Anda di halaman 1dari 14

TUGAS ESSAY ASSESSMENT BLOK 24

ESTETIK

Disusun Oleh :

Nama : Dinda Rifka Mutiara

NIM : J2A013047

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2017
A. PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu di bidang kedokteran gigi telah menemukan teknik untuk
merestorasi kelainan atau kerusakan gigi khususnya berkaitan dengan estetik. Kemajuan
Ilmu pengetahuan secara umumpun sangat berpengaruh pada pergeseran kebutuhan
masyarakat akan perawatan gigi yang semula hanya berkisar pada penghilangan rasa sakit
dan pemenuhan fungsi pengunyahan, maka saat ini kecenderungan akan perawatan gigi
lebih menitikberatkan pada estetik. Estetika dalam bidang kedokteran gigi tidak dapat
dilepaskan dari estetika secara universal. Samra dkk. (2007) mengatakan bahwa warna,
bentuk dan tekstur permukaan sangat penting dalam estetika serta memberikan karakter
pada senyum seseorang.
Perawatan terhadap gigi dan mulut pasien yang melibatkan faktor estetik salah
satunya adalah dalam hal penumpatan gigi. Salah satu tujuan dari penumpatan gigi itu
sendiri adalah untuk mengembalikan setiap struktur gigi yang hilang seperti keadaan alami
gigi dari aspek bentuk, warna, posisi, dan lainnya sehingga bisa mengembalikan fungsi
gigi dalam hal pengunyahan, menggigit, menelan, bicara, dan tentunya penampilan.
Hampir semua perawatan dari perawatan di bidang kedokteran gigi bersifat estetis, ada
pula yang bersifat kosmetis atau bersifat mempercantik namun juga bersifat sementara.
Perawatan kosmetik adalah seperti pemutihan gigi (bleaching), meletakkan berlian pada
gigi, veneer dan sebagainya.
Seiring kemajuan jaman dimana senyum adalah sarana penunjang pergaulan, pasien
menginginkan restorasi gigi yang warnanya sangat mendekati warna gigi asli. Pasien juga
mengharapkan warna yang sesuai tersebut dapat bertahan dalam periode waktu tertentu.
Perkembangan teknologi restorasi dewasa ini telah mengubah arah perawatan menjadi
lebih konservatif. Kecenderungan yang berkembang adalah penggunaan bahan restorasi
yang mampu melekat baik secara fisikokimiawi maupun mikromekanis dengan struktur
gigi sehingga dapat meminimalisir jaringan keras gigi yang harus dikurangi.
Beberapa macam teknik untuk mengoreksi gigi yang kurang memenuhi prinsip
estetik bisa menggunakan bleaching, restorasi indirect atau direct (inlay dan onlay) dan
veneer. Bleaching merupakan suatu cara pemutihan kembali gigi yang berubah warna
sampai mendekati warna gigi asli dengan proses perbaikan secara kimiawi, tujuan dari
bleaching adalah untuk mengembalikan estetis penderita. Inlay merupakan restorasi
intrakoronal bila kerusakan mengenai sebagian cusp atau tambalan yang berada di antara

2
cusp, sehingga ukurannya biasanya tidak begitu luas. Onlay merupakan restorasi
intrakoronal bila kerusakan mengenai lebih dari 1 cusp atau lebih dari 2/3 dataran oklusal
karena sisa jaringan gigi yang tersisa sudah lemah. Sedangkan, Veneer merupakan sebuah
bahan pelapis yang sewarna dengan gigi yang diaplikasikan pada sebagian atau seluruh
permukaan gigi yang mengalami kerusakan atau pewarnaan intrinsik. Bahan yang
digunakan untuk pembuatan veneer dapat dari resin komposit, keramik atau porselen.

3
B. PEMBAHASAN
1. Dental Bleaching
Dental Bleaching menjadi materi pertemuan pertama di blok 24 (blok elektif) yang
diselenggarakan pada hari Sabtu, 17 Juni 2017 yang diawali dengan pemaparan materi
tentang Bleaching dari drg. Irfan Dwiandhono, Sp.KG dan kemudian dilanjutkan dengan
Live Demo. Materi Live Demo adalah tentang bleaching in office gigi anterior vital
rahang atas dan rahang bawah dengan menggunakan bahan 37,5% hydrogen peroxide
(Pola Office+).
Terdapat tiga cara untuk membuat gigi menjadi lebih putih tergantung dari
penyebabnya. Cara yang pertama yaitu dengan melakukan polishing yaitu pemolesan
pada permukaan gigi dengan menggunakan alat khusus di dokter gigi, cara ini efektif
untuk menghilangkan stain yang menempel pada permukaan gigi seperti noda rokok,
kopi, teh, cola dan sebagainya. Apabila gigi terlihat kusam karena faktor ekstrinsik cara
terbaik untuk mencerahkan gigi adalah dengan cara polishing. Biasanya polishing
dilakukan bersamaan dengan pembersihan karang gigi / scalling. Tetapi apabila setelah
dilakukan polishing, warna gigi masih kurang memuaskan bisa dilakukan ke tahap
bleaching.
Bleaching merupakan suatu cara pemutihan kembali gigi yang berubah warna,
sampai mendekati warna gigi asli dengan proses perbaikan secara kimiawi dan tujuannya
mengembalikan faktor ekstrinsik penderita. Teknik bleaching memiliki beberapa
keuntungan, antara lain lebih baik dari segi estetik karena tidak mengambil jaringan keras
dan teknik perawatan relatif lebih mudah dibandingkan dengan pembuatan suatu mahkota
tiruan. Bleaching dapat dilakukan pada gigi vital ataupun gigi non vital yang mengalami
perubahan warna (Tarigan, 1994).
Bleaching merupakan salah satu perawatan yang dapat dilakukan untuk membuat
gigi menjadi lebih putih dan cerah. Perawatan tersebut menggunakan bahan pemutih gigi
yang terbilang aman, apabila berada di bawah pengawasan dari dokter gigi. Namun,
sebelum memutuskan untuk melakukan perawatan ini sebaiknya mengetahui etiologi atau
penyebab dari perubahan warna gigi, sehingga dapat ditentukan apakah gigi tersebut
dapat dilakukan bleaching atau tidak dan juga apakah gigi tersebut termasuk gigi yang
vital atau non vital. Gigi non vital merupakan gigi yang sudah mati, misalnya karena

4
patah atau karena karies sehingga dapat terjadi perubahan warna karena kematian dari
jaringan pulpa. Sedangkan gigi vital merupakan gigi yang masih berfungsi dengan baik.
Penyebab dari terjadinya perubahan warna gigi seperti yang diketahui dibagi menjadi
2 faktor yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik merupakan faktor
yang menyebabkan perubahan warna gigi yang berasal dari gigi itu sendiri misalnya
dekomposisi jaringan pulpa atau sisa makanan, penyakit metabolik yang berat selama
fase pertumbuhan gigi misalnya alkaptonuria yang menyebabkan gigi berwarna coklat,
perdarahan didalam kamar pulpa, pemakaian antibiotik misalnya tetrasiklin. Pemakaian
obat golongan tetrasiklin selama proses pertumbuhan gigi dapat menyebabkan perubahan
gigi yang permanen, sehingga akan sulit dilakukan perawatan bleaching (Tarigan, 2002).
Faktor esktrinsik merupakan faktor yang menyebabkan perubahan warna yang
berasal dari luar gigi misalnya Oral Hygiene yang kurang baik, perubahan warna pada
gigi karena kebersihan mulut yang tidak baik dapat menyebabkan gigi berwarna hijau,
jingga, kuning atau bahkan coklat. Selain itu, pengaruh makanan dan minuman misalnya
teh, kopi dan lain-lain, kebiasaan merokok dapat menghasilkan gigi yang berwarna coklat
sampai hitam pada daerah servikal gigi (Tarigan, 2002). Selain faktor etiologi dari
bleaching, yang harus diketahui sebelum melakukan perawatan bleaching adalah indikasi
dan kontraindikasi dari perawatan bleaching. Terdapat beberapa indikasi dan
kontraindikasi dari bleaching gigi non vital. Indikasi non vital bleaching adalah pada
beberapa kasus perubahan warna yang disebabkan oleh perdarah karena trauma, preparasi
kavitas ruang pulpa yang tidak baik, obat sterilisasi saluran akar, bahan pengisi saluran
akar dan bahan tumpatan amalgam. Kontraindikasi non vital bleaching adalah dikolorasi
email pada bagian superfisial, kerusakan pada bentuk email, kehilangan jaringan dentin
berat, terdapat karies, diskolorasi komposit pada bagian proksimal (kecuali pada bagian
tersebut diganti setelah proses bleaching) (Torabinejad dan Walton, 2009).
Perubahan warna yang terjadi dapat diakibatkan oleh perdarahan karena trauma,
preparasi kavitas ruang pulpa yang tidak baik, obat-obatan sterilisasi saluran akar, bahan
pengisi saluran akar, maupun penggunaan bahan tumpatan. Bahan pemutih melalui intra
korona merupakan oksidator / reduktor yang kuat karena daya penetrasi yang kuat untuk
menembus bahan prganik pada tubuli dentin dan interprismatik enamel sifat self limiting
dan tidak residual yang dipakai yaitu hidrogen peroksida, Sodium Perborat dan Karbamid
Peroksida. Hidrogen Peroksida merupakan bahan pemutih yang paling sering digunakan

5
untuk bleaching, tidak berwarna, viskositas rendah dan merupakan pksidator yang kuat
sehingga dalam penggunaannya harus berhati-hati, jangan samapi tertelan atau
terinhalasi.
Hirdogen peroksida memiliki konsistensi cairan yang bening, tidak berwarna dan
tidak berbau, dan lebih kental dari air. Memiliki sifat oksidator yang sangat kuat dan
digunakan sebagai bahan pemutih, juga sebagai desinfektan. Hidrogen peroksida relatif
tidak stabil dan mengalami dekomposisi secara perlahan dan melepaskan oksigen.
Hidrogen peroksida dapat larut dalam air dan menyebabkan suasana menjadi asam, dan
pH dipengaruhi oleh konsentrasinya. Pola Office+ dari SDI dengan kandungan 37,5%
hidrogen peroksida merupakan salah satu bahan pemutih yang dapat digunakan dalam
perawatan bleaching. Indikasi dari bahan pemutih tersebut adalah pemutihan untuk gigi
yang mengalami diskolorasi serta untuk gigi non vital. Kontraindikasi bahan pemutih
tersebut adalah wanita hamil dan menyusui, anak-anak dibawah usia 14 tahun,
penggunaan gingival barrier pada pasien yang diketahui memiliki alergi terhadap resin,
orang yang memiliki alergi terhadap peroksida, pasien yang memiliki gigi sensitif.
Bleaching (pemutihan gigi) dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu bleaching secara
eksternal yang dilakukan pada gigi vital yang mengalami perubahan warna dan bleaching
secara internal yang dilakukan pada gigi non vital yang telah dilakukan perawatan saluran
akar dengan baik (Walton dan Torabinejad, 1996). Prosedur bleaching dapat dilakukan
secara in office bleaching (dikerjakan di klinik oleh dokter gigi secara langsung) atau
home bleaching (dilakukan dirumah dengan pantauan dokter gigi). Tahapan home
bleaching dilakukan dirumah saat malam hari, selama kurang lebih 2 minggu. Prosedur
awal yang dilakukan yaitu dengan mencetak gigi terlebih dahulu untuk dibuatkan tray
dan kemudian diberikan gel bleaching, kemudian setelah menyikat gigi malam, gel
diletakkan pada tray yang sudah dibuatkan dan dipakaikan ke gigi selama tidur. Efeknya
biasanya akan terlihat dalam 1-2 minggu setelah pemakaian.
Tahapan in office bleaching, prosedur dilakukan di ruang praktek dokter gigi dan
hanya membutuhkan satu kali kunjungan. Proses pertama yang dilakukan yaitu mengukur
warna awal gigi menggunakan shade guide terlebih dahulu untuk mengetahui perubahan
yang terjadi setelah dilakukan bleaching, isolasi dan keringkan gingiva dan gigi,
kemudian pemasangan gingival barrier (dalam bentuk syringe) sampai masuk ke
interdental yang berfungsi untuk melindungi gingiva karena sifat dari hidrogen peroksida

6
yang dapat membuat iritasi pada jaringan gingiva, lebar dari gingival barrier kurang lebih
3-5 mm dan di light cure selama 20 detik, aplikasi gingival barrier harus menutupi
seluruh gingiva yang kemungkinan akan berkontak dengan bahan pemutih gigi, kemudian
pengaplikasian gel bleaching di permukaan gigi dan didiamkan selama 10 menit, setelah
10 menit bersihkan gel bleaching menggunakan cutton pelet atau bisa menggunakan
suction khusus, setelah selesai pengaplikasian di seluruh gigi yang diinginkan untuk di
putihkan bisa dilakukan pengukuran kembali menggunakan shade guide sehingga bisa
diketahui berapa tingkat peningkatan warna gigi setelah dilakukan bleaching. Proses
bleaching biasanya dapat dilakukan kembali bila pasien merasa warna yang diperoleh
pertama kali setelah bleaching kurang memuaskan. Pada kasus diskolorasi gigi karena
antibiotik tetrasiklin atau karena fluorosis, bleaching biasanya tidak memberikan
perubahan yang maksimal. Lepaskan gingival barrier dengan menggunakan sonde, cuci
dengan air.

2. Restorasi Indirect Onlay


Restorasi Indirect Onlay menjadi materi pertemuan kedua di blok 24 (blok elektif)
yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 8 Juli 2017 yang diawali dengan pemberian materi
tentang restorasi Direct / Indirect Onlay dari drg. Irfan Dwiandhono, Sp.KG dan
kemudian dilanjutkan dengan Hands On. Hands On dilakukan oleh setiap mahasiswa,
mahasiswa memperoleh alat dan bahan yang dibutuhkan dalam mengerjakan restorasi
Indirect Onlay yaitu cetakan model kerja gigi M1 rahang bawah yang telah di preparasi,
Optra Sclupt, dan beberapa macam komposit sesuai warna email dan dentin.
Beberapa kasus dimana kerusakan gigi yang terjadi cukup parah dan jaringan gigi
yang tersisa kurang memadai untuk dilakukan penumpatan biasa dengan komposit,
restorasi yang dapat dipilih adalah dengan restorasi inlay, onlay atau crown. Restorasi
akhir merupakan bagian yang paling penting dari kunci keberhasilan perawatan
endodontik. Restorasi pasca endodontik membutuhkan desain yang dapat melindungi sisa
jaringan gigi dari fraktur, mencegah terjadinya reinfeksi melalui sistem saluran akar dan
menggantikan struktur gigi yang hilang (Cohen dan Hargreaves, 2006). Bila beberapa
tonjol gigi yang hilang namun masih memiliki ketebalan struktur email dentin yang
cukup dan pasien menginginkan restorasi sewarna gigi, maka onlay komposit indirect
bisa menjadi pilihan. Secara umum restorasi komposit gigi dibagi menjadi dua golongan

7
yaitu, restorasi direct dan restorasi indirect (Messer dan Wilson, 2006). Restorasi ini
masing masing memiliki kelebihan dan kekurangan, pada restorasi komposit direct
memiliki keuntungan antara lain estetik baik, pembuangan jaringan minimal, preparasi
lebih mudah, lebih ekonomois dari restorasi indirect, waktu lebih singkat, sedangkan
kekurangannya adalah pengerutan akibat polimerisasi dan keausan, untuk mengatasi
kekurangan komposit secara direct dikembangkan restorasi komposit secara indirect.
Restorasi komposit indirect memiliki beberapa keuntungan antara lain kemampuan
memperkuat struktur gigi yang tersisa, dapat mengurangi shrinkage yang terjadi pada saat
polimerisasi, dapat membentuk kontur dan kontak yang lebih akurat, biokompataibel,
keadaan fisik lebih baik, tidak terkontaminasi saliva pada saat pengerjaan serta mudah
dikoreksi bila terjadi kerusakan (Sherwood, 2010). Sedangkan kerugiannya adalah, biaya
dan waktu bertambah serta dibutuhkan keterampilan khusus dalam prosesnya di
laboratorium untuk mendapatkan restorasi yang akurat (Sherwood, 2010).
Pada pertemuan kedua blok estetik, membahas tentang restorasi komposit onlay
secara indirect. Penentuan suatu perawatan sebelumnya harus diketahui indikasi dan
kontraindikasi terlebih dahulu, adapaun indikasi dari restorasi komposit onlay secara
indirect adalah pada kavitas yang luas, estetik lebih baik karena warna dapat disesuaikan
dengan keinginan pasien. Sedangkan kontraindikasinya adalah pasien tidak boleh
memiliki kebiasaan parafungsi, ketidakmampuan menciptakan lingkungan yang kering,
kesukaran mencapai daerah subgingiva yang dalam. Tahapan yang dilakukan sebelum
pengaplikasian dari onlay komposit yaitu melakukan preparasi pada gigi yang akan
dilakukan perawatan.
Preparasi dilakukan dengan pengambilan kedalaman kavitas sedalam 1,5-2 mm
untuk memberi kekuatan pada restorasi onlay di bagian oklusal, internal line angle
dibulatkan untuk mengindari tekanan, tepi kavitas di bevel untuk mengurangi stres saat
polimerisasi, kemungkinan terjadinya fraktur pada restorasi, serta pembuatan dinding
kavitas yang tegak dan sedikit membuka ke arah oklusal 5-10 untuk memudahkan arah
pemasangan restorasi pada saat penyemenan. Restorasi menggunakan komposit secara
indirect juga sangat dipengaruhi semen luting yang merupakan perantara antara restorasi
dengan permukaan gigi (Steen, 1992). Yang harus dipastikan saat preparasi adalah tidak
adanyan undercut dan kedalaman minimum yang masih bisa untuk preparsi dari
permukaan oklusal adalah 1,5 mm (Hombrook, 2002).

8
Pencetakan dilakukan setelah gigi selesai di preparasi, bahan cetak dapat dipilih
sesuai keinginan misalnya bahan cetak polyvinylsiloxane, irreversible hidrokoloid,
elastomer, atau silikon tambahan. Yang penting perhatikan bahwa bahan cetak dapat
menjangkau tempat yang terdalam. Kemudian dilakukan penyesuaian warna gigi,
penyesuaian warna gigi dilakukan pada daerah dentin dan enamel. Warna dentin
disesuaikan dengan dentin yang terpapar, bila terdapat amalgam tattoo atau stain, area
servikal dari permukaan oklusal dari gigi. Penyesuaian warna enamel dengan
menggunakan foto juga dapat dilakukan. Kemudian kavitas ditutup dengan restorasi
sementara, dapat menggunakan semen berbasis resin.
Pembuatan die, model dituangkan dalam bentuk die. Kemudian dari die yang telah
disiapkan aplikasikan separator bisa menggunakan vaselin, dan dibagian gigi tetangganya
diletakan seal tape, bahan resin komposit diletakan selapis demi selapis demi selapis,
diawali dengan meletakan selapis tipis komposit dibagian dasar gigi yang telah dilakukan
preparasi, kemudian pembuatan dinding proksimal dengan menggunakan komposit warna
dentin, setelah pembuatan pembuatan dinding proksimal kemudian aplikasikan komposit
selapis demi selapis untuk membuat tonjol dari gigi sesuai dengan anatomi, pembuatan
tonjol gigi sebaiknya dibuat satu per satu tonjol gigi supaya diperoleh hasil yang baik dan
sesuai dengan anatomi asli gigi, kemudian alirkan flowable composite untuk memberikan
efek alami pada gigi yang telah di aplikasikan onlay. Bentuk proksimal, kontak
proksimal, anatomis oklusal harus diperhatikan.
Masing-masing tahap setelah pengaplikasian komposit, dilakukan penyinaran
menggunakan light cure selama 20 detik, setelah seluruh anatomi gigi terbentuk
kemudian lakukan finishing penyinaran di semua sisi onlay. Pada pertemuan passen,
dilakukan passen restorasi pada kavitas. Letakkan restorasi pada kavitas, jangan tekan
onlay ke gigi. Saat onlay sudah selesai, periksa integritas marginal, kontak proksimal, dan
warna gigi. Restorasi diangkat dan dibersihkan dengan phosphoric acid 37% selama 30
detik, kemudian cuci dengan air, kemudian permukaan dalam restorasi diberi silane
coupling agent, bisa juga tanpa pemberian silane coupling agent. Kemudian kavitas di
etsa dengan phosphoric acid 37% selama 15-20 detik, cuci dan keringkan. Restorasi
disemenkan ke dalam kavitas. Hilangkan semua sisa semen yang berlebih, lakukan
finishing menggunakan bur pita kuning, periksa oklusi dan daerah interproksimal.
Kemudian lakukan polishing menggunakan Astropol 3 step atau bisa menggunakan 1

9
step, setelah itu untuk memberikan efek berkilau pada restorasi dapat menggunakan
Astrobrush.

3. Direct Labial Veneer


Veneer menjadi materi pertemuan ketiga sekaligus pertemuan terakhir di blok 24
(blok elektif) yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 22 Juli 2017 yang diawali dengan
pemberian materi tentang restorasi Direct Labial Veneer dari drg. Irfan Dwiandhono,
Sp.KG dan kemudian dilanjutkan dengan Hands On. Hands On dilakukan oleh setiap
mahasiswa, mahasiswa memperoleh alat dan bahan yang dibutuhkan dalam mengerjakan
Direct Labial Veneer yaitu cetakan model kerja gigi 11 rahang atas yang telah di
preparasi, Optra Sclupt, pensil, dan beberapa macam komposit sesuai warna email dan
dentin.
Veneer adalah sebuah bahan pelapis yang sewarna dengan gigi yang diaplikasikan
pada sebagian atau seluruh permukaan gigi yang mengalami kerusakan atau pewarnaan
intrinsik dengan tujuan untuk melapisi permukaan gigi yang berubah warna, mengalami
defek dan perubahan bentuk, agar mempunyai kualitas penampilan yang lebih baik
(Jordan, 2000). Terdapat dua tipe veneer, antara lain Partial veneer dan Full veneer.
Partial veneer diindikasikan untuk restorsai permukaan gigi yang mengalami perubahan
warna secara intrinsik, dan kerusakan yang terlokalisir. Pembuatan partial veneer
dilakukan secara direct (langsung diaplikasikan pada pasien). Full veneer untuk restorasi
yang memerlukan pelapisan permukaan fasial secara luas atau untuk area yang
mengalami staining intrinsik pada permukaan fasial. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan sebelum pemasangan full veneer, yaitu: usia pasien, oklusi, kondisi
kesehatan jaringan sekitarnya, letak dan posisi gigi, serta kebersihan rongga mulut pasien.
Pembuatan full veneer dilakukan secara direct dan indirect. Pada pertemuan ketiga blok
24, teknik yang digunakan yaitu labial veneer komposit direct.
Terdapat tiga indikasi utama bagi labial veneer komposit direct adalah lesi white
spot, pewarnaan akibat fluorosis dan pewarnaan akibat hipoplastik. Hal ini disebabkan
karena ketiga pewarnaan ini terbatas pada ketebalan email saja dan tidak meluas ke
dentin. Namun dengan tingkat teknologi bonding dibidang kedokteran gigi demikian
majunya sehingga memungkinkan untuk melakukan veneer komposit direct dengan baik
dan berdaya tahan cukup lama (Jordan, 2000).

10
Veneer hanya diindikasikan untuk kasus-kasus seperti diskolorasi gigi yang tidak
memberikan perubahan yang cukup signifikan saat dilakukan perawatan bleaching, gigi
yang memerlukan perbaikan bentuk dan ukuran selain dari faktor warna yang kurang
baik. Tidak seperti bleaching yang hasilnya tidak dapat diprediksi, dengan melakukan
prosedur veneer dapat memberikan warna gigi sesuai yang diinginkan (terutama bila
menggunakan bahan porcelain). Namun, veneer memiliki beberapa kekurangan yaitu
diperlukan preparasi permukaan gigi setebal kurang lebih 1,5 mm untuk tempat
dipasangkannya veneer agar gigi tidak terlihat lebih maju dan terlihat alami setelah
dipasang veneer.
Bahan yang digunakan untuk pembuatan veneer dapat dari resin komposit, keramik
atau porselen. Veneer porselen adalah suatu bahan untuk meningkatkan penampilan
estetik gigi yang mengalami pewarnaan. Veneer porselen berupa lapisan tipis setebal kira
kira 0.5 0.8 mm yang menutupi permukaan labial gigi anterior dan permukaan bukal
beberapa gigi premolar. Veneer dibentuk dengan struktur yang serupa dengan gigi agar
dapat melekat erat pada gigi yang akan di preparasi. Sebelum melakukan preparasi
permukaan gigi dibersihkan dengan bahan pumis menggunakan rotary brush. Pada
preparasi veneer komposit direct pada gigi 11 tidak dilakukan anestesi karena preparasi
dilakukan hanya pada permukaan email. Preparasi dilakukan untuk mendapatkan tempat
bagi bahan komposit agar gigi tampak serasi dan untuk memudahkan pada waktu
pengetsaan (Mota, 2006).Tepi preparasi pada bagian servikal tepat dibawah gingival
crestse dalam 0,5 mm untuk menempatkan tepi preparasi pada email yang sehat dan
untuk mendapatkan bentuk yang estetik, karena batas tepi preparasi tidak tampak. Untuk
preparasi bagian proksimal tidak menghilangkan kontak proksimal, preparasi bagian
insisal dengan kedalam 1 mm dari tepi insisal. Bentuk preparasi akhir yaitu bentuk
window.
Pengetsaan dilakukan untuk membentuk mikroporositas permukaan email untuk
memberi ruang bagi masuknya resin, sehingga terbentuk resin tag yang dapat menambah
kekuatan perlekatan bahan tambalan pada permukaan gigi. Restorasi gigi anterior
memerlukan bahan restorasi yang dapat menyerupai penampilan gigi alami baik dalam
hal warna, trasnlusensi, maupun tekstur permukaan. Selain itu bahan restorasi tersebut
harus memiliki kekuatan dan daya tahan yang baik. Kelebihan dari resin mudah
diaplikasikan, tidak memerlukan tahapan pekerjaan yang banyak, efisien waktu,

11
ekonomis, dan mempunyai estetik yang baik. Bahan restorasi yang baik yang memenuhi
persyaratan tersebut salah satunya adalah resin komposit yang digunakan pada aplikasi
veneer kali ini (Eliades dkk., 2005). Berdasarkan bahan ukuran dan jenis bahan pengisi
resin komposit dibagi menjadi 4 yaitu resin komposit konvensional, resin komposit
microfilled. Macam dan jumlah bahan pengisi serta sifat dan derajat polimerisasi resin
menentukan sifat fisik dan mekanik komposit. Resin komposit konvensional memiliki
partikel bahan pengisi berukuran antara 1-100 m, resin komposit microfilled memiliki
partikel bahan pengisi berukuran 0,01-1 m, resin hybrid memiliki partikel pengisi
campuran antara partikel pengisi resin komposit konvensional dan mikrofilled.
Bahan komposit yang digunakan pada pertemuan ini adalah komposit nanofilled
(Tetric N-Ceram) yang memiliki ukuran partikel yang sangat kecil sehingga dapat
mengisi rongga pada matriks resin lebih sempurna sehingga dapat memberi kekuatan
yang lebih besar, daya tahan yang lebih baik serta mudah dipoles sehingga menghasilkan
permukaan yang lebih halus dan mengkilat, warna yang lebih memuaskan dan nilai
estetik yang lebih baik. Sehingga tujuan dari pembuatan restorasi veneer yaitu untuk
mengembalikan fungsi estetik dan restorasi dapat bertahan lama bisa didapatkan
(Hargreaves, 2002).
Setelah dilakukan preparasi pada gigi, kemudian gigi dicetak menggunakan
elastomer, setelah itu aplikasikan komposit selapis tipis dibagian incisal gigi yang telah di
preparasi dengan bantuan cetakan elastomer untuk membentuk bagian palatal gigi ditekan
menggunakan Opta Sclupt, kemudian aplikasikan komposit di bagian proksimal untuk
membentuk bagian proksimal tidak lupa diperhatikan kontak proksimal dengan gigi
tetangganya, setelah itu aplikasikan komposit selapis demi selapis untuk menutupi sampai
ke bagian labial sesuai warna dentin dan email untuk hasil yang halus dan rapih gunakan
Opta Sclupt saat penekanan komposit di permukaan gigi. Kemudian untuk memberikan
efek translusen, aplikasikan komposit warna dentin, bagian incisal dibentuk mamelonnya
untuk memberikan efek alami sesuai anatomi gigi aslinya. Penyinaran menggunakan light
cure dilakukan setiap saat setelah pengaplikasian komposit pada gigi selama 20 detik.
Setelah seluruh bagian gigi sudah diaplikasikan komposit, kemudian lakukan finishing
menggunakan bur pita merah untuk menghilangkan kelebihan komposit yang ada di gigi,
setelah itu lakukan polishing menggunakan Astropol 1 step dan untuk memberikan efek
berkilau gunakan Astrobrush.

12
C. PENUTUP
Pengertian estetik bersifat subyektif dalam arti yang sulit ditentukan batasnya. Oleh
karena itu merupakan kewajiban bagi dokter gigi untuk memahami pengertian estetik
menurut pasien. Selain itu dokter gigi juga harus mampu mengarahkan pasien agar pasien
memahami nlai estetik yang ideal bagi individunya. Konesp estetik dalam bidang
kedokteran gigi dapat membantu pasien mencapai rasa percaya dirinya. Namun setiap
tindakan yang dilakukan untuk mencapai estetik yang diinginkan harus berdasarkan
tujuan kesehatan gigi secara menyeluruh.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi nilai estetik pada perawatan kedokteran
gigi antara lain kesesuaian warna, keadaan kavitas gigi, translusensi alamiah gigi,
perubahan warna yang terjadi akibat perubahan komponen kimia, stain yang disebabkan
oleh faktor-faktor eksternal, keadaan kavitas gigi dan kebocoran tepi.
Restorasi dengan labial veneer komposit secara langsung dapat mengembalikan
fungsi estetik pada pasien yang mengalami white spot dan malformasi gigi dan
merupakan perawatan alternatif dan instan bagi pasien yang tidak memiliki waktu serta
ekonomi yang cukup. Untuk memperkuat struktur gigi yang tersisa setelah perawatan
endodontik dipilih restorasi onlay komposit indirek karena dapat mengembalikan
kekuatan, bentuk dan fungsi gigi, estetik serta memberikan kepuasan bagi pasien.

13
DAFTAR PUSTAKA

Aphale, H., Kumar SN., Gayake, P., Sahane, D dan Mahajan, H. 2012. The ideal smile
and its characteristic. Int J of Dent Pract & Med Sciences.
Hatrick, Eakle dan Bird. 2011, Dental Materials: Clinical Applications for Dental
Assistants and Dental Hygienists, 2nd ed. Philadelpia: Elsevier.
Jordan JE. 2000. Esthetic composite bonding, 2nd edition.St, Louis Mosby Year Book.
McCabe,F., Walls,WG. 2008. Applied Dental Materials. 9th ed. Blackwell Publishing
Mitchell DA, Mitchell L. Oxford handbook of clinical dentistry. 4th Ed. Oxford University
Press.
Musskopf ML., Rocha JM., dan Rsing CK. 2013. Perception of smile esthetics varies
between patients and dental professionals when recession defects are present.
Brazilian Dent J.
Roberson,T.M., Heymann,E.J. Swift, Jr. 2008. Sturdevants Art and Science of Operative
Dentistry. 5th ed. St.Louis;Mosby.
Sherwood IA. 2010. Esential of operative dentistry. New Delhi: Jaypee Ltd.
Silva, GC., Castilhos, ED., Masotti, AS., dan Rodrigues-Junior,SA. 2012. Dental esthetic
self-perception of Brazilian dental students. RSBO.
Torabinejad M, Walton R. 2009. Principles and practice of endodontics. 4th ed.
Philadelphia: W.B.Saunders.

14