Penyelamatan Keuangan Negara

c. Efektifitas Peradilan

Pendapat responden terhadap peradilan in absentia dalam penanganan tindak pidana korupsi sebagai upaya penyelamatan keuangan negara, diperoleh data 294 responden (83 %) menyatakan peradilan in absentia terhadap tindak pidana korupsi efektif sebagai upaya penyelamatan keuangan negara, sedangkan 60 responden (17%) menyatakan peradilan in absentia tidak efektif sebagai upaya penyelamatan keuangan negara.

Mencermati pendapat sebagian besar responden (83 %) menyatakan bahwa peradilan in absentia terhadap penanganan perkara tindak pidana korupsi efektif sebagai upaya pengembalian kerugian keuangan negara, apabila terhadap aset milik terdakwa yang merupakan hasil korupsi telah dilakukan penyitaan sehingga setelah ada putusan hakim aset-aset tersebut dapat segera dilakukan eksekusi. Namun demikian disisi lain peradilan in absentia menjadi tidak efektif apabila aset milik terdakwa tidak ada

46

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

yang dapat disita atau aset-aset tersebut baru terungkap dipersidangan dan majelis hakim tidak mengeluarkan penetapan untuk memblokir rekening simpanan milik tersangka atau terdakwa yang diduga hasil dari korupsi dan atau untuk menghadirkan aset (apabila berupa barang) dipersidangan untuk kemudian ditetapkan sebagai barang bukti dalam perkara tersebut oleh hakim. Jika keadaannya demikian, penuntut umum tidak dapat memasukkan aset tersebut didalam tuntutannya, padahal berdasarkan fakta yang ada dipersidangan jelas bahwa aset-aset tersebut berasal dari tindak pidana korupsi.

2) Eksekusi Terhadap Terdakwa

- Pendapat responden terhadap eksekusi terdakwa putusan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) bahwa 224 responden (77,8%) menyatakan ada kendala dalam eksekusi terhadap terdakwa, sedangkan 40 responden (13,9%) menyatakan tidak ada kendala dalam eksekusi terhadap terdakwa, dan 24 responden (8,3%) tidak memberi jawaban. Berkaitan dengan eksekusi terhadap terdakwa dalam putusan in absentia, akan ditemui kendala apabila terdakwa berada di negara lain yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan pemerintah Indonesia. Apabila terdakwa tidak diketahui keberadaannya, atau apabila terdakwa diketahui keberadaannya tetapi berada

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

keberadaannya, atau apabila terdakwa diketahui keberadaannya tetapi berada JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 -
dalam yurisdiksi negara lain yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan pemerintah Indonesia, dalam hal ini

dalam yurisdiksi negara lain yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi dengan pemerintah Indonesia, dalam hal ini jaksa tidak dapat secara serta merta melakukan penangkapan kemudian mengembalikan terdakwa ke wilayah Negara Indonesia, sehingga dalam hal ini diplomasi antar kedua negara harus dikedepankan, terlebih dahulu dilakukan. Dikemukakan juga oleh para responden bahwa sulit mencari keberadaan terdakwa apabila dengan biaya yang dianggarkan untuk eksekusi sangat minim, sedangkan meminta bantuan kepada polisi untuk masuk DPO sampai saat ini tidak efektif.

- Sehubungan dengan putusan in absentia tersebut, apakah dapat dimintakan upaya hukum, baik oleh terdakwa maupun penasehat hukumnya, hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 38 ayat (4) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999, bahwa terdakwa atau kuasanya dapat mengajukan banding atas putusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Sedangkan dalam KUHAP, Pasal 67 menyatakan bahwa terdakwa atau penuntut umum berhak minta banding terhadap putusan pengadilan tingkat pertama, kecuali terhadap putusan bebas, lepas dari segala tuntutan hukum dan putusan pengadilan dalam acara cepat. Ketentuan Pasal 67 KUHAP tersebut tidak menegaskan apakah upaya hukum dimaksud, dapat diajukan atas terdakwa,

47

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

baik yang hadir maupun yang tidak hadir dipersidangan tanpa alasan yang sah. Mengacu kepada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 Tahun 1988 yang dikirim kepada Ketua Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri di seluruh Indonesia dengan Surat Nomor MA/Kumdil/7541/XII/88 tanggal 10 Desember 1988 tentang Penasehat Hukum atau Pengacara yang menerima kuasa dari terdakwa atau terpidana “in absentia” yang memerintahkan agar Ketua Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri menolak atau tidak melayani penasehat hukum atau pengacara yang mendapat kuasa dari terdakwa yang tidak hadir dipersidangan, maka hak terdakwa untuk mengajukan upaya hukum menjadi tertutup.

Surat Edaran Mahkamah Agung tersebut nampaknya sejalan dengan ketentuan Pasal 38 ayat (6) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa penetapan perampasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tidak dapat dimohonkan upaya banding. Sedangkan ayat (5) menyatakan bahwa dalam hal terdakwa meninggal dunia sebelum putusan dijatuhkan dan terdapat bukti yang cukup kuat bahwa yang bersangkutan telah melakukan tindak pidana korupsi, maka hakim atas tuntutan penuntut umum menetapkan perampasan barang-barang yang telah disita.

Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 tahun 1988 tersebut, kuasa

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 6 tahun 1988 tersebut, kuasa JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI
hukum terdakwa yang diharapkan dapat memberikan pembelaan, tidak dapat melaksanakan tugasnya dikarenakan kuasa hukum tidak

hukum terdakwa yang diharapkan dapat memberikan pembelaan, tidak dapat melaksanakan tugasnya dikarenakan kuasa hukum tidak diperbolehkan menghadiri persidangan, ini dikarenakan timbulnya asumsi bahwa kuasa hukum mengetahui keberadaan terdakwa, sehingga setuju atau tidak setuju terdakwa harus menerima vonis yang dijatuhkan hakim karena terdakwa tidak bisa mengajukan upaya hukum banding. Sebenarnya pelaksanaan peradilan in absentia tidak melanggar hak-hak terdakwa, hal ini dikarenakan terdakwa telah diberi kesempatan untuk mengikuti setiap tahap-tahap dalam proses penyelidikan, proses persidangan, namun terdakwa tidak memanfaatkan kesempatan dan hak-haknya yang telah diatur oleh Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan KUHAP bahwa seseorang diberi hak untuk memberikan keterangan dan kuasa hukum terdakwa dapat memberikan pembelaan serta dapat menghadirkan saksi yang menguntungkan terdakwa. Namun dengan ketidakhadiran terdakwa dalam persidangan telah menghilangkan hak-haknya tersebut, hal ini merupakan konsekuensi yang harus ditanggung oleh terdakwa atas tidak digunakannya hak-hak terdakwa selama dalam proses penyelidikan, proses penyidikan sampai dengan proses persidangan.

48

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

3) Eksekusi Terhadap Pengembalian Kerugian Negara

Pendapat responden mengenai eksekusi terhadap putusan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde) khususnya dalam pengembalian kerugian keuangan negara (uang denda dan uang pengganti), diperoleh data 185 responden (64,2%) menyatakan ada kendala dalam pelaksanaan amar putusan pengembalian kerugian keuangan negara (uang denda dan uang pengganti), sedangkan 75 responden (26 %) menyatakan tidak ada kendala dalam pelaksanaan amar putusan pengembalian kerugian keuangan negara (uang denda dan uang pengganti), dan 28 responden (9,8 %) tidak menjawab.

Sebagaimana dikemukakan oleh sebagian besar responden yang menyatakan ada kendala dalam melaksanakan eksekusi putusan in absentia terhadap tindak pidana korupsi khususnya dalam pengembalian kerugian negara, maka dalam MLA yang merupakan perjanjian timbal balik dalam masalah pidana antara dua negara asing untuk tujuan informasi dan bertukar informasi dalam upaya menegakkan hukum pidana juga mengalami kendala adanya kelambanan dalam proses pemeriksaan kejahatan, antara lain adanya perbedaan sistem hukum pidana di antara beberapa negara. Seringkali masing-masing negara menginginkan penggunaan sistem hukumnya sendiri secara mutlak dalam penanganan kejahatan, hal

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

sistem hukumnya sendiri secara mutlak dalam penanganan kejahatan, hal JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1
yang sama terjadi pula pada negara lain, sehingga penanganan kejahatan menjadi lamban dan berbelit-belit. Selain

yang sama terjadi pula pada negara lain, sehingga penanganan kejahatan menjadi lamban dan berbelit-belit. Selain itu, kendala diplomatik juga menjadi faktor yang sangat signifikan bagi terhambatnya penanganan kejahatan, karena kondisi ini menyangkut kedaulatan suatu negara yang senantiasa dihormati. Selain itu, perlu diperhatikan bahwa tidak setiap negara memiliki perjanjian ekstradisi dalam pemberantasan kejahatan- kejahatan tertentu, ketiadaan perjanjian ekstradisi ini tentunya akan menyulitkan suatu negara dalam menyidiki pelaku kejahatan yang tinggal di negara lain.

Sebagai dasar pelaksanaan kerjasama ekstradisi dan MLA didasarkan pada tiga hal yang saling terkait satu sama lain, yaitu ketentuan hukum acara pidana, perjanjian antar negara yang dibuat, konvensi dan kebiasaan internasional. Kerjasama ekstradisi dan MLA dapat dilakukan berdasarkan suatu perjanjian dan jika belum ada perjanjian, maka bantuan dapat dilakukan atas dasar hubungan baik.

Apabila jalan ini yang akan ditempuh hakikatnya keberhasilan pengembalian aset diharapkan relatif lebih tinggi karena pembuktian dari hukum perdata semata-mata mencari kebenaran formal (formeele waarheid). Dengan adanya jalinan dua tindakan dalam tindak pidana korupsi berupa pengembalian aset pelaku tindak pidana korupsi dengan melalui tindakan kepidanaan dan tindakan keperdataan diharapkan keadilan masyarakat dapat tercapai.

49

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

Aspek ini harus dipahami lebih mendalam oleh karena sifat dari tindak pidana korupsi sebagai tindak pidana yang luar biasa sehingga pemberantasannyapun tidak dapat dilakukan secara parsial akan tetapi bersifat integral. Dengan adanya jalinan kerjasama bersifat integral tersebut diharapkan nantinya penanggulangan korupsi relatif mendapatkan hasil seoptimal mungkin.

4) Eksekusi Terhadap Barang Bukti Dirampas Untuk Negara

Dalam rangka pengembalian aset hasil kejahatan tindak pidana korupsi, hakim dapat menjatuhkan pidana tambahan berupa perampasan barang bergerak yang berwujud atau tidak berwujud atau barang yang tidak bergerak yang digunakan untuk atau yang diperoleh dari tindak pidana korupsi, termasuk perusahaan milik terpidana dimana tindak pidana korupsi dilakukan, begitu pula harga dari barang yang menggantikan barang-barang tersebut. Pendapat responden tentang penetapan majelis hakim terhadap barang-barang rampasan yang telah disita sebagai barang bukti dirampas untuk negara, diperoleh data bahwa semua responden jaksa dan hakim (100 %) menyatakan setuju dengan penetapan majelis hakim terhadap barang-barang rampasan yang telah disita sebagai barang bukti dirampas untuk negara. Adapun alasan responden setuju dengan penetapan majelis hakim terhadap barang- barang rampasan yang telah disita sebagai barang bukti dirampas untuk negara, adalah dengan putusan terhadap barang rampasan yang telah

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

untuk negara, adalah dengan putusan terhadap barang rampasan yang telah JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No.
disita sebagai barang bukti dirampas untuk negara dapat memberikan beberapa keuntungan antara lain memberikan efek

disita sebagai barang bukti dirampas untuk negara dapat memberikan beberapa keuntungan antara lain memberikan efek jera bagi terdakwa, dapat mengembalikan kerugian keuangan negara dan dapat menghemat pengeluaran negara dari segi pembiayaan penyelesaian suatu perkara korupsi. Selain putusan pidana badan dan denda serta uang pengganti, majelis hakim menetapkan barang-barang rampasan yang telah disita dirampas untuk negara adalah dalam rangka pengembalian kerugian negara akibat tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa yang diputus oleh pengadilan secara in absentia, bahkan terhadap harta benda milik terdakwa yang belum disita pada tahap penyidikan, jaksa dapat menyita harta benda milik terdakwa untuk selanjutnya dilakukan pelelangan guna menutupi uang pengganti yang dibebankan kepada terdakwa (Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001).

d. Hambatan dan Upaya Penanggulang- an Dalam Penanganan Perkara Tindak Pidana korupsi Secara in Absentia.

1) Tahap Penyidikan

Penyidik akan mengalami kendala dalam pengumpulan alat-alat bukti yang sah sesuai dengan KUHAP yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan keterangan tersangka. Meskipun keterangan tersangka dapat dikesampingkan dan diperkuat dengan alat bukti yang lain, namun kehadiran tersangka pada tahap

50

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

penyidikan membantu pengungkapan perkara tersebut menjadi terang dan lengkap.

Selain itu juga dalam pengumpulan barang bukti termasuk harta benda milik tersangka terlebih jika sudah dibawa keluar negeri oleh tersangka yang merupakan aset negara yang perlu disita, sedangkan keluarganya juga tidak diketahui, sehingga apabila ada tuntutan dan putusan yang memutuskan adanya uang pengganti tidak dapat dilakukan eksekusi untuk kerugian negara.

Sebagai upaya penanggulangannya yang dapat ditempuh adalah dengan memperkuat bukti-bukti yang dapat mengungkapkan perbuatan materiil tersangka. Dengan melakukan penguatan alat bukti keterangan saksi, keterangan ahli, surat dan petunjuk akanmembantu penuntut umum membuktikan tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa di pengadilan. Selain itu, upaya yang dilakukan dalam penelusuran kekayaan/asset negara yang telah dikorupsi adalah dengan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait sehingga dapat diketahui keberadaan asset-asset tersangka kemudian secepatnya dilakukan penyitaan.

2) Tahap Penuntutan

Proses penuntutan adalah untuk mencari bukti materiil atas tindak pidana yang dilakukan oleh terdakwa dengan berdasarkan alat bukti yang sah seperti keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa dikaitkan dengan barang bukti yang mendukung pengungkapan perkara

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

terdakwa dikaitkan dengan barang bukti yang mendukung pengungkapan perkara JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1
tersebut. Penuntut umum dapat memperkuat bukti-bukti keterangan saksi, ahli, surat berdasarkan hasil penyidikan, untuk

tersebut. Penuntut umum dapat memperkuat bukti-bukti keterangan saksi, ahli, surat berdasarkan hasil penyidikan, untuk mengungkapan perbuatan materiil yang dilakukan oleh terdakwa yang tidak hadir dipersidangan. Namun demikian penuntut umum akan mengalami kendala yaitu pada saat persidangan tidak dapat mengkonfirmasi alat bukti yang ada apabila terdakwa tidak hadir. Kendala lainnya adalah terdakwa tidak hadir selama tiga kali dan telah dipanggil secara patut, juga tidak hadir dan ketidakhadirannya tidak sah atau tidak ada alasan yang wajar maka dengan ketentuan Pasal 38 ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999, persidangan dapat dilanjutkan sampai adanya putusan, dalam hal ini kendalanya adalah memerlukan waktu karena penuntut umum harus benar-benar menunjukkan majelis hakim bahwa panggilan terhadap terdakwa telah sampai kepada yang bersangkutan atau keluarganya.

Upaya untuk menanggulangi kendala tersebut adalah melakukan penelusuran aset-aset terdakwa sejak awal dan ditindaklanjuti dengan penyitaan, kemudian meneliti dengan cermat akan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa dengan menggunakan ketentuan Pasal 184 KUHAP yang intinya jaksa harus memiliki minimal dua alat bukti terhadap perkara tersebut. Selain itu, upaya yang lain adalah melakukan penggilan kepada terdakwa secara patut dan diyakinkan banwa panggilan tersebut telah sampai kepada tersangka atau kuasa hukumnya atau kepada keluarga dekat terdakwa sehingga bukti panggilan tersebut dapat menjadi

51

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

alasan untuk terus melanjutkan perkaranya.

3) Tahap Eksekusi

Eksekusi merupakan pelaksanaan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (in kracht van geweijsde). Jaksa akan mengalami kesulitan untuk melaksanakan pidana badan terhadap terdakwa tindak pidana korupsi yang diputus secara in absentia, juga terhadap pidana denda dan uang pengganti apabila hasil kekayaan yang diduga dari korupsi telah habis atau telah dipindahtangankan pada orang lain atau asset kekayaan lebih kecil dari uang denda maupun uang pengganti yang telah diputuskan oleh pengadilan, sedangkan untuk pelaksanaan putusan perampasan harta benda terdakwa yang dirampas untuk negara dapat dilakukan pelelangan dan hasilnya disetorkan ke kas negara.

Dalam hal ini kendalanya adalah dapat terjadinya adanya perlawanan atau gugatan secara keperdataan dari keluarga terdakwa maupun pihak ketiga atau pengajuan keberatan dari pihak ketiga kepada pengadilan, sesuai dengan ketentuan Pasal 19 ayat (2) UU Nomor 31 Tahun 1999.

Upaya yang dilakukan terhadap keberatan terdakwa yang tidak diketahui keberadaannya adalah berkoordinasi dengan Kepolisian atau Interpol dengan Kementerian Hukum dan HAM (melakukan pencegahan untuk pergi ke luar negeri), juga dengan membuat perjanjian ekstradisi dengan negara- negara yang sering dijadikan

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

membuat perjanjian ekstradisi dengan negara- negara yang sering dijadikan JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1
persembunyian/melarikan diri para pelaku tindak pidana korupsi, antara lain seperti negara Singapura dan Cina. Sedangkan

persembunyian/melarikan diri para pelaku tindak pidana korupsi, antara lain seperti negara Singapura dan Cina. Sedangkan upaya terhadap eksekusi denda dan uang pengganti adalah melakukan koordinasi dengan instansi terkait seperti Bank Indonesia, PPATK, juga dengan BPN (berkaitan dengan aset tanah dan bangunan). Selain itu, melakukan hubungan diplomatik terhadap aparat terkait yang berada di negara- negara lain yang menjadi tempat bersembunyi/menyimpan asset hasil korupsi sebagaimana diatur dalam konvensi PBB Anti Korupsi (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006) maupun Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2006 tentang Bantuan Hukum Timbal balik Dalam Masalah Pidana. Sedangkan upaya terhadap adanya perlawanan/ keberatan dari keluarga terdakwa maupun pihak ketiga adalah dengan penyempurnaan terhadap hukum acara pidana khusus dalam perkara in absentia.

3. PENUTUP

1. Kesimpulan :

Berdasarkan data empiris sebagaimana tersebut di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

a. Berdasarkan Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 peradilan in absentia dapat diterapkan/dilaksanakan di pengadilan dengan tujuan untuk penyelamatan kekayaan negara sehingga tanpa kehadiran terdakwa pun, perkara dapat diperiksa dan diputus oleh hakim. Peradilan in absentia patut diterapkan bagi pelaku

52

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

yang melarikan diri, dengan pertimbangan bahwa ratio Undang- Undang Tindak Pidana Korupsi ada tiga yaitu mencegah terjadinya tindak pidana korupsi, menindak pelaku melalui hukuman (efek jera) dan kembalinya kekayaan negara yang dikorupsi. Ratio kembalinya kekayaan negara yang dikorupsi dapat ditempuh melalui peradilan in absentia, karena ada putusan yang menetapkan bahwa barang bukti dan aset yang ada disita dan dikembalikan pada negara. Dengan adanya perdilan in absentia tersebut akan memberikan kepastian hukum kepada terdakwa yang tidak diketahui keberadaannya.

b. Peradilan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi dapat efektif untuk menyelamatkan kekayaan negara apabila terhadap asset milik terdakwa yang merupakan hasil korupsi telah dilakukan penyitaan sehingga setelah ada putusan hakim yang menetapkan agar asset milik terdakwa yang disita dan terbukti merupakan hasil korupsi dirampas untuk negara, maka jaksa penuntut umum dapat segera melakukan eksekusi terhadap harta dan aset tersebut untuk diserahkan kembali kepada negara sebagai bentuk pengembalian kerugian keuangan negara. Disisi lain peradilan in absentia menjadi tidak efektif apabila aset milik terdakwa tidak ada yang dapat disita karena tujuan utama diterapkan peradilan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi adalah penyelamatan kekayaan negara.

c. Pada hakekatnya, pengembalian aset (asset recovery) pelaku tindak

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

c. Pada hakekatnya, pengembalian aset ( asset recovery ) pelaku tindak JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI
pidana korupsi sangat penting eksistensinya, dalam hal ini ada beberapa argumentasi sebagai justifikasi teoritis dan

pidana korupsi sangat penting eksistensinya, dalam hal ini ada beberapa argumentasi sebagai justifikasi teoritis dan praktek yaitu:

1) Justifikasi filosofis, maka pengembalian aset pelaku tindak pidana korupsi dapat terdiri dari benda tetap maupun benda bergerak atau dapat pula berupa uang hasil korupsi baik yang berada di dalam negeri (Indonesia) maupun di luar negeri. Dari dimensi ini, maka aset tersebut hakikatnya merupakan uang negara in casu adalah berasal dari dana masyarakat.

2) Justifikasi sosiologis, yaitu dikaji dari perspektif ketentuan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi maka aspirasi masyarakat untuk memberantas korupsi dan bentuk penyimpangan lainnya semakin meningkat. Dalam kenyataannya ada perbuatan korupsi telah menimbulkan kerugian negara yang sangat besar sehingga berdampak pada timbulnya krisis di berbagai bidang.

3) Justifikasi yuridis praktis, dalam hal ini ketentuan Undang- Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi memberikan ruang gerak dan dimensi lebih luas baik bagi penegak hukum, masyarakat dan segala lapisan untuk lebih komprehensif dalam menanggulangi akibat dan dampak dari perbuatan korupsi. Oleh karena itu kebijakan legislasi memberikan ruang dalam pemberantasan korupsi dapat dilakukan melalui tindakan

53

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

kepidanaan (criminal procedure) dan tindakan keperdataan (civil procedure).

d. Penerapan peradilan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi tidak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) karena penerapan dan prosedurnya dilakukan berdasarkan ketentuan Undang-Undang, antara lain dilakukan pemanggilan beberapa kali dan telah diumumkan atau diberitahukan kepada kuasanya tetapi terdakwa tidak hadir dipersidangan dan sengaja tidak menggunakan haknya. Meskipun hak untuk memperoleh keadilan senantiasa melekat pada diri manusia karena hak itu bersifat universal tetapi dalam kasus ini terdakwa justru telah melanggar hak asasi banyak pihak yang telah dirugikan karena perbuatannya.

e. Kendala yang ditemui dan upaya penanggulangannya dalam penerapan peradilan in absentia terhadap perkara tindak pidana korupsi adalah:

1) Dalam proses penyidikan, kendala yang dihadapi adalah kesulitan mengumpulkan alat- alat bukti dan barang bukti termasuk harta benda milik tersangka terlebih jika sudah dibawa ke luar negeri. Sebagai upaya penanggulangannya adalah melakukan koordinasi dan kerjasama dengan instansi lain yang berkaitan dengan harta kekayaan tersangka misalnya BPN (berkaitan dengan aset tanah dan bangunan), dengan PPATK (berkaitan dengan aset keuangan).

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

aset tanah dan bangunan), dengan PPATK (berkaitan dengan aset keuangan). JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No.
2) Dalam proses persidangan, kendalanya adalah tidak dapat mengkonfirmasi alat bukti yang ada, disamping itu

2) Dalam proses persidangan, kendalanya adalah tidak dapat mengkonfirmasi alat bukti yang ada, disamping itu memerlukan waktu yang lama untuk menghadirkan terdakwa. Upaya penanggulangannya adalah melakukan penelusuran aset-aset terdakwa sejak awal dan ditindaklanjuti dengan penyitaan untuk memperkuat alat-alat bukti guna mengungkapkan kebenaran materiil yang dilakukan terdakwa.

3) Dalam proses eksekusi, kendala yang dihadapi adalah kesulitan untuk melaksanakan pidana badan, pidana denda dan uang pengganti. Upaya penanggulangannya yang dapat dilakukan adalah melakukan koordinasi dengan Interpol, Kementerian Luar Negeri, Imigrasi, PPATK, dan membuat perjanjian ekstradisi serta perjanjian bantuan hukum timbal balik dalam penyelesaian perkara pidana dengan beberapa negara yang sering dijadikan tempat untuk melarikan diri/ bersembunyi para koruptor

2. Saran :

Berdasarkan kesimpulan sebagaimana tersebut di atas dapat ditarik beberapa saran/masukan dalam rangka peningkatan kualitas penegakan hukum perikanan, khususnya dalam rangka penanganan perkara tindak pidana secara in absentia sebagai berikut:

a. Agar masyarakat dapat menerima sebagai hukum positif yang telah diatur dalam Undang-Undang, perlu melakukan sosialisasi berupa

54

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

penyuluhan hukum kepada masyarakat tentang pentingnya pelaksanaan peradilan secara in absentia dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi sebagai wahana agar kekayaan/aset negara dapat diselamatkan, sementara kepastian hukum dapat terus ditegakkan.

b. Untuk lebih mengefektifkan upaya penyelamatan kekayaan negara melalui implementasi peradilan in absentia dalam perkara tindak pidana korupsi, sebaiknya sejak awal penelusuran aset-aset terdakwa segera dilakukan penyitaan terhadap aset yang diduga merupakan hasil kejahatan korupsi.

c. Untuk menyelamatkan kekayaan negara dalam perkara tindak pidana korupsi yang diputus secara in absentia, perlu mengoptimalkan peran satuan kerja DATUN (Perdata dan Tata Usaha Negara) dalam hal penyelesaian eksekusi pidana tambahan “uang pengganti’.

d. Penerapan peradilan in absentia sebaiknya dilaksanakan apabila telah dilakukan tindakan penyitaan terhadap uang dan atau barang milik tersangka sejumlah kerugian negara yang diakibatkan dari tindak pidana korupsi tersebut.

e. Perlu dibuat Juklak dan Juknis dari Jaksa Agung tentang peradilan in absentia dalam perkara korupsi.

JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No. 1 - Juli 2012

dari Jaksa Agung tentang peradilan in absentia dalam perkara korupsi. JURNAL BINA ADHYAKSA Vol. VI No.