Anda di halaman 1dari 5

AKUNTANSI INTERNASIONAL

IFRS vs. GAAP

IFRS

1. Aset tetap
Revaluasi aset
Berpengaruh ke OCI
Peraturan beban penyusutan
Sum of the year digit udah ga dipake, diganti pake Komponen (itung
per item, jumlahnya dijadikan dasar buat menghitung depresiasi per
tahun).
Impairment value (penurunan nilai)
Dasar iimpairment test = fair value.
Dilakukan pada akhir periode atau saat membuat laporan keuangan.
Impairment terjadi karena: ada perubahan aset secara fisik, adanya
strategi diskon, asetnya sering dipakai sehingga mudah rusak.
Cara impairment:
Bandingkan antara book value atau carrying amount (nilai
perolehan akumulasi depresiasi) dengan recoverable amount atau
jumlah yang dapat dipulihkan.

Jika CA = RA, maka tidak ada impairment value

Jika CA < RA, maka tidak ada impairment value

Jika CA > RA, baru ada impairment value

Untuk recoverable amount, cari yang tertinggi antara Value In Use


dengan Revenue to Profit and Loss.

Value in use = present value dari aset

PSAk tentang impairment: PSAK 48

Aset tetap yang tidak di impairment: Tanah

Goodwill: nilai asetnya turun terus, kalaupun naik tingkat kenaikannya


gaboleh melebihi tingkat penurunan.
2. Inventory (PSAK 14)
LIFO tidak berlaku
Sebelum: lower cost or market. Sesudah: lower cost or net realizable
value.
NRV: harga jual biaya untuk melepas sampe ke tangan pembeli
KIESO non IFRS: metode rata-rata bergerak (moving average) dan
rata-rata tertimbang (weighted average) ga dikasih patokan.
KIESO IFRS: dikasih patokan, harus pake metode rata-rata
tertimbang. Metode penyusutan yang dianjurkan: NRV (net realizable
value)
3. Kewajiban / aset kontijensi (PSAK 57; IAS 37)
Kontijensi= sesuatu akan menjadi kewajiban / aset kita kalau ada suatu
kejadian tertentu yang terjadi. (contoh: garansi, kita akan harus
ngebenerin barang konsumen kalau barangnya rusak).
Jenis kontijensi: aset, kewajiban, provisi
Kalau kita buka toko elektronik terus ngasih jaminan uang kembali
kalau barang kita rusak, itu namanya kewajiban konstruktif. Kewajiban
yang timbul karena adanya kebijakan perusahaan.
Kontijensi: possible, probable, remote
Probable / provisi: kejadian kemungkinan besar terjadi dan harus
dimasukan kedalam laporan keuangan serta dibuat disclosure.
Kewajiban di masa mendatang akibat kebijakan di masa lalu.
Possible: peluang terjadinya kejadian masih 50%
Remote: peluangnya sangat kecil, gaperlu dimasukin ke laporan
keuangan. Dikasih disclosure aja.
Asset kontijensi: ada kemungkinan kenaikan aset di masa yang akan
datang. Menurut kebijakan akuntansi gaperlu diakui karena secara
akuntansi yang namanya aset pasti menyusut.
Kriteria probable: timbul karena kebijakan perusahaan, terjadi di masa
lalu, dapat diukur jumlahnya dan besar peluangnya untuk terjadi.
Tidak ada alat ukur untuk menentukan probable, possible, dan remote.
Sifatnya subjektif, Cuma dikasih guidance kalau probable itu besar
kemungkinannya untuk terjadi, dll.
4. Instrumen keuangan (PSAk 50, 55, 60; IAS 32, 39; IFRS 007)
Sifat instrument keuangan: (kas, piutang, loan, utang, investasi,
trading, HTM, hedging, obligasi, dll); pengakuan dan pengukuran,
disclosure.
Kas: setelah dan sebelum konvergensi yang beda adalah jenis kas,
ditambah Bank Overdraft yang berarti fasilitas yang diberikan oleh
bank kepada nasabahnya supaya nasabah bisa ngambil uang melebihi
saldonya. Jurnal: Kas pada Utang Usaha.
Piutang: saat sebelum konvergensi, waktu pengakuan piutang ada
metode bruto dan metode neto. Ga ada ketentuan kita harus pake
metode yang mana. Setelah konvergensi, ada ketentuan kalau piutang
harus dicatat bersihnya (metode neto). Saat penilaian, ada metode
allowance dan metode direct write off. Kedua metode ini boleh
dipakai walaupun sesudah konvergensi walaupun dihimbau untuk
menggunakan metode allowance karena ada teknik akuntansi yang
digunakan.
Disposisi piutang: piutangnya kita hentikan sebelum jatuh
tempo.
Anjak piutang: selling (tanpa jaminan) kita jual piutang ke bank,
terus bank tagih, kalau ga ketagih jd kerugian bank. Borrowing
(ada jaminan) kita jual piutang ke bank, kalau ga dibayar tetep
jadi kerugian kita.
Impairment value: penurunan nilai piutang. Kalau yang punya
utang mengalami kesulitan, mati, bangkrut, dll. Metodenya ada
yang berdasarkan individu atau kelompok.
Pengakuan piutang dihitung berdasarkan present value. Kalau
pinjemin uang 100.000.000 dan dibayar 5 tahun kemudian, yang
dicatet adalah PV dari 100.000.000, jadi setelah 5 tahun baru
diakui 100.000.000
5. Pendapatan (PSAK 23, 34)
PSAk 23: IAS 18; PSAK 34: IAS 11.
PSAK 23; prinsip realisasi. Kalau kita jual barang terus ada diskon,
kita akui pendapatan yang udah dipotong diskon tersebut (metode
neto. Sebelum IFRS yang dipake metode bruto).
Syarat pendapatan:
Transfer kepemilikan setelah terjadinya penjualan
Tidak ada kewajiban setelah penjualan
Beban dan pendapatan dapat diukur secara andal.

Kalau salah satu syarat tidak terpenuhi, pendapatan tidak boleh


diakui.

PSAK 34: Kontrak jangka panjang


Metode: persentasi tingkat penyelesaian, kontrak selesai (setelah
konvergensi IFRS namanya diganti. Kontrak selesai baru pendapatan
di realisasikan)
6. Leasing (PSAK 30; IAS 17)
7. Konsolidasi (PSAK 22; IFRS 03 tentang perlakuan goodwill di konsolidasi)
Di IFRS, konsolidasi boleh dilakukan walaupun tingkat kepemilikan ga
sampe 50%. Syarat yang berlaku saat kepemilikan 50% atau lebih rendah:
Pemegang saham bisa mengendalikan kebijakan-kebijakan yang
berlangsung di perusahaan. Walaupun lebih kecil dari 50%, boleh
konsolidasi dilakukan karena ada mayoritas (yang pegang saham >
50%)
Perlakuan. Sebelum IFRS, perlakuan menggunakan foreign
companies: kepemilikan minoritas (NCI) diletakkan di posisi aset.
Setelah IFRS, konsep perlakuan diganti jadi entity concept (NCI
diletakkan di posisi kewajiban).
8. Pajak penghasilan (PSAK 46; IAS 12)
PSAK 46: tangguhan.
Tangguhan ada karena adanya rekonsiliasi fiskal; perbedaan
akuntansi perusahaan dengan pajak.
Sebelum IFRS: lebih berfokus pada laba/rugi. Kalau setelah IFRS
kita berfokus pada laba/rugi dan posisi keuangan.
9. Kebijakan dan Perubahan Akuntansi (PSAK 25)
Dampak perubahan akuntansi: berlaku surut (retrospective) dan berlaku
di masa yang akan datang (perspective)
Berdampak pada pelaporan akuntansi keuangan: laporan keuangan bukan
5 tapi 6. Sebelum IFRS laporan keuangan dianggap 5. Tambahan 1 itu
Laporan Kekurangan Proforma yang dibuat di awal tahun karena adanya
perubahan metode akuntansi sehingga di awal tahun kita berikan
dampaknya kalau metode itu kita terapkan.
10. Perubahan lain:
Perubahan pemberian nama. Dari harta asset; kewajiban
liabilitas; modal ekuitas
Judul laporan laba rugi. Diganti jadi Laporan Laba Rugi dan
Komprehensif Lainnya (kalau ada OCI)
11. Perbedaan paling mendasar:
Perlakuan fair value. Sebelum IFRS: historical cost, jadi ga ada
adjustment tapi setelah IFRS harus pake fair value jadi banyak
penyesuaian.
Pajak. Ada banyak koreksi karena ada pajak pake historical cost,
perusahaan pake fair value. Koreksi positif: menambah laba.
Koreksi negative: mengurangi laba. Kalau pake fair value pasti
sifatnya menambah penghasilan / koreksi positif.
Cashflow. Perbedaannya di letak aktifitas operasional. Setelah
IFRS khusus metode indirect, penerimaan dividen bisa masuk
operasional atau pendanaan. Kalau sebelum IFRS diakui sebagai
kegiatan operasional.