Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


IV.1 Hasil Pengamata

IV.2 Perhitungan
/
Rf = /

a. Penentuan Rf Jamu
4,85 cm
=0,80 mm
6 cm

b. Penentuan Rf Paracetamol
5,1 cm
= 0,85 mm
6 cm

IV.3 Pembahasan

Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah suatu teknik yang sederhana


yang banyak digunakan, metode ini menggunakan lempeng kaca atau
lembaran plastik yang ditutupi penyerap atau lapisan tipis dan kering. Untuk
menotolkan karutan cuplikan pada kempeng kaca, pada dasarnya
menggunakan mikro pipet atau pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari
lempeng dicelup dalam larutan pengelusi di dalam wadah yang tertutup
(Soebagio,2002)
Densitometri merupakan metode analisis instrumental yang didasarkan
pada interaksi radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan bercak
pada Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Densitometri dimaksudkan untuk
analisis kuantitatif analit dengan kadar kecil, yang sebelumnya dilakukan
pemisahan dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) (Rohman, 2009).
Pada praktikum kali ini dilakukan analisis paracetamol dalam jamu
pegal linu dimana jamu yang digunakan adalah pegal linu produk dari PT.
payung pustaka mandiri. Langkah awal yang dilakukan adalah menyiapkan alat
dan bahan yang akan digunakan. Kemudian dibersihkan alat dengan
menggunakan alkohol 70%. Hal ini bertujuan untuk menghindari
mikroorganisme yang menempel pada alat karena penyimpanan yang cukup
lama (Dirjen POM, 1979).
Kemudian dilakukan pembuatan fase diam dan fase gerak untuk
percobaan ini. Yakni Fase diam hal yang pertama-tama dilakukan mencampur 2
pelarut yakni pelarut etil dan methanol dengan perbandingan masing-masng 3 :
1 (etil 3 mL dan metanol 1 mL). selanjutnya dijenuhkan pelarut tersebut
dengan menggunakan kertas saring ataupun tissu tujuan dilakukan penjenuhan
adalah pelarut dijaga agar tidak mengalami pergeseran untuk mencegah
terjadinya ketidak jenuhan pelarut. Kondisi jenuh dalam chamber dengan uap
pelarut mencegah penguapan pelarut (Clark, 2007).
Selanjutnya pembuatan Fase Gerak yakni sampel yang digunakan
yakni jamu pegal linu dan Paracetamol. Hal yang pertama dilakukan adalah
menimbang masing-masing jamu dan Paracetamol sebanyak 0.05 gram pada
neraca analitik. Setelah itu hasil penimbangan tersebut dilarutkan kedalam 10
mL metanol alasannya karena Pelarut yang umumnya banyak digunakan untuk
spektroskopi UV adalah etanol 95 %, metanol, air, heksan dan eter. Alkohol
mutlak niaga harus dihindari karena mengandung benzen yang menyerap di
daerah UV pendek. Pelarut seperti kloroform harus dihindari karena menyerap
kuat di daerah 200 600 nm, tetapi sangat cocok untuk mengukur spektrum
pada sampel Paracetamol dan jamu pegal linu didaerah spektrum tampak.
Kemudian disiapkan eluen pada fase gerak , selanjutnya sampel yang
telah dilarutkan dengan metanol di totolkan pada batas lempeng KLT dengan
menggunakan pipa kapiler hal ini bertujuan Untuk memperoleh
roprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan. paling sedikit 0,5 l Jika
volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari 2-10 l, maka penotolan harus
dilakukan secara bertahap dengan dilakukan pengeringan antar totolan (Gandjar
& Rohman, 2007).
Lempeng kemudian diangin-anginkan sedikit. Lalu lempeng dimasukkan
ke dalam chamber yang berisi eluen (etil : metanol, 3:1) kemudian lempeng
KLT yang berada di dalam chamber dibiarkan terelusi oleh eluen hingga tanda
batas eluen. Bila lempeng KLT telah terelusi, maka lempeng KLT kemudian
diangkat dan dikeringkan. Proses berikutnya adalah visualisasi, dimana noda
pada lempeng KLT diamati dibawah lampu UV 254 nm dan 366 nm. Pada UV
254 nm, lempeng akan berflouresensi sedangkan sampel akan tampak berwarna
gelap.Penampakan noda pada lampu UV 254 nm adalah karena adanya daya
interaksi antara sinar UV dengan indikator fluoresensi yang terdapat pada
lempeng. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang
dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari
tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali ke
keadaan semula sambil melepaskan energi (David, 2001).
Pada UV 366 nm noda akan berflouresensi dan lempeng akan berwarna
gelap. Penampakan noda pada lampu UV 366 nm adalah karena adanya daya
interaksi antara sinar UV dengan gugus kromofor yang terikat oleh auksokrom
yang ada pada noda tersebut. Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi
cahaya yang dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang
tereksitasi dari tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi
kemudian kembali ke keadaan semula sambil melepaskan energi. Sehingga
noda yang tampak pada lampu UV 366 terlihat terang karena silika gel yang
digunakan tidak berfluororesensi pada sinar UV 366 nm (David, 2001).
Setelah dilakukan tahap visualisasi, noda yang telah terpisah kemudian
diukur nilai Rf nya. Lalu didapatkan hasil perhitungan nilai Rf yaitu untuk jamu
0,80 mm dan Paracetamol 0,85 mm. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan
bahwa jamu pegal linu yang diproduksi oleh PT. payung pustaka mandiri tidak
mengandung bahan sintetik seperti Paracetamol.
Adapun untuk kemungkinan kesalahan yang terjadi pada saat praktikum adalah
kesalahan pada saat melakukan penimbangan dan kurang teliti saat
menuangkan pelarut yang digunakan untuk perbandingan.
DAPUS

Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman., 2007,Kimia Farmasi Analisis, pustaka
pelajar, Yogyakarta

Clark, Jim. 2007. Pembuatan Ester. Ugm PRESS

Dirjen pom.1979. Farmakope Indonesia edisi III. Depkes RI.Jakarta

Soebagio., 2002, Kimia Analitik. Universitas Negeri Makassar Fakultas


MIPA. Makassar.

Rohman, A., 2009, Kromatografi Untuk Analisis Obat, Graha Ilmu,

Yogyakarta, 1-2, 5, 45, 53.

David, C. 2001. Gas Cromatography. Kogan Page. London.