Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama : Ny. S
Usia : 32 tahun
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Alamat : Jatimulya

Nama Suami : Tn. O


Usia : 37 tahun
Pekerjaan : Wiraswasta
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Alamat : Jatimulya
Tanggal Pemeriksaan : 12 Januari 2017

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Benjolan di perut kanan bawah

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang ke ruang mawar kiriman poli kandungan dengan keluhan benjolan
di perut kanan bawah sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan disertai mulas-mulas, siklus haid
tidak lancar, BAK dan BAB tidak lancar. Pasien tidak mengeluh keluar keputihan, dan
penurunan berat badan disangkal. Pasien tidak mengalami nyeri dikemaluannya.

Riwayat Penyakit Dahulu :


Riwayat keluhan yang sama sebelumnya disangkal.
Trauma pada perut disangkal
Riwayat operasi disangkal
Riwayat terkena penyakit infeksi di alat kelamin disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat DM disangkal
Riwayat penyakit jantung disangkal
Riwayat penyakit ginjal disangkal
2

Riwayat penyakit hati disangkal


Riwayat alergi obat dan makanan disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Riwayat hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit asma : disangkal
Riwayat penyakit keganasan disangkal

Riwayat Alergi :
Pasien mengatakan tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan dan makanan.

Riwayat Kontrasepsi :
memakai KB suntik 3 bulan lama 2 tahun

Riwayat Perkawinan:
Menikah sebanyak 1 kali selama 19 tahun.

Riwayat Obstetri :
Pasien memiliki riwayat P3A0, haid pertama dialami (menarke) pada usia 12 tahun.
Pasien memiliki siklus haid yang teratur 28 hari, lama haid 4 - 7 hari, haid mulai tidak
lancar sejak 1 bulan yang lalu, Pasien memiliki riwayat kehamilan sebagai berikut :
1. Anak pertama lahir spontan di bidan desa, BBL: 3 Kg usia :
19 tahun
2. Anak kedua lahir spontan di bidan desa, BBL: 3,2 Kg usia :
15 tahun
3. Anak ketiga lahir spontan di bidan desa, BBL: 3,2 Kg usia :
13 tahun

Riwayat Ginekologi :
Riwayat penyakit saluran reproduksi disangkal.
Riwayat operasi disangkal.

STATUS GENERALIS
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Tanda Vital
- Tekanan darah : 130/80 mmHg
- Frekuensi nadi : 80 x/menit
- Frekuensi napas : 20 x/menit
3

- Suhu : 36,4oC
Kepala
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sclera ikterik-/-
Hidung : sekret (-), pernapasan cuping hidung
Telinga : sekret (-)
Mulut : sianosis (-), kandidiasis (-)
Leher : pembesaran KGB (-), struma (-)
Thoraks
Paru-paru : Inspeksi : pergerakan dada simetris, retraksi ICS (-)
Palpasi : nyeritekan (-), ekspansi dada normal,
fremitus taktil dalam batas normal
Perkusi : Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Bunyi napas dasar vesikuler,
rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung : Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba pada ICS V linea
midclaviculasinistra.
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : BJ I, II murni, reguler. murmur (-), gallop (-)
Mammae : Simetris, hiperpigmentasi areola & mammae +/+, retraksi
puting -/-
Abdomen
Inspeksi : Bentuk datar, bekas operasi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) 8x/menit
Palpasi : Nyeri tekan (+) teraba masa dengan diameter kurang lebih
10cm di regio inguinal dextra, berbatas tegas, mobile.
Perkusi : Timpani diseluruh regio abdomen
Ekstremitas : oedem (-), akral hangat (+)

III. STATUS GINEKOLOGI


Abdomen :
Inspeksi : Tidak ada tanda-tanda peradangan, bekas operasi (-).
Palpasi : Teraba massa padat ukuran 10 cm konsistensi kenyal, permukaan licin,
mobile, batas tegas pada perut bagian bawah, nyeri tekan (+).

Genetalia Externa
Vulva : Darah (-) Massa (-) ulkus (-)

Pemeriksaan Bimanual :
v/v tidak ada kelainan
Dinding vagina normal, massa (-).
Porsio licin, (-), nyeri goyang porsio (-).
Adneksa lemas, massa (-)
Cavum Douglass dextra et sinistra tidak menonjol.
4

IV. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan Darah rutin
Ultrasonografi (USG) Transabdominal
Pemeriksaan PA

V. Hasil Pemeriksaan Penunjang


DarahRutin
Hemoglobin 12,3
Leukosit 15,7
Eritrosit 4,13
Hematokrit 34
Trombosit 312
MCV 79,6
MCH 28,5
MCHC 35,9
Basofil 0
Eosinofil 0
NeutrofilBatang 0
NeutrofilSegmen 86
Limfosit 9
Monosit 5
CA 125 26,22
GolonganDarah O
Rhesus +

USG
Uterus ukuran 7,96 x 4,16 cm
Massa kistik endrometriosis, ukuran 10,33 x 6,59 cm

VI. DIAGNOSIS BANDING


Kista ovarium
Mioma Uteri
Apendisitis Akut

VII. DIAGNOSIS UTAMA


Kista Ovarium

VIII. USULAN PENATALAKSANAAN


Kisterektomi
Oovorektomi
Salpingo-ooforektomi

IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam : ad bonam
5

Quo ad functionam : ad bonam


Quo ad sanactionam : dubia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi Kista ovarium

Kista ovarium merupakan salah satu tumor jinak ginekologi yang paling sering
dijumpai pada wanita di masa reproduksinya.(Depkes RI, 2011)Kista ovarium adalah suatu
kantong berisi cairan seperti balon berisi air yang terdapat di ovarium. (Owen, 2005)
Kista ovarium adalah tumor ovarium yang bersifat neoplastik dan non
neoplastik.Kista ovarium merupakan suatu tumor, baik kecil maupun yang besar, kistik atau
padat, jinak atau ganas yang berada di ovarium.Dalam kehamilan tumor ovarium yang paling
sering dijumpai ialah kista dermoid, kista coklat atau kista lutein. Tumor Ovarium yang
cukup besar dapat menyebabkn kelainan letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-
halangi masuknya kepala kedalam panggul.(Wiknjosastro,2005)
Kista ovarium adalah tumor jinak yang diduga timbul dari bagian ovum yang
normalnya menghilang saat menstruasi, asalnya tidak teridentifikasi dan terdiri atas sel-sel
embrional yang tidak berdierensiasi, kista ini tumbuh lambat dan ditemukan selama
pembedahan yang mengandung material sebasea kental berwarna kuning yang timbul dari
lapisan kulit.(Smeltzer,2002)
II.2 Klasifikasi
Berdasarkan tingkat keganasannya, kista terbagi dua, yaitu nonneoplastik dan
neoplastik. Kista nonneoplastik sifatnya jinak dan biasanya akan mengempis sendiri setelah 2
hingga 3 bulan. Sementara kista neoplastik umumnya harus dioperasi, namun hal itu pun
tergantung pada ukuran dan sifatnya. (Prawirohardjo,2002)
Kista ovarium neoplastik jinak diantaranya: (Mansjoer, 2000)
a. Kistoma Ovarii Simpleks
6

Kistoma ovarii simpleks merupakan kista yang permukaannya rata dan halus,
biasanya bertangkai, seringkali bilateral, dan dapat menjadi besar.Dinding kista tipis berisi
cairan jernih yang serosa dan berwarna kuning.Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista
dengan reseksi ovarium.
b. Kistadenoma Ovarii Musinosum
Bentuk kista multilokular dan biasanya unilateral, dapat tumbuh menjadi sangat
besar.Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista dan perubahan degeneratif sehingga
timbul perleketan kista denganomentum, usus-usus, dan peritoneum parietale.Selain itu, bisa
terjadi ileus karena perleketan dan produksi musin yang terus bertambah akibat
pseudomiksoma peritonei. Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista in tito tanpa pungsi
terlebih dulu dengan atau tanpa salpingo-ooforektomi tergantung besarnya kista.
c. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini berasal dari epitel germinativum.Bentuk kista umumnya unilokular, tapi jika
multilokular perlu dicurigai adanya keganasan.Kista ini dapat membesar, tetapi tidak sebesar
kista musinosum.
d. Kista Dermoid
Kista dermoid adalah teratoma kistik jinak dengan struktur ektodermal berdiferensiasi
sempurna dan lebih menonjol dari pada mesoderm dan entoderm.Bentuk cairan kista ini
seperti mentega. Kandungannya tidak hanya berupa cairan tapi juga ada partikel lain seperti
rambut, gigi, tulang, atau sisa-sisa kulit. Dinding kista keabu-abuan dan agak tipis,
konsistensi sebagian kistik kenyal dan sebagian lagi padat.Dapat menjadi ganas, seperti
karsinoma epidermoid. Kista ini diduga berasal dari sel telur melalui proses parthenogenesis.
Gambaran klinis adalah nyeri mendadak di perut bagian bawah karena torsi tangkai kista
dermoid.Dinding kista dapat ruptur sehingga isi kista keluar di rongga
peritoneum.Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista dermoid bersama seluruh ovarium.
Kista nonneoplastik terdiri dari: (Prawirohardjo, 2002)
a. Kista Folikel
Kista ini berasal dari Folikel de Graaf yang tidak sampai berovulasi, namun tumbuh
terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel primer yang setelah tumbuh di bawah
pengaruh estrogen tidak mengalami proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi
kista. Bisa didapati satu kista atau lebih, dan besarnya biasanya dengan diameter 1 1,5 cm.
7

Kista folikel ini bisa menjadi sebesar jeruk nipis. Bagian dalam dinding kista yang
tipis yang terdiri atas beberapa lapisan sel granulosa, akan tetapi karena tekanan di dalam
kista, maka terjadilah atrofi pada lapisan ini. Cairan dalam kista berwarna jernih dan sering
kali mengandung estrogen.Oleh sebab itu, kista kadang-kadang dapat menyebabkan
gangguan haid.Kista folikel lambat laun dapat mengecil dan menghilang spontan, atau bisa
terjadi ruptur dan kista pun menghilang. Umumnya, jika diameter kista tidak lebih dari 5 cm,
maka dapat ditunggu dahulu karena kista folikel biasanya dalam waktu 2 bulan akan
menghilang sendiri.
b. Kista Korpus Luteum
Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan menjadi korpus
albikans.Kadang-kadang korpus luteum mempertahankan diri (korpus luteum persistens),
perdarahan yang sering terjadi di dalamnya menyebabkan terjadinya kista, berisi cairan yang
berwarna merah coklat karena darah tua.Frekuensi kista korpus luteum lebih jarang dari pada
kista folikel.Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna kuning, terdiri atas sel-sel luteum
yang berasal dari sel-sel teka.Kista korpus luteum dapat menimbulkan gangguan haid, berupa
amenorea diikuti oleh perdarahan tidak teratur.Adanya kista dapat pula menyebabkan rasa
berat di perut bagian bawah dan perdarahan yang berulang dalam kista dapat menyebabkan
ruptur.Rasa nyeri di dalam perut yang mendadak dengan adanya amenorea sering
menimbulkan kesulitan dalam diagnosis diferensial dengan kehamilan ektopik yang
terganggu.Jika dilakukan operasi, gambaran yang khas kista korpus luteum memudahkan
pembuatan diagnosis.
8

Penanganan kista korpus luteum ialah menunggu sampai kista hilang sendiri. Dalam
hal dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik terganggu, kista korpus luteum diangkat
tanpa mengorbankan ovarium.
c. Kista Lutein
Pada mola hidatidosa, koriokarsinoma, dan kadang-kadang tanpa adanya kelainan
tersebut, ovarium dapat membesar dan menjadi kistik.Kista biasanya bilateral dan bisa
menjadi sebesar ukuran tinju.Pada pemeriksaan mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka.
Sel-sel granulosa dapat pula menunjukkan luteinisasi, akan tetapi seringkali sel-sel
menghilang karena atresia. Tumbuhnya kista ini ialah akibat pengaruh hormon
koriogonadotropin yang berlebihan, dan dengan hilangnya mola atau koriokarsinoma,
ovarium mengecil spontan.
d. Kista Inklusi Germinal
Kista ini terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian kecil dari epitel
germinativum pada permukaan ovarium.Kista ini lebih banyak terdapat pada wanita yang
lanjut umurnya, dan besarnya jarang melebihi diameter 1 cm. Kista ini biasanya secara
kebetulan ditemukan pada pemeriksaan histologik ovarium yang diangkat waktu
operasi.Kista terletak di bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel
kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serus.
e. Kista Endometriosis
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan selaput
dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di ovarium dan berkembang menjadi
kista.Kista ini sering disebut juga sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah
coklat-kemerahan. Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan
nyeri haid dan nyeri senggama.
f. Kista Stein-Leventhal
Ovarium tampak pucat, membesar 2 sampai 3 kali, polikistik, dan permukaannya
licin.Kapsul ovarium menebal. Kelainan ini terkenal dengan nama sindrom Stein-Leventhal
dan kiranya disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormonal. Umumnya pada penderita
terhadap gangguan ovulasi, oleh karena endometrium hanya dipengaruhi oleh estrogen,
hiperplasia endometrii sering ditemukan.
II.3 Epidemiologi
Angka kejadian kista sering terjadi pada wanita berusia produktif. Jarang sekali di
bawah umur 20 maupun di atas 50 tahun.(William, 2007)
9

Kista Ovarium ditemukan pada hampir semua wanita premenopause dan pada 18%
wanita post menopause. Insiden yag sering terjadi pada wanita usia 30-54 tahun dan yang
paling tinggi adalah wanita dengan kulit putih. (William, 2007) , di Indonesia sekitar 25-50 %
kematian wanita usia subur disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan,
persalinan, serta penyakit yang mengenai sistem reproduksi misalnya kista ovarium.
(Manuaba, 2010)
Di Amerika insidensi kista ovarium semua ras adalah 12,5 kasus per 100.000 populasi
pada tahun 1988 sampai 1991. Sebagian besar kista adalah kista fungsional dan jinak.Di
Amerika karsinoma ovarium didiagnosa pada kira-kira 22.000 wanita, kematian sebanyak
16.000 orang. (Rock JA,). Berdasarkan data yang diperoleh CDC di Amerika pada tahun
2011 insidensi kanker ovarium tertinggi terjadi di kota New York, Columbia dan Washington
dengan interval 12,5-14,9 per 100.000 penduduk. Dan yang paling rendah terjadi di kota
Hawaii, Virginia, dan Louisiana dengan interval 7,5-10,4 per 100.000 penduduk
II.4 Etiologi dan Patogenesis
Penyebab pasti dari penyakit kista Ovarium belum diketahui secara pasti.Akan tetapi
salah satu pemicunya adalah faktor hormonal.Penyebab terjadinya kista ovarium ini
dipengaruhi oleh banyak factor yang saling berhubungan. Beberapa faktor resiko yang
mempengaruhi terjadinya kista ovarium adalah
a. Gangguan pembentukan hormone
Kista ovarium disebabkan oleh 2 gangguan (pembentukan) hormon yaitu pada
mekanisme umpanbalik ovarium dan hipotalamus. Estrogen merupakan sekresi yang
berperan sebagai respon hipersekresi folikel stimulasi hormon. Dalam menggunakan obat-
obatan yang merangsang pada ovulasi atau misalkan pola hidup yang tidak sehat itu bisa
menyebabkan suatu hormone yang pada akhirnya dapat menyebabkan ketidakseimbangan
hormone. (Mansjoer, 2000) Gangguan keseimbangan hormon dapat berupa peningkatan
hormon Luteinizing Hormon (LH) yang menetap sehingga dapat menyebabkan ganguan
ovulasi.
b.Memiliki Riwayat kista ovarium atau keluarga memiliki riwayat kista ovarium.
(Wiknjosastro, 2005)
c. Penderita kanker payudara yang pernah menjalani kemoterapi (tamoxifen)
Tamoxifen dapat menyebabkan kista ovarium fungsional jinak yang biasanya
menyelesaikan penghentian pengobatan tersebut.(William,2007)
d. Pada pengobatan infertilitas
10

Pasien dirawat karena infertilitas dengan induksi ovulasi dengan gonadotropin atau agen
lainnya , seperti clomiphene citrate atau letrozole , dapat mengembangkan kista sebagai bagian
dari sindrom hiperstimulasi ovarium.(William, 2007)
e. Gaya hidup yang tidak sehat
Gaya hidup yang tidak sehat dapat memicu terjadinya penyakit kista ovarium.Risiko kista
ovarium fungsional meningkat dengan merokok ,risiko dari merokok mungkin meningkat lebih
lanjut dengan indeks massa tubuh menurun.Selain dikarenakan merokok pola makan yang tidak
sehat seperti konsumsi tinggi lemak, rendah serat, konsumsi zat tambahan pada makanan,
konsumsi alcohol dapat juga meningkatka risiko penderita kista ovarium.(Bustam,2007)Pada
wanita yang sudah menopause kista fungsional tidak terbentuk karena menurunnya aktivitas
indung telur (Manuaba,2010).
f. Gangguan siklus Haid
Gangguan siklus haid yang sangat pendek atau lebih panjang harus diwaspadai.
Menstuasi di usia dini yaitu 11 tahun atau lebih muda merupakan faktor resiko
berkembangnya kista ovarium, wanita dengan siklus haid tidak teratur juga merupakan faktor
resiko kista ovarium.(Manuaba,2010).
g. Pemakaian alat kontrasepsi hormonal
Wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal juga merupakan faktor resiko
kista ovarium, yaitu pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal berupa
implant, akan tetapi pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi hormonal berupa pil
cenderung mengurangi resiko untuk terkena kista ovarium.(Henderson, 2005)
II.5 Faktor Risiko
Kista ovarium seringkali tanpa gejala, terutama bila ukuran kistanya masih kecil.
Kista yang jinak baru memberikan rasa tidak nyaman apabila kista semakin membesar,
sedangkan pada kista yang ganas kadangkala memberikan keluhan sebagai hasil infiltrasi
atau metastasis kejaringan sekitar.
Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-gejala saja karena mungkin gejalanya
mirip dengan keadaan lain seperti endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar
rahim) atau kanker ovarium.
Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan ditubuh
untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejalanya antara lain: perut ,terasa penuh,
berat dan kembung, tekanan pada dubur dan kandung kemih (sulit buang air kecil), siklus
menstruasi tidak teratur dan sering nyeri, nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang
dapat menyebar ke punggung bawah dan paha, nyeri senggama, mual, ingin muntah, atau
11

pengerasan payudara mirip seperti pada saat hamil, luas permukaan dinding endometrium
menebal,dan pembengkakan tungkai bawah yang tidak disertai rasa sakit. Kadang-kadang
kista dapat memutar pada pangkalnya, mengalami infark dan robek, sehingga menyebabkan
nyeri tekan perut bagian bawah yang akut sehingga memerlukan penanganan kesehatan
segera. (Moore,2001)
II.6 Komplikasi
Salah satu hal yang paling ditakutkan dari penyakit kista ovarium ini ialah kista
tersebut berubah menjadi ganas dan banyak terjadi komplikasi. Komplikasi dari kista
ovarium yang dapat terjadi ialah
1. Perdarahan ke dalam kista
Biasanya terjadi sedikit- sedikit hingga berangsur- angsur menyebabkan kista
membesar, pembesaran luka dan hanya menimbulkan gejala- gejala klinik yang minimal,
akan tetapi jika perdarahan terjadi dalam jumlah yang banyak akan terjadi distensi yang cepat
dari kista yang menimbulkan nyeri diperut.Kista berpotensi untuk pecah, tidak ada patokan
mengenai besarnya kista yang berpotensi pecah.Pecahnya kist bisa menyebabkan pembuluh
darah robek dan menimbulkan terjadinya pendarahan. (Hakimi, 1993)
2. `Infeksi pada kista
Jika terjadi didekat tumor ada sumber kuman patogen.
3. Torsio ( Putaran tangkai )
Torsio atau putaran tangkai trjadi pada tumor bertangkai dengan diameter 5 cm
atau lebih, torsi meliputi ovarium, tuba fallopi atau aligamentum roduntum pada uterus. Jika
dipertahankan torsi ini dapat berkembang menjadi infark peritonitis dan kematian.Torsi
biasanya unilateral dan dikaitkan dengan kista, karsinoma TOA, masa yang tidak melekat
atau yang dapat muncul pada wanita usia reproduksigejalanya meliputi nyeri mendadak dan
hebat dikuadrat abdomen bawah, mual dan muntah dapat terjadi demam leukositosis.
4. Perubahan keganasan
Setelah tumor diangkat perlu dilakukan pemeriksaan mikroskopis yang seksama
terhadap kemungkinan perubahan kegansannya,adanya asites dalam hal ini mencurigakan
masa kista ovarium berkembang setelah masa menapouse sehingga bisa kemungkinan untuk
berubah menjadi kanker.
5. Robek dinding kista
Terjadi pada torsi tangkai, akan tetapi dapat pula terjadi akibat trauma, seperti jatuh
atau pukulan pada perut, dan lebih sering pada waktu melakukan bersetubuh, jika robekan
kista disertai hemoragi yang timbul secara akut, maka perdarahan bebas berlangsung keuterus ke
12

dalam rongga peritoneum dan menimbulkan rasa nyeri terus- menerus disertatai tanda- tanda
akut.
II.7 Pencegahan Kista Ovarium
Belum ada tindakan khusus agar terhindar dari penyakit kista ovarium. Akan tetapi
pencegahan ditujukan untuk menurunkan angka insidensi kista Ovarium dan secara tidak
langsung akan mengurangi angka kematian akibat kista Ovarium.
7.1. Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kista ovarium dilakukan pada orang sehat yang sudah
memiliki faktor risiko untuk terkena kista ovarium.Pencegahan primer dapat dilakukan
melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan berbagai faktor risiko dan melaksanakan
pola hidup sehat seperti tidak merokok, menkonsumsi makanan yang kaya serat dan
mengandung zat anti oksidan yang tinggi, serta hindari zat kimia tambahan yang berbahaya
pada makanan.
7.2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan untuk mengobati para penderita dan mengurangi
akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit kista ovarium melalui diagnosa , pemeriksaan
dini dan bekala kemudian pengobatan yang tepat. (Budiarto, 2002)
Kista ovarium jinak tumbuh secara tersembunyi dan sering tidak dapat dideteksi
selama beberapa tahun.Tidak menyebabkan nyeri, tetapi jika membesar dapat menimbulkan
rasa tidak nyaman dan jarang menimbulkan gangguan menstruasi.Pemeriksaan abdomen dan
vagina secara periodik akan dapat mendeteksi kista ini. Kista tanpa nyeri atau massa padat di
cul-de-sac, atau di tempat ovarium, atau meluas ke abdomen, yang dengan palpasi bersifat
kistik sampai padat, memberi tanda kista ovarium. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan
skening ultrason abdomen atau transvagina, yang dapat membedakannya dari kehamilan,
kegemukan, pseudosiesis, kandung kemih penuh atau degenerasi kistik dari mioma.
(Llewellyn,2001)
Prawirohardjo (2002), menyatakan bahwa apabila pada pemeriksaan ditemukan kista
di rongga perut bagian bawah dan atau di rongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya
(besarnya, lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), maka
perlu ditentukan jenis kista tersebut.Pada kista ovarium biasanya uterus dapat diraba
tersendiri, terpisah dari kista.Jika kista ovarium terletak di garis tengah dalam rongga perut
bagian bawah dan kista itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya kehamilan atau
kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesis perlu lebih cermat dan disertai pemeriksaan
13

tambahan. Apabila sudah ditentukan bahwa kista yang ditemukan ialah kista ovarium, maka
perlu diketahui apakah kista itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik.(Prawirohardjo, 2002)
Kista nonneoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan
gejala-gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan kista-kista akibat peradangan
tidak dapat digerakkan karena perleketan.Kista nonneoplastik umumnya tidak menjadi besar,
dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri.Jika kista ovarium itu bersifat
neoplastik, maka pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari gejala-gejala yang
ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diagnosis diferensial.(Prawirohardjo, 2002)
Penegakan diagnose dapat dibantu dengan pemeriksaan lanjutan yang berupa :
(1) Laparaskopi yaitu pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah
sebuah kista berasal dari ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat kista,
(2) Ultrasonografi yaitu dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas
kista, apakah kista berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah kista kistik
atau solid, dan dapat pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang
tidak.
(3) Foto Rontgen yaitu pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya
hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam
kista
(4) Parasentesis yaitu pungsi asites berguna untuk menentukan sebab asites. Perlu
diperhatikan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan kavum peritonei dengan isi kista
bila dinding kista tertusuk.
II.8 Penatalaksanaan
Apabila kista sudah terlanjur tumbuh dan didiagnosa sebagai kista ovarium yang
berbahaya, biasanya tindakan medis perlu dilakukan. Operasi pengangkatan biasanya akan
dilakukan untuk mencegah kista ovarium tumbuh lebih besar. Penyembuhan dari kista juga
tergantung pada jenisnya masing-masing.Kista ovarium neoplastik memerlukan operasi dan
kista nonneoplastik tidak. Jika menghadapi kista yang tidak memberi gejala atau keluhan
pada penderita dan yang besar kistanya tidak melebihi jeruk nipis dengan diameter kurang
dari 5 cm, kemungkinan besar kista tersebut adalah kista folikel atau kista korpus luteum,
jadi merupakan kista nonneoplastik. Tidak jarang kista-kista tersebut mengalami pengecilan
secara spontan dan menghilang, sehingga pada pemeriksaan ulangan setelah beberapa
minggu dapat ditemukan ovarium yang kira-kira besarnya normal. Oleh sebab itu, dalam hal
ini perlu menunggu selama 2 sampai 3 bulan, sementara mengadakan pemeriksaan
ginekologik berulang. Jika selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan
14

kista tersebut, maka dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan besar kista itu bersifat
neoplastik, dan dapat dipertimbangkan satu pengobatan operatif.(Prawirohardjo, 2002)
Tindakan operasi pada kista ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan
kista dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung kista.Akan tetapi,
jika kistanya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya
disertai dengan pengangkatan tuba (salpingo-ooforektomi).Pada saat operasi kedua ovarium
harus diperiksa untuk mengetahui apakah ditemukan pada satu atau pada dua ovarium.
(Prawirohardjo, 2002)
Pada operasi kista ovarium yang diangkat harus segera dibuka, untuk mengetahui
apakah ada keganasan atau tidak.Jika keadaan meragukan, perlu pada waktu operasi
dilakukan pemeriksaan sediaan yang dibekukan (frozen section) oleh seorang ahli patologi
anatomik untuk mendapatkan kepastian apakah kista ganas atau tidak.Jika terdapat
keganasan, operasi yang tepat ialah histerektomi dan salpingo-ooforektomi bilateral.Akan
tetapi, wanita muda yang masih ingin mendapat keturunan dan tingkat keganasan kista yang
rendah (misalnya kista sel granulosa), dapat dipertanggung-jawabkan untuk mengambil
resiko dengan melakukan operasi yang tidak seberapa radikal.
Terapi bergantung pada ukuran dan konsistensi kista dan penampakannya pada
pemeriksaan ultrasonografi.Mungkin dapat diamati kista ovarium berdiameter kurang dari 80
mm, dan skening diulang untuk melihat apakah kista membesar.Jika diputuskan untuk
dilakukan terapi, dapat dilakukan aspirasi kista atau kistektomi ovarium.Kista yang terdapat
pada wanita hamil, yang berukuran >80 mm dengan dinding tebal atau semisolid memerlukan
pembedahan, setelah kehamilan minggu ke 12.Kista yang dideteksi setelah kehamilan
minggu ke 30 mungkin sulit dikeluarkan lewatpembedahan dan dapat terjadi persalinan
prematur. Keputusan untuk melakukan operasi hanya dapat dibuat setelah mendapatkan
pertimbangan yang cermat dengan melibatkan pasien dan pasangannya. Jika kista
menimbulkan obstruksi jalan lahir dan tidak dapat digerakkan secara digital, harus dilakukan
seksio sesaria dan kistektomi ovarium.