Anda di halaman 1dari 21

Kadmium adalah logam kebiruan yang lunak, termasuk golongan II B tableberkala dengan konigurasi

elekron [Kr] 4d105s2. unsur ini bernomor atom 48,mempunyai bobot atom 112,41 g/mol dan densitas
8,65 g/cm3. Titik didih dan titik lelehnya berturutturut 765oC dan 320,9oC. Kadmiun merupakan racun
bagi tubuhmanusia. Waktu paruhnya 30 tahun dan terakumulasi pada ginjal, sehingga ginjalmengalami
disfungsi kadmium yang terdapat dalam tubuh manusia sebagian besardiperoleh melalui makanan dan
tembakau, hanya sejumlah kecil berasal dari air minumdan polusi udara. Pemasukan Cd melalui
makanan adalah 10 40 g/hari, sedikitnya 50% diserap oleh tubuh. Rekomendasi pemasukan Cd
menurut gabungan FAO/WHOdengan batas toleransi tiap minggunya adalah 420 g untuk orang dewasa
dengan berat badan 60 kg. Pemasukan Cd rata-rata pada tubuh manusia ialah 10 20 % dari batasyang
telah direkomendasikan. Unsur Cd dapat mengurangi jerapan ion-ion hara karenadaya afinitas yang
tinggi dari logam berat tersebut pada kompleks pertukaran kation. Dialam Cd bersenyawa dengan
belerang (S) sebagai greennocckite (CdS) yang ditemuibersamaan dengan senyawa spalerite (ZnS).
Kadmium merupakan logam lunak (ductile)berwarna putih perak dan mudah teroksidasi oleh udara
bebas dan gas amonia (NH3). Diperairan Cd akan mengendap karena senyawa sulfitnya sukar larut.

B. SIFAT DAN KEGUNAAN KADMIUM (Cd)

a.Sifat

Sifat Fisik :

Logam berwarna putih keperakan

Mengkilat

Lunak/Mudah ditempa dan ditarik

Titik lebur rendah

Sifat Kimia:

Cd tidak larut dalam basa

Larut dalam H2SO4 encer dan HCl encer Cd

Cd tidak menunjukkan sifat amfoter

Bereaksi dengan halogen dan nonlogam seperti S, Se, P

Cd adalah logam yang cukup aktif

Dalam udara terbuka, jika dipanaskan akan membentuk asap coklat CdO

Memiliki ketahanan korosi yang tinggih.

CdI2 larut dalam alcohol


b. Kegunaan

Kadmium telah digunakan secara meluas pada berbagai industri antara lainpelapisan logam, peleburan
logam, pewarnaan, baterai, minyak pelumas, bahan bakar.Bahan bakar dan minyak pelumas
mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubaramengandung Cd sampai 2 ppm, pupuk superpospat juga
mengandung Cd bahkan adayang sampai 170 ppm.

C.SUMBER-SUMBER KADMIUM (Cd)

Menurut Clark (1986) sumber kadmium yang masuk ke perairan berasal dari:

1) Uap, debu dan limbah dari pertambangan timah dan seng.

2) Air bilasan dari elektroplating.

3) Besi, tembaga dan industri logam non ferrous yang menghasilkan abu dan uap serta airlimbah
dan endapan yang mengandung kadmium.

4) Seng yang digunakan untuk melapisi logam mengandung kira-kira 0,2 % Cd sebagaibahan
ikutan (impurity); semua Cd ini akan masuk ke perairan melalui proses korosidalam kurun waktu 4-12
tahun.

5) Pupuk phosfat dan endapan sampahSumber kadmium terutama dari biji seng, timbal-seng, dan
timbal-tembaga-seng.

Kandungan logam Cd bersumber dari makanan dan lingkungan perairan yang sudahterkontaminasi oleh
logam berat. Kontaminasi makanan dan lingkungan perairan tidak terlepasdari aktivitas manusia didarat
maupun pada perairan. Sifat logam Cd yang akumulatif pada suatu jaringan organisme serta sulit terurai.
Kadmium dalam air juga berasal dari pembuangan industridan limbah pertambangan. Logam ini sering
digunakan sebagai pigmen pada keramik, dalampenyepuhan listrik, pada pembuatan alloy, dan baterai
alkali.

Bahan bakar dan minyak pelumas mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubaramengandung Cd sampai 2
ppm, pupuk superpospat juga mengandung Cd bahkan adayang sampai 170 ppm. Limbah cair dari
industri dan pembuangan minyak pelumas bekasyang mengandung Cd masuk ke dalam perairan laut
serta sisa-sisa pembakaran bahanbakar yang terlepas ke atmosfir dan selanjutnya jatuh masuk ke laut.

D.DAMPAK PENCEMARAN KADMIUM (Cd)

Kadmium (Cd) menjadi populer sebagai logam berat yang berbahaya setelahtimbulnya pencemaran
sungai di wilayah Kumamoto Jepang yang menyebabkankeracunan pada manusia. Pencemaran
kadmium pada air minum di Jepang menyebabkan penyakit itai - itai. Gejalanya ditandai dengan
ketidak-normalan tulang dan beberapa organ tubuh menjadi mati. Keracunan kronis yang disebabkan
oleh Cd adalah kerusakansistem fisiologis tubuh seperti pada pernapasan, sirkulasi darah, penciuman,
sertamerusak kelenjar reproduksi, ginjal, jantung dan kerapuhan tulang.Jika berakumulasi dalam jangka
waktu yang lama, cadmium dapat menghambatkerja paru-paru, bahkan mengakibatkan kanker paru-
paru, mual, muntah, diare, kram,anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat, kerusakan ginjal dan hati,
dan gangguankardiovaskuler. Kadmium dapat pula merusak tulang (osteomalacia, osteoporosis)
danmeningkatkan tekanan darah. Gejala umum keracunan Kadmium adalah sakit di dada,nafas sesak
(pendek), batuk batuk, dan lemah. Keracunan kronis terjadi bila memakan Cadmium (Cd) dalam waktu
yang lama.Gejala akan terjadi setelah selang waktu beberapa lama dan kronis seperti:

a. keracunan pada nefron ginjal yang dikenal dengan nefrotoksisitas, yaitu gejalaproteinuria atau
protein yang terdapat dalam urin, juga suatu keadaan sakit dimanaterdapat kandungan glukosa dalam
air seni yang dapat berakibat kencing manis ataudiabetes yang dikenal dengan glikosuria, dan
aminoasidiuria atau kandungan asamamino dalam urine disertai dengan penurunan laju filtrasi
(penyaringan) glumerolusginjal.

b. Cadmium (Cd) kronis juga menyebabkan gangguan kardiovaskuler yaitu kegagalansirkulasi yang
ditandai dengan penurunan tekanan darah maupun tekanan darah yangmeningkat (hipertensi). Hal
tersebut terjadi karena tingginya aktifitas jaringan ginjalterhadap cadmium. Gejala hipertensi ini tidak
selalu dijumpai pada kasus keracunanCadmium (Cd) krosik..

c. Cadmium dapat menyebabkan keadaan melunaknya tulang yang umumnyadiakibatkan


kurangnya vitamin B yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan dayakeseimbangan kandungan
kalsium dan fosfat dalam ginjal yang dikenal dengan namaosteomalasea atau penyakit Itai-iatai

d. Kekurangan kalsium dapat menyebabkanosteoporosis sehingga orang tidak dapat berdiri dengan
tegak tetapi membungkuk.

E. PENANGGULANGAN PENCEMARAN KADMIUM DALAM AIR

Upaya penanganan pencemaran logam berat sebenarnya dapat dilakukan denganmenggunakan proses
kimiawi. Seperti penambahan senyawa kimia tertentu untuk prosespemisahan ion logam berat atau
dengan resin penukar ion (exchange resins), sertabeberapa metode lainnya seperti penyerapan
menggunakan karbon aktif, electrodialysisdan reverse osmosis. Namun proses ini relatif mahal dan
cenderung menimbulkanpermasalahan baru, yaitu akumulasi senyawa tersebut dalam sedimen dan
organismeakuatik (perairan).Penanganan logam berat dengan mikroorganisme atau mikrobia (dalam
istilah Biologi dikenal dengan bioakumulasi,bioremediasi, atau bioremoval), menjadialternatif yang
dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat keracunan elemen logam beratdi lingkungan perairan
tersebut. Metode atau teknologi ini sangat menarik untuk dikembangkan dan diterapkan, karena
memiliki kelebihan dibandingkan dengan proseskimiawi.Penyerapan ion logam berat oleh sianobakteria
dan mikroorganisme terdiri atasdua mekanisme yang melibatkan proses aktif uptake (biosorpsi) dan
pasif uptake(bioakumulasi).
1.Proses aktif uptake

Proses ini juga dapat terjadi pada berbagai tipe sel hidup. Mekanisme ini secarasimultan terjadi sejalan
dengan konsumsi ion logam untuk pertumbuhan sianobakteria,dan/atau akumulasi intraselular ion
logam tersebut. Logam berat dapat juga diendapkanpada proses metabolisme dan ekresi sel pada
tingkat kedua. Proses ini tergantung dari energi yang terkandung dan sensitivitasnya terhadap
parameter yang berbeda seperti pH, suhu, kekuatan ikatan ionik, cahaya dan lainnya.

Namun demikian, proses ini dapat pula dihambat oleh suhu rendah, tidak tersedianya sumber energi
dan penghambat metabolisme sel. Peristiwa ini seperti ditunjukkan oleh akumulasi kadmium pada
dinding sel Ankistrodesmus dan Chlorellavulgaris yang mencapai sekitar 80 derajat dari total
akumulasinya di dalam sel,sedangkan arsenik yang berikatan dengan dinding sel Chlorella vulgaris rata-
rata 26persen.

Untuk mendesain suatu proses pengolahan limbah yang mengandung ion logamberat dengan
melibatkan sianobakteria relatif mudah dilakukan. Proses pertama,sianobakteria pilihan dimasukkan,
ditumbuhkan dan selanjutnya dikontakkan dengan airyang tercemar ion logam berat tersebut. Proses
pengontakkan dilakukan dalam jangkawaktu tertentu yang ditujukan agar sianobakteria berinteraksi
dengan ion logam berat,selanjutnya biomassa sianobakteria ini dipisahkan dari cairan. Proses terakhir,
biomassasianobakteria yang terikat dengan ion logam berat diregenerasi untuk digunakan kembaliatau
kemudian dibuang ke lingkungan. Pemanfaatan sianobakteria untuk menanggulangi pencemaran logam
berat merupakan hal yang sangat menarik dilakukan, baik oleh masyarakat, pemerintah maupun
industri. Karena, sianobakteria merupakan organismeselular yang mudah dijumpai, mempunyai
spektrum habitat sangat luas, dapat tumbuhdengan cepat dan tidak membutuhkan persyaratan tertentu
untuk hidup, mudahdibudidayakan dalam sistem akuakultur.

2. Proses pasif uptake

Proses ini terjadi ketika ion logam berat terikat pada dinding sel biosorben.Mekanisme passive uptake
dapat dilakukan dengan dua cara, pertama dengan carapertukaran ion di mana ion pada dinding sel
digantikan oleh ion-ion logam berat; dankedua adalah pembentukan senyawa kompleks antara ion-ion
logam berat dengan gugusfungsional seperti karbonil, amino, thiol, hidroksi, fosfat, dan hidroksi-
karboksil secara bolak balik dan cepat. Sebagai contoh adalah pada Sargassum sp. dan Eklonia sp.
dimana Cr(6) mengalami reaksi reduksi pada pH rendah menjadi Cr(3) dan Cr(3) di-remove melalui
proses pertukaran kation.

Kadmium adalah logam kebiruan yang lunak, termasuk golongan II B table berkala dengan konigurasi
elekron [Kr] 4d105s2. unsur ini bernomor atom 48, mempunyai bobot atom 112,41 g/mol dan densitas
8,65 g/cm3. Titik didih dan titik lelehnya berturutturut 765oC dan 320,9oC. Kadmiun merupakan racun
bagi tubuh manusia. Waktu paruhnya 30 tahun dan terakumulasi pada ginjal, sehingga ginjal mengalami
disfungsi kadmium yang terdapat dalam tubuh manusia sebagian besar diperoleh melalui makanan dan
tembakau, hanya sejumlah kecil berasal dari air minum dan polusi udara. Pemasukan Cd melalui
makanan adalah 10 40 g/hari, sedikitnya 50% diserap oleh tubuh. Rekomendasi pemasukan Cd
menurut gabungan FAO/WHO dengan batas toleransi tiap minggunya adalah 420 g untuk orang
dewasa dengan berat badan 60 kg. Pemasukan Cd rata-rata pada tubuh manusia ialah 10 20 % dari
batas yang telah direkomendasikan. Unsur Cd dapat mengurangi jerapan ion-ion hara karena daya
afinitas yang tinggi dari logam berat tersebut pada kompleks pertukaran kation. Di alam Cd bersenyawa
dengan belerang (S) sebagai greennocckite (CdS) yang ditemui bersamaan dengan senyawa spalerite
(ZnS). Kadmium merupakan logam lunak (ductile) berwarna putih perak dan mudah teroksidasi oleh
udara bebas dan gas amonia (NH3). Di perairan Cd akan mengendap karena senyawa sulfitnya sukar
larut.

2. Sifat fisik dan sifat kimia

1. Sifat Fisik

a. Logam berwarna putih keperakan

b. Mengkilat

c. Lunak/Mudah ditempa dan ditarik

d. Titik lebur rendah

e. Akan kehilangan kilapnya jika berada dalam udara yang basah atau lembab dan akan mengalami
kerusakan bila terkena uap amonia dan sulfur hidroksida

2. Sifat Kimia

a. Cd tidak larut dalam basa

b. Larut dalam H2SO4 encer dan HCl encer Cd

c. Cd tidak menunjukkan sifat amfoter

d. Bereaksi dengan halogen dan nonlogam seperti S, Se, P

e. Cd adalah logam yang cukup aktif

f. Dalam udara terbuka, jika dipanaskan akan membentuk asap coklat CdO

g. Memiliki ketahanan korosi yang tinggi

h. CdI2 larut dalam alcohol

3. Manfaat
1. Cadmium (Cd) digunakan sebagai bahan stabilitasi sebagai bahan pewarna dalam industri plastik
dan pada elektroplating.

2. Allay Cd digunakan sebagai pemandu peluru-peluru kendali. Substansi dari alloy Cd digunakan
sebagai bahan solder.

3. Logam Cd dan senyawa Kadmium Nitrat sangat berguna dalam pengembangan reaktor
nuklir,berfungsi sebagai bahan untuk mengontrol kecepatan pemecahan inti atom dalam rantai
reaksi(reaksi berantai).

4. Senyawa CdS dan CdSeS banyak digunakan sebagai zat warna.

5. Senyawa Cd-sulfat(CdSO4) digunakan dalam industri baterai yang berfungsi untuk pembuatan sel
Weston karena mempunyai potensial stabil yaitu sebesar 1,0186 volt.

6. Senyawa Kadmium Bromida(CdBr2) dan kadmium ionida(CdI2) secara tebatas digunakan dalam
dunia fotografi.

7. Senyawa dietil Kadmium digunakan dalam proses pembuatan tetraetil-Pb.

8. Senyawa Cd-strearat banyak digunakan dalam perindustrian manufaktur polyvinil clorida(PVC)


sebagai bahan yang berfungsi untuk stabilizer.

9. Selain itu,kadmium banyak digunakan dalam industri-industri ringan seperti pada proses
pengolahan roti,pengolahan ikan,pengolahan ikan,industri tekstil dan lain-lain.

10. Kadmium telah digunakan secara meluas pada berbagai industri antara lain pelapisan logam,
peleburan logam, pewarnaan, baterai, minyak pelumas, bahan bakar. Bahan bakar dan minyak pelumas
mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubara mengandung Cd sampai 2 ppm, pupuk superpospat juga
mengandung Cd bahkan ada yang sampai 170 ppm.

4. Sumber-sumber dan bahan polutan

Logam kadmium mempunyai penyebaran sangat luas di alam, hanya ada satu jenis mineral kadmium di
alam yaitu greennockite (CdS) yang selalu ditemukan bersamaan dengan mineral spalerite (ZnS). Mineral
greennockite ini sangat jarang ditemukan di alam, sehingga dalam eksploitasi logam Cd biasanya
merupakan produksi sampingan dari peristiwa peleburan bijih-bijih seng (Zn). Biasanya pada konsentrat
bijih Zn didapatkan 0,2 sampai 0,3 % logam Cd.Di samping itu, Cd juga diproduksi dalam peleburan bijih-
bijih logam Pb(timah hitam) dan Cu(tembaga). Namun demikian, Zn merupakan sumber utama dari
logam Cd, sehingga produksi dari logam tersebut sangat dipengaruhi oleh Zn.
Dalam lingkungan,menurut Clark (1986) sumber kadmium yang masuk ke perairan berasal dari:

1) Uap, debu dan limbah dari pertambangan timah dan seng.

2) Air bilasan dari elektroplating.

3) Besi, tembaga dan industri logam non ferrous yang menghasilkan abu dan uap serta air limbah dan
endapan yang mengandung kadmium.

4) Seng yang digunakan untuk melapisi logam mengandung kira-kira 0,2 % Cd sebagai

bahan ikutan (impurity); semua Cd ini akan masuk ke perairan melalui proses korosi

dalam kurun waktu 4-12 tahun.

5) Pupuk phosfat dan endapan sampah

Sumber kadmium terutama dari biji seng, timbal-seng, dan timbal-tembaga-seng. Kandungan logam Cd
bersumber dari makanan dan lingkungan perairan yang sudah terkontaminasi oleh logam berat.
Kontaminasi makanan dan lingkungan perairan tidak terlepas dari aktivitas manusia didarat maupun
pada perairan. Sifat logam Cd yang akumulatif pada suatu jaringan organisme serta sulit terurai.
Kadmium dalam air juga berasal dari pembuangan industri dan limbah pertambangan. Logam ini sering
digunakan sebagai pigmen pada keramik, dalam penyepuhan listrik, pada pembuatan alloy, dan baterai
alkali.

Bahan bakar dan minyak pelumas mengandung Cd sampai 0,5 ppm, batubara mengandung Cd sampai 2
ppm, pupuk superpospat juga mengandung Cd bahkan ada yang sampai 170 ppm. Limbah cair dari
industri dan pembuangan minyak pelumas bekas yang mengandung Cd masuk ke dalam perairan laut
serta sisa-sisa pembakaran bahan bakar yang terlepas ke atmosfir dan selanjutnya jatuh masuk ke laut.

5. Toksisitas Cd pada hewan darat (unggas)

Toksisitas logampada ayam komersial (pedaging dan petelur) jaradilaporkan , tetapi derajad konsentrasi
Cd dalam pakan komersial baik ayam pedaging maupun ayam petelur telah dilaporkan ( Rachmawati
dkk; 1996). Dari 13 sampel pakan untuk ayam pedaging dan 22 sampel untuk ayam petelur, ditemukan
sampel yang kandungan kadmiumnya melibihi batas rekomendasi (0,5 mg / kg) , yaitu sebanyak 23%
untuk pakan ayam pedaging. Sedangkan dari sampel pakan untuk ayam petelur ditemukan 50% yang
kandungannya melebihi batas rekomendasi.

Dari hasil penelitian laboratorium pada ayam broiler yang diberi pakan mengandung Cd dalam dosis
tinggi, terlihat adanya hambatan pertumbuhan ayam tersebut.Hal ini mungkin disebabkan
tejadinya inefisiensi penggunaan unsur nutrisi dalam pakan karena pengaruh tosisitas Cd( Darmono dkk;
1996). Pada dosis pemberian 50 mg / kg Cd dalam pakan terjadi hambatan pertumbuhan mencapai 25%
selama 1 Bulan , sedangkan pada dosis pemberian 100 mg / kg Cd hambatan pertumbuhan mencapai
50%. Selain itu, pada dosis pemberian 100mg/kg Cd tersebut ditemukan beberapa ekor ayam yang
mengalami malformasi pada tulang kakinya(Ricketslrachitis).

6. Toksisitas Kadmium pada Manusia

Keberadaan kadmium di alam berhubungan erat dengan hadirnya logam Pb dan Zn. Dalam industri
pertambangan, Pb dan Zn proses pemurniannya akan selalu memperoleh hasil samping kadmium yang
terbuang dalam lingkungan. Kadmium masuk ke dalam tubuh manusia terjadi melalui makanan dan
minuman yang terkontaminasi. Untuk mengukur kadmium intake ke dalam tubuh manusia perlu
dilakukan pengukuran kadar Cd dalam makanan yang dimakan atau kandungan Cd dalam feses.

Mekanisme toksisitas Cd

Sekitar 5% dari diet kadmium,diabsobsi dalam tubuh. Sebagian besar Cd masuk melalui saluran
pencernaan, tetapi keluar lagi melalui feses sekitar 3-4 minggu kemudian dan sebagian kecil
dikeluarkan melalui urine. Kadmium dalam tubuh terakumulasi dalam hati dan ginjal terutama terikat
sebagai metalotionein. Metalotinein mengandung unsur sistein,dimana Cd terikat dalam gugus
sulfhidril(-SH) dalam enzim seperti karboksil sisteinil,histidil,hidroksil dan fosfatil dari protein dan purin.
Kemungkinan besar pengaruh toksisitas Cd disebabkan oleh interaksi antara Cd dan protein tersebut,
sehingga menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dalam tubuh.

Plasma enzim yang diketahui dihambat Cd ialah aktivitas dari enzim alfa anti tripsin. Terjadinya defisiensi
enzim ini dapat menyebabkan emfisema dari paru dan hal ini merupakan salah satu gejala gangguan
paru karena toksisitas Cd.

Gejala Toksisitas Cd

Kadmium lebih beracun bila terhisap melalui saluran pernafasan dari pada melalui saluran pencernaan.
Kasus keracuan akut kadmuim kebanyakan dari menghisap debu dan asap kadmium, terutama kadmium
oksida(CdO). Dalam beberapa jam setelah menghisap,korban akan mengeluh gangguan saluran
pernafasan, nausea, muntah,kepala pusing dan sakit pinggang. Kematian disebabkan karena terjadinya
oedema paru-paru. Apabila pasien tetap bertahan hidup, akan terjadi emfisema atau gangguan paru-
paru dapat jelas terlihat.

Keracunan kronis terjadi bila inhalasi Cd dosis kecil dalam waktu lama dan gejalanya juga berjalan kronis.
Kadmium dapat menyebabkan nefrotoksisitas(toksik ginjal) yaitu gejala proteinuria,glikosuria dan
aminoasiduria disertai dengan penurunan laju filtrasi glumerulus ginjal. Kasus keracunan Cd kronis juga
menyebabkan gangguan kadrdivaskuler dan hipertensi. Hal tersebut terjadi karena tingginya afinitas
jaringan ginjal terhadap kadmium. Gejala hipertensi ini tidak selalu terjadi pada kasus keracunan kronis
kadmium. Selain itu, kadmium dapat menyebabkan terjadinya gejala osteomalasea karena terjadi
interferensi daya keseimbangan kandungan kalsium dan fosfat dalam ginjal.

Interaksi Cd dengan unsur nutrisi lain

Beberapa unsur nutrisi yang berpengaruh terhadap hadirnya Cd dalam tubuh ialah
seng,besi,tembaga,selenium,kalsium,piridoksin,asam askorbat dan protein yang interaksinya bersifat
antagonisme. Kebanyakan toksisitas Cd terjadi karena adanya defisiensi unsur tersebut diatas yang
mengakibatkan meningkatnya absorpsi Cd. Pada umumnya rendahnya intake unsur nutrisi esensial
mengakibatkan bertambah parahnya toksisitas Cd, sedangkan intake yang tinggi dari unsur nutrisi
esensial mengakibatkan berkurangnya efek toksisitas Cd.

Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa ada hubungannya antara absorpsi Cd dengan
cadangan Fe dalam tubuh. Percobaan pada orang(pria dan wanita sukarelawan) yang diberi sarapan pagi
mengandung 25 microgram Cd dalam bentuk CdCl2, menunjukkan bahwa 8,9% orang terlihat gejala
adanya deposit Fe yang rendah, yang pada analisi serum feritin ditemukan kurang dari normal(<20
microgram/ml). Pada penelitian lain, menunjukkan baha pemberian suplemen asam askorbat(0,5%
dalam diet) dan substansi Fe dapat menurunkan konsentrasi Cd dalam hati atau ginjal.

7. Dampak bagi Kesehatan Manusia dan Cara Penanggulangan/ Cara Pengobatan

Keracunan kadmium pada mausia

Kadmium (Cd) menjadi populer sebagai logam berat yang berbahaya setelah timbulnya pencemaran
sungai di wilayah Kumamoto Jepang yang menyebabkan keracunan pada manusia. Pencemaran
kadmium pada air minum di Jepang menyebabkan penyakit itai-itai. Gejalanya ditandai dengan
ketidak-normalan tulang dan beberapa organ tubuh menjadi mati. Keracunan kronis yang disebabkan
oleh Cd adalah kerusakan sistem fisiologis tubuh seperti pada pernapasan, sirkulasi darah, penciuman,
serta merusak kelenjar reproduksi, ginjal, jantung dan kerapuhan tulang.

Jika berakumulasi dalam jangka waktu yang lama, cadmium dapat menghambat kerja paru-paru, bahkan
mengakibatkan kanker paru-paru, mual, muntah, diare, kram, anemia, dermatitis, pertumbuhan lambat,
kerusakan ginjal dan hati, dan gangguan kardiovaskuler. Kadmium dapat pula merusak tulang
(osteomalacia, osteoporosis) dan meningkatkan tekanan darah. Gejala umum keracunan Kadmium
adalah sakit di dada, nafas sesak (pendek), batuk batuk, dan lemah.
Keracunan kronis terjadi bila memakan Cadmium (Cd) dalam waktu yang lama. Gejala akan terjadi
setelah selang waktu beberapa lama dan kronis seperti:

a. Keracunan pada nefron ginjal yang dikenal dengan nefrotoksisitas, yaitu gejala proteinuria atau
protein yang terdapat dalam urin, juga suatu keadaan sakit dimana terdapat kandungan glukosa dalam
air seni yang dapat berakibat kencing manis atau diabetes yang dikenal dengan glikosuria, dan
aminoasidiuria atau kandungan asam amino dalam urine disertai dengan penurunan laju filtrasi
(penyaringan) glumerolus ginjal.

b. Cadmium (Cd) kronis juga menyebabkan gangguan kardiovaskuler yaitu kegagalan sirkulasi yang
ditandai dengan penurunan tekanan darah maupun tekanan darah yang meningkat (hipertensi). Hal
tersebut terjadi karena tingginya aktifitas jaringan ginjal terhadap cadmium. Gejala hipertensi ini tidak
selalu dijumpai pada kasus keracunan Cadmium (Cd) krosik.

c. Cadmium dapat menyebabkan keadaan melunaknya tulang yang umumnya diakibatkan kurangnya
vitamin B yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan daya keseimbangan kandungan kalsium dan
fosfat dalam ginjal yang dikenal dengan nama osteomalasea atau penyakit Itai-iatai . Kekurangan
kalsium dapat menyebabkan osteoporosis sehingga orang tidak dapat berdiri dengan tegak tetapi
membungkuk.

Cara Pencegahan dan Pengobatan

Pencegahan utama dalam penanggulangan keracunan logam pada manusia terutama terhadap bayi dan
anak-anak perlu dilakukan dengan 2 hal yaitu :

a. Hidup atau tinggal di lingkungan yang bersih dan bebas polusi.

b. Makan dan minum dari bahan makanan atau produk makanan yang berkadar logam rendah.

Bila terjadi kasus keracunan mak perlu segera dilakukan pengobatan.

Pengobatan toksisitas Cd biasanya hanya bersifat suportif saja seperti pemberian vitamin D untuk
pengobatan nyeri tulang. Pengobatan dengan mengguanakan bahan kelat tidak dianjurkan, walaupun
dapat meningkatkan ekskresi Cd melalui ginjal, tetapi hal tersebut juga dapat menyebabkan toksik pada
ginjal. Kondisi tersebut terjadi karena ikatan kompleks dari kelasi dapat menyebabkan reaksi disosiasi
ginjal pada waktu terjadi pembebasab Cd.

8. Dampak Bagi Lingkungan


Dalam strata lingkungan, logam cadmium(Cd) dan persenyawaannya ditemukan dalam banyak lapisan.
Secara sederhana dapat diketahui bahwa kandungan logam Cd akan dapat dijumpai di daerah
penimbunan sampah dan aliran air hujan,selain dalam air buangan. Logam Cd juga membawa sifat racun
yang dapat sangat merugikan semua organisme hidup termasuk manusia.

Dalam badan perairan, kelarutan Cd dalam konsentrasi tertentu dapat membunuh biota perairan. Biota-
biota yang tergolong crustacea akan mengalami kematian dalam waktu 24-504 jam bila dalam badan air
dimana rentang konsentrasi Cd dalam perairan adalah 0,005-0,15 ppm. Untuk biota yang
tergolong insecta akan mengalami kematian 24-672 jam dimana rentang konsentrasi Cd adalah 0,0028-
4,6 ppm. Sedangkan untuk perairan tawar,seperti ikan emas akan mengalami kematian dalam waktu 96
jam dengan rentang konsentrasi Cd dalam perairan yaitu 1,092-1,104 ppm (Sumber : Murphy P.M.,Unv.
Of Wales Ins. Of tech and Sciences, 1974)

Logam kadmium atau Cd juga akan mengalami proses biotransformasi dan bioakumulasi dalam
organisme hidup. Logam ini masuk ke dalam tubuh bersama makanan yang dikonsumsi, tetapi makanan
tersebut telah terkontaminasi oleh logam Cd dan atau persenyawaannya. Dalam tubuh biota perairan,
jumlah logam yang terakumulasi akan mengalami peningkatan dengan adanya proses biomagnifikasi di
badan air. Di samping itu, tingkatan biota dalam sistem rantai makanan turut menentukan jumlah Cd
yang terakumulasi. Dimana pada biota yang lebih tinggi stratanya akan ditemukan akumulasi Cd yang
lebih banayak, sedangkan pada biota top level merupakan tempat akumulasi paling besar. Bila jumlah
Cd yang masuk tersebut telah melebihi nilai ambang batas maka biota dari suatu level atau strata
tersebut akan mengalami kematian dan bahkan kemusnahan. Keadaan inilah yang menjadi penyebab
kehancuran suatu tatanan sistem lingkungan(ekosistem) ,karena salah satu mata rantainya telah hilang.

Pada hewan yang hidup di tanah dan bangssa mamalia, dimana dalam tubuh mereka telah terakumulasi
oleh Cd, maka Cd yang terakumulasi akan ditransfer oleh got wall (celah dinding/kulit).

Logam atau persenyawaan Cd yang terdapat di udara dalam bentuk partikular, akan dapat diserap oleh
tumbuh-tumbuhan. Pada tumbuhan yang menyerap partikular Cd akan mengalami peristiwa terjadinya
hambatan terhadap penyerapan zat besi yang sangat dibutuhkan oleh klorofil(zat hijau daun) tumbuhan.

Cara Pencegahan

Upaya penanganan pencemaran logam berat sebenarnya dapat dilakukan dengan menggunakan proses
kimiawi. Seperti penambahan senyawa kimia tertentu untuk proses pemisahan ion logam berat atau
dengan resin penukar ion (exchange resins), serta beberapa metode lainnya seperti penyerapan
menggunakan karbon aktif, electrodialysis dan reverse osmosis. Penanganan logam berat dengan
mikroorganisme atau mikrobia (dalam istilah Biologi dikenal dengan bioakumulasi,bioremediasi, atau
bioremoval), menjadi alternatif yang dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat keracunan elemen
logam berat di lingkungan perairan tersebut.

Penyerapan ion logam berat oleh sianobakteria dan mikroorganisme terdiri atas dua mekanisme yang
melibatkan proses aktif uptake (biosorpsi) dan pasif uptake (bioakumulasi).

a. Proses aktif uptake

Proses ini juga dapat terjadi pada berbagai tipe sel hidup. Mekanisme ini secara simultan terjadi sejalan
dengan konsumsi ion logam untuk pertumbuhan sianobakteria, dan/atau akumulasi intraselular ion
logam tersebut. Logam berat dapat juga diendapkan pada proses metabolisme dan ekresi sel pada
tingkat kedua. Proses ini tergantung dari energi yang terkandung dan sensitivitasnya terhadap
parameter yang berbeda seperti pH, suhu, kekuatan ikatan ionik, cahaya dan lainnya.

Proses pengolahan limbah yang mengandung ion logam berat dengan melibatkan sianobakteria dapat
dilakukan dengan proses pertama, sianobakteria pilihan dimasukkan, ditumbuhkan dan selanjutnya
dikontakkan dengan air yang tercemar ion logam berat tersebut. Proses pengontakkan dilakukan dalam
jangka waktu tertentu yang ditujukan agar sianobakteria berinteraksi dengan ion logam berat,
selanjutnya biomassa sianobakteria ini dipisahkan dari cairan. Proses terakhir, biomassa sianobakteria
yang terikat dengan ion logam berat diregenerasi untuk digunakan kembali atau kemudian dibuang ke
lingkungan.

b. Proses pasif uptake

Proses ini terjadi ketika ion logam berat terikat pada dinding sel biosorben. Mekanisme passive uptake
dapat dilakukan dengan dua cara, pertama dengan cara pertukaran ion di mana ion pada dinding sel
digantikan oleh ion-ion logam berat; dan kedua adalah pembentukan senyawa kompleks antara ion-ion
logam berat dengan gugus fungsional seperti karbonil, amino, thiol, hidroksi, fosfat, dan hidroksi-
karboksil secara bolak balik dan cepat. Sebagai contoh adalah pada Sargassum sp. dan Eklonia sp. di
mana Cr(6) mengalami reaksi reduksi pada pH rendah menjadi Cr(3) dan Cr(3) di-remove melalui proses
pertukaran kation.

BAB II

PROSES MASUKNYA CADMIUM

Cadmium yang masuk kedalam lingkungan, tumbuhan dan manusia memiliki batasan toleransi dan
memiliki jalur pendedahan yang berbeda-beda. Pencemar logam berat tidak dapat didegradasi secara
kimia maupun secara biologi. Oleh karena itu polutan logam berat di dalam tanah, air maupun udara
harus dikurangi atau dihilangkan untuk menghindari terjadinya dampak negatif terhadap proses
kehidupan.
2.1. Masuknya cadmium kedalam lingkungan

Cadmium merupakan zat kimia yang tidak dapat didegradasi di alam. Cd bebas berada di
lingkungan dan akan tetap berada didalam sirkuasi atau udara. Cd yang berikatan dengan senyawa
logam berat lainnya biasanya akan mempengaruhi pembentukannya di air. Sumber utama Cd yang
berasal dari alam adalah dari lapisan bumi atau kerak bumi seperti gunung berapi dan pelarutan batuan.
Cadmium yang ada di udara bisa dibawa dengan proses yang berbeda-beda dan masuk kedalam
lingkungan. Sumber utama cadmium dari alam masuk kedalam udara di lingkungan yaitu dari
pegunungan, evaporasi, partikel tanah yang terbawa ke udara, dan kebakaran hutan. Sumber lainnya
bisa berasal dari manusia seperti asap kendaraan dan rokok. Cadmium yang ada

Cadmium yang ada di air berasal dari berbagai proses yaitu cadmium masuk kedalam perairan karena
adanya proses erosi tanah, pelapukan batuan induk. Cadmium lebih banyak masuk kedalam air karena
kegiatan manusia seperti perindustrian dimana limbah hasil dari pabrik tersebut dibuang langsung
kedalam perairan yang akan terakumulasi di dasar perairan yang membentuk sedimen. Cd juga dapat
masuk kedalam organisme yang hidup di air dimana Cd dapat masuk melalui oral, inhalasi atau dermal.
Cd yang masuk kedalam tubuh suatu organisme contohnya seperti ikan, logam Cd akan terakumulasi
pada ginjal dan hati karena kedua organ tersebut sangat spesifik untuk melawan racun yang masuk
kedalam dalam tubuh.

Cadmium yang ada di dalam tanah dapat berasal dari alam dan antropogenik. Cadmium dapat masuk
kedalam tanah karena adanya proses pelarutan batuan induk seperti batuan glasial dan alluvial. Manusia
juga berkontribusi dalam proses masuknya cadmium kedalam lingkungan seperti penggunaan pupuk
kimia, kotoran yang mengendap karena aktivitas manusia. Cadmium yang ada didalam tanah akan lebih
lama terbawa atau terdistribusi dibandingkan cadmium yang ada pada udara dan air. Cadmium yang
terakumulasi di dalam tanah akan menggangu organisme yang hidup di dalamnya seperti
mikroorganisme, makroorganisme dan mollusca. Tanah yang mengandung cadmium akan teserap
kandungan logamnya oleh organisme yang hidup pada lingkungan tanah tersenut seprti tanaman dan
hewan.

2.2.Masuknya cadmium kedalam tanaman

Logam Cd kemungkinan dapat dibawa keseluruh bagian tanaman biasanya akumulasi dapat ditemukan
apada bagian akar karena akar merupakan gerbang awal masuknya zat-zat kimia. Zat- zat yang akan
masuk kedalam tubuh tumbuhan akan terseleksi begitu juga dengan logam Cd. Apabila Cd yang
diperlukan hanya sedikit maka akan lebih banyak Cd yang terakumulasi dibagian akar tumbuhan.
Beberapa tanaman mempunyai kemampuan yang sangat tinggi untuk menghilangkan berbagai
pencemaran yang ada (multiple uptake hyperaccumulator plant), dan memiliki kemampuan
menghilangkan pencemaran yang bersifat tunggal (specific uptake hyperaccumulator). Tanaman
hiperakumulator adalah spesis tanaman yang mampu mentranslokasikan pencemar atau logam
pencemar ke bagian pucuk tanaman lebih banyak daripada ke bagian akar tanpa mengalami gejala
toksisitas. Tanaman ini dapat mengakumulasi lebih dari 10 ppm Hg, 100 ppm Cd, 1000 ppm Co, Cr, Cu,
dan Pb, 10.000 ppm Ni dan Zn (Aiyen, 2004; Baker, dkk,2000)

Fenomena logam berat yang terkonsentrasi dalam jaringan ditemukan terkait dengan peran protein
pengikat logam. Fungsi dari protein tersebut adalah mengikat logam, protein yang dapat mengikat logam
tersebut adalah metalotionin (cys-x-cys, x adalah asam amino selain sistein, biasa disingkat dengan MT).
Metalotionin merupakan kelompok protein spesifik non enzim yang memainkan peran sentral dalam
metabolisme logam. Metalotionin digambarkan sebagai protein sitoplasma yang mempunyai massa
molekul rendah (sekitar 10.000 dalton), dengan struktur yang tidak beraturan. Protein ini terdiri atas
sistein dan kadang-kadang mengandung sedikit histidin atau asam amino aromatik lainnya. Hampir
setiap metalotionin mempunyai residu 24 sistein dan dalam setiap 3 residu sistein mengikat 1 ion logam
sehingga 1 metalotionin mengikat 8 ion logam. Konsekuensi dengan adanya sistein berarti pula
metalotionin mempunyai sejumlah besar gugus tio (sulfidril, -SH). Gugus ini merupakan pengikat logam
berat. Jika kecepatan masuknya logam melebihi kecepatan sintesis metalotionin, maka akan terjadi
pelimpahan logam dari metalotionin ke dalam penampung enzim. Efek toksik selanjutnya bergantung
pada pengalokasian logam-logam essensial dari metaloenzim yaitu enzim yang membutuhkan ion logam
spesifik sebagai kofaktor untuk mengkatalisis. Reaksi sederhana antara logam berat dengan gugus
sulfidril (-SH) adalah sebagai berikut.

2 R-SH + Cd2+ R-S-Cd-S-R + 2 H+


Penarikan/penyerapan polutan oleh akar tumbuhan berbeda untuk polutan organik dan anorganik.
Polutan organik pada umumnya adalah buatan manusia dan xenobiotik pada tumbuh-tumbuhan.
Akibatnya tidak ada pembawa untuk senyawa-senyawa organik ke dalam membran tumbuhan. Polutan
organik cenderung berpindah masuk ke jaringan tumbuhan melalui difusi sederhana dan juga bergantung
pada sifat-sifat bahan kimia tersebut (Briggs, et al.1982).
Sebaliknya polutan anorganik diserap dengan proses biologi lewat membran protein pembawa. Membran
protein pembawa ini terjadi secara alamiah sebab polutan-polutan anorganik biasanya bergabung
dengan nutrien-nutrien itu sendiri (nitrat, fosfat, Cu, Mn, Zn). Polutan anorganik pada umumnya berada
dalam bentuk ion sehingga tidak dapat melewati membran tanpa bantuan membran protein pembawa.
Pencemar anorganik yang terakumulasi dalam jaringan tumbuhan sering menyebabkan keracunan dan
sekaligus merusak struktur dinding sel tumbuhan. Kadmium juga mengurangi penyerapan nitrat dan
pengangkutannya dari akar ke pucuk, juga menghambat aktivitas enzim nitrat reduktase di dalam pucuk-
pucuk tanaman (Pilon-Smits, 2005).

2.3. Masuknya Cd kedalam tubuh manusia.

Kadmium adalah logam yang sangat toksik dan dapat terakumulasi cukup besar pada organisme hidup
karena mudah diadsorpsi dan mengganggu sistem pernapasan serta pencernaan. Jika teradsorpsi ke
dalam sistem pencernaan dan sistem paru-paru, kadmium akan membentuk kompleks dengan protein
sehingga mudah diangkut dan menyebar ke hati dan ginjal bahkan sejumlah kecil dapat sampai ke
pankreas, usus, dan tulang. Selain itu, kadmium juga akan mengganggu aktivitas enzim dan sel. Hal ini
akan menimbulkan tetratogenik, mutagenik, dan karsinogenik (Szymczyk dan Zalewski,2003).

Cadmium masuk kedalam tubuh bisa melalui berbagai cara yaitu dari pernafasan (dari asap rokok
dan kendaraan), bisa melalui oral (makanan), dan bisa melalui suntikan kedaerah kulit. Menurut WHO
jumlah Cd yang dapat diterima oleh tubuh manusia adalah sebanyak 400-500 mikrogram setiap kilogram
berat badan setiap hari. Batasan toleransi Cd dalam ginjal pda manusia adalah 200 ppm, bila batas
tersebut terlewati akan timbul efek-efek tertentu. Keracunan Cd pada hewan akan membuat Cd tertimbun
didalam hati dan korteks ginjal. Apabila terjadi keracunan akut akan ditemukan penimbunan logan Cd di
dalam hati. Keracunan kronis Cd akan ditimbun di dalam bermacam-macam organ tubuh terutama di
dalam ginjal, hati, dan paru-paru, tetapi juga ditimbun di dalam pankreas, jantung, limpa, alat kelamin dan
jaringan adiposa. Cadmium yang masuk ke dalam tubuh biasanya akan tertimbun di dalam organ target
yang paling banyak menyerap Cd yaitu hati dan ginjal.

Pemasukan Cd ke dalam tubuh dapat terjadi melalui traktus digestivus, traktus respiratorius atau melalui
suntikan kedalam tubuh. Cadmium yang ada di dalam makanan dan air minum akan diserap di dalam
saluran pencernaan. Penyerapan Cd di dalam paru-paru jauh lebih besar dibandingkan dengan di dalam
saluran pencernaan. Menurut (Voogt et al., 1980) penyerapan Cd di dalam paru-paru berkisar 13-19 %
dari jumlah Cd yang terserap dengan rata-rata 16%.

Menurut (Voogt et al., 1980) cadmium yang dihirup melalui saluran pernafasan biasanya berbentuk
aerosol. Kecepatan penyerapan di dalam paru-paru dipengaruhi oleh diameter partikel Cd yang masuk.
Cadmium yang diserap tubuh akan dibawa oleh darah khususnya di dalam eritrosit. Cadmium yang ada
dalam plasma dan eritrosit akan berikatan dengan protein yang akan mempunyai berat molekul tinggi,
contohnya hemoglobin (Hb). Cadmium yang masuk biasanya diusahakan tubuh untuk dikeluarkan
kembali.

BAB III

EFEK CADMIUM TERHADAP KESEHATAN.

3.1. Efek Cadmium terhadap hepar

Kadmium (Cd) dalam tubuh terakumulasi dalam hati dan terutama terikat sebagai metalotionein
mengandung unsur sistein, dimana Kadmium (Cd) terikat dalam gugus sufhidril (-SH) dalam enzim
seperti karboksil sisteinil, histidil, hidroksil, dan fosfatil dari protein purin. Kemungkinan besar pengaruh
toksisitas kadmium (Cd) disebabkan oleh interaksi antara kadmium (Cd) dan protein tersebut, sehingga
menimbulkan hambatan terhadap aktivitas kerja enzim dalam tubuh (Darmono, 2001).

Efek Cadmium terhadap tulang

Efek keracunan kadmium (Cd) juga dapat mengakibatkan kerapuhan pada tulang. Gejala rasa sakit pada
tulang sehingga menyulitkan untuk berjalan. Terjadi pada pekerja yang bekerja pada industri yang
menggunakan kadmium (Cd). Penyakit tersebut dinamakan itai-itai. (Palar, 2004)

Itai-itai

Penyebab

Penyakit itai-itai ( /ouch ouch sickness) adalah kasus massal keracunan kadmium yang
didokumentasikan di Prefektur Toyama, Jepang. Nama penyakit ini berdasarkan kata dalam bahasa
Jepang yaitu nyeri (itai) yang disebabkan pada persendian dan tulang belakang Penyakit itai-itai
disebabkan oleh keracunan kadmium akibat pertambangan di Prefektur Toyama. Meningkatnya
permintaan terhadap bahan baku selama Perang Rusia-Jepang dan Perang Dunia I, serta teknologi
pertambangan baru dari Eropa, meningkatkan output dari pertambangan, menempatkan Kamioka
Pertambangan di Toyama terkenal pada pertambangan kelas atas. Hal ini kemudian meningkatkan
pencemaran Sungai Jinzu dan anak-anak sungainya. Sungai ini digunakan terutama untuk pengairan
sawah, tetapi juga untuk air minum, mencuci, memancing, dan kegunaan lain oleh penduduk hilir. Air ini
kemudian digunakan untuk mengairi sawah. Beras menyerap logam berat, terutama kadmium. Kadmium
pun akhirnya terakumulasi dalam tubuh orang-orang yang memakan nasi yang terkontaminasi. (Palar,
2004)

Gejala
Salah satu efek utama yang ditimbulkan dari keracunan kadmium adalah lemah dan rapuh tulang.
Umumnya tulang belakang dan kaki sakit, dan gaya berjalan pincang karena cacat tulang yang
disebabkan oleh kadmium. Rasa sakit kemudian melemahkan, dengan patah tulang yang lebih umum
dibandingkan tulang yang melemah. Komplikasi lain yang tejadi adalah batuk, kanker, anemia, dan gagal
ginjal, yang kemudian menyebabkan kematian. Penderita penyakit ini banyak terjadi pada wanita
pascamenopause. Penyebabnya belum sepenuhnya dapat dipahami, dan kemudian diselidiki. Hingga
penelitian akhirnya menemukan bahwa hal ini berhubungn dengan gizi umum, serta metabolisme kalsium
yang miskin yang berkaitan dengan usia perempuan.

Penelitian terhadap hewan telah menunjukkan bahwa keracunan kadmium saja tidak cukup untuk
menimbulkan gejala penyakit itai-itai. Penelitian ini menunjukkan kerusakan mitokondria sel ginjal oleh
kadmium sebagai faktor kunci dari penyakit ini. (Palar, 2004)

3.2. Efek Cadmium terhadap paru-paru

1. Emphysema , yaitu penyakit yang gejala utamanya adalah penyempitan (obstruksi) saluran napas, karena
kantung udara di paru menggelembung secara berlebihan dan mengalami kerusakan yang luas. (Palar,
2004)
2. Edema, yaitu pembengkakan yang diakibatkan kelebihan cairan di dalam tubuh (Palar, 2004)

3.3. Efek kadmium (Cd) terhadap sistem reproduksi

Daya racun yang dimiliki oleh kadmium (Cd) juga mempengaruhi sistem reproduksi dan organ-organya.
Pada konsentrasi tertentu kadmium (Cd) dapat mematikan sel-sel sperma pada laki-laki. Hal inilah yang
menjadi dasar bahwa akibat terpapar oleh uap logam kadmium (Cd) dapat mengakibatkan impotensi.
(Palar, 2004)

3.4. Efek Kadmium (Cd) terhadap ginjal

Logam kadmium (Cd) dapat menimbulkan gangguan dan bahkan mampu menimbulkan kerusakan pada
sistem yang bekerja di ginjal. Kerusakan yang terjadi pada sistem ginjal dapat terjadi pada tubulus
tubulus ginjal. Petunjuk kerusakan yang dapat terjadi pada ginjal akibat logam kadmium (Cd) yaitu
terjadinya asam amniouria dan glokosuria, dan ketidaknormalan kandungan asam urat kalsium dan fosfor
dalam urin (Palar, 2004).

3.5. Efek Kadmium terhadap Pankreas

Keracunan Cd dapat menyebabkan penurunan fungsi pancreas. Efek pemberian Cd pada hewan
mempengaruhi metabolisme karbohidrat, menyebabkan terjadinya hiperglikemia, pengurangan toleransi
terhadap glukosa dan menghambat aktivitas sekresi insulin (Palar, 2004).
3.6. Efek terhadap Jantung

Hipertrofi ventrikular adalah membesarnya ukuran ventrikel jantung. Perubahan ini sangat baik untuk
kesehatan jika merupakan respon atas latihan aerobik, akan tetapi hipertropi ventrikular juga dapat
muncul akibat penyakit seperti tekanan darah tinggi. (Palar, 2004)

BAB IV

PAPARAN KADMIUM TERHADAP LINGKUNGAN DAN EFEKNYA

4.1. Sumber dan Emisi

Kadmium dilepaskan ke biosfer dari kedua sumber-sumber alam dan antropogenik.


4.1.1 Sumber alami

Sumber alami utama untuk mobilisasi kadmium dari kerak bumi adalah gunung berapi dan pelapukan
batuan. Emisi atmosfer dari gunung berapi pada tahun 1983 diperkirakan mencapai 140-1,500 ton
(Nriagu 1989). Pelapukan batuan melepaskan kadmium ke tanah dan sistem perairan. Proses ini
memainkan peran penting dalam siklus kadmium global, tetapi hanya jarang hasil dalam konsentrasi
tinggi dalam kompartemen lingkungan.

Dalam biosfer kadmium yang translokasi oleh proses yang berbeda. Sumber utama emisi ke udara dari
sumber alami adalah gunung berapi, partikel tanah udara, laut, bahan biogenik dan kebakaran hutan.
Total emisi ke udara dari sumber alami diperkirakan sekitar 150-2,600 ton, angka-angka ini dapat
dibandingkan dengan total emisi global yang diperkirakan udara antropogenik pada tahun 1995 sekitar
3.000 ton.

4.1.2 Sumber Antropogenik

19.700 ton kadmium pada tahun 2000 diambil dari kerak bumi oleh manusia dan dibawa ke dalam
sirkulasi di teknosfer. Selain ini sejumlah besar kadmium berakhir di residu ekstraksi logam atau
dimobilisasi sebagai pengotor dengan ekstraksi mineral lain seperti batubara dan kapur.

Penilaian yang paling komprehensif dari emisi antropogenik kadmium global kembali ke tahun 1983. Dari
1983 hingga pertengahan 1990-an emisi total kadmium ke udara menurun dari sekitar 7.600 ton menjadi
3.000 ton (Nriagu & Pacyna 1988) lihat tabel 4.1. Menurut penilaian, sejauh ini sumber utama emisi
kadmium ke udara adalah produksi logam bukan besi.
Walau Bagaimanapun, pekiraan harus diperlakukan dengan hati-hati karena beberapa sumber mungkin
secara signifikan diremehkan karena metodologi persediaan. Dalam pembakaran limbah tertentu
mungkin dianggap remeh (AMAP 2002). Di negara-negara dengan pembakaran sampah yang luas pola
mungkin berbeda secara signifikan. Di Denmark, rekening insinerasi limbah untuk 50% dari emisi udara
total dan pembakaran rekening produk minyak untuk 35% dari total (Drivsholm et al 2000). Namun,
gambaran negara-negara lain mungkin sangat berbeda. Di AS, pembakaran batubara dan minyak
dianggap bertanggung jawab untuk sekitar 76% dari emisi total kadmium ke udara, sedangkan jumlah
pembakaran sampah untuk sekitar 7% dari total emisi (OECD 1994).

Penurunan yang signifikan dalam emisi udara dicatat dalam tabel 4.1 terutama disebabkan oleh
peningkatan gas buang pembersihan, yang sebagian berubah masalah pelepasan langsung ke
lingkungan ke masalah bagaimana mengontrol kadmium yang ditimbun di landfill dan deposito lainnya
dalam waktu yang lama perspektif.

4.1.3 Sumber Alam Vs Sumber Antropogenik Transportasi Jarak Jauh

Pengalaman dari Kutub Utara menunjukkan bahwa transportasi jarak panjang kadmium melalui udara
berkontribusi pengendapan kadmium, kadmium karena dapat terkondensasi pada partikel yang sangat
halus dapat dibawa oleh angin untuk jarak jauh. Berdasarkan perhitungan model diperkirakan 5-10% dari
emisi di daerah Euroasiatic selama musim dingin disimpan di Arktik Northen (AMAP 1997).

Makna global emisi anthropogenic dibandingkan alami dapat dilihat dalam catatan inti es dari Greenland
Ice Sheet. Kadmium deposisi pada 1960-an dan 1970-an adalah delapan kali lebih tinggi daripada di
masa pra-industri (AMAP 2002).

4.1.4 Pengeluaran kadmium ke limbah dan tanah

Penilaian hanya komprehensif dari rilis kadmium global untuk tanah dan tempat pembuangan sampah
tanggal kembali ke 1983 (lihat tabel 4.2). Seperti yang dinyatakan kontribusi langsung total lingkungan
tanah yang datang ke 2,500-15,500 ton per tahun dengan deposisi atmosfer sebagai sumber
mendominasi, sedangkan sebuah 7,500-29,500 ekstra ton per tahun diasumsikan diarahkan ke tempat
pembuangan sampah dan deposito berbagai bentuk produk dibuang dan produksi limbah. Sebuah
perkiraan yang lebih baru menangani sumber kadmium hingga pembuangan limbah di Eropa disajikan
dalam tabel 4.3.

Mengingat kadmium dalam inklusif limbah residu pengolahan limbah proses pertanyaan mendasar
adalah kapan dan sejauh mana kadmium ini akan dimobilisasi dan selanjutnya dilepaskan ke lingkungan.
Meskipun mobilitas kadmium di dalam tempat pembuangan sampah rendah, dan lengkap mencuci-out
dari kadmium mungkin memerlukan ratusan hingga ribuan tahun dan dalam beberapa kasus bahkan
lebih, tidak ada bukti bahwa ada tempat pembuangan sampah dapat dianggap sebagai penahanan
permanen kadmium.

Kadmium saldo untuk lahan pertanian di Denmark, Belanda dan Swedia menunjukkan akumulasi
kadmium dalam tanah atas. Tingkat akumulasi tahunan telah dihitung sebagai 0,3% untuk Denmark dan
0,6-0,7% untuk Belanda. Dalam semua kasus, sumber dominan adalah deposisi atmosfer dan pupuk
fosfat komersial. (OECD 1994).
Gambar yang kadmium terakumulasi di tanah pertanian atas didukung oleh penilaian risiko yang
berkaitan dengan kadmium dalam pupuk fosfat yang dilakukan oleh beberapa negara Eropa. Di Austria,
Denmark, Yunani, Irlandia, dan Inggris kandungan kadmium hadir dalam pupuk menyebabkan
kandungan kadmium dalam tanah atas meningkat. Peningkatan di negara-negara lebih dari 100 tahun
diperkirakan untuk 4 43%. Untuk Finlandia dan Swedia menggunakan pupuk dengan kandungan
kadmium sangat rendah (<7 mg Cd / kg P2O5) gambar berbeda, sebagai perubahan lebih dari 100 tahun
diperkirakan menjadi minus 75% ke plus 11%. Data dari Belgia juga berbeda, seperti Belgia
menggunakan pupuk dengan kandungan kadmium menengah (~ 33 mg Cd / kg P2O5) memperkirakan
perubahan lebih dari 60 tahun dikurangi 75% sampai 120%. (Hutton & de Meeus 2001).

Total Rilis langsung deposisi air di atmosfer inklusif pada tahun 1983 diperkirakan 2,100-17,000 ton
(Nriagu & Pacyna 1988). Dari jumlah tersebut deposisi atmosfer menyumbang 900-3,600 ton. Sumber
utama lainnya adalah air limbah domestik, non-ferrous peleburan logam dan pemurnian, dan manufaktur
bahan kimia dan logam.

Kadmium tingkat hingga 5 mg / kg telah dilaporkan dalam sedimen dari sungai dan danau, dan 0,03-1 mg
/ kg dalam sedimen laut. Isi kadmium rata-rata air laut adalah sekitar 5-20 ng / l di laut terbuka,
sedangkan konsentrasi 80 250 ng / l telah dilaporkan di wilayah pesisir Perancis dan Norwegia.
Konsentrasi diukur dalam sungai Eropa kira-kira bervariasi dari 10 hingga 100 ng / l. (OSPAR 2002).

4.2 Dampak Lingkungan

Kadmium dan kadmium senyawa, dibandingkan dengan logam berat lainnya, yang relatif air larut.
Mereka karena itu juga lebih mobile dalam misalnya tanah, umumnya lebih bioavailable dan cenderung
bioaccumulate.

Kadmium mudah diakumulasi oleh banyak organisme, terutama oleh mikroorganisme dan moluska di
mana faktor biokonsentrasi berada di urutan ribuan. Invertebrata tanah juga berkonsentrasi kadmium
nyata. Kebanyakan organisme menunjukkan rendah sampai sedang faktor konsentrasi kurang dari 100.
Pada hewan, kadmium berkonsentrasi pada organ internal daripada dalam otot atau lemak. Hal ini
biasanya lebih tinggi daripada di dalam ginjal hati, dan lebih tinggi di hati daripada di otot. Kadmium
tingkat biasanya meningkat dengan bertambahnya usia. Kadmium tidak penting bagi kehidupan
tumbuhan atau hewan. Informasi berikut sebagian besar telah diambil dari monografi IPCS (WHO 1992a,
1992b WHO) kecuali dinyatakan lain.

4.2.1 Burung dan mamalia

Pemaparan kadmium kronis menghasilkan berbagai efek akut dan kronis pada mamalia serupa dengan
yang terlihat pada manusia. Kerusakan ginjal dan emfisema paru-paru adalah efek utama kadmium tinggi
dalam tubuh. Vertebrata laut tertentu mengandung konsentrasi kadmium nyata meningkat pada ginjal,
yang, meskipun dianggap berasal dari alam, telah dikaitkan dengan tanda-tanda kerusakan ginjal dalam
organisme yang bersangkutan.

Burung laut secara umum dikenal untuk mengakumulasi tingkat tinggi kadmium. Kerusakan ginjal telah
dilaporkan dalam koloni liar burung laut pelagis memiliki tingkat kadmium dari 60-480 ug / g pada ginjal
(WHO 1992b). Burung laut dan mamalia laut di Greenland memiliki tingkat kadmium, namun para peneliti
tidak menemukan bukti efek dalam studi yang dipilih spesimen segel bercincin dengan tingkat kadmium
yang sangat tinggi di dalam ginjalnya. (AMAP 2002).

Mamalia dapat mentolerir tingkat rendah paparan kadmium dengan mengikat logam dengan protein
khusus yang menjadikan itu tidak berbahaya. Dalam bentuk ini, kadmium yang terakumulasi dalam ginjal
dan hati. Tingginya tingkat eksposur, bagaimanapun, menyebabkan kerusakan ginjal, kalsium terganggu
dan vitamin D metabolisme, dan keropos tulang. Tubuh membutuhkan waktu puluhan tahun untuk
menghilangkan kadmium dari jaringan dan organ.

4.2.3 Mikroorganisme

Kadmium adalah racun bagi berbagai mikroorganisme seperti yang ditunjukkan oleh percobaan
laboratorium. Namun, kehadiran sedimen, konsentrasi tinggi garam terlarut atau bahan organik dalam
pembuluh menguji semua mengurangi dampak beracun. Efek utama adalah pada pertumbuhan dan
replikasi. Mikroorganisme tanah yang paling terkena dampak adalah jamur, beberapa spesies yang
tersingkir setelah terpapar kadmium dalam tanah. Ada seleksi untuk strain yang resisten terhadap
mikroorganisme setelah paparan rendah untuk logam dalam tanah.

4.2.4 Organisme Perairan lain

Dalam sistem perairan, kadmium yang paling mudah diserap oleh organisme langsung dari air dalam
bentuk bebas Cd ionik (II) (AMAP 1998). Toksisitas akut kadmium untuk organisme air adalah variabel,
bahkan antara spesies terkait erat, dan berhubungan dengan konsentrasi ion bebas dari logam.
Kadmium berinteraksi dengan metabolisme kalsium dari hewan. Dalam ikan itu menyebabkan
kekurangan kalsium (hipokalsemia), mungkin oleh penyerapan kalsium menghambat dari air. Namun,
konsentrasi kalsium yang tinggi dalam air melindungi ikan dari serapan kadmium dengan bersaing di
lokasi serapan. Efek jangka panjang paparan dapat mencakup kematian larva dan pengurangan
sementara pertumbuhan (AMAP 1998). Seng meningkatkan toksisitas kadmium pada invertebrata air.
Efek subletal telah dilaporkan pada pertumbuhan dan reproduksi invertebrata air, ada efek struktural
pada insang invertebrata. Ada bukti dari pemilihan strain resisten dari invertebrata air setelah terpapar
kadmium di lapangan. Toksisitas adalah variabel pada ikan, salmonoids menjadi sangat rentan terhadap
kadmium. Efek subletal pada ikan, terutama kelainan tulang belakang, telah dilaporkan. Yang paling
rentan hidup-tahapan itu adalah embrio dan larva awal, sedangkan telur paling rentan.

Dalam studi trout danau terkena berbagai tingkat kadmium, peneliti menemukan bahwa perilaku mencari
makan kadmium terpengaruh, sehingga keberhasilan yang lebih rendah pada menangkap mangsanya.
Penurunan fungsi tiroid sebagai akibat dari paparan cadmium juga telah didokumentasikan. Kedua
tanggapan menunjukkan ambang respon yang rendah untuk kadmium menyebabkan perubahan perilaku.
(AMAP 2002)

4.2.5 Organisme Terestrial Lain

Kadmium mempengaruhi pertumbuhan tanaman dalam studi eksperimental, meskipun tidak ada efek
lapangan telah dilaporkan. Pembukaan stomata, transpirasi, dan fotosintesis telah dilaporkan akan
terpengaruh oleh kadmium dalam solusi nutrisi, tetapi logam diangkat ke tanaman lebih mudah dari solusi
nutrisi dibandingkan dari tanah. Tanaman terestrial dapat terakumulasi kadmium dalam akar dan
kadmium ditemukan terikat pada dinding sel (AMAP 1998). Invertebrata Terrestrial relatif tidak sensitif
terhadap efek racun dari kadmium, mungkin karena mekanisme penyerapan efektif dalam organ tertentu.
Siput darat dipengaruhi oleh sublethally kadmium, efek utama adalah pada konsumsi makanan dan
dormansi, tetapi hanya pada tingkat dosis yang sangat tinggi. Kadmium bahkan pada dosis tinggi tidak
mempengaruhi burung mematikan, meskipun terjadi kerusakan ginjal. Kadmium telah dilaporkan dalam
studi lapangan untuk bertanggung jawab atas perubahan komposisi spesies dalam populasi
mikroorganisme dan beberapa invertebrata air. Dekomposisi serasah daun sangat berkurang oleh polusi
logam berat, dan kadmium telah diidentifikasi sebagai agen penyebab paling ampuh untuk efek ini.