Anda di halaman 1dari 20

PRESENTASI KASUS

Atresia Ani

Disusun oleh:
Ambartyas Niken NPM. 0706258630
Hasna Afifah NPM. 0906554081

Narasumber:
dr.Sastiono, Sp.B, Sp.BA (K)

MODUL PRAKTIK KLINIK BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS INDONESIA
JAKARTA
2013

1
BAB I
ILUSTRASI KASUS

A. Identitas Pasien
Nama : By. MP
Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 8 hari
Tempat, Tanggal Lahir : 20 Agustus 2013
Alamat : Bendungan hilir, tanah abang, Jakarta pusat
Agama : Islam
Tanggal Masuk RSCM : 28 Agustus 2013
Tanggal Pemeriksaan : 28 Agustus 2013

B. Anamnesis
Keluhan utama
Tidak bisa buang air besar sejak lahir (8 hari yang lalu)

Pediatric Assesment Triangle


A: Pasien tampak aktif bergerak dan menangis kuat, kontak mata ada, tangan dan kakinya
tidak tampak kaku
WOB: Tidak ada suara abormal pada jalan napas, Tidak adanya penggunaan otot bantu
pernapasan atau cuping hidung, tidak terlihat posisi abnormal
C: tidak tampak pucat atau pun sianosis

Primary Survey
A: Tidak ada gangguan jalan napas, lidah tidak menutupi jalan napas
B: Napas spontan
C: Tidak ada sianosis atau pucat, nadi teraba sama kuat kanan kiri ekstrimitas
D: sadar dan aktif
E: -

2
Secondary survey
Riwayat penyakit sekarang
Pasien tidak bisa buang air besar sejak lahir. 6 hari SMRS, pasien selalu memuntahkan ASI
yang baru 5 menit diminumnya. Ketika selesai meminum ASI, pasien muntah warna kuning,
2-3 kali sehari, setiap muntahnya sebanyak 100-200 cc. Sejak saat itu juga perut pasien mulai
membesar dan mengeras hingga pembuluh darah di perutnya terlihat jelas. 3 hari SMRS,
pasien mulai demam, awalnya tidak terlalu tinggi, kemudian makin lama makin panas. Pasien
jadi sangat rewel, air mata dikatakan masih keluar, aktif bergerak. BAK lancar keluar, ganti
pampers 2-3 kali per hari. BAK terakhir 2 jam SMRS. Selama ini BAK selalu berwarna
coklat seperti teh. Saat itu pasien tidak diberikan obat apa-apa. 1 hari SMRS, ketika nenek
pasien sedang memandikan, ditemukan bahwa pasien tidak memiliki lubang anus. Pasien
datang ke bidan dan kemudian dirujuk ke RSCM.

Riwayat Kelahiran
Pasien anak pertama, lahir di bidan, cukup bulan (37 minggu), spontan, langsung menangis,
kuning, BL 3300 g, dikatakan tidak ada masalah

Riwayat kehamilan
Tidak ada demam dan konsumsi obat-obat atau jamu selain vitamin
Riwayat imunisasi
Menerima imunisasi saat lahir

Riwayat makanan
Selama ini hanya diberi ASI saja

Riwayat penyakit dahulu


Alergi (-)

Riwayat penyakit keluarga


hipertensi, diabetes melitus, maupun asma disangkal.

C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : tampak sakit sedang, aktif menangis keras
Kesadaran : sadar dan aktif

3
Panjang : 41 cm
Berat : 2945 g
Suhu : 38,4 C
Nadi : 132 x/m, reguler, isi cukup
Pernapasan : 60 x/m, reguler, kedalaman cukup
Kepala : bulat, ubun-ubun cekung
Rambut : hitam merata
Mata : Sklera ikterik (-), konjungtiva anemik (-), mata cekung (-), ada air
mata saat menangis
Telinga : dalam batas normal
Hidung : dalam batas normal
Tenggorokan : dalam batas normal
Tonsil : dalam batas normal
Lidah : dalam batas normal
Leher : dalam batas normal
Turgor : elastis, cukup

Neurologi
Kesadaran : sadar dan aktif
Refleks : moro (+), pegang (+), hisap (+), babinski (+), rooting (+)

Kardiovaskular
Jantung : DJ 140 x/m, BJ I-II normal, murmur (-), gallop (-)
Sirkulasi : Sianosis (-), pucat (-), CRT < 2, akral hangat

Paru
Pergerakan : simetrik
Pernapasan : frekuensi 46 x/m, retraksi (-), dyspneu (-)
Auskultasi : ves +/ves +, rh -/-, wh -/-

Gastrointestinal
Mulut : mukosa mulut kering
Muntah : (+), 50 cc warna kekuningan
Ascites : tidak ada

4
Abdomen : distensi, amat cembung, bising usus (+) meningkat, tampak venektasi
Hati-Limpa : sulit dinilai
Umbilikus : menonjol
Lingkar perut : 39 cm

Genitalia
Laki-laki, dalam batas normal, testis +/+, fistel (-)

Eliminasi
Anus : tidak ada anus, anal dimple (+), fistel (-)
Defekasi : atresia ani, tidak ada feses yang keluar
Urin : spontan

Muskuloskeletal
Tonus : cukup
Kelainan tulang : tidak ada
Gerakan bayi : bebas
Lingkar kepala : 34 cm
Lingkar dada : 34 cm
Lingkar perut : 39 cm
Lingkar lengan : 9 cm
Panjang lengan : 20 cm
Panjang tungkai : 21 cm
Jarak kepala-simfisis : 34 cm
Gambaran klinis Abdomen

5
D. Pemeriksaan penunjang
Laboratorium (28-4-13)
Hematologi Hasil Satuan Nilai rujukan
Darah perifer lengkap
Hb 18,4 g/dl 13-22
Ht 55,8 % 42-70
Jumlah 384 103/L 150-500
trombosit
Jumlah leukosit 16,3 103/L 9-32
Analisis gas darah
pH 7,325 7,35-7,45
pCO2 27,2 mmHg 32-45
pO2 92,8 mmHg 72-104
TCO2 14,5 mEq/L 22-30
BE -9,3 mEq/L -2,5 2,5
Saturasi O2 95 % 94-100
Kimia darah
SGOT 50 U/L < 27
SGPT 28 U/L < 36
Albumin 4,75 g/dL 2,1-4,5
PT 12,2 detik 11,3
APTT 44,8 detik 37
GDS 36 mg/dl 54-117
Ureum 49,3 mg/dl <50
Kreatinin 0,3 mg/dl 0,3-0,8
Elektrolit
Na 153 Mmol/L 132-142
K 4,3 Mmol/L 3,2-5,7
Cl 114 Mmol/L 97-106

6
Foto thorax (28-8-13)

Tampak udara usus berada di bawah garis pubococcygeal


Kesan: Atresia ani letak rendah

E. Daftar Masalah
Ileus obstruktif ec atresia ani letak rendah dengan dehidrasi ringan-sedang
Suspek sepsis neonatus

F. Rencana tatalaksana
Pasang OGT dan kateter
Rehidrasi adekuat
Atasi demam, paracetamol 4 x 30 mg IV
Terapi antibiotik empiris pada suspek sepsis
Tanda vital per 4 jam
Observasi jika ada tanda-tanda komplikasi pada bowel (perforasi dan enterokolitis)
Pemantauan produksi urin per jam
Direncanakan dilakukan PSAP minimial tanpa kolostomi setelah dehidrasi teratasi dan
dipastikan tidak terjadi infeksi

7
G. PROGNOSIS
Ad Vitam : dubia ad bonam
Ad fungtionam : dubia ad bonam
Ad Sanactionam : bonam

Follow up Post Surgery (30 Agustus 2013)


S: pasien telah operasi PSA/anoplasty H+2 atas indikasi atresia ani letak rendah, tidak ada
keluhan, BAB (+) warna hijau kekuningan, ada ampas, BAK kuning jernih, dapat minum ASI
tanpa muntah
O: kompos mentis, sadar dan aktif
Nadi 130x per menit, Pernapasan 41 x per menit, Suhu 36,5 0 C
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Leher : tidak teraba pembesaran KGB, tidak terdapat deviasi trakea
Jantung : bunyi jantung 1-2 normal, tidak ada murmur, tidak ada gallop
Paru
Inspeksi : simetris
Auskultasi : vesikular +/+, ronki -/-, mengi -/-
Abdomen : datar, lemas, bising usus positif normal, hati dan limpa teraba
Ekstremitas : akral hangat, tidak terdapat deformitas, CRT < 2
A: Atresia ani letak rendah pada anoplasty H+2
P: Observasi tanda vital dan tanda infeksi post anoplasty

Keadaan klinis post-surgery

8
BAB II
KAJIAN TEORI

Atresia Ani
Atresia ani atau anus imperforata merupakan suatu kelainan kongenital dimana tidak
terdapatnya lubang anus ditempat seharusnya berada. Kelainan ini termasuk ke dalam
malformasi anorektal.
Di Amerika, kelainan ini terjadi pada 1:5000 kelahiran baru. Anorektal dan urogenital
malformasi jarang ada yang fatal, walaupun beberapa dari kejadian tersebut yang disertai
dengan kelainan lain seperti kelainan jantung dan ginjal dapat berakibat fatal atau
mengancam nyawa. Perforasi saluran cerna atau komplikasi berupa sepsis setelah
dilakukannya operasi pada bayi yang baru lahir dapat meningkatkan angka mortalitas serta
morbiditas yang berat.
Semua ras dan jenis kelamin memiliki peluang yang sama untuk terjadinya
malformasi anorektal. Sebagian besar anak dengan malformasi anorektal teridentifikasi
melalui pemeriksaan fisik rutin pada bayi yang baru lahir.

Embriologi
Penyebab dari malformasi ini masih tidak begitu jelas diketahui. Anus dan rectum
berkembang dari hindgut dorsal atau lubang kloakal ketika terjadi pertumbuhan ke dalam
lateral dari mesenkim membentuk septum urorektal di garis tengah. Septum ini memisahkan
rectum dan anal kanal secara dorsalis dari kandung kemih dan uretra. Duktus kloaka
merupakan suatu sarana komunikasi kecil diantara 2 bagian dari hindgut. Pertumbuhan dari
septum urorectal ini diyakini akan menutup duktus kloaka tersebut pada minggu ketujuh
masa gestasi. Pada waktu ini, bagian ventral dari urogenital membutuhkan pembukaan
eksternal; membran anal dorsal akan membuka setelahnya. Anus sendiri berkembang dari
fusi tuberkel anal dan invaginasi anal dorsal (proctodeum) yang memperdalam ke rektum
tetapi dipisahkan oleh membrane anal. Membran pemisah ini akan hancur pada minggu
kedelapan masa gestasi.
Hubungan yang terus berlanjut antara system urogenital dengan bagian rectal dari
lempeng kloaka dapat menyebabkan fistula rectouretral atau fistula rectovestibular. Sfingter
anal eksterna biasanya tetap ada tetapi bergantung kepada derajat formasi dan otot; mulai dari
otot yang kuat (perineum atau vestibular fistula) sampai dengan hampir tidak ada otot.

9
Malformasi anorektal terjadi karena gagalnya septum anorektal untuk turun pada
masa embrional dan gagalnya membran anal untuk hancur. Manifestasi klinis terjadi karena

10
adanya obstruksi dan fistula. Obstruksi sendiri menyebabkan distensi abdomen, sekuestrasi
cairan, dan muntah. Atresia anorektal terjadi karena ketidaksempurnaan dalam proses
pemisahan. Pada atresia letak tinggi atau supra levator, septum urorektal turun secara tidak
sempurna atau berhenti pada suatu tempat di jalan penurunannya.

Klasifikasi
Imperforata anus dapat dibagi menjadi menjadi letak tinggi, letak menengah, dan
letak rendah; letak rendah dimana rectum berada pada lokasi yang normal tapi terlalu sempit
sehingga feses bayi tidak dapat melaluinya, malformasi anorektal intermedia dimana ujung
dari rektum dekat ke uretra dan malformasi anorektal letak tinggi dimana anus sama sekali
tidak ada. Pada tahun 1984 wingspread membaginya berdasarkan penggolongan anatomis
untuk terapi dan prognosisnya:
Laki-laki
Golongan I Tindakan
1. Fistel urin
2. Atresia Rekti
3. Perineum datar
4. Tanpa fistel. Kolostomi neonatus operasi definitif usia
Udara > 1 cm dari kulit pada 4 6 bulan
invertogram (teknik pengambilan foto
untuk menilai jarak punting distal rectum
terhadap marka anus di kulit peritoneum)
Golongan II Tindakan
1. Fistel perineum
2. Membran anal meconeum tract
3. Stenosis ani Operasi definitif pada neonatus tanpa
4. Bucket handle kolostomi
5. Tanpa fistel. Udara < 1 cm dari kulit
pada invertogram

Wanita
Golongan I Tindakan
1. Kloaka Kolostomi neonatus operasi definitif usia

11
2. Fistel vagina 4 6 bulan
3. Fistel vestibulum ano atau rekto
vestibuler
4. Atresia rekti
5. Tanpa fistel. Udara > 1 cm dari kulit
pada invertogram
Golongan II Tindakan
1. Fistel perineum
2. Stenosis
Operasi definitif pada neonatus
3. Tanpa fistel. Udara > 1 cm dari kulit
pada invertogram

Pena mengklasifikasikannya berdasarkan letak fistula, derajat regresi kaudal, serta


prognosisnya sebagai berikut:

Diagnosis
Pemeriksaan USG pada saat prenatal biasanya menunjukkan tidak adanya kelainan.
Bayi yang baru lahir dengan anus imperforate biasanya teridentifikasi pada saat dilakukan
pemeriksaan fisik pertama kali. Apabila kelianan tersebut luput pada pemeriksaan pertama
kali maka biasanya kelainan tersebut akan diketahui dalam waktu 24 jam setelah bayi lahir
karena adanya distensi di daerah perut dan tidak keluarnya mekonium.
Terdapat berbagai macam kelainan yang dihubungkan dengan anorektal malformasi.
Kelainan yang paling sering terjadi adalah kelainan pada ginjal dan sistem saluran kemih
yang berhubungan dengan kelainan di sacrum. Laki-laki dengan fistula retrovesikal dan
pasien dengan kloaka persisten memiliki 90% kemungkinan terjadinya defek urologis.

12
Kelainan lainnya yang sering terjadi adalah kelainan pada jantung dan atresia esophagus
dengan atau tanpa fistula trakeoesofagus. Ketika kelainan tersebut disertai dengan aspek
radial dari ekstremitas atas maka dikatakan sebagai VATERR (vertebral, anal, tracheal,
esophageal, radial, renal) atau VACTERL (vertebral, anal, cardiac, tracheal, esophageal,
renal, limb).
Pasien yang tidak mempunyai sakrum biasanya memiliki permanen fekal dan
inkontinensia urin. Diagnosis kelainan yang terjadi pada tulang belakang dapat dilakukan
pada bulan pertama dan ketiga kehidupan dengan menggunakan spinal ultrasound, atau
menggunakan MRI pada pasien yang lebih tua.

Letak Rendah
Pemeriksaan pada bayi yang baru lahir meliputi inspeksi pada daerah perineum. Tidak
terdapatnya orificium anal pada posisi yang tepat mebutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Bentuk ringan (mild) dari anus imperforate sering disebut dengan stenosis anal atau anterior
ectopic anus, dimana terdapat kemungkinan terdapat fistula perianal. Posisi normal dari suatu
anus dengan perineum sekitar setengah (0.5 ratio) diantara coccyx dan skrotum atau introitus.
Gejala pertama yang umumnya timbul adalah konstipasi namun pada beberapa pasien tidak
menunjukkan adanya gejala sama sekali. Jika tidak terdapat anus atau fistula yang terlihat,
maka kemungkinan lesi yang terjadi adalah lesi letak bawah atau covered anus.

13
Letak Tinggi
Pada pasien laki-laki dengan anus imperforate letak
tinggi, tampilan perineum berbentuk datar. Kemungkinan
terdapat udara atau mekonium yang lewat melalui penis
(urethra). Pada fistula rectourethral (paling sering terjadi pada
laki-laki), mekanisme dari spingter sangat baik, sacrum
mungkin tidak berkembang dengan baik, dan letak anal dimple
dekat dengan skrotum. Pada fistula retrovesikular, mekanisme
spingter tidak berkembang dengan baik dan sacrum mengalami
hipoplastik atau bahkan tidak terbentuk.
Pada wanita dengan letak tinggi, kemungkinan bisa
terdapat fistula rectovaginal. Sebagian besar fistula ke
vestibulum luar dari orificium hymen. Kondisi seperti ini
mempunyai prognosis yang baik dengan sacrum yang
normal, anal dimple, rektum, uretra, dan fungsi spingter yang intak.

Tata Laksana
Tatalaksana untuk malformasi anorektal tergantung pada jenis klasifikasinya. Namun
hal penting yang pertama kali dapat dilakukan adalah pemberian cairan melalui intravena dan
tidak boleh diberikan makanan. Jika pasien di suspek dengan fistula urinary maka dapat
diberikan antibiotik spectrum luas.
Kolostomi banyak digunakan untuk menatalaksana imperforata anus. Terdapat dua
tempat yang dianjurkan untuk yang digunakan untuk bayi dan neonatus, yaitu
transversokolostomi (kolostomi di kolon transversum) dan sigmoidostomi (kolostomi di
daerah sigmoid).

Posterior Saggital Annirectoplasty (PSARP)


Metode ini diperkenalkan pertama kali oleh Pena dan de Vries pada tahun 1982.
Proses dimulai dengan dibukanya area antara mid sacrum dengan spingter eksternal melalui
garis tengah insisi sagital dengan pasien dalam posisi tengkurap (prone). PSARP dibagi
menjadi tiga yaitu minimal, limited, dan full PSARP. Penentuan tempat yang tepat untuk anus
ditentukan menggunakan elektro stimulator. Semua otot dipisahkan tepat di garis tengah.
Setelah itu bebaskan rektum dari dinding belakang dan jika terdapat fistel dapat dibebaskan
juga, kemudian rektum dipisahkan dengan vagina. Dengan jahitan, rectum ditarik melewati

14
otot levator, muscle complex, dan parasagital fibre kemudian dilakukan anoplasty dan dijaga
agar tidak tegang.
Minimal PSARP dilakukan pada fistell perianal, anal stenosis, anal membrane, bucket
handle, dan atresia ani tanpa fistel. Limited PSARP dilakukan pada atresia ani dengan fistel
rektovestibular. Full PSARP dilakukan pada atresia ani letak tinggi, dengan gambaran
invertogram akhir rectum lebih dari 1 cm dari kulit, pada fistel rektovaginalis, fistel rekto
uretralis, atresia rectum, dan stenosis rectum.

Prognosis
1. Dengan menggunakan klasifikasi wingspread maka dapat dilakukan evaluasi fungsi
klinis dari pasien:
a. kontrol feses dan kebiasaan buang air besar
b. sensasi rektal dan soiling
c. kontraksi otot yang baik pada colok dubur
2. Evaluasi Psikologis
Fungsi kontinensi juga bergantung pada kerja sama orang tua dengan keadaan mental si
penderita

15
BAB IV
PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan utama tidak dapat BAB sejak lahir. Sebelum menggali lebih
jauh, dilakukan assesment awal untuk melihat apakah ada tanda-tanda kegawatdaruratan pada
pasien. Pada awal penilaian awal, pasien datang tidak menampakkan tanda-tanda
kegawatdaruratan seperti syok.

Akan tetapi pada secondary survey yang telah dijabarkan pada kasus, didapatkan bahwa
pasien dapat mengalami progresi menjadi syok jika tidak segera ditatalaksana. Pada
secondary survey didapatkan bahwa pasien mengalami dehidrasi ringan-sedang karena hal
berikut:

Tabel 1. Klasifikasi derajat dehidrasi pada bayi dan anak

- Penurunan berat badan pre-illness 3300 g hingga illness menjadi 2975 g dalam waktu
8 hari tergolong telah mengalami kehilangan BB 10% , meskipun sebenarnya pada
neonatus, pada minggu awal biasanya memang terjadi penurunan BB fisiologis sekitar
1-2% BB per hari dalam 5 hari pertama.
- Akan tetapi, pada kasus ini juga ditemukan perilaku iritabel, bayi dikatakan sering
terlihat kehausan, membran mukus mulut kering, urine output menurun, dan fontanel
anterior melengkung.
- Air mata masih keluar ketika menangis, mata tidak cekung, turgor cukup, warna kulit
normal, nadi normal, CRT < 2

Tipe dehidrasi pada bayi ini adalah dehidrasi derajat ringan-sedang hipertonik, karena Na 153
mEq/L. sehingga untuk fase I resusitasi cepat yang bertujuan untuk mencegah perburukan

16
sirkulasi, reperfusi otak dan ginjal adalah memasukkan cairan bolus 10-20 ml/kg selama 30-
60 menit dengan cairan isotonik seperti NS atau RL. Kemudian dilanjutkan dengan fase 2,
fase subtitusi yang bertujuan untuk menggantikan defisit cairan dan elektrolit dan
maintenance harian D5 NS + 20-30 mEq/L KCl diberikan selama 1-2 hari dan diperhatikan
bahwa Na serum tidak rendah dari 10-12 mEq/L/hari.

Pasien saat itu mengalami demam, sehingga diberikan parasetamol untuk menurunkan
demam dan menggilangkan nyeri. Pengambilan darah dilakukan untuk melihat apakah
terdapat tanda-tanda sepsis pada bayi. Pada follow up selanjutnya pada pasien ini urine output
terlihat membaik rata-rata 1,4 ml/kgBB/jam dan terbukti tidak terjadi infeksi. Demam yang
terjadi pada pasien dimungkinkan akibat dehidrasinya karena setelah diberikan rehidrasi
adekuat pasien tidak demam lagi.

Pada bayi ini keluhan utamanya tidak dapat BAB > 48 jam setelah kelahiran, gejala muntah
kuning (yang mengartikan terdapat obstruksi distal dari bagian kedua duodenum, dibawah
ampula vater), distensi abdominal gradual (belum didapatkan tanda tanda aspirasi). Tanda-
tanda tersebut mengarahkan pada adanya obstruksi intestinal yang dapat disebabkan oleh
penyebab berikut:

Intestinal obstruction with bilious vomiting


malrotation and volvulus
duodenal atresia (if obstruction distal to Ampulla of Vater 80% of cases)
jejunoileal atresia
meconium ileus
necrotising enterocolitis

Intestinal obstruction with marked abdominal distension


ileal atresia
Hirschsprung disease
meconium ileus
meconium plug
imperforate anus

17
Dari diagnosis yang mungkin pada kasus obstruksi intestinal, pada pasien ini paling
memungkinkan adalah atresia anus atau anus imperforata karena sesuai anamnesis dan
pemeriksaan fisik pasien ini tidak memiliki lubang anus. Selanjutnya penilaian terhadap tipe
malformasi anorektal secara klinis suspek defek rendah karena tidak adanya fistula dan pada
perineum tampak hanya ada anal dimple, tidak ada mekonium yang melalui traktus urinarius,
biasanya didapatkan reaksi muskular yang kuat saat dilakukan pemeriksaan anal refleks di
daerah perineum, yang mengartikan terdapat inervasi ke area tersebut. Prognosis lebih buruk
ketika tidak ada dimple dan respon muscular yang buruk, karena mengartikan inervasi dan
formasi muskulatur perineal defektif. Kemudian dikonfirmasi dengan radiografi knee chest
position yang menampakkan gambaran udara pada rektum yang telah melewati garis
pubococcygeal (lesi rendah). Dehidrasi yang dialami pasien dapat berasal dari cairan yang
terus dikeluarkan dari muntahnya, demam, dan juga distensi abdomen.

Gambar 1. Lesi rendah pada laki-laki dan defek yang biasanya menyertai atresia ani.

Pada bayi ini tidak ditemukan gejala-gejala kelainan yang menyertai selain atresia ani seperti
dijelaskan pada tabel diatas. Sehingga pada pasien ini memiliki prognosis yang baik untuk
ditatalaksana lebih lanjut. Tatalaksana dari atresia ani bergantung pada level ketinggian
rektum (rendah = infralevator, tinggi = supralevator), keberadaan fistula ke traktus urinarius,
vagina, atau perineum. Koreksi atresia ani supralevator biasanya membutuhkan dua fase
operasi. Awalnya biasnaya dilakukan kolostomi lalu pembedahan korektif anoplasti perineal
(abdominal-perineal pull through procedure) dilakukan setelah usia 3-12 bulan. Penundaan
ini ditujukan agar pelvis membesar dan muskulatur lebih berkembang dahulu dengan lebih
baik. Selain itu juga penundaan ini membuat bayi dapat menaikkan berat badannya dan

18
memperbaiki status nutrisionalnya. Defek rendah dikoreksi dengan menarik rectal pouch
melalui sfingter ke bagian pembukaan kulit anal. Defek pada kelainan ini dapat diperbaiki
dan dapat mencapai peristaltis yang normal dan kontinensia.

Pada malformasi rendah pada anak laki-laki seperti pada kasus ini, pada pemeriksaan
didapatkan perineum tanpa orifisium. Lekuk anal/anal dimple dapat terlihat. Pada defek
rendah ini biasanya tidak ada hubungan antara rektum dengan sistem urinarius, sehingga pada
pemeriksaan urin, urin normal, tidak ada tanda-tanda mekonium/feses. Jadi, jika tidak
terdapat mekonium pada urin, yang pertama kali harus dibedakan adalah lesinya apakah
defek rendah atau tinggi. Metode yang digunakan adalah teknik radiografik rice-
wangensteen. Pemeriksaan ini dilakukan minimal bayi telah berusia 6 jam dan udara yang
ditelan dapat mencapai rektum. Marker radiopak diletakkan di perineum dimana anus
seharusnya berada, dan bayi berada pada posisi knee chest position. Posisi ini dapat membuat
udara dalam rektum untuk naik setinggi mungkin. Garis yang ditarik antara bagian posterior
pubis dan bagian terendah sakrum, yaitu garis pubococcygeal. Jika udara terlihat melewati
garis ini pada radiograf, maka bayi tersebut memiliki lesi infralevator yang dapat
ditatalaksana dengan anoplasti tanpa kolostomi. Prognosis pada pasien kasus ini baik dimana
tergolong pada malformasi rendah memiliki fungsi rektal yang normal.

19
DAFTAR PUSTAKA
1. Nelson G Rosen. Pediatric Imperforate Anus. Diunduh dari
http://emedicine.medscape.com/article/929904-overview#a0199
2. Sjamsuhidajat R, de Jong W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah: edisi 2. Jakarta: EGC
penerbit buku kedokteran
3. Thayeb. A. Malformasi Anorektal. Pada: Reksoprodjo, S editor. Kumpulan Kuliah Ilmu
Bedah. Jakarta: Binarupa Aksara
4. Kliegmen et al. Nelson Textbook of Pediatric 18th edition. E-book
5. Anonymous. Anorectal Malformation. Diunduh dari http://pedsurg.ucsf.edu/conditions--
procedures/imperforate-anus.aspx#

20