Anda di halaman 1dari 9

AUDIT: PERAN DAN MEKANISME DALAM KEBERHASILAN PENERAPAN GOOD

CORPORATE GOVERNANCE

Sonny Mochamad - 55117110148


sonny_mochamad@yahoo.com

1. PENDAHULUAN
Auditing adalah suatu proses pemeriksaan terhadap laporan keuangan perusahaan
klien yang dilakukan oleh seseorang yang independen dan kompeten. Berikut ini adalah
pengertian auditor yang dinyatakan oleh UK Audithing Practise Board (Diane Walters and
John Dunn,2000 dalam Martina,2010)
Prosedur audit dalam pekerjaan lapangan disusun berdasarkan tujuan audit yang
hendak dicapai. Dalam hal ini, tujuan audit yang dimaksud dirancang untuk menentukan
apakah tujuan operasi tertentu (yang ditetapkan oleh manajemen) dapat dicapai atau tidak.
Tujuan audit harus bersifat khusus untuk setiap langkah yang dilakukan auditor dan
dijabarkan dalam bentuk prosedur audit untuk mencapainya.
Penetapan tujuan audit dan prosedur audit merupakan unsur utama sebuah program
audit, oleh karena itu keberhasilan pekerjaan lapangan dalam mengumpulkan bukti audit
bergantung kepada baik buruknya sebuah program audit yang digunakan. Hal tersebut
dapat dipahami mengingat suatu program audit pada dasarnya merupakan abstraksi dari
perencanaan audit yang berisi rencana langkah kerja sistematis untuk memperoleh bukti
audit yang diperlukan dalam pencapaian tujuan audit.

2. JENIS AUDIT
Audit pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : audit laporan keuangan, audit
kepatuhan, dan audit operasional.

a. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit).


Audit keuangan adalah audit terhadap laporan keuangan suatu entitas (perusahaan atau
organisasi) yang akan menghasilkan pendapat (opini) pihak ketiga mengenai relevansi,
akurasi, dan kelengkapan laporan-laporan tersebut.
Audit keuangan umumnya dilaksanakan oleh kantor akuntan publik atau akuntan
publik sebagai auditor independen dengan berpedoman pada standar profesional
akuntan publik.
Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor eksternal terhadap
laporan keuangan kliennya untuk memberikan pendapat apakah laporan keuangan
tersebut disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Hasil audit lalu
dibagikan kepada pihak luar perusahaan seperti kreditor, pemegang saham, dan kantor
pelayanan pajak.

b. Audit kepatuhan (compliance audit).


Audit Ketaatan adalah proses kerja yang menentukan apakah pihak yang diaudit telah
mengikuti prosedur, standar, dan aturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak yang
berwenang.
Audit ini bertujuan untuk menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan kondisi,
peratuan, dan undang-undang tertentu. Kriteria-kriteria yang ditetapkan dalam audit
kepatuhan berasal dari sumber-sumber yang berbeda. Contohnya ia mungkin
bersumber dari manajemen dalam bentuk prosedur-prosedur pengendalian internal.
Audit kepatuhan biasanya disebut fungsi audit internal, karena oleh pegawai
perusahaan.

c. Audit operasional (operational audit).


Audit operasional merupakan penelahaan secara sistematik aktivitas operasi organisasi
dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasional, auditor
diharapkan melakukan pengamatan yang obyektif dan analisis yang komprehensif
terhadap operasional-operasional tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk :
Menilai kinerja, kinerja dibandingkan dengan kebijakan-kebijakan, standar-standar,
dan sasaran-sasaran yang ditetapkan oleh manajemen,
Mengidentifikasikan peluang dan,
Memberikan rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Pihak-pihak
yang mungkin meminta dilakukannya audit operasional adalah manajemen dan
pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta
dilaksanakannya audit tersebut.

d. Audit Khusus (Special Audit)


Audit Khusus merupakan pemeriksaan yang dilakukan apabila diketahui adanya
indikasi kecurangan yang dilakukan manajemen (fraud audit), atau apabila
pemeriksaan tersebut diluar daripada golongan audit laporan keuangan, audit
kepatuhan dan audit operasional.

e. Audit Sistem Informasi (Information System Audit)


Adalah pemeriksaan terhadap suatu sistem yang mengatur pengembangan,
pengopreasian, pemeliharaan dan keamanan sistem aplikasi dalam lingkungan tertentu.
Jenis audit ini melibatkan pusat data (data center), sistem operasi, perangkat keras dan
lunak yang digunakan dsb.
3. TUJUAN DAN MANFAAT AUDIT
Audit dikembangkan dan dilaksanakan karena audit memberi banyak manfaat bagi dunia
bisnis. Pelaksaanaan audit mempunyai tujuan yang berbeda, beberapa tujuan audit menurut
adalah:
1. Penilaian Pengendalian (Appraisal of Control) Pemeriksaan operasional berhubungan
dengan pengendalian administratif pada seluruh tahap operasi perusahaan yang
bertujuan untuk menentukan apakah pengendalian yang ada telah memadai dan terbukti
efektif serta mencapai tujuan perusahaan.
2. Penilaian Kinerja (Appraisal of Performance) Penilaian, Pelaksanaan dan Operasional
serta hasilnya. Penilaian diawali dengan mengumpulkan informasi kuantitatif lalu
melakukan penilaian efektifitas, efisiensi dan ekonomisasi kinerja. Penilaian
selanjutnya menjadi informasi bagi manajemen untuk meningkatkan kinerja
perusahaan.
3. Membantu Manajemen (Assistance to Manajement) Dalam pemeriksaan operasional dan
ketaatan maka hasil audit lebih diarahkan bagi kepentingan manajemen untuk
performansinya. Dan hasilnya merupakan rekomendasi-rekomendasi atas perbaikan-
perbaikan yang diperlukan pihak manajemen.

Manfaat audit dikelompokkan menjadi tiga kelompok dasar yang menikmati manfaat audit,
yaitu :
A. Bagi Pihak yang diaudit
1. Menambah Kredibilitas laporan keuangannya sehingga laporan tersebut dapat
dipercaya untuk kepentingan pihak luar entitas seperti pemegang saham, kreditor,
pemerintah, dan lain-lain.
2. Mencegah dan menemukan fraud yang dilakukan oleh manajemen perusahaan yang
diaudit.
3. Memberikan dasar yang dapat lebih dipercaya untuk penyiapan Surat
Pemberitahuan Pajak yang diserahkan kepada Pemerintah.
4. Membuka pintu bagi masuknya sumber- pembiayaan dari luar.
5. Menyingkap kesalahan dan penyimpangan moneter dalam catatan keuangan.

B. Bagi anggota lain dalam dunia usaha


1. Memberikan dasar yang lebih meyakinkan para kreditur atau para rekanan untuk
mengambil keputusan pemberian kredit.
2. Memberikan dasar yang lebih meyakinkan kepada perusahaan asuransi untuk
menyelesaikan klaim atas kerugian yang diasuransikan.
3. Memberikan dasar yang terpercaya kepada para investor dan calon investor untuk
menilai prestasi investasi dan kepengurusan manajemen
4. Memberikan dasar yang objektif kepada serikat buruh dan pihak yang diaudit untuk
menyelesaikan sengketa mengenai upah dan tunjangan.
5. Memberikan dasar yang independen kepada pembeli maupun penjual untuk
menentukan syarat penjualan, pembelian atau penggabungan perusahaan.
6. Memberikan dasar yang lebih baik, meyakinkan kepada para langganan atau klien
untuk menilai profitabilitas atau Audit Finansial, Audit Manajemen, Dan Sistem
Pengendalian Intern rentabilitas perusahaan itu, efisiensi operasionalnya, dan
keadaan keuangannya.

4. FAKTOR KESUKSESAN AUDIT


Untuk mendukung kesuksesan penyelenggaraan audit, maka perlu dilakukan hal berikut
A. Dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen
Eksekutif atau manajemen merupakan pemegang keputusan dari setiap aktifitas bisnis
yang di lakukan begitu pula dengan pengembangan sistem informasi di suatu
perusahaan. Berhasil atau gagalnya suatu sistem di kembangkan berbanding lurus
dengan keseriusan manajemen untuk mengembangkan sistem di perusahaanya.
Berkaitan dengan pengembangan sistem, peran pihak manajemen puncak adalah
memberikan dukungan dan dorongan untuk proyek pengembangan serta menyerasikan
sistem informasi dengan strategi perusahaan.
Peran penting lainnya termasuk membuat tujuan serta sasaran sistem, meninjau kinerja
serta kepemimpinan departemen sistem informasi, membuat pemilihan proyek serta
kebijakan struktur organisasi, membantu analis sistem dengan perkiraan biaya proyek
serta manfaatnya, menugaskan para pegawai utama ke proyek pengembangan dan
mengalokasikan dana yang memadai untuk mendukung pengembangan operasional
sistem.
B. Keterlibatan atau input dari end user
Salah satu tujuan penerapan dan pengembang sistem informasi yaitu memudahkan
pemakai dalam melakukan aktifitas bisnisnya yang berujung kepada kepuasan
pengguna atas Computerize Based Information System (CBIS).
Keterlibatan pengguna merupakan faktor kunci terhadap keberhasilan penerapan
sistem informasi manajemen . Sikap positif dalam bentuk dukungan dan umpan balik
dari user, serta hubungan yang baik antara user dengan pengembang akan memudahkan
pengembang mengtahui kebutuhan serta kemauan sistem yang akan di terapkan
Dari proses desain sampai proses dokumentasi hendaknya pengguna dan pihak
pengembang melakukan kerja sama yang bersifat koperatif, pengembang
membutuhkan masukan positif terhadapat sistem yang akan di terapkan, sementara
pengguna membutuhkan kompetensi untuk menjalankan sistem yang di terapkan oleh
si pengembang
C. Pengunaan kebutuhan
Penerapan sistem informasi di suatu perusahaan adalah suatu investasi yang besar , oleh
karna itu haruslah di rencanakn secara matang berdasarkan kebutuhan bisnis
perusahaan, jika tidak di rencanakan dengan baik hal ini akan berdampak terhadap 2
kemungkinan, yaitu:
Sistem di buat melebihi kebutuhan perusahaan .
Penerapan sistem akan menjadi sia sia jika sistem di kembangkan terlalu melebihi
kebutuhan perusahaan, perusahaan akan merugi sebab biaya yang di keluarkan
untuk penerapan sistem informasi tidaklah murah, biaya dan investasi yang di
keluarkan hanyalah menjadi beban perusahaan
Sistem kurang memadai untuk kebutuhan perusahaan
Ini merupakan kondisi ketidakoptimalan di mana sistem yang telah di buat tidak
dapat memenuhi kebutuhan bisnis perusahaan, perusahaan akan merugi meskipun
biaya yang di keluarkan tidak lah begitu besar namun hal ini menjadi sia sia karena
sistem tidak dapat di gunakan secara optimal, belum lagi jika pengguna merasa
sistem yang telah di buat tidak memuaskan hingga enggan beralih ke sistem baru
yang telah di kembangkan.
Oleh karna itu, hendaknya perusahaan merancang dan menghitung dengan benar
terhadap implementasi sistem informasi sesuai dengan kebtuhan perusahaan, agar biaya
dan investasi yang di keluarakna akan menjadi optimal dan tentunya bermanfaat untuk
kemajuan bisnis perusahaan.
D. Perencanaan Memadai
Penerapan sistem informasi manajemen di suatu perusahaan haruslah di mulai dengan
suatu perancanan yang memadai dengan mengidentifikasi kemungkinan kemungkinan
apa saja yang akan terjadi.
Proses perencanaan bukan saja hanya di lakukan oleh pengembang namun juga seluruh
stakeholder yang terlibat, seluruh stakeholder haruslah sadar dan mengeluarkan sikap
positif terhadap penerapan sistem informasi yang akan di jalankan.
Hal yang banyak di temukan pada penerapan sistem informasi teknologi adalah sistem
yang telah di kembangkan tidak lah memuaskan atau sejalan dengan kepentingan
pengguna , hal ini merupakan efek dari perencanaan yang gagal dan tidak adanya
keterlibatan semua pihak di proses perencanaan penerapan sistem informasi
mnajamemen di perusahaan.
E. Harapan Perusahaan
Ekspektasi atau harapan perusahaan atas sistem informasi yang di terapkan haruslah di
mengerti dengan benar bukan hanya kepada pihak pengembang namun juga seluruh
aspek pengguna sistem yang di terapkan. Komunikasi menjadi nilai yang sangat
penting untuk mendeliver harapan perusahaan atas penerapan sistem yang dilakukan
Kesenjangan komunikasi antara pengguna dengan perancang sistem informasi menjadi
penyebab utama dalam kegagalan sebuah sistem informasi manajemen di perusahaan .
Latar belakang pendidikan, lingkungan serta persepsi yang berbeda menjadi pemicu
kesenjangan komunikasi antara pengguna dan perancang sistem.
Oleh karena itu perancang sistem informasi harus mengetahui dengan benar harapan
atas penerapan system yang akan di buat . Kemudian perancang dapat menyesuaikan
prosedur-prosedur standar yang dapat dilakukan oleh pengguna akhir. Selanjutnya
sosialisai dari sistem yang akan digunakan sebaiknya dikomunikasikan dengan bahasa
yang dapat dimengerti oleh pengguna akhir tersebut sehingga kemungkinnan terjadi
perbedaan persepsi diantar pengguna dengan perancang sistem dapat dihindarkan.

5. SYARAT AUDITOR
Standar Profesi Auditor merupakan ketentuan yang harus dipenuhi untuk menjaga kualitas
kinerja Auditor dan hasil audit. Standar audit sangat menekankan kualitas profesional
auditor serta cara auditor mengambil pertimbangan dan keputusan sewaktu melakukan
pemeriksaan dan pelaporan.
Dalam pembagiannya terdapat 2 jenis auditor, yaitu:
a. Auditor internal
Atau dikenal pula dengan istilah Internal Auditor, merupakan suatu profesi yang
memiliki standar dan kode etik profesi yang harus dijalankan secara konsekuen dan
konsisten. Dalam paradigma lama, Internal Auditor hanya berfungsi membantu
manajemen puncak (top management) dalam pengamanan asset (saveguard of asset)
perusahaan dan mengawasi jalannya operasional perusahaan sehari-hari, terutama dari
aspek pengendalian (control).
b. Auditor eksternal
Auditor yang berdiri sebagai pihak ke 3 diluar perusahaan, dimana mereka bekerja
berdasarkan surat perintah kerja. auditor jenis ini bekerja dibawah Kantor Akuntan
Publik dan bekerja secara independen dan objektif.
Untuk menjamin obyektivitas penilaian, pelaku audit (auditor) baik secara pribadi maupun
institusi harus independen terhadap pihak yang diaudit (auditi), dan untuk menjamin
kompetensinya, seorang auditor harus memiliki:
Kompetensi, artinya auditor harus memiliki keahlian di bidang auditing dan
mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai bidang yang diauditnya.
Kompetensi seorang auditor dibidang auditing ditunjukkan oleh latar belakang
pendidikan dan pengalaman yang dimilikinya.
Independensi, independensi diartikan bebas dari pengaruh baik terhadap
manajemen yang bertanggung jawab atas penyusunan laporan maupun terhadap
para penggunalaporan tersebut. Hal ini dimaksudkan agar auditor tersebut bebas
dari pengaruh subyektifitas para pihak yang tekait, sehingga pelaksanaan dan hasil
auditnya dapat diselenggarakan secara obyektif.
Cermat dan Seksama, auditor harus menggunakan keahliannya dengan cermat (due
professional care), direncanakan dengan baik, menggunakan pendekatan yang
sesuai, serta memberikan pendapat berdasarkan bukti yang cukup dan ditelaah
secara mendalam. Di samping itu, institusi audit harus melakukan pengendalian
mutu yang memadai, organisasinya ditata dengan baik, terhadap sumber daya
manusia yang digunakan dilakukan pembinaan, diikut sertakan dalam pendidikan
dan pelatihan yang berkesinambungan, pelaksanaan kegiatannya disupervisi
dengan baik, dan hasil pekerjaannya direview secara memadai.

6. PERAN MANAJEMEN DAN KOMITE AUDIT


Komisaris Independen
Tujuan menghadirkan seorang Komisaris Independen adalah sebagai penyeimbang
pengambilan keputusan dewan Komisaris. Oleh sebab itu, harus ada tolak ukur penilaian
kinerja board of director/dewan Komisaris. Dalam konstruksi hukum Perseroan Terbatas,
kinerja perseroan adalah indikator performa Board of Director. Hal ini sebagai konsekuensi
bahwa BOD menjalankan fungsi kepengurusan.
Menurut Forum for Corporate Governance in Indonesia, kriteria Komisaris Independen
yaitu:
a. Komisaris Independen bukan merupakan anggota manajemen;
b. Komisaris Independen bukan merupakan pemegang saham mayoritas, atau seorang
pejabat dari atau dengan cara lain yang berhubungan secara langsung atau tidak
langsung dengan pemegang saham mayoritas dari perusahaan;
c. Komisaris Independen dalam kurun waktu tiga tahun terakhir tidak dipekerjakan
dalam kapasitasnya sebagai eksekutif oleh perusahaan atau perusahaan lainnya
dalam satu kelompok usaha dan tidak pula dipekerjakan dalam kapasitasnya
sebagai Komisaris setelah tidak lagi menempati posisi seperti itu;
d. Komisaris Independen bukan merupakan penasehat profesional perusahaan atau
perusahaan lainnya yang satu kelompok dengan perusahaan tersebut;
e. Komisaris Independen bukan merupakan seorang pemasok atau pelanggan yang
signifikan dan berpengaruh dari perusahaan atau perusahaan lainnya yang satu
kelompok, atau dengan cara lain berhubungan secara langsung atau tidak langsung
dengan pemasok atau pelanggan tersebut;
f. Komisaris Independen tidak memiliki kontraktual dengan perusahaan atau
perusahaan lainnya yang satu kelompok selain sebagai Komisaris perusahaan
tersebut;
g. Komisaris Independen harus bebas dari kepentingan dan urusan bisnis apapun atau
hubungan lainnya yang dapat, atau secara wajar dapat dianggap sebagai campur
tangan secara material dengan kemampuannya sebagai seorang Komisaris untuk
bertindak demi kepentingan yang menguntungkan perusahaan. (Forum for
Corporate Governance in Indonesia: 2000; p. 6)
Untuk perusahaan yang telah di listing di Bursa Efek Jakarta, keberadaan Komisaris
Independen diatur dalam Peraturan Bursa Efek Jakarta (BEJ) berdasarkan Surat keputusan
Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep-305/BEJ/07-2004 tentang Peraturan Nomor I-
A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh
Perusahaan Tercatat, mensyaratkan kewajiban setiap calon emiten yang akan mencatatkan
saham di bursa efek untuk mendudukkan Komisaris Independen di jajaran Dewan
Komisaris.
Komisaris Independen seperti yang dicatat dalam peraturan BEJ, diharuskan memiliki
jumlah yang proporsional sebanding dengan jumlah saham yang dimiliki oleh bukan
Pemegang Saham Pengendali dengan kententuan Komisaris Independen sekurang-
kurangnya 30% (tiga puluh perseratus) dari jumlah seluruh anggota komisaris.

Komite Etik
Komite Audit memiliki tugas terpisah dalam membantu Dewan Komisaris untuk
memenuhi tanggung jawabnya dalam memberikan pengawasan secara menyeluruh.
Sebagai contoh, Komite Audit memiliki wewenang untuk melaksanakan dan mengesahkan
penyelidikan terhadap masalah-masalah di dalam cakupan tanggung jawabnya. The
Institute of Internal Auditors (IIA) merekomendasikan bahwa setiap perusahaan publik
harus memiliki Komite Audit yang diatur sebagai komite tetap. IIA juga menganjurkan
dibentuknya Komite Audit di dalam organisasi lainnya, termasuk lembaga-lembaga non-
profit dan pemerintahan.
Komite Audit agar beranggotakan Komisaris Independen, dan terlepas dari kegiatan
manajemen sehari-hari dan mempunyai tanggung jawab utama untuk membantu Dewan
Komisaris dalam menjalankan tanggung jawabnya terutama dengan masalah yang
berhubungan dengan kebijakan akuntansi perusahaan, pengawasan internal, dan sistem
pelaporan keuangan (The Institute of Internal Auditors, Internal Auditing and the Audit
Committee: Working Together Towards Common Goals).
Secara pengelolaan organisasi, keanggotaan Komite Etik disusun berdasarkan tanggung
jawab pada bidang:
a. Laporan Keuangan (Financial Reporting);
b. Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance); dan
c. Pengawasan Perusahaan (Corporate Control).
Sebagai acuan pelaksanaan tugas Komite Audit, dalam menjalankan tugas tersebut
diperlukan adanya Piagam Komite Audit (Audit Committee Charter) yang dikodifikasikan
dan ditetapkan oleh Komisaris Perseroan agar dalam menjalankan tugas dan
tanggungjawabnya Komite Audit mempunyai acuan kerja yang jelas, serta dapat bekerja
secara obyektif dan transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan
peraturan yang berlaku.
Piagam Komite Audit ini dimaksudkan untuk menjadi acuan dan pedoman kerja bagi
Komite Audit dalam menjalankan tugas dan wewenangnya yang berdasarkan atas
ketentuan peraturan yang berlaku yaitu :
Undang-undang Nomor 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;
Peraturan Bapepam-LK Nomor: IX.I.5 tanggal 7 Desember 2012;
Dalam piagam ini diatur kewenangan yang dimiliki Komite Audit untuk melakukan atau
mengizinkan penyelidikan dalam setiap hal dalam ruang lingkup tanggung jawab yang
dimilikinya, termasuk di dalamnya untuk:
a. Menunjuk, memberikan kompensasi, dan mengawasi pekerjaan auditor eksternal
yang ditunjuk organisasi
b. Menyelesaikan perbedaan yang ada antara management dengan auditor eksternal
terkait dengan pelaporan keuangan
c. Menyetujui penunjukan perikatan jasa audit dan non audit
d. Menyewa penasihat independen, akuntan, atau orang lain untuk menyarankan
pembentukan panitia atau membantu dalam melakukan penyelidikan.
e. Mencari informasi apapun yang diperlukan oleh karyawan, yang semuanya
diarahkan untuk bekerja sama dengan permintaan Komite Audit atau pihak
eksternal.
f. Bertemu dengan pejabat perusahaan, auditor eksternal, atau penasihat luar lainnya
yang diperlukan.
Komite Audit juga membantu Direksi yang memiliki tanggung jawab dalam hal
pengawasan. Komite juga membuat rekomendasi untuk suatu tindakan kepada
keseluruhan direksi, dengan kata lain menyimpan sejumlah tanggung jawab untuk
pengambilan keputusan.
Komite Audit memiliki peran penting untuk membantu direksi dalam hal pemenuhan tata
kelola perusahaan yang baik. Direksi sendiri dibutuhkan untuk menyatakan laporan
keuangan dan catatan-catatan yang mengikuti standar akuntansi serta memberikan
pandangan yang benar dan adil terhadap posisi dan performa keuangan dari sebuah
perusahaan.