Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kejadian stunted merupakan akibat dari asupan makan yang tidak
adekuat dalam jangka waktu yang lama, kualitas makanan yang tidak baik,
meningkatnya angka kesakitan atau gabungan dari semua faktor tersebut
(Gibson, 2005).
Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa 35,6% anak Indonesia menderita
stunting. Sebagai akibatnya, produktivitas individu menurun dan masyarakat
harus hidup dengan penghasilan rendah. Sudah bukan rahasia lagi bahwa
sanitasi buruk mengakibatkan beragam dampak negatif, baik bagi kesehatan,
ekonomi maupun lingkungan. Saat ini, tantangan pembangunan sanitasi
semakin berat dengan adanya temuan bahwa sanitasi buruk mengakibatkan
sebagian besar generasi penerus bangsa terdiagnosa stunted. Sanitasi buruk
dan air minum yang terkontaminasi mengakibatkan diare yang mengganggu
penyerapan zat-zat gizi dalam tubuh. Akibatnya, anak-anak tidak
mendapatkan zat gizi yang memadai sehingga pertumbuhannya terhambat.
Gizi ibu pada waktu hamil sangat penting untuk pertumbuhan janin
yang dikandungnya. Angka kejadian BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) lebih
tinggi di Negara-negara yang sedang berkembang daripada di negara-negara
maju. Hal ini disebabkan oleh keadaan sosial ekonomi yang rendah
memengaruhi diet ibu.
Gizi ibu yang baik diperlukan agar pertumbuhan janin berjalan pesat
dan tidak mengalami hambatan. Dimulai dari satu sel telur yang setelah
dibuahi tumbuh dengan pesat, sehingga diperkirakan pertumbuhan janin sejak
konsepsi sampai lahir, adalah sebagai berikut:
a. Berat badan: 44 x 100.000.000, dari 0,0000175 menjadi 3700 gram
(rata-rata berat lahir di Negara maju).
b. Tinggi badan: 3850 kalo dari 0,01 cm menjadi 50 cm.
Pertumbuhan janin di dalam kandungan merupakan hasil interaksi
antara potensi genetik dan lingkungan intrauterin. Pada umumya, pada ibu-ibu

1
yang hamil dengan kesehatan yang baik, dengan sistem reproduksi yang
normal, tidak sering menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi pada masa
pra-hamil maupun pada saat hamil, akan menghasilkan bayi yang lebih besar
dan lebih sehat daripada ibu-ibu yang kondisinya tidak seperti itu. Kurang gizi
yang kronis pada masa bayi dengan/tanpa sakit yang berulang, akan
menyebabkan bentuk tubuh yang stunting/kuntet pada masa dewasa. Ibu-ibu
yang kondisinya seperti ini sering melahirkan bayi BBLR, vitalitas yang
rendah dan kematian yang tinggi, terlebih bila tadi juga menderita anemia.
Terdapat hubungna antara bentuk tubuh ibu, sistem reproduksi dan sosial-
ekonomi terhadap pertumbuhan janin.
Perbaikan gizi dan kesehatan pada ibu-ibu di Negara maju terlihat
dalam bertambahnya tinggi badan (TB) dan berat badan (BB) orang dewasa
dibandingkan dengan di Negara berkembang. Keadaan ini memengaruhi berat
lahir bayi yang berbeda secara bermakna.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana gangguan stunting pada pertumbuhan bayi?
2. Bagaimana faktor-faktor penyebab stunting pada pertumbuhan bayi?
3. Bagaimana akibat yang ditimbulkan dari stunting pada pertumbuhan bayi?
4. Bagaimana penanggulangan dan pencegahan stunting pada pertumbuhan
bayi?

C. TUJUAN
1. Mengetahui gangguan stunting pada pertumbuhan bayi.
2. Mengetahui faktor-faktor penyebab stunting pada pertumbuhan bayi.
3. Mengetahui akibat yang ditimbulkan dari stunting pada pertumbuhan bayi.
4. Mengetahui penanggulangan dan pencegahan stunting pada pertumbuhan
bayi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Stunting atau penurunan tingkat pertumbuhan pada manusia utamanya


disebabkan oleh kekurangan gizi. Kekurangan gizi disebabkan oleh rusaknya
mukosa usus oleh bakteri fecal yang mengakibatkan terjadinya gangguan absopsi
zat gizi. Dengan demikian, peningkatan cakupan sanitasi dan perilaku bersih
sebesar 99% dapat membantu menurunkan prevalensi stunting sebesar 2,4%.
Stunting sendiri tidak bisa secara jelas diketahui, karena tidak ada gejala
yang menyertainya. Akibatnya, banyak yang mengetahui dan menganggap
stunting pada anak menjadi hal penting yang perlu ditangani. Anak yang stunted
akan tumbuh dengan mengalami banyak kesulitan dalam menyerap pelajaran,
penurunan produktivitas, dan resiko obesitas (kegendutan).
Kejadian stunting sering dijumpai pada anak usia 12-36 bulan dengan
pevalensi sebesar 38,3-41,5%. Jika kondisi ini terjadi pada masa golden periode
perkembangan otak (0-3 tahun) maka otak tidak dapat berkembang dengan baik.
Hal tersebut berakibat pada kemampuan intelektual dan produktivitas,
peningkatan risiko penyakit degeneratif dan kelahiran bayi dengan berat lahir
rendah atau prematur di masa mendatang.
Ketika seorang anak terhambat, itu berarti bahwa proses pertumbuhan
penting fisik dan mental sedang terganggu. Penelitian menunjukkan bahwa jika
akar yang menyebabkan stunting tidak ditangani selama dua tahun pertama
kehidupan, dampak dari keterbatasan pertumbuhan berlaku sampai dewasa.
Konsekuensi Kesehatan
Untuk bayi dan anak kecil, stunting berhubungan dengan sistem
kekebalan tubuh lemah dan risiko tinggi penyakit menular parah. Ketika anak-
anak kekurangan gizi menjadi dewasa, mereka lebih mungkin untuk menderita
tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, dan obesitas.
Diperkirakan bahwa anak-anak di bawah usia lima tahun yang lahir dari
ibu terpendek (kurang dari 145 cm) memiliki 40 persen peningkatan risiko
kematian.

3
Stunted wanita memiliki tingkat kematian ibu lebih tinggi dan lebih
mungkin untuk memiliki kecil dan kurus bayi yang-mengarah ke siklus gizi buruk
dan kemiskinan. Sebuah kelahiran anak berat badan rendah lebih cenderung lebih
pendek saat dewasa daripada tidak lahir dengan berat badan lahir rendah.
Organisasi Bantuan Anak menyambut Organisasi Kesehatan Dunia
(WHO) mengusulkan target global untuk pengurangan jumlah anak yang
terhambat. Laporan ini merangkum hasil sementara penelitian kami didukung
menjadi tren stunting, menarik keluar implikasi kebijakan bagi pemerintah dan
masyarakat internasional untuk mencapai target.
Malnutrisi merupakan penyebab lebih dari sepertiga kematian anak - 2,6
juta per tahun. Tapi itu tidak selalu diakui atau dicatat pada sertifikat kematian,
yang sebagian mengapa belum ditangani secara efektif. Bagi anak-anak yang
bertahan hidup, malnutrisi kronis menyebabkan menghancurkan kerusakan jangka
panjang untuk perkembangan fisik dan kognitif mereka. Hari ini, 170 juta anak
balita terhambat, berarti mereka terlalu pendek untuk usia mereka dan lebih
cenderung memiliki perkembangan kognitif yang buruk.
Millenium Development Goals (MDGs) ditemukan selama 20 tahun
terakhir, kemajuan terhadap stunting telah sangat lambat. Secara global, tingkat
anak-anak terhambat telah menurun dengan hanya 0,6 persen per tahun sejak
1990. Badan Penyelamatan Anak memperkirakan bahwa jika tingkat penanganan
yang lambat terus berlanjut maka 15 tahun kemudian 450 juta anak-anak akan
terpengaruh oleh stunting dan akan menderita dampak jangka panjang dalam
perkembangan fisik dan kognitif mereka.

4
Sumber: Table 3: Save the Children. 2012. Global Stunting Reduction Target: Focus on The
Poorest or Leave Millions Behind.

5
Indikator Status Gizi

Sumber: The Use of Stunting and Wasting as Indicators for Food Insecurity and Proverty.

Indikator antrhopometric (stunting, wasting, kurus, LILA, BMI)


stunting: tinggi untuk usia Z-score nilai di bawah - 2 SD dari populasi acuan.
Indikator kekurangan gizi jangka panjang.
wasting: berat untuk Z skor ketinggian di bawah - 2 SD penduduk.
Indikator fot malnutrisi akut.
underweight: berat untuk Z skor usia di bawah - 2 SD dari populasi acuan.
Biasanya digunakan untuk statistik nasional dan regional.

6
Faktor-Faktor Penyebab Stunting
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja
tetapi disebabkan oleh banyak faktor, dimana faktor-faktor tersebut saling
berhubungan satu sama lainnnya. Ada tiga faktor utama penyebab stunting yaitu
asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam
makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan air), riwayat
berat badan lahir rendah (BBLR), dan riwayat penyakit. Secara garis besar
penyebab stunting dapat dikelompokkan kedalam 3 tingkatan yaitu tingkat
masyarakat, rumah tangga (keluarga), dan individu. Pada tingkat masyarakat,
system ekonomi; system pendidikan; system kesehatan; dan system sanitasi dan
air bersih menjadi faktor penyebab kejadian stunting. Pada tingkat rumah tangga
(keluarga), kualitas dan kuantitas makanan yang tidak memadai; tingkat
pendapatan; jumlah dan struktur anggota keluarga; pola asuh makan anak yang
tidak memadai; pelayanan kesehatan dasar yang tidak memadai; dan sanitasi dan
air bersih tidak memadai menjadi faktor penyebab stunting, dimana faktor-faktor
ini terjadi akibat faktor pada tingkat masyarakat. Faktor penyebab yang terjadi
ditingkat rumah tangga akan mempengaruhi keadaan individu yaitu anak berumur

7
dibawah 5 tahun dalam hal asupan makanan menjadi tidak seimbang; berat badan
lahir randah; dan status kesehatan yang buruk.
Analisis multivariat menunjukkan bahwa anak dengan jarak kelahiran dekat
(<2 th) berisiko menjadi stunting 11,65 kali dibandingkan anak yang memiliki
jarak kelahiran 2 th. Jarak kelahiran mempengaruhi pola asuh orangtua terhadap
anaknya. Jarak kelahiran dekat membuat orangtua cenderung lebih kerepotan
sehingga kurang optimal dalam merawat anak. Hal ini disebabkan karena anak
yang lebih tua belum mandiri dan masih memerlukan perhatian yang sangat besar.
Apalagi pada keluarga dengan status ekonomi kurang yang tidak mempunyai
pembantu atau pengasuh anak. Perawatan anak sepenuhnya hanya dilakukan oleh
ibu seorang diri, padahal ibu juga masih harus mengerjakan pekerjaan rumah
tangga yang lain.
Akibatnya asupan makanan anak kurang diperhatikan. Jarak kelahiran kurang
dari dua tahun juga menyebabkan salah satu anak, biasanya yang lebih tua tidak
mendapatkan ASI yang cukup karena ASI lebih diutamakan untuk adiknya.
Akibat tidak memperoleh ASI dan kurangya asupan makanan, anak akan
menderita malnutrisi yang bisa menyebabkan stunting. Status ekonomi kurang
merupakan faktor risiko stunting pada anak 1-2 th. Hal ini sesuai dengan
penelitian sebelumya seperti penelitian yang dilakukan oleh Siti Fatimah, Adel El
Taguri, dan JA Ricci.5,6,7 Status ekonomi kurang dapat diartikan daya beli juga
rendah sehingga kemampuan membeli bahan makanan yang baik juga rendah.
Kualitas dan kuantitas makanan yang kurang menyebabkan kebutuhan zat gizi
anak tidak terpenuhi, padahal anak memerlukan zat gizi yang lengkap untuk
pertumbuhan dan perkembangannya. Pada indepth interview diketahui bahwa
orangtua tidak memberikan telur, daging, ikan atau kacang-kacangan setiap hari.
Hal ini berarti kebutuhan protein anak tidak terpenuhi karena anak tidak
mendapatkan asupan protein yang cukup. Anak sering diasuh oleh kakak atau
neneknya karena ibu harus bekerja membantu suami atau mengerjakan pekerjaan
rumah yang lain. Usia kakak yang masih terlalu muda atau nenek yang terlalu tua
membuat kurangnya pengawasan terhadap anak. Anak sering bermain di tempat
yang kotor dan memasukkan benda-benda kotor ke dalam mulut yang dapat

8
membuat anak menjadi sakit. Jumlah anak >2 merupakan faktor risiko stunting
pada anak 1-2 th, terbukti dari hasil analisis multivriat yang menunjukkan nilai
p=0,002. Keluarga yang memiliki banyak anak terutama dengan kondisi ekonomi
kurang tidak akan dapat memberikan perhatian dan makanan yang cukup pada
seluruh anak-anaknya. Anak yang sedang dalam masa pertumbuhan terutama
masa pertumbuhan cepat seperti pada usia 1-2th sangat membutuhkan perhatian
dan stimulasi untuk perkembangan otaknya disamping membutuhkan zat gizi
yang lengkap untuk pertumbuhan fisiknya. Gangguan pertumbuhan dan
perkembangan cenderung akan dialami oleh anak yang dilahirkan belakangan,
karena beban yang ditangggung orang tua semakin besar dengan semakin
banyaknya jumlah anak yang dimiliki. Anak pertama akan lebih tercukupi
kebutuhannya karena beban orangtua masih ringan sehingga dapat memberikan
perhatian yang lebih dan memenuhi semua kebutuhan anak. Usia orangtua pada
waktu memiliki satu anak juga relatif masih muda sehingga staminanya masih
prima, sedangkan pada anak ke-3 dan seterusnya usia orangtua relatif sudah tidak
muda lagi dan staminanya semakin menurun. Usia dan stamina fisik orang tua
juga akan mempengaruhi pola asuh terhadap anak-anaknya. Ketiga faktor risiko
di atas seharusnya dapat diatasi dengan program Keluarga Berencana, jumlah
anak perlu dibatasi dan diatur jaraknya. Setelah melahirkan, ibu atau ayah harus
dihimbau supaya secepat mungkin menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah
kehamilan. Banyak orangtua yang enggan menggunakan kontrasepsi segera
setelah kelahiran anaknya, sehingga terjadi kehamilan yang sering tidak disadari
sampai kehamilan tersebut sudah menginjak usia beberapa bulan.

Faktor yang tidak terbukti sebagai faktor risiko stunting


Usia ibu pada waktu hamil tdak mempunyai hubungan yang bermakna
dengan kejadian stunting. Usia ibu <18th atau >35 th pada waktu hamil bukan
faktor risiko stunting pada anak 1-2 th karena hasil uji hipotesis pada penelitian
ini diperoleh nilai p>0,05 sehingga hipotesis nol diterima baik pada analisis
bivariat maupun analisis multivariat. Penelitian yang dilakukan oleh Supon L dkk
menyimpulkan bahwa hamil pada usia remaja merupakan faktor risiko stunting

9
(p<0,01). Usia ibu terlalu muda atau terlalu tua pada waktu hamil dapat
menyebabkan stunting pada anak terutama karena pengaruh faktor psikologis. Ibu
yang terlalu muda biasanya belum siap dengan kehamilannya dan tidak tahu
bagaimana menjaga dan merawat kehamilan. Sedangkan ibu yang usianya terlalu
tua biasanya staminanya sudah menurun dan semangat dalam merawat
kehamilannya sudah berkurang. Faktor psikologis sangat mudah dipengaruhi oleh
faktor lain. Pada kelompok kontrol dijumpai ibu hamil dalam usia terlalu muda
atau terlalu tua namun tidak menyebabkan stunting pada anak yang dilahirkannya.
Hal ini disebabkan karena para ibu tersebut kemungkinan tidak mengalami
masalah psikologis seperti yang telah diuraikan di atas. Keluarga muda biasanya
belum memiliki rumah sendiri dan masih tinggal bersama orang tua sehingga
walaupun kesiapan dan pengetahuan ibu akan kehamilan dan pengasuhan anak
belum cukup namun ada dukungan dan bantuan dari orangtua mereka. Dengan
semakin berkembangnya ilmu kedokteran dan bertambahnya sarana dan prasarana
kesehatan risiko yang dapat terjadi akibat kehamilan pada usia terlalu muda atau
terlalu tua sekarang dapat diminimalisir. Selain itu ibu yang hamil di atas usia >35
th justru biasanya sudah mapan dalam ekonomi dan memiliki pengetahuan akan
kesehatan yang cukup sehingga lebih siap dalam menghadapi kehamilannya.
Tingkat pendidikan pada penelitian ini dikategorikan sebagai tingkat pendidikan
rendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD), sedang (tamat SD, tamat SMP), dan
tinggi (tamat SMA, perguruan tinggi). Pada kelompok kasus maupun kontrol tidak
dijumpai ibu dengan tingkat pendidikan rendah. Pada kelompok kasus sebagian
besar ibu mempunyai tingkat pendidikan sedang (51,4%) sedangkan pada
kelompok kontrol sebagian besar ibu memiliki tingkat pendidikan tinggi (53,4%).
Hasil uji hipotesis pada analisis bivariate maupun multivariate diperoleh nilai
p>0,05 sehingga hipotesis nol diterima, disimpulkan bahwa tingkat pendidikan
ibu tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting pada
anak 1-2 th atau tingkat pendidikan ibu rendah bukan faktor risiko stunting pada
anak 1-2 th. Hasil penelitian sebelumnya, salah satunya oleh Ramli yang
melakukan peneltian di Maluku, Indonesia menyimpulkan bahwa tingkat
pendidikan ibu bukan merupakan faktor risiko stunting.

10
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Adel El Taguri dkk menyimpulkan
bahwa pada analisis bivariat tingkat pendidikan ibu berhubungan dengan kejadian
stunting pada balita, namun pada analisis multivariat disimpulkan tidak ada
hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan ibu dengan stunting. Tingkat
pendidikan ibu tinggi tidak menjamin anak terhindar dari malnutrisi karena
tingkat pendidikan tinggi tidak berarti ibu memiliki pengetahuan yang cukup akan
gizi yang baik. Selain itu tingkat pendidikan tinggi tidak menjamin status ekonomi
yang cukup. Ibu yang mempunyai tingkat pendidikans tinggi lebih banyak yang
berprofesi sebagai wanita karier dibanding sebagai ibu rumah tangga sehingga
perawatan anak diserahkan kepada pengasuh yang belum tentu mempunyai
pendidikan dan pengetahuan yang cukup baik. Hal inilah kemungkinan yang
menjadi penyebab mengapa tingkat pendidikan ibu rendah bukan faktor risiko
stunting pada anak 1- 2 th.
Hasil analisis univariat menyimpulkan bahwa sebagian besar ayah pada
penelitian ini memiliki tingkat pendidikan tinggi (53,4% pada kelompok kasus
dan 58,6% pada kelompok kontrol. Hasil uji hipotesis pada analisis bivariat
maupun multivariate diperoleh nilai p>0,05 sehingga hipotesis nol diterima,
disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ayah
dengan kejadian stunting pada anak 1-2 th. Tingkat pendidikan ayah rendah bukan
faktor risiko stunting pada anak 1-2 th. Hasil penelitian sebelumnya, salah satunya
oleh Adel El Taguri menyatakan bahwa tingkat pendidikan ayah merupakan
faktor risiko stunting pada balita (OR=2,7; 95%CI:1,17-3,77). Pada indepth
interview diketahui bahwa ayah biasanya berada di luar rumah untuk mencari
nafkah, sehingga perawatan anak sepenuhnya diserahkan kepada ibu. Baik ayah
yang mempunyai pendidikan tinggi maupun pendidikan rendah semuanya
cenderung tidak pernah terlibat dalam kegiatan pemberian makan anak. Selain itu
tingkat pendidikan ayah juga tidak dapat mencerminkan pengetahuan gizinya. Hal
inilah yang kemungkinan menjadi penyebab mengapa tidak terdapat hubungan
yang bermakna antara tingkat pendidikan ayah dengan kejadian stunting. Riwayat
merokok ayah dikategorikan sebagai perokok berat, perokok ringan, dan bukan
perokok. Pada kelompok kasus perokok berat 32,8%; ringan 43,1%; dan bukan

11
perokok 24,1%. Sedangkan pada kelompok control perokok berat 17,3%; ringan
51,7%, dan bukan perokok 31%. Kesimpulannya pada kelompok kasus maupun
control sebagian besar ayah merupakan perokok sedang. Hasil uji hipotesis pada
analisis bivariat dan multivariat diperoleh nilai p>0,05 sehingga hipotesis nol
diterima, disimpulkan bahwa ayah perokok tidak mempunyai hubungan yang
bermakna dengan Riwayat merokok ayah dikategorikan sebagai perokok berat,
perokok ringan, dan bukan perokok. Ayah perokok berat bukan faktor risiko
stunting pada anak 1-2 th. Hasil penelitian sebelumnya, salah satunya oleh Best
CM dkk menyimpulkan bahwa ayah perokok merupakan faktor risiko stunting
pada balita (OR 2,8, 95% CI 1.09 - 1.13, p<0.001).11 Penelitian oleh Chowdhury
dkk juga menyimpulkan bahwa ayah perokok merupakan faktor risiko stunting
pada balita (OR 1,15, 95% CI: 1.06-1.23). Ayah perokok merupakan faktor risiko
stunting karena paparan terhadap asap rokok dapat menyebabkan timbulnya
penyakit saluran nafas. Dari hasil indepth interview diketahui bahwa ayah perokok
membelanjakan sebagian penghasilannya untuk membeli rokok sehingga
mengurangi anggaran untuk membeli kebutuhan bahan makanan rumah tangga.
Pada penelitian ini disimpulkan tidak ada hubungan yang bermakna antara ayah
perokok dengan kejadian stunting pada anak 1-2 th kemungkinan disebabkan
karena sebagian besar sampel merupakan perokok sedang (< 12 batang/hr).
Paparan anak terhadap asap rokok tidak terlalu tinggi sehingga risiko anak
terserang penyakit pernafasan akibat asap rokok kecil. Selain itu biasanya ayah
lebih sering merokok pada saat bekerja atau di luar rumah sehingga semakin
memperkecil frekuensi paparan anak terhadap asap rokok. Disimpulkan bahwa
paparan terhadap asap rokok yang jarang dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun
belum menimbulkan gangguan kesehatan anak, tetapi kalau jangka waktunya
lebih lama mungkin baru akan menimbulkan gangguan kesehatan.

Akibat yang Ditimbulkan Stunting pada Pertumbuhan Bayi


Pertumbuhan linear yang tidak sesuai umur merefleksikan masalah gizi
kurang. Gangguan pertumbuhan linier (stunting) akan berdampak terhadap
pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan produktivitas. Masalah gizi kurang

12
jika tidak ditangani akan menimbulkan masalah yang lebih besar, bangsa
Indonesia dapat mengalami lost generation. Beberapa survei di Indonesia
menunjukkan, prevalensi anak usia Balita dari tahun 1992 sampai dengan 2002
Indonesia masih mengalami stunting sekitar 30-40 persen. Menurut data
Riskesdas 2007, prevalensi anak stunting secara nasional sebesar 36,8 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia masih mengalami masalah stunting
yang cukup serius dan harus segera ditangani.
Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko
meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan motorik
yang rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen & Gillespie,
2001). Berdasarkan hasil penelitian Mendez dan Adair (1999), perubahan status
stunting berhubungan dengan umur. Stunting yang terjadi pada usia 7-12 bulan,
hanya 9,5% yang berubah menjadi normal pada saat berusia 2 tahun. Peneliti di
Peru menemukan prevalensi stunting meningkat sebesar 9,7% pada anak usia 15
bulan dibandingkan pada saat anak usia 12 bulan (Marquis et al.,1997), sedangkan
menurut Martorell (1994) sebagian besar stunting terjadi pada usia 2-3 tahun.
Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada masa-masa emas ini
akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan sulit diperbaiki. Prediktor
terkuat terjadinya stunting pada usia 12 bulan adalah berat badan lahir rendah
(Espo, M et al.,2002). Sebagian besar bayi dengan BBLR mengalami gangguan
pertumbuhan pada masa kanak-kanak. Di negara-negara Asia, seperti Bangladesh,
RRC, India, Pakistan, Filipina, dan Sri Lanka, kejadian BBLR dapat memprediksi
keadaan gizi anak pada masa prasekolah. Sebuah kesimpulan dari 12 studi yang
telah dilakukan mengungkapkan pertumbuhan bayi IUGR (Intra Uterine Growth
Retardation) mengalami kegagalan pertumbuhan pada dua tahun pertama. Pada
usia 17 sampai 19 tahun, pria dan wanita yang lahir IUGR-BBLR memiliki tinggi
badan 5 cm lebih pendek dan berat badan 5 kg lebih rendah dibandingkan dengan
anak yang lahir normal.(Allen & Gillespie, 2001).
Masalah stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka waktu
panjang, yaitu kurang energi dan protein, juga beberapa zat gizi mikro. Hal ini
sejalan dengan penelitian yang dilakukan di wilayah miskin Peru yang

13
menunjukkan, stunting disebabkan karena defisiensi zat gizi dan infeksi. Selain
faktor di atas, stunting juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang menentukan.
Penelitian di Botswana, Afrika, mengenai faktor yang memengaruhi gizi kurang
(stunting, underweight, wasting) menunjukkan bahwa tingkat pendidikan ibu dan
pendapatan merupakan faktor yang signifikan berpengaruh terhadap gizi kurang.
Penelitian yang dilakukan oleh Ramli et al (2009) di Maluku Utara menunjukkan
bahwa usia anak, jenis kelamin anak, jumlah makanan keluarga per hari,
pendapatan serta pekerjaan ayah merupakan faktor risiko stunting. Berbeda
dengan dua penelitian di atas yang hanya menemukan faktor risiko, penelitian
yang dilakukan oleh Reyes et al di wilayah perdesaan dan perkotaan miskin
Meksiko menemukan faktor pelindung (protektif) anak dari stunting, yaitu faktor
pengasuhan. Anak-anak yang dirawat secara eksklusif oleh ibu terbukti terhindar
dari stunting. Selain faktor-faktor tersebut, sebenarnya akar permasalahan stunting
adalah kemiskinan. Oleh karena itu kebijakan dan program perbaikan gizi dan
kesehatan diprioritaskan pada keluarga miskin.

Penanggulangan dan pencegahan stunting padapertumbuhan bayi


1. Penanggulangan stunting pada pertumbuhan bayi
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu hari
pertama kehidupan, yaitu:
a. Pada ibu hamil
Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam
mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga
apabila ibu hamil dalam keadaan sangat kurus atau telah mengalami Kurang
Energi Kronis (KEK), maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu
hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah,
minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar
ibu tidak mengalami sakit.

14
b. Pada saat bayi lahir
Persalinan ditolong oleh bidan atau dokte rterlatih dan begitu bayi lahir
melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia 6 bulan
diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI Eksklusif).
c. Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-
ASI). Pemberian ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau
lebih. Bayi dan anak memperoleh kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar
lengkap.
d. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah
tangga.

2. Pencegahan stunting pada pertumbuhan bayi


(Ega, 2007) Waktu yang tepat atasi stunting stunting memang berdampak
serius, tapi bukan berarti tidak dapat dicegah. Pencegahan stunting sejatinya
dapat dilakukan sedini mungkin dengan memperbaiki asupan gizi mulai dari
remaja putri, wanita usia subur, ibu hamil maupun pada balita. Artinya,
sebelum hamil, kondisi sicalon ibu harus sudah siap hamil. Tentunya dengan
asupan gizi yang cukup (Estafe, 2009).
a. Kebutuhan gizi masa hamil
Pada Seorang wanita dewasa yang sedang hamil, kebutuhan gizinya
dipergunakan untuk kegiatan rutin dalam proses metabolisme tubuh,
aktivitas fisik, serta menjaga keseimbangan segala proses dalam tubuh. Di
samping proses yang rutin juga diperlukan energi dan gizi tambahan untuk
pembentukan jaringan baru, yaitu janin, plasenta, uterus serta kelenjar
mamae. Ibu hamil dianjurkan makan secukupnya saja, bervariasi sehingga
kebutuhan akan aneka macam zat gizi bisa terpenuhi. Makanan yang
diperlukan untuk pertumbuhan adalah makanan yang mengandung zat
pertumbuhan atau pembangun yaitu protein, selama itu juga perlu tambahan
vitamin dan mineral untuk membantu proses pertumbuhan itu.

15
Pada kehamilan trimester pertama umur kehamilan 0-3 bulan umumnya
timbul keluhan-keluhan seperti rasa mual, ingin muntah, pusing-pusing,
selera makan berkurang sehingga timbul kelemahan dan malas beraktivitas.
Agar kecukupan zat-zat gizi terpenuhi dapat diperhatikan hal-hal seperti
berikut:
Makanan hendaknya dipilih yang mudah dicerna. Buah-buahan segar
dan sayuran hijau biasanya dapat mengurangi rasa mual. Posi makanan
sedikit, tetapi dengan frekuensi sering. Bila kurang selera makan nasi, dapat
diganti dengan kentang, macaroni, mie atau jajanan lain yang bergizi.
Pada trimester kedua mulai dibutuhkan tambahan kalori untuk
pertumbuhan serta perkembangan janin serta untuk mempertahankan
kesehatan si ibu. Pada saat ini muntah sudah berkurang atau tidak ada, nafsu
makan bertambah, perkembangan janin sangat pesat bukan saja tubuhnya
tetapi juga susunan saraf otak (kurang lebih 90%). Oleh karena
pertumbuhan janin yang pesat di mana jaringan otak menjadi perhatian
utama maka ibu hamil memerlukan protein dan zat gizi lain seperti kalsium
dan galaktosa yang ada pada susu sehingga dianjurkan untuk minum susu
400 cc (2 gelas). Namun selain susu, bahan makanan lain yang kaya akan
protein dan kalsium antara lain : kacang-kacangan, ikan teri, dan belut.
Trimester ketiga, pada saat ini nafsu makan sudah baik sekali cenderung
untuk merasa lapar terus menerus sehingga perlu diperhatikan agar tidak
terjadi kegemukan.
b. Kebutuhan Gizi Ibu saat Menyusui
Jumlah makanan untuk ibu yang sedang menyusui lebih besar
dibanding dengan ibu hamil, akan tetapi kualitasnya tetap sama. Pada ibu
menyusui diharapkan mengkonsumsi makanan yang bergizi dan berenergi
tinggi, seperti diisarankan untuk minum susu sapi, yang bermanfaat untuk
mencegah kerusakan gigi serta tulang. Susu untuk memenuhi kebutuhan
kalsium dan flour dalam ASI. Jika kekurangan unsur ini maka terjadi
pembongkaran dari jaringan (deposit) dalam tubuh tadi, akibatnya ibu akan
mengalami kerusakan gigi. Kadar air dalam ASI sekitr 88 gr %. Maka ibu

16
yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum sebanyak 22,5 liter (8-10
gelas) air sehari, di samping bisa juga ditambah dengan minum air buah.
c. Kebutuhan Gizi Bayi 0 12 bulan
Pada usia 0 6 bulan sebaiknya bayi cukup diberi Air Susu Ibu (ASI).
ASI adalah makanan terbaik bagi bayi mulai dari lahir sampai kurang lebih
umur 6 bulan. Menyusui sebaiknya dilakukan sesegara mungkin setelah
melahirkan. Pada usia ini sebaiknya bayi disusui selama minimal 20 menit
pada masing-masing payudara hingga payudara benar-benar kosong.
Apabila hal ini dilakukan tanpa membatasi waktu dan frekuensi
menyusui,maka payudara akan memproduksi ASI sebanyak 800 ml bahkan
hingga 1,5 2 liter perhari. Jumlah ini sudah cukup untuk memenuhi
kebutuhan zat gizi bayi usia 0 6 bulan. Pada usia 6 11 bulan, ASI tetap
dilanjutkan ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). MP-
ASI harus mengandung sumber karbohidrat, protein, vitamin dan mineral.
Maka dari itu perlu ditambahkan aneka ragam bahan makanan. Pada usia
10-12 bulan, ASI tetap diberikan. Bayi mulai diperkenalkan makanan
keluarga secara bertahap. Karena merupakan makanan peralihan ke
makanan keluarga, maka bentuk dan kepadatan nasi tim harus diatur secara
berangsur, mendekati bentuk kepadatan makanan keluarga.

d. Kebutuhan Gizi Anak 1 2 tahun


Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat tetapi
perkembangan motorik meningkat, anak mulai mengeksplorasi lingkungan
sekitar dengan cara berjalan kesana kemari, lompat, lari dan sebagainya.
Namun pada usia ini anak juga mulai sering mengalami gangguan kesehatan
dan rentan terhadap penyakit infeks seperti ISPA dan diare sehingga anak
butuh zat gizi tinggi dan gizi seimbang agar tumbuh kembangnya optimal.
Pada usia ini ASI tetap diberikan. Pada masa ini berikan juga makanan
keluarga secara bertahap sesuai kemampuan anak. Variasi makanan harus
diperhatikan. Makanan yang diberikan tidak menggunakan penyedap,

17
bumbu yang tajam, zat pengawet dan pewarna. dari asi karena saat ini hanya
asi yang terbaik untuk buah hati anda tanpa efek samping.

Zat Gizi Mikro yang Berperan untuk Menghindari Stunting (Pendek)


a. Kalsium
Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi, pembekuan darah
dan kontraksi otot. Bahan makanan sumber kalsium antara lain : ikan teri
kering, belut, susu, keju, kacang-kacangan.
b. Yodium
Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon tiroid
mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Yodium juga
penting untuk mencegah gondok dan kekerdilan. Bahan makanan sumber
yodium : ikan laut, udang, dan kerang.
c. Zink
Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan luka, fungsi
kekebalan dan pengembangan fungsi reproduksi laki-laki. Bahan makanan
sumber zink : hati, kerang, telur dan kacang-kacangan.
d. Zat Besi
Zat besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan otak, dan
metabolisme energi. Sumber zat besi antara lain: hati, telur, ikan, kacang-
kacangan, sayuran hijau dan buah-buahan.

e. Asam Folat
Asam folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan pertumbuhan
sel, memproduksi sel darah merah dan mencegah anemia. Sumber asam folat
antara lain : bayam, lobak, kacang-kacangan, serealia dan sayur-sayuran

18
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Gangguan Stunting atau penurunan tingkat pertumbuhan pada manusia
utamanya disebabkan oleh kekurangan gizi. Kekurangan gizi disebabkan
oleh rusaknya mukosa usu oleh bakteri fecal yang mengakibatkan
terjadinya gangguan absopsi zat gizi, namun Stunting sendiri tidak bisa
secara jelas diketahui, karena tidak ada gejala yang menyertainya.

19
Akibatnya, banyak yang mengetahui dan menganggap stunting pada anak
menjadi hal penting yang perlu ditangani
2. Faktor-faktor penyebab stunting ada tiga faktor utamanya yaitu asupan
makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam
makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan air),
riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), dan riwayat penyakit.
3. Akibat yang ditimbulkan stunting pada bayi berdampak terhadap
pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan produktivitas selain, itu juga
berdampak faktor risiko meningkatnya angka kematian, kemampuan
kognitif, dan perkembangan motorik yang rendah serta fungsi-fungsi
tubuh yang tidak seimbang.
4. Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu hari
pertama kehidupan, yaitu: Pada ibu hamil, pada saat bayi telah lahir, dan
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap
rumah tangga. Adapun Pencegahan stunting dapat dilakukan sedini
mungkin dengan memperbaiki asupan gizi mulai dari remaja putri, wanita
usia subur, ibu hamil maupun pada balita. Artinya, sebelum hamil, kondisi
sicalon ibu harus sudah siap hamil. Tentunya dengan mengknsumsi
asupan gizi yang cukup.

B. SARAN
Diharapkan untuk Dosen, mahasiswa maupun praktisi kesehatan yang
bernaun di institusi resmi agar dapat selalu menggalakkan pola hidup sehat,
karena tanpa kita sadari semua penyakit yang ada berawal dari pola hidup kita
yang tidak sehat dan asupan gizi yang kurang mengcukupi yang
mengakibatkan sistrm kekebalan tubuh kita menurun terhadap gangguan. Dan
kita sebagai seorang Mahasiswa Kesehatan Masyarakat khususnya ILMU
GIZI diharapkan agar dapat terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat
utamanya pada ibu hamil mengenai penyakit Stunting yang disebabkan

20
karena asupan makanan yang tidak seimbang dan berbagai faktor lain. Agar
masyarakat tahu bagaimana cara mengobati maupun mencegah.

DAFTAR PUSTAKA

Candra, Aryu. 2011. Jurnal Hubungan Underlying Factors dengan Kejadian


Stunting pada Anak 1-2th. Semarang: Fakultas Kedokteran Program Studi
Ilmu Gizi . Universitas Diponegoro.

Condrorini , Dyota. 2013. Peran STBM dalam Pencegahan Stunting. (http://stbm-


indonesia.org/dkconten.php?id=5433). Diakses pada tanggal 17 September
2013.

21
Estafeta, Ezith Perdana. 2009. Fenomena stunting dan Pengaruhnya Terhadap
Asuhan ibu, Skripsi. Surabaya: Fakultas Kedoteran. Universitas Airlangga.

Gibson, Rosalind S. 2005. Principles of Nutritional Assessment. New York:


Oxford University.

Rahayu, Sri Leni dan Mira Sofyaningsih. 2011. Pengaruh Bblr (Berat Badan
Lahir Rendah) Dan Pemberian Asi Eksklusif Terhadap Perubahan Status
Stunting Pada Balita Di Kota Dan Kabupaten Tangerang Provinsi Banten.
(http://journal.unsil.ac.id/jurnal/prosiding/9/9leni_19.pdf.pdf). Diakses
tanggal 17 September 2013.

Reinhard, Ines dan K.B.S Wijayaratne. 2002. The Use of Stunting and Wasting as
Indicators for Food Insecurity and Proverty.
(www.sas.upenn.edu/~dludden/stunting-wasting.pdf). Diakses tanggal 20
September 2013.

Rosha, Bunga CH, dkk. 2012. Analisis Determinan Stunting Anak 0-23 Bulan
Pada Daerah Miskin Di Jawa Tengah Dan Jawa Timur.
(http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/pgm/article/download/3081
/3049). Diakses tanggal 17 September 2013.

Save the Children. 2012. Global Stunting Reduction Target: Focus on The Poorest
or Leave Millions Behind.
(http://www.savethechildren.org.uk/sites/default/files/docs/Stunting-
Briefing-for-WHA-final.pdf). Diakses pada tanggal 22 September 2013.

Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC.

Unicef. Policy Brief on Stunting. April. 2012.


http://www.aliveandthrive.org/sites/default/files/Policy%20Brief%20on%
20Stunting%20April%202012_0.pdf). Diakses pada tanggal 22 September
2013.

Wahyuni, Ika Retno. 2012. 1000 Hari untuk Menghindari Stunting (Pendek) pada
Anak (online) (http://persagilahat.blogspot.com/2012/04/1000-hari-untuk-
menghindari stunting.html). Diakses tanggal 19 september 2013.

Widodo, Judarwanto. 2012. Penaganan Gangguan Pertumbuhan Atau Perawakan


Pendek Pada Anak (online)
(http://pickyeaterschild.wordpress.com/2012/04/08/penanganan-gangguan-
pertumbuhan-atau-perawakan-pendek-pada-anak/). Diakses Tanggal 19
September 2013.

Wiyogowati, Citanigrum. 2012. Skripsi Kejadian Stunting pada Anak Berumur


dibawah Lima Tahun Tahun( 0-59 Bulan ) di Provinsi Papua Barat Tahun

22
2010 (Analisis Data Riskesdas 2010).
(http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/20288982-S-
Citaningrum%20Wiyogowati.pdf). Diakses pada tanggal 20 September
2013.

Zahraini, Yuni. 2013. 1000 Hari: Mengubah Hidup, Mengubah Masa Depan
(online) (http://gizi.depkes.go.id/1000-hari-mengubah-hidup-mengubah-
masa-depan). Diakses 19 September 2013.

23