Anda di halaman 1dari 17

LEGENDA GUA PUTRI

Pelaku :

1. Putri Dayang Merindu


2. Serunting Sakti/ Si Pahit Lidah
3. Raja Balian
4. Ratu
5. Dayang I
6. Dayang II
7. Pengawal I
8. Pengawal II
9. Kakek Buyut
10. Warga Kampung (petani, pengail ikan, anak-anak)

( Disebuah tempat tidur nenek melihat ketiga cucunyq bertengkar

memperebutkan boneka micky mouse)

Anak 1 : ini punya aku..!! (menarik)

Anak 2 : enak saja ini punya aku..!! (merampas)

Anak 3 : jangan.ini punya aku!

(lalu nenek pun masuk kedalam kamar itu dan mencoba melerai kedua

cucunya dengan memulai mendongeng dengan maksud cucunya bisa

tertidur tanpa bertengkar lagi)

Nenek : cucu-cucu nenek yang cantik..jangan bertengkar lagi ya, karna

nenek akan bercerita tentang sebuah kisah seorang

pengembara sakti yang mempunyai kesaktian dalam ucapannya yang

mengakibatkan sebuah kampung berubah menjadi sebuah gua batu..

(dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran cucu-cucunya

bertanya)

Anak2 : nek..apakah kisah itu benar adanya??

Anak 1 :iya nekkenapa bisa terjadi seperti itu?

Anak 3 : ih, ceritanya menyeramkanayo nek cerita, kami jadi

penasaran..?

Anak 1 dan 2: iya.iyacerita nek ?


Nenek : benar atau tidak, kita tidak tahu,tapi yang jelas gua putri itu sekarang

menjadi sebuah objek wisata didaerah Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan.

( lalu setelah sedikit menjelaskan kepada kedua cucunya sang nenek pun

memulai ceritanya..)

BABAK I
(Suasana perkampungan. Orang-orang berangkat ke ladang, ke sungai
sambil membawa peralatan masing-masing).
Di istana.
Putri : Dayang! (memanggil sambil bangun dari ranjang)
Dayang : (segera bergegas menuju ranjang dan membungkukkan badan)
Hamba, tuan, Putri.
Putri : Apakah ayahanda dan Ibunda sudah bangun?
Dayang : Raja dan Ratu sudah bangun, tuan Putri sekarang mereka bersiap
untuk bersantap. Apakah tun Putri akan mandi sekarang? Hamba akan
mempersiapkan air panas.
Putri : (meregangkan badan dan membenahi rambutnya yang panjang)
.(bergumam dan tersenyum)
Dayang : Bagaimana, tuan Putri? (memandang Putri sejenak kemudian
menunduk kembali)
Putri : (berdiri membelakangi dayang) Tidak perlu, sekarang kamu siapkan
saja perlengkapan mandi untuk diriku. Aku akan mandi ke sungai.
Dayang : Maaf, Tuan Putri, tapi ibu Ratu tadi berpesan agar Tuanku sesegera
mungkin mandi dan mempersiapkan diri karena Ibu Ratu dan Raja
sudah menunggu Tuan Putri di ruang makan.
Putri : Kamu bilang saja, aku kurang enak badan jadi aku tidak bisa ikut
makan bersama. Aku akan mandi ke sungai seorang diri, kalian tidak
perlu ikut
Dayang : (bingung) Tapi, tuanku(terbata-bata) jika ibu Ratu mengetahui
Tuan Putri mandi seorang diri ke sungai, Ibu Ratu akan murka. Jadi
hamba mohon Tuan Putri menuruti perintah Ibu ratu untuk segera
mandi dan mempersiapkan diri.
Putri : (berbalik dan mendekatkan kepala ke telinga dayang)Kalau mulut
kamu tidak mengatakan apa-apa, Ibunda pasti tidak akan tahu kan?
Dayang : Tapi Tuan Putri
Putri : (Memotong) Sudah, cepat. Persiapkan saja perlengkapan mandiku.
Mumpung matahari belum meninggi. Aku ingin merasakan segarnya air
sungi.(bergumam dan tertawa kecil).
Dayang : ba..ba..ik Tuan P utri (membungkuk sambil melangkah mundur
perlahan)
Pinggir Hutan. Putri melangkah hati-hati menelusuri jalan setapak. Matanya
menoleh kiri dan kanan.
Tiba di tepi sungai.
Putri : (tertawa riang sambil berlari kecil menuju bebatuan tepi sungai)
Aihjernihnya sungai ini, segarnya (bermain air)
Putri berganti pakaian dengan melilitkan kain sarung ke tubuhnya.
Sepasang mata mengintai.
Serunting : (Menyibakkan ranting) Siapa gadis cantik itu?
(Putri melantunkan tembang)
Sirinting : (Kagum) Selain parasnya cantik, suaranya juga merdu.(berdecak)
Putri samar-samar mendengar suara. Kaget. Spontan mengambil memeluk bajunya.
Putri : Siapa? (ketakutan)
(hening)
Putri :Siapa di situ??? Keluar.
(Hanya bunyi air sungai)
Putri : Spertinya tadi aku mendengar suara orang. (bingung) Apa ku salah
dengar, ya? Tidak ada siapa-siapa di sini.
( matanya menyapu sekeliling tempat dia mandi)
(lega)
Putri : Ah..mungkin hanya perasaan ku saja. (meletakkan kembali bajunya
dan meneruskan mandi)
Serunting mendekat tetapi masih bersembunyi.
Serunting : Gadis itu cantik sekali, aku ingin melihat dia lebih dekat (melangkah
perlahan-lahan) sempurna sekali. Tubuhnya indah, kulitnya putih
bersinar dan rambutnya hitam dan panjang terurai. Baru kali ini aku
melihat gadis yang memiliki kacantikan yang sempurna. Apakah dia
peri yang turun dari kayangan dan mandi si sungai di tengah hutan
begini?
Putri masih asyik mandi.
Serunting tidak tahan hanya melihat dari kejauhan saja, Ia pun mendekati Putri yang
duduk membelakanginya.
Serunting : Wahai Putri yang cantik. (berdiri di depan putri)
(Putri kaget dan badannya terhentak ke belakang, kepalanya menengadah ke atas)
Serunting : (senyum)Mengapa Putri mandi seorang diri di tengah hutan begini???
Tidak pantas Putri cantik seperti kamu mandi hanya sorang diri .
(jongkok) Bolehkah saya menemani Putri yang cantik ini mandi?
Putri :.. (ketakutan. Bibirnya bergetar namun tidak mengeluarkan kata
sepatah pun.)
Serunting : Rupanya selain cantik, memiliki suara yang merdu, Putri juga
pemalu..(tertawa)
Putri :.(berdiri dan merapikan rambutnya, tangannya gemetaran)
Serunting bangkit berdiri, tangan hendak menyentuh rambut Putri. Namun Putri
mengelak sambil mundur.
Serunting : (tertawa semakin keras) Putri, siapa gerangan namamu?? Namamu
pasti indah seperti parasmu yang cantik.
Putri : (diam membisu dan menunduk)
Serunting : Kenapa kau hanya diam?? Ayo sebutkan siapa namamu!!!
Baiklah kalau kau belum mau menyebutkan sapa namau aku akan
memperkenalkan diri. (menunjuk diri) namaku .aku mengembara
sampai ke hutan ini. Tidak disangka aku bertemu dengan gadis
secantik kamu. Sungguh aku laki-laki yang beruntung (tertawa semakin
keras).
Putri : (siap-siap hendak pergi)
(serunting memegang pundak Putri)
Serunting : heitunggu (terpancing marah). Kamu hendak kemana? Tidakkah
kamu hiraukan aku yang bertanya tadi?? Siapa namamu???
(Putri ketakutan dan mundur beberapa langkah)
Serunting :Kenapa kau hanya diam,heh???. Sombong sekali. Kau cantik tetapi
sombong. Aku bertanya kau hanya diam tidak mejawab pertanyaanku.
Apa yang harus aku lakukan agar kau mau bicara menyebutkan
namamu?? (mendekati Putri dan mendengus)
Putri : (menjauh)
Serunting : Huhgadis keras kepala dan sombong (marah). Kau diam dan tidak
bicara sepatah kata pun padaku. Tak ubahnya kau seperti batu.
Hendaknya KAU MENJADI BATU. BATU. BATU
Serunting kesal dan meninggalkan Putri yang diam kaku berdiri .Pelan-pelan tubuh
putri menjadi kaku dan tidak bisa digerakkan. Badannya perlahan-
lahan menjadi batu. Serunting meninggalkan Putri meninggalkan
sungai dan melanjutkan perjalanannya menuju perkampungan.

***

BABAK II
(Di Istana. Raja duduk di singasana didampingi Ratu yang sedang
merajut. Dayang-dayang berdiri di dekat Ratu sementara ada dua orang
pengawal tegap yang berdiri di depan pintu masuk sambil memegangi
pedang)
Raja :(menghirup aroma teh dan meminumnya)Dinda, kenapa rasanya hari
ini terasa beda dari hari biasanya ya?
Ratu :(menatap suaminya dengan lembut dan menghentikan rajutannya)
Apanya yang beda kakanda? Tidak ada yang beda. Semua berjalan
seperti biasanya seperti kemarin-kemarin. Warga sibuk dengan kegiatan
mereka seperti biasanya. Penghuni istana juga sibuk dengan kegiatan
kita masing-masing (tertawa kecil)
Raja : (Raja terlihat gelisah)Entahlah(menghembuskan nafas panjang )
tetapi hatiku tiba-tiba saja merasa tidak enak, seakan akan ada sesuatu
hal buruk yang bakal terjadi..
Ratu :Apakah kanda mengkhawatirkan putri kita? Dia hanya tidak enak
badan. Istirahat sebentar, nanti juga akan segar kembali.
(ratu berusaha menenangkan raja dan meneruskan rajutannya )
Raja :Ada hal lain yang lebih dari itu, dinda, tapi entahlah..(berdiri dari
kursi singgasana dan berdiri memandang keluar.)
(tiba-tiba teringat putri)
Raja :Dindahari sudah siang, tidak baik anak gadis tidur sampai siang
begini, cepat, panggil Putri kita, aku ingin melihat langsung
keadaannya. Apakah sakitnya parah sehingga dia tidur sampai siang
begini?
Ratu : (berhenti merajut dan memandang suaminya yang berdiri di
hadapannya) Baik, Kanda. Dinda akan memanggil Putri kita.
(memberi isyarat kepada dua dayang. Dua dayang itu mengangguk,
membungkukkan badan dan segera masuk ke dalam)
(Beberapa menit kemudian dua dayang masuk ke ruang raja dan berlutut di hadapan
Raja dan Ratu)
Dayang I : (membungkukkan badan ) Ampun Ibu Ratu,(cemas) Tuan
PutriTuan Putri tidak ada di kamarnya
Raja-Ratu : APA???
Ratu (meletakkan rajutan di atas kursi dan berdiri) Bukankah Putri Dayang
Merindu tidak enak badan dan sedang beristirahat di kamarnya? Lalu
kemana dia??? Kalian sudah mencarinya ke seluruh ruang di istana
Dayang II : (ketakutan) Kamikamisudah mencarinya ke seluruh istana Ibu
Ratu.. semua pengawal.
Raja : (memotong) Bagaimana mungkin kalian bisa tidak tahu Putri Dayang
Merindu ada di mana. (duduk menghempaskan badannya ke kursi)
Ratu : (duduk di sebelah Raja) Tenang kanda, mungkin Putri Dayang
Merindu berada di taman istana berjalan-jalan menghirup udara segar.
Bukankah memang begitu kebiasaan Putri kita. Dayangcepat kalian
temukan Putri dan suruh menghadap baginda!
(dayang I dan Dayang II tidak beranjak malah duduk bersimpuh ketakutan)
Ratu : Tunggu apa lagi?? Cepatlah.!!!!
Dayang II : Aam.pun Ibu Ratu(saling berpandangan dengan dayang I)
sebenarnya.Tuan Putri tidaksebenarnya
Ratu :(memotong) Putriku kenapa??? Ayo cepatbicaralah
(Raja mencondongkan badan ke dayang-dayang)
Raja :Ada apa sebenarnya??
Dayang II : Ampuni hamba Baginda, Ibu Ratusebenarnya Putri Dayang Merindu
tidak sakittapi.tadi pagi Putri menyuruh hamba mempersiapkan
perlengkapan untuk mandi di sungai.. dan hamba disuruh berbohong
kepada Ibu Ratu dengan mengatakan beliau sedang tidak enak badan
tidak ikut bersantap tadi pagi. Ampuni hamba BagindaPutri juga
tidak memperkenankan hamba untuk ikut menemaninya mandi ke
sungai(ketakutan)
Raja : Lancang sekali!! (memukul pegangan kursi , semua kaget) Kalian
berkomplot membohongi kami dan membiarkan Putri sendirian mandi
ke sungai..kalian tahudia tidak pernah pergi seorang diri
Ratu :Aduh.mengapa bisa begini. (menangis) Putriku tidak pernah pergi
seorang diri, sekarang dia berada di tengah hutan seorang diri. Kalau
terjadi apa-apa bagaimana??? (memegang pundak Raja) Kanda,
bagaimana ini??? Apa yang mesti kita lakukan
Raja :Kalian telah salah berkomlot dengan Putriku menyusun kebohongan.
Kalian harus dihukum!!!!!!!!(marah)
Dayang I : (menangis) Ampun..Baginda..ampuni kami.
Dayang II : (menangis) Ampun..Baginda..ampuni kami.
Raja : (berdiri sambil bercekak pinggang) Pengawal.
(Pengawal I dan Pengawal II bergegas masuk ruangan dan berlutut )
P I- P II : Hamba baginda
Raja : Kalian dan dua dayang ini cepat menyusul Putri Bulan Merindu ke
sungai dan bawa pulang. Aku perintahkan secepat mungkin. Jangan
pernah kalian melakukan hal lain selain sebelum membawa Putriku
kembali ke istana dan kalian dayang I dan dayang II hukuman kalian
akan aku berikan setelah Putriku kembali ke istana. CEPAT KALIAN
BERANGKAT!!!!!
P I-P II : SIAP BAGINDA!!
D I- D II : Siap, baginda
(Mereka bergegas ke luar sementara Ratu masih tetap menangis)

BABAK III
( 800 M dari istana dari kejauhan Serunting sedang berjalan mendekati istana)
Serunting : (Lirik kanan lirik kiri) sepi sekalikemana penghuni kampung ini???
(Serunting tersenyum melihat 4 orang berjalan mendekati dirinya).
Serunting : Hai anak muda. (4 orang tadi menghentikan langkahnya) dimanakah
dapat kutemukan warung makan? Aku lapar sekali
(4 orang tersebut hanya berhenti sejenak, saling berpandangan, mengangguk dan
melangkah pergi meninggalkan Serunting Sakti)
Serunting : Hei kalian.
(mereka sempat menoleh dan pergi lagi)
Serunting : Sial sekali aku hari ini. Tadi aku bertemu dengan Gadis yang sombong,
sekarang aku lapar dan mencari warung makan malah bertemu dengan
orang-orang yang aneh, tidak menanggapi pertanyaanku. Aku masuk ke
perkampungan yang aneh.. sepi, tidak kutemukan seorang pun dari tadi.
Sekarang setelah aku bertemu dengan mereka, mereka diam dan tidak
mengucapkan sepatah kata pun
(Serunting menendang sebuah batu kecil)
Serunting : (berteriak) Aaarrrrgggggghhhhh..KAMPUNG APA INI SEPI. DIHUNI
OLEH ORANG-ORANG YANG BISU. KAMPUNG DAN
PENGHUNINYA LEBIH PANTAS DISEBUT BATUJADILAH
BATU.
(Perlahan-lahan semua penghuni dan kampung itu berubah menjadi batu dan lama
kelamaan membentuk sebuah gua)

(Serunting melanjutkan perjalanannya. Karena dia lelah dan dan sangat lapar, dia
beristirahat dengan duduk di tepi jalan yang sedikit teduh. Dan
bermimpi)
Kakek : Hai serunting sakti..bangunlah dari tidurmu!!!!
(serunting sakti duduk)
Serunting :
Kakek : Hai serunting sakti, aku adalah kakek buyutmu, aku telah
memberikan kesaktian padamu.setalah kau mendapatkan kesaktian
itu ternyata kau mempergunakan asal-asalan tanpa mempertimbangkan
dampak dari ucapannya. Ini adalah pelajaran bagimu. Jika kau tetap
ceroboh tidak menjaga apa yang kau ucapkan maka kau tidak akan ada
seorang pun yang akan menyegani dan menghormatimu. Kau akan
hidup sendiri dan kesepian. Kau mengerti????
(Serunting terbanguan dan melihat sekelilingnya hening, gelap, dan semua sudah
menjadi batu)
Serunting :Jadi ini arti semua.(berteriak) Aaaaarrrrghhhhhh..ampuni aku.
(berlari sekencang-kencangnya)

(nenek mengakhiri ceritanya)


Nenek : Begitulah cucu-cucuku, legenda yang menceritakan asal mula
terjadinya GUA PUTRI, legenda ini masih hidup dan terus diceritakan
masyarakat Padang Bindu, di sana masih dapat kita lihat ada sebuah
batu di tengah sungai OGAN yang disebut batu PUTRI , sementara
perkampungan yang menjadi GUA disebut GUA PUTRI. Sampai
sekarang kita masih dapat menyaksikan BATU PUTRI dan GUA PUTRI
yang merupakan salah satu objek wisata yang menarik di kabupaten
Ogan Komering Ulu , Sumatera Selatan.
(terlihat cucu-cucunya telah tertidur)
Nenek :Wah, ternyata cucu-cucuku telah tertidur.selamat malam cucu-
cucuku semoga mimpi yang indah
(nenek mematikan lampu)
***

The And
Cerita Rakyat dari Sumatera Selatan : Siti Fatimah dan Tan Boen An

Siti Fatimah adalah putri kesayangan Raja Sriwijaga. Parasnya cantik jelita, dan sikapnya ramah
pada semua orang. Tak heron, banyak pemuda yang menaruh hati dan ingin menjadikannya istri.
Namun semua lamaran itu ditolak oleh Raja Sriwijaya. Raja ingin Siti Fatimah diperistri oleh
saudagar kaya raya atau putra mahkota kerajaan lain yang juga kaya.

Cerita Rakyat dari Sumatera Selatan

Suatu hari, seorang putra mahkota dari negeri China datang ke Kerajaan Sriwijaga. Ia datang
dengan menaiki kapal yang sangat besar. Kapal itu memuat barang-barang yang akan dijual ke
Kerajaan Sriwijaga. Putra mahkota itu bernama Tan Boen An. Wajahnga tampan, tubuhnya tegap
dan kulitnya kuning kecokelatan.

Tan Boen An menemui Raja Sriwijaga. Ia hendak meminta izin pada Raja untuk berdagang di
wilayah itu. Raja Sriwijaya dengan senang hati mengizinkannya. Dalam hati, Raja berkata,
"Alangkah giatnya pemuda ini. Meskipun putra mahkota, ia tetap bekerja keras." Raja berkhayal,
akankah ia mendapatkan menantu seperti Tan Boen An?

Tan Boen An memulai usahanya dan sangat sukses. Karena bangak mendapat keuntungan, ia
berniat untuk membagi sedikit keuntungannya pada Raja Sriwijaga. "Selamat pagi Baginda, soya
menghadap untuk memberikan sedikit keuntungan hasil dagang saya pada Baginda," kata Tan
Boen An. Raja menerima pembagian keuntungan itu dengan senang.

Ketika mereka sedang berbincang-bincang, masuklah Siti Fatimah ke ruangan itu. Tan Boen An
terkesiap, "Cantik sekali wanita ini," bisiknya dalam hati. Dalam sekejap, ia sudah jatuh cinta
pada Siti Fatimah.

Siti Fatimah merasa kikuk karena dipandangi terus oleh pria asing itu. Namun dalam hati ia
sangat senang, karena ia juga jatuh cinta pada pandangan pertama. Raja mengenalkan Siti
Fatimah pada Tan Boen An. Saat bersalaman, keduanya merasa tak terpisahkan lagi.

Beberapa bulan kemudian, Tan Boen An memberanikan diri untuk melamar Siti Fatimah. "Jika
Baginda mengizinkan, saya bermaksud untuk mempersunting Siti Fatimah," kata Tan Boen An.

Raja berpikir sejenak, "Hmm.... aku memang menyukaimu, dan aku tahu kalau anakku juga
mencintaimu. Tapi aku ingin mengetahui keseriusanmu. Jadi, aku akan mengajukan syarat,"
jawab Raja.

Raja meminta Tan Boen An untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. "Itulah mas kawin
yang aku minta darimu, aku yakin sembilan guci emas bukanlah hal yang berat bagimu," kata
raja.

Tan Boen An menyetujui permintaan tersebut. Karena itu, ia menulis surat pada orangtuanya dan
menyuruh seorang utusan untuk pulang ke negeri China. "Ayah, Ibu, Ananda akan menikahi putri
Kerajaan Sriwijaya. Mohon doa restu dari Ayah dan Ibu. Sebagai mas kawin, Ananda
membutuhkan sembilan guci emas. Ananda berharap Ayah mengirimkannya," demikian bunyi
suratnya.

Cerita Rakyat dari Sumatera SelatanLegenda Pulau Kemaro

Selang beberapa waktu, utusan itu kembali dengan membawa surat balasan dari orangtua Tan
Boen An. Rupanya mereka merestui rencana pernikahan tersebut dan bersedia memberikan
sembilan guci emas sebagai mas kawin. Tan Boen An sangat senang. Ia mengajak Siti Fatimah
dan Raja Sriwijaya menaiki kapalnya yang berlabuh di Sungai Musi. Ia ingin menunjukkan
sembilan guci emas itu pada calon istri dan mertuanya.

Namun, tanpa sepengetahuan Tan Boen An, orangtuanya menutupi emas-emas itu dengan aneka
sayuran dan buah-buahan. Untuk berjaga-jaga, kalau ada perompak yang menyerang kapal, emas-
emas itu tak akan ditemukan. Sayang mereka lupa memberitahukan hal itu pada Tan Boen An
dalam surat.

"Lihat Siti Fatimah, guci-guci ini berisi emas," kata Tan Boen An bangga. Ia membuka salah satu
guci. Tapi apa gang terjadi? Bau busuk dan menyengat tercium dari guci itu. Ketika Tan Boen An
melihat ke dalam guci itu, ia hanya melihat tomat dan sawi gang sudah busuk.

Tan Boen An sangat malu. Ia membuang guci itu ke sungai. Kemudian ia membuka guci-guci
gang lain, tapi semuanga sama. Ia hanga menemukan sayur dan buah yang telah busuk. Tan Boen
An mulai marah, ia melempar guci-guci itu ke Sungai Musi. Tinggal satu guci yang tersisa, Tan
Boen An menendang guci itu keras-keras sambil berteriak, "Ayah, Ibu, mengapa
mempermalukan Ananda seperti ini?"

Pgarrr.... guci itu pecah berkeping-keping terkena tendangannga. Se- mua orang gang ada di atas
kapal terkejut. Di antara sagur dan buah busuk, terlihat emas! Tan Boen An tak kalah terkejut.

Ia segera menyadari kalau semua guci gang ia lemparkan ke sungai tadi berisi emas. Tanpa pikir
panjang, ia segera terjun dan berenang mengusuri Sungai Musi. Sekuat tenaga ia mencari guci-
gucinga gang telah hangut itu.

Ia terus berenang jauh meninggalkan kapal sampai tubuhnga tak terlihat lagi.

Siti Fatimah cemas menunggunya. Ia berdiri di tepi kapal dan berharap Tan Boen An akan
muncul. Namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung tiba. Siti Fatimah pun memutuskan untuk
menyusul Tan Boen An. Ia berpamitan pada ayahnya "Ayah, aku harus menemukan kekasihku.
Jika aku tak kembali, carilah tumpukan tanah di sekitar sungai ini. Jika Ayah menemukannya,
itulah kuburanku."

Setelah berkata demikian, ia menceburkan diri ke sungai ditemani dayangnya yang setia. Raja
Sriwijaya menangisi kepergian putrinya. Lama ia menunggu, tapi Putri dan Tan Boen An tak
pernah kembali.

Tiba-tiba, Raja teringat pada pesan putrinya. Dan benar saja, di tepi Sungai Musi terdapat
gundukan tanah. Raja Sriwijaya sangat sedih, itu berarti Siti Fatimah telah meninggal. Gundukan
itu makin lama makin membesar, dan penduduk sekitar menamainya Pulau Kemaro.

Pesan moral dari Cerita Rakyat dari Sumatera Selatan : Legenda Pulau Kemaro untukmu adalah
Janganlah terburu-buru dalam mengambil keputusan. Salah mengambil keputusan bisa
menyebabkan penyesalan yang besar

erita Rakyat dari Sumatera Selatan Legenda Si Pahit Lidah

Hari ini hati Serunting kesal sekali. Lagi-lagi ladang miliknya tak menghasilkan apa-apa, kecuali
rumput ilalang yang tinggi. Apapun yang ditanamnya selalu mati. "Apa yang harus kulakukan?
Ladangku hanya sejengkal dari ladang Aria Tebing, tapi mengapa ladangnya begitu subur?"
tanyanya heran. "Aria Tebing pasti telah berbuat curang pada ladangku." pikir Serunting dengan
curiga.
Cerita Rakyat Sumatera Selatan Si Pahit Lidah

Serunting pulang ke rumah dan marah-marah pada istrinya. Istrinya adalah kakak Aria Tebing.
"Bilang pada adikmu, jangan curang. Jika berani, suruh ia bertarung melawanku," katanya.
Istringa tak habis pikir karena menurutnya, adiknya tak mungkin curang.

Suatu hari, Aria Tebing berkunjung ke rumah Serunting. Tujuannya untuk menemui kakaknya.
Tapi apa yang terjadi? Serunting malah marah-marah dan mengajaknya berduel. "Apa yang kau
lakukan pada ladangku? Semua yang kutanam mati tak berbekas. Sedangkan tanaman di
ladangmu tumbuh dengan subur, padahal letaknya hanya sejengkal dari ladangku!"

Aria Tebing kebingungan, "Aku tak melakukan apa-apa. Aku bahkan tak pernah menginjakkan
kaki ke ladangmu," jawabnya.

"Dasar pembohong! Kau menantangku? Jika memang itu maumu, ayo kita berduel sampai mati.
Kutunggu kau besok di tanah lapang!"

Aria Tebing tak bisa menghindar. Ia harus menghadapi tantangan Serunting. Ia yakin, ia pasti
kalah menghadapi Serunting yang jauh lebih sakti darinya. Karena itu ia memutuskan untuk
menemui kakaknya untuk menanyakan apa kelemahan kakak iparnya itu.

Pagi-pagi buta, Aria Tebing menyelinap ke rumah Serunting. "Kak, tolonglah aku. Beritahu apa
kelemahan suamimu. Jika Kakak tak memberitahuku, aku pasti akan mati siang ini," pinta Aria
Tebing. Istri Serunting bimbang. Di satu sisi ia tak ingin mengkhianati suaminya, namun di sisi
lain ia tak ingin adiknya mati terbunuh. Akhirnya ia berkata, "Berjanjilah, untuk tidak membunuh
suamiku." Aria Tebing menyanggupi, maka istri Serunting pun memberitahu rahasia kelemahan
suaminya.

Tibalah saat yang ditentukan. Aria Tebing telah siap dengan senjata yang bisa melumpuhkan
Serunting. Menurut istri Serunting, tumbuhan ilalang yang bergetar adalah senjata yang bisa
melumpuhkan Serunting. Mereka berdua pun memulai pertarungan. Di saat Serunting lengah,
Aria Tebing menyabetkan ilalang itu pada tubuh Serunting. Benar saja, dalam sekejap Serunting
langsung terluka parah. Aria Tebing dengan mudah memenangkan pertarungan itu.

Serunting sangat malu. Ia heran bagaimana Aria Tebing bisa mengetahui rahasianya. Untuk
menutupi rasa malunya, ia pergi mengembara dan meninggalkan rumah. Ia berjalan tak tentu arah
sampai akhirnya tiba di Gunung Siguntang. Di situlah ia tinggal dan bertapa mengasah ilmunya.
Cerita Rakyat Sumatera Selatan Legenda Si Pahit Lidah

Suatu hari, saat sedang bertapa, ia mendengar bisikan gaib. "Serunting anakku, aku akan
mengajarimu kesaktian yang kumiliki. Apakah kau mau melaksanakan syarat dariku sebelum aku
mengajarirnu?" bisik suara itu. Serunting membuka matanya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri,
tak ada siapa-siapa. Berarti bisikan itu datang dari penunggu Gunung Siguntang. "Ya, aku mau
belajar ilmu darimu," jawab Serunting.

"Jika begitu, bertapalah di bawah pohon bambu sampai seluruh tubuhmu tertutup oleh daunnya.
Jika itu terjadi, kau berhasil mewarisi kesaktianku," jawab suara gaib itu.

Dua tahun lamanya Serunting bertapa di bawah pohon bambu. Setelah semua tubuhnya tertutup
oleh daun bambu, ia pun mendapatkan kesaktiannya, ia memiliki kemampuan untuk mengutuk
apa pun yang ditemui nya.

Dengan kesaktiannya itu, Serunting ditakuti oleh banyak orang. Mereka menjulukinya "Si Pahit
Lidah". Sejak itu, Serunting menjadi sombong dan sering berbuat semena-mena. Jika tak
menyukai seseorang, ia tak segan- segan mengutuknya menjadi batu!

Tahun demi tahun berlalu. Suatu saat Serunting merasa rindu pada istrinya. Ia ingin pulang ke
rumahnya. Selain itu, ia ingin membalas dendam pada Aria Tebing. Ia ingin menunjukkan
kekuatannya pada Aria Tebing, Serunting pun berkemas dan pulang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan, Serunting masih bersikap semena-mena. Orang-orang yang bertemu


dengannya segera menyingkir. Mereka takut terkena kutukan si Pahit Lidah.

Setelah berjalan seharian, Serunting ingin beristirahat. Ia berjalan menuju bukit, berharap dapat
tidur sejenak. Ternyata tak ada sebatang pohon pun di situ. Ia jengkel sekali karena panas
Matahari yang sangat menyengat. Ia mengedarkan pandangannya, rerumputan di bukit itu mulai
menguning. Ia kecewa dengan keadaan bukit itu. Ia lalu berujar, "Aku ingin bukit ini penuh
dengan pepohonan."

Dalam sekejap, bukit itu menjadi teduh dan rindang. Sejak itu banyak orang yang mampir ke sana
untuk sekadar beristirahat. Serunting sangat senang. Ternyata, ia bisa menggunakan kesaktiannya
untuk hal yang baik.

Setelah puas beristirahat, Serunting melanjutkan perjalanannya. Ketika melewati sebuah desa, ia
melihat sepasang kakek dan nenek renta sedang menebang pohon. Hati Serunting merasa
kasihan. "Mengapa mereka masih bekerja keras di usia setua itu?"

Serunting menghampiri mereka, "Kek, Nek, mengapa anak kalian tak membantu?" tanyanya.
"Kami tak punya anak, kami hanya tinggal berdua," jawab si Kakek. Serunting terdiam, ia
sungguh merasa iba melihat kakek dan nenek itu. "Kek, jika sekarang ini kalian dikaruniai
seorang bayi laki-laki dan anak perempuan untuk membantu kalian, apakah kalian mau?"

Kakek dan nenek itu berpandangan, "Tentu saja kami mau, tapi apakah itu mungkin? Kami sudah
tua, tak mungkin bisa punya anak."

Serunting menjawab, "Semuanya mungkin saja. Kakek dan Nenek akan punya seorang bayi laki-
laki dan anak perempuan yang akan membantu kalian."

Setelah berkata demikian, terdengar suara tangis bayi dari dalam rumah. Kemudian seorang anak
gadis dari rumah muncul sambil menggendong seorang bagi laki-laki. Kakek dan Nenek itu
sangat bahagia, mereka tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih pada Serunting.

Serunting juga bahagia. Ia sadar, sebenarnya lebih menyenangkan melihat orang-orang


berbahagia daripada melihat mereka ketakutan. Sarunting bertekad akan menggunakan
kesaktiannya untuk hal-hal baik, bukan untuk mencelakai orang. Selama sisa perjalanannya, ia
menolong semua orang yang membutuhkan pertolongannya. Dan ia tidak sombong lagi.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Sumatera Selatan Si Pahit Lidah adalah Gunakan kelebihanmu
untuk membantu orang lain, bukan untuk menyombongkan diri.

Cerita Rakyat Dari Sumatera Selatan : Asal Muasal Pulau Kemaro

Cerita Rakyat Dari Sumatera Selatan Asal Pulau Kemaro

Dahulu, di Kerajaan Sriwijaya ada seorang putri yang cantik dan baik hati bernama Siti Fatimah.
Kecantikan dan kebaikan budinya terdengar ke mana-mana. Tak seorang pun pemuda berani
datang melamar sang Putri, karena Raja menginginkan putrinya menikah dengan laki-laki
keturunan raja.

Suatu saat, datanglah seorang pemuda bernama Tan Bun Ann. Pemuda tersebut datang dari
kerajaan di negeri Cina untuk berniaga di Kerajaan Sriwijaya. la lalu menghadap Paduka Raja.

"Paduka Raja, kedatangan hamba ke sini adalah untuk berdagang. Untuk itu, hamba mohon agar
Paduka memberikan izin kepada hamba untuk tinggal dan berdagang di kerajaan ini," ujar Tan
Bun Ann.
Raja memberikan izin kepada Tan Bun Ann dengan syarat pemuda itu harus memberikan
sebagian keuntungannya kepada kerajaan. Tan Bun Ann pun menyanggupi syarat yang diberikan
Raja.

Pemuda dari kerajaan di negeri Cina itu pun mulai berdagang dan tinggal di Kerajaan Sriwijaya.
Secara teratur, ia datang ke Kerajaan Sriwijaya untuk menyetorkan sebagian keuntungan
dagangnya kepada kerajaan. Suatu kali, ia bertemu dengan Putri Siti Fatimah, kemudian Tan Bun
Ann jatuh hati.

Ternyata, Siti Fatimah juga mempunyai perasaan yang sama dengan Tan Bun Ann. Mereka lalu
menjalin hubungan kasih. Kemudian, Tan Bun Ann menghadap Raja untuk minta restu.

"Paduka, kedatangan hamba menghadap, karena hamba ingin mengutarakan keinginan untuk
meminang Putri Siti Fatimah menjadi istri hamba," kata Tan Bun Ann.

Raja Sriwijaya berpikir sejenak. la tahu bahwa Tan Bun Ann adalah putra mahkota dari sebuah
kerajaan besar di negeri Cina, karena itu ia tidak keberatan putrinya menikah dengan pemuda itu.

"Anak muda, aku tahu kau pemuda yang baik. Aku tidak keberatan putriku menikah denganmu.
Namun, kau harus menyediakan sembilan guci berisi emas."

Tan Bun Ann menyanggupi syarat yang diajukan Raja. la lalu menghubungi orangtuanya di
negeri Cina. Orangtua Tan Bun Ann memberikan restu kepada mereka. Namun sayang, orangtua
Tan Bun Ann tidak bisa menghadiri pernikahan anaknya dengan Putri Siti Fatimah. Lalu, mereka
mengirimkan utusan kerajaan untuk mengantarkan sembilan guci berisi emas ke Kerajaan
Sriwijaya.

Utusan Kerajaan Cina segera berangkat menuju Kerajaan Sriwijaya dengan membawa guci-guci
berisi emas di dalam kapal. Untuk melindungi emas-emas itu dari perompak, di bagian atas guci-
guci itu diletakkan sayur sawi, sehingga guci-guci itu terlihat berisi penuh dengan sayur sawi.

Sesampainya di Pelabuhan Sriwijaya, Tan Bun Ann menyambut utusan dari orangtuanya itu
untuk mengambil emas-emas yang rnereka bawa.

"Di mana kalian Ietakkan guci-guci berisi emas itu?" "Di dalam kamar di dalam kapal, Tuan"

Tan Bun Ann masuk ke dalam kapal, ia menemukan sembilan guci berisi penuh sayur sawi yang
telah membusuk.

"Oh, tidak! Mengapa isinya hanya sayur-sayur sawi yang sudah membusuk? Aku akan malu
kepada calon mertuaku!" pikir Tan Bun Ann panik. la lalu membuang guci-guci itu satu persatu
ke Sungai Musi. Ketika akan membuang guci terakhir kakinya tersandung. Guci yang
dipegangnya pun tumpah, keluarlah emas-emas dari dalam guci itu. Barulah Tan Bun Ann sadar
bahwa ia telah salah sangka.

Lalu, pemuda itu melompat ke dalam sungai bersama beberapa pengawal untuk mencari kembali
guci-guci yang telah dibuangnya.

Siti Fatimah yang sejak tadi menyaksikan kejadian itu berlari ke pinggir sungai dan menunggu
colon suaminya muncul dari dalam Sungai Musi. Namun, sampai menjelang sore Tan Bun Ann
dan orang-orangnya tak juga kembali.

Putri cantik itu dan beberapa dayangnya berniat mencari calon suaminya, mereka lalu loncat ke
Sungai Musi. Sebelum loncat, Putri berpesan kepada dayang-dayangnya yang tinggal.

"Jika nanti kalian melihat ada timbunan tanah muncul di permukaan sungai, itu adalah
kuburanku," kata Putri Siti Fatimah lalu menceburkan diri ke dalam sungai.
Tidak ada seorang pun yang kembali ke permukaan. Beberapa hari kemudian, di tepi Sungai
Musi muncullah timbunan tanah menyerupai sebuah gundukan. Semakin hari, gundukan tanah
tersebut semakin lebar, hingga menjadi sebuah pulau.

Masyarakat setempat menamai pulau tersebut Pulau Kamaro yang artinya Kemarau. Nama itu
dipilih, karena kondisi pulau tersebut yang tidak pernah tergenang sedikit pun meskipun
ketinggian air di Sungai Musi sedang meningkat.

Di pulau tersebut terdapat sebuah gundukan tanah yang agak besar dan diyakini sebagai makam
Putri Siti Fatimah. Selain itu, ada dua gundukan tanah yang lebih kecil, masyarakat percaya
bahwa kedua gundukan itu adalah makam dayang-dayang Siti Fatimah yang ternyata ikut
menyebur ke laut menyusul sang Putri.

Kini, Pulau Kernaro menjadi salah satu objek wisata budaya di Palembang. Setiap perayaan cap
gomeh, banyak warga keturunan Cina, baik dari dalam maupun luar negeri berkunjung ke sana
untuk sembahyang dan berziarah.

Pesan moral dari Cerita Rakyat Dari Sumatera Selatan Asal Pulau Kemaro adalah segala sesuatu
harus diteliti dulu, jangan terburu-buru menilai dan mengambil keputusan.

Raden Alit (Cerita Rakyat Sumatra Selatan)

Sebuah kisah di sebuah Negeri Tanjung Kemuning, Sumatera Selatan. hiduplah seorang raja
Ratu Ageng yang menikah dengan seorang Dewa Kahyangan. Mereka tinggal di langit dan telah
dikaruniai tiga orang anak yaitu Raden Alit, Raden Kuning, dan Dayang Bulan. Raden Alit dan
Raden Kuning merupakan orang yang sakti mandraguna.

Setelah kurang lebih dua puluh tahun menjalani kehidupan di Langit, Ratu Ageng merasa rindu
ingin kembali ke Bumi. Karena itu, Ratu Ageng mengajak seluruh keluarganya pindah ke Bumi.
Setelah memberi tahu kepada keluarganya, berangkatlah Ratu Ageng bersama keluarga diiringi
pengawalnya ke Bumi. Sesampainya Di Bumi, mereka membangun sebuah istana sebagai tempat
tinggal mereka.

Setelah beberapa tahun tinggal di Bumi, malapetaka salah seorang anak Ratu Ageng. Putrinya
Dayang Bulan digigit ular lidi yang kemudian meninggal dunia. Kematian putrinya itu membawa
duka yang dalam bagi Ratu Ageng dan permaisurinya. Namun, Raden Kuning dan Raden Alit
tidak dapat menerima kematian saudara perempuan mereka itu. Mereka yakin bahwa Dayang
Bulan belum saatnya meninggal. Karena mereka mengira bahwa yang dimakankan pada saat itu
hanya bayangannya saja. Wujud aslinya telah diculik oleh seseorang yang sakti mandraguna.
Akhirnya Ratu Ageng mengizinkan mereka untuk mencari Dayang Bulan.

Berangkatlah Raden Kuning dan Raden Alit mencari Dayang Bulan. Tanpa arah yang tentu
mereka berjalan. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah pantai, sebuah rejung, yaitu kapal besar
dan megah, yang sedang berlabuh. Seketika itu pula mereka langsung melompat ke atas rejung
itu. Setelah memeriksa cukup lama, mereka bertemu dua orang laki-laki.

Wahai sahabat, siapakah kalian ini! Mengapa rejung kalian berhenti di pantai ini?
Maaf, sahabat! Kami sedang melakukan perjalanan mencari saudara perempuan kami yang
bernama Dayang Ayu, jawab salah seorang pemilik kapal yang bernama si Ulung Tanggal.
Saudara perempuan kami digigit ular lidi dan telah meninggal. Namun, kami yakin bahwa dia
sebenarnya tidak meninggal. Ia diculik oleh putra raja Negeri Salek Alam yang bernama Malim
Putih. Sahut Serincung Dabung salah seorang pemilik kapal menambahkan.
Bagaimana kamu bisa tahu kalau saudara perempuan kalian diculik putra raja itu? tanya Raden
Kuning penasaran.
Rupanya, Serincung Dabung adalah seorang ahli nujum. Raden Kuning dan Raden Alit pun
meminta bantuan kepadanya untuk mencari tahu keberadaan Dayang Bulan. Akhirnya mereka
mengetahui bahwa Dayang Bulan juga diculik oleh Malim Hitam putra raja Negeri Salek Alam.
Keempat orang tersebut ternyata memiliki tujuan yang sama, Tetapi karena Serincung Dabung
tidak dapat menerawang letak Negeri Salek, akhirnya mereka pun berpencar.

Hingga akhirnya di tengah perjalanan Raden Alit mendengar kabar tentang pernikahan Malim
Hitam dan Malim Putih. Setelah mendengar kabar itu, Raden Alit pun semakin yakin bahwa
Dayang Bulan dan Dayung Ayu masih hidup. Maka dengan kesaktiannya, Raden Alit menyamar
menjadi budak banden, dan pergi ke tempat acara itu berlangsung.

Di tengah perjalanan menuju negeri itu, Raden Alit bertemu dengan Raja Jin, yang mempunyai
seorang putri yang bernama Salipuk Jantung Pandan, ia sangat cantik. Raden Alit melihat
kecantikannya langsung jatuh hati kepadanya. Raden Alit berjanji akan menikahinya setelah
urusannya selesai. Raden Alit kemudian menceritakan masalahnya dan meminta pertolongan
kepada Raja Jin.

Dengan kesaktiannya, Raja Jin merubah bentuk Dayang Bulan dan Dayung Ayu menjadi dua
tangkai bunga sebelum mereka naik ke pelaminan. Kemudian, tanpa sepengetahuan Malim Hitam
dan Malim Putih, Raden Alit berhasil menyelinap masuk lalu membawa keluar Dayang Bulan
dan Dayang Ayu. Namun, begitu Raden Alit keluar dari kamar, tiba-tiba Malim Hitam dan
Malim Putih datang menghadangnya.

Pertempuran sengit pun tak terelakkan lagi. Raden Alit mengeluarkan seluruh kesaktiannya, lalu
melemparkan Malim Hitam dan Malim Putih ke langit. Begitu sampai di langit mereka di
masukkan ke dalam sangkar besi yang telah disiapkan sebelumnya.

Tak berapa lama kemudian, datanglah Raden Kuning, Si Ulung Tanggal, dan Serincung Dabung.
Raden Alit kemudian menceritakan semua yang telah terjadi.

Akhirnya, Raden Alit dan Si Ulung Tanggal bersaudara segera menemui Raja Jin untuk
menyampaikan ucapan terima kasih karena telah membantu mereka mengalahkan kedua putra
Raja Negeri Selak Alam. Setelah itu, mereka kembali ke negeri masing-masing.

Sesampainya di Istana, Ratu Ageng dan permaisurinya menyambut kepulangan ketiga anaknya,
dan kebahagiaan mereka ditambahkan karena Raden Alit akan menikah dengan putri Raja Jin
Salipuk Jantung Pandan. Pesta dan perayaan meriah dilaksanakan selama beberapa hari. Raden
Alit dan istrinya Salipuk Jantung Pandan pun hidup bahagia.