Anda di halaman 1dari 8

PERBANDINGAN ANTARA KODE ETIK BERDASARKAN KONSEP HOMO

SPIRITUS DENGAN KODE ETIK IAI

Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi


yang Diampu oleh Bapak Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., M.EC., Ph.D.

Disusun Oleh:

1. Anas Isnaeni NIM 165020304111002


2. Didik Prasetiyo NIM 165020304111003

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
PERBANDINGAN ANTARA KODE ETIK BERDASARKAN KONSEP
HOMO SPIRITUS DENGAN KODE ETIK IAI

A. KODE ETIK IAI


Kode Etik Akuntan Profesional Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) merupakan
adopsi dari Handbook of the Code of Ethics for Professional Accountants 2016
Edition yang dikeluarkan oleh International Ethics Standards Board for Accountants
of The International Federation of Accountants (IESBA-IFAC). Dalam proses
penyusunannya, IAI melakukan koordinasi dengan Institut Akuntan Publik Indonesia
(IAPI) dan Institut Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI) sesuai Nota Kesepahaman
antara IAI, IAPI dan IAMI tentang Kerjasama Pengembangan Profesi Akuntan di
Indonesia. Tujuannya supaya terjadi sinergi antar organisasi profesi akuntan dan
menciptakan keseragaman ketentuan etika bagi seluruh akuntan di Indonesia.
Kode Etik ini terdiri atas tiga bagian yaitu: prinsip Dasar Etika (bagian A),
Akuntan Profesional di Praktik Publik (bagian B). Akuntan Profesional di Bisnis
(bagian C). Bagian A berisi prinsip dasar etika yaitu integritas, objektivitas,
kompetensi dan kehati-hatian profesional, kerahasiaan, dan perilaku profesional.
Bagian A juga memberikan suatu kerangka konseptual dalam mengidentifikasi dan
mengevaluasi ancaman terhadap prinsip dasar etika, serta menerapkan perlindungan
untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman sampai pada tingkat yang dapat
diterima. Bagian B menjelaskan bagaimana penerapan prinsip dasar etika di Bagian
A bagi Akuntan Profesional yang memberikan jasa profesional kepada publik
(praktik publik). Bagian C menjelaskan bagaimana penerapan prinsip dasar etika di
Bagian A bagi Akuntan Profesional di organisasi tempatnya bekerja (bisnis).
Pada bagian A, prinsip dasar etika yang harus dipegang oleh akuntan
profesional meliputi :
Integritas, yaitu bersikap lugas dan jujur dalam semua hubungan profesional dan
bisnis.
Objektivitas, yaitu tidak membiarkan bias, benturan kepentingan,atau pengaruh
yang tidak semestinya dari pihak lain, yang dapat mengesampingkan
pertimbangan profesional atau bisnis.
Kompetensi dan kehati-hatian profesional, yaitu menjaga pengetahuan dan
keahlian profesional pada tingkat yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa klien
atau pemberi kerja akan menerima jasa profesional yang kompeten berdasarkan
perkembangan praktik, peraturan, dan teknik mutakhir, serta bertindak sungguh-
sungguh dan sesuai dengan teknik dan standar profesional yang berlaku.
Kerahasiaan, yaitu menghormati kerahasiaan informasi yang diperoleh dari hasil
hubungan profesional dan bisnis dengan tidak mengungkapkan informasi tersebut
kepada pihak ketiga tanpa ada kewenangan yang jelas dan memadai, kecuali
terdapat suatu hak atau kewajiban hukum atau profesional untuk
mengungkapkannya, serta tidak menggunakan informasi tersebut untuk
keuntungan pribadi Akuntan Profesional atau pihak ketiga
Perilaku Profesional, yaitu mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku dan
menghindari perilaku apa pun yang mengurangi kepercayaan kepada profesi
Akuntan Profesional.
Bagian B dari Kode Etik IAI mengacu pada Bagian B dari Kode Etik Profesi
Akuntan Publik yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Profesional Akuntan Publik
dari Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP-IAPI) pada Oktober 2008. Jika tidak
diatur dalam Kode Etik Profesi Akuntan Publik, maka mengacu pada Part B dari
Handbook of the Code of Ethics for Professional Accountants 2016 Edition yang
dikeluarkan oleh International Ethics Standards Board for Accountants of The
International Federation of Accountants (IESBA-IFAC)
Sehubungan dengan bagian C yang membahas tentang Akuntan Profesional di
Bisnis, disebutkan dalam kode etik bahwa akuntan memiliki tanggung jawab untuk
mendukung organisasi tempatnya bekerja mencapai tujuannya. Kode etik ini tidak
dimaksudkan untuk menghalangi akuntan profesional di bisnis memenuhi tanggung
jawab tersebut, namun lebih bertujuan untuk menjelaskan keadaan yang dapat
mengurangikepatuhan pada prinsip dasar etika. Keadaan yang dijelaskan pada bagian
ini adalah benturan kepentingan, penyusunan dan pelaporan informasi, bertindak
dengan keahlian yang memadai; kepentingan keuangan, kompensasi, dan insentif
terkait dengan pelaporan keuangan dan pengambilan keputusan; bujukan; merespons
ketidakpatuhan pada hukum dan peraturan.

B. KODE ETIK BERDASARKAN KONSEP HOMO SPIRITUS


Beberapa penelitian terkini pada bidang etika telah mempelajari berbagai
faktor yang memengaruhi bagaimana seorang akuntan bertindak. Penilaian etika
adalah bagian dalam dari akuntan yang mengarahkan kepada keputusan untuk
diambilnya tindakan. Dalam melakukan tindakan etis, akuntan perlu melakukan
evaluasi mental atas alternatif yang tersedia. Dari tindakan yang dipilih akan
menunjukkan tingkat kualitas pelayanan profesional dari akuntan. Dalam prakteknya,
akuntan yang lebih senior mempunyai kapasitas lebih tinggi dalam menerapkan
tindakan etis daripada akuntan yang lebih junior karena pengaruh lingkungan yang
menjunjung tinggi etika dan membentuk secara positif pemahaman yang lebih baik
dari kode etik. Kode etik akuntan di Indonesia telah dibuat dengan berdasarkan
prinsip atau nilai yang diadopsi dari IFAC sebagai panduan untuk perilaku akuntan
yang profesional dan memastikan tindakan akuntan sesuai dengan prinsip atau nilai
tersebut. Walaupun begitu, kode etik ini memerlukan pembahasan lebih lanjut
mengenai aspek spiritualitas yang merupakan perhatian khusus tentang manusia dan
kehidupannya. Konsep spiritualitas akan mengantar manusia pada penyatuan dirinya
dengan Tuhan, sehngga akan tercipta tindakan-tindakan etis yang didasari oleh hati
nurani yang bersih dalam menilai dan memutuskan suatu tindakan.
Untuk memahami karakteristik alami dari manusia adalah hal yang penting
dalam pembahasan etika. Pada mulanya, banyak ilmuwan yang meneliti manusia
sebagai homo economicus. Dalam konsep ini, manusia dikenali sebagai individu
yang digerakkan oleh rasionalitas ekonomi dan ketertarikan atas kepentingan pribadi
(self-interest). Dengan ciri tersebut, manusia akan berusaha untuk memaksimalkan
utilitasnya untuk mendapatkan kesejahteraan/kemakmuran. Sehingga, inilah yang
kemudian menjadikan manusia lebih materialis, antisosial, tidak bermoral, rakus, dan
tidak heroik. Ilmu ekonomi modern banyak yang mengasumsikan manusia seperti ini
dalam bahasannya.
Pada teori lain, manusia dikenal sebagai homo sociologicus yang lebih
mengetengahkan tentang perhatian pada lingkungan sosial, kebutuhan psikologis
manusia, dan adanya barang publik. Manusia tidak lagi memperhatikan dirinya
sendiri, tetapi lebih dari itu. Manusia juga sangat memperhatikan pada kelompok
sesamanya dia berada. Dari homo ecomonicus dan homo sociologicus, terdapat
homo spiritus. Konsep ini mengenalkan tentang spiritualitas manusia dengan Tuhan.
Homo spiritus memiliki empat elemen metafisik, yaitu keinginan, intelek, perasaan,
dan hati nurani. Manusia perlu menyelaraskan dan membersihkan seluruh sifat jahat
yang ada pada dirinya pada setiap elemen tersebut hingga mencapai pada
kebersatuan dengan Tuhan. Kebersatuan dengan Tuhan inilah yang mengantarkan
pada tindakan etis dari seorang manusia.
Berangkat dari konsep manusia sebagai homo spiritus, kode etik akuntan perlu
dilakukan desain ulang. Desain tersebut bersifat menambahkan dari kode etik yang
sudah ada. Kode etik dari asosiasi profesi yang sekarang ini beredar hanya mencakup
elemen keinginan dan intelektualitas berdasarkan kesadaran rasional, belum
menyentuh pada perasaan dan hati nurani. Kode etik yang mengusung homo spiritus
akan melengkapi kode etik yang sudah ada dengan memasukkan ketulusan dan cinta
sebagai nilai yang perlu diperhatikan dalam elemen perasaan. Sedangkan, untuk
elemen hati nurani, yang menjadi perhatian adalah kehendak Ilahi.
Untuk dapat membentuk akuntan yang sempurna dengan pemahaman etika
yang mumpuni, cara yang dapat dilakukan adalah dengan sertifikasi akuntan di
bidang etika. Sertifikasi akuntan memiliki pengaruh terhadap perilaku manusia.
Adanya sertifikasi membuat calon akuntan harus mempelajari mengenai keahlian
spesifik yang dibutuhkan dalam bekerja. Dengan menggunakan logika, akuntan
profesional akan dilatih untuk bersikap etis serta mengembangkan kesadaran
rasional, kesadaran psiko-spiritual, dan kesadaran ilahi melalui sertifikasi.
Manusia sempurna (homo spiritus atau insan kamil) adalah orang yang
memiliki kehendak Ilahi. Kehendak Ilahi merupakan kesadaran holistik yang
disosialisasikan dengan mematuhi kehendak Tuhan berdasarkan hati nurani (God-
spot) (tidak didasarkan pada ego manusia). Diperolehnya kehendak Ilahi menjadi
pencapaian tertinggi manusia dalam homo spiritus. Dengan menggunakan model
homo spiritus, prinsip kode etik didesain ulang dan diperluas untuk mencakup
integritas, objektivitas, profesional. kompetensi dan kehati-hatian, kerahasiaan,
perilaku profesional, ketulusan, cinta, dan kehendak ilahi. Prinsip-prinsip ini
memiliki fungsi untuk bergerak secara dinamis membentuk kesadaran seorang
akuntan profesional dari kesadaran rasional menuju kesadaran psiko-spiritual dan
kesadaran ilahi. Dengan menggunakan pendekatan eksternal modern, gerakan
tersebut bisa ditumbuhkan dengan menggunakan sertifikasi. Pencapaian kesadaran
ilahi adalah kunci untuk membangunkan hati nurani di dalam sebagai kualitas
akuntan etis.

C. PERBANDINGAN ANTARA KODE ETIK BERDASARKAN KONSEP


HOMO SPIRITUS DENGAN KODE ETIK IAI
1. Kekuatan dan Kelemahan Kode Etik Berdasarkan Konsep Homo Spiritus
a. Kekuatan :
Lebih bersifat universal
Kode etik yang disempurnakan dengan landasan konsep homo spiritus
mempunyai nilai kebenaran yang tidak terbatas ruang dan waktu di seluruh
jagat raya. Hal ini akan memberikan nilai yang sama atas kebenaran etika
tersebut pada berbagai dimensi waktu dan tempat yang berbeda.
Memiliki cakupan ruang lingkup yang luas
Ruang lingkup dari konsep etika berdasarkan homo spiritus yaitu etika tidak
hanya terkait hubungan antar manusia saja, melainkan juga hubungan
manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan.
Jika dibandingkan dengan kode etik yang dibuat oleh asosiasi profesi seperti
IAI atau IFAC, pembahasan kode etik dibatasi pada hubungan manusia
dengan manusia yang itu pun masih sangat dipersempit lagi pada bahasan
mengenai hubungan bisnis.
Memiliki derajat kebenaran yang lebih tinggi
Dengan meyakini bahwa kebenaran yang bersumber langsung dari Tuhan,
konsep etika berdasarkan homo spiritus lebih unggul. Penilaian etika tidak
hanya berasal dari nafsu dan pikiran manusia yang lebih bersifat
rasionalistis dan self-interest (ego), tetapi menggunakan hati nurani yang
telah bersih dan menyatu dengan nilai-nilai Ilahi.
Digunakannya keberadaan ruh sebagai God Spot
God Spot (titik Tuhan) ada pada setiap diri manusia. Titik ini berfungsi
sebagai antena yang menghubungkan kepada Tuhan, sehingga di dalam
setiap melangkah dan menghaapi persoalan, akuntan dapat meminta
petunjuk dan bantuan dari Tuhan yang akan dapat menghasilkan suatu
tindakan seseorang yang lebih memiliki manfaat bagi semuanya dirinya
sendiri, orang lain dan alam sekitar.
Tidak perlu dilakukannya pembaruan kode etik
Dengan sifatnya yang universal, konsep homo spiritus yang dipakai dalam
penentuan kode etik akan membuat kode etik yang telah disusun akan
berlaku selamanya. Nilai spiritualitas yang diusung dalam konsep ini akan
memberikan petunjuk kepada akuntan mengenai tindakan etis apa yang
harus dilakukan walaupun belum dibahas secara rinci dalam kode etik. Kode
etik menjadi sarana yang menjadi acuan serta metode bagi akuntan untuk
mengambil keputusan bertindak dalam perkembangan kasus yang dinamis
di masa mendatang.
b. Kelemahan :
Penyusunan naskah kode etik yang lebih sulit
Konsep homo spiritus lebih sulit untuk dituangkan dalam bentuk standar
atau aturan tertulis karena termasuk dalam ranah pembahasan yang abstrak
dan subjektif. Dalam hal ini juga, kode etik dituntut untuk dapat melibatkan
ketajaman ruh yang berbeda-beda dari setiap manusia. Untuk menyesuaikan
dan menyeragamkan hal tersebut membutuhkan pemahaman yang
kompleks.
Pelatihan spiritualitas/sertifikasi akan sangat sulit dilakukan untuk memandu
pemahaman kode etik.
Agar akuntan dapat menuju dan bergerak melakukan tindakan etis pada
konsep homo spiritus memerlukan pelatihan intensif. Jika tidak didampingi
dengan pendamping yang sudah lebih tinggi ilmunya atau lebih memiliki
hati/ruh yang bersih, pencapaian spiritualitas menuju kebersihan penyatuan
dengan Tuhan akan sulit dilakukan.
Sulit dilakukan sanksi atau pengawasan.
Spiritualitas yang diusung pada konsep homo spiritus merupakan konsep
yang membutuhkan penjabaran kompleks untuk menjadi konsep konkrit.
Dengan bahasan yang menyangkut hubungan dengan Tuhan, kode etik yang
dibentuk dari konsep homo spiritus perlu mengkonkritkan langkah-langkah
pengawasan atau penerapan sanksi dan hal tersebut sulit dilakukan.
Akuntansi mempunyai hubungan yang erat dengan materialistik.
Tema utama yang dibahas pada akuntansi adalah terkait dengan uang yang
terwujud dalam keuntungan. Hal ini kental kaitannya dengan aspek
keduniaan yang bertolak belakang dengan spiritualitas. Keeratan tema pada
akuntansi akan menyulitkan akuntan untuk mendapatkan pikiran dan hati
yang murni (pure).
Etika ini sangat terkait dengan nilai-nilai agama.
Kadar keimananan dan ketakwaan seseorang sangat berbeda-beda. Dalam
tujuan menuju spiritualitas menyatu dengan Tuhan akan sangat dipengaruhi
bagaimana pemahaman agama mereka masing-masing. Nilai-nilai agama
tersebut akan menyebabkan etika menjadi sulit untuk diterapkan karena
banyaknya perbedaan agama.
2. Kekuatan dan Kelemahan Kode Etik IAI
a. Kekuatan
Kode etik memiliki ruang lingkup yang jelas.
Kode etik yang disusun IAI untuk akuntan telah memiliki ruang lingkup
yang jelas dengan landasan pada prinsip dasar etika yaitu : kepentingan
publik, integritas, objektivitas, kompetensi dan kehati-hatian professional,
kerahasiaan, perilaku professional, dan standar teknis.
Mudah dirumuskan dalam bentuk tertulis dan dilegalkan dalam aturan.
Karena memiliki ruang lingkup yang jelas, kode etik IAI dapat dengan
lebih mudah untuk dirumuskan sehingga lebih cepat dilegalkan dalam
bentuk pedoman atau aturan yang dapat diterapkan dalam suatu komunitas
tertentu dan lingkungan tertentu.
Pengawasan mudah dilakukan atas tindakan dari para anggotanya.
Karena standar ini dirumuskan dalam aturan atau pedoman, pengawasan
terhadap para akuntan dapat dengan mudah dilakukan. Sanksi dapat
diberikan dengan jelas sesuai bobot dampak tindakan orang tersebut.
Memudahkan setiap individu untuk memahami atas kode etik yang ada.
Dengan dapat dirumuskannya dalam bentuk aturan dan pedoman sehingga
seseorang lebih mudah untuk memahami dan memedomani etika tersebut,
dan juga terdapat keseragaman tingkat dan standar etika bagi semua
anggota.
Kode etik IAI mempunyai keseragaman dengan kode etik akuntan yang
berlaku secara internasional.
IAI membuat kode etik dengan adopsi dari International Ethics Standards
Board for Accountants of The International Federation of Accountants
(IESBA-IFAC). Untuk akuntan yang bekerja secara transnasional,
penyesuaian dengan lingkungan bisnis internasional akan lebih mudah
dilakukan karena mengusung nilai-nilai yang serupa.
b. Kelemahan
Ukuran kebenaran etika tersebut hanya didasarkan pada nilai kebenaran
rasionalitas dan materialistis.
Dalam standar tersebut hanya menggunakan nilai-nilai kebenaran duniawi
yang bahkan sebagai besar erat kaitanya dengan sifat materialistis
manusia.
Tidak mengakomodasi perbedaan nilai kebenaran di suatu tempat dengan
tempat yang lain.
Adanya kemungkinan bahwa nilai etika yang dijunjung dan dianut oleh
sekelompok dan di wilayah tertentu tersebut tidak sejalan atau bahkan
malah bertentangan dengan nilai-nilai etika di tempat lain.
Tidak diperhatikannya hubungan manusia dengan lingkungan.
Dalam konsep homo spiritus, manusia tidak akan seimbang jika hanya
memperhatikan hubungan dengan sesama manusia. Pada kenyataannya,
bahwa tindakan para akuntan secara langsung seringkali memiliki dampak
dan berkaitan dengan alam sekitar.
Dibutuhkannya pembaruan kode etik menyesuaikan perkembangan terkini.
Kode etik yang dibentuk oleh asosiasi profesi dengan nilai-nilai
rasionalitas pada masa tertentu akan mudah berubah karena perkembangan
dinamis kehidupan manusia. Hal ini memunculkan masalah relevansi jika
kode etik tidak diperbarui menyesuaikan dengan keadaan dan
permasalahan terkini.
Kode etik tidak dapat menjadi rujukan untuk kasus etika terkini yang
belum dibahas dalam kode etik.
Keterbatasan pembahasan yang tertuang pada naskah tekstual kode etik
membuat keterbatasan lingkup penyelesaian permasalahan etika. Masalah
etika akan terus berkembang mengikuti kompleksnya hubungan manusia
di masa mendatang. Untuk dapat menindaklanjuti permasalahan etika, jika
tidak ada rujukan yang ada pada teks kode etik yang tersedia, maka
masalah tersebut menjadi sulit untuk diatasi. Dibutuhkan pembahasan
secara komprehensif untuk penanganan masalah dan kemudian perbaikan
atas kode etik yang sudah ada.

D. KESIMPULAN
Kode etik yang disusun oleh asosiasi profesi saat ini masih memiliki
kekurangan dengan membatasi bahasan terkait peran manusia sebagai homo
economicus dan dibentuk dengan kesadaran rasional semata. Konsep homo spiritus
diperlukan untuk dapat menyesuaikan kode etik menjadi lebih sempurna dan
mencakup bahasan tentang spiritualitas yang mengantarkan manusia pada tindakan
etis. Walaupun begitu, kode etik yang dibentuk dengan berdasarkan konsep homo
spiritus mempunyai kelemahan yang menjadikannya sulit untuk diterapkan. Konsepsi
yang masih abstrak dan diperlukannya penyeragaman untuk semua kalangan akan
menjadikan kode etik sulit dibuat untuk mengakomodasi penyatuan manusia dengan
Tuhan sebagaimana yang diharapkan dari konsep ini. Oleh karena itu, selain
diperlukannya penyempurnaan kode etik dengan memasukkan elemen perasaan dan
hati nurani, sertifikasi/pelatihan yang dilakukan memerlukan penjabaran yang
spesifik dan komprehensif sehingga terbentuk akuntan profesional yang bertindak
etis.
DAFTAR PUSTAKA

Ikatan Akuntan Indonesia. 2016. Kode Etik Akuntan Profesional. Jakarta : Komite Etika
Ikatan Akuntan Indonesia.

International Ethics Standards Board for Accountants of The International Federation of


Accountants (IESBA-IFAC). 2016. Handbook of the Code of Ethics for Professional
Accountants 2016 Edition. IESBA IFAC

Triyuwono, Iwan. 2015. Awakening The Conscience Inside: The Spirituality Of Code Of
Ethics For Professional Accountants. Procedia Social and Behavioral Science 172
(2015) 254 261.