Anda di halaman 1dari 14

A.

Pengertian

Sperma atau disebut juga spermatozoa adalah sel gamet dari laki-laki.Sel ini
mempunyai ukuran panjang keseluruhan 50-60 mikrometer, dimana terdiri tiga bagian
yaitu bagian kepala, bagian tengah (leher) dan ekor.Dimensi kepala dengan panjang 4 - 5
mikrometer, lebar 2.5 - 3.5 mikrometer, dengan rasio antara panjang dan lebar yaitu 1.50 -
1.75. Spermatozoa atau sperma dihasilkan oleh testis, sedangkan cairan seminal diproduksi
oleh kelenjar tambahan di sepanjang saluran reproduksi pria, yaitu kelenjar vesikula
seminalis, prostat, kelenjar bulbo urethralis (Cowpers) dan kelenjarurethra (Littres).

Sperma dihasilkan oleh tubulus seminiferus yang memiliki panjang 250 mdalam
testes. Sel-sel yang berada di tubulus seminiferus berupa sel germinal dengan bermacam-
macam tahap perkembangan dan sel Sertoli yang memberikan dukungan penting pada
spermatogenesis. Spermatogenesis adalah proses kompleks sel germinal prmordial
spermatogonia (46 kromosom) berproliferasi dan dikonversi menjadi spermatozoa motil
(23 kromosom). Prosesnya memerlukan waktu 64 hari dengan 3 tahap: mitosis, meiosis,
dan spermiogenesis.

Sperma dewasa terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, bagian tengah dan ekor
(flagellata).Kepala sperma mengandung nukleus.Bagian ujung kepala ini mengandung
akrosom yang menghasilkan enzim yang berfungsi untuk menembus lapisanlapisan sel
telur pada waktu fertilisasi.Bagian tengah sperma mengandung mitokondria yang
menghasilkan ATP sebagai sumber energi untuk pergerakan sperma.Ekor sperma
berfungsi sebagai alat gerak .

Spermatozoa merupakan sel yang sangat terspesialisasi dan padat yang tidak lagi
mengalami pembelahan atau pertumbuhan, berasal dari gonosit yang
menjadi spermatogonium,spermatosit primer dan sekunder dan selanjutnya berubah
menjadi spermatid dan akhirnya berubah menjadi spermatozoa. Spermatozoa terdiri atas
dua bagian fungsional yang penting yaitu kepala dan ekor.

B. Morfologi Sel Sperma

1
1. Kepala

Kepala spermatozoa bentuknya bulat telur dengan ukuran panjang 5 mikron,


diameter 3 mikron dan tebal 2 mikron yang terutama dibentuk oleh nukleus berisi bahan-
bahan sifat penurunan ayah. Kepala sperma mengandung nukleus. Bagian ujung kepala
atau pada bagian anterior kepala spermatozoa terdapat akrosom, suatu struktur yang
berbentuk topi yang menutupi dua per tiga bagian anterior kepala dan mengandung
beberapa enzim hidrolitik antara lain: hyaluronidase, proakrosin, akrosin, esterase, asam
hidrolase dan Corona Penetrating Enzim (CPE) yang semuanya penting untuk
penembusan ovum (sel telur) pada proses fertilisasi (Anonim, 2009).

Bahan kandungan akrosom adalah setengah padat yang dikelilingi oleh membran
akrosom yang terdiri dari dua lapis, yaitu membran akrosom dalam (inner acrosomal
membran) dan membran akrosom luar (outer acrosomal membran). Secara
molekuler susunan kedua membran akrosom ini sangat berbeda, membran akrosom luar
bersatu dengan plasma membran (membran spermatozoa) pada waktu terjadinya reaksi
akrosom sedang membran akrosom dalam menghilang. Bagian ekuatorial akrosom
merupakan bagian penting pada spermatozoa, hal ini karena bagian anterior pada akrosom
ini yang mengawali penggabungan dengan membran oosit pada proses fertilisasi berubah
menjadi spermatid dan akhirnya berubah menjadi spermatozoa (Anonim, 2009).

2. Ekor

Ekor dari sel sperma dibedakan atas 3 bagian, yaitu sebagai berik

Bagian tengah (midpiece)


Bagian utama (principle piece)
Bagian ujung (endpiece).

Panjang ekor seluruhnya sekitar 55 mikron dengan diameter yang makin ke ujung
makin kecil: di depan 1 mikron, di ujung 0,1 mikron. Panjang bagian tengah: 5-7 mikron,
tebal 1 mikron; bagian utama panjang 45 mikron, tebal 0,5 mikron dan bagian ujung
panjang 4-5 mikron, tebal 0,3 mikron. Bagian ekor tidak bisa dibedakan dengan mikroskop
cahaya tetapi harus dengan mikroskop electron (Anonim, 2009).

2
Mitokondria sebagai pembangkit energi pada spermatozoa. Principle
piece dibungkus oleh sarung fibrous (fibrous sheath) yang perbatasannya
disebut anulus. Sarung fibrous bentuknya terdiri dari kolom ventral dan dorsal yang
masing-masing melalui rusuk-rusuk. Ke arah sentral ada semacam tonjolan yang
memegangi cincin nomor 3, 8 dari aksonema. Keduanya (tahanan rusuk dan pegangan
cincin aksonema) memberikan gerak tertentu.

Kriteria morfologi sperma disebut normal bila

Kepala : berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3nya, panjang 3-5 mikron, lebar s/d
2/3 panjangnya.
Midpiece : langsing (< lebar kepala), panjang 2x panjang kepala, dan berada dalam
satu garis lengan sumbu panjang kepala.
Ekor : batas tegas, berupa garis panjang 9 x panjang kepala.

C. Proses Pembentukan Sperma

Spermatogenesis terjadi didalam testis terdapat tubulus seminiferus.Dinding


tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitel dan jaringan ikat, pada jaringan epithelium
terdapat selsel spermatogonia dan sel Sertoli yang berfungsi memberi nutrisi pada
spermatozoa. Selain itu pada tubulus seminiferus terdapat pula sel Leydig yang
mengsekresikan hormone testosteroneyang berperan pada proses spermatogenesis.

Pematangan sel terjadi ditubulus seminiferus yang kemudian disimpan di


epididimis.Dinding tubulus seminiferus tersusun dari jaringan ikat dan jaringan epitelium
germinal (jaringan epitelium benih) yang berfungsi pada saat spermatogenesis.Pintalan-

3
pintalan tubulus seminiferus terdapat di dalam ruang-ruang testis (lobulus testis).Satu testis
umumnya mengandung sekitar 250 lobulus testis. Tubulus seminiferus terdiri dari
sejumlah besar sel epitel germinal (sel epitel benih) yang disebut spermatogonia
(spermatogonium = tunggal). Spermatogonia terletak di dua sampai tiga lapisan luar sel-
sel epitel tubulus seminiferus.Spermatogonia terus-menerus membelah untuk
memperbanyak diri, sebagian dari spermatogonia berdiferensiasi melalui tahap-tahap
perkembangan tertentu untuk membentuk sperma.

Pada tubulus seminiferus terdapat sel-sel induk spermatozoa atau spermatogonium,


sel Sertoli, dan sel Leydig. Sel Sertoli berfungsi memberi makan spermatozoa
sedangkan sel Leydigyang terdapat di antara tubulus seminiferus berfungsi menghasilkan
testosterone.

Tahap pembentukan spermatozoa dibagi atas tiga tahap yaitu :

1. Spermatocytogenesis

4
Ketika seorang anak laki-laki mencapai pubertas pada usia 11 sampai 14
tahun, sel kelamin jantan primitif yang belum terspesialisasi dan disebut dengan
spermatogonium menjadi diaktifkan oleh sekresi hormon testosteron. Masing-masing
spermatogonium membelah secara mitosis untuk menghasilkan dua sel anak yang masing-
masing berisi 46 kromosom lengkap. Dua sel anak yang dihasilkan tersebut masing
masing disebut spermatogonium.

Spermatogonium ini mendapatkan nutrisi dari sel-sel sertoli dan berkembang


menjadi spermatosit primer. Spermatogonium yang bersifat diploid (2n atau mengandung
23 kromosom berpasangan), berkumpul di tepi membran epitel germinal yang disebut
spermatogonium tipe A. Spermatogonium tipe A membelah secara mitosis menjadi
spermatogonium tipe B. Kemudian, setelah beberapa kali membelah, sel-sel ini akhirnya
menjadi spermatosit primer yang masih bersifat diploid

Spermatosit primer mengandung kromosom diploid (2n) pada inti selnya dan
mengalami meiosis. Satu spermatosit akan menghasilkan dua sel anak, yaitu spermatosit
sekunder.

2. Tahapan Meiois

Spermatosit primer menjauh dari lamina basalis, sitoplasma makin banyak dan
segera mengalami meiosis I menghasilkan spermatosit sekunder yang n kromosom
(haploid). Spermatosit sekunder kemudian membelah lagi secara meiosis II membentuk
empat buah spermatid yang haploid juga.

Sitokenesis pada meiosis I dan II ternyata tidak membagi sel benih yang lengkap
terpisah, tapi masih berhubungan lewat suatu jembatan (Interceluler bridge). Dibandingkan
dengan spermatosit I, spermatosit II memiliki inti yang gelap.

3. Tahapan Spermiogenesis

5
Merupakan transformasi spermatid menjadi spermatozoa yang meliputi 4 fase
yaitu fase golgi, fase tutup, fase akrosom dan fase pematangan. Hasil akhir berupa empat
spermatozoa (sperma) masak. Ketika spermatid dibentuk pertama kali, spermatid memiliki
bentuk seperti sel-sel epitel. Namun, setelah spermatid mulai memanjang menjadi sperma,
akan terlihat bentuk yang terdiri dari kepala dan ekor.

Bila spermatogenesis sudah selesai, maka ABP testosteron (Androgen Binding


Protein Testosteron) tidak diperlukan lagi, sel Sertoli akan menghasilkan hormon inhibin
untuk memberi umpan balik kepada hipofisis agar menghentikan sekresi FSH dan LH.

Spermatozoa akan keluar melalui uretra bersama-sama dengan cairan yang


dihasilkan oleh kelenjar vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar cowper.
Spermatozoa bersama cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut dikenal sebagai semen atau air
mani. Pada waktu ejakulasi, seorang laki-laki dapat mengeluarkan 300 400 juta sel
spermatozoa.

Proses spermatogenesis ini dapat terjadi karena dukungan dari sel Sertoli. Fungsi
penting sel Sertoli selama proses spermatogenesis antara lain:

1. Sel Sertoli membentuk tight junction sebagai barrier spermatozoa dengan arah
sehingga dapat mencegah pembentukan antibodi yang dapat menyerang sel
spermatozoa (dianggap sebagai zat asing karena haploid, sel tubuh bersifat diploid).
2. Memberikan makanan.
3. Sel Sertoli berfungsi untuk memfagosit sitoplasma dari spermatid yang berubah
menjadi spermatozoa dan menghancurkan sel germinal yang rusak.
4. Sel Sertoli membentuk lumen cairan tubulus seminiferus sehingga sperma dapat
dilepaskan dari tubulus ke epididimis untuk disimpan dan diproses lebih lanjut.
5. Sel Sertoli mensekresi androgen-binding protein (ABP). ABP berfungsi untuk
mempertahankan testosteron tetap berada dalam tubulus seminiferus, karena
testosteron berupa lipid yang mudah keluar dari membran plasma dan meninggalkan
lumen.

6
6. Menghasilkan hormon inhibin sebagai umpan balik negatif yang mengontrol sekresi
FSH.

Spermatogenesis dipengaruhi oleh hormon gonadotropin, Follicle Stimulating


Hormone (FSH), Luteinizing hormone (LH), dan hormon testosteron. Mari cermati.

a. Hormon Gonadotropin
Hormon gonadotropin dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon ini berfungsi untuk
merangsang kelenjar hipofisa bagian depan (anterior) agar mengeluarkan hormon
FSH dan LH.
b. FSH (Follicle Stimulating Hormone)
FSH dihasilkan oleh hipofisa anterior. Hormon ini berfungsi mempengaruhi dan
merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel sertoli untuk menghasilkan
ABP (Androgen Binding Protein) yang memacu pembentukan sperma.
c. LH (Luteinizing Hormone)
LH dihasilkan oleh hipofisa anterior. Hormon ini berfungsi merangsang sel-sel
interstitial (sel leydig) agar mensekresi hormon testosteron (androgen).
d. Hormon Testosteron
Hormon testosteron dihasilkan oleh testis. Hormon ini berfungsi merangsang
perkembangan organ seks primer pada saat embrio, mempengaruhi perkembangan
alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder serta mendorong spermatogenesis.

D. Kelainan Sel Sperma

7
1. Jumlah Sperma

Cairan yang dikeluarkan pria pada saat ejakulasi sewaktu senggama disebut cairan
semen.Volume normal cairan semen sekitar 2-5 ml. Cairan semen ini berwarna putih
mutiara dan berbau khas langu dengan pH 7-8. Volume cairan semen dianggap rendah
secara abnormal jika kurang dari 1,5 ml. Volume semen melebihi 5 ml juga dianggap
abnormal. Dalam cairan semen inilah jumlah spermatozoa merupakan penentu
keberhasilan memperoleh keturunan. Yang normal, jumlah spermatozoanya sekitar 20
juta/ml. Pada pria ditemukan kasus spermatozoa yang kurang (oligozoospermia) atau
bahkan tak ditemukan sel sperma sama sekali (azoospermia), (Tri Bowo, 2011).
Kecuali sel-sel spermatozoa, dalam cairan semen ini terdapat zat-zat lain yang
berasal dari kelenjar-kelenjar sekitar reproduksi pria.Zat-zat itu berfungsi menyuplai
makanan dan mempertahankan kualitas spermatozoa sehingga bisa bertahan hidup sampai
masuk ke dalam saluran reproduksi wanita, (Tri Bowo, 2011).

2. Kelainan Bentuk (Morfologi)

Sperma yang normal berbentuk seperti kecebong.Terdiri dari kepala, tubuh, dan
ekor. Kelainan seperti kepala kecil atau tak memiliki ekor akan mempengaruhi pergerakan
sperma. Ini tentu saja akan mempersulit sel sperma mencapai sel telur (Tri Bowo, 2011).

3. Pergerakan Lemah

8
Untuk mencapai sel telur, sel sperma harus mampu melakukan perjalanan
panjang.Ini pun menjadi penentu terjadinya pembuahan. Jumlah sel sperma yang cukup,
jika tak dibarengi pergerakan yang normal, membuat sel sperma tak akan mencapai sel
telur. Sebaliknya, kendati jumlahnya sedikit namun pergerakannya cepat, bisa mencapai
sel telur (Tri Bowo, 2011).Kasus lemahnya pergerakan sperma (asthenozoospermia) kerap
dijumpai.Adakalanya spermatozoa mati (necrozoospermia). Gerakan spermatozoa dibagi
dalam 4 kategori, yaitu:

Bergerak cepat dan maju lurus


Bergerak lambat dan sulit maju lurus
Tak bergerak maju (bergerak di tempat
Tak bergerak

Sperma dikatakan normal bila memiliki gerakan normal dengan kategori a lebih
besar atau sama dengan 25% atau kategori b lebih besar atau sama dengan
50%. Spermatozoa yang normal satu sama lain terpisah dan bergerak sesuai arahnya
masing-masing. Dalam keadaan tertentu, spermatozoa abnormal bergerombol, berikatan
satu sama lain, dan tak bergerak.Keadaan tersebut dikatakan terjadi aglutinasi. Aglutinasi
dapat terjadi karena terjadi kelainan imunologis di mana sel telur menolak sel sperma.

4. Cairan Semen Terlalu Kental

Cairan semen yang terlalu kental mengakibatkan sel sperma sulit


bergerak.Pembuahan pun jadi sulit karena sel sperma tak berhasil mencapai sel telur. Pada
kasus normal, saat diejakulasikan, cairan semen dalam bentuk yang kental akan mencair
(liquifaksi) antara 15-60 menit.

5. Saluran Tersumbat

Saat ejakulasi, sperma keluar dari testis menuju penis melalui saluran yang sangat
halus.Jika saluran-saluran itu tersumbat, maka sperma tak bisa keluar.Umumnya hal ini
disebabkan trauma pada benturan.Bisa juga karena kurang menjaga kebersihan alat
kelamin sehingga menyuburkan kehidupan virus atau bakteri.

6. Kerusakan Testis

9
Testis dapat rusak karena virus dan berbagai infeksi, seperti
gondongan, gonorrhea,sifilis, dan sebagainya. Untuk diketahui, testis merupakan pabrik
sperma. Dengan demikian kesehatannya harus dijaga karena testis yang sehat akan
menghasilkan sperma yang baik secara kualitas dan kuantitas. Testis ini sangat
sensitif.Mudah sekali dipengaruhi oleh faktor-faktor luar.Jika testis terganggu, produksi
sperma bisa terganggu.Mungkin saat berhubungan, pria tetap mengeluarkan sperma.Hanya
saja tanpa sel sperma (azoospermia).

Istilah-istilah yang dipakai pada bentuk yang abnormal adalah :

Makro : 25 % > kepala normal


Mikro : 25 % < kepala normal
Taper : kurus, lebar kepala yng normal, tidak jelas batas akrosom, memberi gambaran
cerutu
Piri : memberi gambaran tetesan air mata
Amorf : Bentuk kepala yg ganjil, permukaan tidak rata, tidak jelas batas akrosom
Round : bentuk kepala seperti lingkaran, tidak menunjukkan akrosom
Piri : tidak jelas adanya kepala yg nyata, tampak midpiece dan ekor saja
Cytoplasmic droplet : menempel pada kepala atau midpiece, lebih cerah
Ekor abnormal : pendek / spiral / permukaan tidak halus / ganda

10
PARAMETER ANALlSA SPERMA

11
12
13
14