Anda di halaman 1dari 24

BAB II

PEMBAHASAN

A. Model Pembelajaran Terpadu


1. Pengertian Model Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan dari beberapa aspek baik
dalam intra mata pelajaran maupun dalam antar mata pelajaran.
Pembelajaran terpadu sebagai konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan
belajar nmengajar yang melibatkan beberapa bidang studi untuk
memberikan pengalaman yang bermakna pada siswa, jika dibandingkan
dengan pendekatan konvensional, pembelajaran terpadu tampaknya lebih
menekankan keterlibatan siswa dalam belajar, membuat siswa lebih aktif
terlibat dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan. Sejalan
dengan pendapat dari beberapa orang pakar pembelajaran terpadu diantara
nya:
a. Menurut Prabowo (2000, hlm. 2) dalam Aditya (2016), pembelajaran
terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan
beberapa bidang studi, pendekatan belajar mengajar seperti ini diharap
akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak
didik kita. Arti bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran
terpadu diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap
konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung
dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka
pahami.
b. Menurut Subroto, dkk (2004, hlm. 19) dalam Aditya (2016),
menyatakan bahwa pembelajaran terpadu merupakan pembelajaran
yang diawali dari suatu pokok bahasan atau tema tertentu yang
dikaitkan dengan pokok-pokok bahasan lain, konsep tertentu dikaitkan
dengan konsep lain, yang dilakukan secara spontan maupun secara
terencana baik dalam satu bidang studi atau lebih dan dengan
pengalaman belajar siswa, maka pembelajaran terpadu lebih
bermakna.

3
4

Dari pendapat diatas terlihat nyata bahwa yang dimaksud dengan


pembelajaran terpadu adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian yang dikaitkan
dengan pokok-pokok bahasan lain, konsep tertentu dengan konsep yang
lain yang direncanakan dalam satu bidang studi atau lebih dengan harapan
siswa belajar dengan lebih baik dan bermakna.
2. Karakteristik Pembelajaran Terpadu
Sebagai suatu proses, pembelajaran terpadu memiliki karakterisik sebagai
berikut :
a. Pembelajaran Berpusat Pada Anak
Pembelajaran terpadu dikatakan sebagai pembelajaran yang
berpusat pada anak, karena pada dasarnya pembelajaran terpadu
merupakan suatu sistem pembelajaran yang memberikan keleluasaan
pada siswa, baik secara individu maupun kelompok. Siswa dapat
aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep, serta prinsip-
prinsip dari suatu pengetahuan yang harus dikuasainya sesuai dengan
perkembangannya.
b. Menekankan Pembentukan Pemahaman dan Kebermaknaan
Pembelajaran terpadu mengkaji suatu fenomena dari berbagai
macam aspek yang membentuk semacam jalinan antar skemata yang
dimiliki siswa, sehingga akan berdampak pada kebermaknaan dari
materi yang dipelajari siswa. Hasil yang nyata didapat dari segala
konsep yang diperoleh dan keterkaitannya dengan konsep-konsep
lain yang dipelajari dan mengakibatkan kegiatan belajar menjadi
lebih bermakna. Hal ini diharapkan akan berakibat pada kemampuan
siswa untuk dapat menerapkan perolehan belajarnya pada
pemecahan masalah-masalah yang nyata dalam kehidupannya.
c. Belajar Melalui Pengalaman Langsung
Pada pembelajaran terpadu diprogramkan untuk melibatkan
siswa secara langsung pada konsep dan prinsip yang dipelajari dan
memungkinkan siswa belajar dengan melakukan kegiatan secara
langsung. Sehingga siswa akan memahami hasil belajarnya sesuai
5

dengan fakta dan peristiwa yang mereka alami, bukan sekedar


informasi dari gurunya. Guru lebih banyak bertindak sebagai
fasilitator dan katalisator yang membimbing ke arah tujuan yang
ingin dicapai. Sedangkan siswa sebagai aktor pencari fakta dan
informasi untuk mengembangkan informasinya.
d. Lebih Memperhatikan Proses Daripada Hasil Semata
Pada pembelajaran terpadu dikembangkan pendekatan discovery
inquiry (penemuan terbimbing) yang melibatkan siswa secara aktif
dalam proses pembelajaran yaitu mulai dari perencanaan,
pelaksanaan sampai proses evaluasi. Pembelajaran terpadu
dilaksanakan dengan melihat hasrat, minat, dan kemampuan siswa,
sehingga memungkinkan siswa termotivasi untuk belajar terus-
menerus.
e. Sarat dengan Muatan Keterkaitan
Pembelajaran terpadu memusatkan perhatian pada pengamatan
dan pengkajian suatu gejala atau peristiwa dari beberapa mata
pelajaran sekaligus, tidak dari sudut pandang yang terkotak-kotak.
Sehingga memungkinkan siswa untuk memahami suatu fenomena.
3. Konsep Pembelajaran Terpadu dalam IPS
Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan
pendekatan indisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya
merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik
secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan
menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik
(DEPDIKBUD, 1996, hlm.3 dalam Muslikh, 2011). Salah satu diantaranya
adalah memadukan kompetensi dasar melalui pembelajaran terpadu siswa
dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah
kekuatan untuk menerima, menyimpan dan memproduksi kesan-kesan
tentang hal- hal yang dipelajarinya. Pada pendekatan pembelajaran yang
terpadu, program pembelajaran disusun dari berbagai cabang ilmu dalam
rumpun ilmu sosial. Pengembangan pembelajaran terpadu dalam hal ini
dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian
6

dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang


ilmu yang lain. Topik/tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan
permasalahan yang berkembang.
a. Model Integrasi Berdasarkan Topik
Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan
berdasarkan topik yang terkait misalnya Pariwisata. Pariwisata
dalam contoh yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin
ilmu yang tercakup dalam ilmu pengetahuan sosial. pengembangan
pariwisata dalam hal ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisik
geografis yang tercakup dalam disiplin Geografi. Secara sosiologis,
pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi masyarakat,
pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat, dan interaksi
antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara historis dapat
dikembangkan melalui sejarah daerah wisata tersebut. Keadaan
politik juga dapat dikaji pula pada topik pengembangan pariwisata
berkaitan dengan pengaruhnya terhadap perkembangan pariwiata.
Selanjutnya dampak pariwisata terhadap perkembangan ekonomi
lokal maupun nasional dapat dikembangkan melalui kompetensi
yang berkaitan dengan ekonomi.
b. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang
didasarkan pada potensi utama yang ada di wilayah setempat,
sebagai contoh Potensi Bali sebagai Daerah Tujuan Wisata Dalam
pembelajaran yang dikembangkan dalam kebudayaan Bali dikaji dan
ditinjau dari faktor alam, sosial/antropologis ,historis, kronologis dan
kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian
potensi utama yang terdapat di daerahnya, maka siswa selain dapat
memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami kompetensi
dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam
ilmu pengetahuan sosial.
7

c. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan


Model pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah
berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah Pemukiman
Kumuh. Pada pembelajaran terpadu, pemukiman kumuh ditinjau
dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Diantaranya
adalah faktor ekonomi, sosial dan budaya, juga dapat dari faktor
kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap
aturan/norma.
4. Model-Model Pembelajaran Terpadu dalam IPS
a. Model Webbed (Jaring Laba-Laba)
Model Webbed adalah model pembelajaran terpadu yang
menggunakan pendekatan tematik. Pendekatan ini pengembangannya
dimulai dengan menentukan tema tertentu. Tema dapat ditentukan
dengan negosiasi antara guru dengan siswa dan dapat pula dengan
diskusi sesama guru. Setelah tema disepakati kemudian dikembangkan
sub-sub tema dengan memperhatikan kaitan dengan bidang-bidang
studi yang lain.
Kelebihan dari model jaring laba-laba (webbed) ini antara lain: (a)
penyeleseksian tema sesuai dengan minat akan memotivasi anak untuk
belajar; (b) lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum
berpengalaman; (c) memudahkan dalam perencanaan; (d) pendekatan
tematik dapat memotivasi siswa; dan (e) memberi kemudahan bagi
siswa dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang saling
terkait.
Kelemahan yang dimiliki model ini ialah: (a) sulit dalam menyeleksi
tema; (b) cendrung untuk merumuskan tema yang dangkal; dan (c) guru
lebih memusatkan perhatian dalam kegiatan pembelajaran dari pada
pengembangan konsep.
b. Model Terhubung (Connected)
Model terhubung (connected) adalah model pembelajaran terpadu
yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satu topik
dengan topik yang lain dalam satu bidang studi. Kaitan dapat diadakan
8

secara spontan atau direncanakan terlebih dahulu sehingga dengan


demikian pembelajaran menjadi lebih bermakna dan efektif.
Keunggulan model ini adalah: (a) dengan pengintegrasian ide-ide
inter bidang studi siswa mempunyai gambaran yang luas sebagaimana
suatu bidang studi yang terfokus pada aspek tertentu; ( b) siswa dapat
mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus sehingga
terjadi proses internalisasi; dan (c) mengintegrasikan ide-ide dalam inter
bidang studi memungkinan siswa mengkaji, mengkonseptualisasi,
memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide dalam memecahkan masalah.
(Fogarty,1991, hlm.15 dalam Elena, 2012).
Selain keunggulan, model ini juga memiliki kelemahan. Kelemahan
pembelajaran terpadu model connected ini adalah: (a) masih kelihatan
terpisahnya inter bidang studi; (b) tidak mendorong guru untuk bekerja
secara tim sehingga isi pelajaran tetap terfokus tanpa merentangkan
konsep-konsep serta ide-ide inter bidang studi; (c) dalam memadukan
ide-ide pada satu bidang studi maka usaha yang mengembangkan
keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan. (Fogarty,1991,
hlm. 15 dalam Elena, 2012)
c. Model Integrated (Keterpaduan)
Model Integrated adalah model pembelajaran yang menggunakan
pendekatan antar bidang studi. Model ini diusahakan dengan cara
menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas
kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep, prinsip dan sikap
saling tumpang tidih dalam beberapa bidang studi. Fokus
pengintegrasian terletak pada sejumlah keterampilan belajar yang ingin
dilatihkan oleh guru kepada siswanya dalam satu unit pembelajaran
untuk ketercapaian materi pelajaran (content). Keterampilan ini
meliputi keterampilan berpikir (thinking skill), keterampilan sosial
(social skill), dan keterampilan mengorganisir (organizing skill).
(Fogarty, 1991, hlm. 77 dalam Elena, 2012)
Model Integrated (keterpaduan) memiliki kelebihan, yaitu: (a)
adanya kemungkinan pemahaman antar bidang studi karena
9

memfokuskan isi pelajaran, strategi berpikir, keterampilan sosial, dan


ide penemuan lain, satu pelajaran mancakup banyak dimensi sehingga
pembelajaran semakin diperkaya dan berkembang; (b) memotivasi
siswa untuk belajar; (c) memberi perhatian pada berbagai bidang
penting dalam satu saat, tidak memerlukan waktu tambahan untuk
bekerja dengan guru lain, tidak perlu mengulang materi yang tumpang
tindih sehingga tercapai efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
Kekurangan model ini terletak pada: (a) guru, guru harus menguasai
konsep, sikap, dan keterampilan yang diprioritaskan; (b) penerapannya,
sulitnya menerapkan model ini secara penuh; (c) memerlukan tim antar
bidang studi baik dalam perencanaan maupun pelaksanaanya; dan (d)
pengintegrasian kurikulum dengan konsep-konsep dari masing-masing
bidang studi menuntut adanya sumber belajar yang beraneka ragam.
5. Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu
Hal-hal yang terkait dalam pembelajaran IPS terpadu tersebut adalah :
a. Guru
Pembelajaran IPS terpadu merupakan gabungan antara berbagai
disiplin ilmu-ilmu sosial, yang biasanya terdiri atas beberapa mata
pelajaran seperti Geografi, Sosiologi/Antropologi, Ekonomi dan
Sejarah, maka dalam pelaksanaannya tidak lagi terpisah-pisah
melainkan satu kesatuan. Hal ini memberikan implikasi terhadap guru
yang mengajar di kelas. Seyogyanya guru dalam pembelajaran IPS
dilakukan oleh seorang guru mata pelajaran, yakni guru mata Pelajaran
IPS. Guru dengan latar belakang disiplin Ilmu Pengetahuan sosial yang
berbeda tentunya sulit untuk beradaptasi ke dalam pengintegrasian pada
disiplin ilmu yang lain secara kompleks. Karena keahlian pada satu
bidang, maka kemampuan pada bidang lain belum tentu optimal.
Untuk itu, dalam pembelajaran IPS dapat dilakukan dengan team
teaching dan guru tunggal.
1) Team Teaching
Pembelajaran terpadu dalam hal ini diajarkan dengan cara
team; satu topik pembelajaran dilakukan oleh lebih dari seorang
10

guru. Setiap guru memiliki tugas masing- masing sesuai dengan


keahlian dan kesepakatan. Kelebihan sistem ini antara lain adalah:
(1) pencapaian KD pada setiap topik efektif karena dalam tim
terdiri atas beberapa ahli dalam ilmu-ilmu sosial, (2) pengalaman
dan pemahaman siswa lebih kaya daripada dilakuakn oleh
seorang guru karena dalam satu tim dapat mengungkapkan
beberapa konsep dan pengalaman dan (3) siswa akan lebih
memahami karena diskusi akan berjalan dengan narasumber dari
berbagai disiplin ilmu.
Kelemahan dari sistem ini anatara lain adalah jika tidak ada
koordinasi, maka setiap guru dalam tim akan saling
mengandalkan guru lain sehingga pencapaian KD tidak akan
terpenuhi. Jika kurang persiapan, penampilan di kelas akan
tersendat-sendat karena skenario tidak berjalan semestinya.
2) Guru Tunggal
Pembelajaran IPS dengan seorang guru merupakan hal yang
ideal dilakukan. Hal ini disebabkan: (1) IPS merupakan satu mata
pembelajaran, (2) guru dapat merancang skenario pembelajaran
sesuai dengan topik yang ia kembangkan tanpa konsolidasi
terlebih dahulu dengan guru lain dan (3) oleh karena tanggung
jawab dipikul oleh seorang diri, maka potensi untuk saling
mengandalkan tidak akan muncul.
Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan dalam
pembelajaran IPS terpadu yang dilakukan oleh guru tunggal yakni
(1) mata pelajaran IPS terpadu, sedangkan guru-guru yang
tersedia merupakan guru bidang studi sehingga sangat sulit
melakukan penggabungan, (2) seorang guru bidang studi Geografi
tidak menguasai secara mendalam tentang sejarah dan ekonomi
sehigga dalam pembelajaran IPS terpadu akan didominasi oleh
bidang geografi, serta (3) jika skenario pembelajaran tidak
menggunakan metode inovatif maka pencapaian Standar
11

kompetensi dan Kompetensi Dasar tidak akan tercapai karena


akan menjadi sebuah narasi kering tanpa makna.
b. Siswa
Dilihat dari aspek siswa, pembelajaran IPS terpadu memiliki peluang
untuk pengembangan kreativitas akademik, hal ini disebabkan karena
model ini menekankan pada pengembangan kemampuan analitik,
kemampuan asosiatif, serta kemampuan eksploratif dan elaboratif.
Pembelajaran IPS terpadu ini akan lebih dipahami siswa jika dalam
penyajiannya lebih mengupas pada permasalahan sosial yang ada,
terutama permasalahan sosial di lingkungan siswa itu sendiri.
Model pembelajaran IPS terpadu dapat mempermudah dan
memotivasi siswa akan mengenal, menerima, menyerap, dan
memahami keterkaitan atau hubungan antar konsep, pengetahuan, nilai,
atau tindakan yang terdapat dalam beberapa indikator dan kompetensi
dasar. Dengan menggunakan model pembelajaran IPS terpadu, secara
psikologis, siswa digiring untuk menangkap dan memahami hubungan-
hubungan konsteptual yang disajikan guru, selanjutnya siswa akan
terbiasa berpikir terarah, teratur, utuh, menyeluruh, sistematik, dan
analitik. Dengan demikian, pembelajaran model ini menuntun
kemampuan belajar siswa lebih baik, baik dalam aspek intelegensi
maupun kreativitas.
c. Bahan Ajar
Bahan ajar memiliki peran yang penting dalam pembelajaran
termasuk dalam pembelajaran terpadu. Oleh karena pembelajaran
terpadu pada dasarnya merupakan perpaduan dari berbagai disiplin ilmu
yang tercakup dalam ilmu-ilmu sosial, maka dalam pembelajaran ini
memerlukan bahan ajar yang lebih lengkap dan komprehensif
dibandingkan dengan pembelajaran manolitik. Dalam satu topik
pembelajaran, diperlukan sejumlah sumber belajar yang sesuai dengan
jumlah standar kompetensi yang merupakan jumlah bidang studi yang
tercakup di dalamnya. Jika pembelajaran dalam satu topik mencakup
seluruh SK, maka ia akan memerlukan bahan ajar yang mencakup
12

emapat bidang studi yakni Sosiologi/Antropologi, Geografi, Sejarah


dan Ekonomi.
Sumber belajar utama yang dapat digunakan dalam pembelajaran
IPS terpadu dalam bentuk teks tertulis seperti buku, majalah, brosur,
surat kabar, poster dan informasi lepas, atau berupa lingkungan sekitar
seperti lingkungan alam dan lingkungan sosial sehari-hari. Pencarian
informasi sebenarnya dapat pula memanfaatkan perangkat teknologi
mutakhir seperti multimedia dan internet.
Bahan yang akan digunakan dapat pula berbentuk buku paket IPS
maupun buku penunjang, bacaan penunjang, majalah, Koran, brosur,dll.
Sebagai bahan penunjang, dapat juga digunakan disket, kaset atau CD
yang berisi cerita atau tayangan yang berkaitan dengan bahan yang akan
dipadukan.
Bahan yang sudah terkumpul selanjutnya dipilah, dikelompokkan
dan disusun ke dalam indikator dalam kompetensi dasar dan guru perlu
mempelajari secara cermat dan mendalam tentang isi bahan ajar yang
berkaitan dengan langkah kegiatan berikutnya.
d. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana yang harus tersedia dalam pembelajaran IPS
terpadu harus memiliki kekhasan tersendiri dalam beberapa hal. Dalam
pembelajaran IPS terpadu, guru harus memilih media yang memiliki
kegunaan dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang studi yang terkait
dan tentu saja terpadu. Misalnya, peta dapat digunakan untuk standar
kompetensi yang berkaitan dengan geografi dan juga mencapai standar
kompetensi sejarah.
Namun demikian, dalam pembelajaran ini tidak menutup
kemungkinan untuk menggunakan sarana relatif lebih banyak,
disebabkan untuk memberikan pengalaman yang terpadu, siswa harus
diberikan ilustrasi dan demonstrasi yang komprehensif untuk satu topik
tertentu.
13

B. Model Pembelajaran Kooperatif


1. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berasal dari kata cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu
sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Suprijono (2009, hlm.
54) dalam Aminah (2015) menyebutkan bahwa Pembelajaran kooperatif
adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok
termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan
oleh guru.
Menurut Rusman (2011, hlm. 202) dalam Aminah (2015) bahwa:
Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan bentuk
pembelajaran dengan cara murid belajar dan bekerja dalam kelompok-
kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat
sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Senada dengan pendapat tersebut, Sugiyanto (2010, hlm. 37) dalam
Aminah (2015) menjelaskan bahwa pengertian pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus
pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam
memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan
pembelajaran yang menuntut adanya kerjasama antarsiswa dalam kegiatan
proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
2. Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif berbeda dengan strategi pembelajaran lain.
Perbedaan dapat dilihat dari proses pembelajarannya yang lebih
menekankan pada proses kerja sama dalam kelompok. Isjoni (2011) dalam
Aminah (2015) menyatakan bahwa ada lima unsur dasar yang
membedakan cooperative learning dengan kerja kelompok yaitu: (1) setiap
anggota memiliki peran; (2) terjadi hubungan interaksi langsung diantara
siswa; (3) setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas belajarnya dan
juga teman-teman kelompoknya; (4) guru membantu mengembangkan
14

keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok; dan (5) guru hanya


berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan. Hal ini senada dengan
pendapat Rusman (2011, hlm. 207) dalam Aminah (2015) menjelaskan
bahwa karakteristik atau ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah sebagai
berikut: (1) pembelajaran secara tim; (2) didasarkan pada manajemen
kooperatif; (3) kemauan untuk bekerja sama; dan (4) keterampilan bekerja
sama.
Menurut Lie (2010, hlm. 31) dalam Aminah (2015) bahwa ciri-ciri
pembelajaran kooperatif adalah adanya unsur-unsur yang saling terkait,
yaitu: (1) saling ketergantungan positif; (2) tanggung jawab perseorangan;
(3) tatap muka; (4) komunikasi antaranggota; dan (5) evaluasi proses
kelompok. Sedangkan menurut Slavin (2009, hlm 10) dalam Aminah
(2015) ada tiga konsep yang menjadi karakteristik pembelajaran
kooperatif, yaitu penghargaan kelompok, pertanggung jawaban individu,
dan kesempatan yang sama untuk berhasil.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang
menjadi karakteristiak atau ciri-ciri dari pembelajaran kooperatif, yaitu:
a. Adanya kerjasama antaranggota kelompok.
b. Terjadinya hubungan timbal balik antaranggota kelompok.
c. Setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama.
d. Setiap anggota kelompok mempunyai peluang untuk berhasil.
3. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang dirancang untuk
membelajarkan kecakapan akademik (academic skill), sekaligus
keterampilan sosial (social skill), serta kecakapan pribadi (interpersonal
skill). Hal itu senada dengan pendapat Ibrahim, dkk.(Trianto, 2007, hlm.
44) dalam Aminah (2015) bahwa tujuan pembelajaran kooperatif
mencakup tiga jenis, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap
keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial. Johnson & Johnson
(Trianto, 2010, hlm. 57) dalam Aminah (2015) menyatakan bahwa tujuan
pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk
15

meningkatkan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu


maupun secara kelompok.
Menurut Yaba & Nonci (2010, hlm. 5) dalam Aminah (2015) bahwa
tujuan pembelajaran kooperatif yaitu untuk pencapaian hasil belajar,
penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial,
sebagai berikut:
a. Pencapaian hasil belajar dimaksudkan kooperatif bukan hanya
mengembangkan tujuan sosial tetapi juga bertujuan untuk
meningkatkan kerja murid dalam tugas akademik.
b. Penerimaan terhadap perbedaan individu, ini sangat penting dari
model pembelajaran kooperatif, penerimaan yang luas terhadap
orang yang berbeda menurut ras, budaya, tingkat sosial, kemampuan
dan ketidakmampuan.
c. Pengembangan keterampilan sosial ini sangat penting dalam
pembelajaran kooperatif yaitu: untuk mengajarkan kepada
keterampilan kerja sama dan kolaborasi.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa yang
menjadi tujuan pembelajaran kooperatif adalah kerjasama yang dilakukan
oleh beberapa orang dalam suatu kelompok untuk memperoleh hasil
belajar yang lebih baik.
4. Cooperative Learning dalam Pembelajaran IPS
Cooperative learning pada mata pelajaran IPS untuk mengembangkan
self-efficacy dan keterampilan sosial merupakan upaya inovatif yang
didasari pada pemikiran Huberman. Dalam konteks ini seleksi kreatif
merupakan pilihan-pilihan alternatif yang muncul sebagai pembaharuan
dari kondisi pembelajaran IPS saat ini. Pilihan kreatif itu nampak seperti
pada tabel di bawah ini:
PEMBELAJARAN IPS PILIHAN KREATIF
Transfer of knowledge Cara berpikir, cara bertindak
Pengembangan ranah IQ Intelegensi intrapersonal
(matematis-logis) Intelegensi interpersonal
Pendekatan ekspositori Pendekatan kooperatif
16

Penilaian hasil Penilaian proses dan hasil


-teknik tes -teknik tes
-teknik non tes (kinerja, produk,
kooperatif, dan efikasi diri)
Atribut dari definisi Huberman dalam Dodik (2011) tentang inovasi
adalah pengorganisasian dan pemberdayaan sumberdaya dan materi
dengan cara baru dan unik. Dalam konteks ini cooperative learning
dikembangkan dengan mempertimbangkan heterogenitas anggota
kelompok, mengembangkannya berdasarkan pendekatan konstruktivistik
dan kontekstual, mengembangkan berbagai instrumen evaluasi meliputi tes
dan non tes.
Atribut ketiga dari definisi Huberman Dodik (2011) tentang inovasi
adalah pencapaian keberhasilan pada tingkat yang lebih tinggi.
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang beraksentuasi
pada lingkungan sosial. Proses interdependensi sosial, persuasi,
pengalaman vikarius dalam pembelajaran kooperatif melalui proses
regulasi diri atau regulasi kognitif memberikan konstribusi untuk
mencapai hasil belajar. Hasil belajar itu meliputi akademik, keyakinan diri,
dan keterampilan kooperatif. Pembelajaran kooperatif mencakup
pencapaian kompetensi yang lebih luas jika dibandingkan dengan
pembelajaran ekspositori.
Dalam pengimplementasian cooperative learning pada mata pelajaran
IPS untuk mengembangkan efikasi diri dan keterampilan sosial didasari
pada konsep interdependensi sosial, kognitif sosial, belajar sosial,
konstrukstivistik, dan kontekstual.
Proses penerimaan inovasi cooperative learning pada mata pelajaran
IPS untuk mengembangkan efikasi diri dan keterampilan sosial melalui
tahap-tahap orientasi, asimilasi, dan akomodasi. Pada tahap orientasi
sosialisasi ditujukan pada khalayak sasaran strategis yaitu anggota dan
pengurus MGMP IPS. Tahap asimilasi diaksentuasikan pada penerapan
inovasi dalam proses pembelajaran IPS. Penerapan itu merupakan
aktualisasi dari action plan pembelajaran kooperatif yang telah disusun
17

oleh MGMP IPS. Aktualisasi itu pada prinsipnya adalah mengembangkan


keterampilan guru mengelola pembelajaran kooperatif. Tahap akomodasi
diaksentuasikan pada proses evaluasi dan refleksi yang dilakukan oleh
guru-guru IPS terhadap pembelajaran kooperatif yang
diimplementasikannya.
C. Model Pembelajaran CTL
1. Pengertian Pembelajaran CTL
Menurut Nurhadi dalam Sugiyanto (2007), CTL (Contextual Teaching
and Learning) adalah konsep belajar yang mendorong guru untuk
menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata
siswa. Menurut Jonhson dalam Sugiyanto (2007), CTL adalah sebuah
proses pendidikan yang bertujuan untuk menolong para siswa melihat
siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari
dengan cara menghubungkan subyek-subyek akademik dengan konteks
dalam kehidupan keseharian mereka.
CTL (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu proses
pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari
(konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki
pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan lainnya.
CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah konsep
pembelajaran yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pemelajar
membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah sebuah sistem yang
menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika
bagian-bagian ini terjalin satu sama lain, maka akan dihasilkan pengaruh
yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya secara terpisah.
Setiap bagian CTL (Contextual Teaching and Learning) yang berbeda-
18

beda ini memberikan sumbangan dalam menolong siswa memahami tugas


sekolah. Secara bersama-sama, mereka membentuk suatu sistem yang
memungkinkan para siswa melihat makna di dalamnya dan memperoleh
ilmu pengetahuan.
Dari berbagai definisi tentang model pembelajaran CTL maka dapat
disimpulkan bahwa model pembelajaran CTL merupakan konsep belajar
yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkanya dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-
hari.
2. Karakteristik Pembelajaran CTL
Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara
penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan
menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong
siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Ada tiga hal
yang harus dipahami. Pertama CTL menekankan kepada proses
keterlibatan siswa untuk menemukan materi, kedua CTL mendorong agar
siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan
situasi kehidupan nyata, ketiga mendorong siswa untuk dapat menerapkan
dalam kehidupan.
Terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang
menggunakan pendekatan CTL.
a. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang
sudah ada (activating knowledge).
b. Pembelajaran untuk memperoleh dan menambah pengetahuan baru
(acquiring knowledge).
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge).
d. Mempraktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying
knowledge).
e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge).
Ada yang perlu dipahami tentang pembelajaran dalam konteks CTL.
19

a. Belajar bukanlah menghafal, akan tetapi proses mengkontruksi


pengetahuan sesuai dengan pengalaman yang mereka miliki.
b. Belajar bukan sekedar mengumpulkan fakta yang lepas-lepas.
c. Belajar adalah proses pemecahan masalah.
d. Belajar adalah proses pengalaman sendiri yang berkembang dari
yang sederhana menuju yang kompleks.
e. Belajar pada hakikatnya adalah menangkap pengetahuan dari
kenyataan.
3. Perbedaan Model Pembelajaran CTL dengan Model Pembelajaran
Konvesnsional
No. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensioanal
CTL Pembelajaran Konvensional
1 Siswa sebagai subjek belajar Siswa sebagai objek belajar
2. Siswa belajar melalui kegiatan Siswa lebih banyak belajar secara individu
kelompok
3. Pembelajaran dikaitkan dengan Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak
kehidupan nyata
4 Kemampuan didasarkan atas Kemampuan diperoleh dari latihan-latihan
pengalaman
5 Tujuan akhir kepuasan diri Tujuan akhir nilai atau angka
6 Prilaku dibangun atas kesadaran Prilaku dibangun oleh faktor dari luar
7 Pengetahuan yang dimiliki individu Pengetahuan yang dimiliki bersifat absolut
berkembang sesuai dengan dan final, tidak mungkin berkembang.
pengalaman yang dialaminya
8 Siswa bertanggungjawab dalam Guru penentu jalannya proses pembelajaran
memonitor dan mengembangkan
pembelajaran
9 Pembelajaran bisa terjadi dimana saja Pembelajaran terjadi hanya di dalam kelas
10 Keberhasilan pembelajaran dapat Keberhasilan pembelajaran hanya bisa
diukur dengan berbagai cara diukur dengan tes
20

4. Tujuan Pembelajaran CTL


a. Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan
mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka
sehari-hari sehingga siswa memiliki pengetahuan atau keterampilan
yang secara refleksi dapat diterapkan dari permasalahan
kepermasalahan lainya.
b. Model pembelajaran ini bertujuan agar dalam belajar itu tidak hanya
sekedar menghafal tetapi perlu dengan adanya pemahaman.
c. Model pembelajaran ini menekankan pada pengembangan minat
pengalaman siswa.
d. Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk melatih siswa agar
dapat berpikir kritis dan terampil dalam memproses pengetahuan agar
dapat menemukan dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi
dirinya sendiri dan orang lain.
e. Model pembelajaran CTL ini bertujun agar pembelajaran lebih
produktif dan bermakna.
f. Model pembelajaran CTL ini bertujuan untuk mengajak anak pada
suatu aktivitas yang mengkaitkan materi akademik dengan konteks
kehidupan sehari-hari.
g. Tujuan pembelajaran model CTL ini bertujuan agar siswa secara
individu dapat menemukan dan mentransfer informasi-informasi
komplek dan siswa dapat menjadikan informasi itu miliknya sendiri.
5. Komponen Pembelajaran CTL
Pembelajaran CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran
efektif, yakni:
a. Konstruktivisme
Adalah proses pembangunan baru dalam struktur kognitif siswa
berdasarkan pengalaman.
b. Inkuiri
Adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan
penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Proses inkuiri
dilakukan dalam beberapa langkah:
21

1) Merumuskan masalah
2) Mengajukan hipotesis
3) Mengumpulkan data
4) Menguji hipnotis berdasarkan data yang ditemukan
5) Membuat kesimpulan
c. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab
pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari
keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan
mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam suatu
pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna
untuk:
1) Menggali informasi dan kemampuan siswa dalam penguasaan
materi pelajaran.
2) Membangkitkan motvasi siswa untuk belajar.
3) Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu.
4) Memfokuskan siswa pada suatu yang diinginkan.
5) Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan
sesuatu.
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep Masyarakat Belajar (Learning Community) dalam CTL
menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama
dengan orang lain. Dalam kelas CTL, asas ini dapat dilakukan dengan
menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar.
e. Pemodelan (Modelling)
Merupakan proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu
sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
f. Refleksi (Reflection)
Merupakan proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari
yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian
atau peristiwa pembelajaran yang telah dilalui.
22

g. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)


Adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
6. Strategi Pembelajaran CTL
Strategi Pembelajaran hakikatnya adalah sketsa umum aktivitas guru
dan murid di dalam merealisasikan kegiatan belajar mengajar. Maknanya,
interaksi belajar mengajar berlangsung dalam satu sketsa yang
dilaksanakan secara bersama-sama oleh guru dan murid. Dengan demikian
boleh dirumuskan strategi pembelajaran merupakan "sketsa umum
pembelajaran subyek didik" yang tersusun secara sistematik berdasar
acuan prinsip-prinsip pendidikan yaitu, strukturisasi urutan atau langkah-
langkah pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran,
pengelolaan kelas, evaluasi, dan waktu yang digunakan untuk mencapai
tujuan.
Strategi pembelajaran melalui pendekatan kontekstual (Contextual
Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang bisa membantu
guru menghubungkan antara materi yang diajarkan dengan realitas dunia
nyata murid, dan mendorong murid membuat interaksi antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Dalam kaitan ini siswa dapat menyadari
sepenuhnya apa makna belajar, manfaatnya, bagaimana upaya untuk
mencapainya dan dapat memahami bahwa yang mereka pelajari
bermanfaat bagi hidupnya nanti, sehingga mereka akan memposisikan diri
sebagai diri mereka sendiri yang membutuhkan bekal hidupnya dan
berupaya keras untuk meraihnya.
Adapun tugas guru dalam pembelajaran kontekstual adalah membantu
siswa dalam meraih tujuannya. Artinya guru lebih fokus pada urusan
strategi daripada memberi informasi. Tugas guru dalam hal ini hanya
memanage kelas sebagai sebuah tim yang bekerja untuk menemukan
sesuatu yang baru bagi siswa. Proses pembelajaran lebih diwarnai student
centered ketimbang teacher centered. Beberapa strategi pembelajaran yang
perlu dikembangkan oleh guru secara kontekstual antara lain:
23

a. Pembelajaran berbasis masalah


Dengan memunculkan problem yang dihadapi bersama,siswa
ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkan.
b. Menggunakan konteks yang beragam
Dalam CTL guru membermaknakan pusparagam konteks sehingga
makna yang diperoleh siswa menjadi berkualitas.
c. Mempertimbangkan kebhinekaan siswa
Guru mengayomi individu dan menyakini bahwa perbedaan
individual dan sosial seyogyanya dibermaknakan menjadi mesin
penggerak untuk belajar saling menghormati dan toleransi untuk
mewujudkan ketrampilan interpersonal.
d. Memberdayakan siswa untuk belajar sendiri
Pendidikan formal merupakan kawah candradimuka bagi siswa
untuk menguasai cara belajar untuk belajar mandiri di kemudian
hari.
e. Belajar melalui kolaborasi
Dalam setiap kolaborasi selalu ada siswa yang menonjol
dibandingkan dengan koleganya dan sisiwa ini dapat dijadikan
sebagai fasilitator dalam kelompoknya.
f. Menggunakan penelitian autentik
Penilaian autentik menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung
secara terpadu dan konstektual dan memberi kesempatan pada siswa
untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
g. Mengejar standar tinggi
Setiap sekolah seyogyanya menentukan kompetensi kelulusan dari
waktu ke waktu terus ditingkatkan dan setiap sekolah hendaknya
melakukan Benchmarking dengan melakukan studi banding ke
berbagai sekolah di dalam dan luar negeri.
Sementara berdasarkan Center for Occupational Research and
Development (CORD) Penerapan strategi pembelajaran konstektual
digambarkan sebagai berikut:
24

a. Relating
Belajar dikatakan dengan konteks dengan pengalaman nyata,
konteks merupakan kerangka kerja yang dirancang guru untuk
membantu peserta didik agar yang dipelajarinya bermakna.
b. Experiencing
Belajar adalah kegiatan mengalami peserta didik diproses secara
aktif dengan hal yang dipelajarinya dan berupaya melakukan
eksplorasi terhadap hal yang dikaji,berusaha menemukan dan
menciptakan hal yang baru dari apa yang dipelajarinya.
c. Applying
Belajar menekankan pada proses mendemonstrasikan pengetahuan
yang dimiliki dengan dalam konteks dan pemanfaatanya.
d. Cooperative
Belajar merupakan proses kolaboratif dan kooperatif melalui
kegiatan kelompok, komunikasi interpersonal atau hubunngan
intersubjektif.
e. Trasfering
Belajar menenkankan pada terwujudnya kemampuan
memanfaatkan pengetahuan dalam situasi atau konteks baru.
7. Langkah-Langkah Pembelajaran CTL
Langkah-langkah pembelajaran CTL antara lain :
a. Mengembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih
bermakna dengan cara bekerja sendiri,menemukan sendiri ,dan
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya.
b. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topic
c. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
d. Menciptakan masyarakat belajar
e. Menghadirkan model sebagia contoh belajar
f. Melakukan refleksi diakhir pertemuan.
g. Melakukan penialain yang sebenarnya dengan berbagai cara.
25

8. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran CTL


a. Kelebihan dari Model Pembelajaran CTL
1) Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai
dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif
dalam PBM.
2) Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data,
memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih
kreatif.
3) Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
4) Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan
oleh guru.
5) Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
6) Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
7) Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun
kelompok.
b. Kelemahan dari model pembelajarab CTL
1) Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada
kebutuhan siswa padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan
siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam
menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi
tidak sama.
2) Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam
PBM.
3) Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas
antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang
memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa
tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya
4) Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL
ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan,
karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung
dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik
26

mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan


menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
5) Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan
mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan
model CTL ini.
6) Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki
kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk
mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan
sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan
soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
7) Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan
tidak merata.
8) Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini
peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih
menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi,
mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di
lapangan.