Anda di halaman 1dari 25

MANAGEMEN DENTAL PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS:

ULASAN LITERATUR

Virgin ia Annett Polli, Mariane Beatriz Sordi, Mariah Luz Lisboa, Etiene de
Andrade Munhoz* and Alessandra Rodrigues de Camargo

ABSTRAK

Abstrak: Managemen dental untuk pasien berkebutuhan khusus menimbulkan


keraguan dan kecemasan pada dokter gigi. Tema ini tidak dipelajari lebih dalam
pada saat sekolah dokter gigi dan dokter gigi tidak memiliki dasar teori yang cukup
untuk bekerja dalam bidang ini. Pasien berkebutuhan khusus merupakan individu
yang memiliki gangguan fisik, mental, sosial organik, dan/atau perilaku baik secara
permanen maupun sementara. Oleh karena itu, tujuan studi ini adalah untuk
membantu dokter gigi dalam memberikan pilihan managemen dental terbaik untuk
pasien berkebutuhan khusus. Studi ini telah lebih di revisi dan lebih terperinci
mengenai managemen pada praktik dokter gigi, managemen dengan sedasi dan
dengan anestesi umum serta perawatan home care untuk pasien berkebutuhan
khusus dengan bertujuan untuk membentuk suatu pedoman managemen dental
pada pasien dengan berkebutuhan khusus untuk memfasilitasi eksekusi perawatan
gigi pada pasien ini. Dari ulasan literatur ini, kami mengajukan suatu pedoman
untuk membantu dokter gigi memilih pendekatan terapetik terbaik untuk perawatan
dental pada pasien berkebutuhan khusus.

Kata Kunci: Pendekatan terapeti, Sedasi, Anestesi Umum, Home care

PENDAHULUAN

Ketika ekspektasi populasi kehidupan telah meningkat, permintaan untuk


perawatan gigi untuk pasien dengan disabilitas intelektual, keterbatasan fisik,
defisit sosial dan/atau emosional juga ikut meningkat. Dalam kedokteran gigi,
rencana perawatan untuk pasien berkebutuhan khusus membutuhkan pandangan
luas dari dokter gigi terkadang membutuhkan pendekatan multidisiplin. [1]

Akan tetapi, beberapa dokter gigi masih merasa sulit dalam memberikan perawatan
tersebut. Kesulitan ini dapat disebabkan oleh kurangnya pelatihan secara
profesional, ketidakpercayaandiri, keterbatasan ergonomis, perubahan rutinitas
dalam ruang konsultasi yang membutuhkan adaptasi fisik dan peralatan khusus,
hingga kurangnya pengetahuan. [2,3]
Terlebih lagi, pada pasien dengan level
kooperativitas yang berbeda, terdapat kesulitan dan hambatan dalam melakukan
perawatan. Pegawai kesehatan dapat mengurangi hambatan tersebut dengan
berbagai teknik yang berbeda. [1]

Perawatan klinis untuk pasien berkebutuhan khusus sebaiknya berdasarkan


pemeriksaan resiko dimana status kesehatan umum berhubungan dengan tingkat
kolaborasi dengan perawatan gigi melawan kebutuhan perawatan gigi. Teknik
managemen perilaku dapat digunakan sebagai tahap pertama, tetapi apabila terjadi
kegagalan, sedasi merupakan alternatif untuk pasien yang tidak membutuhkan
anestesi umum. [1]

Ketika kondisi klinis pasien tidak memungkinkan tindakan sedasi, perawatan dental
sebaiknya dilakukan dengan teknis anestesi umum di rumah sakit. Pendekatan ini
memberikan kemungkinan untuk melakukan penyesuaian rongga mulut secara
menyeruluh hanya dalam satu sesi meliputi profilaksis pada seluruh rongga mulut,
restorasi gigi, terapi pulpa, ekstraksi, rekonstruksi koronal dan prosedur preventif. [4]

Dalam konteks mendukung pasine berkebutuhan khusus dalam bidang kedokteran


gigi, modalitas home care ditujuan untuk merawat pasien yang berbaring di tempat
tidur atau pasien yang memiliki keterbatasan mobilitas dan disabilitas
perkembangam. Dalam modalitas ini, kami dapat mempertimbangkan pasien dalam
perawatan paliatif, pasien dengan demensia, atau bahkan pasien yang telah
melakukan beberapa kali operasi yang membutuhkan perawatan dental secara
darurat, sebagai contoh. [5]

Literatur sains tidak secara ringkas memberikan seluruh terapi ini serta
mengaturnya dalam skala yang meningkat untuk memberikan pilihan perawatan
yang terbaik untuk dokter gigi. Studi ini bertujuan untuk melakukan ulasan literatur
untuk dokter gigi yang tidak familiar dengan daerah ini dan bertujuan untuk
mempelajari teknik managemen yang berbeda untuk merawat pasien berkebutuhan
khusus.

BAHAN DAN METODA

Untuk melaksanakan ulasan literatur, pencarian bibliografi dilakukan dalam


dabatase PubMed/Medline dengan deskriptor sebagai berikut: Dentistry/Special
needs/Sedation; Dentistry/Special needs/ General anesthesia;
Dentistry/Special needs/Home care; Special patients/Dental treatment;
Risks/Sedation/Dentistry; Domiciliary care/Dentistry; dan Risks/General
anesthesia/Dentistry. Pencarian artikel terbatas pada tahun 1999-2015. Ulasan
sistematis dan non sistematik, studi pada seri kasus dan artikel pencarian
dipertimbangkan sebagai struktur dalam studi ini.

ULASAN LITERATUR

Commission on Dental Accreditation (CODA) mendefinisikan individu


berkebutuhan khusus sebagai setipa individu dengan kondusu medis, fisik,
fisiologis, dan/atau kondisi sosial yang membutuhkan perawatan secara khusus. [6]

Tema pasien khusus terdiri dari kelompok heterogen dari penyakit genetik
dan/atau penyakit yang diperoleh dimana praktik dapat dibagi menjadi: penyakit
neurologis motorik (Down Syndrome, cerebral palsy, dan sebagainya), penyakit
sistemik kronis (diabetes, penyakit hati, hipertensi), malignasi onko-hematologis
(leukemia, limfoma), penyakit infeksius (HIV, hepatitis B atau C), disabilitas fisik
(paraplegia, hemiplegia), gangguan sensoris (gangguan pendengaran, disabilitas
visual), penyakit yang diperoleh (rubella, tuberkulosis). Klasifikasi ini membantu
[7]

dokter gigi untuk memilih pendekatan terapeutik terbaik dengan menganalisa


penyakit yang menyertai dari pasien dan gangguan fiisk dan/atau gangguan mental
yang dialami.

Dokter gigi harus beradaptasi terhadap pendekatan psikologis, teknik pembedahan,


dan memilih bahan kedokteran gigi untuk setiap tipe individu dan setiap kebutuhan
individu. Dalam konteks ini, identifikasi masalah dental dan implementasi rencana
[8]

perawatan dapat berubah secara drastis dari satu kasus ke kasus lainnya karena
status kesehatan umum dapat memengaruhi perilaku ini.

Managemen Pasien Berkebutuhan Khusus

Untuk pasien dengan gangguan neurologis motorik, pemeriksaan klinis awal


membutuhkan beberapa tahap:
A. Evaluasi Kesehatan Umum: Tahap pertama dimulai dengan
kuisioner kesehatan yang lengkap dan diisi oleh orang tua dari anak
dengan berkebutuhan khusus. Riwayat medis harus dipahami secara
terperinci mengenai laporan dokter meliputi perawatan rumah sakit,
medikasi yang digunakan, masalah kesehatan, situasi yang
membahayakan, pola makan, dan informasi medis penting lainnya.
B. Evaluasi Kesehatan Rongga Mulut: Evaluasi status kesehatan
rongga mulut dimuklai dengan mempertimbangkan perawatan
sebelumnya serta alasan konsultasi, sebelum melakukan pemeriksaan
klinis. Apabila memungkinkan, patologi pada gigi, gingiva-jaringan
periodontal dan jaringan lunak harus dicatat. Foto radiografi panoramik
X-ray minimal dilakukan sebagai pemeriksaan pelengkap. Apabila
dibutuhkan unutk penegakkan diagnosa, penambahan foto periapikal atau
oklusal perlu dilakukan.
C. Evaluasi Perilaku: Untuk perawatan gigi, kami mempertimbangkan
evaluasi perilaku meripalan aspek yabg paling relevan dalam protokol ini.
Dalam hal ini, kami menyarankan analisis perilaku sebaikna berdasarkan
skala Frankl (Tavel 1), yang mempertimbangkat tingkat kooperativitas;
dan skala yang dibentuk oleh Houpt dkk (Tabel 2), berdasarkan
pergerakan selama pemeriksaan (baik berhubungan dengan berteriak,
menangis, dan manufestasi perilaku tidak koperatif lainnya). Kami
percaya bahwa aplikasi skala dapat menjafdi indikator yang baik apakah
pasien dapat dirawat jalan atau tidak.

Kategori Sangat Negatif


1 Tidak ada tanda kooperativitas

Kategori Negatif
2 Adanya tanda kurangnya kooperativitas

Kategori Positif
3 Menerima perawatan dengan berhati-hati. Membutuhkan pengingat
(membuka mulut, menurunkan tangan, dsb)

Kategori Sangat Kooperatif


4 Tidak ada tanda resistensi. Sangat Kooperatif

Tabel 1: Skala Frankl untuk Evaluasi Perilaku Modifikasi oleh De Noca


[9[

Garcia, 2007 [11]

1. Gerakan kekerasan secara konstan menggangu pemeriksaan

2. Pergerakan konstan sehingga menghalangi pemeriksaan

3. Pergerakan yang dapat dikontrol yang tidak mengganggu prosedur


4. Tidak ada pergerakan

Tabel 2: Skala untuk Evaluasi Pergerakan (Houpt dan Pekerja 1985) , di [10]

modifikasi oleh De Nova Gracia, 2007 [11]

Setelah menyelesaikan tiga tahap pemeriksaan klinis, rencana perawatan yang


paling sesuai untuk setiap pasien harus diputuskan dan di klasifisikan berdasarkan
kuandran/sextan. Prioritas kebutuhan terapetik (preventif, konservatif,
pembedahan) harus dilakukan sebagai berikut:

Perawatan preventif meliputi skeling dan aplikasi flour dan penempatan


sealants
Perawatan restoratif meliputi perawatan endodontik dan restoratif pada gigi
sulung dan gigi permanen
Perawatan pembedahan meliputi ekstrasi gigi, gingivektomi, biopsi,
pembedahan minor rongga mulut

Beberapa teknik mengkondisikan atau bahkan dukungan fisik dapat disarankan dan
dibutuhkan sehingga perawatan dental dapat berjalan dengan lancar. Beberapa
[8]

teknik yang direkomendasikan sebaiknya dapat membatasi pergerakan dan


digunakan untuk mencegah pergerakan pasien yang menyulitkan perawatan.
Teknik ini juga menghindari keinginan untuk melarikan diri pada pasien serta
melindungi tim pekerja dari trauma dan kecelakaan yang dapat terjadi seperti
gigitan. Berdasarkan beberapa pengalaman klinis penulis, berikut beberapa yang
disarakan:
Terapi Pemegangan merupakan teknik dukungan fisik yang cocok untuk
anak-anak dimana anak berada di pangkuan serta menstabilkan lengan anak
dengan merangkul anak tersebut (Gambar 1)
Posisi Lutut ke lutut sesuai untuk anak usia 1-3 tahun. Teknik ini
dilakukan dengan membaringkan anak pada paha dokter gigi dan satu orang
lainnya dimana keduanya saling menyetuh lutut dan membentuk
menyerupai tempat tidur (Gambar 2)
Teknik dimana assiten menahan kepala pasien dimana teknik ini
dapat :diaplikasikan pada seluruh usia. Teknik ini bertujuan menstabilkan
kepala pasien (Gambar 3).

Gambar 1: Terapi pemegangan


Gambar 2: Posisi lulut ke lutut

Gambar 3: Asisten membantu menstabilisasi kepala pasien

Teknik ini dapat digunakan untuk kunjungan dengan jangka waktu yang pendek
dimana perawatan preventif, restoratif, dan/atau pembedahan -seperti yang telah di
deskripsikan di atas - dapat dilakuakn sebelum pengendalian secara farmakologis.

Sedasi yang di dapatkan melalui medikasi oral -ringan atau sedang - dapat menjad
opsi yang penting dan sangat berguna dalam memberikan perawatan gigi pada
pasien berkebutuhan khusus, karena sedatif merupakan cara yang aman dan efektif
untuk membatasi pasien dengan keuntungan dapat di resepkan oleh dokter gigi
untuk penggunaan perawatan rawat jalan. [12]
Berdasarkan American Dental
Association , sedasi memberikan depresi tingkat kesadaran yang menjaga
[13]

kemampuan pasien untuk menjaga napas secara independen dan terus menerus,
memberikan respon yang sesuai dengan sitmulasi fisik atau komunikasi verbal.
Hilangnya tingkat kesadarkan dihasilkan oleh metode farmakologis dan non
farmakologis atau kombinasi keduanya. [8,13]

Prosedur sedasi dapat dilakukan dengan menggunakan skala untuk memilih obat,
bernama: benzodiazepines, nitrous oxide, antihistamines dan hypnotics (barbiturics
dan non-barbiturics). Hal ini memungkinkan untuk meresepkan opioid untuk
penggunaan ambulatori walaupun dengan sangat berhati-hati. Untuk sedasi dalam,
obat yang digunakan adalah propofol dan neuroleptics, tetapi medikasi ini harus
digunakan di dalam rumah sakit. [14]
Tabel 3 menunjukkan tipe medikasi yang
berbeda yang dapat digunakan selama rawat jalan oleh dokter gigi untuk melakukan
sedasi ringan atau sedang dalam menjalankan perawatan gigi. Tabel ini juga
menunjukkan efek samping dari setiap obat sedatif. [12,14]
Tabel 3. Medikasi, Indikasi, Kontraindikasi, dan Efeksamping dari obat yang
digunakan untuk sedasi ringan, sedang dan dalam pada perawatan gigi.

Pedoman yang dibentuk oleh Australian and New Zealand College of


Anesthesiologists [15]
mengindikasikan resiko yang terlibat dalam teknik ini seperti
depresi refleks prtektid jalan napas dan hilangnya permeabilitas jalan napas, depresi
pernapasan, depresi sistem kardiovaskular, interaksi obat atau efek samping
meliputi anafilaksis, sensitivitas terhadap obat sedasi/prosedur analgesik yang
tinggi yang dapat menyebabkan kehilangan kesadaran, depresi sistem respirasi
dan/atau depresi kardiovaskular; variasi individual dalam memberikan respon
terhadap medikasi yang digunakan terutama pada anak-anak, orang tua, dan
individu yang memiliki riwayat penyakit tertentu. [15]

Untuk meminimalisasi atau menghindari resiko ini, dokter gigi harus memiliki alat
emergensi dasar, terdiri dari Ambu (ventilator manual), stetoskop dan
sphygmomanometer, oxygen cylinder, Guedel cannula, insulin syringe, scalpel,
oximetry, epinephrine, antihistamines, Captopril 12.5 mg, Hydrochlorithiazide 25
mg, Dimenhydrinate 50 mg dan Pyridoxine Hydro- chloride 10 mg, physiological
saline, children's aspirin, Isosorbide Dinitrate 5mg dan sachet of carbohydrate or
glucose 50%. Dokter gigi juga harus telah mengikuti pelatihan Basic Life Support
(BLS) sehingga dalam situasi apapun, dokter gigi mengetahui bagaimana mengatasi
situasi darurat yang dapat membahayakan hidup dan integritas fisik dan/atau mental
pasien.[16]

Karena gangguan kesehatan yang sangat parah serta kurangnya tingkat


kooperativitas beberapa pasien dengan perawatan gigi, prosedur dengan anestesi
umum sangat berguna dalam beberapa situasi klinis . ADA (2009)
[17]

mempertimbangkan anestesi mumumsebagai prosedur yang menyebabkan


hilangnya kesadaran dimana individu tidak memberikan respon terhadap stimuli
nyeri dan kehilangan kemampuan untuk menjaga fungsi pernapasan dan
neuromuscular secara independen. Pendekatan pada pasien ini harus dilakukan di
rumah sakit, dengan bantuan dokter spesiali anestesi. [13]

Dalam kedokteran gigi, tidak ada klasifikasi penentu yang dapat membantu dokter
gigi dalam memilih anestesi. Analisis resiko pasien berkebutuhkan khusus yang
diindikasikan untuk perawatan dengan anestesi umum harus diarahkan kepada
American Society of Anesthesiologists (ASA), berdasarkan kondisi fisik dari setiap
pasien : ASA I - Pasien tanpa gangguan organik, fisiologis, biokimia dan/atau
[18]

psikologis. Tidak terdapat perubahan sistemik; ASA II - Pasien dengan penyakit


sistemik ringan atau sedang yang disebabkan oleh fenomena patofisiologis atau
oleh kondisi yang dirawat secara pembedahan; ASA III - pasien dengan perubahan
organik yang sangat intens, atau penyakit patologis dengan penyebab apapun,
bahkan jika tidak mungkin untuk mendefinisikan tingkat inkapasitas organik; ASA
IV - Pasien dengan penyakit umum parah, membahayakan hidupnya, tidak dapat
dikoreksi dengan pembedahan; ASA V- pasien yang sekarat, dengan kemungkinan
kecil untuk selamat, merka melakukan pembedahan sebagai upaya terakhir; dan
ASA VI - pasien yang telah dideklarasikan mengalami kematian otak. [18]]

Berdasarkan World Health Organization (WHO), hampir 8% individu dengan


disabilitas memiliki indikasi perawatan gigi dengan anestesi umum. Dalam konteks
kedokteran gigi, kondisi sistemik kesehatan harus di evaluasi bersama dengan tim
anestesiologi serta harga dan keuntungan dari pendekatan terapetik didiskusi pada
tim dan keluarga pasien. [19]

Kontra indikasi dari teknik ini adalah usia yang tua, penyakit sistemik dekompesasi,
disabilitas fisik yang dapat mengganggu fungsi fisiologis, sindrom khusus dengan
abnormalitas anatomi, pasien anak dengan penyakit jantung kongenital dan/atau
disabilitas fisik, penyakit mental atau penyakit kognitif, dan kondisi medis
kompleks lainnya. Kontraidikasi absolut juga telah di sebukan sehingga dokter
[20]

gigi harus menyadari kondisi demam, flu, infeksi sistem respirasi atau gagal jantung
dekompesasi yang dapat menganggu pelaksanaan anestesi umum. [21]
Tabel 4
menunjukkan keuntungan dan kekurangan dari modalitas anestesi ini di bidang
kedokteran gigi. [22]

Keuntungan Kekurangan

Kooperativitas pasien tidak Ketidaksadaran individu selama prosedur (hal ini


begitu penting dipertimbangkan sebagai keuntungan dan kekurangan)

Pasien tidak sadar selama Refleks protektif pasien terdepresi


perawatan

Terapi tidak menyebabkan Tanda vital terdepresi


nyeri

Obat yang digunakan Membutuhkan pelatihan khusus untuk memberikan


menyebabkan anterograde anestesi umum (tim medis)
amnesia

--- Membutuhkan tim profesional (tidak hanya dokter gigi)


untuk melakukan perawatan yang diinginkan.

--- Harus dilakukan di rumah sakit, meliputi peninjauan


paska operatif

--- Komplikasi trans-bedah dan paska operatif lebih sering


terjadi pada prosedur dengan menggunakan induksi
anestesi umum.

Tabel 4. Keuntungan dan kekurangan anestesi umum

Berbeda dengan terapi lainnya, home care bertujuan untuk memberikan perawatan
dental pada individu yang tidak dapat bangun dari tempat tidur atau tidak dapat
keluar rumah. Tujuan home care adalah untuk menyediakan jasa perawatan gigi
[23]
yang berbeda, memberikan perawatan khusus oleh dokter gigi yang berkualifikasi
yang melibatkan partisipasi keluarga atau pengasuh. Prosedur ini dilakukan di
dalam rumah untuk mencegah infeksi odontogenik, selain melakukan prosedur
pencegahan seperti instruksi membersihkan mulut pada pasien, perawat, dan
pengasuh. [24]

Walaupun home dental care dapat menjadi tantangan untuk dokter gigi - karena
keterbatasan ruang, postur yang tidak adekuat, pencahayaan yang tidak cukup,
kurangnya akses pemeriksaan radiografi, kurangnya kontrol atas kejadian yang
tidak terduga, kegawatdaruratan dan kurangnya bosekuritas - hal tersebut
merupakan aktivitas yang sangat penting dalam merawat pasien berkebutuhan
khusus. [5]

Terdapat empat tipe utama home care, berdasarkan status fisik dan kognitif dari
pasien: 1) Membutuhkan perawatan gawat darurat: bertujuan untuk mengatasi nyeri
atau penyakit yang sangat berpengaruh terhadap status kesehatan umum pasien.
Pada kasus ini, perawatan dilakakan secara independen dari kolaborasi pasien; 2)
Perawatan yang dibutuhkan - Berat: tujuan untuk mendapatkan kesehatan mulut
dan umum pasien, kesehatan umum dapat dan/sadar untuk menerima perawatan; 3)
Perawatan yang dibutuhkan - Sedang: pasien dapat memiliki keterbatasan untuk
berkooperatif dan dapat membutuhkan pengobatan sebelum perawatan gigi
(sedatif), dalam hal ini dilakukan evaluasi keuntungan perawatan sehubungan
dengan stress yang dimiliki pasien; dan 4) Tidak membutuhkan perawatan: dalam
kasus ini, pasien dapat sedang mengalami kondisi vegetatif, atau memiliki fungsi
rongga mulut yang baik sehingga menunjukkan adanya penyakit di rongga mulut. [25]

Pembuatan Keputusan Mengenai Modalitas Perawatan - Skala Perilaku

Indikasi yang diuraikan dibawah didasarkan pada pengalaman klinis kami, skala
Frankl (Tabel 1) dan skala yang dibentuk oleh Houpt dkk (Tabel 2) . Hal ini
[9] [10]

sebaiknya tidak digunakan secara sistematis untuk kenyamanan tim dokter gigi,
tetapi sebaiknya dilihat sebagai sumber terakhir untuk protokol perawata. Tujuan
protokol di klasifikasikan dalam tiga kelompok utama:
Kondisi Teknik dan/atau dukungan fisik: Pasien dalam kategori 3 dan 4
(Tabel 1 dan 2) [9,10]
yang bersifat kooperatif dengan perawatan dental tetapi
tidak menujukkan tanda yang jelas dalam berinteraksi verbal dengan dokter
gigi. Banyak pasien yang berkolaborasi walaupun mereka tidak dapat
melakukan komunikasi interaktif dengan dokter gigi karena kondisi khusus;
Teknik Sedasi: Untuk pasien pada kategori 2 (Tabel 1 dan 2) , dan dalam[9,10]

aksus kegagalan dalam menggunakan teknik dukungan fisik, dokter gigi


dapat melakukan rawat jalan dengan sedasi. [26]
Memilih obat yang paling
sesuai untuk sedasi harus dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan
perawatan gigi, penyakit yang menyertai pasien, serta kelebihan dan
kekurangan dalam menggunakan setiap obat tersebut (Tabel 3) . Teknik
[12,14]

sedasi rawat jalan hanya oleh dilakukan oleh profesional yang


berkualifikasi. Semua dukungan untuk setiap komplikasi harus tersedia dan
dapat digunakan pada saat kunjungan dokter gigi. Mengenai penilaian
penyakit yang menyertai pasien, teknik ini disarankan untuk pasien ASA I
dan ASA II.
Anestesia umum: Kami menyatakan bahwa anestesi umum harus
dipertimbangkan untuk pasien yang termasuk dalam kategori 1 dan 2 (Tabel
1 dan 2) . Penggunaan teknik membutuhkan partisipasi tim multidisiplin
[9,10]

di rumah sakit. Rutinitas di rumah sakit harus diikuti. Kooperativitas pasien


tidak dibutuhkan dalam modalitas ini. Mengenai penilaian penyakit yang
menyertai pasien, teknik ini disarankan untuk pasien ASA I sampai ASA
IV.

Pedoman pelayanan

Sedasi ringan/ sedang


Rangkaian pelayanan yang diajukan dalam karya ilimiah ini dibentuk berdasarkan
pedoman American Dental Asso- ciation , the Australian dan New Zealand
[13]

College of Anesthetists . Gambar 4 menunjukkan rangkaian penggunaan sedasi


[15]

dengan rute oral pada pasien berkebutuhan khusus.

Gambar 4. Rangkaian sedasi. Bahan yang digunakanL Midazolam, air distilasi,


disposable syringe, 2ml gooseberry juice. Campur sedatif dengan air distilasi,
ditambahakan dengan 2ml gooseberry juice. Sedatif diberikan.

Tahap 1 - Pemeriksaan awal pasien : Menyelesaikan kuisioner kesehatan meliputi


riwayat medis, laporan dokter, perawatan di rumah sakit, medikasi yang digunakan,
penyakit kesehatan, pola makan dan tingkat kooperativitas. Pasien yang termasuk
dalam kategori 2 (Tabel 1 dan 2) berpotensi untuk dilakukan intervensi.

Tahap 2 - Evaluasi pra operatif: pemeriksaan medis oleh tim yang akan merawat
pasien; permintaan uji laboratorium terkait dengan kondisi klinis; instruksi verbal
dan tertulis unutk pasien dan/atau pengasuh mengenai prosedur pra, intra dan pra
operatif; formulir informed consent pasien dan/atau pengasuh; restriksi diet selama
4 jam tanpa menelan makanan cair maupun padat; evaluasi tanda vital pasien
(tekanan darah dan tingkat respirasi).

Tahap 3 - Profesional dan Peralatan: Paling sedikit satu orang, disamping dokter
gigi yang telah melakukan pelatihan BLS, serta memantau alat untuk tanda vital
dan peralatan resusitasi harus mudah di akses. Profesional ini akan bertanggung
jawab untuk memantau tanda vital pasien. Untuk menyelesaikan prosedur dental,
dibutuhkan adanya profesional kesehatan rongga mulut dan/atau dokter gigi
lainnya.

Ruangan harus luas dan lengkap apabila menghadapi emergensi jantung paru dan [15]

harus terdiri paling sedikit: 1) stetoskop untuk auskultasi pernapasan (dilakukan


pengecekan setiap 5 menit); 2) oximeter untuk memantau perfusi perfer; 3)
pemantaun non-invasif untuk melihat tekanan darah (sphygmomanometer atay
automatic cuff device); 4) menyediakan dan memberikan sumber oxygen 100%; 5)
menyediakan mediaksi intravena (harus dilakukan oleh profesional yang
berkualifikasi) .
[12]

Tahap 4 - Pemantauan pasien: Oksigenasi: pewarnaan pada mukosa, kulit, dan


darah harus terus di evaluasi; saturasi oksigen dengan peripheral oximetry dapat
berguna secara klinis.

Ventilasi: Dokter gigi dan/atau profesioanl yang berkualifikasi harus memantau


elevasi dada dan memeriksa pernapasan secara terus menerus. Menjaga
permeabilitas jalan napas.

Sirkulasi: Tekanan darah dan denyut jantung harus di evaluasi secara preoperatif
dan ditinjau secara intra dan paska operatif. [12]
Tahap 5 - Perawatan Dental: Kasus yang yang paling menguntungkan adalah kasus
yang sederhana dan mudah di selesaikan dalam kunjungan yang pendek. Perawatan
preventif, restoratif, dan pembedahan dalam dilakukan dalam pendekatan yang
berbeda.

Tahap 6 - Dokumentasi: Semua prosedur harus didokumentasikan, melaporkan obat


sedatif dan anestesi lokal yang diberikan serta dosis medikasi pre/paska opratif,
Deskripsi prosedur dental yang dialkukan juga termasuk bagian dari deskripsi ini.

Tahap 7 - Pemulangan pasien: Pasien harus dapat berjalan paling sedikit dengan
bantuan. Nyeri paska operatfd dan pendarahan harus minimal atau tidak ada. Pasien
harus ditemani oleh orang yang bertanggung jawab yang akan menerima orientasi
secara verbal dan tertulis paska operatif. [12]

Anestesi Umum

Urutan bantuan yang diajukan oleh penelitian ini didapatkan berdasarkan referensi
pedoman Asosiasi Gigi Amerikan dan Australian and New Zealand College of
Anesthetists .
[15]

Tahap 1 - Pemeriksaan awal pasien : Menyelesaikan kuisioner kesehatan meliputi


riwayat medis, laporan dokter, perawatan di rumah sakit, medikasi yang digunakan,
penyakit kesehatan, pola makan dan tingkat kooperativitas. Pasien yang termasuk
dalam kategori 1 dan 2 (Tabel 1 dan 2) berpotensi untuk dilakukan intervensi.

Tahap 2 - Evaluasi pra operatif: Evaluasi pra operatif: pemeriksaan medis oleh tim
yang akan merawat pasien; permintaan uji (uream keratinin, pemeriksaan darah
lengkap, pemeriksaan koagulasi lengkap, X-ray dada, elektrokardiogram untuk
pasien lebih dari 50 tahun atau pasien yang memiliki abnormalitas jantung) ; [18]

instruksi verbal dan tertulis untuk pasien dan/atau pengasuh mengenai prosedur
sebelum, selama, dan setelah pembedahan; formulir informed consent pasien
dan/atau pengasuh; restriksi diet berdasarkan penyakit yang dimiliki (puasa 10 jam)

Tahap 3 - Profesional dan Peralatan: Di antara profesional, perlu ahli anestesi, tim
perawat dan tim dokter gigi. Di antara peralatan, diperlukan pusat bedah yang
lengkap. Gambar 5 menyajikan bahan gigi untuk pengobatan SNP dengan anestesi
umum dan Gambar 6 menyajikan prosedur gigi yang dilakukan pada pasien dengan
anestesi umum.

Gambar 5: Bahan yang digunakan untuk anestesi umum. A) Pusat pembedahan.


B) Anestesi dan alat pemantau. C) portable compressor for micromotor. D)
photopolymerizer. E) Ultrasound F,G, dan H) Alat dental. I) Kassa steril
Gambar 6: Prosedur dental yang dilakukan di rumah sakit. A dan B) Tampilan
perkiraan dan tampak pasien yang menerima perawatan gigi. C) prosedur
pencegahan menggunakan ultrasound. D) PAsien menerima anestesi lokal untuk
local tissue ischemia. E, F, dan G) Prosedur endodontik. H,I) Prosedur restoratif.

Tahap 4 - Peninjauan pasien: Tanggung jawab tim ahli anestesi

Tahap 5 - Perawatan dental - penggunaan anestesi umum diindikasikan untuk kasus


dengan amsalah gigi yang kompleks dimana meliputi perawatan gigi yang
esktensif. Perawatan preventif, restoratif, dan pembedahan dalam dilakukan dan
diselesaikan dalam satu kunjungan.

Tahap 6 - Dokumentasi : Seluruh prosedur harus di dokumentasikan, melaporkan


nama obat dan anestesi yang diberikan (lokal dan umum), dosis dari mediaksi pra
operatif dan paska operatif.
Tahap 7 - Ruang Pemulihan: perawatan pasca operatif berhubungan dengan tipe
prosedur dental yang dilakukan. Resep obat harus dijaga seperti digunakan dalam
ruang operasi. Perawatan pasien merupakan tanggung jawab tim keperawatan
rumah sakit.

Tahap 8 - Liberasi Rumah Sakit: Untuk prosedur dental tanpa komplikasi, pasien
akan dipulangkan dalam 1-2 hari. Liberasi anestesi merupakan kewajiban dari
dokter anestesi yang bertanggung jawab.

Home Care

Bentuk asistensi untuk home care dilakukan berdasarkan pedoman yang telah
diajukan okeh British Society for Disability and Oral Health. Gambar 7
mengilustrasikan bentuk asistensi home care.
Gambar 7: Rangkai ilustratif home care. A) Tata letak untuk menerima tim
dental. B) Peralatan portable sebelum didinstalasi. C) Asistensi perawatan gigi.
D) Peralatan portable yang telah dipasangkan dan siap digunakan (peralatan terdiri
dari portable compressor, outputs for micro motor, multifunction syringe dan aspirator)

Tahap 1 - Pemeriksaan awal pasien: Menyelesaikan kuisioner kesehatan meliputi


riwayat medis, laporan dokter, perawatan di rumah sakit, medikasi yang digunakan,
penyakit kesehatan, pola makan dan tingkat kooperativitas. Pasien yang termasuk
dalam kategori 3 dan 4 (Tabel 1 dan 2) berpotensi untuk intervensi.

Tahap 2 - Evaluasi pra operatif: pemeriksaan medis oleh tim yang akan merawat
pasien; permintaan uji laboratorium terkait dengan kondisi klinis; instruksi verbal
dan tertulis unutk pasien dan/atau pengasuh mengenai prosedur pra, intra dan pra
operatif; formulir informed consent pasien dan/atau pengasuh; restriksi diet
berdasarkan penyakit yang dimiliki.

Tahap 3 - Dokter gigi dan Peralatan: Sebaiknya dilakukan oleh dua dokter gigi.
Peralatan yang dibutuhkan dipaparkan dalam Tabel 5.

Tabel 5. Peralatan yang dibutuhkan untuk pendekatan home care

Tahap 4 - Pemantauan pasien: pemantauan jantung dan sistem respirasi secara


konstan selama kunjungan hanya dibutuhkan pada kasus pasien yang berbaring di
tempat tidur yang telah dipantau oleh tim medis sebelumnya. Pemantauan tekanan
darah, oksigen, glukosa darah sewaktu dilakukan secara rutin berdasarkan penyakit
yang dimiliki oleh pasien. Dalam situasi ini, perilaku akan sama dengan yang
dilakukan pada praktik dokter gigi.

Tahap 5 - Perawatan Dental: Kasus yang paling menguntungkan adalah perawatan


gigi yang sedikit dan dapat diselesaikan dengan kunjungan yang singkat. Perawatan
preventif, restoratif, dan pembedahan dapat dilakukan dalam pendekatan yang
berbeda.
Tahap 6 - Dokumentasi: Setiap prosedur harus di dokumentasikan, melaporkan
setiap obat yang digunakan (contoh: pemberian anestesi lokal dan medikasi
pra/pascaoperatif)

DISKUSI

Dalam literatur ilmiah tidak terdapat studi yang membahas penggunaan teknik yang
berbeda dalam memberikan managemen terhadap pasien berkebutuhan khusus, dari
pendekatan klinik rawat jalan - dengan bantuan mengkondisikan dan teknik
dukungan fisik - sampai anestesi umum, menempatkan hal tersebut dalam pilihan
dengan skala yang meningkat.

Kelangkaan ini terjadi akibat besarnya subjek yang terlibat. Area pasien
berkebutuhan khusus memilih objek penelitian heterogen subkelompok pasien
dimana klasifikasi dimulai dari onkologikal, infeksius, psikiatri, kronis, penyakit
sisremik sampai penyakit genetik pada orang dewasa dan anak-anak. Untuk fokus
terhadap subjek ini, penting untuk mebentuk subkelompok studi.

Managemen perilaku, teknik menahan fisik dan sedasi dideskripsikan lebih khusus
dalam spesialis kedokteran gigi anak. [19]
Akan tetapi, mereka tidak
mempertimbangkan perubahan anatomi dan neurologi yang terjadi pada pasien
dengan gangguan neuro-psikomotor yang dapat menyulitkan penggunaan teknik
tersebut. Hal ini didasarkan pada hak perogatif bahwa para dokter gigi mendasarkan
perilaku mereka pada pengalaman klinis yang diperoleh sepanjang hidup mereka.
Dalam hal ini, kami mempertimbangkan bahwa penggunaan skala Frankl dan [9]

skala yang dibentuk oleh Houpt dkk [10]


dapat menjadi alat yang berguna untuk
menganalisa perilaku sebagai dasar perawatan gigi. [11]

Tujuan utama dari studi ini adalah untuk melakukan ulasan literatur untuk dokter
gigi yang tidak mengetahui area ini untuk memperlajari teknik managemen yang
berbeda pada pasien berkebutuhan khusus. Untuk memfasilitasi akses dan
memahami subjek yang telah disebutkan, tujuan ulasan ini adalah untuk
menguraikan pedoman perawatan gigi untuk berbagai teknik yang berbeda
berdasarkan literatur yang tersedia. Dasar teori yang dibutuhkan untuk membentuk
ulasan literatur merupakan tantangan karena hanya sedikit karya ilmiah yang telah
dipublikasikan mengenai subjek ini.

Sebagai titik awal, kami mencoba untuk memfasilitasi identifikasi sinyal awal agar
dikenali oleh setiap pasien, sehingga dokter gigi dapat memilih pendekatan
terapetik yang terbaik. Unruk mempersiapkan protokol yang dituliskan dalam karya
kami, kami mendasari ulasan kami dari manual American Dental Association , [13]

Australian and New Zealand College of Anaesthetists [15]


dan berdasarkan temuan
klinis kami, dan didukung dengan gambar-gambar kasus yang dilakukan oleh
penulis kami. Pedoman sedasi dan anestesia umum yang diajukan dalam studi ini
berbeda dengan protokol diatas dimana protokol ini lebih dinamis dan praktikal
dengan topik yang sederhana.

Pedoman yang disajikan disini terdiri dari informasi tambahan seperti referensi
medikasi yang digunakan untuk sedasi serta resiko dan cara penggunaan. Hal ini
dapar membedakan studi ini dengan studi lainnya karena apabila dibandingkan
dengan protokol lainnya, dapat dilihat bahwa tidak semua penulis mengutip konten
khusus ini atau mengumpulkan informasi dari pilihan bantuan yang telah
disebutkan diatas. [5,8,13,15,17,19,20,26,27]
Glassman et al. (2009) mengulas beberapa pedoman mengenai sedasi dan anestesi
umum yang menyimpulkan bahwa meskipun terdapat banyak protokol yang
tersedia dalam literatur, hanya sedikit pedoman yang membahas khusus pasien
berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, pedoman ini menjadi alat kerja yang
[8]

spesifik. Berbeda dengan protokol asisrensi yang telah dipaparkan untuk modalitas
sedasi dan anestesi umum, kami mengalami kesulitan dalam membentuk protokol
perawatan gigi untuk teknik home care. Alasan utamanya adalah kurangnya karya
ilmiah yang dipublikasikan dalam subjek ini sampai sekarang. [5,27]
Dari artikel yang
telah di seleksi, hanya satu karya ilmiah yang menyatakan pembentukan protokol
praktik yang mendasari formulasi pedoman karya ini. [5]

Hal yang ideal adalah menguraikan skala evolusioner untuk memilih pendekatan
terapeutik terbaik, hanya didasarkan pada penyakit pasien yang mendasarinya.
Dalam hal ini, pasien dengan Down syndrome, misalnya, mungkin merupakan
target potensial untuk pendekatan rawat jalan saat menjalani pengkondisian
dan/atau stabilisasi fisik, serta pasien autis mungkin secara langsung diindikasikan
untuk anestesi umum dan seterusnya. Menghadapi implikasi tersebut, kami percaya
bahwa pengembangan pedoman yang diusulkan dapat membantu pengambilan
keputusan.

Pada subjek home care, studi lebih berhubungan dengan kesehatan rongga mulut
pasien yang tinggal di sebuah institusi, unit perawatan paliatif atau nursing
home. [5,24,27]

Pencarian dokter gigi profesional di sekitar daerah home care penting untuk
meningkatkan teknik dan memperkaya akses menuju jasa kesehatan. Berdasarkan
American Academy of Pediatric Dentistry , home care mengurangi resiko
[28]

penyakit yang dapat di cegah, hanya dengan cara ini perawatan gigi dapat dilakukan
pada pasien yang terbaring di tempat tidur, tidak hanya untuk menghilangkan fokus
rasa sakit, tetapi juga untuk pencegahan penyakit . [27]
PERTIMBANGAN TERAKHIR

Ulasan literatur yang telah dilakukan digabungkan dengan pengalaman klinis telah
memungkinkan kami untuk membentuk pedoman yang bertujuan untuk
memberikan terapi yang lebih baik - sedasi, anestesi umum atau home care - untuk
perawatan gigi pada pasien berkebutuhan khusus dengan gangguan psikomotor
neuoris. Ini adalah pertama kalinya dalam literatur bahwa sebuah karya ilmiah yang
mendiskusikan dan membandingkan modalitas terapetik yang berbeda mengenai
perawatan dental pada pasien berkebutuhan khusus. Kami berharap pedoman ini
dapat digunakan oleh dokter gigi yang tidak familiar dengan area ini terhadap
rutinitas klinis profesional dokter gigi.