Anda di halaman 1dari 7

TUGAS MAKALAH

Judul : Pembinaan Kesehatan dan Kekuatan Fisik


Penyusun : Putra Astaman

Islam sebagai agama yang sempurna dan lengkap. Telah menetapkan prinsip-prinsip
dalam penjagaan keseimbangan tubuh manusia. Diantara cara Islam menjaga kesehatan dengan
menjaga kebersihan dan melaksanakan syariat wudlu dan mandi secara rutin bagi setiap
muslim. Sehat adalah kondisi fisik di mana semua fungsi berada dalam keadaan sehat. Menjadi
sembuh sesudah sakit adalah anugerah terbaik dari Allah kepada manusia. Adalah tak mungkin
untuk bertindak benar dan memberi perhatian yang layak kepada ketaatan kepada Tuhan jika
tubuh tidak sehat.

Tidak ada sesuatu yang begitu berharga seperti kesehatan. Karenanya, hamba Allah
hendaklah bersyukur atas kesehatan yang dimiltkinya dan tidak bersikap kufur. Nabi saw.
bersabda, Ada dua anugerah yang karenanya banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan yang
baik dan waktu luang. (HR. Bukhari)

Abu Darda berkata, Ya Rasulullah, jika saya sembuh dari sakit saya dan bersyukur
karenanya, apakah itu lebih baik daripada saya sakit dan menanggungnya dengan sabar? Nabi
saw menjawab, Sesungguhnya Rasul mencintai kesehatan sama seperti engkau juga
menyenanginya.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa bangun


di pagi hari dengan badan sehat dan jiwa sehat pula, dan rezekinya dijamin, maka dia seperti
orang yang memiliki dunia seluruhnya.

Di antara ucapan-ucapan bijaksana Nabi Dawud as adalah sebagai berikut, Kesehatan


adalah kerajaan yang tersembunyi. Juga. Kesedihan sesaat membuat orang lebih tua satu
tahun. Juga, Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang yang sehat, yang hanya bisa
dilihat oleh orang-orang yang sakit. Dan juga, Kesehatan adalah harta karun yang tak
terlihat.

Konsep Islam Dalam Menjaga Kesehatan

Anjuran Menjaga Kesehatan


Sudah menjadi semacam kesepakatan, bahwa menjaga agar tetap sehat dan tidak
terkena penyakit adalah lebih baik daripada mengobati, untuk itu sejak dini diupayakan agar
orang tetap sehat. Menjaga kesehatan sewaktu sehat adalah lebih baik daripada meminum obat
saat sakit. Dalam kaidah ushuliyyat dinyatakan: Dari Ibn Abbas, ia berkata, aku pernah
datang menghadap Rasulullah SAW, saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu
doa yang akan akan baca dalam doaku, Nabi menjawab: Mintalah kepada Allah ampunan dan
kesehatan, kemudian aku menghadap lagipada kesempatan yang lain saya bertanya: Ya
Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan baca dalam doaku. Nabi menjawab:
Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah saw mintalah kesehatan kepada Allah, di dunia dan
akhirat. (HR Ahmad, al-Tumudzi, dan al-Bazzar)

Berbagai upaya yang mesti dilakukan agar orang tetap sehat menurut para pakar
kesehatan, antara lain, dengan mengonsumsi gizi yang yang cukup, olahraga cukup, jiwa
tenang, serta menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang dapat menjadikannya terjangkit
penyakit. Hal-hal tersebut semuanya ada dalam ajaran Islam, bersumber dari hadits-hadits
shahih maupun ayat al-Quran.

Nilai Sehat dalam Ajaran Islam


Dengan merujuk konsep sehat yang dewasa ini dipaharm. berdasarkan rumusan WHO
yaitu: Health is a state of complete physical, mental and social-being, not merely the absence
q; disease on infirmity (Sehat adalah suatu keadaan jasmani, rohaniah, dan sosial yang baik,
tidak hanya tentang sakit atau tidak)

Menurut penelitian Ali Munis, dokter spesialis internal Fakultas Kedokteran


Universitas Ain Syams Cairo, menunjukan bahwa ilmu kedokteran modern menemukan
kecocokan terhadap yang disyariatkan Nabi dalam praktek pengobatan yang berhubungan
dengan spesialisasinya. Sebagaimana disepakati oleh para ulama bahwa di balik pengsyariatan
segala sesuatu termasuk ibadah dalam Islam terdapat hikrnah dan manfaat fisik (badaniah) dan
psikis (kejiwaan). Pada saat orang-orang Islam menunaikan kewajiban-kewajiban
keagamannya, berbagai penyakit lahir dan batin terjaga.

Kesehatan Jasmani
Ajaran Islam sangat menekankan kesehatan jasmani. Agar tetap sehat, hal yang perlu
diperhatikan dan dijaga, menurut sementara ulama, disebutkan, ada sepuluh hal, yaitu: dalam
hal makan, minum, gerak, diam, tidur, terjaga, hubungan seksual, keinginan-keinginan nafsu,
keadaan kejiwaan, dan mengatur anggota badan.

Pertama; Mengatur Pola Makan dan Minum


Dalam ilmu kesehatan atau gizi disebutkan, makanan adalah unsur terpenting untuk
menjaga kesehatan. Kalangan ahli kedokteran Islam menyebutkan, makan yang halalan dan
thayyiban. Al-Quran berpesan agar manusia memperhatikan yang dimakannya, seperti
ditegaskan dalam ayat: maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.(QS.
Abasa 80 : 24 )

Dalam 27 kali pembicaraan tentang perintah makan, al-Quran selalu menekankan dua sifat,
yang halal dan thayyib, di antaranya dalam (Q.S Al-Baqarah: 168; al-Maidah: 88; Al-Anfal:
69; al-Nahl : 1 14)

Kedua; Keseimbangan Beraktivitas dan Istirahat


Perhatian Islam terhadap masalah kesehatan dimulai sejak bayi, di mana Islam
menekankan bagi ibu agar menyusui anaknya, di samping merupakan fitrah juga mengandung
nilai kesehatan. Banyak ayat dalam al-Quran menganjurkan hal tersebut. Al-Quran melarang
melakukan sesuatu yang dapat merusak badan. Para pakar di bidang medis memberikan contoh
seperti merokok. Alasannya, termasuk dalam larangan membinasakan diri dan mubadzir dan
akibat yang ditimbulkan, bau, mengganggu orang lain dan lingkungan. Islam juga memberikan
hak badan, sesuai dengan fungsi dan daya tahannya, sesuai anjuran Nabi: Bahwa badanmu
mempunyai hak

Islam menekankan keteraturan mengatur ritme hidup dengan cara tidur cukup, istirahat
cukup, di samping hak-haknya kepada Tuhan melalui ibadah. Islam memberi tuntunan agar
mengatur waktu untuk istirahat bagi jasmani. Keteraturan tidur dan berjaga diatur secara
proporsional, masing-masing anggota tubuh memiliki hak yang mesti dipenuhi. Di sisi lain,
Islam melarang membebani badan melebihi batas kemampuannya, seperti melakukan
begadang sepanjang malam, melaparkan perut berkepanjangan sekalipun maksudnya untuk
beribadah, seperti tampak pada tekad sekelompok Sahabat Nabi yang ingin terus menerus
shalat malam dengan tidak tidur, sebagian hendak berpuasa terus menerus sepanjang tahun,
dan yang lain tidak mau menggauli istrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

Nabi pernah berkata kepadaku: Hai hamba Allah, bukankah aku memberitakan bahwa kamu
puasa di szam? hari dan qiyamul laildimalam hari, maka aku katakan, benarya Rasulullah,
Nabi menjawab: Jangan lalukan itu, berpuasa dan berbukalah, bangun malam dan tidurlah,
sebab, pada badanmu ada hak dan pada lambungmujuga ada hak (HR Bukhari dan
Muslim).

Ketiga; Olahraga sebagai Upaya Menjaga Kesehatan


Aktivitas terpenting untuk menjaga kesehatan dalam ilmu kesehatan adalah melalui
kegiatan berolahraga. Kata olahraga atau sport (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Latin
Disportorea atau deportore, dalam bahasa Itali disebut deporte yang berarti penyenangan,
pemeliharaan atau menghibur untuk bergembira. Olahraga atau sport dirumuskan sebagai
kesibukan manusia untuk menggembirakan diri sambil memelihara jasmaniah. Tujuan utama
olahraga adalah untuk mempertinggi kesehatan yang positif, daya tahan, tenaga otot,
keseimbangan emosional, efisiensi dari fungsi-rungsi alat tubuh, dan daya ekspresif serta daya
kreatif. Dengan melakukan olahraga secara bertahap, teratur, dan cukup akan meningkatkan
dan memperbaiki kesegaran jasmani, menguatkan dan menyehatkan tubuh. Dengan kesegaran
jasmani seseorang akan mampu beraktivitas dengan baik.

Dalam pandangan ulama fikih, olahraga (Bahasa Arab: al-Riyadhat) termasuk bidang
ijtihadiyat. Secara umum hokum melakukannya adalah mubah, bahkan bisa bernilai ibadah,
jika diniati ibadah atau agar mampu melakukannya melakukan ibadah dengan sempurna dan
pelaksanaannya tidak bertentangan dengan norma Islami. Sumber ajaran Islam tidak mengatur
secara rinci masalah yang berhubungan dengan berolahraga, karena termasuk masalah
duniawi atau ijtihadiyat, maka bentuk, teknik, dan peraturannya diserahkan sepenuhnya
kepada manusia atau ahlinya. Islam hanya memberikan prinsip dan landasan umum yang harus
dipatuhi dalam kegiatan berolahraga.

Nash al-Quran yang dijadikan sebagai pedoman perlunya berolahraga, dalam konteks
perintah jihad agar mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi kemungkinan serangan
musuh, yaitu ayat:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari
kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan
musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya;
sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu najkahkanpadajalan Allah niscaya akan
dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS.Al-Anfal
:6o):

Nabi menafsirkan kata kekuatan (al-Quwwah) yang dimaksud dalam ayat ini adalah
memanah. Nabi pernah menyampaikannya dari atas mimbar disebutkan 3 kali, sebagaimana
dinyatakan dalam satu hadits:

Nabi berkata: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sang
gupi Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, Ingatlah kekuatan itu adalah memanah,
Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, (HR Muslim, al-Turmudzi, Abu Dawud, Ibn
Majah, Ahmad, dan al-Darimi)

Keempat; Anjuran Menjaga Kebersihan


Ajaran Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan yang merupakan salah satu
aspek penting dalam ilmu kedokteran. Dalam terminologi Islam, masalah yang berhubungan
dengan kebersihan disebut dengan al-Thaharat. Dari sisi pandang kebersihan dan kesehatan,
al-thaharat merupakan salah satu bentuk upaya preventif, berguna untuk menghindari
penyebaran berbagai jenis kuman dan bakteri. Imam al-Suyuthi, Abd al-Hamid al-Qudhat, dan
ulama yang lain menyatakan, dalam Islam menjaga kesucian dan kebersihan termasuk bagian
ibadah sebagai bentuk qurbat, bagian dari taabbudi, merupakan kewajiban, sebagai kunci
ibadah, Nabi bersabda: Dari Ali ra., dari Nabi saw, beliau berkata: Kunci shalat adalah
bersuci (HR Ibnu Majah, al-Turmudzi, Ahmad, dan al-Darimi)

Berbagai ritual Islam mengharuskan seseorang melakukan thaharat dari najis,


mutanajjis, dan hadats. Demikian pentingnya kedudukan menjaga kesucian dalam Islam,
sehingga dalam buku-buku fikih dan sebagian besar buku hadits selalu dimulai dengan
mengupas masalah thaharat, dan dapat dinyatakan bahwa fikih pertama yang dipelajari umat
Islam adalah masalah kesucian. Abd al-Munim Qandil dalam bukunya al-Tadaivi bi al-
Quran seperti halnya kebanyakan ulama membagi thaharat menjadi dua, yaitu lahiriah dan
rohani. Kesucian lahiriah meliputi kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal, jalan dan segala
sesuatu yang dipergunakan manusia dalam urusan kehidupan. Sedangkan kesucian rohani
meliputi kebersihan hati, jiwa, akidah, akhlak, dan pikiran.

10 Komponen Kekuatan Fisik

1) Kekuatan (Strenght)
Kekuatan adalah komponen kondisi fisik seseorang tentang kemampuan dalam
mempergunakan otot-otot untuk menerima beban sewaktu bekerja (M. Sajoto, 1995:8).
Kekuatan adalah kemampuan untuk membangkitkan ketegangan otot terhadap suatu keadaan
(Garuda Mas, 2000 : 90). Kekuatan memegang peranan yang penting, karena kekuatan adalah
daya penggerak setiap aktivitas dan merupakan persyaratan untuk meningkatkan prestasi.
Dalam permainan sepak bola, kekuatan merupakan salah satu faktor yang menentukan
kemampuan permaian seseorang dalam bermain. Karena dengan kekuatan seorang pemain
akan dapat merebut atau melindungi bola dengan baik (selain ditunjang dengan faktor teknik
bermain yang baik). Selain itu, dengan memiliki kekuatan yang baik dalam sepak bola, pemain
dapat melakukan tendangan keras dalam usaha untuk mengumpan daerah kepada teman
maupun untuk mencetak gol.

2) Daya Tahan (Endurance)


Daya tahan adalah kemampuan seseorang dalam menggunakan ototnya untuk berkontraksi
secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama dengan beban tertentu (M. Sajoto, 1995:8).
Daya tahan adalah kemampun untuk bekerja atau berlatih dalam waktu yang lama, dan setelah
berlatih dalam jangka waktu lama tidak mengalami kelelahan yang berlebihan (Garuda Mas,
2000 : 89). Permainan sepak bola merupakan salah satu permainan yang membutuhkan daya
tahan dalam jangka waktu yang cukup lama. Daya tahan penting dalam permainan sepak bola
sebab dalam jangka waktu 90 menit bahkan lebih, seorang pemain melakukan kegiatan fisik
yang terus menerus dengan berbagai bentuk gerakan seperti berlari, melompat, meluncur
(sliding), body charge dan sebagainya yang jelas memerlukan daya tahan yang tinggi.

3) Daya Otot (Muscular Power)


Daya otot adalah kemampuan seseorang untuk mempergunakan kekuatan maksimum yang
dikerjakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (M. Sajoto, 1995:8). Daya otot dipengaruhi
oleh kekuatan otot, kecepatan kontraksi otot sehingga semua faktor yang mempengaruhi kedua
hal-hal tersebut akan mempengaruhi daya otot. Jadi daya otot adalah kualitas yang
memungkinkan otot atau sekelompok otot untuk melakukan kerja fisik secara tiba-tiba. Dalam
permainan sepak bola diperlukan gerakan yang dilakukan secara tiba-tiba misalnya gerakan
yang dilakukan pada saat merebut bola. Pemakaian daya otot ini dilakukan dengan tenaga
maksimal dalam waktu singkat dan pendek. Orang yang sering melakukan aktifitas fisik
membuat daya ototnya menjadi baik. Daya otot dipengaruhi oleh kekuatan otot dan kecepatan
kontraksi otot sehingga semua faktor yang mempengaruhi kedua hal tersebut akan
mempengaruhi daya otot.

4) Kecepatan (Speed)
Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan
dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (M.Sajoto, 1995:8). Oleh
karena itu seseorang yang mempunyai kecepatan tinggi dapat melakukan suatu gerakan yang
singkat atau dalam waktu yang pendek setelah menerima rangsang. Kecepatan disini dapat
didefinisikan sebagai laju gerak berlaku untuk tubuh secara keseluruhan atau bagian tubuh.
Faktor yang mempengaruhi kecepatan, antara lain adalah : kelentukan, tipe tubuh, usia, jenis
kelamin (Dangsina Moeloek, 1984 : 7-8). Kecepatan juga merupakan salah satu faktor yang
menetukan kemampuan seseorang dalam bermain sepak bola. Pemain yang memiliki
kecepatan akan dapat dengan cepat menggiring bola ke daerah lawan dan akan mempermudah
pula dalam mencetak gol ke gawang lawan, selain itu kecepatan juga diperlukan dalam usaha
pemain mengejar bola.

5) Daya Lentur (Fleksibility)


Daya lentur adalah efektivitas seseorang dalam menyesuaikan diri untuk segala aktivitas
dengan pengukuran tubuh yang luas. Hal ini akan sangat mudah ditandai dengan tingkat
fleksibilitas persendian pada seluruh permukaan tubuh (M. Sajoto, 1995:9). Kelentukan
menyatakan kemungkinan gerak maksimal yang dapat dilakukan oleh suatu persendian. Jadi
meliputi hubungan antara tubuh persendian umumnya tiap persendian mempunyai
kemungkinan gerak tertentu sebagai akibat struktur anatominya. Gerak yang paling penting
dalam kehidupan sehari-hari adalah fleksi batang tubuh tetapi kelentukan yang baik pada
tempat tersebut belum tentu di tempat lain pula demikian (Dangsina Moeloek, 1984 : 9).
Dengan demikian kelentukan berarti bahwa tubuh dapat melakukan gerakan secara bebas.
Tubuh yang baik harus memiliki kelentukan yang baik pula. Hal ini dapat dicapai
dengan latihan jasmani terutama untuk penguluran dan kelentukan. Faktor yang
mempengaruhi kelentukan adalah usia dan aktifitas fisik pada usia lanjut kelentukan berkurang
akibat menurunnya aktifitas otot sebagai akibat berkurang latihan (aktifitas fisik). Sepak bola
memerlukan unsur fleksibility, ini dimaksudkan agar pemain dapat mengolah bola, melakukan
gerak tipu, sliding tackle serta mengubah arah dalam berlari.
6) Kelincahan (Agility)
Kelincahan adalah kemampuan seseorang mengubah posisi di area tertentu, seseorang yang
mampu mengubah satu posisi yang berbeda dalam kecepatan tinggi dengan koordinasi yang
baik, berarti kelincahannya cukup baik (M. Sajoto, 1995:9). Sedangkan menurut Dangsina
Moeloek (1984 : 8) menggunakan istilah ketangkasan. Ketangkasan adalah kemampuan
merubah secara tepat arah tubuh atau bagian tubuh tanpa gangguan pada keseimbangan.
Kelincahan seseorang dipengaruhi oleh usia, tipe tubuh, jenis kelamin, berat badan, kelentukan
(Dangsina Moeloek, 1984 : 9). Dari kedua pendapat tersebut terdapat pengertian yang menitik
beratkan pada kemampuan untuk merubah arah posisi tubuh tertentu. Kelincahan sering dapat
kita amati dalam situasi permainan sepak bola, misalnya seorang pemain yang tergelincir dan
jatuh di lapangan, namun masih dapat menguasai bola dan mengoperkan bola tersebut dengan
tepat kepada temannya. Dan sebaliknya, seorang pemain yang kurang lincah mengalami situasi
yang sama tidak saja tidak mampu menguasai bola, namun kemungkinan justru mengalami
cedera karena jatuh.

7) Keseimbangan (Balance)
Keseimbangan adalah kemampuan seseorang dalam mengendalikan organ-organ syaraf otot
(M. Sajoto, 1995:9). Keseimbangan adalah kemampuan mempertahankan sikap tubuh yang
pada saat melakukan gerakan tergantung pada kemampuan integrasi antara kerja indera
penglihatan, kanalis semisis kuralis pada telinga dan reseptor pada otot. Diperlukan tidak hanya
pada olah raga tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari (Dangsina Moeloek, 1984 : 10).
Keseimbangan ini penting dalam kehidupan maupun olah raga untuk itu penting dimana tanpa
keseimbangan orang tidak dapat melakukan aktivitas dengan baik. Seorang pemain sepak bola
apabila memiliki keseimbangan yang baik, maka pemain itu akan dapat mempertahankan
tubuhnya pada waktu menguasai bola. Apabila keseimbangannya baik maka pemain tersebut
tidak akan mudah jatuh dalam perebutan bola maupun dalam melakukan body contact terhadap
pemain lawan.

8) Koordinasi (Coordination)
Koordinasi adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerak yang
berada berada ke dalam pola garakan tunggal secara efektif (Sajoto, 1995:9). Koordinasi
menyatakan hubungan harmonis berbagai faktor yang terjadi pada suatu gerakan (Dangsina
Moeloek, 1984 : 4). Jadi apabila seseorang itu mempunyai koordinasi yang baik maka ia akan
dapat melaksanakan tugas dengan mudah secara efektif. Dalam sepak bola, koordinasi
digunakan pemain agar dapat melakukan gerakan teknik dalam sepak bola secara
berkesinambungan, misalnya berlari dengan melakukan dribble yang dilanjutkan melakukan
shooting kearah gawang dan sebagainya.

9) Ketepatan (Accuracy)
Ketepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan gerakan-gerakan bebas
terhadap suatu sasaran, sasaran ini dapat merupakan suatu jarak atau mungkin suatu obyek
langsung yang harus dikenai dengan salah satu bidang tubuh (M. Sajoto, 1995:9). Dengan
latihan atau aktivitas olahraga yang menuju tingkat kesegaran jasmani maka ketepatan dari
kerja tubuh untuk mengontrol suatu gerakan tersebut menjadi efektif dan tujuan tercapai
dengan baik. Ketepatan dalam sepak bola merupakan usaha yang dilakukan seorang pemain
untuk dapat mengoperkan bola secara tepat pada teman, selain itu juga dapat melakukan
shooting ke arah gawang secara tepat untuk mencetak gol.

10) Reaksi (Reaction)


Reaksi adalah kemampuan seseorang untuk segera bertindak secepatnya dalam menghadapi
rangsangan yang ditimbulkan lewat indera, syaraf atau rasa lainnya. Status kondisi fisik
seseorang dapat diketahui dengan cara penilaian bentuk tes kemampuan (M. Sajoto, 1995:10).
Reaksi dapat dibedakan menjadi tiga macam tingkatan yaitu reaksi terhadap rangsangan
pandang, reaksi terhadap pendengaran dan reaksi terhadap rasa. Seorang pemain sepak bola
harus mempunyai reaksi yang baik, hal ini dimaksudkan agar pemain mampu untuk bergerak
dengan cepat dalam mengolah bola. Biasnya reaksi sangat di butuhkan oleh seorang penjaga
gawang untuk menghalau bola dari serangan lawan, akan tetapi semua pemain dituntut juga
harus mempunyai reaksi yang baik pula.

Sumber :
- https://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2013/04/20/konsep-kesehatan-dalam-islam/
- https://insanajisubekti.wordpress.com/2012/11/30/10-komponen-kondisi-fisik/