Anda di halaman 1dari 9

ketahuilah bahwa keyakinan ini adalah kekafiran yang nyata berdasarkan dalil-

dalil shohih sebagaimana yang telah kami bawakan dalam dua edisi lalu.
Kafirnya orang yang mengaku nabi dan orang yang membenarkannya
merupakan perkara yang telah disepakati oleh para ulama salaf, dan ulama-
ulama setelahnya. Kenapa kafir? Jawabnya, karena ia telah mendustakan
firman Allah -Taala-,
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara
kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS.Al-Ahzab : 40)

Allah telah menyatakan bahwa tak ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad -
Shollallahu alaihi wasallam-, sedang orang yang mengaku nabi dan orang yang
membenarkannya malah menyatakan bahwa masih ada !! Ini adalah
pendustaan dan kekafiran yang ada dalam hati mereka !!

Rasulullah -Shollallahu alaihi wasallam- bersabda;


Tak akan tegak hari kiamat sampai ada beberapa kabilah diantara ummatku
akan bergabung dengan orang-orang musyrikin; sampai ada beberapa kabilah
diantara ummatku akan menyembah berhala. Sesungguhnya akan ada di
antara ummatku 30 tukang dusta, semuanya mengaku bahwa ia adalah nabi.
Akulah penutup para nabi, tak ada lagi nabi setelahku. [HR. Abu Dawud
(4253), At-Tirmidziy (2219), Ahmad (22448), Ibnu Hibban (7238), Al-Hakim
(8390), Ath-Thobroniy dalam Al-Ausath (8397), dan Musnad Asy-Syamiyyin
(2690),Abu Nuaim (2/289), dan Asy-Syaibaniy dalam Al-Ahad wa Al-Matsaniy
(456). Hadits ini di-shohih-kan Al-Albaniy dalam Takhrij Al-Misykah (5406)]
Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda ;
Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus. Maka tak ada lagi rasul,
dan nabi setelahku. [HR. At-Tirmidziy (2272), Ahmad (13851), Al-Hakim
(8178), Abu Yalaa (3947), dan Ibnu Abi Syaibah (30457). Hadits ini di-shohih-
kan oleh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami (1627), dan Al-Irwa (8/128)]
Selain itu, dalam beberapa atsar dari sahabat menyebutkan bahwa Abu Bakr
setelah diangkat jadi khalifah, maka tugas yang pertama kali beliau laksanakan
adalah mengirim pasukan menuju Qabilah Bani Hanifah untuk memerangi
orang-orang yang murtad dari Islam yang dilakoni oleh Musailamah si
Pendusta dan pengikutnya. Inilah sebabnya para ulama kita dari zaman ke
zaman mengeluarkan pernyataan tegas kafirnya orang yang mengaku nabi, dan
orang-orang yang membenarkannya, baik dari kalangan pengikutnya, maupun
dari luar pengikutnya.
Imam Ahli Sejarah Islam, Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Yasar Al-Madaniy-
rahimahullah- berkata, Awal kemurtadan di kalangan bangsa Arab adalah
(terjadi pada diri) Musailamah di negeri Al-Yamamah pada Bani Hanifah, Al-
Aswad bin Kaab Al-Ansiy di negeri Yaman di masa hidupnya Rasulullah -
Shollallahu alaihi wasallam-. Juga telah keluar Thulaihah bin Khuwailid Al-
Asadiy di kalangan Bani Asad dalam keadaan mengaku nabi.[HR. Al-Baihaqiy
dalam Al-Kubro (16504)]
Jadi, di zaman para sahabat, mereka meyakini bahwa orang yang mengaku
nabi dan membenarkannya adalah kafir sehingga Abu Bakr mengirim pasukan
untuk memberangus mereka sebagaimana juga beliau mengirm pasukan
menuju kaum yang murtad akibat mengingkari wajibnya zakat.
Al-Imam Asy-Syafiy-rahimahullah- berkata, Orang-orang yang murtad setelah
wafatnya Rasulullah -Shollallahu alaihi wasallam- ada dua macam.
(1)Diantaranya, ada suatu kaum yang kafir setelah masuk Islam, seperti
Thulaihah, Musailamah, Al-Ansiy, dan pengikut mereka. (2)Diantaranya, ada
suatu kaum yang berpegang dengan Islam, namun mereka menahan (tak mau
bayar) zakat.[Lihat Al-Umm (4/303)]
Kafirnya orang yang mengaku nabi sudah menjadi aqidah yang jelas dan kokoh
dalam hati kaum muslimin. Oleh karena itu, dalam setiap kurun waktu para
ulama kita tanpa ragu telah menjelaskan kekafiran mereka.
Al-Qodhi Abul Fadhl Iyadh bin Musa Al-Yahshobiy-rahimahullah- berkata,
Demikian pula orang yang mengakui kenabian seorang bersama Nabi kita -
Shollallahu alaihi wasallam-, atau setelahnya, seperti sekte Al-Isawiyyah dari
kalangan Yahudi yang berpendapat khususnya kerasulan Nabi Muhammad -
Shollallahu alaihi wasallam- pada orang Arab; seperti juga sekte bathiniyyah
Al-Khormiyyah yang berpendapat langgengnya kerasulan; seperti kebanyakan
sekte Rofidhoh (Syiah)yang berpendapat tentang keikutsertaan Ali bersama
Nabi Muhammad -Shollallahu alaihi wasallam- dalam kerasulan, dan
setelahnyaDemikian pula setiap orang yang mengaku dapat wahyu di antara
mereka, sekalipun ia tak mengaku nabi Mereka ini semuanya adalah kafir lagi
mendustakan Nabi Muhammad -Shollallahu alaihi wasallam-, karena beliau -
Shollallahu alaihi wasallam-telah mengabarkan bahwa beliau adalah penutup
para nabi, tak ada lagi nabi setelah beliau; beliau juga telah mengabarkan dari
Allah -Taala- bahwa dia adalah penutup para nabi, dan diutus kepada seluruh
manusia .[Lihat Asy-Syifa bi Tarif Huquq Al-Mushthofa (2/236)]
Saking jelasnya perkara tertutupnya pintu kenabian setelah Nabi Muhammad -
Shollallahu alaihi wasallam-, dan kafirnya orang yang mengaku nabi, sampai
diantara ulama kita ada yang mencap kafir orang yang ragu, dan tak tahu
bahwa pintu kenabian telah tertutup setelah Nabi -Shallallahu alaihi wa
sallam- .
Al-Allamah Ali Al-Qoriy-rahimahullah- berkata, Pengakuan kenabian setelah
Nabi kita -Shollallahu alaihi wasallam- merupakan kekafiran menurut ijma
.[Lihat Syarh Al-Fiqh Al-Akbar (hal.244), cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah]
Al-Imam Mahmud Syukri Al-Alusiy-rahimahullah- berkata, Kondisi Nabi
Muhammad -Shollallahu alaihi wasallam- sebagai penutup para nabi termasuk
perkara yang disebutkan oleh Al-Kitab, dijelaskan oleh Sunnah, dan disepakati
oleh ummat. Orang yang mendakwakan selain ini, maka ia kafir; dibunuh jika ia
tetap demikian. [Lihat Ruhul Maaniy (22/41)]
Muhammad bin Alyusy Al-Malikiy berkata, Seorang akan kafir karena ia
mengaku ada sekutu, yaitu seorang yang menyertai kenabian Nabi kita
Muhammad -Shollallahu alaihi wasallam-. [Lihat Syarh Minah Al-Jalil (4/464)]
Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawiy-rahimahullah- berkata,
Jika seorang mengaku nabi setelah Nabi kita -Shollallahu alaihi wasallam-
atau membenarkan orang yang mengaku nabi, maka semua ini adalah
kekafiran.[Lihat Roudhoh Ath-Tholibin (10/64-65)]
Inilah beberapa fatwa ulama terdahulu yang menjelaskan kepada kita tentang
bahaya aqidah orang-orang yang mengaku nabi. Akibatnya seorang dengan
pengakuan seperti itu akan menjadi kafir, keluar dari agama Islam.
Sebenarnya disana masih banyak sederetan nama-nama ulama yang
mutaqoddimin maupun mutakhirin yang belum sempat kami sebutkan. Akan
tetapi apa yang telah kami nukil, lebih dari yang cukup.
Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan.
Kerana, aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang
bermanfaat. Tanpa aqidah yangbenar, seseorang akan menjadi mangsa bagi
persangkaan dan keragu-raguan yang lama-kelamaan mungkin menompok dan
menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan.
Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan
masyarakat haiwani (bahimi), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia
meskipun mereka bergelumang dengan materi. Dengan materi, mereka
terkadang justeru sering terperosok pada kehancuran, sebagaimana yang kita
lihat pada masyarakat jahiliah. Kerana, sesungguhnya kekayaan materi
memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada
pemberi arahan yang benar, kecuali aqidah shahihah.
Allah telah berfiman (yang ertinya), Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan
yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. (Al-Mukminun: 51).
Dan, sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami
berfirman): Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-
ulang bersama Daud! dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (iaitu)
buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah
amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan.
(Saba: 1011).
Maka, kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan maddiyah
(materi). Jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah batil,
kekuatan materi akan berubah menjadi sarana penghancur dan alat peroiak,
seperti yang terjadi di negara-negara kafir yang memiliki materi tetapi tidak
memiliki aqidah shahihah.
Sebab penyimpangan aqidah yang harus kita ketahui adalah sebagai berikut.
Kebodohan terhadap aqidah shahihah kerana tidak mahu (enggan)
mempelajari dan mengajarkannya, atau kerana kurangnya perhatian
terhadapnya. Akibatnya, tumbuh suatu generasi yang tidak mengenal aqidah
shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau kebalikannya. Akibatnya,
mereka meyakini yang hak sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap
sebagai yang hak. Hal itu sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar r.a.
yang ertinya, Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu,
manakala di dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal
kejahiliahan.
Fanatik (taashshub) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapa dan nenek
moyangnya, sekalipun hal itu batil, dan mencampakkan apa yang menyalahi,
sekalipun hal itu benar. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah SWT
dalam surah Al-Baqarah ayat 170, Dan, apabila dikatakan kepada mereka:
Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: (Tidak), tetapi
kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek
moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk.
Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam masalah aqidah
tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki seberapa jauh
kebenarannya. Hal itu sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan
seperti Mutazilah, Jahmiyah, dan lainnya. Mereka bertaklid kepada orang-
orang sebelum mereka dari para imam yang sesat, sehingga mereka juga sesat,
jauh dari aqidah yang lurus.
Berlebihan (ghuluw) dalam mencintai para wali dan orang-orang saleh, serta
mengangkat mereka di atas darjat yang semestinya atau terlalu
mengagungkannya, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak
mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik berupa mendatangkan kemanfaatan
mahupun menolak kemudaratan.
Lalai (ghaflah) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagat
raya ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam kitab-
Nya (ayat-ayat Quraniyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil
teknologi dan kebudayaan, sampai-sampai mengira bahawa itu semua adalah
hasil kreasi manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia
serta menisbahkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan
manusia semata. Hal ini sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan,
seperti dalam surah Al-Qashash ayat 78, Sesungguhnya aku hanya diberi harta
itu, kerana ilmu yang ada padaku.
Dan, sebagaimana perkataan orang lain yang juga sombong, seperti dalam
surah Fushshilat ayat 50, Ini adalah kepunyaanku .
Mereka tidak berfikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah
menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam
keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap
dengan bekal keahlian dan kemampuan guna menemukan keistimewaan-
keistimewaan alam serta memfungsikannya demi kepentingan manusia.
Perhatikan firman Allah dalam surah Ash-Shaffat ayat 96, Padahal Allah-lah
yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.
Dan, apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala
sesuatu yang diciptakan Allah, . (Al-Araf: 185).
Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan
dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-
buahan menjadi rezeki untukmu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu
supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendaknya dan dia telah
menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan, Dia telah menundukkan
(pula) bagimu matahari dan bulan yang terus-menerus beredar (dalam
orbitnya), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan, Dia telah
memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan
kepadanya. Dan, jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu
menghinggakannya. (Ibrahim: 3234).
Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pengarahan yang benar
(menurut Islam). Padahal, baginda Rasul saw. telah bersabda, Setiap bayi itu
dilahirkan atas dasar fitrah. Maka, kedua orang tuanyalah yang (kemudian)
membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani, atau Majuzi. (HR Al-Bukhari). Jadi,
orang tua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-
anaknya.
Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya.
Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup
terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali.
Sedangkan media informasi, baik media cetak mahupun elektronik, berubah
menjadi sarana penghancur dan perosak, atau paling tidak hanya
memfokuskan pada hal-hal yang bersifat materi dan hiburan semata. Tidak
memerhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah
serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang
telanjang tanpa senjata, yang tidak berdaya di hadapan pasukan kekufuran
yang persenjataannya lengkap.
Cara-Cara Mengatasi Penyimpangan
Kembali kepada kitabullah dan sunah Rasulullah saw. untuk mengambil aqidah
shahihah, sebagaimana para salafus saleh mengambil aqidahnya dari
keduanya. Tidak akan dapat memperbaiki akhir umat ini, kecuali apa yang
telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah
golongan sesat dan mengenal syubhah-syubhah mereka untuk kita bantah dan
kita waspadai, kerana siapa yang tidak mengenal keburukan, ia dikhuatirkan
terperosok ke dalamnya.
Memberi perhatian pada pengajaran pemahaman aqidah shahihah, aqidah
salaf, di berbagai jenjang pendidikan. Memberi jam pelajaran yang cukup serta
mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan materi ini. Harus
ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai materi pelajaran, sedangkan
kitab-kitab kelompok penyeleweng harus dijauhkan.
Menyebar para dai yang meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan
aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil.
KESIMPULAN
Nabi-nabi palsu itu tidak lain adalah para oportunis yang mengira sakitnya
Rasulullah Saw adalah kesempatan emas untuk menampilkan diri mereka.
Keengganan memerangi nabi palsu, disamping tidak ada asasnya dalam
sumber-sumber sejarah, malah sebaliknya bertentang engan riwayat-riwayat
yang ada.
Semua kaum yang telah kita pelajari sampai sekarang, mempunyai beberapa
sifat umum seperti: melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah,
menyekutukan-Nya, berlaku sombong di muka bumi, dengan sewenang-
wenang menguasai hak milik orang lain, cende-rung terhadap perilaku seksual
yang menyimpang, dan angkara murka. Sifat umum lainnya adalah penindasan
dan kesewenangan mereka ter-hadap kaum Muslim di sekitar mereka. Mereka
mencoba segala cara un-tuk mengintimidasi kaum Muslim.
Tidak satu pun dari hal-hal ini dapat menyelamatkan seseorang dari hukuman
dan azab Allah. Al Quran mengingatkan kita atas kenyataan ini:

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan


memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang
sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan
telah mengolah bumi (tanah) serta memak-murkannya lebih banyak dari apa
yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul
mereka dengan memba-wa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah tidak sekali-kali
berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim
kepada diri sendiri. (QS. Ar-Ruum, 30: 9)
Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
iselain dari apa yang telah Engkau ajarkan
kepada kami; sesungguhnya Engkaulah
Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.
(QS. Al Baqarah, 2: 32)

KRITIK DAN SARAN

SARAN :
Bagi kita dan generasi akan datang sudah sepatutnya untuk menjaga aqidah
dan perilaku agar kita terhindar dari ajaran-ajaran islam yang sesat, khusus nya
dalam hal mendalami ajaran agama islam yang pada saat ini sudah banyak
menyimpang pada sumber aqidah yaitu al-quran dan as sunnah.

KRITIK :
Agar pemerintah dapat mengatasi dalam hal perbedaan ajaran dan aliran islam
sehingga kita umat islam dapat saling bertoleransi antar beribadah satu sama
lain dengan adanya pertentangan.

DAFTAR PUSTAKA
Sumber: Diadaptasi dari Kitab Tauhid 1 terbitan Yayasan Al-Sofwa, terjemahan
dari At-Tauhid Lish-Shaffil Awwal al-Aliy, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-
Fauzan
file:///G:/fd/Kepala_Sekolah_ngaku_Nabi.htm
Sumber : Buletin Jumat Al-Atsariyyah edisi 44 Tahun I. Penerbit : Pustaka Ibnu
Fauzan, bin Shalih bin abdulah al-Fauzan. 2008. KITAB TAUHID 3. Jakarta : Darul
Haq
http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php) Oleh Ust. Jafar Salih
oleh : Regantini S Asmowidjojo
Pengarang : Abu Harun Isa bin Yahya bin Mu'aafii Syarif
radiomuslim.com
www.informasiusaha.com/anto-maulana