Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : Tn. MA
No. Rekam Medik : 652386
Usia : 61 tahun
Tgl. MRS : 14 maret 2014

II. Anamnesis
Keluhan utama: BAB bercampur darah
Riwayat penyakit sekarang : dialami sejak 3 bulan yang lalu. Pasien
selama ini bisa defekasi, tetapi hanya berupa feses campur lendir dan
terkadang campur darah, kadang-kadang menetes setelah BAB. Pola
defekasi berubah hanya satu kali dalam dua hari. Pasien mengeluh bila
buang air besar membutuhkan waktu yang lama dan harus mengedan
kuat, namun kotoran yang keluar hanya sedikit seperti kotoran
kambing sehingga pasien merasa tidak puas setelah BAB. Susah BAB
juga disertai dengan rasa nyeri. Sifat nyeri hilang timbul, dirasakan
pada perut kiri bawah. Nyeri tidak dipengaruhi oleh aktivitas fisik.
Pasien tidak memiliki riwayat muntah.
Sudah 2 bulan pasien mengkonsumsi obat pencahar, namun tidak ada
perubahan. Pasien merasa perut terasa penuh jika makan sehingga pasien
mengalami penurunan berat badan 6 kg dalam beberapa bulan terakhir.
Riwayat penyakit dahulu : pasien tidak pernah mengalami susah buang air
besar sebelumnya.
Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga : Tidak ada riwayat penyakit
yang sama dalam keluarga
Riwayat kebiasaan : pasien sering mengkonsumsi makanan berlemak dan
jarang mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah
Pasien merokok sejak 30 tahun, 1 bungkus rokok/ hari , namun 1
bulan terakhir berhenti karena penyakitnya.
Riwayat mengkonsumsi alkohol disangkal

1
III. Pemeriksaan Fisis

Kesan umum: Tampak sakit sedang/gizi cukup/sadar


Tanda vital:
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit
Suhu : 36.8C
Status lokalis
a. Pemeriksaan kepala
Mata : anemis -/-, ikterus -/-
Bibir : sianosis -/-
b. Pemeriksaan leher
Limfadenopati : -
DVS : R + 1 cmH2Opada posisi duduk (450)
c. Pemeriksaan dada
Inspeksi : Normochest, pergerakan gerak napas simetris.
Palpasi : Massa tumor (-)
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Bunyi utama :Bronkovesikuler

Bunyi tambahan :Wheezing (-/-), Rhonki

d. Pemeriksaan jantung
Inspeksi : Ictus cordis tdak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi :
Batas jantung kanan : Linea parasternalis dekstra
Batas jantung kiri : Linea midklavikularis sinistra
Auskultasi : BJ I/II,regular
Bising (-)

2
e. Pemeriksaan abdomen

Inspeksi : Datar, ikut gerak napas


Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
Perkusi : massa tumor (-), nyeri tekan (-)
Palpasi : Hepar : tidak teraba
Limpa : tidak teraba
Massa tumor (-)
f. Pemeriksaan ekstremitas
Inspeksi : Edema pretibial (-/-)
Palpasi : Akral hangat

g. Pemeriksaan rectal toucher


- Sphincter longgar, ampulla kosong,mukosa licin, teraba massa arah jam
8-10-14, terfiksir, berbenjol-benjol, 4cm dari anal verge.
-Handscoen : Darah (+), feses (-), lendir (-)

IV. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium
Pemeriksaan 29/12/2013

WBC 8 x 103
RBC 3,88 x 106
HB 11,2
HCT 33%
PLT 433.000
GDS 110
Ur/Cr 14/0,7

GOT/GPT 18/18
CT 800
BT 3

3
PT/APTT 12,8/24
Na/K/CL 137/3,8/99
Albumin 1,9
Hbs Ag Non Reactive
Anti HCV Non Reactive
CEA 7,84

USG Abdomen (24/02/2014):

- Hepar : ukuran dan echo parenkim dalam batas normal,


permukaan reguler, tepi tajam, tidak tampak SOL, tidak tampak
dilatasi vaskular dan bile duct
- GB : tidak menebal, tidak tampak echo batu

4
- Pankreas : ukuran dan echo parenkim dalam batas normal, tidak
tampak dilatasi duktus pankreatik, tidak tampak mass/ cyst
- Lien : ukuran membesar, echo parenkim dalam batas normal.
Tidak tampak mass/cyst
- Loop-loop usus yang terscan tidak dilatasi, gerakan peristaltik
normal, tidak tampak gambaran pseudo kidney pada daerah lesi
- Ren: ukuran, bentuk, dan kapsula baik.echo korteks/sinus
normal, tak tampak echo batu didalamnya. Tak tampak tanda-
tanda bendungan pada pelviocalyceal sistem
- VU : dinding tidak menebal, reguler. Tidak tampak echo
batu/mass
- Tidak tampak pembesaran KGB paraaorta

KESAN: Sugestive massa rectosigmoid

CT Scan abdomen (27/02/2014):

Tampak massa sirkuler pada rektum bagian distal, batas tidak tegas yang
menginfiltrasi ke jaringan perirektal.loop-loop usus bagian proksimal lesi
sedikit dilatasi.
Tampak pembesaran KGB parainguinal

5
Hepar: ukuran dan densitas parenkim dalam batas normal. Tidak tampak
dilatasi duktus pankreatikus. Tidak tampak SOL
Lien: ukuran seidkit membesar, densitas parenkim dalam batas normal,
Tidak tampak SOL
Ren: ukuran dan densitas parenkim dalam batas normal. Tidak tampak
dilatasi PCS, tidak tampak densitas batu mass/cyst.
VU: dinding tidak menebal, mukosa reguler, tidak tampak densitas batu
atau massa didalamnya
Densitas cairan bebas pada kedua cavum pleura
Osteofit pada vertebra lumbalis (spondilosis lumbalis)
KESAN :
- Massa rectal yang menginvasi ke jaringan perirectal disertai
lymphadenopathy (DUKES C)
- Slight splenomegaly

V. Diagnosis

Karsinoma rektum 1/3 distal

Vi. Penatalaksanaan

- Diet tinggi serat rendah lemak


- Abdominal perineal resection (Miles procedure)

6
DISKUSI

Seorang laki-laki berusia 61 tahun dengan diagnosis Karsinoma rektum


1/3 distal. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan penunjang.
Dari anamnesis yang menunjang diagnosis adaalah perubahan pola buang
air besar (change of bowel habits), ada rasa tidak puas setelah BAB (tenesmus),
perdarahan per anum, faktor resiko (faktor genetik), kebiasaan makan (rendah
serat banyak lemak), penurunan berat badan, dan riwayat merokok. Dari
pemeriksaan fisik yaitu pemeriksaan abdomen tidak ditemukan kelainan tetapi
dari pemeriksaan rectal toucher didapatkan adanya massa tumor padat, keras 4
cm dari anal verge. Pasien ini sudah dilakukan CT Scan abdomen dengan hasil
massa rectal yang menginfiltrasi ke jaringan perirectal disertai lymphadenopathy
(DUKES C).
Pasien ini akan dilakukan operasi Abdominal perineal resection (Miles
procedure) karena tumor/ lesi terletak di 1/3 distal sehingga mengharuskan
pembuatan kolostomi permanen. Dimana dari hasil pemeriksaan rectal toucher
massa teraba 4cm dari anal verge.

7
KARSINOMA REKTUM
I. Pendahuluan
Karsinoma rekti merupakan tumor ganas terbanyak di antara
tumor ganas saluran cerna, lebih 60% tumor kolorektal berasal dari
rektum. Salah satu pemicu kanker rectal adalah masalah nutrisi dan kurang
berolah raga. Kanker rektal merupakan salah satu jenis kanker yang tercatat
sebagai penyakit yang paling mematikan di dunia. Namun, penyakit ini
bukannya tidak dapat disembuhkan. Jika penderita telah terdeteksi
secara dini, maka kemungkinan untuk sembuh bisa mencapai 50 persen.1
Setiap waktu, kanker ini bisa menyerang seseorang. Risikonya akan terus
meningkat seiring dengan penambahan usia. Data dari Amerika Serikat dan
Inggris memperlihatkan, orang yang berusia antara 60 sampai 80 tahun berisiko
tiga kali dari kelompok usia lainnya. Mereka yang memiliki riwayat peradangan
saluran cerna berisiko tinggi untuk berkembang menjadi kolorektal.1
Umumnya penderita datang dalam stadium lanjut, seperti kebanyakan tumor
ganas lainnya; 90% diagnosis karsinoma rekti dapat ditegakkan dengan colok
dubur. Sampai saat ini pembedahan adalah terapi pilihan untuk karsinoma rekti.2

II. Anatomi rektum


Secara anatomi rektum terbentang dari vertebra sakrum ke-3 sampai garis
anorektal. Secara fungsional dan endoskopik, rektum dibagi menjadi bagian
ampula dan sfingter. Bagian sfingter disebut juga annulus hemoroidalis,
dikelilingi oleh muskulus levator ani dan fasia coli dari fasia supra-ani. Bagian
ampula terbentang dari sakrum ke-3 ke difragma pelvis pada insersi muskulus
levator ani. Panjang rektum berkisa 10-15 cm, dengan keliling 15 cm pada
rectosigmoid junction dan 35 cm pada bagian ampula yang terluas. Pada orang
dewasa dinding rektum mempunyai 4 lapisan : mukosa, submukosa, muskularis
(sirkuler dan longitudinal), dan lapisan serosa.

8
Gambar 1. Anatomi Anus dan Rektum.
Perdarahan arteri daerah anorektum berasal dari arteri hemoroidalis
superior, media, dan inferior. Arteri hemoroidalis superior yang merupakan
kelanjutan dari a. mesenterika inferior, arteri ini bercabang 2 kiri dan kanan.Arteri
hemoroidalis merupakan cabang a. iliaka interna, arteri hemoroidalis inferior
cabang dari a. pudenda interna. Vena hemoroidalis superior berasal dari 2 plexus
hemoroidalis internus dan berjalan ke arah kranial ke dalam v. mesenterika
inferior dan seterusnya melalui v. lienalis menuju v. porta. Vena ini tidak berkatup
sehingga tekanan dalam rongga perut menentukan tekanan di dalamnya.
Karsinoma rektum dapat menyebar sebagai embolus vena ke dalam hati. Vena
hemoroidalis inferior mengalirkan darah ke v. pudenda interna, v. iliaka interna
dan sistem vena kava. Pembuluh limfe daerah anorektum membentuk pleksus
halus yang mengalirkan isinya menuju kelenjar limfe inguinal yang selanjutnya
mengalir ke kelenjar limfe iliaka. Infeksi dan tumor ganas pada daerah anorektal
dapat mengakibatkan limfadenopati inguinal. Pembuluh rektum di atas garis
anorektum berjalan seiring dengan v. hemoroidalis seuperior dan lanjut ke
kelenjar limfe mesenterika inferior dan aorta. Persarafan rektum terdiri atas sistem
simpatik dan parasimpatik. Serabut simpatik berasal dari pleksus mesenterikus
inferior yang berasal dari lumbal 2, 3, dan 4, serabut ini mengatur fungsi emisi air
mani dan ejakulasi. Serabut parasimpatis berasal dari sakral 2, 3, dan 4, serabut ini
mengatur fungsi ereksi penis, klitoris dengan mengatur aliran darah ke dalam
jaringan.1,2,5,11

9
III. Etiologi dan epidemiologi

Price dan Wilson (1994) mengemukakan bahwa etiologi karsinoma rektum


sama seperti kanker lainnya yang masih belum diketahui penyebabnya. Faktor
predisposisi munculnya karsinima rektum adalah poliposis familial, defisiensi
imunologi, colitis ulseratifa, granulomartosis dan colitis. Faktor predisposisi
penting lainnya yang mungkin berkaitan adalah kebiasaan makan. Masyarakat
yang dietnya rendah selulosa tapi tinggi protein hewani dan lemak, memiliki
insiden yang cukup tinggi.1
Burkitt (1971) yang kutip oleh Price dan Wilson mengemukakan bahwa
diet rendah serat, tinggi karbohidrat refined, mengakibatkan perubahan pada flora
feses dan perubahan degradasi garam-garam empedu atau hasil pemecahan protein
dan lemak, dimana sebagian dari zat-zat ini bersifat karsinogenik. Diet rendah
serat juga menyebabkan pemekatan zat yang berpotensi karsinogenik dalam feses
yang bervolume lebih kecil. Selain itu, masa transisi feses meningkat. Akibatnya
kontak zat yang berpotensi karsinogenik engan mukosa usus bertambah lama.1
Sekitar 135.000 kasus baru kanker kolorektal terjadi di Amerika Serikat
setiap tahunnya, dan menyebabkan angka kematian sekitar 55.000. sepertiga kasus
ini terjadi di kolon dan 2/3 di rectum. Adenokarsinoma merupakan jenis terbanyak
(98%), jenis lainnya yaitu karsinoid (0,1%), limfoma (1,3%), dan sarcoma (0,3%).
Insiden karsinoma kolon dan rectum di Indonesia cukup tinggi demikian juga
angka kematiannya. Insiden pada pria sebanding dengan wanita, dan lebih banyak
pada orang muda. Sekitar 75% ditemukan di rektosigmoid. Di Negara barat,
perbandingan insiden pria: wanita = 3:1 dan kurang dari 50% ditemukan di
rektosigmoid dan merupakan penyakit orang usia lanjut. Pemeriksaaan colok
dubur merupakan penentu karsinoma rectum. 2,4

10
Gambar 2. Insidensi kanker tertinggi di Indonesia pada tahun 2002 berdasarkan
WHO, 2008

IV. Patogenesis. 5,6


Kanker kolorektal timbul melalui interaksi yang kompleks antara faktor
genetik dan faktor lingkungan. Factor genetik mendominasi yang lainnya pada
kasus sindrom herediter seperti Familial Adenomatous Polyposis (FAP) dan
Herditer Nonpolyposis Colorectal Cancer (HNPC), kanker kolorektal yang
sporadik muncul setelah melewati rentang masa yang lebih panjang sebagai akibat
faktor lingkungan yang menimbulkan perubahan genetik yang berkembang
menjadi kanker. Kedua jenis kanker kolorektal tidak muncul secara mendadak
melainkan melalui proses yang dapat diidentifikasikan pada mukosa kolon.
Mukosa rektum yang normal sel-sel epitelnya beregenerasi setiap 6 hari. Pada
adenoma terjadi perubahan genetik yang mengganggu proses diferensiasi dan
maturasi sel-sel tersebut, yang dimulai dengan inaktivasi gen adenomatous
polyposis coli (APC) yang menyebabkan replikasi yang tidak terkontrol. Dengan
peningkatan jumlah sel tersebut menyebabkan terjadi mutasi yang mengaktivasi
K-ras onkogen dan mutasi gen p53, hal ini akan mencegah apoptosis dan
memperpanjang hidup sel.

11
V. Faktor resiko. 1,2,7,8
Etiologi dari kanker rektum belum diketahui, tetapi beberapa faktor resiko
dapat menyebabkan terjadinya kanker rektum. Beberapa resiko yang dapat
berperan dalam terjadinya karsinoma rekti antara lain :
o Faktor genetik seperti familial adenomatous polyposis (FAP), hereditary
nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC).
o Riwayat keluarga yang menderita kanker kolorektal.
Seseorang dengan keluarga terdekat yang mempunyai kanker kolorektal
mempunyai kemungkinan untuk menderita kanker kolorektal dua kali
lebih tinggi bila dibandingkan dengan seseorang yang tidak memiliki
riwayat kanker kolorektal pada keluarganya.
o Riwayat polip rektum, kanker ovarium, endometriosis, dan kanker
payudara.
- Polip
Kepentingan utama dari polip bahwa telah diketahui potensial untuk
menjadi kanker kolorektal. Evolusi dari kanker itu sendiri merupakan
sebuah proses yang bertahap, dimana proses dimulai dari hiperplasia sel
mukosa, adenoma formation, perkembangan dari displasia menuju
transformasi maligna dan invasif kanker. Aktifasi onkogen, inaktifasi
tumor supresi gen, dan kromosomal deletion memungkinkan
perkembangan dari formasi adenoma, perkembangan dan peningkatan
displasia dan invasif karsinoma

Gambar 3. Sekuens Adenoma Karsinoma

12
o Umur di atas 50 tahun.
Usia merupakan faktor paling relevan yang mempengaruhi risiko
kanker kolorektal pada sebagian besar populasi. Risiko dari kanker
kolorektal meningkat bersamaan dengan usia, terutama pada pria dan
wanita berusia 50 tahun atau lebih, dan hanya 3% dari kanker kolorektal
muncul pada orang dengan usia dibawah 40 tahun. Lima puluh lima persen
kanker terdapat pada usia 65 tahun
o Inflamatory bowel disease seperti penyakit crohn, kolitis ulseratifa.
o Diet tinggi lemak rendah serat.
Serat makanan terutama yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan
lignin sebagian besar tidak dapat dihancurkan oleh enzim-enzim dan
bakteri di dalam tractus digestivus. Serat makanan ini akan menyerap air
di dalam colon, sehingga volume feses menjadi lebih besar dan akan
merangsang syaraf pada rectum, sehingga menimbulkan keinginan untuk
defekasi. Dengan demikian tinja yang mengandung serat akan lebih mudah
dieliminir atau dengan kata lain transit time yaitu kurun waktu antara
masuknya makanan dan dikeluarkannya sebagai sisa makanan yang tidak
dibutuhkan tubuh menjadi lebih singkat. Waktu transit yang pendek,
menyebabkan kontak antara zat-zat iritatif dengan mukosa colorectal
menjadi singkat, sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit di colon
dan rectum. Di samping menyerap air, serat makanan juga menyerap asam
empedu sehingga hanya sedikit asam empedu yang dapat merangsang
mukosa colorectal, sehingga timbulnya karsinoma colorectal dapat
dicegah.

VI. Diagnosis 9,10


a. Anamnesa
Meliputi perubahan pola kebiasaan defekasi, baik berupa diare ataupun
konstipasi (change of bowel habit), perdarahan per anum (darah segar),
penurunan berat badan, faktor predisposisi (risk factor), riwayat kanker dalam
keluarga, riwayat polip usus, riwayat colitis ulserosa, riwayat kanker
payudara/ovarium, uretero sigmoidostomi, serta kebiasaan makan (rendah

13
serat, banyak lemak). Gejala yang paling sering dikeluhkan adalah adanya
perubahan pola buang air besar (change of bowel habits), bisa diare bisa juga
obstipasi. Semakin distal letak tumor semakin jelas gejala yang ditimbulkan
karena semakin ke distal feses semakin keras dan sulit dikeluarkan akibat
lumen yang menyempit, bahkan bisa disertai nyeri dan perdarahan, bisa jelas
atau samar. Warna perdarahan sangat bervariasi, merah terang, purple,
mahogany, dan kadang kala merah kehitaman. Makin ke distal letak tumor
warna merah makin pudar. Perdarahan sering disertai dengan lendir,
kombinasi keduanya harus dicurigai adanya proses patologis pada colorectal.
Selain itu, pemeriksaan fisik lainnya yaitu adanya massa yang teraba pada
fossa iliaca dextra dan secara perlahan makin lama makin membesar.
Penurunan berat badan sering terjadi pada fase lanjut, dan 5% kasus sudah
metastasis jauh ke hepar.

b. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan colok dubur dilakukan pada setiap penderita dengan tujuan
untuk menentukan keutuhan spinkter ani, ukuran dan derajat fiksasi tumor
pada rectum 1/3 tengah dan distal. Pada pemeriksaan colok dubur yang harus
dinilai adalah pertama, keadaan tumor: ekstensi lesi pada dinding rectum.
Kedua, mobilitas tumor untuk mengetahui prospek terapi pembedahan.
Ketiga, ekstensi penjalaran yang diukur dari ukuran tumor dan karakteristik
pertumbuhan primer, mobilitas atau fiksasi lesi.

c. Pemeriksaan penunjang
o Pemeriksaan CEA (carcinoembrionic antigen).
o Endoskopi UltraSound (EUS)
EUS secara signifikan menguatkan penilaian preoperatif dari
kedalaman invasi tumor, terlebih untuk tumor rektal. Keakurasian dari
EUS sebesar 95%, 70% untuk CT dan 60% untuk digital rektal
examination. Pada kanker rektal, kombinasi pemakaian EUS untuk
melihat adanya tumor dan digital rektal examination untuk menilai

14
mobilitas tumor seharusnya dapat meningkatkan ketepatan rencana
dalam terapi pembedahan dan menentukan pasien yang telah
mendapatkan keuntungan dari preoperatif kemoradiasi. Transrektal
biopsi dari kelenjar limfa perirektal bisa dilakukan di bawah
bimbingan EUS.
o Magnetic Resonane Imaging (MRI).
MRI lebih spesifik untuk tumor pada hepar daripada CT scan dan
sering digunakan pada klarifikasi lesi yang tak teridentifikasi dengan
menggunakan CT scan. Karena sensifitasnya yang lebih tinggi
daripada CT scan, MRI dipergunakan untuk mengidentifikasikan
metastasis ke hepar.
o Pemeriksaan FOBT (fecal occult bleeding test)
o Kolonoskopi yaitu sebuah prosedur untuk melihat bagian rektum dan
sigmoid apakah terdapat polip, kanker atau lainnya. Alat colonoscope
dimasukkan melalui rektum sampai kolon sigmoid, polip atau sample
jaringan dapat diambil untuk biopsy.

Gambar 4. Pemeriksaan kolonoskopi


o CT Scan abdomen.
CT scan bisa mendeteksi metastase ke hepar, kelenjar adrenal,
ovarium, kelenjar limfa dan organ lainnya di pelvis. CT scan sangat
berguna untuk mendeteksi rekurensi pada pasien dengan nilai CEA
yang meningkat setelah pembedahan kanker kolon. Sensitifitas CT
scan mencapai 55%.

15
o Barium enema. Yaitu cairan yang mengandung barium dimasukkan
melalui rektum kemudian dilakukan seri foto x-rays pada traktus
gastrointestinal bawah.

Gambar 5. Pemeriksaan Barium Enema

Jika ditemukan tumor dari salah satu pemeriksaan diatas, biopsi harus dilakukan.
Secara patologi anatomi, adenocarcinoma merupakan jenis yang paling sering
yaitu sekitar 90 sampai 95% dari kanker usus besar. Jenis lainnya ialah karsinoma
sel skuamosa, carcinoid tumors, adenosquamous carcinomas, dan
undifferentiated tumors.1,2

Ketika diagnosis rektal Kanker sudah dipastikan, maka dilakukan prosedur untuk
menetukan stadium tumor. Hal ini termasuk computed tomography scan (CT
scan) dada, abdomen, dan pelvis, complete blood count (CBC), tes fungsi hepar
dan ginjal, urinanalysis, dan pengukuran tumor marker CEA (carcinoembryonic
antigen).

Tabel 1. Diagnosis karsinoma rektum

Cara pemeriksaan Persentase


Colok dubur 40%
Kolonoskopi 100%
Rektosigmoideskopi 75%
Foto kolon dengan barium kontras 90%

16
VII. Klasifikasi 1,2,10,11
a. Modifikasi klasifikasi Dukes (Modified Astler-Coller Staging System)
Tabel 2. Klasifikasi karsinoma rectum menurut Dukes

Gambar 6. Stadium karsinoma rektum I- IV


Berdasarkan klasifikasi Dukes
o Stadium 0
Pada stadium 0, kanker ditemukan hanya pada bagian paling dalam
rektum, yaitu mukosa saja, disebut juga carcinoma in situ
o Stadium I
Pada stadium I, kanker telah menyebar menembus mukosa sampai
lapisan muskularis dan melibatkan bagian dalam dinding rektum tapi
tidak menyebar ke bagian terluar dinding rektum ataupun keluar dari
rektum. Disebut juga Dukes A rectal cancer

17
o Stadium II
Pada stadium II, kanker telah menyebar keluar rektum ke jaringan
terdekat namun tidak menyebar ke limfonodi, disebut juga Dukes B
rectal cancer
o Stadium III
Pada stadium III, kanker telah menyebar ke limfonodi terdekat, tapi
tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya, disebut juga Dukes C rectal
cancer
o Stadium IV
Pada stadium IV, kanker telah menyebar ke bagian lain tubuh seperti
hati, paru, dan ovarium. Disebut juga Dukes D rectal cancer

b. Klasifikasi berdasarkan system Tumor-Node-Metastase (TNM)


Tabel 3. Klasifikasi Karsinoma rektum menurut system TNM

VIII. Penatalaksanaan 2,6,11,12


1. Pembedahan
Pembedahan merupakan terapi utama untuk kanker rektum. Pembedahan
merupakan terapi yang paling lazim digunakan terutama untuk stadium 1 dan 2
kanker rektum, bahkan pada suspek stadium 3 juga masih dapat dilakukan
pembedahan. Seiring perkembangan ilmu pengetahuan, sekarang sebelum
dioperasi pasien diberi presurgical treatment berupa radiasi dan kemoterapi.
Penggunaan kemoterapi sebelum pembedahan dikenal sebagai neoadjuvant
chemotherapy, dan terapi ini biasanya digunakan pada pasien dengan kanker
rektum stadium dan 3. Pada pasien lainnya yang hanya dilakukan pembedahan,
meskipun sebagaian jaringan kanker sudah diangkat saat operasi, beberapa pasien

18
masih perlu kemoterapi atau radiasi pasca pembedahan yang dapat dilakukan,
antara lain:
a. eksisi local
Eksisi lokal jika kanker ditemukan pada stadium paling dini, tumor
dapat dihilangkan tanpa melakukan pembedahan lewat abdomen. Jika
tumor ditemukan dalam bentuk polip, maka operasinya disebut
polypectomy. Eksisi lokal melalui rektoskop dapat dilakukan pada
karsinoma terbatas. Seleksi penderita harus dilakukan dengan teliti,
antara lain dengan menggunakan endoskopi ultrasonografik untuk
menentukan tingkat penyebaran didalam dinidng rektum adanya ganas
pararektal
Indikasi dan kontraindikasi eksisi lokal kanker rektum
o Indikasi
- Tumor bebas, berada 8 cm dari anal verge
- T1 dan T2 yang dipastikan dengan pemeriksaan ultrasound
- Termasuk well-differentiated atau moderately secara
histology
- Ukuran kurang dari 3-4 cm
o Kontraindikasi
- tumor tidak jelas
- Termasuk T3 yang dipastikan dengan ultrasound
- termasuk poorly differentiated secara histologi

b. Low Anterior Resection (LAR)


Metode ini digunakan untuk lesi yang terletak di tengah atau 1/3 atas
rektum, untuk massa tumor lebih 5 cm dari anokutan dipertimbangkan
reseksi rektum rendah (low anterior resection/LAR) sehingga tidak
perlu dikolostomi
Rektum terdiri atas 3 bagian yaitu 1/3 atas, tengah dan bawah. Kanker
yang berada dilokasi 1/3 atas dan tengah dapat dilakukan restorative
anterior resection kanker 1/3 distal rektum merupakan masalah pelik.
Eksisi local dapat diterapkan untuk mengobati kanker rektum dini

19
yang terbukti belum memperlihatkan tanda-tanda metastasis ke
kelenjar getah bening. Operasi ini dapat dilakukan melalui beberpa
pendekatan yaitu transsacral, transpincter transsacral,. Pendekatan
transpincter memiliki kekurangan untuk mengamati keterlibatan
kelenjar pararektal.

Gambar 7 . Low Anterior Resection


c. Abdominal perineal resection (Miles procedure)
Untuk massa tumor < 5 cm dari anokutan. Pengangkatan kanker
rektum biasanya dilakukan dengan reseksi abdominoperineal, termasuk
pengangkatan seluruh rectum, mesorektum dan bagian dari otot levator
ani dan dubur. Prosedur ini merupakan pengobatan yang efektif namun
mengharuskan pembuatan kolostomi permanen
Pada tumor rectum 1/3 tengah dilakukan reseksi dengan
mempertahankan sfingter anus, sedangkan pada tumor 1/3 distal
dilakukan amputansi rektum melalui resksi abdominoperineal Quenu-
miles. Pada operasi ini anus turut dikeluarkan.

20
Gambar 8 . Prosedur Miles

2. Radiasi
Radiasi pra bedah hanya diberikan pada karsinoma rectum. Sementara itu,
radiasi pasca bedah diberikan jika sel karsinoma telah menembus tunika
muscularis propria, ada metastasis ke kelenjar limfe regional, atau apabila masih
ada sisa-sisa sel karsinoma yang tertinggal akan tetapi belum ada metastasis jauh
3. Kemoterapi
Kemoterapi diberikan apabila ada metastasis ke kelenjar regional (Dukes
C), tumor telah menembus muskularis propria (Dukes B), atau tumor setelah
dioperasi kemudian residif kembali. Kemoterapi yang biasa diberikan pada
penderita kanker colorectal adalah kemoterapi ajuvan. Sepertiga pasien yang
menjalani operasi kuratif akan mengalami rekurensi. Kemoterapi ajuvan
dimaksudkan untuk menurunkan tingkat rekurensi kanker colorectal setelah
operasi. Pasien Dukes A jarang mengalami rekurensi sehingga tidak perlu terapi
ajuvan. Pasien kanker colorectal Dukes C yang mendapat levamisol dan 5 FU
secara signifikan meningkatkan harapan hidup dan masa interval bebas tumor
(disease free interval). Kemoterapi ajuvan tidak berpengaruh pada kanker
colorectal Dukes B.

IX. Prognosis 12
Angka 5 tahun keberhasilan hidup untuk pasien kanker kolorektal adalah sebagai
berikut :

21
o Stage I 72 %
o Stage II 54%
o Stage III 39%
o Stage IV 7%
Lima puluh persen pasien biasanya terjadi rekurensi, baik lokal maupun ditempat
yang lain, atau keduanya. Rekurensi lokal lebih sering terjadi pada kanker rektum
daripada kanker kolon. Angka rekurensi berkisar 5-30%, terjadi 2 tahun setelah
pembedahan. Faktor yang mempengaruhi rekurensi antara lain stadium tumor
primer, lokasi tumor primer.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Hassan , Isaac 2006, Rectal carcinoma, www.emedicine.com


2. Cirincione, Elizabeth 2005, Rectal Cancer,www.emedicine.com
3. Anonim, 2006, Mengatasi Kanker Rektal, Republika online,
www.republika.co.id
4. American Cancer Society, 2006, Cancer Facts and Figures 2006,
American Cancer Society Inc. Atlanta
5. Anonim, 2006, A Patients Guide to Rectal Cancer, MD Anderson Cancer
Center, University of Texas.
6. Azamris, Nawawir Bustani, Misbach Jalins., 1997, Karsinoma Rekti di
RSUP Dr. Jamil Padang, Cermin dunia Kedokteran no.120
7. Anonim, 2006, Rectal Cancer Facts : Whats You Need To Know,
www.healthABC.info
8. Anonim, 2006, Rectal Cancer - Overview, Screening, Diagnosis &
Staging, www.OncologyChannel.com
9. Anonim, 2005, Rectal Cancer Treatment ,
www.nationalcancerinstitute.htm
10. Marijata, 2006, Pengantar Dasar Bedah klinis, Unit Pelayanan Kampus,
FK UGM.
11. De Jong Wim, Samsuhidajat R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
12. Mansjoer Arif et all, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Penerbit
Buku Media Aesculapius. Jakarta.

23
24