Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Kejahatan seksual merupakan semua tindakan seksual, percobaan tindakan seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan seks dengan menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh siapa saja tanpa memandang hubungan korban dalam situasi apa saja, tapi tidak terbatas pada rumah dan pekerjaan (IASAC,2005). Kejahatan seksual mempunyai kaitan yang erat dengan Ilmu Kedokteran Forensik; yaitu di dalam upaya pembuktian bahwasanya kejahatan tersebut memang telah terjadi. Adanya kaitan antara Ilmu Kedokteran dengan kejahatan seksual dapat dipandang sebagai konsekuensi dari pasal-pasal di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Kitab Undang-Undang Acara Hukum Pidana (KUHAP), yang memuat ancaman hukuman serta tatacara pembuktian pada setiap kasus yang termasuk di dalam pengertian kasus kejahatan seksual. Upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus kejahatan seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada tidaknya tanda- tanda persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah mampu untuk dikawin atau tidak.

Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana ini, hendaknya dilakukan dengan teliti karena tidak adanya kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, dokter hendaknya tidak meletakkan kepentingan korban di bawah kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban adalah anak-anak pemeriksaan sebaiknya tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah dideritanya.

Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan hukuman. Di Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli Ilmu

Kebidanan dan Penyakit Kandungan, kecuali di tempat yang tidak ada dokter ahli tersebut, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter umum.

Sebaiknya korban kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah mengalami cedera fisik dan atau mental sehingga lebih baik dilakukan pemeriksaan oleh dokter di klinik. Penundaan pemeriksaan dapat memberi hasil yang kurang memuaskan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  • 2.1 Definisi Kejahatan Seksual

Semua tindakan seksual, percobaan tindakan seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan seks, dengan menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh siapa saja tanpa memandang hubungan dengan korban, dalam situasi apa saja, termasuk tapi tidak terbatas pada rumah dan pekerjaan.

  • 2.2 Jenis-Jenis Kejahatan Seksual a. Mempertontonkan di depan umum hal-hal yang melanggar kesusilaan (Pasal 281-283 KUHP)

Pasal 281 KUHP

Diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah:

(1) Barang siapa dengan sengaja dan terbuka melanggar kesusilaan;

(2) Barang siapa dengan sengaja dan di depan orang lain yang ada di situ

Pasal 282 KUHP

(1) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang telah diketahui isinya melanggar kesusilaan, atau barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membuat tulisan, gambaran atau benda tersebut, memasukkannya ke dalam negeri, meneruskannya, mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barang siapa secara terang- terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkannya atau menunjukkannya sebagai bisa diperoleh, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun enam bulan atau pidana denda paling tinggi empat ribu lima ratus rupiah.

(2) Barang siapa menyiarkan, mempertunjukkan atau menempelkan di muka umum tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, ataupun barang siapa dengan maksud untuk disiarkan, dipertunjukkan atau ditempelkan di muka umum, membikin, memasukkan ke dalam negeri, meneruskan mengeluarkannya dari negeri, atau memiliki persediaan, ataupun barang siapa secara terang-terangan atau dengan mengedarkan surat tanpa diminta, menawarkan, atau menunjuk sebagai bisa diperoleh, diancam, jika ada alasan kuat baginya untuk menduga bahwa tulisan, gambaran atau benda itu melanggar kesusilaan, dengan pidana paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (3) Kalau yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam ayat pertama sebagai pencarian atau kebiasaan, dapat dijatuhkan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak tujuh puluh lima ribu rupiah.

Pasal 283 KUHP

(1)Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak sembilan ribu rupiah, barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan tulisan, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, maupun alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan kepada seorang yang belum dewasa, dan yang diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa umumya belum tujuh belas tahun, jika isi tulisan, gambaran, benda atau alat itu telah diketahuinya. (2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa membacakan isi tulisan yang melanggar kesusilaan di muka oranng yang belum dewasa sebagaimana dimaksud dalam ayat yang lalu, jika isi tadi telah diketahuinya. (3)Diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan atau pidana kurungan paling lama tiga bulan atau pidana denda paling

banyak sembilan ribu rupiah, barang siapa menawarkan, memberikan untuk terus maupun untuk sementara waktu, menyerahkan atau memperlihatkan, tulis- an, gambaran atau benda yang melanggar kesusilaan, maupun alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan kepada seorang yang belum dewasa sebagaimana dimaksud dalam ayat pertama, jika ada alasan kuat baginya untuk menduga, bahwa tulisan, gambaran atau benda

yang melang- gar kesusilaan atau alat itu adalah alat untuk mencegah atau menggugurkan kehamilan.

Pasal 283

Jika yang bersalah melakukan salah satu kejahatan tersebut dalam pasal 282 dan 283 dalam menjalankan pencariannya dan ketika itu belum lampau dua tahun sejak adanya pemidanaan yang menjadi pasti karena kejahatan semacam itu juga, maka dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian tersebut.

b. Perbuatan perselingkuhan (Pasal 284 KUHP)

Pasal 284 KUHP

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:

1.a. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya, 1.b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya; 2.a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin; 2.b. Seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya. (2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW,

dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan

bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga. (3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75. (4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang

pengadilan belum dimulai.

(5) Jika bagi suami-istri berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

Pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek)

Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai isterinya, seorang perempuan hanya satu orang laki sebagai suaminya.

c. Perkosaan (Pasal 285-288 KUHP)

Pasal 285 KUHP

Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa

seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pasal 286 KUHP

Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan

padahal diketahuinya bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 287 KUHP

(1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

Pasal 288 KUHP

(1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama delapan tahun. (3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

d. Perbuatan Cabul (Pasal 289-295 KUHP)

Pasal 289 KUHP

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pasal 290 KUHP

Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:

1. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang, padahal diketahuinya bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya; 2. Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seorang padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya, bahwa umumya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas, yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin:

3. Barang siapa membujuk seseorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umumya tidak jelas yang bersangkutan atau kutan belum

waktunya untuk dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.

Pasal 291 KUHP

(1) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 286, 2 87, 289, dan 290 mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas tahun; (2) Jika salah satu kejahatan berdasarkan pasal 285, 286, 287, 289 dan 290 mengakibatkan kematisn dijatuhkan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

Pasal 292 KUHP

Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin, yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun.

Pasal 293 KUHP

(1) Barang siapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan pembawa yang timbul dari hubungan keadaan, atau dengan penyesatan sengaja menggerakkan seorang belum dewasa dan baik tingkahlakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul dengan dia, padahal tentang belum kedewasaannya, diketahui atau selayaknya harus diduganya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya dilakukan kejahatan itu. (3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan ini adalah masing-masing sembilan bulan dan dua belas bulan.

Pasal 294 KUHP

(1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengm anaknya, tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawannya yang belum dewasa, atau dengan orang yang belum dewasa yang pemeliharaanya,

pendidikan atau penjagaannya diannya yang belum dewasa,

diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (2) Diancam dengan pidana yang sama:

  • 1. Pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena jabatan adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya dipercayakan atau diserahkan kepadanya,

  • 2. Pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara, tempat pekerjaan negara, tempat pen- didikan, rumah piatu, rumah sakit, rumah sakit jiwa atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.

Pasal 295 KUHP

(1) Diancam:

  • 1. Dengan pidana penjara paling lama lima tahun barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan dilakukannya perbuatan cabul oleh anaknya, anak tirinya, anak angkatnya, atau anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau oleh orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, ataupun oleh bujangnya atau bawahannya yang belum cukup umur, dengan orang lain;

  • 2. Dengan pidana penjara paling lama empat tahun barang siapa

dengan sengaja menghubungkan atau memudahkan perbuatan cabul, kecuali yang tersebut dalam butir 1 di atas., yang dilakukan oleh orang yang diketahuinya belum dewasa atau yang sepatutnya harus diduganya demikian, dengan orang lain. (2) Jika yang melakukan kejahatan itu sebagai pencarian atau kebiasaan, maka pidana dapat ditambah sepertiga.

e. Perdagangan wanita (Pasal 296-298 KUHP)

Pasal 296 KUHP

Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan cabul oleh orang lain dengan orang lain, dan menjadikannya sebagai pencarian atau kebiasaan, diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak lima belas ribu rupiah.

Pasal 297 KUHP

Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum dewasa, diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun.

Pasal 298 KUHP

(1) Dalam hal pemidanaan berdasarkan salah satu kejahatan dalam pasal 281, 284 - 290 dan 292 - 297, pencabutan hakhak berdasarkan pasal 35 No. 1 - 5 dapat dinyatakan. (2) Jika yang bersalah melakukan salah satu kejahatan berdasarkan pasal 292 - 297 dalam melakukan pencariannya, maka hak untuk melakukan pencarian itu dapat dicabut.

2.3 Persetubuhan

  • a. Definisi

Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dan dengan atau tanpa disertai ejakulasi. Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian adanya persetubuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:

Besarnya penis dan derajat penetrasinya

Bentuk dan elastisitas selaput dara (hymen)

Ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sendiri

Posisi persetubuhan

Keaslian barang bukti serta waktu pemeriksaan

  • b. Tanda persetubuhan

Pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin, sebab dengan berlangsungnya waktu tanda-tanda persetubuhan akan menghilang dengan sendirinya. Sebelum dilakukan pemeriksaan, dokter hendaknya mendapat izin tertulis dari pihak-pihak yang diperiksa. Jika korban adalah seorang anak izin dapat diminta dari orang tua atau walinya. Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda penetrasi dan tanda ejakulasi. Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih kecil atau belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-

korban ini penetrasi dapat menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai 7, luka lecet, memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir kemaluan maupun daerah perineum. Tidak ditemukannya luka-luka tersebut pada korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya penetrasi.

Tanda

ejakulasi

bukanlah

tanda

yang

harus

ditemukan

pada

persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan komponen cairan mani. Untuk uji penyaring cairan mani dilakukan pemeriksaan fosfatase asam. Tanda persetubuhan pada wanita:

  • - Pakaian: robekan, noda darah, noda sperma

  • - Tanda-tanda bekas hilang kesadaran atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik atau narkotik.

  • - Tanda bekas kekerasan: memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, payudara, paha bagian dalam dan pinggang.

  • - Daerah genitalia:

o

Rambut kemaluan yang saling melekat karena air mani yang

o

mengering Bercak air mani di sekitar alat kelamin

o

Tanda kekerasan seperti edema, memar, dan luka lecet

o

Ruptur selaput dara

o

Pelebaran lingkaran orifisium (minimal 9 cm)

o

Keutuhan frenulum labiorum pudendi dan comisura labiorum posterior

Tanda persetubuhan pada pria:

  • - Pakaian: bercak semen, darah

  • - Tanda bekas kekerasan

  • - Sel epitel vagina pada glans penis

  • c. Tanda-tanda kekerasan

Tidak sulit untuk membuktikan adanya kekerasan pada tubuh wanita yang menjadi korban. Dalam hal ini perlu diketahui lokasi luka-luka yang sering ditemukan, yaitu di daerah mulut dan bibir, leher, puting susu, pergelangan tangan, pangkal paha serta di sekitar dan pada alat genital. Luka-luka akibat kekerasan seksual biasanya berbentuk luka lecet bekas kuku, gigitan (bite marks) serta luka-luka memar. Sepatutnya diingat bahwa tidak semua kekerasan meninggalkan bekas atau jejak berbentuk luka. Dengan demikian, tidak ditemukannya luka tidak berarti bahwa pada wanita korban tidak terjadi kekerasan itulah alasan mengapa dokter harus menggunakan kalimat tanda-tanda kekerasan di dalam setiap Visum et Repertum yang dibuat, oleh karena tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan mencakup dua pengertian: pertama, memang tidak ada kekerasan, dan yang kedua kekerasan terjadi namun tidak meninggalkan bekas (luka) atau bekas tersebut sudah hilang. Tindakan pembiusan serta tindakan lainnya yang menyebabkan korban tidak berdaya merupakan salah satu bentuk kekerasan. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan untuk menentukan adanya racun atau obat- obatan yang kiranya dapat membuat wanita tersebut pingsan; hal tersebut menimbulkan konsekuensi bahwa pada setiap kasus kejahatan seksual, pemeriksaan toksikologik menjadi prosedur yang rutin dikerjakan.

2.4 Tata Cara Pemeriksaan Forensik

  • a. Korban

Persiapan di Tempat Kejadian Perkara

 

Tindakan pada kasus/disangka kasus perkosaan atau perzinahan:

 
  • 1. Perhatikan

apakah

korban

memerlukan

pertolongan

pertama

akibat kekerasan yang dideritanya. Perhatikan juga apakah korban

telah cukup umur atau belum selanjutnya lihat skema persetubuhan;

  • 2. apakah

Perhatikan

pada

tubuh

korban

terdapat

tanda-tanda

kekerasan

  • 3. Amankan tempat kejadian dan barang bukti

 
  • 4. Kumpulkan barang bukti sebaikbaiknya seperti noda darah, bercak

pada kain, celana, sprei, dan lain-lain

 
  • 5. Perhatikan sikap korban, apakah takut, gelisah, malu atau tenang-

tenang saja.

  • 6. Perhatikan caranya berpakaian dan berhias, adalah berlebihan atau mengandung gairah

  • 7. Kirimkan korban/tersangka korban ke rumah sakit pemerintah dengan formulir visum et repertum model IV tanpa diperkenankan membersihkan badan dahulu. Korban diantar oleh petugas polisi

  • 8. Jelaskan kepada ahli kebidanan/dokter yang bertugas tentang maksud pemeriksaan ini.

  • 9. Bila dipandang perlu maka korban dapat diisolasi dengan pengawasan ketat dan tidak boleh ditemui seorang pun atau berhubungan dengan tamu/keluarga.

Pengumpulan Alat Bukti di Tempat Kejadian Perkara Untuk kepentingan penyidikan, alat bukti sangat penting.

Pengumpulan alat bukti dilakukan di tempat kejadian perkara, selanjutnya alat bukti tersebut dikirim ke laboratorium forensik untuk dianalisis. Barang bukti/material kimia, biologik dan fisik yang ditemukan ditempat kejadian perkara dapat berupa:

  • 1. Material kimia: alkohol, obat-obatan, atau bahan kimia lain yang ditemukan di tempat kejadian perkara

  • 2. Material fisik: serat pakaian, selimut, kain penyekap korban dll.

3. Material biologik: cairan tubuh, air liur, semen/sperma, darah, rambut dll.

Persiapan Sebelum Pemeriksaan Korban Sebelum korban dikirim ke rumah sakit/fasilitas kesehatan

untuk dilakukan pemeriksaan dokter, perlu dijelaskan dengan hati-hati proses pemeriksaan forensik dengan memaparkan langkahlangkah penyelidikan. Sebelum pemeriksaan forensik syarat yang harus dipenuhi adalah:

  • 1. Harus ada permintaan tertulis untuk pemeriksaan kasus kekerasan

seksual dari penyidik atau yang berwenang.

  • 2. Korban datang dengan didampingi polisi/penyidik.

  • 3. Memperoleh persetujuan (inform consent) dari korban.

4. Pemeriksaan dilakukan sedini mungkin untuk mencegah hilangnya alat bukti yang penting bagi pengadilan.

Pemeriksaan Korban Kekerasan Seksual Yang perlu diperiksa oleh dokter terhadap korban/tersangka korban kekerasan seksual sedapat mungkin memenuhi tuntutan yang

digunakan dalam undang-undang hukum pidana. Pemeriksaan fisik juga didasarkan pada kebijakan juridiksional, dan dilakukan oleh dokter dengan pemeriksaan meliputi:

Umum:

  • 1. Rambut, wajah, emosi secara keseluruhan 16

  • 2. Apakah korban pernah pingsan sebelumnya, mabuk atau tanda- tanda pemakaian narkotik.

  • 3. Tanda-tanda kekerasan diperiksa di seluruh tubuh korban.

  • 4. Alat bukti yang menempel ditubuh korban yang diduga milik pelaku.

  • 5. Memeriksa perkembangan seks sekunder untuk menentukan umur korban.

6.

Pemeriksaan antropometri; tinggi badan dan berat badan

  • 7. Pemeriksaan rutin lain

Khusus:

  • 1. Genitalia: pemeriksaan akibat-akibat langsung dari kekerasan seksual yang dialami korban, meliputi:

    • a. Kulit genital apakah terdapat eritema, iritasi, robekan atau tanda-tanda kekerasan lainnya.

    • b. Eritema vestibulum atau jaringan sekitar

    • c. Perdarahan dari vagina.

    • d. Kelainan lain dari vagina yang mungkin disebabkan oleh infeksi atau penyebab lain.

    • e. Pemeriksaan hymen meliputi bentuk hymen, elastisitas hymen, diameter penis. Robekan penis bisa jadi tidak terjadi pada kekerasan seksual penetrasi karena bentuk, elastisitas dan diameter penis.

    • f. Untuk yang pernah bersetubuh, dicari robekan baru pada wanita yang belum melahirkan

    • g. Pemeriksaan ada tidaknya ejakulasio dalam vagina dengan mencari spermatozoa dalam sediaan hapus cairan dalam vagina

  • 2. Pemeriksaan anal: kemungkinan bila terjadi hubungan seksual secara anal akan menyebabkan luka pada anal berupa robekan, ireugaritas, keadaan fissura.

  • 3. Pemeriksaan laboratorium

    • a. Pemeriksaan darah

    • b. Pemeriksaan cairan mani (semen)

    • c. Tes kehamilan

    • d. Pemeriksaan lain seperti hepatitis, gonorrhea, HIV.

    • e. Pemeriksaan cairan tubuh, mani, liur, atau rambut yang dianggap pelaku.

Wawancara/Anamnesis Korban Kekerasan Seksual

Wawancara dengan korban meliputi empat elemen: Wawancara teraupetik, wawancara investigasi, wawancara medis dan wawancara medico-legal. Walaupun isi dari masing-masing wawancara bisa saling tumpang tindih dan perbedaan wawancara dalam beberapa hal dapat dilakukan oleh orang yang sama, dengan tujuan dan fungsi masing- masing berbeda. Wawancara dapat dilakukan tersendiri, bersahabat dan lingkungan yang mendukung. Penginterview akan membangun suatu hubungan dengan korban dan mulai dengan pertanyaan umum yang tidak berhubungan dengan kekerasan seksual yang dialami, seperti riwayat medis. Jika diperlukan dapat digunakan penerjemah. Bahasa dan nama penerjemah yang digunakan dapat dicatat dalam laporan. Pada kasus remaja, mereka diijinkan untuk didampingi oleh orang tua bila mereka mau. Mereka juga diperlakukan dengan cara yang sama seperti orang dewasa.

Pemeriksaan Fisik Korban Kekerasan Seksual

 

Pemeriksaan

pasien

dibagi

dalam

beberapa

kategori

yaitu;

keadaan

umum

dan

tingkah

laku

pasien;

keadaan

tubuh

secara

keseluruhan,

genitalia

externa,

vagina

dan

servix,

dan

anus serta

rektum.

b. Pelaku (Tersangka)

a. Pemeriksaan tubuh Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada glans penis. Bahan pemeriksaan yang digunakan adalah cairan yang masih melekat di sekitar corona glandis. Pemeriksaan dilakukan dengan cara menekankan kaca objek pada glans penis, daerah korona, atau frenulum, kemudian diletakkan terbalik di atas cawan yang

berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisan pada kaca objek tersebut. Sitoplasma sel epitel vagina akan berwarna coklat tua karena mengandung glikogen. Warna coklat tadi cepat hilang namun dengan meletakkan kembali sediaan di atas cairan lugol maka warna coklat akan kembali lagi.Pada sediaan ini dapat pula ditemukan adanya spermatozoa. Perlu juga dilakukan pemeriksaan sekret uretra untuk menentukan adanya penyakit kelamin.

berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisan pada kaca objek tersebut. Sitoplasma sel epitel vagina

Gambar 1. Pemeriksaan laboratorium pria tersangka pelaku kejahatan seksual

  • b. Pemeriksaan pakaian

Pada pemeriksaan pakaian, catat adanya bercak semen, darah, dan sebagainya. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan. Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi. Di sini penentuan golongan darah penting untuk dilakukan. Trace evidence pada pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa. Bila fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensik di kepolisian atau bagian Ilmu Kedokteran Forensik, dibungkus, segel, serta dibuat berita acara pembungkusan dan penyegelan.

BAB III KESIMPULAN

Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh undang-undang , tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP, tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan, meliputi persetubuhan di dalam perkawinan (pasal 288 KUHP) maupun di luar perkawinan yang mencakup persetubuhan dengan persetujuan (pasal 284 dan 287 KUHP) serta persetubuhan

tanpa persetujuan (pasal 285 dan 286). Homoseksual juga termasuk bentuk kejahatan seksual bila dilakukan pada orang dengan jenis kelamin sama namun belum dewasa seperti yang tertera dalam pasal 292 KUHP.

Kejahatan seksual mempunyai kaitan yang erat dengan Ilmu Kedokteran Forensik; yaitu di dalam upaya pembuktian bahwasanya kejahatan tersebut memang telah terjadi. Adanya kaitan antara Ilmu Kedokteran dengan kejahatan seksual dapat dipandang sebagai konsekuensi dari pasal-pasal di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) serta Kitab Undang-Undang Acara Hukum Pidana (KUHAP), yang memuat ancaman hukuman serta tatacara pembuktian pada setiap kasus yang termasuk di dalam pengertian kasus kejahatan seksual.

Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana ini, hendaknya dilakukan dengan teliti. Dalam melaksanakan kewajiban tersebut, dokter hendaknya tidak meletakkan kepentingan korban di bawah kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban adalah anak-anak pemeriksaan sebaiknya tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah dideritanya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdussalam HR. 2006.Forensik Edisi 3.Jakarta: Restu Agung. p 139-149.

Budiyanto A, Widiatmaka W, et al. 1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian

Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Ernoehazy W., et al. 2012. Sexual assault. Medscape refference.

Finkelstein, M. 2009.Basic Concepts of Probability and Statistics in the Law. New

York: Springer.

Gaensslen RE., Lee HC. Sexual Assault Evidence: National Assessment and

Guidebook. US Department of Justice. Januari 2002

Gilmore T., et al.2011.Sexual assault: a protocol for adult forensic and medical

examination. Lowa department of public health.

Idries A. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Binarupa Aksara, Jakarta.

Jonakait, RN.1991.Forensic science: the need for regulation. p 109-191.

Lonsway

KA.2001.Successfully

investigating

acquaintace

sexual

assault:

A

National Training Manual for law enforcement. The national centre for

women and policing.

Lowa department of public health.2011. Medico-legal aspect of sexual offences

Chapter 11.

National

policing

improvement

agency.2010.Guidance

on

investigating

and

proscecuting rape. Abridged edition.

Prodjodikoro W. 2003.Tindak-tindak pidana tertentu di Indonesia Edisi 3. Refika

aditama.p 118-9

Wahid A., Muhammad I. Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual :

Advokasi Atas Hak Asasi Perempuan, Bandung, Refika Aditama, 2001, hal

82-83