Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat
pada bayi baru lahir adalah terjadinya hiperbillirubinemia yang
merupakan salah satu kegawatan pada bayi baru lahir karena dapat
menjadi penyebab gangguan tumbuh kembang bayi. Kelainan ini tidak
termasuk kelompok penyakit saluran pencernaan makanan, namun
karena kasusnya banyak dijumpai maka harus dikemukakan. Kasus
ikterus ditemukan pada ruang neonatus sekitar 60% bayi aterm dan pada
80 % bayi prematur selama ming gu pertama kehidupan. Ikterus tersebut
timbul akibat penimbunan pigmen bilirubin tak terkonjugasi dalam kulit.
Bilirubin tak terkonjugasi tersebut bersifat neurotoksik bagi bayi pada
tingkat tertentu dan pada berbagai keadaan. Ikterus pada bayi baru lahir
dapat merupakan suatu gejala fisiologis atau patologis. Ikterus fisiologis
terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada
neonatus kurang bulan sebesar 80%. Ikterus tersebut timbul pada hari
kedua atau ketiga, tidak punya dasar patologis, kadarnya tidak
membahayakan, dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi.
Ikterus patologis adalah ikterus yang punya dasar patologis atau kadar
bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut hiperbilirubinemia. Dasar
patologis yang dimaksud yaitu jenis bilirubin, saat timbul dan hilangnya
ikterus, serta penyebabnya. Neonatus yang mengalami ikterus dapat
mengalami komplikasi akibat gejala sisa yang dapat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangannya.
Oleh sebab itu perlu kiranya penanganan yang intensif untuk
mencegah hal-hal yang berbahayabagi kehidupannya dikemudian hari.
Perawat sebagai pemberi perawatan sekaligus pendidik harus dapat
memberikan pelayanan yang terbaik dengan berdasar pada ilmu
pengetahuan yang dimilikinya.

1
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu :
1. Apakah yang dimaksud dengan bayi hiperbilirubin?
2. Apakah penyebab terjadinya hiperbilirubin?
3. Bagaimanakah perjalanan penyakit hiperbilirubin?
4. Bagaimanakah klasifikasi penyakit bayi hiperbilirubin?
5. Apa sajakah tanda dan gejala pasien yang menderita hiperbilirubin?
6. Bagaimanakah perjalanan penyakit hiperbilirubin?
7. Bagaimanakah pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada pasien
hiperbilirubin?
8. Bagaimanakah penatalaksanaan medis pada pasien hiperbilirubin?
9. Apa sajakah komplikasi yang dapat terjadi pada pasien
hiperbilirubin?
10. Bagaimana pengkajian yang dilakukan kepada pasien hiperbilirubin?
11. Apa sajakah diagnosa keperawatan penyakit hiperbilirubin?
12. Bagaimanakah rencana keperawatan untuk asuhan keperawatan
pasien dengan hiperbilirubin?
13. Bagaimakah implementasi keperawatan untuk pasien hiperbilirubin?
14. Bagaimanakah evaluasi keperawatan untuk pasien hiperbilirubin?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini yaitu mahasiswa mampu
memahami :
1. Pengertian bayi hiperbilirubin
2. Etiologi hiperbilirubin
3. Epidemiologi penyakit hiperbilirubin
4. Klasifikasi hiperbilirubin
5. Tanda dan gejala penyakit hiperbilirubin
6. Patofisiologi penyakit hiperbilirubin
7. Pemeriksaan diagnostik pada pasien hiperbilirubin
8. Penatalaksanaan medis pada pasien hiperbilirubin
9. Komplikasihiperbilirubin

2
10. Pengkajian pada pasien hiperbilirubin
11. Diagnosa keperawatan pada pasien hiperbilirubin
12. Intervensi keperawatan untuk pasien hiperbilirubin
13. Implementasi keperawatan untuk pasien hiperbilirubin
14. Evaluasi terhadap pasien hiperbilirubin

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. PENGERTIAN

Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin


dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus.
(Dorothy R. Marlon, 1998)
Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin
dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek
patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit,
membrane mukosa dan cairan tubuh. (Adi Smith, G, 1988)
Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum
(hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat
menimbulkan ikterus. (Suzanne C. Smeltzer, 2002)
Jadi dapat disimpulkan bahwa hiperbilirubin adalah suatu keadaan
dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal
bilirubin serum. Untuk bayi yang baru lahir cukup bulan batas aman kadar
bilirubinnya adalah 12,5 mg/dl, sedangkan bayi yang lahir kurang bulan,
batas aman kadar bilirubinnya adalah 10 mg/dl. Jika kemudian kadar
bilirubin diketahui melebihi angka-angka tersebut, maka ia dikategorikan
hiperbilirubin.
Daerah Luas Ikterus Kadar Bilirubin
1 Kepala dan leher 5 mg %
2 Daerah 1 + badan bagian atas 9 mg %
3 Daerah 1,2 + badan bagian bawah dan 11 mg %
tungkai
4 Daerah 1,2,3 + lengan dan kaki di 12 mg%
bawah lutut
5 Daeraha 1,2,3,4 + tangan dan kaki 16 mg %

4
B. ETIOLOGI
1. Peningkatan produksi :
a. Hemolisis, misal pada Inkompatibilitas yang terjadi bila terdapat
ketidaksesuaian golongan darah dan anak pada penggolongan
Rhesus dan ABO.
b. Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran.
c. Ikatan Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan
metabolic yang terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .
d. Defisiensi G6PD ( Glukosa 6 Phospat Dehidrogenase ).
e. Ikterus ASI yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa),
20 (beta) , diol (steroid).
f. Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase , sehingga kadar
Bilirubin Indirek meningkat misalnya pada berat badan lahir rendah.
g. Kelainan kongenital (Rotor Sindrome) dan Dubin
Hiperbilirubinemia.

2. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan


misalnya pada Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obat
tertentu misalnya Sulfadiasine.
3. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme
atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan darah merah
seperti infeksi, Toksoplasmosis, Siphilis.
4. Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra Hepatik.
5. Peningkatan sirkulasi Enterohepatik misalnya pada Ileus Obstruktif

C. EPIDEMIOLOGI
Penyebab ikterus dapat dibagi kepada tiga fase yaitu:
Ikterus Prahepatik
Produksi bilirubin yang meningkat yang terjadi pada hemolisis sel
darah merah. Peningkatan pembentukan bilirubin dapat disebabkan
oleh:

5
a. Kelainan sel darah merah
b. Infeksi seperti malaria, sepsis.
c. Toksin yang berasal dari luar tubuh seperti: obat obatan, maupun
yang berasal dari dalam tubuh seperti yang terjadi pada reaksi
transfuse dan eritroblastosis fetalis.
Ikterus Pascahepatik
Bendungan pada saluran empedu akan menyebabkan peninggian
bilirubin konjugasi yang larut dalam air. Akibatnya bilirubin
mengalami akan mengalami regurgitasi kembali kedalam sel hati dan
terus memasuki peredaran darah, masuk ke ginjal dan di eksresikan
oleh ginjal sehingga ditemukan bilirubin dalam urin. Sebaliknya
karena ada bendungan pengeluaran bilirubin kedalam saluran
pencernaan berkurang sehingga tinja akan berwarna dempul karena
tidak mengandung sterkobilin.
Ikterus Hepatoseluler
Kerusakan sel hati menyebabkan konjugasi bilirubin terganggu
sehingga bilirubin direk akan meningkat dan juga menyebabkan
bendungan di dalam hati sehingga bilirubin darah akan mengadakan
regurgitasi ke dalam sel hati yang kemudian menyebabkan
peninggian kadar bilirubin konjugasi di dalam aliran darah.
Kerusakan sel hati terjadi pada keadaan: hepatitis, sirosis hepatic,
tumor, bahan kimia, dll.

Tanda-tanda umum hiperbilirubin pada bayi yaitu :


1. Biasa ditemukan pada bayi baru lahir sampai minggu I
2. Kejadian ikterus : 60 % bayi cukup bulan & 80 % pada bayi kurang
bulan.
3. Perhatian utama : ikterus pada 24 jam pertama & bila kadar
bilirubin > 5mg/dl dalam 24 jam.
4. Keadaan yang menunjukkan ikterus patologik :
Proses hemolisis darah
Infeksi berat

6
D. KLASIFIKASI
1. Macam-macam ikterus :
a. Ikterus Fisiologis
1) Timbul pada hari ke dua dan ketiga.
2) Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus
cukup bulan dan 12,5 mg% untuk neonatus lebih bulan.
3) Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg%
perhari.
4) Ikterus menghilang pada 10 hari pertama.
5) Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik.
b. Ikterus Patologik
1) Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.
2) Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan
atau melebihi 12,5 mg% pada neonatus kurang bulan.
3) Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% perhari.
4) Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama.
5) Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%
6) Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.

2. Macam-macam hiperbilirubin lainnya :


a. Ikterus prehepatik
Disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat
hemolisis sel darah merah. Kemampuan hati untuk melaksanakan
konjugasi terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga
menyebabkan kenaikan bilirubin yang tidak terkonjugasi.
b. Ikterus hepatic
Disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati.
Akibat kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak
terkonjugasi masuk ke dalam hati serta gangguan akibat konjugasi

7
bilirubin yang tidak sempurna dikeluarkan ke dalam doktus
hepatikus karena terjadi retensi dan regurgitasi.
c. Ikterus kolestatik
Disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu
sehingga empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan
ke dalam usus halus. Akibatnya adalah peningkatan bilirubin
terkonjugasi dalam serum dan bilirubin dalam urin, tetapi tidak
didaptkan urobilirubin dalam tinja dan urin.
d. Ikterus neonatus fisiologi
Terjadi pada 2-4 hari setelah bayi baru lahir dan akan
sembuh pada hari ke-7. penyebabnya organ hati yang belum
matang dalam memproses bilirubin.
e. Ikterus neonatus patologis
Terjadi karena factor penyakit atau infeksi. Biasanya
disertai suhu badan yang tinggi dan berat badan tidak bertambah.
f. Kern Ikterus
Adalah suatu kerusakan otak akibat perlengketan Bilirubin
Indirek pada otak terutama pada Korpus Striatum, Talamus,
Nukleus Subtalamus, Hipokampus, Nukleus merah , dan Nukleus
pada dasar Ventrikulus IV.

E. TANDA DAN GEJALA


Kulit berwarna kuning sampai jingga
Pasien tampak lemah
Nafsu makan berkurang
Reflek hisap kurang
Urine pekat
Perut buncit
Pembesaran lien dan hati
Gangguan neurologic
Feses seperti dempul
Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl.

8
Terdapat ikterus pada sklera, kuku/kulit dan membran mukosa.
Jaundice (warna kuning pada kulit dan mata bayi yang baru lahir)
yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada
bayi baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi.
Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak
pada hari ke 3 -4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan
jaundice fisiologi.

F. PATOFISIOLOGI
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa
keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat
penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat
ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia.
Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan
peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar
proteinY dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain
yangmemperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila
ditemukangangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami
gangguan ekskresimisalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak
jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang
bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini
memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin
tadidapat menembus sawar darah otak.
Kelainan yang terjadi pada otak disebut kern ikterus. Pada umumnya
dianggap bahwa kelainan pada saraf pusa tersebut mungkin akan timbul
apabila kadar bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah tidaknya kadar
bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada
keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar otak
apabila bayi terdapat keadaan berat badan lahir rendah (BBLR), hipoksia
dan hipoglikemia. (Markum, 1991)

9
Secara skematis, patofisiologi hiperbilirubin dapat digambarkan pada
pathway sebagai berikut :

Hemoglobin

Globin Hema

Bilivirdin Feco

Peningkatan destruksi eritrosit (gangguan konjugasi bilirubin/gangguan transport


bilirubin/peningkatan siklus entero hepatik), Hb dan eritrosit abnormal

Pemecahan bilirubin berlebih / bilirubin yang tidak berikatan dengan


albumin meningkat
Suplai bilirubin melebihi kemampuan hepar

Hepar tidak mampu melakukan konjugasi

Sebagian masuk kembali ke siklus enterohepatik

Peningkatan bilirubin unconjugned dalam darah, pengeluaran meconeum terlambat,


obstruksi usus, tinja berwarna pucat

Gangguan integritas kulit Icterus pada sklera, leher dan badan


peningkatan bilirubin indirek > 12 mg/dl

Indikasi Fototerapi

Sinar dengan intensitas tinggi

Resiko tinggi injuri Kekurangan volume Gangguan suhu tubuh


cairan tubuh

10
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan laboratorium.
Test Coomb pada tali pusat BBL
Hasil positif test Coomb indirek menunjukkan adanya antibody
Rh-positif, anti-A, anti-B dalam darah ibu.
Hasil positif dari test Coomb direk menandakan adanya sensitisasi
( Rh-positif, anti-A, anti-B) SDM dari neonatus.
Golongan darah bayi dan ibu : mengidentifikasi incompatibilitas
ABO.
Bilirubin total.
Kadar direk (terkonjugasi) bermakna jika melebihi 1,0-1,5 mg/dl
yang mungkin dihubungkan dengan sepsis.
Kadar indirek (tidak terkonjugasi) tidak boleh melebihi 5 mg/dl
dalam 24 jam atau tidak boleh lebih dari 20 mg/dl pada bayi
cukup bulan atau 1,5 mg/dl pada bayi praterm tegantung pada
berat badan.
Protein serum total
Kadar kurang dari 3,0 gr/dl menandakan penurunan kapasitas
ikatan terutama pada bayi praterm.
Hitung darah lengkap
Hb mungkin rendah (< 14 gr/dl) karena hemolisis.
Hematokrit mungin meningkat (> 65%) pada polisitemia,
penurunan (< 45%) dengan hemolisis dan anemia berlebihan.
Glukosa
Kadar dextrostix mungkin < 45% glukosa darah lengkap <30
mg/dl atau test glukosa serum < 40 mg/dl, bila bayi baru lahir
hipoglikemi dan mulai menggunakan simpanan lemak dan
melepaskan asam lemak.
Daya ikat karbon dioksida
Penurunan kadar menunjukkan hemolisis .
Meter ikterik transkutan

11
Mengidentifikasi bayi yang memerlukan penentuan bilirubin
serum.
Pemeriksaan bilirubin serum
Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl
antara 2-4 hari setelah lahir. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl
tidak fisiologis.
Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12
mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari
14mg/dl tidak fisiologis
Smear darah perifer
Dapat menunjukkan SDM abnormal/ imatur, eritroblastosis pada
penyakit RH atau sperositis pada incompabilitas ABO
Test Betke-Kleihauer
Evaluasi smear darah maternal tehadap eritrosit janin.
b. Pemeriksaan radiology
Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau
peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati
atau hepatoma.
c. Ultrasonografi
Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic
dengan ekstra hepatic.
d. Biopsy hati
Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang
sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra
hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis,
serosis hati, hepatoma.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Tindakan umum meliputi :
a. Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil,
mencegah truma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi
baru lahir yang dapat menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi.

12
b. Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang
sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir.
c. Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat.

Berdasarkan pada penyebabnya, maka manejemen bayi dengan


hiperbilirubinemia diarahkan untuk mencegah anemia dan membatasi
efek dari hiperbilirubinemia. Pengobatan mempunyai tujuan :
a. Menghilangkan Anemia
b. Menghilangkan Antibodi Maternal dan Eritrosit Tersensitisasi
c. Meningkatkan Badan Serum Albumin
d. Menurunkan Serum Bilirubin

Metode therapi pada Hiperbilirubinemia meliputi : Fototerapi,


Transfusi Pengganti, Infus Albumin dan Therapi Obat.
a. Fototherapi
Fototherapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan
Transfusi Pengganti untuk menurunkan Bilirubin. Memaparkan
neonatus pada cahaya dengan intensitas yang tinggi akan menurunkan
Bilirubin dalam kulit. Fototherapi menurunkan kadar Bilirubin dengan
cara memfasilitasi eksresi Biliar Bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini
terjadi jika cahaya yang diabsorsi jaringan mengubah Bilirubin tak
terkonjugasi menjadi dua isomer yang disebut Fotobilirubin.
Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh darah melalui
mekanisme difusi. Di dalam darah Fotobilirubin berikatan dengan
Albumin dan dikirim ke Hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke
Empedu dan diekskresi ke dalam Deodenum untuk dibuang bersama
feses tanpa proses konjugasi oleh Hati (Avery dan Taeusch, 1984).
Fototherapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan
kadar Bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan
dan hemolisis dapat menyebabkan Anemia.
Secara umum Fototherapi harus diberikan pada kadar Bilirubin
Indirek 4 -5 mg / dl. Neonatus yang sakit dengan berat badan kurang

13
dari 1000 gram harus di Fototherapi dengan konsentrasi Bilirubun 5
mg / dl. Beberapa ilmuan mengarahkan untuk memberikan
Fototherapi Propilaksis pada 24 jam pertama pada bayi resiko tinggi
dan Berat Badan Lahir Rendah.
b. Tranfusi Pengganti / Tukar
Transfusi Pengganti atau Imediat diindikasikan adanya faktor-faktor :
1) Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu.
2) Penyakit Hemolisis berat pada bayi baru lahir.
3) Penyakit Hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam
pertama.
4) Tes Coombs Positif.
5) Kadar Bilirubin Direk lebih besar 3,5 mg / dl pada minggu
pertama.
6) Serum Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg / dl pada 48 jam
pertama.
7) Hemoglobin kurang dari 12 gr / dl.
8) Bayi dengan Hidrops saat lahir.
9) Bayi pada resiko terjadi Kern Ikterus.

Transfusi Pengganti digunakan untuk :


1) Mengatasi Anemia sel darah merah yang tidak Suseptible (rentan)
terhadap sel darah merah terhadap Antibodi Maternal.
2) Menghilangkan sel darah merah untuk yang Tersensitisasi
(kepekaan)
3) Menghilangkan Serum Bilirubin
4) Meningkatkan Albumin bebas Bilirubin dan meningkatkan
keterikatan dengan Bilirubin
Pada Rh Inkomptabiliti diperlukan transfusi darah golongan O
segera (kurang dari 2 hari), Rh negatif whole blood. Darah yang
dipilih tidak mengandung antigen A dan antigen B yang pendek.
setiap 4 - 8 jam kadar Bilirubin harus dicek. Hemoglobin harus
diperiksa setiap hari sampai stabil.

14
I. KOMPLIKASI
Bahaya hiperbilirubinemia adalah kern icterus. Kern icterus atau
ensefalopati bilirubin adalah sindrom neurologis yang disebabkan oleh
deposisi bilirubin tidak terkonjugasi (bilirubin tidak langsung atau
bilirubin indirek) di basal ganglia dan nuclei batang otak. Patogenesis
kern icterus bersifat multifaktorial dan melibatkan interaksi antara kadar
bilirubin indirek, pengikatan oleh albumin, kadar bilirubin yang tidak
terikat, kemungkinan melewati sawar darah otak, dan suseptibilitas saraf
terhadap cedera. Kerusakan sawar darah otak, asfiksia, dan perubahan
permeabilitas sawar darah otak mempengaruhi risiko terjadinya kern
icterus (Richard E. et al, 2003).
Pada bayi sehat yang menyusu kern icterus terjadi saat kadar
bilirubin >30 mg/dL dengan rentang antara 21-50 mg/dL. Onset
umumnya pada minggu pertama kelahiran tapi dapat tertunda hingga
umur 2-3 minggu.
Gambaran klinis kern icterus antara lain:
1. Bentuk akut :
a. Fase 1(hari 1-2): menetek tidak kuat, stupor, hipotonia, kejang.
b. Fase 2 (pertengahan minggu I): hipertoni otot ekstensor,
opistotonus, retrocollis, demam.
c. Fase 3 (setelah minggu I): hipertoni.
2. Bentuk kronis :
a. Tahun pertama : hipotoni, active deep tendon reflexes, obligatory
tonicneck reflexes, keterampilan motorik yang terlambat.
Setelah tahun pertama : gangguan gerakan (choreoathetosis,
ballismus, tremor), gangguan pendengaran.

J. PENCEGAHAN
1. Pencegahan Primer
a. Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya paling sedikit 8 12
kali/ hari untuk beberapa hari pertama.

15
b. Tidak memberikan cairan tambahan rutin seperti dekstrose atau air
pada bayi yang mendapat ASI dan tidak mengalami dehidrasi.
2. Pencegahan Sekunder
a. Wanita hamil harus diperiksa golongan darah ABO dan rhesus
serta penyaringan serum untuk antibody isoimun yang tidak biasa.
b. Memastikan bahwa semua bayi secara rutin di monitor terhadap
timbulnya ikterus dan menetapkan protocol terhadap penilaian
ikterus yang harus dinilai saat memeriksa tanda tanda vital bayi,
tetapi tidak kurang dari setiap 8 12 jam

I. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. PENGKAJIAN

1. Identitas
Biasa ditemukan pada bayi baru lahir sampai minggu I, Kejadian
ikterus : 60 % bayi cukup bulan & 80 % pada bayi kurang bulan.
Perhatian utama : ikterus pada 24 jam pertama & bila kadar bilirubin >
5mg/dl dalam 24 jam.

2. Riwayat Kesehatan
a Riwayat Kehamilan
Kurangnya antenatal care yang baik. Penggunaan obat obat yang
meningkatkan ikterus ex: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat
mempercepat proses konjungasi sebelum ibu partus.
b Riwayat Persalinan
Persalinan dilakukan oleh dukun, bidan, dokter. Atau data obyektif
: lahir prematur/kurang bulan, riwayat trauma persalinan, hipoksia
dan asfiksia.
c Riwayat Post natal
Adanya kelainan darah, kadar bilirubin meningkat kulit bayi
tampak kuning.
d Riwayat Kesehatan Keluarga

16
Seperti ketidak cocokan darah ibu dan anak polisitemia, gangguan
saluran cerna dan hati ( hepatitis )
e Riwayat Pikososial
Kurangnya kasih sayang karena perpisahan, perubahan peran orang
tua
f Pengetahuan Keluarga
Penyebab perawatan pengobatan dan pemahan ortu terhadap bayi
yang ikterus.

3. Pemeriksaan fisik dan pengkajian fungsional


a Aktivitas / Istirahat
Letargi, malas.
b Sirkulasi
Mungkin pucat menandakan anemia.
c Eliminasi
Bising usus hipoaktif.
Pasase mekonium mungkin lambat.
Feses mungkin lunak/coklat kehijauan selama pengeluaran
bilirubin.
Urin gelap pekat; hitam kecoklatan (sindrom bayi bronze)
d Makanan / Cairan
Riwayat perlambatan / makan oral buruk, mungkin lebih
disusui daripada menyusu botol. Pada umumnya bayi malas
minum ( reflek menghisap dan menelan lemah, sehingga BB
bayi mengalami penurunan). Palpasi abdomen dapat
menunjukkan pembesaran limfa, hepar.
e Neuro sensori
Sefalohematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua
tulang parietal yang berhubungan dengan trauma kelahiran /
kelahiran ekstraksi vakum.
Edema umum, hepatosplenomegali, atau hidrops fetalis
mungkin ada dengan inkompatibilitas Rh berat.

17
Kehilangan refleks Moro mungkin terlihat opistotonus dengan
kekakuan lengkung punggung, fontanel menonjol, menangis
lirih, aktivitas kejang (tahap krisis).
f Pernafasan
Riwayat asfiksia
g Keamanan
Riwayat positif infeksi / sepsis neonatus
Dapat mengalami ekimosis berlebihan, ptekie, perdarahan
intracranial.
Dapat tampak ikterik pada awalnya pada daerah wajah dan
berlanjut pada bagian distal tubuh; kulit hitam kecoklatan
(sindrom bayi Bronze) sebagai efek samping fototerapi.
h Seksualitas
Mungkin praterm, bayi kecil untuk usia gestasi (SGA), bayi
dengan retardasi pertumbuhan intrauterus (LGA), seperti bayi
dengan ibu diabetes.
Trauma kelahiran dapat terjadi berkenaan dengan stress dingin,
asfiksia, hipoksia, asidosis, hipoglikemia.
Terjadi lebih sering pada bayi pria dibandingkan perempuan.
i Penyuluhan / Pembelajaran
Dapat mengalami hipotiroidisme congenital, atresia bilier,
fibrosis kistik.
Faktor keluarga : missal riwayat hiperbilirubinemia pada
kehamilan sebelumnya, penyakit hepar, fibrosis kristik,
kesalahan metabolisme saat lahir (galaktosemia), diskrasias
darah (sferositosis, defisiensi gukosa-6-fosfat dehidrogenase.
Faktor ibu, seperti diabetes ; mencerna obat-obatan (missal,
salisilat, sulfonamide oral pada kehamilan akhir atau
nitrofurantoin (Furadantin), inkompatibilitas Rh/ABO,
penyakit infeksi (misal, rubella, sitomegalovirus, sifilis,
toksoplamosis).

18
Faktor penunjang intrapartum, seperti persalinan praterm,
kelahiran dengan ekstrasi vakum, induksi oksitosin,
perlambatan pengkleman tali pusat, atau trauma kelahiran.

B. DIAGNOSA

1) Gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan kadar


bilirubin indirek dalam darah, ikterus pada sclera, leher dan badan.
2) Kurang pengetahuan keluarga mengenai kondisi, prognosis dan
kebutuhan tindakan berhubungan dengan kurangnya paparan
informasi
3) Risiko tinggi cedera terhadap keterlibatan SSP berhubungan dengan
peningkatan bilirubin indirek dalam darah yang bersifat toksik
tehhadap otak.
4) Risiko tinggi kekurangan volume cairan akibat efek samping
fototerapi berhubungan dengan pemaparan sinar dengan intensitas
tinggi.
5) Risiko terjadi gangguan suhu tubuh akibat efek samping
fototerapi berhubungan dengan efek mekanisme regulasi tubuh.
6) Risiko tinggi cedera akibat komplikasi tindakan transfusi tukar
berhubungan dengan prosdur invasif, profil darah abnormal.
7) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan hospitalisasi anak

19
C. INTERVENSI

Diagnosis Keperawatan Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) Rasional


Gangguan integritas kulit Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor warna dan keadaan kulit 1. Warna kulit kekuningan sampai jingga
berhubungan dengan keperawatan selama ......x24 jam, setiap 4-8 jam yang semakin pekat menandakan
peningkatan kadar bilirubin diharapkan integritas kulit kembali konsentrasi bilirubin indirek dalam darah
indirek dalam darah, ikterus baik/ normal dengan tinggi.
pada sclera leher dan badan. kriteria hasil : 2. Monitor keadaan bilirubin direk dan 2. Kadar bilirubin indirek merupakan indikator
Kadar bilirubin dalam batas normal ( indirek ( kolaborasi dengan dokter berat ringan joundice yang diderita.
0,2 1,0 mg/dl ) dan analis )
Kulit tidak berwarna kuning/ warna 3. Ubah posisi miring atau tengkurap. 3. Menghindari adanya penekanan pada kulit
kuning mulai berkurang Perubahan posisi setiap 2 jam yang terlalu lama sehingga mencegah
berbarengan dengan perubahan terjadinya dekubitus atau irtasi pada kuit
Tidak timbul lecet akibat penekanan
posisi lakukan massage dan monitor bayi.
kulit yang terlalu lama
keadaan kulit
4. Jaga kebersihan kulit dan 4. Kulit yang bersih dan lembab membantu
kelembaban kulit/ Memandikan dan memberi rasa nyaman dan menghindari
pemijatan bayi kulit bayi meengelupas atau bersisik.

Kurang pengetahuan keluarga Setelah diberikan asuhan keperawatan 1. Berikan informasi tentang 1. Memperbaiki kesalahan konsep,
mengenai kondisi, prognosis dan selama ......x 24 jam, diharapkan penyebab,penanganan dan implikasi meningkatkan pemahaman, dan
kebutuhan tindakan pengetahuan keluarga bertambah masa datang dari hiperbilirubinemia. menurunkan rasa takut dan perasaan
berhubungan dengan kurangnya dengan kriteria hasil : Tegaskan atau jelaskan informasi bersalah. Ikterik neonates mungkin
paparan informasi Mengungkapkan pemahaman sesuai kebutuhan. fisiologis, akibat ASI, atau patologis dan
tentang penyebab, tindakan, dan protocol perawatan tergantung pada
kemungkinan hasil 2. Tinjau ulang maksud dari mengkaji penyebab dan factor pemberat.
hiperbilirubinemia bayi terhadap peningkatan kadar 2. Memungkinkan orangtua mengenali tanda-
Melatih orang tua bayi bilirubin ( mis., mengobservasi tanda peningkatan kadar bilirubin dan
memandikan, merawat tali pusat pemucatan kulit di atas tonjolan mencari evaluasi medis tepat waktu.

20
dan pijat bayi . tulang atau perubahan perilaku )
khususnya bila bayi pulang dini.
3. Diskusikan penatalaksanaan di
rumah dari ikterik fisiologi ringan
atau sedang, termasuk peningkatan 3. Pemahaman orangtua membantu
pemberian makan, pemajanan mengembangkan kerja sama mereka bila
langsung pada sinar matahari dan bila bayi dipulangkan. Informasi membantu
program tindak lanjut tes serum. orangtua melaksanakan penatalaksanaan
dengan aman dan dengan tepat serta
4. Berikan informasi tentang mengenali pentingnya aspek program
mempertahankan suplai ASI melalui penatalaksanaan.
penggunaan pompa payudara dan
tentang kembali menyusui ASI bila 4. Membantu ibu untuk mempertahankan
ikterik memerlukan pemutusan pemahaman pentingnya terapi.
menyusui. Mempertahankan supaya orangtua tetap
5. Kaji situasi keluarga dan system mendapatkan informasi tentang keadaan
pendukung.berikan orangtua bayi. Meningkatkan keputusan berdasarkan
penjelasan tertulis yang tepat tentang informasi.
fototerapi di rumah, daftarkan teknik 5. Fototerapi di rumah dianjurkan hanya untuk
dan potensial masalah. bayi cukup bulan setelah 48 jam pertama
kehidupan, dimana kadar bilirubin serum
6. Buat pengaturan yang tepat untuk tes antara 14 18 mg/dl tanpa peningkatan
tindak lanjut dari bilirubin serum konsentrasi bilirubin reaksi langsung.
pada fasilitas laboratorium. 6. Tindakan dihentikan bila konsentrasi
bilirubin serum turun di bawah 14 mg/dl,
tetapi kadar serum harus diperiksa ulang
7. Diskusikan kemungkinan efek-efek dalam 12-24 jam untuk mendeteksi
jangka panjang dari kemungkinan hiperbilirubinemia berbalik.
hiperbilirubinemia dan kebutuhan 7. Kerusakan neurologis dihubungkan dengan
terhadap pengkajian lanjut dan kernikterus meliputi kematian, palsi
intervensi dini serebral, retardasi mental, kesulitan sensori,
pelambatan bicara, koordinasi buruk,

21
kesulitan pembelajaran, dan hipoplasiaemail
atau warna gigi hijau kekuningan

Risiko tinggi cedera terhadap Setelah diberikan asuhan keperawatan 1. Periksa resus darah ABO 1. Inkompatibilitas ABO mempengaruhi
keterlibatan SSP berhubungan selama...........x24 jam, diharapkan 20% dari semua kehamilan dan paling
dengan peningkatan bilirubin kadar bilirubin menurun dengan umum terjadi pada ibu dengan golongan
indirek dalam darah yang kriteria hasi l: darah O, yang antibodinya anti-A dan anti-B
bersifat toksik terhadap otak. Kadar bilirubin indirek dibawah 12 melewati sirkulasi janin, menyebabkan
mg/dl pada bayi cukup bulan pada aglutinasi dan hemolisis SDM. Serupa
usia 3 hari dengan itu, bila ibu Rh-positif, antibody ibu
Resolusi ikterik pada akhir minggu melewati plasenta dan bergabung pada
pertama kehidupan SDM janin, menyebabkan hemolisis lambat
atau segera
SSP berfungsi dengan normal
2. Kondisi klinis tertentu dapat menyebabkan
pembalikan barier darah-otak,
2. Tinjau catatan intrapartum terhadap memungkinkan ikatan bilirubin terpisah
factor resiko yg khusus, seperti berat pada tingkat membrane sel atau dalam sel
badan lahir rendah (BBLR) atau itu sendiri, meningkatkan resiko terhadap
IUGR, prematuritas, proses keterlibatan SSP
metabolic abnormal, cedera vaskuler,
sirkulasi abnormal, sepsis, atau 3. Resorpsi darah yang terjebak pada jaringan
polisitemia kulit kepala janin dan hemolisis yang
3. Perhatikan penggunaan ekstrator berlebihan dapat meningkatkan jumlah
vakum untuk kelahiran. Kaji bayi bilirubin yang dilepaskan dan menyebabkan
terhadap adanya sefalohematoma dan ikterik
ekimosis atau petekie yang 4. Asfiksia dan siadosis menurunkan afinitas
berlebihan bilirubin terhadap albumin.
4. Tinjau ulang kondisi bayi pada
kelahiran, perhatikan kebutuhan
terhadap resusitasi atau petunjuk
adanya ekimosis atau petekie yang

22
berlebihan, stress dingin, asfiksia, 5. Stress dingin berpotensi melepaskan asam
atau asidosis lemak. Yang bersaing pada sisi ikatan pada
5. Pertahankan bayi tetap hangat dan albumin, sehingga meningkatkan kadar
kering, pantau kulit dan suhu inti bilirubin yang bersirkulasi dengan bebas
dengan sering (tidak berikatan)
6. Keberadaan flora usus yang sesuai untuk
pengurangan bilirubin terhadap
urobilinogen; turunkan sirkulasi
6. Mulai memberikan minum oral awal enterohepatik bilirubin Hipoglikemia
dengan 4 sampai 6 jam setelah memerlukan penggunaan simpanan lemak
kelahiran, khusus bila bayi diberi untuk asam lemak pelepas-energi, yang
ASI. Kaji bayi terhadap tanda-tanda bersaing dengan bilirubin untuk bagian
hipoglikemia. Dapatkan kadar ikatan pada albumin.
Dextrostix, sesuai indikasi. 7. Hipopoteinemia pada bayi baru lahir dapa
mengakibatkan ikterik. Satu gram albumin
membawa 16 mg bilirubin tidak
7. Evaluasi tingkat nutrisi ibu dan terkonjugasi. Kekurangan albumin yang
prenatal; perhatikan kemungkinan cukup meningkatkan jumlah sirkulasi
hipoproteinemia neonates, khususnya bilirubin tidak terikat (indirek), yang dapat
pada bayi praterm. melewati barier darah otak.
8. Ikterik fisiologis biasanya tampak antara
hari pertama dan kedua dari kehidupan,
ikterik karena ASI biasanya tampak antara
hari keempat dan keenam kehidupan,
8. Perhatikan usia bayi pada awitan mempengaruhi hanya 1%-2% bayi
ikterik; bedakan tipe ikterik (mis, menyusui.
fisiologis, akibat ASI, atau patologis) 9. Ikterik patologis tampak dalam 24 jam
pertama kehidupan dan lebih mungkin
menimbulkan perkembangan
kernikterus/ensefalopati bilirubin.
9. Gunakan meter ikterik transkutaneus. Memberikan skrining noninvasif terhadap
ikterik, menghitung warna kulit dalam

23
hubungannya dengan bilirubin serum total.
10. Bilirubin tidak terkonjugasi yang berlebihan
(dihubungkan dengan ikterik patologis)
mempunyai afinitas terhadap jaringan
ekxtravaskuler, meliputi ganglia basal
jaringan otak. Perubahan prilaku
10. Kaji bayi terhadap kemajuan tanda- berhubungan dengan kernikterus biasanya
tanda dan perubahan perilaku; tahap terjadi antara hari ke-3 dan ke-10 kehidupan
I meliputi neurodepresan (mis., dan jarang terjadi sebelum 36 jam
letargi, hipotonia, atau kehidupan.
penurunan/tidak adanya reflek).
Tahap II meliputi neurohiperefleksia
(mis,. Kedutan,kacau mental,
opistotonus, atau demam). Tahap III
ditandai dengan tidak adanya 11. Memantau kemajuan penanganan
manifestasi klinis. Tahap IV meliputi a. Bilirubin tampak dalam 2 bentuk:
gejala sisa seperti palsi serebra atau bilirubin direk; yang di konjugasi oleh
retardasi mental enzim hepar glukoronil transferase, dan
11. Pantau pemeriksaan laboratorium, bilirubin indirek, yang di konjugasi dan
sesuai indikasi : tampak dalam bentuk bebas dalam
a. Bilirubin direk dan indirek. darah atau terikat pada albumin. Bayi
potensial terhadap kernikterus
diprediksi paling baik melalui
peningkatan kadar bilirubin indirek.
Peningkatan kadar bilirubin indirek 18-
20 mg/dl pada bayi cupup bulan, atau
lebih besar dari 13-15 mg/dl pada bayi
praterm atau bayi sakit, adalah
bermakna
b. Tes Coombs darah tali pusat b. Hasil positif dari tes Coombs indirek
direk/indirek menandakan adanya antibody (Rh-
positif atau anti-A atau anti-B) pada

24
darah ibu dan bayi baru lahir; hasil
positif tes Coombs indirek
menandakan adanya sensitisasi (Rh-
positif, Anti-A, atau Anti-B) SDM
pada neonates
c. Kekuatan combinasi c. Penurunan konsisten dengan hemolisis
karbondioksida (CO2)
d. Hemolisis berlebihan menyebabkan
d. Jumlah retikulosit dan smear jumlah retikulosit meningkat. Smear
perifer. mengidentifikasi SDM abnormal atau
imatur
e. Peningkatan kadar Hb/Ht ( Hb lebih
e. Hb/Ht besar dari pada 22 g/dl; Ht lbih besar
dari 65%) menandakan polisitemia,
kemungkinan disebabkan oleh
pelambatan pengkleman tali pusat,
transfusi maternal-ibu transfuse
kembaran-kembaran, ibu diabetes, atau
stress intrauterus kronis pada hipoksia,
seperti trlihat pada bayi BLR atau bayi
dengan penurunan sirkulasi plasenta.
Hemolisis kelebihan SDM
menyebabkan peningkatan kadar
bilirubi dengan 1 g Hb menghasilkan
35 mg bilirubin. Kadar Hb rendah (14
mg/dl) mungkin dihubungkan dengan
hidrops fetalis atau dengan
inkompatibilitas Rh yang terjadi dalam
uterus serta menyebabkan hemolisis,
edema, dan pucat.
f. Protein serum total f. Kadar rendah protein serum (kurang
dari 3,0 g/dl) menandakan penurunan

25
kapasitas ikatan terhadap bilirubin.
g. Hitung kapasitas ikatan plasma g.Membantu dalam menentukan risiko
bilirubin-albumin kernikterus dalam kebutuhan tindakan.
Bila nilai bilirubin total dibagi dengan
kadar protein total serum kurang dari
3,7 bahaya kernikterus sangat
rendah.Namun, resiko cedera
tergantung pada derajat prematuritas,
adanya hipoksia atau asidosis, dan
aturan obat (mis.Sulfonamide,
kloramfenikol).
h. Hentikan menyusui ASI selama h. Pendapat bervariasi apakah
24-48 jam, sesuai indikasi. menghentikan menyusui ASI perlu bila
Bantu ibu sesuai kebutuhan terjadi ikterus. Namun, mencerna
dengan pemompaan panyudara formula meningkatkan motilitas.
dan memulai lagi menyusui Gastrointestinal dan ekskresi feses dan
pigmen empedu, dan kadar bilirubin
serum mulai tun dalam 48 jam setelah
12. Berikan agens indikasi enzim penghentian menyusui.
(fenobarbital, etanol) bila 12. Merangsang enzim hepatic untuk
dibutuhkan. meningkatkan bersihan bilirubin

Risiko tinggi kekurangan Setelah diberikan asuhan 1. Pantau masukan dan haluan cairan; 1. Peningkatan kehilangan air melalui feses
volume cairan akibat efek keperawatan selama .....x 24 jam, timbang berat badan bayi 2 kali dan evaporasi dapt menyebabkan dehidrasi.
samping fototerapi berhubungan cairan tubuh neonatus adekuat dengan sehari.
dengan pemaparan sinar dengan kriteria hasil : 2. Bayi dapat tidur lebih lama dalam
intensitas tinggi. Tugor kulit baik 2. Perhatikan tanda- tanda dehidrasi hubungannya dengan fototerapi,
Membran mukosa lembab (mis: penurunan haluaran urine, meningkatkan resiko dehidrasi bila jadwal
fontanel tertekan, kulit hangat atau pemberian makan yang sering tidak di
Intake dan output cairan seimbang
kering dengan turgor buruk, dan pertahankan.)
Nadi, respirasi dalam batas normal
mata cekung).

26
(N: 120-160 x/menit, RR : 35 3. Perhatikan warna dan frekuensi 3. Defeksi encer, sering dan kehijauan serta
x/menit ), suhu ( 36,5-37,5 C ) defekasi dan urine. urine kehijauan menandakan keefektifan
fototerapi dengan pemecahan dan ekskresi
bilirubin. Feces yang encer
meningkatkatkan risiko kekurangan volume
cairan akibat pengeluaran cairan berlebih.
4. Meningkatkan input cairan sebagai
4. Tingkatkan masukan cairan per oral kompensasi pengeluaran feces yang encer
sedikitnya 25%. Beri air diantara sehingga mengurangi risiko bayi
menyusui atau memberi susu botol. kekurangan cairan.

5. Pantau turgor kulit 5. Turgor kult yang buruk, tidak elastis


merupakan indikator adanya kekurangan
volume cairan dalam tubuh bayi.
6. Mungkin perlu untuk memperbaiki atau
6. Berikan cairan per parenteral sesuai mencegah dehidrasi berat.
indikasi

Risiko terjadi gangguan suhu Setelah diberikan asuhan keperawatan 1. Pantau kulit neonates dan suhu inti 1. Fluktuasi pada suhu tubuh dapat terjadi
tubuh akibat efek samping selama ......x 24 jam, diharapkan tidak setiap 2 jam atau lebih sering sampai sebagai respon terhadap pemajanan sinar,
fototerapi berhubungan dengan terjadi gangguan suhu tubuh dengan setabil( mis; suhu aksila) dan Atur radiasi dan konveksi.
efek mekanisme regulasi tubuh. kriteria hasil : suhu incubator dengan tepat
Suhu tubuh dalam rentang normal 2. Monitor nadi, dan respirasi 2. Peningkatan suhu tubuh dapat terjadi karena
(36,50C-370C ) dehidrasi akibat paparan sinar dengan
Nadi dan respirasi dalam batas intensitas tinggi sehingga akan
normal ( N : 120-160 x/menit, RR : mempengaruhi nadi dan respirasi, sehingga
35 x/menit ) peningkatan nadi dan respirasi merupakan
aspek penting yang harus di waspadai.
Membran mukosa lembab
3. Intake yang cukup dan output yang
seimbang dengan intake cairan dapat
3. Monitor intake dan output membantu mempertahankan suhu tubuh
dalam batas normal.

27
4. Suhu dalam batas normal mencegah
terjadinya cold/ heat stress
4. Pertahankan suhu tubuh 36,50C-370C
jika demam lakukan kompres/ axilia 5. Untuk mengetahui keadaan umum bayi
5. Cek tanda-tanda vital setiap 2-4 jam sehingga memungkinkan pengambilan
sesuai yang dibutuhkan tindakan yang cepat ketika terjadi suatu
keabnormalan dalam tanda-tanda vital.
6. Antipiretik cepat membantu menurunkan
demam bayi.
6. Kolaborasi pemberian antipiretik jika
demam.

Risiko tinggi cedera akibat Setelah diberikan asuhan keperawatan, 1. Perhatikan kondisi tali pusat bayi 1. Pencucian mungkin perlu untuk melunakkan
komplikasi tindakan transfusi selama ......x 24 jam, diharapkan tidak sebelum transfuse bila vena tali pusat dan vena umbilicus sebelum
tukar berhubungan dengan terjadi komplikasi dari transfusi tukar umbilical digunakan. Bila tali pusat transfuse untuk akses I. V dan memudahkan
prosedur invasif, profil darah dengan kriteria hasil : kering, berikan pencucian salin pasase kateter umbilical.
abnormal. Menyelesaikan transfusi tukar selama 30-60 menit sebelum
tanpa komplikasi prosedur
Menunjukkan penurunan kadar 2. Pertahankan puasa selama 4 jam 2. Menurunkan risiko kemungkinan regurgitasi
bilirubin serum. sebelum prosedur atau aspirat isi dan aspirasi selama prosedur.
lambung
3. Untuk memberikan dukungan segera bila
3. Jamin ketersediaan alat resusitatif. perlu
4. Pertahankan suhu tubuh sebelum, 4. Membantu mencegah hipotermia dan
selama dan setelah prosedur. vasospasme, menurunkan risiko fibrilasi
Tempatkan bayi di bawah penyebar ventrikel, dan menurunkan vikositas darah.
hangat dengan servomekanisme.
Hangatkan darah sebelum
penginfusan dengan menempatkan di
dalam incubator, hangatkan baskom
berisi air ataau penghangat darah.

28
5. Pastikan golongan darah serta faktor
Rh bayi dan ibu. Perhatkan golongan 5. Transfuse tukar paling sering dihubungkan
darah dan factor Rh darah untuk dengan masalah inkompatibilitas Rh.
ditukar.
6. Jamin kesegaran darah. Darah yang 6. Darah yang lama lebih mungkin mengalami
diberi heparin lebih disukai. hemolisis, karenanya meningkatkan kadar
bilirubin. Darah yang diberikan heparin
selalu baru, tetapi harus dibuang bila tidak
digunakan dalam 24 jam.
7. Pantau nadi, warna dan frekuensi 7. Membuat nilai data dasar, mengidentifikasi
pernapasan/kemudahan sebelum, potensial kondisi tidak stabil ( mis; apnea
selama dan setelah atau disritmia/henti jantung ) dan
transfuse.Lakukan pengisapan jika mempertahankan jalan napas.
diperlukan.
8. Catat tanda-tanda atau kejadian 8. Membantu mencegah kesalahan dalam
selama transfuse, pencatatan jumlah penggantian cairan. Jumlah darah ditukar
darah yang diambil dan diinjeksikan. kira-kira 170 ml/kg BB. Volume ganda
tukar transfuse menjamin bahwa antara 75
% dan 90 % sirkulasi SDM digantikan.
9. Pantau tanda-tanda keseimbangan 9. Hipokalsemia dan hiperkalemia dapat
elektrolit ( mis; gugup, aktivitas terjadi selama dan setelah transfuse tukar.
kejang, dan apnea; hiperefleksia,;
bradikardia; atau diare )
10. Kaji bayi terhadap perdarahan 10. Penginfusan darah yang diberi heparin
bedlebihan dari lokasi I V setelah mengubah koagulasi selama 4-6 jam setelah
transfuse. transfuse tukar dan dapat mengakibatkan
perdarahan.
11. Memantau kemajuan penanganan
11. Pantau pemeriksaan laboratorium
sesuai indikasi : a. Bila Ht kurang dari 40 % sebelum
transfuse, pertukaran sebagian SDM
a. Kadar Hb/Ht sebelum dan setelah kemasan dapat mendahului pertukaran

29
transfuse penuh. Penurunan kadar setelah
transfusi menadakan kebutuhan
terhadap transfuse kedua.
b. Kadar bilirubin dapat menurun sampai
setengah segera setelah prosedur, tetapi
dapat meningkat dengan cepat
b. Kadar bilirubin serum segera setelahnya, memerlukan pengulangan
setelah prosedur, kemudian setiap transfuse.
4 jam c. Mengalikan kadar dengan 3,7
menetukan derajat peningkatan
bilirubin yang memerlukan transfuse
tukar
c. Protein serum total d. Darah mengandung sitrat sebagai anti
koagulan yang mengikat kalsium,
sehingga menurunkan kadar kalsium
serum. Selain itu, bila darah lebih dari
d. Kalsium dan kalium serum 2 hari, destruksi SDM melepaskan
kalium, menciptakan risiko
hiperkalemia dan henti jantung.
e. Kadar glukosa rendah mungkin
dihubungkan dengan glikolisis
anaerobik kontinu dalam SDM donor.
Tindakan segera perlu untuk mencegah
efek buruk/kerusakan SSP.
f. PH serum dari darah donor secara khas
e. Glukosa 6,8 atau kurang. Asidosis dapat tejadi
jika darah segar tidak digunakan dan
hepar bayi tidak dapat memetabolisme
sitrat yang digunakan antikoagulan,
atau bila darah donor melanjutkan
glikolisis anaerobik dengan produksi
f. Kadar pH serum asam metabolit.

30
12. Meskipun masih kontroversial, pemberian
albumin dapat meningkatkan ketersediaan
albumin untuk berikatan dengan bilirubin,
karenanya menurunkan kadar bilirubin
serum sikulasi yang bebas. Dari 2 sampai
4 ml kalsium glukonat dapat diberikan
setelah setiap 100 ml penginfusan darah
untuk memperbaiki hipokalsemia dan
meminimalkan kemungkinan iritabilitas
jantung.
12. Berikan albumin sebelum transfuse 13. Memperbaiki asidosis dan mengimbangi
bila diindikasikan efek-efek antikoagulan dari darah yang
diberi heparin.

13. Berikan obat-obatan sesuai indikasi :


Kalsium glukonat 5 %
Natrium bikarbonat
Protamin sulfat

Perubahan proses keluarga Setelah dilakukan tindakan perawatan 1. Kenali kekhawatiran dan kebutuhan 1. Dapat menurunkan stress
berhubungan dengan selama .........x24 jam, terjadi orang tua untuk informasi dan
hospitalisasi anak pengurangan ansietas keluarga, dengan dukungan
kriteria hasil : 2. Gali perasaan dan masalah seputar 2. Memudahkan dalam pemilihan intervensi

31
Kecemasan keluarga berkurang hospitalisasi dan penyakit anak
Secara verbal keluarga mengatakan 3. Berikan informasi seputar kesehatan 3. Untuk menurunkan ansietas yang dialami
cemas berkurang anak keluarga
4. Berikan dukungan sesuai kebutuhan 4. Meningkatkan kemampuan koping
5. Anjurkan perawatan yang berpusat 5. Meningkatkan pemahaman keluarga
pada keluarga dan anjurkan anggota
keluarga agar terlibat dalam
perawatan.

32
BAB III
Asuhan Keperawatan Pada anak Dengan Diagnosa Medis
Hiperbilirubin

Kasus : Bayi Ny. N usia 4 hari dengan berat badan lahir 1800 gr yang dilahirkan
dengan usia kehamilan 35 minggu saat ini pada kulit wajah dan dada
tampak kuning, sklera kuning, dengan bilirubin total 11 mg/dL. Bilirubin
direct 0,8 mg/dL, Hb 12 mg%, hematokrit 47%, leukosit 15.000
mg/dL, trombosit 150.000 mm3. Menurut ibu bayi N anak ke-2, sewaktu
hamil ibu mengalami hipertensi dengan rata-rata tekanan darah140/90
mmHg.

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Bayi Ny. N
Usia : 4 hari
Jenis kelamin : Laki-laki
Diagnosa Medis : Hiperbilirubin
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kehamilan :
Bayi Ny. N dilahirkan dengan usia kehamilan 35 minggu, Anak ke-2,
dan pada saat kehamilan ibu mengalami hipertensi dengan rata-rata
TD 140/90 mmHg.
b. Riwayat persalinan
c. Riwayat post natal
Kulit wajah dan dada bayi tampak kuning dan sklera kuning.
d. Riwayat kesehatan kelurga
e. Pengetahuan keluarga
3. Kebutuhan sehari-hari
a. Nutrisi
b. Eliminasi
c. Istirahat
33
d. Aktifitas
e. Personal hygiene
4. Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan
BB : 1800 gram
TB : -

5. Pemeriksaan penunjang
Keterangan
No. Test Hasil Nilai normal
(details)
1. Hb 12 g/dl 14 - 18 Rendah
Ht 47 % 40 - 52 Normal
2. Leukosit 15.000 mm3 4.000 - 10.000 Tinggi
3. Trombosit 150.000 mm3 200.000 400.000 Rendah

1. Bilirubin serum
Direct : > 1 mg / dl
.Indirect : > 10 mg % (BBLR), 12,5 mg % ( cukup bulan).
Total : > 12 mg / dl
2. Golongan darah ibu dan bayi
.uji COOMBS
.Inkompabilitas ABO Rh
3. Fungsi hati dan test tiroid sesuai indikasi.
4. Uji serologi terhadap TORCH
5. Hitung IDL dan urine ( mikroskopis dan biakan urine)
.indikasi infeksi.

34
6. Klasifikasi data
Data Subjektif Data Objektif
- Ibu klien mengatakan - Kulit wajah dan dada bayi tampak
melahirkan anak ke-2, dan kuning dan sklera kuning TTV :
pada saat kehamilan ibu - TTV ibu saat hamil 140/90 mmHg
mengalami hipertensi - Berat badan bayi 1800 gram saat lahir
- Bilirubin serum
o Direct : > 1 mg / dl
o Indirect : > 10 mg % (BBLR), 12,5
mg % ( cukup bulan).
o Total : > 12 mg / dl
- Golongan darah ibu dan bayi
o uji COOMBS
o Inkompabilitas ABO Rh
- Fungsi hati dan test tiroid sesuai
indikasi.
- Uji serologi terhadap TORCH
- Hitung IDL dan urine ( mikroskopis
dan biakan urine) .indikasi infeksi.
- Hb : 12 g/dl
- Ht : 47 %
- Leukosit : 15.000 mm3
- Trombosit : 150.000 mm3

35
7. Analisa data
No. DS / DO Etiologi Masalah keperawatan
1. DS : peningkatan Gangguan integritas
- Ibu klien mengatakan melahirkan kadar bilirubin kulit
anak ke-2, dan pada saat
kehamilan ibu mengalami
hipertensi
DO :
- Kulit wajah dan dada bayi
tampak kuning dan sklera
kuning TTV :
- TTV ibu saat hamil 140/90
mmHg
- Berat badan bayi 1800 gram
- Bilirubin serum
o Direct : > 1 mg / dl
o Indirect : > 10 mg %
(BBLR), 12,5 mg %
( cukup bulan).
o Total : > 12 mg / dl
- Golongan darah ibu dan bayi
o uji COOMBS
o Inkompabilitas ABO Rh
- Fungsi hati dan test tiroid sesuai
indikasi.
- Uji serologi terhadap TORCH
Hitung IDL dan urine
( mikroskopis dan biakan urine)
.indikasi infeksi.

2 DO : penurunan Resiko Intoleransi


- Hb : 12 g/dl perfusi O2 ke Aktifitas
- Ht : 47 % jaringan
- Leukosit : 15.000 mm3
- Trombosit : 150.000 mm3

36
3. DO : penurunan Resiko Gangguan
- Hb : 12 g/dl suplai nutrisi Intake Nutrisi
- Ht : 47 % ke jaringan
- Leukosit : 15.000 mm3
- Trombosit : 150.000 mm3
- Berat badan bayi 1800 gram

4. DO : Penurunan Resiko Gangguan


- Hb : 12 g/dl asupan nutrisi Tumbuh Kembang
- Ht : 47 %
- Leukosit : 15.000 mm3
- Trombosit : 150.000 mm3
- Berat badan bayi 1800 gram

B. Diagnosis keperawatan
1) Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan peningkatan kadar
bilirubin yang ditandai dengan kulit wajah dan dada tampak kuning.
2) Resiko Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan penurunan
perfusi O2 ke jaringan.
3) Resiko Gangguan Intake Nutrisi berhubungan dengan penurunan
suplai nutrisi ke jaringan.
4) Resiko Gangguan Tumbuh Kembang penurunan asupan nutrisi

37
C. Rencana Asuhan Keperawatan

No. Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional


Keperawatan Keperawatan
1 Gangguan Tupen: Keadaan Mandiri:
Integritas kulit kulit bayi membaik 1. Monitor warna 1.Mengetahui jika
berhubungan dalam waktu 3x24 dan keadaan kulit selama dalam
dengan joundice jam setiap 4-8 jam. perawatan kulit
yang ditandai Kriteria hasil: 2. Monitor kadar bayi tidak
dengan kulit wajah - kadar bilirubin bilirubin direks mengalami
dan dada tampak dalam batas dan indireks, gangguan
kuning. normal laporkan pada integritas kulit.
- Kulit tidak Data Obyektifter
berwarna kuning jika ada kelainan. 2.Untuk mengetahui
TuPan: Bayi tidak 3. Ubah posisi adanya
mengalami miring atau peningkatan atau
integritas kulit lagi. tengkurap penurunan kadar
Perubahan posisi bilirubin.
setiap 2 jam
berbarengan 3.Meningkatkan
dengan sirkulasi ke semua
perubahan posisi, area kulit.
lakukan massage
dan monitor 4.Area lembab,
keadaan kulit. terkontaminasi
memberikan
4. Jaga kebersihan media yang
dan kelembaban sangat baik untuk
kulit. pertumbuhan
organisme
patogen.
2 Resiko Intoleransi TuPen: Klien Mandiri:
Aktifitas mampu melakukan 1. Monitor 1. mempengaruhi
berhubungan aktifitas secara keterbatasan pilihan intervensi
aktifitas, atau
kelemahan saat
aktifitas.

38
Dengan mandiri. bantuan.
Penurunan TuPan: Klien
perfusi O2 ke Mampu 2. Berikan 2. meningkatkan
Jaringan mempertahankan lingkungan
yang tenang, istirahat untuk
Kemampuan lakukan adekuat
istirahat menurunkan
Aktifitas setelah
aktifitas. kebutuhan
Seoptimal oksigen tubuh,
mungkin. membantu
memenuhi
kebutuhan
energi.

Kolaborasi:
3. Berikan 3. Nutrisi
adekuat,nutrisi yang
kolaborasi dibutuhkan
dengan ahli gizi. untuk klien
memenuhi
kebutuhan
energi dalam
melaksanakan
aktivitas.

3 Resiko Gangguan TuPen: Klien Mandiri:


Intake Nutrisi menunjukkan 1. Ukur intake 1. Mengawasi
berhubungan peningkatan berat makanan dan masukan kalori
dengan penurunan badan. TuPan: BB kebutuhan atau kualitas
suplai nutrisi ke klien mendekati nutrisi kekurangan
jaringan ideal (tidak ada 2. Beri asupan
tanda malnutrisi). nutrisi yang 2. Mencegah
sesuai dengan malnutrisi
kebutuhan
klien

Kolaborasi:
3. Pantau hasil 3. Meningkatkan
lab., seperti Hb efektivitas
dan lain- program
lainnya. pengobatan
termasuk sumber
dan diet nutrisi
yang dibutuhkan.
4 Resiko Gangguan TuPen: Klien dapat Mandiri: 1. Mencari alternatif
Tumbuh Kembang menerima keadaan 1. Kajilah untuk menutupi
tubuhnya secara kemampuan kekurangan
proporsional. yang dimiliki dengan
TuPan: Klien dapat klien memanfaatkan
beradaptasi dengan 2. Ekspolari kemampuan yang
keadaan aktivitas baru ada.
yang dapat 2. Klien dengan
dilakukan memanfaat
kankelebihan

39
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari paparan yang telah disampaikan diatas dapat ditarik
kesimpulan bahwa hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar
bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum Untuk
bayi yang baru lahir cukup bulan batas aman kadar bilirubinnya adalah 12,5
mg/dl, sedangkan bayi yang lahir kurang bulan, batas aman kadar
bilirubinnya adalah 10 mg/dl. Jika kemudian kadar bilirubin diketahui
melebihi angka-angka tersebut, maka ia dikategorikan hiperbilirubin.
Kemudian hiperbilirubinia memiliki etiologi Peningkatan produksi
:Hemolisis,Pendarahan tertutup misalnya pada trauma kelahiran. Ikatan
Bilirubin dengan protein terganggu seperti gangguan metabolic yang
terdapat pada bayi Hipoksia atau Asidosis .Defisiensi G6PD, Ikterus ASI
yang disebabkan oleh dikeluarkannya pregnan 3 (alfa), 20 (beta) , diol
(steroid). Kurangnya Enzim Glukoronil Transeferase, Kelainan kongenital
(Rotor Sindrome) dan Dubin Hiperbilirubinemia. Gangguan transportasi
Gangguan fungsi hati Gangguan ekskresi yang terjadi intra atau ekstra
Hepatik Peningkatan sirkulasi Enterohepatik. Tanda-tanda umum
hiperbilirubin pada bayi yaitu :
1. Biasa ditemukan pada bayi baru lahir sampai minggu I
2. Kejadian ikterus : 60 % bayi cukup bulan & 80 % pada
bayi kurang bulan.
3. Perhatian utama : ikterus pada 24 jam pertama & bila
kadar bilirubin > 5mg/dl dalam 24 jam.
4. Keadaan yang menunjukkan ikterus patologik :
Proses hemolisis darah
Infeksi berat

1
B. SARAN
Dengan demikian diharapkan terjadi pengurangan kematian bayi
akibat hiperbilirubin dengan menerapkan tindakan yang yang baik dan benar
dengan Fototherapi dan Tranfusi Pengganti / Tukar. Selama pemberian
tindakan fototerapi, selalu diperhatikan toleransi pasien terhadap perubahan
posisi. Selain pasien yang sudah lama berbaring, gangguan sistem saraf
otonomi akan lebih menghambat program mobilisasi. Dengan tidak
mengurangi pentingnya pengobatan pada tahap lanjut, keberhasilan
penanganan pada kasus hiperbilirubin secara menyeluruh sangat tergantung
pada perawatan tahap awal. Oleh karenanya kerja sama yang baik tim medik
pada tahap ini akan menentukan hasil akhir kondisi pasien, termasuk
diantaranya penatalaksanaan fisioterapi pada tahap lanjut yang akan
mengembalikan penderita ke langkah yang lebih baik lagi.

2
DAFTAR PUSTAKA

Auladi, Salas. 2010. Makalah Hiperbilirubin. (Online) available:


https://www.scribd.com/doc/34823122/MAKALAH-HIPERBILIRUBIN
(Diakses pada Sabtu, 3 Oktober 2015 pukul 11.00 WITA)
Doengoes, E Marlynn & Moerhorse, Mary Fraces. 2001. Rencana Perawatan
Maternal / Bayi. Jakarta: EGC.
Gunasegaran. 2013. Hiperbilirubinemia. (Online) available:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/37957/4/Chapter%20II.pdf
(Diakses pada Sabtu, 3 Oktober 2015 pukul 13.00 WITA)
Suframanyan. 2014. Ikterus. (Online) available :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41185/4/Chapter%20II.pdf
(Diakses pada Minggu, 4 Oktober 2015 pukul 10.00 WITA)
Sujana. 2014. Laporan Pendahuluan Hiperbilirubinemia. (Online) available:
https://www.scribd.com/doc/222217959/LAPORAN-PENDAHULUAN-
HIPERBILIRUBINEMIA#download (Diakses pada Minggu, 4 Oktober
2015 pukul 10.00 WITA)
Surasmi, A., Handayani, S. & Kusuma, H.N. 2003. Perawatan Bayi Resiko
Tinggi. Cetakan I. Jakarta : EGC.