Anda di halaman 1dari 4

E.

RESIKO SYOK

DEFINISI : Resiko syok adalah rentan mengalami kecukupan aliran darah ke


jaringan tubuh, yang dapat mengakibatkan disfungsi selurer yang
mengancam jiwa, yang dapat mengganggu kesehatan.

ETIOLOGI : SEPSIS

NOC NIC :

NO. DIAGNOSA NOC NIC


KEPERAWATA
N

1. Resiko syok 1) Keparahan syok: anafilaktik 1) Pencegahan syok


b.d sepsis
Indikator: Aktifitas:

Penurunan tekanan darah Monitor terhadap adanya


sistolik (2-4) respon kompensasi awal syok
(misalnya tekanan darah normal,
Penurunan tekanan darah
tekanan nadi melemah,
diastolik (2-4)
hipotensi ortostatik ringan, (15
Peningkatan laju jantung sampai 25mmHg), perlambatan
(2-4) pengisian kapiler, pucat/dingin

Sesak napas (2-4) pada kulit atau kulit


kemerahan,takipnea ringan,
Akral hangat, kulit
mual muntah, peningkatan rasa
kemerahan (2-4)
haus, dan kelemahan)
Angioedema (3-4)
Monitor terhadap adanya tanda
Edema pada tangan dan kaki tanda respon sindroma inflamasi
(3-4) sistemik

Parastesia (3-4) Monitor terhadap adanya tanda


awal reaksi alergi.
Pruritus (3-4)
Monitor terhadap adanya tanda
Muntah (3-4)
awal dari penurunan fungsi
Diare (3-4) jantung.

Panik (3-4) Monitor kemungkinan penyebab


kehilangan cairan.

Monitor status sirkulasi

Monitor EKG

Monitorberat badan, masukan


dan pengeluaran setiap hari.

Monitor hasil laboratorium,


terutama nilai Hgb dan Hct,
profil pembekuan, AGD, laktat,
elektrolit,kultur dan kimia darah.

Berikan agen antiinflamasi


dan/atau bronkodilator, sesuai
kebutuhan.

Monitor gula darah dan berikan


terapi insulin sesuai kebutuhan.

Ajarkan pasiem untuk


menghindari bahan yang
menyebabkan alergi yang
diketahui atau mengenai
bagaimana menggunakan kotak
peralatan anaphylaxis, sesuai
kebutuhan.

Lakukan skin-test untuk


mengetahui agen yang
menyebabkan anaphylaxis
dan/atau reaksi alergi,sesuai
kebutuhan.

Berikan saran kepada pasien


yang berisiko terhadap reaksi
alergi berat untuk menjalani
terapi desensitisasi.

Anjurkan pasien dan keluarga


mengenai faktor-faktor pemicu
syok.

Anjurkan pasien dan keluarga


mengenai tanda/gejala syok
yang mengancam nyawa

Anjurkan pasien dan keluarga


mengenai langkah-langkah yang
harus dilakukan terhadap
timbulnya gejala syok.

PATOFISIOLOGI :

Infeksi adalah istilah untuk menamakan keberadaan berbagai kuman yang masuk ke
dalam tubuh manusia. Bila kuman berkembang biak dan menyebabkan kerusakan jaringan
disebut penyakit infeksi. Pada penyakit infeksi terjadi jejas sehingga timbul reaksi inflamasi.
Meskipun dasar proses inflamasi sama, namun intensitas dan luasnya tidak sama,
tergantung luas jejas dan reaksi tubuh. Inflamasi akut dapat terbatas pada tempat jejas saja
atau dapat meluas serta menyebabkan tanda dan gejala sistemik. Manifestasi klinik inflamasi
sistemik disebut systemic inflamation respons syndrome (SIRS), sedangkan sepsis adalah
SIRS ditambah tempat infeksi yang diketahui. Meskipun sepsis biasanya berhubungan
dengan infeksi bakteri, namun tidak harus terdapat bakteriemia. Berdasarkan konferensi
internasional tahun 2001 memasukkan petanda procalcitonin (PCT) sebagai langkah awal
dalam mendiagnosa sepsis 3 3 . Purba D (2010) di Medan, pada penelitian prokalsitonin
sebagai petanda sepsis mendapatkan nilai PCT 0,80 ng/ml sesuai untuk sepsis akibat infeksi
bakteri dan kadarnya semakin meningkat berdasarkan keparahan penyakit. Ketika jaringan
terluka atau terinfeksi, akan terjadi pelepasan faktor-faktor proinflamasi dan anti inflamasi
secara bersamaan. Keseimbangan dari sinyal yang saling berbeda ini akan membantu
perbaikan dan penyembuhan jaringan. Ketika keseimbangan proses inflamasi ini hilang akan
terjadi kerusakan jaringan yang jauh, dan mediator ini akan menyebabkan efek sistemik yang
merugikan tubuh. Proses ini dapat berlanjut sehingga menimbulkan multiple organ
dysfunction syndrome (MODS). 19 Sitokin sebagai mediator inflamasi tidak berdiri sendiri
dalam sepsis, masih banyak faktor lain (non sitokin) yang sangat berperan dalam
menentukan perjalanan penyakit. Respon tubuh terhadap patogen melibatkan berbagai
komponen sistem imun dan sitokin, baik yang bersifat proinflamasi maupun antiinflamasi.
Termasuk sitokin proinflamasi adalah tumor necrosis factor (TNF), interleukin-1 (IL-1), dan
interferon- (IFN-) yang bekerja membantu sel untuk menghancurkan mikroorganisme
yang menginfeksi. Termasuk sitokin antiinflamasi adalah interleukin-1 reseptor antagonis
(IL-1ra), IL-4, dan IL-10 yang bertugas 1 Universitas Sumatera Utara untuk memodulasi,
koordinasi atau represi terhadap respon yang berlebihan. Sedangkan IL-6 dapat bersifat
sebagai sitokin pro- dan anti-inflamasi sekaligus. Penyebab sepsis paling banyak berasal dari
stimulasi toksin, baik dari endotoksin gram (-) maupun eksotoksin gram (+). Komponen
endotoksin utama yaitu lipopolisakarida (LPS) atau endotoksin glikoprotein kompleks dapat
secara langsung mengaktifkan sistem imun seluler dan humoral, bersama dengan antibodi
dalam serum darah penderita membentuk lipopolisakarida antibodi (LPSab). LPSab yang
berada dalam darah penderita dengan perantaraan reseptor CD14+ akan bereaksi dengan
makrofag yang kemudian mengekspresikan imunomudulator. 2,3 Pada sepsis akibat kuman
gram (+), eksotoksin berperan sebagai super-antigen setelah difagosit oleh monosit atau
makrofag yang berperan sebagai antigen processing cell dan kemudian ditampilkan sebagai
antigen presenting cell (APC). Antigen ini membawa muatan polipeptida spesifik yang
berasal dari major histocompatibility complex (MHC), kemudian berikatan dengan CD4 2 +
(limposit Th1 dan Th2) dengan perantaraan T cell receptor (TCR). Sebagai usaha tubuh untuk
bereaksi terhadap sepsis maka limposit T akan mengeluarkan substansi dari Th1 yang
berfungsi sebagai imunomodulator yaitu: IFN-, IL-2, dan macrophage colony stimulating
factor (M-CSF0. Limposit Th2 akan mengeluarkan IL-4, IL-5, IL-6, dan IL-10. IFN- meransang
makrofag mengeluarkan IL-1 dan TNF-. Pada sepsis IL-2 dan TNF- dapat merusak
endotel pembuluh darah. IL-1 juga berperan dalam pembentukan prostaglandin E2 (PG-E)
2,3 2 dan meransang ekspresi intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1). ICAM-1 berperan
pada proses adhesi neutrofil dengan endotel. Neutrofil yang beradhesi dengan endotel akan
mengeluarkan lisosim yang menyebabkan dinding endotel lisis. Neutrofil juga membawa
superoksidan radikal bebas yang akan mempengaruhi oksigenasi mitokondria. Akibat proses
tersebut terjadi kerusakan endotel pembuluh darah. Kerusakan endotel akan menyebabkan
gangguan vaskuler sehingga terjadi kerusakan organ multipel