Anda di halaman 1dari 13

I.

Latar Belakang Masalah

Korupsi telah menjadi suatu hal lazim tapi zalim yang biasa terjadi di
setiap organisasi tertentu, terlebih lagi pada organisasi lembaga pemerintahan
yang membawahi beberapa badan atau departemen yang berkoordinasi kepada
lembaga pemerintahan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Praktek korupsi
yang telah terjadi di lembaga pemerintahan telah membuat kepercayaan dari
masyarakat secara drastis semakin berkurang seiring merebaknya korupsi sendiri.

Hal tersebut dikarenakan korupsi telah membawa kerugian bagi


kepentingan masyarakat maupun Negara, sehingga pembangunan yang ditujukan
bagi Negara maupun daerah menjadi terhambat karena danayang seharusnya
digunakan telah diselewengkan oleh sejumlah pejabat penyelenggara Negara atau
daerah yang menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk kepentingan pribadi
tanpa memikirkan kepentingan masyarakat.

Seperti yang telah diketahui sebelumnya, penyebab terjadinya praktik


KKN adalah merosotnya moralitas pejabat penyelenggara Negara atau daerah dan
yang paling signifikan di dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara. Moralitas
pejabat penyelenggara Negara atau daerah yang menurun dapat berdampak pada
kelangsungan negara dalam menjaga eksistensi negara dalam memajukan
kehidupan masyarakat yang sedang berada dalam tahap pembangunan, serta
berpengaruh di dalam kebijakan-kebijakan yang telah diprakarsai oleh
penyelenggara sebelumnya. Merosotnya moralitas pejabat negara disebabkan
karena kurangnya penanaman nilai-nilai dan norma yang ditujukan kepada pejabat
negara sebagai penyelenggara negara, sehingga secara tidak langsung timbullah
berbagai tindakan penyimpangan yang dilakukan oleh pejabat negara.

Hal lainya yang dapat memengaruhi pejabat penyelenggara Negara atau


daerah melakukan korupsi adalah posisi atau jabatan yang diduduki oleh pejabat
penyelenggara Negara atau daerah, karena semakin tinggi posisi atau jabatan yang
diterima maka semakin besar godaan yang dihadapi oleh pejabat penyelenggara
Negara atau daerah dalam melihat berbagai macam situasi atau kondisi yang

1
membuat banyak atau beberapa pejabat penyelenggara Negara atau daerah
berkesempatan melakukan korupsi.

Melihat posisi atau jabatan yang diembaninya, perlu diketahui bahwa


semakin tinggi posisi atau jabatan maka semakin besar pula tanggung jawab yang
harus diamanahkan serta besarnya resiko yang dihadapi oleh pejabat
penyelenggara Negara selaku pemegang posisi atau jabatan yang dapat membawa
pengaruh dan dampak bagi masyarakat yang bersangkutan. Oleh karena itu, perlu
adanya kontrol dari masyarakat dalam mencegah terjadinya penyalahgunaan
kekuasaan yang dapat mengarah ke arah destruktivitas yang bermula pada
penerapan administrasi di lingkungan pemerintahan.

Melihat permasalahan kasus, maka dapat disebutkan bahwa salah satu


kasus korupsi yang disebabkan oleh penyalahgunaan kekuasaan pejabat
penyelenggaran Negara atau daerah adalah kasus korupsi penyalahgunaan
AnggaranPendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang dilakukan oleh Bupati
Kabupaten Cilacap, Probo Yulastoro. Praktek korupsi yang dilakukan Probo
Yulastoro sendiri sebenarnya sudah dilakukan dilakukan sejak tahun 2004-2008,
kemudiansebagian dari kasus korupsi yang telah dilakukan menyangkut
pendapatan daerah dan sisanya korupsi dari dana bagi hasil insentif pajak yang
dilakukan hampir setiap tahun oleh Probo sehingga permasalahannya telah
dimasukkan dalam dakwaan berlapis ketika sidang berlangsung.

Melanjutkan lanjutan permasalahan dari website Tempo (22/10/2010),


sebelumnya Probo Yulastoro telah didakwa menggelapkan uang pendapatan dari
PT. Pelindo III Tanjung Cilacap senilai Rp 1,1 miliyar. Selain itu Probo juga
menyikat uang Dana Alokasi Khusus bidang kesehatan tahun 2004 senilai Rp 1,5
miliyar. Selanjutnya Probo mengemplang dana kas daerah Cilacap tahun 2005
senilai Rp 4,1miliyar. Lalu, Probo juga menyalahgunakan dana operasional
koordinasi penggalian dan peningkatan pendapatan daerah tahun 2005 senilai Rp

2
1,3miliyar dan juga padaAlokasi Dana Desa dengan kerugian negara sebesar Rp
7,68 miliar.1

Selain itu, Probo setiap tahun mulai dari tahun 2004-2008 mengemplang
dana kas daerah dari bagi hasil PBB bagian pemerintah pusat. Bersama Probo
Yulastoro, sejumlah pejabat pemerintahan Kabupaten Cilacap juga dilibatkan
dalam kasus korupsi pembebasan lahan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Bunton hingga mengakibatkan kerugian Negara sebesar Rp 2 miliar, dan pejabat
tersebut antara lainFajar Subekti (Kepala Dinas Pengelola Keuangan Daerah
Kabupaten Cilacap), Suyatmo (pejabat Bagian Pembangunan Pemda Cilacap), dan
Soeprihono (Sekretaris Daerah Cilacap).

Pada awal Juni 2009,Probo ditahan Kejaksaan Tinggi terkait dugaan


korupsi dengan perkiraan total senilai Rp 20,7 miliar melalui pemeriksaan
segmentasi APBD selama periode tahun 2004-2008 dan juga diseret pula Kepala
Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Cilacap, Fajar Subekti, oleh Kejaksaan
Tinggi2. Dari hasil pemeriksaan, telah disebutkan bahwasetiap tahunnya yang
berawal dari 2004 hingga 2008, Probo menambah pundi-pundi kekayaannya
mulai 2004 sebesar Rp 1,3 miliyar, Rp 1,4 miliyar, Rp 1,2 miliyar, Rp 813 juta,
Rp 2 miliyar, dan terakhir tahun 2008 sebesar Rp 7 miliyar dari hasil
penggemplangan dana kas daerah dari bagi hasil PBB bagian pemerintah pusat.

Akibat ditetapkannya Probo Yulastoro sebagai tersangka korupsi


penyalahgunaan APBD Kabupaten Cilacap oleh Kejaksaan Tinggi, maka secara
jelas pemerintahan Kabupaten Cilacap mengalami kekosongan kekuasaan
sehingga acapkali digantikan oleh Tatto Suwarto Pamuji, wakil bupati Kabupaten
Cilacap, sebagai pemegang jabatan bupati dalam waktu sementara ini.Menanggapi
studi kasus yang telah disebutkan pada beberapa paragraf sebelumnya, maka dapat
diketahui bahwa praktek korupsi tidak hanya muncul di lingkungan pemerintahan

1
Terkait Korupsi Lagi, Bupati Cilacap Jadi Tersangka
(http://www.tempo.co/read/news/2010/01/22/058220834/Terkait-Korupsi-Lagi-Bupati-Cilacap-
Jadi-Tersangka)
2
Rugikan Negara Rp 20,7 M, Bupati Cilacap Probo Yulastoro Dituntut 9 Tahun Penjara
( http://infokorupsi.com/id/korupsi.php?ac=4912&l=rugikan-negara-rp-207-m-bupati-cilacap-
probo-yulastoro-dituntut-9-tahun-penjara)

3
pusat saja, namun juga pada lingkungan pemerintahan daerah yang seringkali
dipandang sebelah mata oleh masyarakat melihat lingkup pemerintahan daerah
tidak sebesar pemerintahan pusat, terlebih lagi pada Daerah Tingkat II.

II. Konsep & Teori


A. Korupsi

Kata korupsi berasal dari bahasa latincorruption atau corruptus, yang


selanjutnya disebutkan bahwa corruptio itu berasal pula dari kata asal
corrumpere, suatu kata dalam bahasa latin yang lebih tua. Dari bahasa latin itulah
turun kebanyak bahasa Eropa seperti Inggris, yaitu corruption, corrupt; Belanda,
yaitu corruptive (korruptie), dapat atau patut diduga bahwa istilah korupsi berasal
dari bahasa Belanda dan menjadi bahasa Indonesia, yaitu korupsi, yang
mengandung arti perbuatan korup, penyuapan3.

Syed Hussen Alatas4mendefinisikan bahwa korupsimerupakan suatu


transaksi yang tidak jujur yang dapat menimbulkan kerugianuang, waktu, dan
tenaga dari pihak lain.Definisi tentang korupsi dapat dipandang dari berbagai
aspek bergantung pada disiplin ilmu yang dipergunakan,sehingga korupsiterbagi
menjadi 4 (empat) jenis sebagai berikut5 :

a. Discretionery corruption, ialah korupsi yang dilakukan karena adanya


kebebasan dalam menentukan kebijaksanaan, sekalipun nampaknya
bersifat sah, bukanlah praktik-praktik yang dapat diterima oleh para
anggota organisasi.
b. Illegal corruption, ialah suatu jenis tindakan yang bermaksud
mengacaukan bahasa atau maksud-maksud hukum, peraturan dan regulasi
tertentu.
c. Mercenary corruption, ialah jenis tindak pidana korupsi yang dimaksud
untuk memperoleh keuntungan pribadi, melalui penyalahgunaan
wewenang dan kekuasaan.

3
Ermansjah Djaja, 2010, Memberantas Korupsi Bersama KPK, Jakarta, Sinar Grafika, hal 22
4
Alatas, Syed Hussein, Korupsi : Sifat, Sebab dan Fungsi, Penerjemah, Nirwono, Jakarta:
LP3ES,1987, halvii
5
Ermansjah Djaja, 2010, Memberantas Korupsi Bersama KPK, Jakarta, Sinar Grafika, hal 23

4
d. Ideological corruption, ialah jenis korupsi illegal maupun discretionery
yang dimaksudkan untuk mengejar tujuan kelompok.

Korupsi di Indonesia telah berkembang dalam tiga tahap yang terdiri dari
(1) elitis, (2) endemik, dan (3) sistemik. Pada tahap elitis, korupsi masih menjadi
patologi sosial yang khas di lingkungan para elit/pejabat. Pada tahap endemik,
korupsi mewabah menjangkau masyarakat luas. Lalu di tahap sistemik, setiap
individu di dalam sistem terjangkit penyakit yang serupa. Menurut Djaja
Ermansyah, korupsi di Indonesia telah mencapai tahap sistematik karena telah
mengakar di setiap lembaga atau institusi yang berwenang.

Perbuatan tindak pidana korupsi merupakan pelanggaran terhadap hak-hak


social dan hakhak ekonomi masyarakat, sehingga tindak pidana korupsi tidak
dapat lagi digolongkan sebagai ordinary crimesatau kejahatan biasa melainkan
telah menjadi kejahatan luar biasa extra-ordinary crimes karena telah merusak
keuangan negara dan potensi ekonomi Negara, serta meluluhlantakkan pilar-pilar
sosio budaya, moral, politik, dan tatanan hokum dan keamanan nasional. Jadi,
dalam upaya pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan secara biasa, tetapi
dibutuhkan cara-cara yang bersifat extra-ordinarypula6.

Adapun penyebab terjadinya korupsi di Indonesia, berdasarkan kajian dan


pengalaman di Indonesia menurut Abdullah Hehamahua (2006) ada 8 penyebab
terjadinya korupsi di Indonesia7:

6
Idem, hal 12
7
Abu FidaAbdur Rafi, 2006, Tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi, hlm.xii

5
1. Sistem penyelenggaraan negara yang 5. Hukum yang ringan terhadap
keliru, koruptor
2. Kompensasi PNS yang rendah, 6. Pengawasan yang tidak efektif,
3. Pejabat yang serakah, 7. Tidak ada keteladanan pemimpin,
4. Law enforcment tidak berjalan, 8. Budaya masyarakat yang kondusif
KKN

B. Kekuasaan

. Dinyatakan olehStephen P. Robbins dan Timothy A. Judge bahwa


Kekuasaan adalah kapasitas yang dimiliki oleh suatu orang (A) untuk
memengaruhi perilaku orang lain (B) sehingga orang lain (B) melakukannya
sesuai keinginan suatu orang (A)8. Menurut Robbins dan Judge,kekuasaan pada
dasarnya dianggap sebagai suatu hubungan karena pemegang kekuasaan
menjalankan kontrol atas sejumlah orang lain. Pemegang kekuasaan bisa jadi
seseorang individu atau sekelompok orang, demikian juga obyek kekuasaan bisa
satu atau lebih dari satu.

Menurut Walter S. Jones dalam pandangan politik Internasional sendiri,


juga menyangkutkan kekuasaan atas dasar tujuan dengan menggerakkan orang
lain sehingga termasuk ke dalam satu dari beberapa definisi,
kekuasaanmerupakansalah satu sarana untuk menancapkan pengaruh atas aktor-
aktor lainnya yang bersaing menggapai hasil yang paling sesuai dengan tujuan
masing-masing9.

Dalam melihat asal kekuasaan, sumber kekuasaan telah terbagi ke dalam


pengelompokkan umum yang terdiri dari kekuasaan formal dan kekuasaan
pribadi.Dari pengelompokkan umum tersebut, kemudian dari masing-masing akan
terbagi ke dalam hal yang lebih spesifik10.

8
Robbins, P. Stephen & Judge, A. Timothy, 2014, Perilaku Organisasi : Edisi 16, Penerjemah :
Ratna Saraswati dan Febriella Sirait, Jakarta : Salemba Empat, hal 279
9
Steven J. Rosen and Walter S. Jones,1977, The Logic of International Relations, 2nd
ed(Cambridge Mass : Winthrop Publisher, pp. 44-45
10
B.H. Raven, 1993, The Bases of Power : Origin and Recent Development, Journal of Social
Issues, pp 227-251

6
a. Kekuasaan Formal,
Kekuasaan formal didasarkan pada posisi seorang individu di dalam
organisasi, sehingga dapat memiliki kemampuan untuk memaksa atau
memberikan imbalan, atau dari wewenang formal. Kekuasaan formal telah
dibagi menjadi kekuasaan paksaan, kekuasaan imbalan, dan kekuasaan
legitmasi. Kekuasaan paksaan berdasar pada ketakutan atas hasil yang
negatif akibat kegagalan untuk memenuhi sehingga bertumpu pada
ancaman dan sanksi yang ada. Kekuasaan imbalan menjadi kebalikan dari
kekuasaan paksaan karena didasarkan pada pencapaian kepatuhan yang
didasarkan pada kemampuan untuk mendistribusikan imbalan yang mana
orang lain memandangnya berharga. Kekuasaan legitimasi
mempresentasikan wewenang formal untuk mengendalikan dan
menggunakan sumber daya organisasi yang didsasarkan pada posisi
struktural di dalam organisasi, sehingga secara hirearki formal lebih luas
dibandingkan dengan kekuasaan paksaan atau pun kekuasaan imbalan.
b. Kekuasaan Pribadi,
Kekuasaan pribadi muncul karena adanya karakteristik unik individu,
sehingga terdapat 2 kekuasaan pribadi yang mendasar, yaitu kekuasaan
karena keahlian dan kekuasaan acuan. Kekuasaan karena keahlian
merupakan pengaruh yang didasarkan pada keahlian atau pengetahuan
khusus, sehingga semakin tersepesialisasi maka kita semakin bergantung
kepada ahli untuk mencapai tujuan. Kekuasaan acuan didasarkan pada
identifikasi dengan seseorang yang memiliki sumber dana atau sifat
pribadi yang diinginkan, sehingga seseorang dapat menjalankan kekuasaan
atas dasar acuan untuk hal tertentu yang dihasratkan.
Kekuasaan sendiri juga dapat bersifat merusak sehingga dapat dikatakan
sebagai penyalahgunaan kekuasaan, karena kekuasaan juga dapat mengarahkan
orang untuk menempatkan kepentingannya sendiri di depan kepentingan orang
lain. Menurut Robbins dan Judge, kekuasaan tidak hanya dapat mengarahkan
orang untuk menitikberatkan pada kepentingan mereka sendiri,tapi mereka

7
mampu menggerakkan mereka sebagai alat bantu untuk memperoleh tujuan
instrumental mereka11.
Efek negatif yang bermunculan dari kekuasaan sehingga berdampak
terjadinya penyalahgunaan kekuasaan juga dapat dapat ditanggulangi dengan 3 hal
tertentu, yaitu (1) efek berbahaya dari kekuasaan bergantung pada kepribadian
seseorang, (2) efek merusak dari kekuasaan dapat dikurangi oleh sistem
organisasi, (3) dan adanya kekuatan untuk menumpulkan efek negatif dari
kekuasaan.
Berkaitan dengan korupsi, dapat dikaitkan pada hakikatnya
penyalahgunaan kekuasaan sangat erat kaitanya dengan sebuah jabatan dan
kedudukan serta kewenangan yang dimiliki oleh seseorang ataupun instansi
pemerintah. Lord Acton (John Emerich Edward Dalberg-Acton) menghubungkan
antara korupsi dengan kekuasaan, yaitu power tends to corrupt, and absolut
power corrupts absolutely, yang artinyakekuasaan cenderung untuk korupsi dan
kekuasaan yang absolut cenderung korupsi absolut.

III. Profil dari Organisasi (Pemerintahan Kabupaten Cilacap)


Pemerintah Kabupaten Cilacap
Pemerintahan Kabupaten Cilacap telah distrukturkan dalam Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Cilacap sesuai dengan Standar Operasional
Tingkat Kabupaten (SOTK) 201112, yang dipimpin dan dibawah koordinasi
Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Cilacap. Satuan Kerja Perangkat Daerah
Kabupaten Cilacap telah dibagi menjadi Sekretariat Daerah, Staf Ahli Bupati,
Dinas, Badan, Lembaga lain, Kecamatan, dan Kelurahan. Saat ini (2014),
pemerintahan Kabupaten Cilacap dipegang oleh H. Tatto Suwarto Pamuji sebagai
Bupati, dan Ahmad Edi Susanto, ST sebagai wakil bupati.

11
Robbins, P. Stephen & Judge, A. Timothy, 2014, Perilaku Organisasi : Edisi 16, Penerjemah :
Ratna Saraswati dan Febriella Sirait, Jakarta : Salemba Empat, hal 288
12
Satuan Kerja Perangkat Daerah SOTK 2011
(http://www.cilacapkab.go.id/v2/index.php?pilih=skpd)

8
Dalam pembagian administratif pemerintahan Kabupaten Cilacap,
Kabupaten Cilacap terdiri atas 24 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa
dan kelurahan. Desa-desa tersebar di 24 kecamatan, sedangkan kelurahan ada di 3
kecamatan eks kota administratip Cilacap. Ibukota Kabupaten Cilacap adalah
Cilacap, yang dulunya merupakan Kota Administratif.

Namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999


tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota
Administratif Cilacap kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Cilacap.
Kabupaten Cilacap berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten
Banyumas di utara, Kabupaten Banyumas dan Kabupaten Kebumen di timur,
Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten
Pangandaran (Jawa Barat) di sebelah Barat.

IV. Analisis Studi Kasus

Dari permasalahan studi kasus korupsi penyalahgunaan dana APBD oleh


Probo Yulastoro (Bupati Cilacap) yang telah disebutkan dalam latar belakang
masalah, maka dapat dikaitkan dengan teori-teori yang tertera dalam konsep dan
teori yang dijadikan sebagai dasar analisis studi kasus yang bersangkutan.

Melihat studi kasus korupsi penyalahgunaan dana APBD oleh Probo


Yulastoro, dapat dilihat beberapa poin atas tindakan korupsi yang dilakukan oleh
Probo Yulastoro. Poin pertama menyangkut tujuan dari tindakan korupsi yang
telah dilakukan oleh Probo Yulastoro sebagai Bupati Cilacap setiap tahunnya
sejak periode 2004-2009 dengan menyalahgunakan sebagian dana APBD untuk
bertujuan memperkaya diri sendiri dengan mendahulukan kepentingan pribadi
atas kepentingan masyarakat.

Berdasarkan konsep & teori yang disebutkan, tindakan korupsi yang


dilakukan oleh Probo Yulastoro termasuk kategori mercenary corruption karena
ia melakukan korupsi untuk memperoleh keuntungan pribadi, melalui
penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Selanjutnya dalam kekuasaan yang

9
dipegang oleh Probo Yulastoro secara jabatan tetapnya sebagai Bupati Cilacap
pada periode 2004-2009, seringkali Probo Yulastoro menyalahgunakan wewenang
dan kekuasaan yang dijabatnya karena uang yang seharusnya digunakan untuk
pembangunan daerah pemerintahannya ternyata digunakan untuk kepentingannya
sendiri, terlebih lagi karena kedudukan yang diperolehnya merupakan kedudukan
yang tertinggi di pemerintahan Kabupaten Cilacap sehingga acapkali ia
memengaruhi orang-orang bawahannya untuk melakukan tindakan korupsi secara
rapi dan terstruktur sehingga tercapailah tujuan dan keinginan pribadinya sendiri.

Dasar penetapan kategori mercenary corruptionsebagai jenistindak pidana


korupsi yang dilakukan Probo Yulastoromeliputi dua aspek secara bersamaan
yang terdiriaspek yangmemperkaya diri dengan menggunakan kedudukannya dan
aspek penggunaanuang negara untuk kepentingannya. Tindak pidana korupsi yang
dilakukan oleh Probo Yulastoro semasa pemerintahannya pada periode 2004-2009
umumnya dilakukan secara berlanjut dan terus-menerus sehingga dapat diketahui
informasi dari website infokorupsi.comyang juga disebutkan dalam latar belakang
masalah bahwa tambahan kemampuan ekonomis Probo Yulastoro yang didapati
dari hasil korupsi sejak mulai tahun 2004-2009 sebesar Rp 1,3 miliyar, Rp 1,4
miliyar, Rp 1,2 miliyar, Rp 813 juta, dan Rp 2 miliyar.

Perbuatan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Probo Yulastoro


pada setiap tahunnya baru mencapai tahap elitis karena tindakan korupsi yang
dilakukan hanya terlihat di lingkungan elit pejabat pemerintahan Kabupaten
Cilacap. Namun dari sisi kriminalitas, tindakan pidana korupsi yang dilakukan
Probo Yulastoro telah mengcakup kriteria dari tipe extra-ordinary crimes karena
tindakan pidana korupsi yang dilakukan setiap tahunnya telah membudaya dalam
perilaku dan kebiasaan yang sudah dianggap wajar di lingkungan birokrasi
pemerintahan Kabupaten Cilacap sehingga secara rutin ia telah menganulir dan
menyelewengkan alokasi dana APBD Kabupaten Cilacap hingga berakibat
pembangunan daerah Cilacap menjadi terhambat karena penyalahgunaan dana
APBD untuk kepentingan Probo Yulastoro sendiri beserta dengan antek-anteknya.

10
Budaya korupsi yang pada mulanya dilakukan Probo Yulastoro kian lama
makin menular ke dalam jaringan struktural yang lebih rendah secara jabatan
menjadi salah satu hal yang menjadi faktor meluasnya praktek korupsi di
Indonesia, karena pada umumnya masyarakat Indonesia masih bersifat
paternalistik sehingga dapat dikatakan sangat konduktif terhadap praktek korupsi
yang berawal dari jajaran elit sehingga penanganan kasus korupsi hendaklah ada
pendekatan lebih terhadap masyarakat dalam penanggulangan korupsi.

Pola hidup konsumerisme yang dilahirkan oleh sistem pembangunan


daerah Cilacap di atas mendorong Probo Yulastoro beserta antek-anteknya untuk
menjadi kaya secara instant, sehinggamuncul sikap serakah dimana pejabat
menyalahgunakan wewenang dan jabatannya, melakukan penggelapan sebagian
dari uang APBD yang ditujukan untuk kepetingan pembangunan daerah untuk
menambah kekayaannya secara tidak wajar.

Perilaku korupsi penyalahgunaan APBD yang dilakukan oleh Probo


Yulastoro pada setiap tahunnya juga berkaitan dengan konsep dan teori kekuasaan
yang disebutkan pada bagian konsep dan teori. Dalam signifikansinya, dapat
dilihat bahwa bentuk kekuasaan yang dimiliki oleh Probo Yulastoro sebagai
Bupati Kabupaten Cilacap adalah bentuk kekuasaan formal yang mengacu pada
spesifikasi kekuasaan legitimasi atas dasar tugas dan wewenang formal sebagai
pemegang kekuasaan eksekutif di pemerintahan Kabupaten Cilacap, sehingga
setiap kebijakan yang dibuat dan diimplementasikan untuk masyarakat merupakan
bentuk mekanisme kekuasaan yang berada pada lingkup masyarakat Kabupaten
Cilacap.

Sebagai pemegang jabatan tertinggi dalam pemerintahan Kabupaten


Cilacap, pastilah Probo Yulastoro memiliki hak dan wewenang yang lebih besar
bila dibandingkan dengan bawahannya sehingga dalam melaksanakan suatu
kewajiban dalam dunia politik pemerintahan Kabupaten Cilacap, godaan dan
tanggungjawab yang dihadapi Probo Yulastoro sangatlah besar mengingat segala
putusan kebijakan yang berasal darinya sangat mempengaruhi partisipasi
masyarakat Kabupaten Cilacap. Namun dalam setiap pengambilan dan

11
pengambilan keputusan bagi pemerintahan Kabupaten Cilacap, seringkali Probo
Yulastoro menyelewengkan dana APBD Kabupaten Cilacap.

Penyelewangan dana APBD Kabupaten Cilacap sendiri merupakan salah


satu bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang paling krusial, terlebih lagi bilamana
Probo Yulastoro berkoordinasi dan bersekongkol dengan bawahannya untuk
menempatkan kepentingannya sendiri di depan kepentingan orang lain dengan
turut berpartisipasi dalam tindak pidana korupsi. Dalam hal tertentu, Probo
Yulastoro dapat mencapai nilai terminal yang diperoleh dengan menggerakkan
oknum bawahannya untuk dapat melakukan tindak pidana korupsi.

Penyalahgunaan kekuasaan yang terjadi di lingkungan Pemerintahan


Kabupaten Cilacap menjadi sangat gawat apabila Probo Yulastoro masih saja
menyelewengkan uang dana APBD untuk menempatkan kepentingan pribadi di
atas kepentingan masyarakat sehingga penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan
oleh Probo Yulastoro berdampak negatif bagi kepercayaan masyarakat Kabupaten
Cilacap atas pelayanan publik yang diberikan Pemerintah Kabupaten Cilacap atas
alokasi pembangunan daerah yang menggunakan dana APBD Kabupaten Cilacap
serta terhambatnya pembangunan daerah karena seringkali dana APBD
Kabupaten Cilacap menjadi tidak karuan seperti yang sebenarnya karena telah
diselewengkan oleh Probo Yulastoro beserta oknum bawahannya.

V. Kesimpulan & Saran

Dari analisis studi kasus korupsi penyalahgunaan dana APBD oleh Probo
Yulastoro sebagai Bupati Cilacap yang bertanggungjawab atas korupsi
penyalahgunaan dana APBD untuk mendahulukan kepentingan pribadinya di atas
kepentingan masyarakat, maka dapat dilihat kesimpulan bahwa tindakan yang
dilakukan oleh Probo Yulastoro merupakan penyalahgunaan kekuasaan atas hak
dan atau wewenang yang dimiliki oleh Probo Yulastoro yang seharusnya
digunakan untuk sebesar-besarnya manfaat bagi kepentingan masyarakat.

12
Pada kenyataannya, Probo Yulastoro alih-alih menggelapkan uang dari
dana APBD Kabupaten Cilacap secara rutin dan jumlah yang terkumpul tiap
tahunnya berkisar antara ratusan juta hingga bermiliyaran rupiah, dan secara
langsung ia memengaruhi orang bawahannya untuk dapat melakukan hal-hal yang
hanya menjadi kepentingannya Probo Yulastoro sendiri, dari situ terbukti
penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan Probo Yulastoro .

Penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat penyelenggara Negara atau


daerah merupakan salah satu penyimpangan yang paling krusial dalam
maladministrasi, karena dampak yang muncul sangatlah besar dan berkumulatif
dari satu sisi berlanjut ke sisi lainnya. Penyalahgunaan kekuasaan juga
mencerminkan seberapa jauh predikat Good Governance jauh dari kata baik
karena juga berpengaruh terhadap efisiensi dan efektivitas pelayanan publik
beserta dengan bobroknya dan ketidakteraturan birokrasi yang terlihat jelas,
khususnya di lingkupan pemerintahan sepenangkapan Probo Yulastoro karena
kekosongan kursi kekuasaan sehingga terjadi keruwetan dalam hal administrasi
pemerintahan.

Untuk menanggulangi hal tersebut, perlu adanya penanggulangan


terjadinya penyalahgunaan kekuasaan yang bertumpu pada praktek tindak pidana
korupsi, sehingga dapat dilakukan mekanisasi reformasi sistem administrasi
pemerintahan yang benar-benar bisa menunjang efektivitas dan efisiensi kinerja
pemerintahan tanpa adanya praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme di lingkungan
pemerintahan sendiri. Juga perlu adanya penerapan merit systemdalam
memasukkan orang-orang tertentu di dalam lingkupan pemerintahan sehingga
dapat dijamin adanya SDM yang benar-benar siap dalam menghadapi
permasalahan dalam lingkupan pemerintahan secara kuantitas maupun kualitas
dengan menjaga integritas sebaik-baiknya, sehingga lama-kelamaan praktek
korupsi yang membudaya telah hilang sedikit demi sedikit. Jadi, untuk
menanggulangi terjadinya penyalahgunaan kekuasaan perlu adanya perubahan
sistem dari dalam lingkupan pemerintahan itu sendiri.

13