Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

Partus Prematurus Imminen (PPI)

Disusun untuk Memenuhi Tugas Dokter Muda di SMF Obsterik dan Ginekologi

RSSA Malang

OLEH:

Arsya Al Ayubi 160070201011015

Clarabella Sabrina H. 160070201011020

Samuel Prasetya 160070201011082

PEMBIMBING : dr. Suheni Ninik Hariyati, SpOG(K)

SMF/LABORATORIUM OBSTETRI GINEKOLOGI FAKULTAS


KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA RUMAH SAKIT UMUM
DR.SAIFUL ANWAR MALANG

2017

1
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN KASUS DOKTER MUDA

Partus Prematurus Imminen (PPI)

Disusun Oleh:

Arsya Al Ayubi 160070201011015

Clarabella Sabrina H. 160070201011020

Samuel Prasetya 160070201011082

Pada tanggal 18 Mei 2017,

telah disetujui dan disahkan oleh:

dr. Dilendras Kirmana Putri


(Selaku Pendamping)

dr. Suheni Ninik Hariyati, SpOG(K)


(Selaku Pembimbing)

2
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................

1.1 Latar Belakang ................................................................................................

1.2 Tujuan .............................................................................................................

1.3 Manfaat ...........................................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................

2.1 Definisi PPI .....................................................................................................

2.2 Faktor Risiko Terjadinya PPI .......................................................................

2.3 Skrining untuk Persalinan Preterm ..............................................................

2.3 Penegakan Diagnosis Kasus PPI...................................................................

2.4 Tatalaksana PPI ..............................................................................................

BAB III URAIAN KASUS ...................................................................................

3.1 Identitas ...........................................................................................................

3.2 Subyektif ..........................................................................................................

3.3 Obyektif ..........................................................................................................

3.4 Pemeriksaan Penunjang .................................................................................

3.5 Asessment.........................................................................................................

3.6 Planning ...........................................................................................................

3.7 Outcome ...........................................................................................................

BAB IV PERMASALAHAN ................................................................................

BAB V PEMBAHASAN ......................................................................................

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................

3
6.1 Kesimpulan .....................................................................................................

6.2 Saran ................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Persalinan preterm ialah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan 20 - 37

minggu dihitung dari hari pertama haid terkahir (ACOG 1995). Sedangkan menurut

WHO, bayi premature adalah bayi ynag lahir pada usia kehamilan 37 minggu atau

kurang. Permasalahan dari persalinan preterm adalah perawatan bayi preterm.

Semakin muda umur bayi semakin besar morbiditas dan mortalitasnya. Bayi

premature sering disertai dengan kelainan, baik jangka pendek maupun jangka

panjang. Kelainan jangka pendek yang sering terjadi adalah RDS (Respiratory

Distress Syndrome), perdarahan intra/periventricular, NEC (Necrotizing Entero

Cilitis), dispplasi bronkopulmonar, sepsis, dan PDA (Paten Duktus Arteriosus).

Kelainan jangka panjang berupa kelainan neurologis,antara lain : serebral palsi,

retinopati, retardasi mental, dan disfungsi neurobehavorial (Prawirohardjo , 2014).

Menurut Sarwono dkk (2014) angka kejadian persalinan preterm adalah sekitar 6 -

10% yang termasuk dalam dua per tiga dari penyebab kematian neonatal. Badan

kesehatan dunia, WHO (2012), memperkirakan terdapat 15 juta bayi yang dilahirkan

secara prematur tiap tahunnya. Angka persalinan preterm paling tinggi ( 15%) di

negara-negara berkembang seperti di Pakistan, Indonesia, dan daerah sub-sahara

Afrika. Pada tahun 2010, terdapat 22.952 kelahiran preterm dari 297.357 kelahiran

hidup (8,3%) di Australia. Peningkatan kejadian persalinan preterm, utamanya pada

usia kehamilan 34-36 minggu diperkirakan akibat komplikasi obstetrik dan

meningkatnya kehamilan multifetal (Heng et al., 2015). Kehamilan 32 minggu

dengan berat bayi > 1.500 gram memiliki keberhasilan sebesar 85%, sedang pada

5
umur yang sama bayi yang memiliki berat <1.500 memiliki kemungkinan 80%. Bayi

yang memiliki umur < 32 minggu dan berat <1.500 memiliki angka keberhasilan yang

jauh lebih sedikit yaitu 59%. Hal ini menujukkan keberhasilan persalinan preterm

tidak hanya tergantung pada umur, tetapi juga berat bayi lahir (Prawirohardjo , 2014).

Bayi prematur memerlukan perawatan di rumah sakit yang lebih lama dan dapat

mengalami komplikasi medis yang memerlukan berbagai macam intervensi medis dan

obat-obatan (Heng et al., 2015).

Persalinan preterm terjadi karena kemajuan persalinan spontan atau adanya

indikasi intervensi medis. Persalinan preterm spontan disebabkan oleh infeksi (intra

atau ekstrauterin), kehamilan multipel, solusio plasenta, gangguan hormonal dan

faktor-faktor lainnya. Sedangkan sebagian besar penyebab lainnya adalah idiopatik

(Agrawal and Hirsch, 2012). Agar dapat mengetahui kemungkinan terjadinya

persalinan prematur, harus dimengerti beberapa kondisi yang dapat menimbulkan

kontraksi yang nantinya dapat menyebabkan persalinan prematur atau indikasi

intervensi medis yang menyebabkan dokter terpaksa mengakhiri kehamilan pada saat

kehamilan belum cukup bulan (Saifuddin dkk, 2014).

Oleh sebab itu sangat diperlukan pengetahuan dan pemahaman patofisiologi,

permasalahan, pencegahan, dan pengelolaan persalinan preterm untuk mencegah

terjadinya peningkatan morbiditas dan mortalitas pada kehamilan. Berdasarkan uraian

latar belakang tersebut maka diperlukan pelaporan kasus dari pasien kelahiran

preterm yang dirawat di Rumah Sakit Saiful Anwar.

1.2 Tujuan

1. Mengetahui definisi persalinan preterm.

2. Mengidentifikasi masalah yang dapat terjadi akibat persalinan preterm.

6
3. Menjelaskan faktor predisposisi dan penyebab persalinan preterm,

serta skrining terhadap pasien berisiko terjadinya persalinan preterm.

4. Mendiskusikan cara menegakkan diagnosis persalinan preterm.

5. Menjelaskan pengelolaan yang benar terhadap persalinan preterm dan

kemungkinan komplikasi yang terjadi terutama terhadap janinnya.

1.3 Manfaat

1. Dapat memahami definisi persalinan preterm.

2. Dapat mengidentifikasi masalah yang dapat terjadi akibat persalinan

preterm.

3. Mampu menjelaskan faktor predisposisi dan penyebab persalinan

preterm, serta skrining terhadapa pasien berisiko terjadinya persalinan

preterm.

4. Dapat mendiskusikan cara menegakkan diagnosis persalinan preterm.

5. Mampu menjelaskan pengelolaan yang benar terhadap persalinan

preterm dan kemungkinan komplikasi yang terjadi terutama terhadap

janinnya.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Partus Prematurus Imminens

Persalinan preterm didefinisikan sebagai kontraksi rutin uterus yang

mengakibatkan perubahan serviks yang dimulai sebelum 37 minggu masa kehamilan.

Perubahan serviks termasuk effacement (penipisan serviks) dan pembukaan

(terbukanya serviks agar fetus dapat memasuki jalan lahir). Kelahiran preterm adalah

kelahiran yang terjadi antara 20 37 minggu dari kehamilan. (ACOG, 2016)

2.2 Etiologi dan Faktor Predisposisi

Persalinan preterm dapat dipengaruhi oleh multifaktorial. Keadaan obstetrik,

sosiodemografi, dan faktor medik dapat mempengaruhi terjadinya persalinan preterm.

Terdapat juga risiko tunggal yang membuat terjadinya persalinan preterm, seperti

distensi uterus yang berlebih, ketuban pecah dini, atau trauma. Akan tetapi penyebab

terbanyak terjadinya persalinan preterm adalah proses patogenik yabbf neniliki

dampat pada kontraksi rahim dan perubahan serviks, contohnya :

1. Aktivasi aksis kelenjar hipotalamus-hipofisis-adrenal baik pada ibu maupun

janin, akibat stress pada ibu atau janin

2. Inflamasi desidua-korioamnion atau sistemik akibat infeksi asenden dari

traktur genitourinaria atau infeksi sistemik

3. Perubahan desidua

4. Peregangan uterus patologik

5. Kelainan pada serviks atau uterus

8
Terdapat juga berbagai faktor kondisi lain saat kehamilan yang berisiko persalinan

preterm, yaitu :

Pada Janin dan plasenta

1. Perdarahan trimester awal

2. Perdarahan antepartum (plasenta previa, solusio plasenta, vasa previa)

3. Ketuban pecah dini

4. Pertumbuhan janin terhambat

5. Cacat bawaan janin

6. Kehamilan ganda/gemeli

7. Polihidramnion

8. Gawat janin (anemia, hipoksia, asidosis, atau gangguan jantung janin)

Pada Ibu

1. Penyakit berat pada ibu (penyakit jantung, ginjal atau paru yang berat)

2. Diabetes mellitus

3. Preeklampsia/hipertensi

4. Infeksi saluran kemih/genital/intrauterine

5. Penyakit infeksi dengan demam

6. Kelainan bentuk seriks/uterus

7. Riwayat persalinan preterm/abortus berulang

8. Inkompetensi serviks

9. Pemakaian obat narkotik

10. Trauma

11. Perokok berat

12. Kelainan imunologi/kelainan rhesus

9
2.3 Skrining untuk Persalinan Preterm

Cara untuk mengurangi resiko persalinan prematur dapat dilakukan sebelem

tanda persalinan muncul. Skrining persalinan prematur dapat dilakukan memlalui

beberapa tes seperti fetal fibronectin, USG transvaginal untuk mengukur panjang

serviks. Tes fetal firbonectin berguna dalam skrining pada usia kehamilan 24 36

minggu. Hasil tes negatif menandakan pasien diprediksi 99,5% tidak partus secara

spontan, sedangkan ibu dengan hasil positif 13-30% diprediksi akan melahirkan

premature pada 7 hari berikutnya. Pada minggu ke 32 kehamilan dilakukakn

pengukuran serviks secara berurutan >25 mm, >15mm, <5mm panjang serviks adalah

1%, 4%, 78% dibandingkan dengan kemungkinan kelahiran prematur (Catenbury

Maternity Guideline, 2014). Sedangkan menurut Prawirohardjo (2014), jila dijumpai

serviks pendek (<1cm) disertai dengan pembukaan yang merupakan tanda serviks

matang/ inkompetensi serviks, mepunyai risiko terjadi persalinan preterm 3-4 kali.

Beberapa indikator dapat dipakai untuk memprediksi terjadinya persalinan preterm

menurut Prawirohardjo (2014) sebagai berikut:

-Indikator klinik

indikator klinik yang dapat dijumpai seperti timbulnya kontraksi dan pemendekan

serviks(secara manual maupun ultrasonografi). Terjadinya ketuban pecah dini juga

memprediksi akan terjadinya persalinan preterm.

-Indikator laboratorik

Beberapa indikator laboratorik yang bermakna antara lain adalah: jumlah leukosit

dalam air ketuban (20/ml atau lebih), pemeriksaan CRP 0,7 mg/ml), dan

pemeriksaan leukosit dalam serum ibu ( > 13.000 ml).

10
- Indikator biokimia

Fibronektin janin: peningkatan kadar fibronektin janin pada vagina, servik

dan air ketuban memberikan indikasi adanya gangguan pada hubungan antara

korion dan desidua. Pada kehamilan 24 minggu atau lebih, kadar fibronektin

janin 50 ng/ml atau lebih mengindikasikan risiko persalinan preterm.

Corticotropin Releasing Hormone (CRH) : peningkatan CRh pada trimester 2

merupakan indicator kuat terjadinya persalinan preterm

Sitokin inflamasi (IL-8, IL-6, dan TNF alfa) telah diteliti sebagai mediator

dalam sintesis prostaglandin

Isofrenin plasenta: pada keadaan tidak hamil isoferinin sebesar 10U/ml,

kadarnya akan meningkat dan pucaknya pada trimester akhir hingga 54,8 53

U/ml. Penurunan dalam serum berisiko persalinan preterm.

Feritin : Kadar ferritin yang rendah merupakan indikatir keadaan kurang zat

besi. Peningkatan kada ferritin dapat menandaka reaksi fase akut kondisi

inflamasi. Beberapa penelitian menyatakan terdapat hubungan antara

peningkatan feritin dan kejadian penyulit kehamilan, salah satunya persalinan

preterm.

2.4 Penegakan Diagnosis Kasus Partus Prematurus Imminens

Berikut beberapa kriteria yang digunakan sebagai diagnosis ancaman

persalinan preterm :

1. Kontraksi regular (minimal setiap 7-8 menit sekali, atau 2-3 kali dalam waktu

10 menit)

2. Adanya low back pain (nyeri punggung bawah)

11
3. Perdarahan bercak

4. Perasaan menekan pada serviks

5. Pembukaan 2 ccm dan penipisan 50 80%

6. Presentasi janin rendah (hingga spina ischiadika)

7. Selaput ketuban pecah (sebagai tanda awal persalinan preterm)

8. Terjadi pada usia kehamilan 22 37 minggu

4.5 Tatalaksana Partus Prematurus Imminens

Dalam manajemen persalinan preterm bergantung pada beberapa faktor :

o Selaput ketuban: jika sudah peca persalinan menjadi pilihan. Pada

umumnya persalinan tidak dihambat.

o Pembukaan serviks: jika hingga 4 cm lebih, sulit dipertahankan

o Usia kehamilan : makin muda, pencegahan persalinan perlu dilakukan.

Persalinan dapat dipertimbangan ketika TBJ >2.000 gram atau usia

hamil >34 minggu.

o Penyebab/ komplikasi persalinan preterm

o Kemampuan fasilitas NICU (Neonatal Intensive Care Facilities) dan

tenaga dokter

Tata laksana awal untuk mencegah kelahiran prematur ataupun melakukan

penundaan persalinan hingga bayi viable :

o Pembeerian tokolisis (menghambat persalinan)

o Kortikosteroid (pematangan surfaktan paru untuk menurunkan kejadian

RDS

o Antibiotik bila perlu untuk pencegahan infeksi

12
o Non farmakologi bedrest, tidak berhubungan seks untuk sementara.

Tokolisis

Pemberian tokolisis perlu dipertimbangkan bila dijumpai kontraksi uterus

yang regular dengan perubahan serviks. Alasan pemberian tokolisis pada

persalinan preterm adalah:

o Mencegah mortalitas dan morbiditas pada bayi prematur

o Memberi kesempatan bagi terapi kortikosteroid untuk menstimulasi

surfaktan paru janin

o Memberi kesempatan intrauterine pada fasilitasyang lebih lengkap

o Optimalisasi personel

Pertimbangan pemberian tokolisis jika terdapat :

o Kontraksi uterus regular dengan perubahan serviks, dicurigai akan

terjadi persalinan premature pada kehamilan tanpa penyulit

o Pada ibu hamil yang kemungkinan akan melahirkan prematurm yang

man perlu dirujuk ke RS yang memiliki fasilitas NICU atau belum

diberikan kortikosteroid.

Tokolisis tidak boleh diberikan jika ada kontraindikasi untuk mempertahankan/

memperpanjang usia kehamilan. Misalnya infeksi intrauterine, PEB, solusio plasenta,

kongeital letal/ gangguan kromosom, dilatasi serviks cepat, fetal compromise, insufisiensi

plasenta. Kontraindikasi relative diantaranya perdarahan ringan karena plasenta previa,

IUGR, kehamilan kembar, hasil CTG yang kurang bagus.

Beberapa macam tokolisis yang dapat digunakan, antara lain :

o Kalsium antagonis : Nifedipin dapat menunda lahiran hingga 7 hari. Efek

samping yang dapat timbul adalah kemerahan muka, palpitasi, mual,

muntah, hipotensi. Kontraindikasi pemberian adalah memiliki riwayat

13
penyakit jantung. Hati hati pemberian pada pasien dengan DM atau

kehamilan multiple (resiko edema paru). Dapat melewati sawar plasenta,

namun efek jangka panjang ke bayi belum diketahui. Dosisnya adalah 10

mg/ oral diulang 2 3 kali/jam, dilanjutkan tiap 8 jam sampai kontraksi

hilang. Obat diberikan lagi jika timbul kontraksi berulang.

o Obat -mimetik : terbutalin, ritrodin, isoksuprin, dan salbutamol, dapat

menunda kelahiran hingga 48 jam disbanding placebo, tetapi memiliki

efek samping lebih kecil.

o Sulfas magnesikus: jarang dipakai karena efek samping pada ibu ataupun

janin, kurang efektif untuk menunda kelahiran, walaupun dikatakan dapat

mengurangi kejadian cerebral palsy.

o COX-inhibitor : Indometasin, sudah jaran digunakan karena efek samping

ke ibu dan janin. Dapat melewati plasenta dan menimbulkan efek samping

ke bayi, seperti penutupan premature duktur arteriosus sehingga dapat

menyebabkan hipertensi pulmonal, PDA persisten.

Kortikosteroid

Diberikan jika usia kehamilan <35 minggu untuk pematangan paru janin,

menurunkan insiden RDS, mencegah perdarahan intraventrikuler, yang akhirnya

menurunkan angka kematian neonatus. Pemberiannya tidak diulang karena dapat

menyebabkan IUGR (pertumbuhan janin terhambat). Pemberian siklus tunggal :

o Betametason : 12mg/hari IM untuk 2 hari (2 dosis) atau 2 x 12 mg

dengan jarak pemberian 24 jam

o Deksametason : 2x6 mg IM dengan jarak setiap 12 jam pemberian

hanya untuk 2 hari (4 dosis) atau 4 x 6 mg dengan jaral pemberian 12

14
jam

Antibiotik

Diberikan apabila persalinan berisiko terkena infeksi (KPD) atau pada ibu

hamil yangs erring timbul gejala infeksi traktus genitalia tas. Obat oral yang

dianjurkan antara lain :

o Eritromisin 3 x 500 mg/ oral, selama 3 hari

o Ampisilin 3 x 500 mg/ oral, selama 3 hari

o Klindamisin

Tidak dianjurkan pemakaian co-amoksiklaf berisiko terjadi NEC.

Cara Persalinan

o Bila janin presentasi kepala, maka diperbolehkan partus pervaginam.

Seksio sesarea tidak memberikan prognosis yang lebih baik, bahkan

merugikan ibu. Seksio sesarea hanya dilakukan bila teradapat indikasi

obstetrik.

o Bila bayi presentasi letak sungsang dengan umur 30 34 minggu,

seksio sesarea dapat dipertimbangkan. Setelah kehamilan > 34 minggu,

persalinan dibiarkan terjadi karena morbiditas dianggap sama dengan

kehamilan aterm (POGI, 2005).

o Ketuban percah, jika usia kehamilan 32 35 minggu, tergantung dari

tenaga dan kemampuan fasilitas di RS tersebut (NICU)

o Jika terbukti terdapat infeksi, maka dilakukan pengakhiran persalinan

dan diinduksi (tidak melihat usia kehamilan)

o Jika usia gestasi > 34 minggu : dapat dilahirkan ditingkat primer,

prognosis lebih baik

o Jika usia gestasi < 34 minggu : dirujuk ke RS yang terdapat NICU

15
16
BAB III

URAIAN KASUS

17
DAFTAR PUSTAKA

Heng Yujing J., Liong Stella, Permezel Michael, Rice Gregory E., Di Quinzio Megan
K. W., Georgiou Harry M. Human cervicovaginal fluid biomarkers to predict
term and preterm labor. Front. Physiol. 2015. 6: 151.

Maternity Guidelines. Preterm Labour/ Birth. Catenbury District Health Board.

Catenbury. March 2014.

Panduan Pengelolaan Persalinan Preterm Nasional. Himpunan Kedokteran

Fetomaternal POGI. Bandung, Juni 2011.

Prawiroharjo, Sarwono. 2014. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga . PT Bina Pustaka

Sarwono Prawiroharjo. Jakarta.

Saifuddin A. Bari, Rachimhadhi Trijatmo, Wiknjosastro G. H., dkk. Ilmu Kebidanan


Sarwono Prawirohardjo. PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2014.

World Health Organization. Born Too Soon: The Global Action Report on Preterm
Birth. 2012.

18