Anda di halaman 1dari 7

ISU ETIKA DALAM PRAKTIK AKUNTANSI MANAJEMEN

Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Etika Bisnis dan Profesi


yang Diampu oleh Bapak Prof. Iwan Triyuwono, S.E., Ak., M.EC., Ph.D.

Disusun Oleh:

1. Anas Isnaeni NIM 165020304111002


2. Didik Prasetiyo NIM 165020304111003

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
ISU ETIKA DALAM PRAKTIK AKUNTANSI MANAJEMEN

A. ISU ETIKA DALAM PRAKTIK AKUNTANSI MANAJEMEN


Etika telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, khususnya
terkait dengan hubungan bisnis maupun personal. Etika dan integritas menjadi hal
yang paling relevan untuk penanganan kasus ilegal dan tidak etis dalam bisnis.
Untuk memberikan penanganan yang tepat, dalam lingkungan bisnis perlu
dibentuk sistem integral dengan memberdayakan profesi akuntan di dalamnya.
Akuntansi adalah suatu set teori, praktik, dan prosedur untuk
mengumpulkan dan menyajikan informasi berguna tentang aktivitas dan tujuan
organisasi. Dengan demikian, akuntansi diharapkan dapat menjadi berguna
dengan informasi yang akurat, lengkap, dan tepat waktu. Kegunaan akuntansi juga
berhubungan dengan reliabilitas yang membutuhkan etika sebagai panduan dan
integritas yang harus ada dalam proses akuntansi dan penerapan standar
akuntansi.
Untuk memastikan etika mendapatkan perhatian yang penuh dalam
organisasi, hal ini dimulai dari puncak manajemen. Dari puncak manajemen yang
memperhatikan penegakan etika dalam organisasi, maka akan menyebar dalam
seluruh bagian organisasi dan membuat reputasi organisasi terjaga dengan baik.
Hal ini akan membuat dampak strategi yang positif bagi organisasi di dalam
bisnis.
Perusahaan Ford dalam memperhatikan isu etika dalam lingkungan
bisnisnya memegang prinsip orientasi pengendalian (control-oriented) untuk
menghindari persepsi dari penyalahgunaan praktik bisnis. Agar internal
perusahaan memahami dan mengaplikasikan prinsip ini, dibuat kode etik
perusahaan yang menjadi panduan semua karyawan dalam aktivitas internal
maupun di luar perusahaan. Selain itu juga, terdapat komite audit yang
bertanggungjawab untuk memastikan manajamen telah melaksanakan tugasnya
dalam hal keuangan dengan sesuai. Kebijakan tertulis juga diperlukan untuk
memandu jalannya kegiatan bisnis dalam bentuk petunjuk teknis.Dalam
memastikan etika juga berjalan dalam kegiatan bisnisnya, Ford juga menggunakan
jasa akuntan internal dan eksternal untuk melakukan telaah kepatuhan atas
kebijakan yang ditetapkan dan monitoring integritas akuntansi serta pengendalian
internal. Semua itu dilakukan dengan baik oleh Ford, tetapi tidak akan berjalan
dengan kesadaran personal yang melakukannya. Oleh karena itu, Ford sangat
menekankan seleksi pada karyawannya dengan menguji kesadarannya, integritas,
dan komitmen terhadap organisasi.
Dari cerita di atas, dapat disimpulkan bahwa lingkungan yang baik sangat
mendukung penerapan tingkah laku yang etis dan diperlukannya prosedur serta
kebijakan untuk dapat memandu pada situasi tertentu. Permasalahan dalam isu
etika yang dihadapi dalam manajemen (khususnya akuntan yang bergerak dalam
akuntansi manajemen) dapat dikategorikan dalam situasi sebagai berikut :
1. Penerapan etika dalam proses pengambilan keputusan
Dalam kaitannya dengan manajemen, akuntan akan sering berhadapan
dengan proses pengambilan keputusan yang membutuhkan informasi yang
benar-benar diperlukan dan tepat menurut transaksi-transaksi yang ada pada
laporan keuangan. Dengan demikian, akuntan harus dapat menentukan mana
transaksi yang dapat direkam, harus dapat menentukan apakah transaksi itu
merupakan biaya atau kapitalisasi, dan juga penentuan transaksi akrual yang
tepat dengan memperhatikan informasi yang ada.
2. Penerapan etika dalam implementasi tindakan efisiensi
Kemajuan teknologi telah membuat proses akuntansi semakin mudah dalam
prosedur dan pengendalian, semakin dapat diautomatisasi, dan dilakukan
konsolidasi secara bertahap. Hal ini membuat peran akuntansi berubah dan
mempunyai dampak dalam hal etika. Tanggung jawab integritas data dan
kebutuhan untuk melaporkan informasi yang berguna tidak dapat dihilangkan
dalam peran akuntan. Walaupun sistem mengalami perubahan, akuntan harus
dapat memastikan dalam semua proses telah ditinjau berjalan sesuai dengan
persyaratan yang ditentukan.
3. Penerapan etika dalam proses evaluasi dan penyesuaian standar akuntansi
yang baru
Pokok persoalan yang menjadi sangat kontroversial sekarang ini adalah
penerapan standar akuntansi yang baru. Standar sering dikritik terlalu
konseptual dan tidak responsif terhadap usulan perbaikan. Adanya standar
akuntansi tidak terlalu mempunyai pengaruh dengan penerapan etika. Namun,
etika tetap dibutuhkan dalam memastikan tindakan akuntan dalam
memberikan informasi yang berguna dan berarti sudah sesuai dengan
tanggung jawab, objektivitas, dan menghindari mengutamakan kepentingan
pribadi dalam hal menyusun laporan keuangan.
4. Penerapan etika dalam tekanan pihak luat untuk memperbaiki integritas
dalam penyusunan laporan keuangan
Dalam manajemen organisasi, akuntan sering berurusan dengan pemerintah,
undang-undang, dan standar audit. Dengan memperhatikan kejadian
kegagalan bisnis yang ada, pemerintah telah membuat rekomendasi untuk
memperkuat prosedur audit dan meningkatkan pelaporan dan tanggung jawab
oleh perusahaan. Selain itu juga, dalam aturan yang terbaru juga harus
memasukkan tanggung jawab keuangan dari manajemen dalam laporan
tahunan. Perusahaan juga diminta untuk dapat menerapkan pengendalian
internal yang baik sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Hal-hal
tersebut adalah contoh dari tekanan pihak luar manajemen untuk
memperbaiki integritas dalam penyusunan laporan keuangan.

B. STUDI KASUS : Kasus Transfer Pricing PT. Adoro Indonesia

Adanya kasus transfer pricing antara PT. Adaro Indonesia dengan anak
perusahaanya yaitu Coaltrade services International Pte Ltd, telah menunjukan
bahwa adanya indikasi penyalahgunaan sistem harga transfer yang dilakukan oleh
perusahaan tersebut. Sistem harga transfer sejatinya merupakan suatu harga jual
khusus yang dipakai dalam pertukaran antar divisional untuk mencatat pendapatan
divisi penjual (selling division) dan biaya divisi pembeli (buying divison) (Henry
Simamora, 1999:272) serta terkadang digunakan untuk mengevaluasi kinerja divisi
dan memotivasi manajer divisi penjual dan divisi pembeli menuju keputusan-
keputusan yang serasi dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan. (Joshua Ronen
and George McKinney, 1970:100-101). Namun praktik yang dilakukan oleh
perusahaan, khususnya perusahaan multinasional sering tidak sesuai dengan apa
yang seharusnya mereka lakukan atau tidak sesuai dengan mekanisme sistem harga
transfer yang sesungguhnya. Dimana perusahaan melakukan praktik transfer pricing
ini hanya untuk menghindari pungutan pajak dalam negeri supaya penghasilan
perusahaan atau pemegang saham menjadi lebih tinggi. Menurut Zain (2003:297-
298), kebijakan transfer pricing multinasional bertujuan:

1. Memaksimalkan penghasilan global


2. Mengamankan posisi kompetitif anak/cabang perusahaan dan penetrasi pasar
3. Evaluasi kenerja anak/cabang perusahaan manca negera
4. Mengamankan cash flow anak/cabang di luar negeri

Menurut teori diatas seharusnya transfer pricing dilakukan untuk tujuan


perusahaan Namun dalam kasus Adaro ini praktik transfer pricingnya dilakukan
untuk memfasilitasi para pemegang saham untuk mendapatkan keuntungan sebesar
besarnya, bukan untuk memfasilitasi perusahaan mendapatkan keuntungan. Ketika
para individu atau pemegang saham ini hanya memfokuskan pada keuntungan
individu tanpa memperhatikan keuntungan perusahaan, maka tujuan dari
dilaksanakanya sistem harga transfer inipun menjadi tidak bisa dicapai serta sistem
harga transfer yang dijalankan pun menjadi disfungsional.

Kronologi Kasus:

Tujuh tahun silam, Adaro melakukan perjanjian dengan Coaltrade Services


International Pte Ltd, sebuah perusahaan kertas (paper company) di Singapura.
Perjanjian itu menyatakan bahwa Adaro menjual batubara per tahun dengan harga
tertentu, di bawah harga yang berlaku di pasar. Coaltrade lalu menjualnya dengan
harga internasional. Yang dijual bukan sembarang batubara, melainkan batubara
bermutu tinggi.

Pada tahun 2005, Adaro menjual batubara ke perusahaan Coaltrade dari


Singapura sebesar US$26 per ton, sementara harga pasar US$48 per ton. Sedangkan
pada 2006, Adaro menjual batubara ke Coaltrade US$29 per ton, sementara harga
internasional mencapai US$40 per ton. Dengan volume penjualan 2005 mencapai 26
juta ton lebih dan 2006 mencapai 34 juta ton, terdapat selisih antara harga jual ke
Coaltrade dan harga jual internasional masing-masing US$589,9 juta (Rp5,8 triliun
dengan kurs rata-rata 2005 sebesar Rp9.800/US$) tahun 2005 dan US$363,1 juta
(Rp3,3 triliun dengan kurs rata-rata 2006 Rp9.096/US$) tahun 2006.

Jika dihitung berdasarkan harga pasar, total pendapatan pada 2005 mestinya
berjumlah US$ 1,287 miliar dan 2006 US$ 1,371 miliar. Berarti, ada selisih
penjualan Adaro dengan penjualan berdasarkan harga pasar. Jika dirupiahkan
mencapai Rp 9,121 triliun. Belum lagi kerugian negara dari potensi royalti 13,5%
yang nilai berkisar Rp 1,231 triliun.

Akibat transfer pricing yang terjadi pada tahun 2005-2006 lalu diperkirakan
ada Rp 9 triliun dari hasil penjualan yang disembunyikan. Sehingga kerugian negara
terkait pajak dan royalti diperkirakan mencapai Rp 4-5 triliun. Royalti adalah nilai
yang harus dibayar sesuai harga jual. Adanya dugaan transfer pricing yang
memperkecil nilai jual mengakibatkan royalti yang harus dibayarkan otomatis juga
turun.

Dampak Transfer Pricing:

Praktik penghindaran pajak yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan


dalam negeri memalaui transaksi yang tidak wajar (non arms length price)
misalanya seperti yang dilakukan PT Adaro Indonesia telah memberikan efek
negative bagi negara Indonesia, yaitu diantaranya:

1. karena apabila dibiarkan secara terus menerus akan menyebabkan negara


menderita kehilangan pendapatan pajak dengan jumlah yang cukup
signifikan.
2. Dari berkurangnya pendapatan pajak itu sendiri saja sudah akan memberikan
dampak bagi pertumbuhan ekonomi negara Indonesia,
3. Belum lagi dampak-dampak tidak langsung yang kemudian muncul seperti:
- berkurangnya dana untuk pelayanan masyarakat,
- berkurangnya dana bantuan/ subsidi dari pemerintah.
- kerusakan alam yang tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh
bagi masyarakat dan negara

Saran Pencegahan:

1. Pembuatan Peraturan terkait transfer Pricing dan Standar Harga yang jelas.
Dalam kasus PT adaro Indonesia sebenarnya Indonesia telah memiliki aturan
UU perpajakan yang berlaku di indonesia. Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-
Undang Perpajakan No. 11 Tentang Pajak Pertambahan Nilai mengatur tentang
transaksi yang berhubungan dengan transfer pricing. Pasal ini berbunyi : Dalam
hal harga jual atau penggantian dipengaruhi oleh hubungan istimewa, maka harga
jual atau penggantian dihitung atas dasar harga pasar wajar pada saat penyerahan
Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak itu dilakukan. Namun karena Tidak
adanya standar harga menyebabkan sulit menentukan apakah harga yang
diberlakukan di bawah standar atau tidak.

2. Menumbuhkan dan membangun kesadaran perusahaan-perusahaan akan cinta


terhadap lingkungan dan masyarakat.
Hal ini bisa dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran bahwa dengan terjaga dan
terawatnya lingkungan dan masyarakat itu sendiri juga merupakan langkah kita dalam
menjaga dan merawat keberlangsungan hidup perusahaan.

3. Dan yang paling penting dari segalanya adalah memambangun manusiannya agar
dapat memiliki niliai-nilai etika yang lebih tinggi.
Membangun kesadaran etika pada diri setiap manusia bahwa etika yang benar dan
baik tidak hanya didasarkan oleh penilaian akal dan pikiran akan tetapi lebih jauh lagi
adalah didasarkan oleh hati (cinta dan kasih sayang) dan juga roh (keinginan Tuhan).
C. KESIMPULAN
Terdapat banyak permasalahan yang dihadapi oleh akuntan dalam
mengelola manajemen di suatu perusahaan. Beberapa masalah tampak jelas dalam
laporan keuangan, sedangkan yang lain terkait dengan tanggung jawab
profesional akuntan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan mereka dalam
perusahaan. Standar etika yang tertuang dalam kode etik belum dapat memastikan
secara pasti mengenai tindakan manakah yang benar atau salah bagi akuntan pada
hal yang masih dianggap abu-abu. Keadaan ideal yang diharapkan dalam standar
etika tidak selalu sama dengan kenyataan yang menyebabkan sulitnya solusi yang
tepat untuk suatu masalah etika. Untuk situasi yang dilematis bagi akuntan,
akuntan harus tetap memeriksa secara hati-hati agar dapat mengidentifikasi serta
mengevaluasi benturan kepentingan yang terjadi. Selain itu juga, akuntan tidak
dapat menghadapi persoalan etika sendirian, dibutuhkan lingkungan yang baik
untuk mendukungnya dan memastikan bahwa hanya tindakan etislah yang
diterima dalam budaya organisasi.
DAFTAR PUSTAKA

Albrecht, W. Steve, 1992. Ethical Issues in The Practice of Accounting. South Western
Publishing Co.

Bachtiar, Emil. 2002. Kasus-kasus Etika Bisnis dan Profesi. Jakarta : Penerbit Salemba
Empat