Anda di halaman 1dari 16

I

PENDAHULUAN

1.1 Deskripsi

Pengertian Fisiologi atau sebuah ilmu faal ialah sebuah pengertian atau ilmu
dari salah satu cabang ilmu biologi yang berhubungan erat dengan pembahasan
serta mempelajari sebuah ke berlangsungan sebuah sistem tentang kehidupan.
Istilah arti kata fisiologi diambil dari bahasa Belanda yaitu physiologie, yang
dirangkai dan disusun dari dua kata bahasa Yunani Kuno yaitu physis yang berarti
bermakna hakikat atau asal-usul dan kata logia yang berarti memiliki makna sebuah
kajian. Arti kata faal diadaptasi dari bahasa Arab yang memiliki arti atau makna
sebuah pertanda, sebuah fungsi, dan kerja.

Sistem faali yang meliputi respirasi, pulsus, dan temperatur rektal


merupakan suatu parameter yang digunakan untuk mengetahui kondisi atau
keadaan kesehatan suatu makhluk hidup yang dapat dilakukan dengan percobaan
langsung.

Respirasi adalah semua proses kimia maupun fisika dimana organisme


melakukan pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi menyangkut dua
proses, yaitu respirasi eksteral dan respirasi internal. Terjadinya pergerakan karbon
dioksida ke dalam udara alveolar ini disebut respirasi eksternal. Respirasi internal
dapat terjadi apabila oksigen berdifusi ke dalam darah. Respirasi eksternal
tergantung pada pergerakan udara kedalam paru-paru (Frandson, 1992).

Respirasi berfungsi sebagai parameter yang dapat digunakan sebagai


pedoman untuk mengetahui fungsi organ-organ tubuh bekerja secara normal.
Pengukuran terhadap parameter terhadap fisiologis yang biasa dilakukan di
lapangan tanpa alat-alat laboratorium adalah pengukuran respirasi, detak jantung
dan temperature tubuh.

Pulsus merupakan denyut jantung, dalam praktikum status faali bertujuan


untuk mengetahui data fisiologis ternak. Jadi, dengan percobaan pengukuran pulsus

1
permenit dapat kita mengetahui keadaan kesehatan probandus, dengan
membandingkan dengan data pasti dari sumber-sumber yang benar.

Frekuensi pulsus atau denyut jantung dikendalikan oleh sistem organ


jantung yang dipengaruhi oleh sistem saraf. Jantung merupakan dua pompa yang
menerima darah dalam arteri dan memompakan darah dari ventrikel menuju
jaringan kemudian kembali lagi. Sistem ini bekerja dengan kombinasi tertentu dan
fungsional. Misalnya saraf efferens, saraf cardial anhibitory, dan saraf accelerate
sedangkan kecepatan denyut jantung dapat dipengaruhi oleh temperatur lingkungan,
aktivitas tubuh, suhu tubuh, latak geografis, penyakit dan stress (Dukes, 1995).

Temperatur tubuh merupakan hasil keseimbangan antara produksi panas


dan pelepas panas tubuh. Indeks temperatur dalam tubuh hewan dapat dilakukan
dengan memasukkan termometer rektal ke dalam rektum. Faktor-faktor yang
mempengaruhi temperatur tubuh antara lain bangsa ternak, aktivitas ternak, kondisi
kesehatan ternak, dan kondisi lingkungan ternak (Frandson, 1996).

1.2 Waktu dan Tempat


Waktu : 10.00 - 12.00 WIB
Hari/Tanggal : Rabu, 26 Oktober 2016
Tempat : Laboratorium Fisiologi dan Biokimia, Gedung 3 Lantai
II, Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran.

2
II

MATERI DAN METODE

2.1 Judul Praktikum

Judul Praktikum kali ini adalah Status Faali Domba

2.1.1 Alat dan Bahan

Alat :

Stetoskop

Thermometer

3
Tali tambang

Stopwatch

Bahan :

Domba Jantan

4
2.1.2 Cara Kerja

1. Suhu Tubuh

Jika menggunakan
Mengukur suhu tubuh termometer manual,
menggunakan terlebih dahulu Menambahkan vaselin
termometer klinik. diturunkan sampai pada ujung termometer
angka 0 dengan cara
dikibas-kibaskan.

Memasukkan
Mendiamkan selama termometer ke dalam
5 menit
anus domba.

2. Denyut Jantung

Mengukur menggunakan
stetoscope pada daerah Menghitung denyut Sebelumnya perlu
kostal (dada) sebelah kiri, jantung dalam 1 menit, dicari searah yang
dibawah tulang rusuk dan mengulanginya paling keras bunyinya.
keempat. sebanyak 3 kali.

3. Denyut Nadi

Mengukur dengan
cara melakukan Menghitung selama 1
perabaan pada arteri menit, dan
dengan keempat ujung mengulanginya
jari tangan di pangkal sebanyak 3 kali.
paha bagian dalam.

5
4. Frekuensi Pernafasan

Mengukur dengan cara


mendekatkan Menghitung selama 1
punggung telapak menit, dan
tangan di depan hidung mengulanginya
domba untuk sebanyak 3 kali.
mendeteksi hembusan
nafas.

Perlu diusahakan ternak tersebut


dalam keadaan tenang.

6
III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Pengamatan

No Kondisi Pengamatan Ket


Frek. Frek. Frek. Suhu
Pernapasan Denyut Denyut Tubuh
(x/detik) Nadi Jantung (C)
(x/detik) (x/detik)
Tenang 41 65 163 38,9
1 (Awal) 39 85 170 38,9
37 93 172 38,9
Rata- 39 83 169 38,9
rata
2 Kerja 57 90 180 39,6
Fisik
Stlh
3 Kerja
Fisik
1st 5 50 82 145 39,2
2nd 5 - - - -
3rd 5 - - - -

3.2 Pembahasan

1. Frekuensi Pernapasan

Dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan mengukur frekuensi


pernapasan pada domba dengan cara mendekatkan punggung telapak tangan ke
hidung domba dan dihitung frekuensi pernapasannya selama satu menit diperoleh
hasil bahwa pada saat tenang setelah dilakukan perhitungan sebanyak tiga kali

7
diperoleh frekuensi pernapasannya sebanyak 41;39;37 sehingga dapat dihitung
rata-ratanya yaitu 39 kali per menit. Sedangkan menurut Frandson (1992) frekuensi
pernapasan pada domba normalnya adalah 26-32 kali per menit. Dalam hal ini
frekuensi pernapasan yang diperoleh dari hasil pengamatan lebih tinggi daripada
frekuensi normalnya, hal tersebut dapat disebabkan karena domba yang diperiksa
mengalami stres akibat terlalu lama berinteraksi dengan manusia ataupun stres
akibat panas. Menurut Silanikove (2000), mengukur tingkat stres panas pada domba
dapat didasarkan pada tingginya laju pernapasan tiap menit, dengan uraian : stress
panas rendah 40-60 kali per menit, stress panas sedang 60-80 kali per menit,, stress
panas tinggi 80-200 kali per menit, stress panas berat lebih dari 200 kali per menit.
Sehingga berdasarkan uraian tersebut maka domba yang diamati sudah mulai
mengalami stress panas rendah. Selain itu, peningkatan frekuensi pernapasan juga
dapat disebabkan oleh pemberian pakan sebelum dilakukan pengamatan karena
pakan yang diberikan akan dimetabolisme oleh tubuh dan hasil sisa
metabolismenya berupa CO2 akan dikeluarkan melalui pernapasan sesuai dengan
pernyataan Campbell (2002) bahwa oksigen dibutuhkan untuk proses perombakan
makanan yang menghasilkan energi, dan zat sisa berupa karbondioksida dan uap
air dibuang keluar tubuh lewat proses bernapas. Namun menurut Tajiddudin (2006)
bahwa rata-rata frekuensi nafas domba antara 20,00-43,96 sehingga dalam hal ini
domba yang diamati termasuk dalam kategori normal.

Setelah dilakukan pengamatan pada keadaan tenang, maka domba diajak


beraktivitas yaitu berlari selama 5 10 menit dan sesaat setelahnya dihitung
kembali frekuensi pernapasannya dan diperoleh hasil 57 kali per menit. Setelah
melakukan aktivitas ternyata frekuensi pernapasan domba meningkat hal tersebut
disebabkan karena setelah beraktivitas maka tubuh akan menghasilkan panas
sehingga panas yang dihasilkan tersebut harus segera dikeluarkan demi menjaga
suhu tubuh supaya tetap konstan karena domba termasuk makhluk hidup
homoioterm dimana mekanisme pengeluaran panas tersebut salah satunya adalah
melalui respirasi sehingga frekuensi pernapasannya akan meningkat.

8
Setelah didiamkan selama 5 menit lalu dihitung kembali frekuensi
pernapasannya dan diperoleh hasil 50 kali per menit karena domba sudah mulai
tenang sehingga frekuensi pernapasannya pun menurun mendekati keadaan semula.
Namun dari hasil yang diperoleh frekuensi pernapasan antara sesaat setelah
beraktivitas dan setelah 5 menit didiamkan tidak terlalu jauh perbedaannya hal ini
menunjukkan bahwa domba tersebut kurang bugar karena memang domba yang
diamati jarang beraktivitas, hanya didiamkan dikandang tanpa dilakukan
penggembalaan.

2. Frekuensi Denyut Nadi

Dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan mengukur denyut nadi


domba pada bagian paha belakang dengan menggunakan jari tangan yang
ditempatkan ke pembuluh nadi yang terdapat dipaha belakang domba dan diukur
frekuensi denyut nadinya selama satu menit diperoleh hasil bahwa pada saat tenang
setelah dihitung sebanyak tiga kali diperoleh frekuensi denyut nadinya yaitu
65;85;93 dan setelah dihitung rata-ratanya adalah 81 kali per menit. Menurut
Tajiddudin (2006) bahwa rata-rata denyut nadi domba adalah 60,58-89,42 sehingga
untuk hasil yang diperoleh dapat dikatakan bahwa frekuensi denyut nadinya
termasuk normal. Meskipun termasuk dalam kategori normal, namun seharusnya
antara frekuensi denyut nadi dan denyut jantung itu sama besarnya tetapi dari hasil
yang diperoleh ternyata berbeda hal tersebut disebabkan karena pada saat
perhitungan denyut nadi dilakukan terkadang denyut nadi yang dihitung tiba-tiba
tidak terasa (hilang) akibat domba yang diamati selalu bergerak-gerak sehingga
sulit untuk mempertahankan posisi tangan tepat di pembuluh nadinya sehingga
cukup banyak denyut nadi yang tidak terhitung.

Setelah dilakukan pengamatan pada keadaan tenang, maka domba diajak


beraktivitas yaitu berlari selama 5 10 menit dan sesaat setelahnya dihitung
kembali frekuensi denyut nadinya dan diperoleh hasil 90 kali per menit hal tersebut
menunjukkan bahwa setelah melakukan aktivitas maka denyut nadi akan bertambah.

9
Hal tersebut disebabkan karena ketika beraktivitas maka jantung akan memompa
darah lebih cepat guna menghantarkan panas berlebih dan juga membuang hasil
sisa metabolisme. Karena jantung mempompa darah lebih cepat maka aliran darah
pada membuluh nadi pun akan semakin cepat. Namun dari hasil pengamatan yang
dilakukan untuk perubahan yang terjadi tidak terlalu signifikan hal tersebut
disebabkan karena domba yang diamati ketika diajak untuk berlari lebih banyak
berjalan dan diam sehingga aktivitas yang dilakukan kurang dan perubahannya pun
kurang terlihat.

Setelah didiamkan selama 5 menit lalu dihitung kembali frekuensi denyut


nadinya dan diperoleh hasil 82 kali per menit. Karena keadaan domba sudah cukup
tenang maka frekuensi denyut nadinya pun kembali mendekati keadaan semula.

3. Frekuensi Denyut Jantung

Dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan mengukur denyut jantung


domba menggunakan stetoskop dan diperiksa di daerah dada domba bagian kiri lalu
diukur frekuensi denyut jantungnya selama satu menit diperoleh hasil bahwa pada
keadaan tenang setelah dilakukan pengukuran tiga kali diperoleh frekuensi denyut
jantungnya 165;170;172 dan jika dihitung rata-ratanya maka diperoleh hasil 169
kali per menit. Menurut Frandson (1992) bahwa denyut jantung domba normal di
daerah tropis berkisar antara 60-120 kali per menit, sehingga apabila dibandingkan
maka hasil pengamatan memperoleh hasil yang sangat besar dan perbedaannya
cukup jauh. Adanya perbedaan yang cukup jauh tersebut mungkin disebabkan
karena pengaruh dari keadaan dombanya, dimana pada domba yang diamati sedang
mengalami stress akibat terlalu lama berinteraksi dengan manusia dan domba
tersebut merasa terancam sehingga denyut jantungnya pun lebih cepat dan frekuensi
denyut jantungnya semakin banyak. Lalu dapat juga akibat pengeluaran panas dari
tubuh. Proses pengeluaran panas dalam tubuh juga dapat dilakukan oleh domba
melalui penguapan air dari kulit. Saat terjadi proses penguapan, ion-ion yang
terdapat dalam tubuh ikut menguap bersama air sehingga domba akan mengalami

10
dehidrasi. Hilangnya air dan ion dalam tubuh akan mengakibatkan denyut jantung
yang meningkat (Imam Darussalam, 2015). Selain itu frekuensi denyut jantung
yang tinggi juga dapat disebabkan karena ketika sedang dihitung denyut jantungnya,
domba yang diamati juga memakan rumput sehingga ketika domba yang diamati
sedang melakukan aktivitas makan maka denyut jantungnya akan bertambah cepat
hal tersebut dijelaskan oleh Bima (2014) bahwa pakan yang palatabilitasnya rendah
akan mengakibatkan aktivitas makan lebih banyak sehingga frekuensi denyut
jantung domba meningkat.

Setelah dilakukan pengamatan dalam keadaan tenang, lalu domba diajak


beraktivitas dengan cara berlari selama 5-10 menit kemudian sesaat setelahnya
langsung dilakukan penghitungan denyut jantung kembali dan diperoleh hasil
sebanyak 180 kali per menit. Dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada
keadaan tenang, frekuensi denyut jantung pada domba setelah beraktivitas
mengalami peningkatan walau tidak terlalu jauh karena domba yang diamati lebih
banyak berjalan dan diam daripada berlari sehingga hasilnya tidak begitu berbeda.
Menurut Edey (1983) menyatakan bahwa denyut jantung merupakan bagian dari
respon fisiologis ternak yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan, gerakan dan
aktivitas otot sehingga apabila domba melakukan aktivitas berupa gerakan dan
aktivitas otot meskipun pergerakannya minim maka denyut jantungnya pun akan
berubah yaitu mengalami peningkatan.

Kemudian domba didiamkan selama 5 menit dan dihitung kembali frekuensi


denyut jantungnya diperoleh hasil frekuensi denyut jantung sebanyak 145 kali per
menit. Jika dibandingkan dengan sebelumnya yaitu sesaat setelah beraktivitas maka
hasil yang diperoleh setelah 5 menit mengalami penurunan, hal tersebut disebabkan
karena domba sudah mulai tenang sehingga frekuensi denyut jantungnya kembali
pada keadaan yang normal. Perubahan yang terjadi cukup signifikan hal tersebut
dapat disebabkan karena domba yang awalnya stres karena berinteraksi dengan
manusia sudah mulai terbiasa dan merasa tenang sehingga denyut jantungnya mulai
kembali pada keadaan normal meskipun apabila dibandingkan dengan literature
yang menyebutkan denyut jantung domba normal adalah 60-120 maka hasil yang

11
diperoleh masih di atas kategori normal karena meskipun mulai terbiasa tapi tetap
saja domba tersebut masih mengalami stres meskipun tidak sebesar saat pertama
kali diukur frekuensi denyut jantungnya.

4. Suhu Tubuh

Dari hasil pengamatan yang dilakukan dengan cara mengukur suhu rektal
pada domba menggunakan thermometer dan didiamkan selama 5 menit maka
diperoleh hasil bahwa dalam keadaan tenang, suhu tubuh domba adalah 38,9C.
Menurut Marai (2007) dan Imam Darussalam (2015) menyatakan bahwa suhu
rektal domba dalam kondisi thermoneutral di daerah tropis bervariasi antara 38,3-
39,9C dengan rataan 39,1C sehingga bila dibandingkan maka dari hasil
pengamatan yang diperoleh dapat dikatakan bahwa domba yang diamati termasuk
dalam keadaan normal.

Setelah dilakukan pengamatan dalam keadaan tenang, selanjutnya domba


diajak beraktivitas dengan berlari selama 5-10 menit dan diukur kembali suhu
rektalnya maka diperoleh hasil bahwa suhunya adalah 39,6C. Setelah beraktivitas
ternyata suhu tubuh domba mengalami peningkatan hal tersebut disebabkan karena
ketika beraktivitas maka tubuh domba akan menghasilkan panas (kalor) dimana
panas tersebut akan mempengaruhi suhu tubuhnya sehingga suhu tubuh domba
mengalami peningkatan. Namun perubahan yang terjadi relatif kecil dan masih bisa
dikategorikan dalam suhu tubuh domba normal jika dibandingkan dengan literatur,
hal tersebut disebabkan karena domba termasuk makhluk hidup homoioterm yang
menghasilkan panas dari dalam tubuhnya (bukan menyerap dari lingkungannya)
dan panas yang dihasilkan relatif kecil guna menjaga suhu tubuh agar tetap konstan.
Karena jika perubahan suhu tubuh yang terjadi sangat drastis atau ekstrim maka
domba dan juga hewan homoioterm yang lain bisa mengalami kematian.

Selanjutnya domba didiamkan selama 5 menit kemudian diukur kembali


suhu tubuhnya dan diperoleh hasil 39,2C dimana jika dibandingkan dengan
sebelumnya yaitu sesaat setelah beraktivitas maka suhunya mengalami penurunan.

12
Penurunan yang terjadi disebabkan karena sebagian panas yang dihasilkan saat
beraktivitas sudah dikeluarkan dari tubuh melalui evaporasi dan respirasi sehingga
suhu tubuh domba mengalami penurunan. Penurunan yang terjadi relatif kecil
karena domba tersebut berusaha menjaga suhu tubuhnya supaya konstan dimana
pengaturan suhu tubuh tersebut termasuk dalam mekanisme homeostasis.

13
IV

KESIMPULAN

Dari paparan hasil dan pembahasan di atas, maka dapat kami simpulkan
bahwa :

Pada praktikum domba yang telah dilakukan tidak mendapatkan hasil yang
maksimal dalam perhitungan denyut jantung dan nadi yang seharusnya
sama antara denyut jantung dan nadi.
Pada suhu domba perubahan tidak terlalu jauh karena domba merupakan
hewan homoioterm.
Kerja fisik yang dilakukan membuat perbedaan yang nyata pada suhu,
denyut jantung, dan nadi.

14
DAFTAR PUSTAKA

Bima Saputra. 2014. Respon Fisiologis dan Profil Darah Domba Garut Jantan
dengan Pakan dan Manajemen Waktu Pemberian Pakan Berbeda. Skripsi
Sarjana. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor : Bogor.

Campbell N, Reece A, Jane B, Lawrance GM. 2002. Biologi Jilid I. Ed ke-5.


Erlangga : Jakarta

Dukes. 1995. Physiology of Domestic Animal. Comstock New York University


College Publishing. Camel : New York, USA

Edey TN. 1983. The genetic pool of sheep and goat. In: Goat and sheep Production
in the tropics. ELBS. Essex (UK) Longman Group Ltd : United Kingdom

Frandson R. D. 1996. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University


Press : Yogyakarta

Frandson R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada University


Press : Yogyakarta

Imam Darussalam. 2015. Perubahan Bobot Badan dan Status Faali Domba
Priangan yang diberi Larutan Elektrolit Berbasis Air Kelapa dan Ekstrak
Rosela Sebelum Transportasi. Jurnal. Fakultas Peternakan Universitas
Padjadjaran : Sumedang

Marai IFM, El-Darawany AA, Fadiel A, Abdel-Hafez MAM. 2007. Physiological


traits as affected by heat stress in sheep. Jurnal. Small Ruminant Research
71:1-12

Silanikove N. 2000. Effect of heat stress on welfare of extensively managed


domestic ruminants. Jurnal. J Livestock Production Sci. 67 (1-2), 1-18

Tajiddudin Mukhamad. 2006. Pengaruh Pemberian Anti Stres terhadap Pemulihan


Konsumsi Pakan dan Kondisi Fisiologis Domba Lokal Setelah Pengangkutan.
Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro : Semarang

15
LAMPIRAN

Jurnal sumber yang kami gunakan :

16