Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

Pada umumnya kehamilan normal berakhir dengan lahirnya bayi yang


cukup bulan dan sempurna secara fisik. Tetapi kenyataannya tidak selalu
demikian, sebagian kehamilan mengalami kegagalan, tergantung pada tahap dan
jenis gangguan yang terjadi. Kehamilan tersebut dapat berakhir dengan abortus,
kehamilan ektopik, prematuritas, kematian janin dalam rahim atau bayi lahir
dengan cacat bawaan. Salah satu bentuk kegagalan kehamilan yang berkembang
tidak normal yaitu mola hidatidosa, kehamilan ini tidak disertai janin namun
hanya berupa gelembung-gelembung seperti buah anggur berasal dari vili korialis
dengan sel-sel trofoblasnya.

Mola hidatidosa adalah rare mass atau pertumbuhan yang terbentuk di


dalam rahim pada permulaan kehamilan. Mola hidatidosa atau kehamilan mola
merupakan hasil dari produksi jaringan berlebihan yang seharusnya berkembang
menjadi plasenta. Mola hidatidosa merupakan penyakit trofoblastik gestasional
(PTG).

Hingga saat ini penyakit trofoblas gestasional masih merupakan masalah


obstetri yang cukup serius, karena menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang
cukup tinggi. Morbiditas yang dapat timbul dari penyakit ini umumnya karena
penyulit yang menyertainya, seperti perdarahan, preeklamsi berat dan
tiroktosikosis dan bila terlambat ditangani dapat menyebabkan kematian. Selain
itu bila koriokarsinoma atau mola invasif terjadi pada pasien usia muda yang
masih memerlukan fungsi reproduksi, upaya pengobatannya dapat menyebabkan
pasien tersebut kehilangan fungsi reproduksinya karena tindakan histerektomi.
Hal ini berarti penyakit trofoblas gestasional merupakan masalah karena
memberikan kontribusi yang cukup besar bagi angka mortalitas dan morbiditas
ibu, serta menjadi masalah bagi kesehatan reproduksi.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1 DEFINISI

Mola berasal dari bahasa Latin yang berarti massa, sedangkan hidatidosa
berasal dari kata hydatis (Yunani) yang berarti tetesan air 2. Mola hidatidosa
adalah rare mass atau pertumbuhan yang terbentuk di dalam rahim pada
permulaan kehamilan. Mola hidatidosa atau kehamilan mola merupakan hasil dari
produksi jaringan berlebihan yang seharusnya berkembang menjadi plasenta.
Mola hidatidosa merupakan penyakit trofoblastik gestasional (PTG) 12.

Kehamilan mola (mola hidatidosa) ialah kehamilan yang berkembang tidak


wajar yang ditandai secara histologis dengan abnormalitas dari villi koriales yang
berupa proliferasi trofoblas dan edema struma villi.Jaringan trofoblast pada villus,
berpoliferasi, dan mengeluarkan hormon yaitu hCG dalam jumlah yang lebih
besar daripada kehamilan biasa. Gambaran yang diberikan ialah seperti buah
anggur 3.

Gambar : Gelembung Mola Hidatidosa Gambar : Mola Hidatidosa setelah histerektomi

2
II.2 EPIDEMIOLOGI

Dalam penelitian terbaru disebutkan bahwa insidensi mola hidatidosa


bervariasi dari 0,57/1000 kehamilan hingga 2,0/1000 kehamilan. Insidensi tinggi
berasal dari Asia Tenggara dan Jepang. Sedangkan insidensi rendah berasal dari
Amerika Utara, Australia, Selandia Baru dan Eropa 4.
Mola hidatidosa biasanya menyerang wanita pada usia reproduksi ekstrim.
Wanita pada masa remaja awal atau usia perimenopause adalah yang paling
berisiko. Wanita yang berusia lebih dari 35 tahun memiliki peningkatan risiko 2
kali lipat. Wanita yang berusia lebih dari 40 tahun memiliki peningkatan risiko 5-
10 kali dibandingkan dengan wanita yang lebih muda. Jumlah paritas tidak
mempengaruhi risiko 8.

II.3 ETIOLOGI

Etiologi penyakit trofoblas sampai saat ini belum juga diketahui dengan
pasti. Namun ada beberapa teori yang mencoba menerangkan terjadinya penyakit
trofoblas yaitu teori desidua, teori telur, teori infeksi dan teori hipofungsi
ovarium14 .
1. Teori desidua
Menurut teori ini terjadinya molahidatidosa ialah akibat perubahan-
perubahan degeneratif sel-sel trofoblas dan stroma vili korialis. Dasar
teori ini adalah selalu ditemukan desidual endometritis, pada binatang
percobaan dapat terjadi molahidatidosa bila pembuluh darah uterus
dirusak sehingga terjadi gangguan sirkulasi pada desidua.

2. Teori telur
Menurut teori ini molahidatidosa dapat terjadi bila terdapat kelainan
pada telur, baik sebelum diovulasikan maupun setelah dibuahi.

3
3. Teori infeksi
Bagshawe, melaporkan bahwa ada sarjana yang dapat mengisolasi
sejenis virus pada molahidatidosa. Virus ini kemudian
ditransplantasikan pada selaput korioalantoin mudigah ayam, ternyata
kemudian terjadi perubahan-perubahan khas menyerupai
molahidatidosa, baik secara makroskopik maupun mikroskopik. Selain
itu molahidatidosa diduga disebabkan oleh toksoplasmosis, teori ini
dikemukakan oleh Bleier. Teori ini didasarkan pada penemuan
toksoplasmosis Gondii dalam jumlah besar pada darah penderita
molahidatidosa.

4. Teori hipofungsi ovarium


Teori ini dikemukakan oleh Hasegawa, berdasarkan penelitian beberapa
orang ahli yaitu Courrier dan Gros yang melakukan kastrasi pada seekor
kucing, 15-17 hari setelah pembuahan. Ternyata kemudian pada
plasentanya ditemukan perubahan-perubahan yang menyerupai
molahidatidosa. Karzafina melaporkan bahwa 60% penderita
molahidatidosa yang ditelitinya berumur 1821 tahun, disertai oleh
hipofungsi ovarium. Smalbreak melaporkan bahwa dari hasil
penelitiannya ditemukan angka kejadian molahidatidosa yang tinggi
pada perempuan muda, dimana fungsi seksualnya masih imatur.
Menurut Hasegawa molahidatidosa diduga disebabkan oleh teori
defisiensi estrogen, yang didukung oleh data-data penelitian yang
melaporkan bahwa 60% penderita molahidatidosa berumur 1821 tahun
dan disertai hipofungsi ovarium. Serta insidens molahidatidosa yang
tinggi pada perempuan muda dan pada perempuan tua dimana fungsi
ovarium telah menurun.

4
Walaupun etiologi mola hidatidosa masih belum jelas, terdapat faktor-faktor
yang meningkatkan risiko terjadinya mola hidatidosa. Fator-faktor tersebut antara
lain9 :
1. Usia
Kehamilan mola komplit sering terjadi pada wanita pada usia remaja
dan wanita berusia lebih dari 45 tahun. Usia memiliki sedikit atau
bahkan tidak ada pengaruh pada kehamilan mola parsial.

2. Kehamilan mola sebelumnya


Apabila terdapat riwayat kehamilan mola sebelumnya, penderita
memiliki kemungkinan 1-2% dibandingkan 0,167% orang pada wanita
yang tidak pernah mengalami kehamilan mola. Apabila kehamilan mola
terjadi dua kali atau lebih, maka kemungkinananya meningkat menjadi
15-20%.

3. Ras
Kehamilan mola lebih sering terjadi di negara-negara Asia seperti
Taiwan, Filipina dan Jepang, serta beberapa Native American. Akan
tetapi, pada beberapa tahun terakhir, perbedaan insidensi pada
komunitas tersebut dan populasi secara umum telah menjadi lebih
sedikit.

5
II.4 PATOFISIOLOGI

Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis penyakit


ini. Pertama, teori missed abortion. Kematian mudigah pada usia kehamilan 3-5
minggu, saat di mana seharusnya sirkulasi fetomaternal sudah terbentuk,
menyebabkan gangguan peredaran darah. Sekresi dari sel-sel yang mengalami
hiperplasia dan menghasilkan substansi-substansi yang berasal dari sirkulasi darah
ibu, diakumulasikan ke dalam stroma villi sehingga terjadi kista villi yang kecil-
kecil. Cairan yang terdapat dalam kista tersebut adalah cairan interstitial yang
menyerupai cairan ascites atau edema, tetapi kaya akan hCG.
Kedua, adalah teori neoplasma dari Park, yang mengatakan bahwa yang
abnormal adalah sel-sel trofoblas, yang mempunyai fungsi yang abnormal pula,
dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam villi sehingga timbul
gelembung. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematian
mudigah. Sebagian dari villi berubah menjadi gelembung-gelembung berisi cairan
jernih. Biasanya tidak ada janin, hanya pada mola parsialis kadang-kadang
ditemukan janin. Gelembung-gelembung ini sebesar butir kacang hijau sampai
sebesar buah anggur. Gelembung ini dapat mengisi seluruh kavum uterus.
Pada pemeriksaan kromosom didapat poliploidi dan hampir pada semua
kasus mola susunan kromatin seksnya adalah wanita (46xx). Secara makroskopik,
mola hidatidosa mudah dikenal yaitu berupa gelembung-gelembung putih, tembus
pandang, berisi cairan jernih, dengan ukuran bervariasi dari beberapa millimeter
sampai satu atau dua sentimeter 14 .

II.5 KLASIFIKASI

Mola hidatidosa dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu bila tidak disertai


janin maka disebut mola hidatidosa atau Complete mole, sedangkan bila disertai
janin atau bagian dari janin disebut mola parsialis atau Parsials mole 3, 7, 11 .

6
Tabel : Perbandingan bentuk mola hidatidosa

Gambaran Mola Komplit Mola Parsial

Kariotipe 46,XX atau 46,XY Umumnya 69,XXX


atau 69,XXY (tripoid)

Patologi

Edema villus Difus Bervariasi,fokal

Proliferasi trofoblastik Bervariasi, ringan s/d berat Bervariasi, fokal,


ringan s/d sedang

Janin Tidak ada Sering dijumpai

Amnion, sel darah Tidak ada Sering dijumpai


merah janin

Gambaran klinis

Diagnosis Gestasi mola Missed abortion

Ukuran uterus 50% besar untuk masa Kecil untuk masa


kehamilan kehamilan

Kista teka-lutein 25-30% Jarang

Penyulit medis Sering jarang

Penyakit pascamola 20% <5-10%

Kadar hCG Tinggi Rendah tinggi

7
II.6 GEJALA KLINIS

Tanda dan gejala kehamilan dini didapatkan pada mola hidatidosa.


Kecurigaaan biasanya terjadi pada minggu ke 14 - 16 dimana ukuran rahim lebih
besar dari kehamilan biasa, pembesaran rahim yang terkadang diikuti perdarahan,
dan bercak berwarna merah darah beserta keluarnya materi seperti anggur pada
pakaian dalam.

1. Terdapat tanda-tanda kehamilan. Mual dan muntah yang parah yang


menyebabkan 10% pasien masuk RS

2. Pembesaran rahim yang tidak sesuai dengan usia kehamilan (lebih besar)

3. Gejala gejala hipertitoidisme seperti intoleransi panas, gugup, penurunan


BB yang tidak dapat dijelaskan, tangan gemetar dan berkeringat, kulit
lembab

4. Gejala gejala pre-eklampsi seperti pembengkakan pada kaki dan tungkai,


peningkatan tekanan darah, proteinuria (terdapat protein pada air seni)

Dan menurut Cuningham, 1995. Dalam stadium pertumbuhan mola yang


dini terdapat beberapa ciri khas yang membedakan dengan kehamilan normal,
namun pada stadium lanjut trimester pertama dan selama trimester kedua sering
terlihat perubahan sebagai berikut 3, 5, 11 :

1. Perdarahan

Perdarahan uterus merupakan gejala yang mencolok dan bervariasi


mulai dari spoting sampai perdarahan yang banyak. Perdarahan ini dapat
dimulai sesaat sebelum abortus atau yang lebih sering lagi timbul secara
intermiten selama berminggu-minggu atau setiap bulan. Sebagai akibat
perdarahan tersebut gejala anemia ringan sering dijumpai. Anemia
defisiensi besi merupakan gejala yang sering dijumpai.

8
2. Ukuran uterus

Uterus tumbuh lebih besar dari usia kehamilan yang sebenarnya


dan teraba lunak. Saat palpasi tidak didapatkan balotement dan tidak
teraba bagian janin.

3. Aktivitas janin

Meskipun uterus cukup membesar mencapai bagian atas sympisis,


secara khas tidak akan ditemukan aktivitas janin, sekalipun dilakukan test
dengan alat yang sensitive sekalipun. Kadang-kadang terdapat plasenta
yang kembar pada kehamilan mola hidatidosa komplit. Pada salah satu
plasentanya sementara plasenta yang lainnya dan janinnya sendiri terlihat
normal. Demikian pula sangat jarang ditemukan perubahan mola
inkomplit yang luas pada plasenta dengan disertai dengan janin yang
hidup.

4. Embolisasi

Trofoblas dengan jumlah yang bervariasi dengan atau tanpa stroma


villus dapat keluar dari dalam uterus dan masuk aliran darah vena. Jumlah
tersebut dapat sedemikian banyak sehingga menimbulkan gejala serta
tanda emboli pulmoner akut bahkan kematian. Keadaan fatal ini jarang
terjadi. Meskipun jumlah trofoblas dengan atau tanpa stroma villus yang
menimbulkan embolisasi ke dalam paru-paru terlalu kecil untuk
menghasilkan penyumbatan pembuluh darah pulmoner namun lebih lanjut
trofoblas ini dapat menginfasi parenkin paru. Sehingga terjadi metastase
yang terbukti lewat pemeriksaan radiografi. Lesi tersebut dapat terdiri dari
trofoblas saja (koriokarsinoma metastasik) atau trofoblas dengan stroma
villus (mola hidatidosa metastasik). Perjalanan selanjutnya lesi tersebut
bisa diramalkan dan sebagian terlihat menghilang spontan yang dapat
terjadi segera setelah evakuasi atau bahkan beberapa minggu atau bulan
kemudian. Sementara sebagian lainnya mengalami proliferasi dan
menimbulkan kematian wanita tersebut tidak mendapatkan pengobatan
yang efektif.

9
5. Ekspulsi Spontan

Kadang-kadang gelembung-gelembung hidatidosa sudah keluar


sebelum mola tersebut keluar spontan atau dikosongkan dari dalam uterus
lewat tindakan. Ekspulsi spontan paling besar kemungkinannya pada
kehamilan sekitar 16 minggu. Dan jarang lebih dari 28 minggu .

II.7 DIAGNOSIS

Diagnosis mola hidatidosa ditegakkan berdasarkan 1, 6 :

1) Anamnesis

terdapat gejala-gejala hamil muda yang kadang-kadang lebih nyata


dari kehamilan biasa

terdapat perdarahan yang sedikit atau banyak, tidak teratur, warna


tengguli tua atau kecoklatan

pembesaran rahim yang tidak sesuai (lebih besar) bila dibandingkan


dengan usia kehamilan seharusnya

keluar jaringan mola seperti buah anggur atau mata ikan (tidak selalu
ada) yang merupakan diagnosa pasti 3,10,14 .

2) Pemeriksaan fisik

Inspeksi : muka dan terkadang badan terlihat kekuningan yang


disebut muka mola (mola face)

Palpasi : uterus membesar tidak sesuai usia kehamilan, uterus teraba


lembek, tidak teraba bagian janin serta balotement

Aukultasi : tidak terdengar denyut jantung janin

Pemeriksaan dalam : memastikan besarnya uterus, uterus terasa


lembek, terdapat perdarahan pada kanalis servikalis

10
3) Pemeriksaan penunjang

a) Pengukuran kadar Human Chorionic Gonadotropin (B-hCG) yang


tinggi maka uji biologik (gali-Mainini dan Plano test) akan positif
setelah titrasi (pengenceran)

b) Tes Galli-Mainini 1/300 (+) maka suspek mola hidatidosa

c) USG : gambaran snowstorm atau granular

Gambaran seperti sarang tawon tanpa disertai adanya janin

Ditemukan gambaran snow storm atau gambaran seperti


badai salju.

Gambar : foto USG pada Mola hidatidosa komplit dan foto USG pada Mola Hidatidosa Parsial

11
d) Histopatologi

Hasil histopatologik diambil dari gelembung-gelembung yang keluar


dan dikirim ke lab. PA

Gambar : histopatologi Mola hidatidosa komplit Gambar : histopatologi Mola hidatidosa


parsial

II.8 DIAGNOSIS BANDING

Diagnosis banding dari mola hidatidosa yaitu 3, 20, 14 :

1. Kehamilan normal

2. Kehamilan dengan mioma uteri

3. Hidroamnion

4. Gemelli

5. Abortus

6. Kehamilan ektopik terganggu

12
II.9 PENATALAKSANAAN

1. Evakuasi

a. Perbaiki keadaan umum.

Bila mola sudah keluar spontan dilakukan kuret atau kuret isap

Bila Kanalis servikalis belum terbuka dipasang laminaria dan


12 jam kemudian dilakukan kuret.

b. Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika dan perbaiki keadaan


umum penderita.

c. 7-10 hari setelah kerokan pertama, dilakukan kerokan ke dua untuk


membersihkan sisa-sisa jaringan.

d. Histeriktomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia lebih dari 30
tahun, Paritas 4 atau lebih, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi
pusat atau lebih

2. Pengawasan Lanjutan

Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai


kontrasepsi oral pil.

Mematuhi jadwal periksa ulang selama 2-3 tahun :

o Setiap minggu pada Triwulan pertama

o Setiap 2 minggu pada Triwulan kedua

o Setiap bulan pada 6 bulan berikutnya

o Setiap 2 bulan pada tahun berikutnya, dan selanjutnya setiap 3


bulan.

Setiap pemeriksaan ulang perlu diperhatikan :

a. Gejala Klinis : Keadaan umum, perdarahan

b. Pemeriksaan dalam :

o Keadaan Serviks

13
o Uterus bertambah kecil atau tidak

c. Laboratorium

Reaksi biologis dan imunologis :

o 1x seminggu sampai hasil negatif

o 1x2 minggu selama Triwulan selanjutnya

o 1x sebulan dalam 6 bulan selanjutnya

o 1x3 bulan selama tahun berikutnya

o Kalau hasil reaksi titer masih (+) maka harus dicurigai


adanya keganasan

3. Sitostatika Profilaksis

Metoreksat 3x 5 mg selama 5 hari

14
Gambar : Skema tatalaksana mola hidatidosa

15
II.10 KOMPLIKASI

Komplikasi dari molahidatidosa adalah 3, 14 :

Perforasi uterus selama kuret hisap sering muncul karena uterus yang
membesar. Jika hal ini terjadi prosedur penanganannya harus dalam
bimbingan laparaskopi.

Perdarahan sering pada evakuasi mola, karenanya oksitosin IV harus


diberikan sebelum prosedur dimulai. Methergin atau Hemabase dapat juga
diberikan.

Penyakit trofoblastik ganas terjadi pada 20 % kehamilan mola, karenanya


pemeriksaan kuantitatif hCG serial dilakukan selama 1 tahun post evakuasi
sampai hasilnya negatif.

DIC, karena jaringan mola melepaskan faktor yang bersifat fibrinolitik.


Semua pasien harus diperiksa kemungkinan adanya koagulopati.

Emboli trofoblastik dapat menyebabkan insufisiensi pernafasan akut.


Faktor resiko terbesar ialah pada ukuran uterus yang lebih besar dari yang
diharapkan pada usia kehamilan-16 minggu. Kondisi ini dapat berakhir
fatal.

Anemia, karena perdarahan yang berulang-ulang

Perdarahan dan syok. Penyebab perdarahan ini mungkin disebabkan oleh


pelepasan jaringan mola tersebut dengan lapisan desidua, perforasi uterus
oleh karena keganasan, atonia uteri atau perlukaan pada uterus karena
evakuasi jaringan mola.

Infeksi sekunder

Perforasi, karena keganasan atau karena tindakan

Keganasan, baik menjadi koriokarsinoma ataupun menjadi mola invasif.

16
II. 11 PROGNOSIS

Dinegara maju, kematian karena mola hidatidosa hampir tidak ada, mortalitas
akibat mola hidatidosa ini mulai berkurang oleh karena diagnosis yang lebih dini
dan terapi yang tepat. Akan tetapi di negara berkembang kematian akibat mola
masih cukup tinggi yaitu berkisar antara 2,2% dan 5,7%. Kematian pada mola
hodatidosa biasanya disebabkan oleh karena perdarahan, infeksi, eklamsia, payah
jantung dan tirotoksikosis.

Lebih dari 80% kasus mola hidatidosa tidak berlanjut menjadi keganasan
trofoblastik gestasional, akan tetapi walaupun demikian tetap dilakukan
pengawasan lanjut yang ketat, karena hampir 20% dari pasien mola hidatidosa
berkembang menjadi tumor trofoblastik gestasional.

Pada 10-15% kasus mola akan berkembang menjadi mola invasive, dimana
akan masuk kedalam dinding uterus lebih dalam lagi dan menimbulkan
perdarahan dan komplikasi yang lain yang mana pada akhirnya akan
memperburuk prognosisnya. Pada 2-3% kasus mola dapat berkembang menjadi
3,13
korio karsinoma, suatu bentuk keganasan yang cepat menyebar dan membesar
.

17
BAB III

KESIMPULAN

Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui secara pasti sehingga tidak dapat
diketahui usaha pencegahan yang harus dilakukan, oleh karena itu sangatlah
penting untuk dapat mendeteksi dan menangani kasus ini sedini mungkin terutama
karena kecenderungannya menjadi ganas.

Perdarahan yang terjadi selama kehamilan muda (walaupun tanpa


pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan umur kehamilan) harus dicurigai
terhadap kemungkinan adanya penyakit mola hidatidosa. Walau tidak tertutup
kemungkinan adanya kesalahan HPHT, Abortus imminen, dan lain-lain.
Demikian juga adanya gejala-gejala preeklampsia dan eklampsia dini pada
kehamilan yang lebih muda harus diwaspadai adanya mola hidatidosa.

Diagnosa ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan


penunjang. Diagnosa pasti ditegakkan bila adanya gelembung-gelembung mola
atau jaringan mola yang keluar. Bila masih terdapat keraguan dalam penegakkan
diagnosa, cara yang sangat membantu yaitu pemeriksaan USG yang akan
memberikan gambaran badai salju. Pengukuran kadar B-hCG secara serial
digunakan dalam mendeteksi penyakit trofoblas ganas yang terjadi setelah
evakuasi jaringan mola.

Penangan yang cepat dan tepat dibutuhkan karena biasanya pasien datang
setelah terjadinya perdarahan. Selain itu informed consent pada pasien dan
keluarga pasien juga perlu diperhatikan dalam prosedur tindakan medis.

18
DAFTAR PUSTAKA

1) Abdullah. M.N. dkk. 1994. Mola Hidatidosa. PEDOMAN DIAGNOSIS DAN


TERAPI LAB/UPF. KEBIDANAN DAN PENYAKIT KANDUNGAN
RSUD DOKTER SOETOMO SURABAYA.

2) Bagian Obstetri Ginekologi FK UNPAD. 1983. Penyakit Trofoblas


Gestasional; Obstetri Patologi.

3) Cunninngham. F.G. dkk. 2006. Mola Hidatidosa Penyakit Trofoblastik


Gestasional Obstetri Williams. Edisi 21. Vol 2. EGC: Jakarta.Sumapraja.

4) Heidarpour M dan Khanahmadi M. 2013. Diagnostic value of P63 in


differentiating normal gestation from molar pregnancy. J Res Med Sci.
5) John T. 2006. Gestational Throphoblastic Disease. The American College of
Obstetricians and Gynecologists. Lippincott Williams & Wilkins. Diakses
dari http://www.utilis.net/Morning%20Topics/Gynecology/GTN.PDF
6) Lurain, JR. 2010. Gestational Trophoblastic Disesase I: Epidemiology,
Pathology, Clinical Presentation, and Diagnosis of Gestational Trophoblastic
Disease, and Management of Hydatidiform Mole. American Journal of
Obstetric & Gynecology.
7) Manuaba I.B.G.F, Manuaba, I.D.C. 2007. Penyakit Trofoblas, dalam:
Pengantar Kuliah Obstetri. EGC: Jakarta

8) Moore LE dan Hernandez E. Hydatidiform Mole. 2014. Tersedia dari: http://


emedicine.medscape.com/article/254657-overview#showall
9) NHS. Molar pregnancy. 2014. Tersedia dari: http://www.nhs.uk/conditions/
Molar-pregnancy/Pages/Introduction.aspx NHS. Molar pregnancy.

10) Rustam Muchtar. Penyakit Trofoblas : Sinopsis Obstetri. Edisi 2, Jilid 1.


Penerbit buku Kedokteran. EGC.

11) S, Martaadisoebrata D. 2005. Penyakit Serta Kelainan Plasenta dan Selaput


Janin, dalam: Ilmu Kebidanan, Edisi ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo: Jakarta

19
12) White CD. Hydatidiform mole. 2014. Tersedia dari:
https://www.nlm.nih.gov/ medlineplus/ency/article/000909.htm
13) Williams. 2005. Edisi 21. Vol 2. EGC: Jakarta.Sumapraja S,
Martaadisoebrata D. Penyakit Serta Kelainan Plasenta dan Selaput Janin,
dalam: Ilmu Kebidanan, Edisi ketiga, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo: Jakarta.
14) Winkjosastro H. 1999. Mola Hidatidosa. Dalam: Ilmu Kebidanan. Edisi ke-3.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

20